• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kecamatan Bogor Timur

Dalam dokumen Abdul Gowi (Halaman 93-100)

Skema 2.1 Model Health Promotion (Pender, 1996)

3.1 Profil Kecamatan Bogor Timur

Kecamatan Bogor Timur merupakan salah satu wilayah kecamatan di Kota Bogor yang dipimpin oleh kepala pemerintahan tertinggi setingkat camat. Struktur jabatan yang ada di Wilayah Bogor Timur terdiri dari sekretaris dan beberapa seksi, meliputi sub bagian umum dan kepegawaian, sub bagian keuangan, seksi tata pemerintahan, seksi kemasyarakatan, seksi trantib, seksi perekonomian, dan seksi pengendalian dan pengembangan. Kecamatan Bogor Timur berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 2 Tahun 1995 dan Inmendagri No. 30 Tahun 1995 tanggal 24 Agustus 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tk. II Bogor dan Kabupaten Daerah Tk. II Bogor, wilayah Kecamatan Bogor Timur dengan luas 1.015 Ha, terdiri dari dari 6 (enam) kelurahan yaitu Kelurahan Baranangsiang dengan luas 235 Ha, Kelurahan Sukasari dengan luas 48 Ha, Kelurahan Katulampa dengan luas 491 Ha, Kelurahan Tajur dengan luas 45 Ha, Kelurahan Sindangsari dengan luas 90 Ha dan Kelurahan Sindangrasa dengan luas 106 Ha, dengan 59 RW dan 318 RT. Jumlah penduduk kecamatan Bogor Timur sampai akhir bulan Desember 2010 adalah 88.619 jiwa dan jumlah kepala keluarga tercatat sebanyak 42.350 KK.

Kondisi penunjang pada pemerintahan Kecamatan Bogor Timur dapat teridentifikasi dari beberapa sarana dan prasarana pendukung, seperti sarana prasarana pendidikan, keagamaan, dan pelayanan kesehatan. Sarana pendidikan di Kecamatan Bogor Timur tersebar di 6 (enam) kelurahan secara merata, dengan

perincian 18 TK, 36 sekolah dasar, 13 SMP, 12 SMA, dan 1 Perguruan Tinggi. Sarana keagamaan di Kecamatan Bogor timur teridentifikasi dalam jumlah tempat peribadatan dengan perincian 67 masjid, 127 musholla, dan 6 gereja. Sarana pelayanan kesehatan di Kecamatan Bogor Timur teridentifikasi dari jumlah pusat pelayanan kesehatan baik primer, sekunder, maupun tersier. Perincian dari sarana pelayanan kesehatan meliputi 1 buah Rumah Sakit, 1 Puskesmas, 68 Posyandu, 11 balai pengobatan, dan 5 apotek.

Berdasarkan uraian tentang kondisi wilayah Kecamatan Bogor Timur, dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Bogor Timur merupakan daerah yang strategis secara perekonomian, dimana berada di posisi sentral bisnis sebagai kota satelit yang dapat menunjang peningkatan kesejahteraan penduduknya. Peningkatan kesejahteraan penduduk ditunjang oleh ketersediaan sumber daya manusia, dengan indikator dasar besarnya jumlah penduduk. Jumlah penduduk secara kuantitas belum tentu akan mempengaruhi secara kualitas, dimana kualitas penduduk yang ada justru mempengaruhi kualitas kesehatan. Oleh karena itu besarnya jumlah penduduk di Kota Bogor dapat menjadi peluang di sisi lain bisa menjadi ancaman menurunnya kualitas kesehatan.

Visi Kecamatan Bogor Timur adalah mewujudkan Kecamatan Bogor Timur sebagai wilayah permukiman & sentra ekonomi yang berwawasan lingkungan. Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan, Kecamatan Bogor Timur memiliki misi sebagai berikut :

1. Penataan pusat-pusat perdagangan dan jasa serta kawasan permukiman yang tertib, tentram dan aman.

2. Memberikan pelayanan yang mudah, cepat dan efisien kepada masyarakat. 3. Pemanfaatan semaksimal mungkin terhadap potensi yang dimiliki demi

lancarnya penyelenggaraan pemerintahan, tercapainya peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

4. Memelihara rasa persaudaraan dan kekeluargaan di dalam masyarakat sebagai syarat mutlak bagi terlaksananya program-program pembangunan.

penduduknya. Upaya peningkatan kesejahteraan tersebut dengan meningkatkan produktivitas penduduk, sehingga nantinya akan terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Pengembangan kegiatan residensi di wilayah kecamatan Bogor Timur untuk pelaksanaan kegiatan CMHN salah satunya adalah kelurahan Baranangsiang.

Kelurahan Baranangsiang merupakan salah satu kelurahan yang ada di wilayah kecamatan Bogor Timur. Luas lahan yang dimiliki oleh kelurahan Baranangsiang adalah 235 Ha dengan topografi dan bentang lahan daratan yang sebagian besar lahan dipergunakan untuk pertanian dan pemukiman penduduk. Batas-batas area kelurahan Baranangsiang yaitu sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Tegalega, batas selatan berbatasan dengan kelurahan Sukasari, batas barat berbatasan dengan kelurahan Babakan Pasar dan batas timur berbatasan dengan kelurahan Katulampa. Kondisi geografis terletak pada sekitar 300 m di atas permukaan laut, suhu udara rata–rata 23 derajat celcius, curah hujan berkisar 300 mm rata-rata per tahun. Jarak kelurahan dari pemerintahan kecamatan sekitar 0,5 km ; dari pemerintah kota sekitar 2 km ; dari propinsi 120 km dan dari Ibukota negara 60 km. Kelurahan Baranangsiang mempunyai 14 RW dengan 83 RT. Jumlah penduduk berdasarkan laporan sistem pendataan profil kelurahan Baranangsiang bulan Desember 2011 sebanyak 24.162 jiwa dengan 6608 KK.

Kelurahan Baranangsiang memiliki struktur organisasi yang terdiri dari lurah, bidang sekretariat, kepala seksi pemerintahan, kepala seksi ekonomi pembangunan, kepala seksi kemasyarakatan, kepala seksi ketentraman dan ketertiban. bidang kesehatan ada di bawah kepala seksi kemasyarakatan. Sumber daya manusia yang dimiliki kelurahan Baranangsiang keseluruhan berjumlah 15 orang, terdiri dari 11 orang PNS dan 4 orang tenaga sukarelawan dengan tingkat pendidikan, S2 sebanyak 1 orang, S1 sebanyak 2 orang, D III sebanyak 3 orang SMA 6 orang dan SMP 3 orang.

Sarana kesehatan yang dimiliki oleh kelurahan Baranangsiang adalah jumlah Rumah sakit 1 buah, Puskesmas 2 buah, Posyandu 20 buah, Posbindu 6 buah. Pelayanan kesehatan bekerja sama dengan Puskesmas Bogor Timur, yaitu

PSN & K3 dan membudayakan tim Jumantik. Sarana umum yang ada meliputi 17 masjid, 28 mushola dan 4 gereja. Sarana pendidikan baik negeri maupun swasta meliputi TK/RA 12 buah, SD/MI 16 buah, SMP/Tsanawiyah 5 buah, SMA/Aliyah/SMK 6 buah.

Berdasarkan uraian tentang kondisi wilayah di atas, dapat disimpulkan bahwa Kelurahan Baranangsiang berada dalam posisi strategis yang dapat mendukung kegiatan peningkatan kesejahteraan bagi penduduknya. Upaya peningkatan kesejahteraan ditunjang dengan beberapa sarana prasarana pendukung, seperti tempat pelayanan kesehatan, tempat peribadatan, dan sekolah.

Visi kelurahan Baranangsiang: Terwujudnya masyarakat Baranangsiang sehat jiwa untuk menyongsong masa depan masyarakat yang sehat. Misi kelurahan Baranangsiang; Membentuk Keluarga sehat jiwa merupakan kunci dari masyarakat sehat jiwa; Menciptakan masyarakat Baranangsiang sehat jiwa dengan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bersama; Melalui kader aktif kita tingkatkan perilaku masyarakat yang sehat dan bersih baik rohani maupun jasmani.

Filosofi kelurahan Baranangsiang adalah Masyarakat Baranangsiang tolong menolong dalam mewujudkan masyarakat sehat jiwa. Pada program kerja kelurahan Baranangsiang teridentifikasi masalah sosial yang harus diatasi di tahun 2012 yaitu semakin tingginya angkatan kerja yang menganggur dan makin banyaknya anak putus sekolah. Selain itu juga ditemukan masalah makin meningkatnya jumlah keluarga miskin (gakin) serta masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, kesehatan, dan kesusilaan.

Berdasarkan uraian tentang visi dan misi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerintahan Kelurahan Baranangsiang mendukung terhadap upaya-upaya untuk peningkatan kesehatan penduduknya. Upaya-upaya tersebut telah tersirat dari pengambilan kebijakan dan penyusunan visi dan misi, sehingga wilayah Kelurahan Baranangsiang yang berjumlah 14 RW tepat untuk dijadikan wilayah pengembangan program pelayanan CMHN, diantaranya adalah RW 03 dan 11.

Profil wilayah RW 03 sebelah utara berbatasan dengan RW 02, sebelah selatan berbatasan dengan RW 12, sebelah timur berbatasan dengan RW 04 dan sebelah barat berbatasan dengan RW 09. RW 03 merupakan wilayah di kelurahan Baranangsiang yang terdiri atas 4 RT, dengan jumlah penduduk saat ini sebanyak 133 KK yang terdiri dari 58 KK di RT 01, 21 KK di RT 02, 25 KK di RT 03, dan 29 KK di RT 04. Berdasarkan data yang didapatkan dari kader Posyandu didapatkan data bahwa jumlah bayi di RW 03 adalah sebanyak 14 orang, balita sebesar 40 orang, anak usia sekolah 84 orang, dan lanjut usia sebanyak 28 orang. Kelompok usia terbanyak adalah kelompok usia dewasa tengah yaitu usia 24-65 tahun. Selain itu, data jumlah penduduk di RW 03 memiliki beragam status kesehatan yang dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok, 37 orang merupakan kelompok yang berisiko mengalami gangguan jiwa (memiliki masalah psikososial terkait dengan masalah kesehatan fisik, proses tumbuh kembang dan faktor lainnya), 2 orang meninggal akibat serangan jantung, 4 orang warga yang memiliki masalah gangguan jiwa dan sisanya merupakan kelompok sehat yang tetap harus mendapatkan perhatian untuk meningkatkan perkembangannya melalui upaya promotif dan preventif.

Penduduk RW 03 mayoritas beragama Islam, tingkat pendidikan rata-rata tamat SMA dan PT dan memiliki pekerjaan tetap (pegawai, pengusaha). RW 03 memiliki satu Posyandu Flamboyan yang memberikan pelayanan kepada warga RT 01, 02, 03 dan 04 setiap bulan sekali pada tanggal 10. Posyandu ini memiliki 10 orang kader yang aktif. Sarana umum yang dimiliki RW 03 berupa fasilitas ibadah yaitu 1 buah masjid Raya, 1 mushola, 1 buah gereja. Sedangkan sarana yang lain adalah kantor kelurahan, kantor KUA, kantor pertanian kabupaten dan 1 buah kantor RW sekaligus tempat pelaksanaan posyandu.

Perangkat RW 03 sangat terbuka dan kooperatif dengan praktik mahasiswa spesialis keperawatan jiwa, sehingga saat penyajian hasil pengkajian awal melalui musyawarah masyarakat RW (MMRW) I mereka dapat menerima data yang dikumpulkan oleh mahasiswa residensi dan menyambut baik rencana pembentukan RW 03 Siaga Sehat Jiwa. Pembentukan RW Siaga sehat jiwa ini dilakukan pada kegiatan residensi 1 yang kemudian dilanjutkan dengan

melakukan pelatihan kader dengan metode pemberian materi di kelas dan praktik lapangan dan tiap kader dilakukan supervisi oleh mahasiswa. Dalam kegiatan residensi II mahasiswa melakukan evaluasi data baik dari kader kesehatan maupun dari tokoh masyarakat terkait pelaksanaan RW siaga sehat jiwa. Pada kegiatan resdiensi III melakukan updating data baik penduduk, jumlah penduduk yang sehat, resiko dan gangguan serta kegiatan yang telah dilaksanakan dan jumlah kader yang masih aktif dalam kegiatan RW 03 siaga sehat jiwa. Pengembangan kegiatan CMHN pada residensi III ini bertambah pengelolaannya yaitu di RW 11 Kelurahan Baranangsiang.

Profil wilayah RW 11 kelurahan Baranangsiang terdiri dari 5 (lima) RT. RW 11 merupakan RW yang menjadi RW Siaga Sehat Jiwa di Kelurahan Baranangsiang pada bulan Februari 2012 yang merupakan lahan baru untuk pengembangan RWSSJ berikutnya. Profil wilayah RW 11 sebelah utara berbatasan dengan RW 07, sebelah selatan berbatasan dengan RW 03, sebelah timur berbatasan dengan RW 14 dan sebelah barat berbatasan dengan RW 01. RW 11 merupakan wilayah di kelurahan Baranangsiang yang terdiri atas 5 RT, dengan jumlah penduduk saat ini sebanyak 350 KK yang terdiri dari 35 KK di RT 01, 160 KK di RT 02, 45 KK di RT 03, 40 KK di RT 04 dan 70 KK di RT 05. Berdasarkan data yang didapatkan dari kader Posyandu didapatkan data bahwa jumlah bayi di RW 11 adalah sebanyak 29 orang, balita sebesar 184 orang, anak usia sekolah 150 orang, dan lanjut usia sebanyak 77 orang. Kelompok usia terbanyak adalah kelompok usia dewasa tengah yaitu usia 24-65 tahun.

Kader kesehatan Jiwa berjumlah 6 orang, sekaligus berperan sebagai kader posyandu. Kader kesehatan jiwa di RW 11 hanya berasal dari 2 RT yaitu Rt 01 dan 02 yang mewakili seluruh kader yang ada di RW 11 sedangkan RT yang lain tidak ada kader karena kesibukan dan tidak ada yang siap menjadi kader kesehatan (Komplek Villa Duta Raya, Perumahan IPB & LIPI).

Sarana dan prasarana umum di wilayah RW 11, terdapat masjid 1 buah dan mushola 2 buah terdapat di RT 02 dan 01. Terdapat 1 PAUD di RT 02. Mata pencaharian penduduk di RT 01 dan 02 rata-rata adalah buruh bangunan, buruh

perumahan) adalah wiraswasta, pegawai swasta dan pegawai negeri. Untuk tingkat pendidikan pun mengalami perbedaan untuk RT 01 dan RT 02 rata-rata SD, SLTP dan SMA sedangkan RT 03 – 05 minimal SLTA dan tertinggi S2.

Masalah kesehatan secara umum yang terbanyak adalah perkembangan bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa dan kelompok lansia. Kasus gangguan jiwa yang ditemukan adalah schizophrenia paranoid dan epilepsy 1 orang dengan masalah keperawatan terbanyak yang dialami halusinasi, isolasi social, harga diri rendah dan koping keluarga inefektif.

Secara umum wilayah RW 03 dan 11 yang berbatasan langsung dengan pagar komplek perumahan yang cukup mewah. Kondisi warga secara umum memiliki latar belakang pendidikan rendah (SD/tidak tamat SD), status sosial ekonomi rendah, serta kultur/pandangan masyarakat bahwa tidak perlu sekolah tinggi dan masih banyak ditemukan kasus menikah muda.

Berdasarkan profil wilayah Kelurahan Baranangsiang secara umum dan khususnya RW 03 dan 11 yang menjadi lahan atau wilayah dalam pembuatan Karya Ilmiah Akhir ini menunjukkan bahwa kondisi wilayah memungkinkan / potensial terjadinya peningkatan kesehatan. Penulis melakukan upaya Health Promotion pada 24 anak usia sekolah dari 243 orang dengan kondisi orang tua bercerai 4 orang, 35% orang tua mempunyai status ekonomi rendah dan sisanya ada di ekonomi menengah. Kegiatan Health Promotion dilakukan penulis dengan melibatkan peran serta kader kesehatan jiwa RW 03 sebanyak 10 orang kader dan RW 11 sebanyak 6 kader mulai dari perencanaan kegiatan penyuluhan dan pemberian intervensi baik terapi generalis maupun terapi spesialis, pengumpulan anak usia sekolah untuk mengikuti kegiatan penyuluhan kesehatan anak usia sekolah dan pelaksanaan terapi spesialis sampai dengan supervisi kegiatan anak usia sekolah, dimana satu KKJ memantau dua orang anak usia sekolah dan keluarganya yang ada di sekitar wilayahnya.

Keterlibatan KKJ di RW 03 dan 11 merupakan pengaruh dari situasi lingkungan yang ada di sekitar anak sekolah sehingga dapat memberikan dukungan sosial

(TKT anak usia sekolah dan psikoedukasi keluarga) dalam menerapkan perilaku hidup sehat di lingkungan tempat tinggalnya dan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas.

Dalam dokumen Abdul Gowi (Halaman 93-100)