BAB V: Bab penutup dari berbagai sub bab yang terdapat dalam penyusunan skripsi ini merangkum seluruh kesimpulan dan
TINJAUAN TEORITIS
B. Teori Konstruksi Sosial
2. Surat Kabar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), surat kabar diartikan sebagai, “Lembaran kertas bertuliskan kabar atau berita dan sebagainya, terbagi dalam kolom-kolom (8-9 kolom), yang terbit setiap
hari secara periodik.”70
Menurut Indah Suryawati, dari segi periode terbit tidak hanya harian namun juga terdapat surat kabar mingguan. Dari segi ukurannya, terdapat surat kabar yang terbit dalam bentuk plano dan ada pula yang terbit dalam bentuk tabloid.71
Dilihat dari fungsinya, Surat kabar yaitu media komunikasi yang berbentuk cetak yang menitikberatkan pada penyebaran informasi (fakta maupun peristiwa) agar diketahui publik. Dari segi ruang lingkupnya, terdapat surat kabar lokal dan surat kabar nasional.72
Sedangkan menurut Dja‟far H. Assegaf, surat kabar tidak hanya dilihat sebagai media yang berisikan berita saja, namun juga berisi iklan-iklan. “Penerbitan yang berupa lembaran-lembaran yang berisi berita-berita, karangan-karangan dan iklan, yang dicetak dan diterbitkan secara tetap atau periodik dan dijual untuk umum”.73
Selain itu Surat kabar dianggap memiliki kelebihan dari media massa lainnya, yakni mampu
70
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 2003), h.28
71
Indah Suryawati, Jurnalistik Suatu Pengantar: Teori dan Praktik, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), h, 40.
72
Syarifudin Yunis, Jurnalistik Terapan, (Ghalia Indonesia, 2010), h. 29.
73Dja‟far H. Assegaff, Jurnalistik Masa Kini, Pengantar ke Praktek Kewartawanan, (Jakarta : Ghali Indonesia, 1985), h.63
menyajiakan informasi atau berita secara komprehensif, bisa dibawa kemana-mana, bisa didokumentasikan, dan dapat dibaca berulang-ulang.74 3. Konflik
Konflik merupakan bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, karena mereka terlibat memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai atau kebutuhan. Konflik juga merupakan suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negatif mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan psikis atau fisik yang membuat perasaan orang lain dan fisik orang lain terganggu.75
Konflik merupakan hubungan antara dua pihak atau lebih, baik individu maupun kelompok yang merasa dirugikan atau diperlakukan secara tidak adil dalam berbagai aspek kehidupan agama, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, keorganisasian sosial, bahasa dan komunikasi, kesenian dan lainnya.76
Dari penyataan di atas, konflik dapat terjadi karena pihak-pihak yang berlawanan merasa dirugikan dan diperlakukan tidak adil. Oleh karenanya satu atau kedua pihak berupaya untuk mendapatkan keadilan dalam segala aspek kehidupan. Dapat dikatakan bahwa pihak yang berlawanan ini berupaya untuk memperoleh sumber daya yang terbatas. Perebutan sumberdaya ini tidak selalu berbentuk materi, namun juga dapat berbentuk
74
Indah Suryawati, Jurnalistik Suatu Pengantar: Teori dan Praktik, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), h, 40.
75
Alo Liliweri, M.S., Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, (Yogyakarta: LKiS, 2009), h. 249.
76
Rusmin Tumanggor, dkk., Panduan Pengelolaan Konflik Etnoreligius: Dengan Pendekatan Riset Aksi Partisipatori, h. 6.
perebutan yang sifatnya ideologis, seperti rasa ingin dihargai, atau penghormatan terhadap kepercayaan yang dianut.
Dilihat dari tipe dasar konflik, menurut Lewis Coser terbagi menjadi dua tipe. Pertama, konflik realistik. Konflik realistik memiliki sumber yang konkrit atau bersifat matrial, seperti sengketa sumber ekonomi dan wilayah. Kedua, konflik non realistik didorong oleh keinginan yang tidak rasional dan cenderung bersifat ideologis, seperti konflik antar etnis dan agama. Coser menambakan bahawa konflik jenis pertama dapat diatasi dengan baik jika sumber daya dari masing-masing pihak dapat terpenuhi secara adil. Namun, untuk jenis konflik kedua cenderung sulit untuk menemukan solusi konflik untuk mencapai perdamaian. Dalam suatu konflik juga memungkinkan memiliki kedua tipe dasar konflik tersebut.77
Dari pernyataan di atas menjelaskan bahwa konflik dapat disebabkan karena multi faktor. Konflik bisa dipicu oleh sebab-sebab lain yang melatar belakangi peristiwa konflik. Misalnya dalam konflik keagamaan, penyebab dari konflik ini bisa berawal dari kesenjangan ekonomi kemudian hingga menyulut tindak kekerasan atas nama agama secara massif.
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya suatu konflik. Terdapat empat faktor dominan penyebab terjadinya konflik; pertama, Kesenjangan distribusi ekonomi dan sumberdaya natural yang tidak merata atau tidak seimbang. Kedua, kebijakan politik nasional dan internasional, diantaranya tentang pola migrasi dan tata ruang wilayah yang kurang terarah dan rawan konflik. Ketiga, persoalan perbedaan identitas dan pola adaptasi sosial yang beragam sehingga memunculkan sentimen keagamaan, etnisitas dan golongan. Keempat, adanya profokasi atau penyulut konflik.78
77
Rusmin Tumanggor, dkk., Panduan Pengelolaan Konflik Etnoreligius: Dengan Pendekatan Riset Aksi Partisipatori, h. 42.
78
Faktor perbedaan identitas dan pola adaptasi sosial dapat menjadi penyebab konflik karena setiap individu tentunya memiliki perbedaan pendirian dan perasaan akan suatu hal. Ini yang menyebabkan sesorang terkadang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Kemudian, adanya perbedaan latar belakang kebudayaan yang membentuk pribadi-pribadi yang berbeda yang dapat memicu konflik jika tidak bersesuaian dengan lingkungan sosialnya. Selanjutnya, terdapat perbedaan kepentingan antar individu dan kelompok yang menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Terakhir, terjadinya perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat, perubahan yang cepat dapat membuat individu atau kelompok dalam lingkungan sosial sulit kembali untuk beradaptasi. Atau bahkan mungkin terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat setempat.79
Dari faktor –faktor tersebut, jika dianalogikan seperti bagian sebuah bom. Maka kesenjangan ekonomi dan sumber daya menjadi sebuah bahan utama atau menjadi isinya. Kemudian bahan utama tersebut dibungkus oleh persoalan kebijakan politik. Kemudian sumbunya ialah perbedaan identitas sepeti perbedaan etnis, suku dan agama yang mampu menyulut konflik. Dan terakhir jika bom tersebut disulut dengan api, atau adanya aksi provokator, maka ledakan konflik akan terjadi.80
79
Rusmin Tumanggor, dkk., Panduan Pengelolaan Konflik Etnoreligius: Dengan Pendekatan Riset Aksi Partisipatori, h. 43-45.
80
40