BAB V: Bab penutup dari berbagai sub bab yang terdapat dalam penyusunan skripsi ini merangkum seluruh kesimpulan dan
GAMBARAN UMUM
A. Profil Kompas
Menjelang awal tahun 1965, suhu politik di Indoneisa kembali memanas dengan hadirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sering melakukan kegitan sepihak. PKI bahkan menyuarakan perlunya dibentuk angkatan kelima untuk menghadapi alat-alat keamanan negara yang sah (ABRI). Bahkan saat itu PKI adalah salah satu partai besar di Indonesia pada 1950-an dan 1960-an, serta PKI memenangkan tempat keempat dalam pemilihan umum 1955, sehingga partai ini memiliki pengaruh besar di masyarakat kala itu.70 Hingga suatu hari, Letjen Ahmad Yani selaku Panglima TNI-AD menelpon rekan sekabinetnya yakni Drs. Frans Seda. Letjen Ahmad Yani melemparkan ide untuk menerbitkan surat kabar untuk menandingi wacana PKI yang berkembang.71
Selanjutnya, Frans Seda menanggapi ide tersebut dan kemudian membicarakan hal itu dengan rekanya Ignatus Josef Kasimo (sesama rekan di Partai Katolik) dan dengan rekannya yang lain yakni Petrus Kanisisus Ojong dan Jakob Oetama yang saat itu sebagai pemimpin majalah Intisari. Namun secara pribadi Jakob Oetama dan beberapa pemuka agama Katolik seperti Monsignor Albertus Soegijapranata, Ignatius Joseph Kasimo tidak
70
F. A. Santoso, Sejarah, Organisasi, dan Visi-Misi Kompas, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010), h. 1.
71
mau menerima begitu saja mengingat kontekstual politik, ekonomi dan infrastruktur pada saat itu tidak mendukung.72
Namun tekad Pertai Kotolik menerbitkan koran semakin bulat. PK Ojong dan Jakob Oetama menerima ide tersebut dan segera mempersiapkan penerbitan surat kabar. Surat kabar tersebut semuala akan dinamai “Bentara Rakyat” yang memiliki arti pembela rakya. Nama tersebut dipilih dan dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pembela rakya sebenarnya bukanlah PKI.Akan tetapi menjelang penerbitan, Frans Seda yang saat itu menjabat sebagai menteri perkebunan rakyat menghadap ke Istana Merdeka untuk menemui Presiden Soekarno. Saat itu Soekarna telah mendengar bahwa Frans Seda akan menerbitkan surat kabar, kemudian Presiden mengajukan usulan nama yakni “Kompas” yang memiliki arti “pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba”, arti ini merupakan sebuah harapan bahwa Surat Kabar Kompas dapat menjadi petunjuk arah dan juga petunjuk jalan bagi masyarakat. Kompas mampu menyajikan pemberitaan yang menjadi petunjuk atau mencerahkan masyarakat. Maka nama usulan presidenlah yang resmi digunakan, yakni “Kompas”. Sementara nama“Bentara Rakya” digunakan sebagai nama dari yayasan penerbitan dimana Kompas bernaung dibawahnya.73
Meski mendapat restu Presiden Soeharto, bahkan nama “Kompas” merupakan ide presiden pula, namun diawal berdirinya Kompas melewati
72
Diakses dari http://www.fimadani.com/sejarah-harian-Kompas-sebagai-pers-partai-katolik/ yang dikutip dari Jakob Oetama, “Mengantar Kepergian P.K. Ojong”,
KOMPAS, 22 juni 1980.
73
banyak rintangan, terutama pihak yang tidak senang dari partai komunis. Izin sudah ditangan namun Kompas tak kunjung terbit.Rupanya rintangan belum semuanya berlalu, masih ada satu halangan yang mesti dilalui, yakni izin dari Panglima Militer Jakarta yang saat itu dijabat oleh Letnan Kolonel Dachja. Dari Markas Militer Jakarta, diperolehlah jawaban atas izin tersebut baru akan disetujui jika syarat dari 5.000 tanda tangan pelanggan terpenuhi. Hingga akhirnya pada wartwan mengumpulkan tanda tangan dari anggota petani, gutu sekolah, anggota koprasi di Kabupaten Ende Lio, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, pada akhirnya persyaratan tersebut terpenuhi.74
Tak henti sampai disitu, PKI mulai menghasut masyarakat dengan mengartikan kata “Kompas” sebagai singkatan dari “komando pastor”. Hal ini berusaha mereka kaitkan dengan kondisi sebagaian besar kepengurusan Kompas yang berasal dari para pemimpin organisasi Partai Katolik, wanita katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Diantara nama-nama yang tercatat, antara lain; IJ. Kasimo (Ketua Yayasan Bentara Rakyat), Drs. Frans Seda (Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat), penulis 1: Palaunsuka, penulis II: Jakob Oetama, dan bendahara: Petrus Kanisius Ojong.
Harian Kompas lahir tanggal 28 Juni 1965 dengan moto “Amanat
Hati Nurani Rakyat”.Kompas diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara
yang merupakan bagian dari kelompok usaha Kompas Gramedia (KG), yang
74
Diakses dari http://www.fimadani.com/sejarah-harian-Kompas-sebagai-pers-partai-katolik/ yang dikutip dari Daniel Dhakidae, “THE STATE, THE RISE OF CAPITAL’, HAL. 237-244
didirikan oleh PK. Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama.75 Kompas pertama kali terbit empat halaman berisi sebelas berita luar negeri dan tujuh berita dalam negeri di halaman pertama. Berita utama di halam satu, saati itu berjudul “KAA Ditunda Empat Bulan”. Dihalaman pertama pojok kiri atas tertulis nama Pemimpin Redaksi : Drs. Jakob Oetama. Staf Redaksi; Drs. J. Adisubrata. Lie Hwat Nio SH, Marcel Beding, Th. Susilastuti, Tan Soei Sing, J. Lambangdjaja, Tan Tik Hong, Yh. Ponis Purba, Tinon Prabawa, dan Eduard Liem.76
Sementra itu istilah tajuk rencana ketika itu belum ada, namun halaman 2 terdapat kisah lahirnya Kompas dan berita luar negeri serta dua berita dalam negeri. Serta terdapat kolom hiburan senyum simpul.Di halaman 3 terdapat tiga artikel, satu diantaranya mengenai luar negeri.Terdapat pula ulasan mengenai penyakit ayan dari Dr. Kompas. Sedangkan di halaman terakhir terdapat dua berita olahraga mengenai “Persiapan Team PSSI ke Pyongyang”, dan dua artikel luar negeri dan satu dari dalam negeri. Saat itu iklan masih kurang, dari enam iklan diantaranya dari redaksi Kompas mengenai permintaan menjadi langganan Kompas.
Kompas terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Oplah Kompas selalu naik dari semula hanya 4.800 eksemplar menjadi 8.003 eksemplar. Saat ini rata-rata 500.000 eksemplar pada hari Senin hingga Jumat, dan berkisar 600.000 eksemplar pada weekand. Oplah terbesar
75
Diakses dari http://profile.print.kompas.com/profil/, diakses pada 20 September 2015.
76
dicapai pada saat bertepatan dengan ulang tahun Bung Karno ke 100 tahun dengan oplah 750.000 eksemplar dalam edisi khusus.77
Dengan moto “Amanat Hati Nurani Rakyat” menggambarkan visi dan misi bagi disuarakannya hati nurani rakyat. Kompas ingin berkembang sebagai institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengotakan latar belakang, suku, agama, ras, dan golongan. Ingin berkembang sebagai "Indonesia Mini”, karena Kompas sendiri adalah lembaga yang terbuka dan kolektif. Ingin ikut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa. Kompas ingin menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok.78
Sesuai dengan moto tersebut, visi Kompas ingin menjadi institusi yang memberikan pencerahan bagi perkembangan masyarakat Indonesia yang demokratis dan bermartabat, serta menjungjung tinggi asas dan nilai kemanusiaan. Kompas juga turut berpartisipasi membangun masyarakat Indonesia baru berdasarkan Pancasila melalui prinsip persatuan dalam perbedaan dengan menghormati individu dan masyarakat yang adil dan makmur. Begitupun dengan misi Kompas, mengantisipasi dan merespon dinamika masyarakat secara profesional, sekaligus memberi arah perubahan (Trend Setter) dengan menyediakan dan menyebarluaskan informasi terpercaya.” Hal ini diperjelas dalam lima sasaran oprasional; Kompas adalah lembaga pers yang bersifat umum dan terbuka. Kompas tidak
77
F. A. Santoso, Sejarah, Organisasi, dan Visi-Misi Kompas, h. 3.
78
melibatkan diri dalam kelompok-kelompok tertentu baik politik, agama, sosial atau golongan dan ekonomi. Kompas secara atif membuka dialog dan berinteraksi positif dengan segala kelompok. Kompas adalah koran nasional yang berusaha mewujudkan aspirasi dan cita-cita bangsa, Kompas bersifat luas dan bebas dalam pandangan yang dikembangkan tetapi selalu memperhatikan konteks struktur kemasyarakatan dan pemerintahan yang menjadi lingkungan. 79