• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Suhu pada Musim Hujan untuk Kondisi Pasut Perbani .1 Struktur Vertikal Suhu

DAFTAR LAMPIRAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Profil Suhu Hasil Model

4.3.3 Profil Suhu pada Musim Hujan untuk Kondisi Pasut Perbani .1 Struktur Vertikal Suhu

Struktur vertikal suhu pada musim hujan berdasarkan hasil simulasi dengan menggunakan model POM 3-Dimensi menunjukkan adanya perairan terstratifikasi dimana terjadi perbedaan suhu secara vertikal. Sama dengan pada musim kemarau, pada musim hujan juga ditemukan bahwa perbedaan suhu secara vertikal bervariasi menurut jarak dari sumber limbah air pendingin. Gambar 35 di bawah menjelaskan bahwa untuk titik cuplik 1 sampai 2 atau sekitar 210 meter dari outfall menunjukkan lapisan homogen dengan suhu sebesar 44oC, untuk titik cuplik 3 sampai 7 menunjukkan adanya variasi suhu yang kecil yakni 0.04-0.10oC (> musim kemarau), dan titik cuplik 8 sampai 9 menunjukkan adanya lapisan homogen secara vertikal.

Keterangan : titik cuplik (TC) menunjukkan jarak suatu titik dari outfall 1 TC 1 = 30 m TC 2 = 420 m TC 3 = 750 m TC 4 = 930 m TC 5 = 1 050 m TC 6 = 1 170 m TC 7 = 1 350 m TC 8 = 1 620 m TC 9 = 1 800 m TC 10= 2 160 m TC 11 = 2 310 m TC 12 = 2 520 m TC 13 = 2 580 m TC 14 = 2 700 m TC 15= 2 880 m TC 16= 3 000 m TC 17= 3 180 m TC 18= 3 300 m TC 19= 3 450 m TC 20= 3 540 m

Gambar 35 Struktur vertikal suhu (oC) hasil simulasi pada musim hujan untuk kondisi pasut perbani.

Dasar perairan Dasar perairan

Outfall 1 Muara Kanal P. Sieca

Dasar Perairan

Dasar Perairan

Perbedaan suhu secara vertikal di muara kanal (titik cuplik 10) menunjukkan adanya variasi suhu yang cukup besar yakni sekitar 0.41oC (<musim kemarau) dimana suhu permukaan adalah 41.45oC (<musim kemarau) dan pada lapisan bawah 41.04o

Perbedaan suhu yang lebih besar ditunjukkan pada titik cuplik 11 sampai 13 dengan variasi suhu secara vertikal bervariasi antara 1.20-2.32

C (<musim kemarau). Perbedaan ini disebabkan oleh adanya limpasan air sungai dengan debit yang berbeda, baik dari Sungai Baltim maupun dari Sungai Sekambing Muara, dimana debit sungai pada musim hujan lebih besar dari musim kemarau.

o

C (>musim kemarau). Sementara untuk grid selanjutnya menunjukkan lapisan yang cenderung homogen dengan suhu permukaan bervariasi antara 35.10-32.43oC (>musim kemarau) dan suhu lapisan bawah bervariasi antara 34.28-32.40o

Dengan demikian struktur vertikal suhu dari sumber limbah air pendingin ke laut lepas dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yakni lapisan homogen dan lapisan terstratifikasi, dimana lapisan homogen ditemukan mulai dari outfall buangan limbah air pendingin sampai ke muara kanal dan dari bagian tengah laut lepas sampai ke Pulau Sieca. Adapun lapisan terstratifikasi ditemukan di muara kanal sampai ke bagian tengah laut lepas.

C (>musim kemarau).

4.3.3.2 Pola Sebaran Suhu Permukaan

Secara umum pola sebaran suhu untuk pasut perbani menunjukkan pola dan besaran yang relatif sama untuk keempat kondisi cuplik (menuju pasang, pasang maksimum, menuju surut dan surut maksimum). Hal ini disebabkan oleh perubahan elevasi yang relatif kecil pada pasut perbani untuk keempat kondisi tersebut.

Meskipun demikian ditemukan adanya perbedaan nilai suhu pada stasiun yang sama pada lokasi tertentu antara musim kemarau dan musim hujan untuk kondisi pasut perbani, dimana suhu pada musim kemarau relatif lebih besar dibandingkan dengan pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada skenario musim hujan debit sungai relatif besar dibandingkan dengan skenario musim kemarau.

4.3.3.2.1 Kondisi Menuju Pasang

Pola sebaran suhu pada saat air menuju pasang dapat dilihat pada Gambar 36, dimana suhu dari outfall 1 buangan air pendingin hingga muara outfall 1 adalah sebesar 44oC (=musim kemarau). Hal ini dapat diketahui dari pola garis isoterm yang menunjukkan suhu yang sama sepanjang garis tersebut. Sementara untuk Sekambing Baltim (kolam pendingin) suhu bervariasi antara 38-43oC sama dengan musim kemarau, meskipun pola isoterm dari keduanya menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini terutama terlihat pada pola isoterm dengan suhu 42oC, dimana sebaran suhu pada musim kemarau dengan suhu 42oC memiliki luasan yang lebih besar dibanding musim hujan. Perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh adanya limpasan air yang lebih dingin dari Sungai Sekambing yang relatif lebih besar pada musim hujan dibanding pada musim kemarau.

Gambar 36 Pola sebaran suhu (oC) hasil simulasi sebagai dampak pembuangan air pendingin ke lingkungan pada musim hujan untuk kondisi pasut perbani yang dicuplik pada saat air menuju pasang.

30 32 34 35 41 31 32 33 40 43 42 30 30 42 33 31 31 ( oC )

Lintang Utara (derajat)

Suhu perairan dalam kanal hingga ujung kanal pendingin bervariasi antara 41-42o

4.3.3.2.2 Kondisi Pasang Maksimum

C (=musim kemarau). Selanjutnya setelah keluar ke muara kanal pendingin suhu mengalami penurunan secara gradual hingga mencapai suhu alami perairan. Berdasarkan garis isoterm pada bagian tengah perairan diketahui bahwa buangan air pendingin setelah keluar dari muara kanal pendingin cenderung terdispersi ke arah selatan daerah model. Hal ini disebabkan adanya limpasan air dari laut lepas yang memasuki perairan ini pada saat air menuju pasang.

Hasil model sebaran suhu menunjukkan adanya perbedaan sebaran suhu pada musim hujan dan musim kemarau baik dalam kolam pendingin, maupun setelah keluar dari muara kanal pendingin (Gambar 37).

Gambar 37 Pola sebaran suhu (oC) hasil simulasi sebagai dampak pembuangan air pendingin ke lingkungan pada musim hujan untuk kondisi pasut perbani yang dicuplik pada saat air pasang maksimum.

30 32 34 35 41 31 32 33 41 43 41 30 30 42 33 31 ( oC )

Lintang Utara (derajat)

Perbedaan yang nyata terlihat pada isoterm di Sungai Sekambing, dimana suhu pada musim hujan di lokasi ini lebih rendah akibat adanya limpasan air sungai dengan debit yang lebih besar masuk ke kolam pendingin. Hal yang sama terlihat dibagian tengah kolam pendingin, pada musim hujan isoterm bernilai 42o

4.3.3.2.3 Kondisi Menuju Surut

C tidak sampai ke Sekambing Bulu, yang berarti suhu pada musim ini relatif lebih kecil. Di luar kanal pendingin, pola sebaran suhu pada musim hujan menunjukkan pola yang relatif sama dengan pada musim kemarau, meskipun demikian nampak bahwa cakupan luasan dengan suhu lebih tinggi ditemukan lebih luas pada musim kemarau. Hal ini jelas terlihat pada isoterm di Teluk Nyerakat, depan dan belakang Pulau Sieca.

Pola sebaran suhu pada saat air menuju surut dapat dilihat pada Gambar 38. Pada kondisi ini massa buangan air pendingin lebih jauh terdorong dari outfall.

Gambar 38 Pola sebaran suhu (oC) hasil simulasi sebagai dampak pembuangan air pendingin ke lingkungan pada musim hujan untuk kondisi pasut perbani yang dicuplik pada saat air menuju surut.

30 32 34 35 41 31 32 33 40 43 41 30 30 42 33 31 41 ( oC )

Lintang Utara (derajat)

Suhu di Sekambing Baltim II (60-120 m dari muara sungai) suhu berada dalam kisaran 40-42oC dan selanjutnya kisaran suhu 41-42oC ditemukan di Sekambing Baltim III. Sementara suhu di Sekambing Bulu I pada kondisi pasut menuju surut berada dalam kisaran 41-42oC, sementara di Sekambing Bulu II suhu berkisar antara 42-43oC. Adapun suhu di kanal pendingin bervariasi antara 41-42oC, suhu 41oC ditemukan di muara kanal pendingin dan suhu 42o

4.3.3.2.4 Kondisi Surut Maksimum

C ditemukan di hulu kanal pendingin.

Pola sebaran suhu pada saat air surut maksimu dapat dilihat pada Gambar 39. Pada kondisi ini massa buangan air pendingin lebih jauh terdorong dari outfall.

Gambar 39 Pola sebaran suhu (o

Besarnya debit air sungai yang memasuki perairan pada musim hujan dibanding musim kemarau mengakibatkan luasan sebaran suhu pada musim hujan

C) hasil simulasi sebagai dampak pembuangan air pendingin ke lingkungan pada musim hujan untuk kondisi pasut perbani yang dicuplik pada saat air surut maksimum.

30 32 34 35 41 31 32 33 40 43 41 30 30 42 33 31 41 ( oC )

Lintang Utara (derajat)

lebih kecil. Hal ini disebabkan air pendingin dengan suhu tinggi yang keluar dari outfall bercampur dengan air dingin dari sungai, sehingga suhu air pendingin tersebut menjadi turun dan luasan perairan yang terpapar juga menjadi lebih kecil dibanding musim kemarau.

4.3.4 Profil Suhu pada Musim Hujan untuk Kondisi Pasut Purnama