BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.6. Konstruksi Maskulinitas Baru (Soft Masculinity)
4.6.4. Tanggapan Fanboy Terhadap Pandangan Masyarakat
Ketika ditanya pandangan masyarakat mengenai fans K-Pop, ada dua kemumgkinan. Bisa saja tanggapan yang berisi pandangan masyarakat terkesan positif dan pandangan masyarakat terkesan negatif pada diri fans K-Pop. Hanya saja itu kembali pada bagaimana orang lain menanggapi K-Pop itu seperti apa. Tetapi yang terjadi di masyarakat, muncul pandangan masyarakat yang terkesan negatif.
Apalagi pandangan masyarakat yang mengetahui bahwa laki-laki yang menjadi fans K-Pop. Keluar sebuah label bahwa laki-laki yang menggemari K-Pop, itu banci, kemayu. Bahkan karena menyukai K-Pop mereka merasa nilai maskulin pada laki-laki berkurang.
Terdengar sakit, hanya karena sebuah hobi jadi berkaitan dengan nilai maskulinitas pada seorang laki-laki. Hal ini juga terjadi pada fanboy yang menjadi informan dalam penelitian. Namun, tanggapan mereka terhadap pandangan masyarakat tidak begitu memperdulikan apa yang dikatakan oleh masyarakat. Mereka lebih memilih diam dan menujukkan suatu hal yang positif, yang menurutnya bisa meredamkan pandangan-pandangan yang tidak mengenakkan menurutnya. Hal tersebut juga dinyatakan oleh fanboy yang informan penelitian ini yang bernama Dio (22):
“tanggapan saya tentang itu ya biasa aja, walaupun awalnya sakit sih dikatain ngga macho, bencong, kemayu tapi pada akhirnya juga udah kebal sendiri. Jadi bawa biasa aja, menurut saya, saya sendiri jadi punya jadwal tambahan untuk ngisi kekosongan waktu dengan latihan dance sama teman grup. Terus dari ini saya juga bisa bawa prestasi dari dance cover. Kapan lagi, hobi bisa menjadi prestasi.”
Pernyataan serupa juga disampaikan informan penelitian yang lain untuk mendukung pernyataan sebelumnya yang bernama Riko (24):
“ada juga pertanyaan kenapa suka K-Pop ? terus ngatain K-Pop itu bla bla bla, saya ya ngga menanggapi kali orang mau bilang apa tentang menjadi seorang K-Popers apalagi cowok ya. Saya cuma diem dan ngasih bukti melalui prestasi yang saya raih dari ikut dance cover ini. padahal saya juga suka musik dangdut. Dan juga ngasih bukti kalo K-Pop itu tidak hanya sekedar K-Pop aja, tapi bisa prestasi juga.”
Pernyataan lain dari informan penelitian ini yang menyatakan juga pandangannya mengenai K-Pop, bahwa tidak semuanya K-Pop memiliki sisi negatif, semua tergantung pada pemikiran masing-masing. Menurutnya, jika memandang K-Pop itu negatif maka hasilnya juga negatif, begitu juga sebaliknya kalau memandang K-Pop itu positif maka akan ada juga nilai positif yang bisa ambil. Seperti pernyataan fanboy yang menjadi informan penelitian bernama Angga (22):
“saya juga pernah mendapat ocehan „ngapain sih suka K-Pop, kayak banci aja lu.‟ „lakik kok suka K-Pop ?‟ bahkan dari keluarga juga pernah bilang kayak gitu „ngapain lah suka sama K-Pop ? macam ngga ada yang lain yang mau disukai‟. Memang awalnya berat sih menerima ocehan yang begituan, tapi udah jadi rahasia umum kalo yang suka K-Pop pasti dapat ocehan seperti itu, walaupuna ada juga yang ngga.
Tapi pasti jarang yang bisa nerima kek gitu. padahal yakan K-Pop itu ngga semua nilai negatifnya ada. Ada juga nilai positifnya seperti yang saya bilang tadi makna yang saya dapatkan dari K-Pop itu. Cuma mungkin saya rasa pandangan masyarakat yang masih menilai kalo laki-laki itu sukanya yang kaya petualang, musik dari negara barat, pokoknya yang lebih macho dari K-Pop. Cuma kembali lagi ke orangnya menanggapinya seperti apa. Kalo saya, ngga ambil pusing sih sama masalah yang begituan. Yang penting hobi saya ngga
Lain sisi, ada pandangan masyarakat yang bersikap biasa saja terhadap diri seorang fanboy. Bahkan ada juga pihak keluarganya yang memberi semangat kepada anaknya pada saat latihan untuk mempersiapkan lomba, dan pada saat hari-H lomba.
Karena fanboy yang menjadi informan dalam penelitian ini ada yang mengikuti sing cover. Berikut pernyataan dari informan penelitian ini bernama Putra (18):
“kalo dengar ocehan yang tidak enak tentang K-Popers, saya tidak tahu juga ya. Cuma orang sekitar saya ya untungnya open minded terhadap saya. Merekanya yang biasa aja gitu. Keluarga saya juga untungnya open minded juga terhadap saya. Terus kalo saya ikut sing cover gitu keluarga juga ngedukung, kayak kasih semangat, dll.”
Ada juga tanggapan mereka dengan mencoba untuk menjaga pandangan masyarakat agar K-Pop tidak terlalu kelihatan buruk di mata masyarakat dengan berbagai cara yang dilakukan agar K-Pop juga bisa dapat kesan yang baik di mata masyarakat. Berikut pernyataan informan penelitian yang mendukung penjelasan tersebut, Arya (19):
“untungnya ya kak, saya belum ada pernah dengar kayak hujatan orang buat apa laki-laki suka K-Pop. Tapi saya juga ngga tahu di belakang saya orang ngomong apa. Cuma saya hanya mencoba menjaga pandangan orang agar terlihat buruk kali terhadap K-Pop, membuat K-Pop dapat good impression dari orang-orang. Soalnya kan K-Pop juga punya sisi positif, jadi menurut saya itu tergantung orang bagaimana ia menanggapi K-Pop itu. Gitu sih kak. Soalnya, ada juga teman saya, yang karena K-Pop bisa kuliah di Korea juga, jadi motivasi sama dia.”
Berdasarkan hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah fanboy yang menjadi informan dalam penelitian ini, memilih bersikap biasa saja dalam menanggapi pandangan masyarakat bahkan orang terdekat dengan dirinya. Meskipun ada masyarakat bahkan keluarganya yang bersikap biasa saja dengan terhadap diri seorang fanboy. Mereka juga memilih untuk menunjukkan hal positif dari K-Pop
yang bisa menjadi poin untuk diikuti. Kembali lagi bagaiamana seorang fans bisa menyaring hal-hal yang perlu dicontoh dengan hal-hal yang tidak perlu dicontoh.
Tabel 4.14. mengalami yang begituan. Karena lumayan juga kan orang yang mendapat ocehan yang tidak enak, apalagi fanboy yang suka K-Pop.”
2 Azrasyamputra “kalo dengar ocehan yang tidak enak tentang K-Popers, saya tidak tahu juga ya. Cuma orang sekitar saya ya untungnya open minded terhadap saya.
Merekanya yang biasa aja gitu.
Keluarga saya juga untungnya open minded juga terhadap saya. Terus kalo saya ikut sing cover gitu keluarga juga ngedukung, kayak kasih semangat, dll.”
3 Riko Arishandi “ada juga pertanyaan kenapa suka K-Pop ? terus ngatain K-K-Pop itu bla bla bla, saya ya ngga menanggapi kali orang mau bilang apa tentang menjadi seorang K-Popers apalagi cowok ya.
Saya cuma diem dan ngasih bukti melalui prestasi yang saya raih dari ikut dance cover ini. padahal saya juga suka musik dangdut. Dan juga ngasih bukti kalo K-Pop itu tidak hanya sekedar K-Pop aja, tapi bisa prestasi juga.”
4 Muhammad Bilham “dengar pernyataan kek gitu belum
Multazam ada ya. Kalo di belakang kita ya ngga tahu lah kita ya. Cuma kalo ada orang yang ngomong kayak gitu ya biarin aja. Karena mereka juga ngga tahu K-Pop itu kayak gimana lalu perjuangannya. Saya pun juga penikmat musiknya. Dan masalah konsep juga bagus. Balik lagi, mereka
6 Danu Asmara “sempat juga dengar ada cibiran gitu, cuma ya saya ngga terlalu menanggapi. Toh, saya juga dapat sisi positif dari menjadi Popers. Jadi K-Popers juga ngga buruk-buruk kali kok kak. Itu aja.”
7 Anggara Syahputra “saya juga pernah mendapat ocehan
„ngapain sih suka K-Pop, kayak banci dapat ocehan seperti itu, walaupuna ada juga yang ngga. Tapi pasti jarang yang bisa nerima kek gitu. padahal yakan K-Pop itu ngga semua nilai negatifnya ada. Ada juga nilai positifnya seperti yang saya bilang tadi makna yang saya dapatkan dari K-Pop itu. Cuma mungkin saya rasa pandangan masyarakat yang masih menilai kalo laki-laki itu sukanya yang kaya petualang, musik dari negara
barat, pokoknya yang lebih macho dari K-Pop. Cuma kembali lagi ke orangnya menanggapinya seperti apa.
Kalo saya, ngga ambil pusing sih sama masalah yang begituan. Yang penting hobi saya ngga mengarah ke negatif-negatif, kan hobi saya yang tidak menjurus saya sampe berbuat tindakan kriminal, terus pake narkoba apa segala macamnya. Jadi, ya ngga ambil pusing sama orang mau bilang apa.
Yang lebih terpenting, ada pengetahuan baru yang positif yang saya dapatkan dari K-Pop maupun tambahan untuk ngisi kekosongan waktu dengan latihan dance sama orang ngomong apa. Cuma saya hanya mencoba menjaga pandangan orang agarterlihat buruk kali terhadap K-Pop, membuat K-Pop dapat good impression dari orang-orang. Soalnya kan K-Pop juga punya sisi positif, jadi menurut saya itu tergantung orang bagaimana ia menanggapi K-Pop itu.
Gitu sih kak. Soalnya, ada juga teman saya, yang karena K-Pop bisa kuliah di Korea juga, jadi motivasi sama dia.”
10 Dzikri Fernanda “kalo saya menanggapinya lebih ke biasa aja. Dan saya juga memahami budaya Indonesia. Cuma kalo yang warnai rambut kan ngga yang terus-terusan saya mewarnai rambut. Untuk yang warnai rambut itu butuh waktu berapa bulan buat hilangin warna.
Ngga bisa yang instan hilangnya.”
4.7. Analisis Imitasi K-Pop Di Kalangan Fanboy Dengan Menggunakan Soft