• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 PENDEKATAN TEORITIS

4 PROFIL KOMUNITAS DESA BENETE

Sebagai daerah yang terdekat dengan kawasan tambang, masyarakat Desa Benete mendapat prioritas dalam beberapa hal seperti kesempatan kerja dan bantuan pengembangan masyarakat dari perusahaan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh warga terutama yang berpendidikan untuk menjadi karyawan, sedangkan yang memiliki modal menjadi pengusaha jasa barang yang tergabung dalam lembaga yang disebut dengan Local Bussiness Initiatif (LBI) bentukan PTNNT. Kiprah mereka ikut mempengaruhi perubahan fisik pembangunan di Desa Benete terutama dalam hal pembangunan rumah, sarana transportasi, perputaran uang dan keberadaan fasilitas lainnya. Namun demikian perubahan tersebut juga mempengaruhi pola relasi antar warga dalam kehidupan bermasyarakat.

Guna menggambarkan potensi yang dimiliki, bab ini akan difokuskan pada profil desa Benete yang akan memberikan pemahaman tentang realitas sosial yang terjadi di Desa Benete.

Lokasi Komunitas

Secara administratif Desa Benete berada di Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat. Jarak ke Kota Taliwang (ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat) sekitar 34 km. Akses jalan menuju ibu kota kabupaten dapat ditempuh melalui jalan hotmix dengan jarak tempuh kurang lebih 40 menit dengan kendaraan bermotor. Desa Benete menjadi pusat Kecamatan Maluk. Saat ini teradapat 5 (lima) desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Maluk, yaitu Desa Benete, Desa Bukit Damai, Desa Maluk, Desa Mantun dan Desa Pasir Putih.

Menurut informasi dari Kepala Desa bahwa Desa Benete sebelum tahun 2005, merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Jereweh. Sejarah terbentuknya Desa Benete ada hubungannya dengan kejadian tsunami pada tahun 1977 dan wabah penyakit malaria. Penduduk Benete saat ini berasal dari warga Jereweh yang menetap karena membuka ladang, berkebun dan beternak di wilayah Benete. Selanjutnya pertambahan penduduk karena adanya perpindahan penduduk Dusun Singa dan Dusun Nangkalanung (wilayah Desa Belo) dan Dusun Tatar (bagian wilayah Desa Sekongkang Bawah) masing-masing dusun itu berada di pedalaman hutan yang saat ini menjadi bagian dari kawasan konsesi PTNNT. Perpindahan penduduk saat itu disebut dengan transmigrasi spontan dilakukan atas inisiatif pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa dengan alasan kejadian bencana Tsunami yang menimpa sebagian besar pantai selatan pulau Sumbawa termasuk wilayah Tatar. Wabah penyakit malaria dan kesulitan transportasi ke lokasi pemukiman.Warga yang pindah ke wilayah Benete saat itu masing-masing 20 KK dari Nangkalanung, 32 KK dari Singa dan 19 KK dari Tatar. Untuk lebih jelas mengenai lokasi komunitas dapat dilihat pada peta (gambar 3).

Gambar 3. Peta administratif Kecamatan Maluk.

Peta menunjukkan batas adminstratif Desa Benete meliputi: sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Desa Belo dan Desa Beru Kecamatan Jereweh; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bukit Damai dan Desa Mantun; sebelah Barat dengan Selat Alas. Luas wilayah desa mencapai 60,87 Km2 mencakup 4 dusun, yaitu; Dusun Nangkalanung, Dusun Tatar, Dusun Jereweh dan Dusun Singa. Topografi wilayah didominasi oleh perbukitan dengan ketinggian dari permukaan laut sekitar 5 meter dengan panjang wilayah pesisir 6 km. Secara umum wilayah Kecamatan Maluk, curah hujan rata-rata pada tahun 2011 adalah 150 mm dengan hari hujan sebanyak 91 hari. Bulan basah (>100 mm) biasanya berlangsung selama 2 bulan (Desember-Januari); bulan lembab (60-100 mm) berlangsung selama 4 bulan (Februari-Mei) dan bulan kering berlangsung selama 6 bulan (Juni-November). Suhu maksimum biasanya mencapai 38oC dan suhu minimum 25oC.

Kependudukan

Jumlah dan Komposisi Penduduk

Jumlah penduduk Desa Benete pada tahun 2011 adalah 2.095 jiwa atau 17,33% dari total penduduk Kecamatan Maluk, dengan rincian masing-masing 1002 jiwa (47,8%) orang laki dan 1.095 jiwa (52,2%) perempuan dengan sex ratio 91,7 atau jumlah penduduk perempuan masih lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki. Rumah tangga di Desa Benete berjumlah 504 KK dengan anggota rata-rata 4 orang setiap KK. Jumlah KK terbanyak terdapat di Dusun Nangkalanung yaitu 200 KK, Dusun Singa 130 KK, Dusun Tatar 91 KK dan Dusun Jereweh 88 KK. Bila dilihat secara keseluruhan dari jumlah KK di Desa Benete pada tahun 2011 terjadi peningkatan 13% dari tahun 2009. Agama dan kepercayaan penduduk Desa Benete lebih homogen dengan mayoritas beragama Islam. Untuk lebih jelas gambaran distribusi penduduk di Desa Benete berdasarkan tempat menetap dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

Gambar 4. Grafik penduduk Desa Benete berdasarkan jenis kelamin dan jumlah Kepala Keluarga (KK) per Dusun.

Berdasarkan asal usul penduduk dapat digolongkan 3 kelompok yaitu; penduduk asli yaitu warga Jereweh yang menetap di Benete karena membuka ladang, berkebun dan beternak saat ini sebagian besar mereka tinggal di Dusun Jereweh. Kelompok kedua yaitu warga transmigrasi spontan yaitu penduduk yang pindah dari Dusun Singa, Dusun Nangkalanung dan Dusun Tatar, dan kelompok ketiga yaitu warga pendatang dari wilayah Sumbawa Besar, Lombok, Bima, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi, yang menetap karena hubungan perkawainan, bekerja atau membuka usaha di Benete.

Komposisi penduduk Desa Benete tahun 2012 menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Penduduk Desa Benete berdasarkan umur dan jenis kelamin.

No. Golongan Umur Laki Perempuan Jumlah %

1 0–4 15 22 37 1,77 2 5–9 120 118 238 11,36 3 10–14 124 90 214 10,21 4 15–19 75 79 154 7,35 5 20–24 78 87 165 7,88 6 25–29 100 114 214 10,21 7 30–34 93 117 210 10,02 8 35–39 97 118 215 10,26 9 40–44 101 119 220 10,50 10 45–49 49 60 109 5,20 11 50–54 46 53 99 4,73 12 55–59 39 27 66 3,15 13 60 – 64 24 24 48 2,29 14 65–69 12 32 44 2,10 15 70–74 14 20 34 1,62 16 75+ 15 13 28 1,34 TOTAL 1002 1093 2095 100

Sumber : Data yang diolah dari buku induk penduduk Desa Benete tahun 2012. Menurut Badan Pusat Statistik, komposisi penduduk menurut kelompok umur terdiri dari penduduk berusia muda (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun) dan usia tua ( > 65 tahun). Berdasarkan data kependudukan Desa Benete pada tahun 2012, diketahui bahwa penduduk tergolong berusia muda sebanyak 489 jiwa (23%), usia produktif sebanyak 1500 jiwa (72%) dan usia tua 106 jiwa (5%).

Dilihat menurut jenis kelamin, komposisi penduduk produktif ternyata lebih banyak penduduk perempuannya dibandingkan laki-laki, yaitu 42% berbanding 39%. Pola yang sama terjadi pada penduduk yang tergolong tidak produktif lagi. Sedangkan pada golongan penduduk belum produktif, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada perempuan yaitu 12% berbanding 11%.

Angka ketergantungan (dependency ratio) merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Angka dependency ratio adalah perbandingan jumlah penduduk berumur 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas dengan penduduk berumur 15-64 tahun. Semakin tinggi angka dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk belum produktif dan tidak produktif lagi. Berdasarkan data penduduk Benete pada tabel 1 diatas maka rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk Desa Benete adalah sebesar 40%. Artinya bahwa setiap 100 orang berusia produktif menanggung penduduk yang berusia belum dan tidak produktif sebanyak 40 orang.

Kepadatan Geografis dan Agraris

Distribusi atau persebaran penduduk berkaitan dengan daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah.Indikator yang umum dipakai adalah Rasio Kepadatan Penduduk (density ratio) yaitu rasio yang menyatakan perbandingan

antara banyaknya penduduk terhadap luas wilayah atau berapa banyaknya penduduk per kilometer persegi pada tahun tertentu.

Luas wilayah Desa Benete pada tahun 2011 adalah 60,87 km2, terjadi pengurangan 50% dibandingkan luas wilayah sebelum tahun 2006 yaitu 121,20 km2. Pengurangan luas wilayah ini merupakan konsekwensi dari pemekaran desa yaitu Desa Maluk menjadi Desa Bukit Damai, Mantun, Maluk dan Pasir Putih untuk memenuhi persyaratan terbentuknya Kecamatan Maluk secara definitif. Dari data dibawah ini dapat diketahui bahwa Desa Benete merupakan salah satu desa yang paling luas di Kecamatan Maluk dengan tingkat kepadatan georafis rendah yaitu 33.14 jiwa/km2 atau kategori berpenduduk jarang.

Perbandingan luas wilayah, kepadatan dan jumlah penduduk per desa di Kecamatan Maluk pada tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. Luas wilayah, kepadatan penduduk per km2 dan jumlah penduduk di Kecamatan Maluk tahun 2011.

Nama Desa Luas Wilayah (km) % Kepadatan penduduk per km2 Jumlah Penduduk Jiwa % Rumah Tangga % Maluk 9,64 10,43 295,01 2.838 23,74 781 22,05 Mantun 5,86 6,34 370,99 2.174 18,18 718 20,27 Benete 60,87 65,86 33,14 2.095 17,52 504 14,23 Bukit Damai 6,72 7,27 354,91 2.385 19,95 695 19,62 Pasir Putih 9,35 10,12 268,98 2.515 21,03 844 23,83 Jumlah 92.42 100 129,07 11.957 100 3.542 100

Sumber : Kecamatan dalam angka tahun 2011

Iklim dan curah hujan menentukan pola penggunaan lahan dan sistem usaha tani yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Benete. Luas wilayah Desa Benete, telah digunakan 200 hektar untuk sawah dengan kategori produktif (irigasi teknis) 75 hektar dan 125 hektar lainnya irigasi non teknis. Peruntukan lahan selain sawah masing-masing 378 hektar kebun, 480 hektar ladang, 84 hektar lahan untuk sementara tidak difungsikan dan 37 hektar lahan untuk fungsi lain. Sedangkan penggunaan lahan untuk pemukiman dan perkantoran adalah 46 hektar. Perbandingan penggunaan lahan di Desa Benete pada tahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Grafik luas lahan menurut penggunaan lahan di Desa Benete tahun 2011. 0 200 400 600 800 1000

Sawah (Ha) Bukan Sawah (Ha)

Non Pertanian (Ha)

Menurut data BPS tahun 2012, penduduk Desa Benete yang bekerja dibidang pertanian adalah 562 jiwa terdiri dari pemilik 430 orang, penggarap 89 orang dan buruh tani 43 orang. Jika diasumsikan bahwa luas lahan produktif (irigasi teknis) adalah 75 hektar dan jumlah penduduk yang bekerja dibidang pertanian adalah 562 orang, maka tingkat kepemilikan lahan produktif di Desa Benete pada tahun 2012 adalah 0,13 Ha./orang.

Sedangkan Kepadatan penduduk agraris adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah penduduk pada suatu daerah dengan luas lahan pertanian yang tersedia.

Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan data penduduk 5 tahun terakhir bahwa pertumbuhan penduduk di Desa Benete tergolong masih rendah dengan rata-rata pertambahan 3% per tahun. Pertumbuhan penduduk di Desa Benete lima tahun terakhir berdasarkan data BPS tahun 2006 – 2012 dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Grafik pertumbuhan penduduk Desa Benete tahun 2006 – 2012.

Pertumbuhan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu tingkat kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Kelahiran dan imigrasi akan menambah pertumbuhan penduduk, sedangkan kematian dan emigrasi akan mengurangi pertumbuhan penduduk.

Struktur Sosial Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan penggolongan masyarakat dalam berbagai lapisan-lapisan tertentu. Pitirim A. Sorokin mendifinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan pendudukatau masyarakat ke dalam lapisan kelas-kelas secara bertingkat (hirarki) dengan perwujudannya adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Menurut Max Weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan

- 200 400 600 800 1,000 1,200 2006 2007 2008/20 09 2010 2011 2012 Rumah Tangga 645 432 441 445 504 509 Laki 957 902 959 907 1,016 1,002 Perempuan 851 955 937 797 971 1,095

orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan- lapisan hirarkis menurut dimensi status sosial. (Soekanto 1990)

Pelapisan sosial yang umum didasarkan pada lima hal atau kriteria utama, yaitu: Tingkat penghasilan atau kekayaan (ekonomi); tingkat pendidikan; status pekerjaan (jabatan tertentu); tokoh agama; serta latar belakang keluarga. Seseorang yang memiliki satu dari lima kriteria utama tersebut akan di tempatkan pada lapisan atas. Pada beberapa orang bisa melekat lebih dari satu kriteria, misalnya seseorang dengan pendidikan tinggi mempunyai pekerjaan yang bagus sehingga memperoleh penghasilan yang tinggi, maka hal tersebut akan lebih mengukuhkan strata sosialnya yang tinggi. Ukuran penghargaan yang lebih tinggi terhadap suatu hal akan menempatkan hal tersebut pada posisi yang lebih tinggi daripada hal-hal lain. Misalnya warga yang kaya (sisi ekonomi) dibandingkan warga yang berpendidikan, maka kekayaan akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan atau unsur-unsur lain dalam komunitas tersebut.

Stratifikasi sosial yang terlihat dalam kehidupan warga Desa Benete merupakan bentuk stratifikasi terbuka, dimana setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk menempati setiap strata sosial. Pada awalnya warga dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) dipandang sebagai lapisan sosial tertinggi dalam masyarakat. Mereka dianggap tahu segala hal, dimintakan pandangannya, dan selalu dilibatkan dalam kepanitiaan di setiap kegiatan masyarakat. Mereka

akan selalu diundang dan menempati posisi “VIP” dalam setiap kegiatan

masyarakat. Dalam pandangan masyarakat, menjadi PNS adalah sebuah prestise, oleh sebab itu mengenakan atribut PNS dalam masyarakat merupakan kebanggaan tersendiri. Setelah beroperasi PTNNT orientasi terkait status sosial menurut pandangan masyarakat Benete bahwa warga yang memiliki kekayaan dan jabatan ditempatkan pada posisi elit. Mereka yang masuk kelompok ini adalah Karyawan PTNNT, Kepala Desa dan Pengusaha. Sedangkan pada lapisan menengah ditempati oleh petani pemilik lahan, karyawan sub kontraktor, pedagang, tokoh adat dan hukum masjid. Sedangkan pada lapisan bawah ditempati oleh warga dengan profesi buruh tani, buruh bagunan, nelayan dan pengangguran.

Cara pandang masyarakat Benete setalah beroperasi PTNNT mulai bergeser, dimana karyawan PTNNT masuk menjadi warga elit dibandingkan warga PNS. Salah satu alasan utama dari pergeseran persepsi ini adalah perbedaan Penghasilan. Menurut mereka bahwa menjadi karyawan PTNNT dipandang memiliki penghasilan lebih besar. Kenyataan dimasyarakat bahwa karyawan PTNNT yang baru beberapa tahun bekerja sudah bisa membangun rumah, membeli kendaraan, membeli lahan pertanian, hewan ternak dan lain-lain. Oleh karenanya menggunakan atribut Karywan Newmont adalah sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri bagi keluarga di Desa Benete.

Kelembagaan Sosial

Secara administratif, kelembagaan sosial yang ada dalam masyarakat Desa Benete dapat dibagi menjadi lembaga yang sifatnya formal dan lembaga non- formal. Lembaga formal yang ada umumnya bersifat struktural, mempunyai kepengurusan dan AD/ART yang jelas. Sebaliknya lembaga non-formal umumnya hanya disatukan oleh kesamaan visi atau tujuan tertentu kemudian terbangun

sebuah konsensus di dalamnya. Lembaga formal yang eksis dalam masyarakat yang dimaksud adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),

Karang Taruna “Sinar Parigi”, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), Komite Sekolah, Hukum masjid, dan kelompok tani (Gapoktan). Sedangkan lembaga non- formal umumnya secara eksplisit tidak menyebutkan nama komunitasnya tapi eksistensinya ada, misalnya kelompok arisan keluarga dan arisan umum, arisan karang taruna, kelompok kesenian (grup kasidah rebana dan grup sekeco), dan komunitas olah raga seperti klub sepak bola.

Jika dikelompokkan berdasarkan bidang atau basis aktivitasnya, maka kelembagaan tersebut dapat dibagi menjadi: Kelembagaan pemerintahan desa (BPD, LPM, dan PKK); Kelembagaan ekonomi (BUMDes, kelompok tani, kelompok bisnis, dan koperasi); Kelembagaan sosial dan keagamaan (kelompok arisan, hukum masjid, kelompok TPQ dan kelompok pengajian); dan kelembagaan pemuda dan olah raga (Karang Taruna, komunitas sepak bola, volley, dan badminton). Banyak diantara anggota satu lembaga atau komunitas menjadi anggota dari komunitas lainnya.

Eksistensi dan interaksi kelembagaan sosial yang ada berjalan secara harmoni tanpa ada yang merasa terganggu antara satu dengan lainnya karena adanya ketergantungan yang saling membutuhkan diatara mereka.

Jejaring Sosial

Saat kajian ini dilakukan di Desa Benete terdapat beberapa lembaga Sosial yang dibentuk masyarakat untuk memperkuat relasi sosial diantara warga. Adapun lembaga yang ada yaitu Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang diketuai oleh Bapak Salamuddin. Gapoktan Benete ini membawahi 7 kelompok Tani, diantaranya 1 kelompok Peternak, Satu Kelompok Nelayan dan 5 Kelompok Petani. Lembaga ini menjadi wadah dari warga petani, nelayan dan peternak.Selain itu ada lembaga informal berupa Arisan Karang Taruna yaitu bertujuan untuk mempererat jalinan sosial dikalangan pemuda dan menghimpun dana secara bergiliran jika ada anggotanya yang akan melangsungkan pernikahan. Masing-masing anggota mengeluarkan iuran Rp.100.000,- pada setiap ada kegiatan arisan. Dengan adanya kegiatan arisan ini cukup membantu bagi warga tidak mampu dalam menjalankan kegiatan adat.

Sebagian besar masyarakat masih bersandar pada nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sejumlah kelembagaan lokal terkait tenaga kerja berkembang seperti Besiru (saling membantu antar warga dalam kegiatan pertanian) masih dimanfaatkan warga. Untuk keluarga yang mampu secara finansial cenderung menyewa buruh tani untuk menggarap sawah atau sistim bagi hasil (baringgu) karena dianggap lebih efektif. Inggu biasanya adalah buruh tani yang berkelompok dari berbagai daerah. Inggu terbanyak datang dari pulau Lombok.

Generasi muda yang memiliki hobi sepak bola dari masing-masing dusun membentuk klub sepak bola diantaranya dari Dusun Tatar membentuk klub sepak bola yang diberinama FORDETA FC (Organisasi Sepak Bola Dusun Tatar) sedangkan pemuda dari Dusun Nangkalanung membentuk klub bernama Benete Pasak Tanata (BPT FC).

Sebagai wadah komunikasi antara pemuda, pelajar, mahasiswa dan oran tua mereka membetuk organisasi yang diberi nama Ikatan Keluarga Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Benete (IKPMB). Organisasi ini berkembang didaerah tempat warga Benete melaksanakan studinya. IKPMB terbanyak anggotanya berada di Mataram, Lombok. Kegiatan utama mereka adalah menjalin silaturrahmi antar anggota untuk pengembangan kualitas SDM dan solidaritas bila ada anggota yang mengalami musibah didaerah rantau. Keberadaan IKPMB memberikan kontribusi pemikiran dan motovasi bagi warga dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat Benete. Dalam beberapa kasus IKPMB ikut memberikan sumbangan pemikiran bagi kelompok muda di Desa Benete untuk membuka akses ke perusahaan.

Warga pendatang juga membetuk lembaga untuk memperkuat eksistensi mereka di tengah masyarakat lain. Diantaranya warga dari Bima dan Dompu membentuk paguyuban bernama Ikatan Keluarga Bima-Dompu (IKBD), sedangkan pendatang dari Sulawesi membentuk Ikatan Keluarga Sulawesi (IKS). Kedua lembaga ini cukup luas jaringannya di Kabupaten Sumbawa Barat. Pembentukan lembaga sosial ini dirasakan positif untuk menjalin komunikasi antar warga dan saling membantu bila ada musibah yang menimpah anggotannya. Sejauh ini menurut Kepala Desa tidak ada gesekan antar lembaga sosial yang merusak tatanan bermasyarakat di Benete. Sedangkan lembaga-lembaga lain yang langsung dibawa koordinasi dengan pemerintah desa yaitu Persatuan Petani Pemakai Air (P3A), PKK, Bumdes, Posyandu, Jumantara dan Karang Taruna.

Kelembagaan Ekonomi

Menurut data Laporan Profil Desa Benete tahun 2012, kelembagaan ekonomi dan kelompok usaha produktif yang ada di komunitas Desa Benete pada tahun 2012, dapat dilihat pada Tabel 5. Selain lembaga ekonomi yang disebutkan pada Tabel 5, pada tahun 2009 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pernah ada di Desa Benete. Lembaga ini dibentuk oleh masyarakat dan didampingi oleh comdev PT. NNT bekerjasama dengan YPPT. Untuk penguatan permodalan, maka dilakukan networking dengan lembaga keuangan dan perbankan lokal. Comdev PT. NNT melakukan networking dengan Bank BRI. Dana PT. NNT disalurkan lewat BRI dengan mengikuti mekanisme bank, bunga pinjaman sebesar ± 1 % per bulan. Masyarakat yang ingin mengakses dana tersebut harus menjadi anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) tingkat desa dan mendapatkan rekomendasinya. Karena alasan kredit macet, maka keberadaan KSM ini punah pada tahun 2010. Lembaga keuangan yang lain yang pernah ada di Desa Benete yaitu Koperasi Simpan Pinjam dengan dana awal diambil dari bantuan program PNPM mandiri tahun 2008. Menurut informasi dari pengurus PNPM (bapak Salahuddin) walaupun secara lembaga formal sudah tidak ada tetapi program masih berjalan di masyarakat.

Tabel 5. Lembaga ekonomi yang ada di Desa Benete tahun 2012

No Kelembagaan Ekonomi Jumlah (unit) 1. Koperasi dan Toko/Kios

- Koperasi simpan pinjam

- Toko / Kios

- Tempat Jual Pulsa HP

1 8 4 2. Industri Kecil dan menengah

- Industri makan / rumah makan

- Industri material bahan bangunan

- Pengilingan Padi

9 4 2 3. Usaha Jasa Pengangkutan

- Pemilik angkutan desa/perkotaan

- Ojek kendaraan roda dua

7 30 4. Usaha dan Jasa Perdagangan Toko/kios

- Usaha peternakan - Usaha perikanan - Usaha perkebunan 1 2 1 5. - Usaha Jasa Hiburan / Group music

- Tempat penyewaan VCD dan Play station

1 3 6. Usaha Jasa Keterampilan

Tukang kayu Tukang batu Tukang Jahit/bordir Service elektronik Bengkel / montir Tukang gali sumur Tukang pijat/urut Tukang Cukur 4 12 14 1 4 3 2 1 7 .

Usaha Jasa Penginapan

- Rumah Kontrakan

- Hotel

5 0

Sumber: Laporan Profil Desa Benete tahun 2012.

Bentuk ekonomi masyarakat Desa Benete tertinggi ada pada usaha jasa pengangkutan. Usaha ini lebih banyak digeluti oleh masyarakat pendatang, dengan pertimbangan, mereka tidak memiliki lahan, pekerjaan ojek lebih mudah dan cepat mendatangkan uang, karena besarnya potensi pengguna jasa ojek karena besarnya jumlah orang yang bekerja di perusahaan kurang lebih delapan ribu orang.

Aksessibilitas terhadap Kebijakan dan Sumberdaya

Lembaga keuangan seperti Bank BNI 46, Bank BRI, Bank NTB dan Pegadaian sudah terdapat di Kecamatan Maluk. Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai pengusaha dan Karyawan sudah memanfaatkan jasa bank untuk mendapatkan kredit baik sebagai modal, konsumsi dan pembangunan rumah atau beli kenderaan. Mereka cukup dipercaya oleh pihak bank karena adanya jaminan pekerjaan atau asset agunan lainnya. Tetapi bagi sebagian besar masyarakat

seperti petani, buruh bangunan, nelayan dan ojek cukup sulit mendapat mendapatkan kredit dari bank karena alasan jaminan yang tidak signifikan..

Keberadaan Yayasan Olat Parigi (YOP) yang sengaja dibentuk oleh PT. NNT bersama masyarakat cukup mebantu kelompok pedangang kecil dan kelompok tani untuk mendapatkan pijaman modal walau jumlahnya terbatas. Walaupun demikian sangat banyak dimanfaatkan oleh mereka karena tidak menggunakan agunan dan pengembaliannya tidak pungut bunga.

Akses masyarakat untuk sumber daya alam seperti rotan, madu alam dan kayu bakar tidak menjadi masalah karena belum ada aturan yang mengikat mereka untuk tidak bisa masuk kawasan hutan. Bahkan ada beberapa keluarga yang masih memanfaatkan air nira yang diambil langsung dari hutan untuk bahan pembuatan gula aren (gula merah). Kegiatan ini biasa mereka sebut dengan be-Jalit.

Tokoh Bisnis

Kehadiran proyek PTNNT ikut mempengaruhi orientasi pekerjaan dan bisnis masyarakat. Sebelum menjadi pengusaha rata-rata mereka adalah petani atau pedagang skala kecil. Adapun beberapa orang warga Benete yang tergolong dalam pengusaha suskes diantaranya :

1. AM (CV. Benete Indah Perkasa - Supplier Tenaga Kerja dan material PTNNT);

2. Sld (CV. Benete Raya Makmur - Kontraktor konstruksi di PTNNT), dan suplayer tenaga kerja dan sub kontraktor;

3. Hlm (CV. Widya Eka Putri - Suplayer tenaga kerja ke PT NNT); 4. Ags (CV. Benete Pasak Tanata – Supplier);

5. Tr (CV. Cipta Mandiri; Supplier ke PTNNT dan Sub Kontraktor); 6. Jhd (CV. Benete Saling Pariri; kontraktor PT NNT);

7. Hmz (Kontraktor konstrusksi dan suplayer tenaga kerja di PT NNT); 8. Kris (CV. Benete Service – Kontraktor di PTNNT);

9. AN (CV. NASA – Kontraktor / Supplier bidang transportasi); 10.H.B (Saudagar Ikan);

11.Bkr (Pemasok Bahan Bangunan, rumah makan dan Transportasi.

Jaringan Bisnis

Untuk memenuhi kebutuhan mitra, pengusaha lokal dari Benete telah menjalin bisnis keluar wilayah seperti Lombok, Bali dan Jawa. Mereka juga telah menjalin kerjasama dengan pengusaha luar untuk mendapatkan modal, material dan keterampilan dalam menjalankan usahnya, misalnya bila menang tender proyek dari PTNNT atau dari proyek Pemerintah.

Keberadan PTNNT dan serta pengaruh dari interaksi dengan pendatang membuka wawasan beberapa orang warga untuk membangun jaringan bisnis. Mereka mempunyai pemikiran jangka panjang, wawasan yang lebih terbuka serta

Dokumen terkait