BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.7. Analisis Imitasi K-Pop Di Kalangan Fanboy Dengan Menggunakan Soft
Imitasi merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan bagi mereka sedang mencari jati dirinya. Imitasi merupakan cara efisien untuk mempelajari hal-hal baru dan merupakan salah satu proses mendapatkan kematangan secara universal, yaitu pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap lingkungan sosial. Imitasi yang dilakukan oleh fanboy juga bisa menghasilkan pada dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Tergantung pada imitasi yang dilakukan oleh fanboy. Jika fanboy mengimitasi idolanya yang bisa memacu motivasi untuk berprestasi atau hal positif lainnya, maka hasil imitasi yang didapatkannya juga positif, begitu juga sebaliknya.
Hal yang diimitasi oleh fanboy bermacam-macam, seperti style pakaian yang digunakan oleh idolanya, model rambut, menggunakan pernak-pernik yang digunakan juga oleh idolanya. Contohnya kalung, gelang, bahkan tindikan di telinga.
Selain itu, attitude sang idolanya juga diimitasi oleh para fansnya. Sebenarnya ada juga perilaku yang diimitasi oleh fans bukan hanya dari idolanya saja, melainkan dari yang dilakukan oleh orang Korea, seperti cara menyapa orang yang dengan cara
membungkukkan badan sambil mengucapkan ucapan salam, makan dengan menggunakan sumpit.
Tidak sampai di situ saja, ada hal lain yang diimitasi oleh fans, seperti kebanyakan dari fans juga mengimitasi gerakan dance yang dilakukan oleh idolanya.
Kurang lengkap rasanya jika belum melakukan gerakan dance, atau yang biasa kita sebut dengan dance cover. Ada yang hanya sekedar iseng-iseng saja melakukan gerakannya saja, ada juga benar-benar melakukan coveran tersebut hingga sampai ke ajang perlombaan. Bahkan ia terkenal karena dance covernya tersebut. Hal tersebut pada umumnya terjadi dikalangan fans, apalagi dikalangan fanboy. Mereka juga melakukan imitasi dari penampilan artis Korea yang diimitasinya.
Selain itu, imitasi yang tidak bisa dipungkiri belakangan ini ialah cara berbicara mereka. Maksud di sini ialah dalam percakapan sehari-hari, fanboy dengan lawan bicaranya, menyelipkan bahasa Korea dalam percakapannya dengan lawan bicaranya. Baik itu hanya sekedar menyapa „안녕하세요‟ (dibaca: Annyeonghaseyo)
ketika bertemu dengan temannya atau dalam percakapan telepon, menyatakan rasa terimakasih „고마워‟ (dibaca: Gomawo) atau bisa juga „감사합니다‟ (dibaca:
Gamsahamnida). Ada juga bagi mereka yang memiliki pengetahuan mengenai bahasa Korea, mereka menggunakan kalimat per kalimat dalam bahasa tersebut dengan lawan bicaranya.
Berdasarkan hasil yang didapatkan peniliti melalui penelitian ini adalah kebanyakan fanboy mengimitasi dari idolanya dalam segi style pakaian yang digunakan. Proses imitasi diri sendiri berlangsung lebih dalam, penirunya tidak cukup sebatas aspek-aspek penampilan simbolis, tapi meliputi totalitas kepribadiannya.
Tidak hanya sampai di situ, hal yan dapat diimitasi oleh fanboy dalam penelitian ini, juga bisa berupa posisi idol tersebut dalam sebuah grup. Contohnya, fanboy tersebut mengimitasi peran menjadi seorang pemimpin, kemudian fanboy mempraktekkan peran pemimpin itu dalam grup dance covernya.
Dalam kehidupan sehari-hari, fanboy menujukkan hal-hal yang diimitasinya.
Beberapa hal dari bentuk imitasi tersebut, fanboy mengakui pengaplikasian apa saja yang diimitasikannya, disesuaikan juga dengan tempat dan kondisi, seperti beberapa informan penelitian ini yang merupakan anggota dance cover dan sing cover. Untuk yang dancer cover, mereka benar-benar yang mengimitasi gaya sang idol ketika di panggung. Mulai pakaian, aksesoris yang digunakan, bahkan ekpresi wajah juga dimiripkan sedemikian rupa dengan sang idol. Tetapi ketika diluar panggung mereka kembali mengikuti gaya idolanya yang sewajarnya. Berbeda dengan peampilan sing cover. Untuk penampilan sing cover tergolong bebas, tidak mesti mengikuti gaya dari itu. Terpenting, tidak menyimpang dari peraturan pakaian yang ditentukan.
Imitasi Soft
Masculinity
Gambaran maskulinitas yang umumnya diketahui oleh masyarakat, gambaran laki-laki yang memiliki tubuh yang kekar, gagah perkasa, laki-laki yang kuat dan memiliki kekuasaan serta tidak menampilkan sisi kelembutannya seperti tokoh aktor dalam film Hollywood atau aktor film action Indonesia yang memiliki badan kekar yang kuat. Nilai maskulinitas seperti itulah yang terkonstruksi oleh masyarakat ketika mendengar kata-kata maskulinitas. Mengikuti perkembangan teknologi dan perkembangan fenomena sosial, konstruksi maskulinitas pun mengalami pergeseran yang bisa disebut juga dengan maskulinitas baru atau soft masculinity. Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya pergeseran konstruksi maskulinitas macho yang dibangun dalam pandangan masyarakat ke maskulinitas yang baru, bahkan laki-laki pun juga bisa menunjukkan sisi lembutnya kepada orang lain.
Soft masculinity merupakan nilai maskulinitas baru yang menunjukkan gambaran kemaskulinan seorang laki-laki dari negara Korea Selatan dengan perpaduan konsep maskulinitas seonbi Korea Selatan yang mana maskulinitas tersebut dipengaruhi oleh maskulinitas Hong Kong dengan maskulinitas dari negara Jepang serta maskulinitas metroseksual secara global.
Gambaran soft masculinity itu sendiri, mendeskripsikan seorang laki-laki yang menampilkan sisi kelelaki-lakiannya namun, juga ada sisi kelembutan yang dimiliki oleh laki-laki. Soft masculinity diidentik dengan laki-laki yang memiliki paras wajah yang cantik, tubuh yang langsing namun berotot, menampilkan sisi kelembutan dari seorang laki-laki. Image soft masculinity tersebut direalisasikan oleh artis K-Pop yang tergambar melalui penyebaran media massa, menampilkan juga fisik tubuh yang
kekar dan berotot, mampu berperilaku manis dan lembut di depan para fansnya.
Adanya gambaran soft masculinity yang dibangun oleh artis K-Pop tersebut, mengulang kembali tentang pemahaman maskulinitas yang bisa mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu, tetapi juga mengundang perdebatan antara pro dan kontra terhadap nilai maskulinitas yang baru.
Gambar 3 : Gambaran soft masculinity Gambar 4 : Gambaran soft masculinity
Gambar 5 : Gambaran soft masculinity Gambar 6 :Gambaran soft masculinity Perilaku imitasi yang dilakukan oleh informan dalam penelitian ini telah menunjukkan adanya pergeseran konstruksi maskulinitas lama yang diterima oleh masyarakat Indonesia dengan konstruksi maskulinitas yang baru ditunjukkan oleh fanboy yang menjadi informan dalam penelitian ini. Gambaran tersebut ditunjukkan oleh fanboy melalui imitasi penampilan secara fisik seperti style pakaian yang digunakan oleh idolanya, aksesoris yang digunakan seperti kalung, tindik dikuping, model rambut, hampir keseluruhan fisik mengikuti idolanya.
Bagi masyarakat penganut maskulinitas lama, lelaki sejati tidak begitu mementingkan style pakaian agar terlihat lebih fashionable dan aksesoris lainnya sebagai penunjang kerennya penampilan fisik mereka. Penelitian ini menemukan bahwa mereka juga mementingkan penampilan fisik mereka supaya terlihat keren dan stylish. Bahkan mereka mencari style-style yang digunakan oleh idolanya sebagai referensi mereka dalam berpenampilan yang modis. Selain style dan aksesoris, model
rambut juga tidak ketinggalan dalam perhatian para fanboy tersebut. Contoh mewarnai rambut bahkan mengikuti model rambut yang digunakan oleh artis maupun orang Korea.
Gambar 7 : Gambaran imitasi fanboy Gambar 8 : Gambaran imitasi fanboy
Tidak hanya imitasi dalam hal style pakaian saja, imitasi dalam kemampuan dance juga menjadi sorotan bagi fanboy untuk ikut dalam daftar imitasi yang ingin dilakukannya. Ketika dance diartikan dalam bahasa yang sederhana yaitu menari, biasanya menari masuk dalam ranah perempuan dan ketika ada laki-laki yang dapat menari dengan baik biasanya dikatakan laki-laki yang gemulai. Karena dengan lenturnya tubuh mereka memperagakan suatu gerakan tarian. Lelaki macho yang menganut maskulinitas lama, jauh dari kata-kata „dance‟ Sekarang, dance tidak lagi hanya dimiliki oleh ranah perempuan tetapi dance juga sudah masuk kedalam ranah laki-laki.
Memiliki badan yang lentur dan gesit terhadap gerakan dance merupakan poin utama dalam menari. Laki-laki yang melakukan gerakan dance tidak hanya terjadi dikalangan artis K-Pop saja, tetapi terjadi juga pada fanboy yang berprofesi sebagai dance cover menjadi inspirasi dalam mengimitasi talenta yang dimilikinya sang idolanya. Fanboy yang menjadi informan dalam penelitian ini dengan lentur dan gesit menarikan gerakan-gerakan yang tarian yang ingin mereka bawakan. Meskipun koreografi dance yang dibawakan terbilang rumit, fanboy dengan lentur gesit dan gemulai memperagakan gerakan dance tersebut.
Gambar 9 : Penampilan fanboy ketika manggung
Gambar 10 : Penampilan fanboy ketika manggung
Gambar 11 : Penampilan fanboy ketika manggung
Maskulinitas pada laki-laki tidak lagi sekedar seorang laki-laki yang gagah perkasa, kuat, berkuasa, serta macho. Laki-laki juga bisa menujukkan sisi kelembutan dari seorang laki-laki yang mana selama ini sisi kelembutan hanya dimiliki oleh seorang perempuan. Berkaitan dengan personality yang humble dari idolanya dan juga dapat menunjukkan sisi kelembutan dari dirinya. Salah seorang artis idola K-Pop yang memiliki personality yang hangat, idola tersebut mampu menonjolkan sisi lembut dan sikap manisnya terhadap orang lain. Ini juga diimitasikan oleh fanboy karena menyukai personality dari artis tersebut bisa bersikap lembut seperti itu terhadap orang lain meskipun ia seorang laki-laki. Bagi fanboy, personality yang hangat juga dapat mempermudah fanboy tersebut bersosialisasi dengan orang banyak dan juga bisa memperluas relasi pertemanannya.
Poin lain yang memperkuatnya pergeseran konstruksi maskulinitas tersebut ialah, penggunaan produk skincare untuk merawat tubuh dan wajahnya. Ada
informan yang merawat tubuh maupun wajahnya dengan menggunakan serangkaian skincare yang diproduksi khusus untuk laki-laki. Salah satu informan yang melakukan perawatan wajah dan tubuh secara lengkap bagi seorang laki-laki. Mulai dari penggunaan scrub wajah, scrub badan, sheet mask, shooting gel aloe vera (yang merupakan salah satu produk skincare sedang booming saat ini), pelembab, hand body dan lain sebagainya. Ada juga informan yang hanya menggunakan shooting gel aloe vera karena produk tersebut bisa digunakan keseluruh tubuh, parfum, hand body.
Fanboy juga sudah mulai memikirkan bagaimana untuk menjaga penampilan mereka baik wajah maupun tubuh agar terlihat menarik ketika dilihat orang. Bersih, wangi, tidak lagi mereka yang berpenampilan semrawutan, seolah mereka ingin menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa berpenampilan rapi dan bersih.
Berdasarkan hal tersebut, muncul perdebatan dalam masyarakat mengenai konstruksi baru terhadap maskulinitas yang dibangun oleh fanboy tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap fanboy yang menyukai K-Pop bahkan sampai mengimitasi idolanya dilabelkan dengan bencong, tidak mainly. Bahkan ada yang mengatakan seperti „oppa-oppa Korea‟ atau boyband Korea. Konsep maskulinitas yang dibangun oleh fanboy berkiblatkan pada konsep maskulinitas dari masyarakat Korea Selatan. Konstruksi tersebut bertentangan dengan konstruksi maskulin yang telah dibangun oleh masyarakat Indonesia sehingga menyebabkan munculnya pandangan-pandangan negatif dari masyarakat, bahkan sampai mempertanyakan kemaskulinitas dan orientasi seksualnya normal atau tidak.
Adanya stigma-stigma dari pandangan masyarakat yang seperti itu, kebanyakan fanboy juga tidak memperdulikan stigma-stigma yang lahir dari masyarakat mengenai K-Pop, fansnya bahkan konstruksi maskulin yang ditampilkan oleh fanboy itu sendiri. Bagi mereka, selagi bisa menghasilkan hal yang positif dan membuahkan prestasi tidak masalah baginya dan tidak berbuat yang menyimpang.
Perkembangan Korean Wave terkhusus K-Pop yang memberikan sumbangsih terbesar dalam penyebarannya dan bantuan media massa, memberikan konstruksi baru bahwa nilai maskulinitas tidak hanya sebatas nilai yang berlaku pada maskulinitas lama, tetapi laki-laki juga bisa menunjukkan sisi, dimana hal itu dimiliki oleh perempuan. Seperti sisi kelembutan yang selama ini hanya dimiliki oleh perempuan, sekarang laki-laki juga bisa memiliki sisi lembut tersebut. Bukan berarti mereka yang menunjukkan sisi tersebut merupakan laki-laki yang tidak gentle alias kemayu, tetapi maskulinitas tersebut telah mengalami perubahan.
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Perkemebangan fenomena K-Pop tidak bisa dielakkan lagi. Boomingnya perkembangan aliran musik dari negara Korea Selatan ini memberikan dampak besar pada sendi-sendi kehidupan baik dari kalangan fans maupun non fans. Perkembangan K-Pop tersebut tidak bisa terlepas dari perilaku imitasi yang ingin dilakukan oleh para fans terkhusus fans dari kalangan laki-laki (fanboy).
Stigma negatif mengenai fans K-Pop masih melekat pada masyarakat sekitar fans tersebut. Stigma tersebut muncul dikarenakan fenomena yang terjadi sebelumnya bersifat negatif, sehingga melahirkan stigma yang negatif pula pada K-Pop dikalangan masyarakat. Hal ini menjadi tantangan bagi mereka untuk melakukan hobinya dengan leluasa, terkhusus pada fanboy. Dahulu, fanboy masih enggan menunjukkan identitasnya fans K-Pop, dikarenakan hal yang masih dicap buruk oleh masyarakat, bahwa laki-laki yang menyukai K-Pop itu secara tidak langsung diragukan kemaskulinitasnya. Idol K-Pop yang diidentik dengan menggunakan make up ketika berada di panggung selain itu bagi masyarakat, mereka juga kelihatan tidak jantan, sehingga imbasnya juga terkena pada fans yang menggemari idol tersebut.
Beragamnya hal-hal yang diimitasikan oleh fanboy, mulai dari style pakaian, aksesoris yang menunjang penampilan mereka, model dan warna rambut, penggunaan skincare, penggunaan bahasa Korea, cara sapaan orang Korea yang membungkukkan
badannya sekitar 45-90 derajat, jiwa kepemimpinan yang diperankan oleh idolanya dalam grup, personality, attitude, table manner ketika makan (menggunakan sumpit), progress dan kerja keras sang idola menuju kesuksesan, membentuk yang kekar seperti idola panutannya juga, talenta yang memotivasi fanboy untuk mengikuti grup dance dan sing cover, dan lain-lainnya. Style pakaian yang paling banyak dilakukan oleh fanboy.
Perilaku imitasi yang ditunjukkan oleh fanboy, memunculkan konstruksi baru dalam konsep maskulinitas. Selama ini konstruksi maskulinitas yang telah dibangun oleh masyarakat Indonesia mengikuti konstruksi maskulinitas tradisional di mana dalam konstruksi tersebut, laki-laki digambarkan seperti seseorang yang gagah perkasa, macho, kuat, berotot, tidak lemah, tegas, dan sebagainya. Belakangan ini, konstruksi maskulinitas telah mengalami pergeseran nilai sehingga memunculkan nilai maskulinitas yang baru. Tambah lagi dengan adanya perkembangan K-Pop, semakin memperkuat contoh konkret dari wujud maskulinitas yang baru atau bisa disebut dengan soft masculinity.
Soft masculinity juga menggambarkan laki-laki yang memiliki wajah yang cantik, kulit yang putih, tubuh yang langsing namun berotot, kaki yang jenjang, memiliki sisi kelembutan dan sikap yang manis, dan lain-lain. Hal ini sama seperti digambarkan oleh artis K-Pop yang ada diberbagai media cetak maupun berupa tayangan televisi, youtube maupun media lainnya. Adanya pergeseran konstruksi maskulin tersebut. Perkembangan K-Pop memang memberikan pemahaman baru mengenai konstruksi maskulinitas tidak harus gambaran maskulinitas yang lama, gambaran maskulinitas yang baru juga termasuk dari bagian maskulinitas.
Maskulinitas itu sendiri tidak memiliki gambaran konstruksi yang tepat, karena setiap negara memiliki konstruksi budaya tersendiri dalam memandang maskulinitas.
Indonesia, yang sebagian besar masyarakat menganut maskulinitas lama merasa tidak setuju dengan adanya gambaran dari soft masculinity tersebut. Menurut masyarakat, soft masculinity dianggap tidak mainly bahkan bencong. Hal tersebut jauh dari kata-kata maskulinitas yang telah mereka bangun selama ini. Tidak jarang ada stigma dari masyarakat yang mengatakan bahwa fanboy yang menyukai K-Pop itu bencong dan tidak mainly. Tambah lagi, fanboy mengimitasi potongan style pakaian serta penampilan fisik mereka, kemudian ada yang menggunakan skincare untuk merawat wajah dan tubuh mereka, sisi lembutnya mereka pada orang lain. Bagi masyarakat, laki-laki tidak begitu peduli dengan penampilannya, bergaya yang semrawutan bahkan jauh dari kata perawatan.
Fanboy sendiri mengaku tidak memperdulikan tanggapan yang dilontarkan oleh masyarakat terhadap dirinya. Bagi mereka, fans yang menyukai K-Pop tidak semuanya negatif, ada juga yang mereka bisa memilah mana perlu diikuti dan mana yang tidak. Mereka juga menunjukkan bahwa K-Pop bisa menghasilkan prestasi bagi dirinya, dan K-Pop juga punya sisi positifnya. Fanboy dalam penelitian ini juga berusaha untuk memperbaiki good impression terhadap K-Pop walaupun harus mengahadapi stigma-stigma dari masyarakat.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil analisis data penelitian, yang menjadi saran peneliti adalah sebagai berikut :
1. Bagi fanboy dan komunitas K-Pop yang melakukan imitasi terhadap artis idola yang digemari, sebagian besar mengimitasi hal-hal positif dari idolanya serta meningkatkan bakat yang produktif dalam dirinya baik itu bidang seni musik dan tari, bahkan bakat yang lainnya. Tidak hanya itu fanboy juga juga dapat memperluas wawasan mereka dalam bidang bahasa dan budaya, dan banyak hal positif yang mereka dapatkan dari imitasi tersebut. Saran untuk mereka semoga mereka mampu memilah mana yang perlu diimitasi dan mana yang tidak, serta mereka mampu untuk mengembangkan lagi kemampuan-kemampuan yang mereka miliki baik bidang seni musik dan tari maupun bakat lain yang dapat mereka temukan melalui imitasi tersebut.
2. Bagi instansi pendidikan khususnya perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan bisa menjadi referensi untuk memperluas wawasan ilmiah dalam kajian imitasi K-Pop, perkembangan fenomena dan perubahan sosial, perkembangan kosntruksi maskulinitas serta kajian sosiologi postmodern.
3. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bacaan untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai imitasi-imitasi K-Pop dalam kajian analisis maskulinitas.
4. Bagi keluarga dan masyarakat, diharapkan mampu untuk menyikapi tentang perkembangan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sosial serta lebih membuka pandangan masyarakat dan keluarga mengenai perkembangan konstruksi maskulinitas yang telah terjadi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amroshy, A. U., & Imron, A. (2014). Hegemoni Budaya Pop Korea Pada Komunitas Korean Lovers Surabaya (KLOSS). Jurnal Mahasiswa Unesa .
Ardia, V. (2014). Drama Korea dan Budaya Popular. Jurnal Komunikasi .
Astuti, P. T. (2016). Penerimaan Penggemar K-Pop Terhadap Gambaran Pria Soft Masculinity Boyband EXO di Music Video "Miracle in December". Jurnal E-Komunikasi .
Atmadja, N. B., & Ariyani, L. P. (2018). Sosiologi Media: Perspektif Teori Kritis.
Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Bok-rae, K. (2015). Past, Present and Future of Hallyu (Korean Wave). American International Journal of Contemporary Research .
Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Chai, J. (2011). The First Taste of Korean Wave in China. Journey East .
Chun, E. W. (2017). How to drop a name: Hybridity, purity, and the K-pop fan.
Cambrige University Press .
Daulay, H. (2014). Konstruksi Maskulinitas Global pada Majalah Pria di Indonesia dalam Persepsi Pria Metroseksual . Jurnal PKS .
Dermatoto, A. (2010). Konsep Maskulinitas Dari Jaman ke Jaman dan Citranya Dalam Media . Jurnal Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poilitik UNS Surakarta .
Dewati, S. R. (2014). Perilaku Imitasi Fashion SNSD Oleh SONE Sebagai Bentuk Presentasi Diri dan Identitas SONE (Analisis Fenomenologi Perilaku Fans Terhadap Artis Idolanya). eJournal Undip .
Fathinah, E., Priyatna, A., & Adji, M. (2017). Maskulinitas Baru Dalam Iklan Kosmetik Korea: Etude House Dan Tonymoly. Patanjala .
Hanana, A. (2018). Konstruksi Maskulinitas Boyband 2PM Pada Remaja K-Pop. Al Munir Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam .
Handaningtias, U. R., Indriyany, I. A., & Nurjuman, H. (2018). Dekonstruksi Makna Maskulinitas pada Trend Korea Pop (K-POP) Sebagai Praktik Identitas Remaja. Prosiding Seminar Nasional Prodi Imu Pemerintahan .
Huh, C.-G., & Wu, J. (2017). Do Hallyu (Korean Wave) Exports Promote Korea‟s Consumer Goods Exports ? Emerging Markets Finance and Trades .
Izzati, A. (2014). Analisis Pengaruh Musik Korea Popular Terhadap Gaya Hidup di Kalangan Remaja . Lib UI .
Jang, G., & Paik, W. (2012). Korean Wave as Tool for Korea‟s New Cultural Diplomacy. Scientific Research .
Juwita, S. H. (2018). Tingkat Fanatisme Penggemar K-Pop Dan Kemampuan Mengelola Emosi Pada Komunitas EXO-L Di Kota Yogyakarta. Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling .
Kartika, S. H., & Wirawanda, Y. (2019). Maskulinitas dan Perempuan: Resepsi Perempuan terhadap Soft Masculinity dalam Variety Show. Calathu: Jurnal Ilmu Komunikasi .
Khairil, M., Yusaputra, M. I., & Nikmatusholeha. (2019). Efek Ketergantungan Remaja Terhadap K-Popers Terhadap Media Sosial di Kota Palu . Jurnal Aspikom .
Kim, M. O., & Jaffe, S. (2013). The New Korea Mengungkap Kebangkitan Ekonomi Korea. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Kusuma, E. P. (2014). Hibriditas Dalam Pembentukan Budaya Penggemar (Studi Etnografi Tentang Budaya Penggemar Pada Fandom VIP Malang). Neliti . Kusuma, N. N. (2015). Hubungan Celebrity Worship Terhadap Idola K-Pop (Korean
Pop) Dengan Perilaku Imitasi Pada Remaja. Jurnal Hasil Riset .
Kwon, C. (2012). Who is Your Bias?: The Symbolic Interactions and Social Solidarity of the International K-pop Fan Community. Digital Commons . Lastriani. (2018). EXO-L Makassar: Interaksi Dunia Maya Antar Penggemar Boy
Band EXO. ETNOSIA: Jurnal Etnografi Indonesia .
Lubis, A. Y. (2014). POSTMODERNISME: Teori dan Metode. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Lubiyana, K. (2013). Eksposur Media Massa Televisi dan Internet Sebagai Stimulant Perilaku Konsumsi. Media Komunitas .
Marinescu, V., & Balica, E. (2013). Korean Cultural Products in Eastern Europe: A Case Study of the K-Pop Impact in Romania . Region .
Messaris, P. (2016). The Global Impact of South Korean Populer Culture: Hallyu Unbound . Asian Journal of Communication .
Neuman, W. L. (2013). Metode Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta Barat: PT Indeks.
Nursanti, M. I. (2013). Analisis Deskriptif Penggemar K-Pop Sebagai Audiens Media dalam Mengonsumsi dan Memaknai Teks Budaya. Ejournal3 Undip .
Praptika, Y., & Nugraha, G. M. (2016). The Representation of Masculinity in South Korean Reality Show "The Return of Superman". Allusion .
Putra, A. A., & Jusnita, R. A. (2018). Komunikasi dan Identitas Budaya Populer pada Komunitas Korean Lovers Surabaya. Jurnal Kajian Media .
Ritzer, G. (2014). Teori Sosiologi Modern . Jakarta: Prenadamedia Group.
Ryoo, W. (2009). Globalization, or the Logic of Cultural Hybridization: The case of Korean Wave. Asian Journal of Communication .
Sari, I. C., & Jamaan, A. (2104). Hallyu Sebagai Fenomena Transnasional. Jurnal
Sari, I. C., & Jamaan, A. (2104). Hallyu Sebagai Fenomena Transnasional. Jurnal