• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Penduduk Miskin Profil Penduduk Miskin Profil Penduduk Miskin Profil Penduduk Miskin Profil Penduduk Miskin

IIII

Profil Penduduk MiskinProfil Penduduk MiskinProfil Penduduk MiskinProfil Penduduk MiskinProfil Penduduk Miskin

Dari setiap 100 orang Indonesia… Dari setiap 100 orang Indonesia…Dari setiap 100 orang Indonesia… Dari setiap 100 orang Indonesia…

Dari setiap 100 orang Indonesia… Namun, dari setiap 100 orang miskin Indonesia…Namun, dari setiap 100 orang miskin Indonesia…Namun, dari setiap 100 orang miskin Indonesia…Namun, dari setiap 100 orang miskin Indonesia…Namun, dari setiap 100 orang miskin Indonesia… • 57 orang tinggal di daerah pedesaan • 69 orang tinggal di daerah pedesaan

• 44 orang tidak memiliki akses terhadap air bersih • 52 orang tidak memiliki akses terhadap air bersih • 49 orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak • 78 orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak • 29 orang memiliki anggota keluarga lebih dari lima orang • 40 orang memiliki anggota keluarga lebih dari lima orang • 49 orang tidak lulus sekolah dasar • 55 orang tidak lulus sekolah dasar

• 11 orang buta aksara • 16 orang buta aksara

• 44 orang bekerja di sektor pertanian • 64 orang bekerja di sektor pertanian • 60 orang bekerja di sektor informal • 75 orang bekerja di sektor informal

• 16 orang bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa upah • 22 orang bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa upah • 42 orang tinggal di desa-desa di mana tidak terdapat sekolah • 50 orang tinggal di desa-desa di mana tak terdapat sekolah

menengah pertama menengah pertama

• 36 orang tinggal di desa-desa di mana tidak terdapat sambungan telepon • 49 orang tinggal di desa-desa di mana tak terdapat sambungan telepon

• 25 orang anak balita mengalami kekurangan gizi dan 82 bayi lahir • 20 orang anak balita mengalami kekurangan gizi dan 47 bayi ditangani oleh bidan tak terlatih lahir ditangani oleh bidan tak terlatih

Sumber: Susenas, 2004.

Sebagian besar rumah tangga miskin tinggal di daerah pedesaan. Sebagian besar rumah tangga miskin tinggal di daerah pedesaan.Sebagian besar rumah tangga miskin tinggal di daerah pedesaan.

Sebagian besar rumah tangga miskin tinggal di daerah pedesaan.Sebagian besar rumah tangga miskin tinggal di daerah pedesaan. Dengan keberadaan 57 persen rumah tangga miskin di daerah pedesaan, kemiskinan di Indonesia masih merupakan fenomena pedesaan. Namun, angka kemiskinan di daerah perkotaan kini mengalami kenaikan. Pada tahun 1976, jumlah rumah tangga miskin yang tinggal di daerah perkotaan hanya 18,5 persen, tetapi pada tahun 2004 jumlahnya mencapai 32 persen, dan akan terus meningkat. Pada 2015 mendatang, jumlah rumah tangga miskin di daerah perkotaan diperkirakan meningkat menjadi 45 persen dan pada tahun 2023 jumlahnya akan melebihi angka 50 persen. Cakupan, sifat dan ciri-ciri kemiskinan di wilayah perkotaan, serta proses rumit peralihan kemiskinan dari desa ke kota semacam itu, sangat penting dipahami para pembuat kebijakan pada tahun- tahun mendatang.

Keluarga miskin terkonsentrasi di sektor pertanian. Keluarga miskin terkonsentrasi di sektor pertanian.Keluarga miskin terkonsentrasi di sektor pertanian.

Keluarga miskin terkonsentrasi di sektor pertanian.Keluarga miskin terkonsentrasi di sektor pertanian. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja dari mayoritas kepala rumah tangga miskin. Kendati jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian hanya mewakili 41 persen dari total populasi, namun hampir dua pertiga kepala rumah tangga miskin bekerja di sektor ini. Sepanjang sejarah, para pekerja di sektor pertanian, baik formal maupun informal, memiliki rata-rata pengeluaran per kapita terendah dan angka kemiskinan yang lebih tinggi. Dengan tingkat kemiskinan sebesar 25,7 persen, rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian memiliki kemungkinan 2,6 kali lebih besar untuk menjadi miskin dibandingkan dengan rumah tangga yang bekerja di sektor nonpertanian. Kontribusi pendapatan dari sektor pertanian bagi total pendapatan keluarga miskin adalah sebesar 40 persen, dibandingkan dengan 32 persen bagi keluarga hampir-miskin, dan 15,8 persen bagi keluarga tidak miskin. Di daerah pedesaan mereka yang memiliki lahan sempit atau yang tidak memiliki lahan sama sekali adalah penduduk Di daerah pedesaan mereka yang memiliki lahan sempit atau yang tidak memiliki lahan sama sekali adalah pendudukDi daerah pedesaan mereka yang memiliki lahan sempit atau yang tidak memiliki lahan sama sekali adalah penduduk Di daerah pedesaan mereka yang memiliki lahan sempit atau yang tidak memiliki lahan sama sekali adalah pendudukDi daerah pedesaan mereka yang memiliki lahan sempit atau yang tidak memiliki lahan sama sekali adalah penduduk miskin

miskinmiskin

miskinmiskin. Penduduk termiskin di daerah pedesaan cenderung bekerja sebagai buruh tani atau petani gurem, yang bekerja sebagai buruh di lahan orang lain atau menggarap lahan yang sangat sempit. Gambar 3.9 menunjukkan angka kemiskinan menurut luas area lahan padi yang ditanami. Angka kemiskinan turun tajam ketika luas lahan meningkat menjadi 4 hektar,

namun selanjutnya angka ini secara umum tidak berubah. Rumah tangga pemilik lahan tanam berukuran sangat kecil memiliki angka kemiskinan yang tinggi—di atas 20 persen bagi rumah tangga yang memiliki luas lahan sawah kurang dari 0,5 hektar. Angka tersebut bahkan lebih tinggi daripada angka kemiskinan di kalangan rumah tangga yang tidak memiliki lahan (Susenas, 2004).50 Sensus Pertanian

2003 menunjukkan bahwa hampir separuh rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian menggarap lahan kurang dari 0,5 hektar. Dengan demikian, kondisi tanpa pemilikan lahan maupun pemilikan lahan yang sangat sempit berkaitan erat dengan kemiskinan.

Kemiskinan berkaitan erat dengan pekerjaan di sektor informal. Pasar tenaga kerja dicirikan oleh tingginya sektor informal. Kemiskinan berkaitan erat dengan pekerjaan di sektor informal. Pasar tenaga kerja dicirikan oleh tingginya sektor informal. Kemiskinan berkaitan erat dengan pekerjaan di sektor informal. Pasar tenaga kerja dicirikan oleh tingginya sektor informal. Kemiskinan berkaitan erat dengan pekerjaan di sektor informal. Pasar tenaga kerja dicirikan oleh tingginya sektor informal. Kemiskinan berkaitan erat dengan pekerjaan di sektor informal. Pasar tenaga kerja dicirikan oleh tingginya sektor informal. Pada tahun 2004, 51,6 persen kepala rumah tangga bekerja di sektor informal (terjadi kenaikan sebesar 47,5 persen pada 1996). Koefisien korelasi lapangan kerja informal berbeda-beda di tiap sektor. Meskipun kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian informal memiliki kemungkinan 2,1 kali lebih tinggi menjadi miskin, mereka yang bekerja di sektor jasa informal 21 persen lebih rendah kemungkinannya menjadi miskin dibandingkan pekerja di sektor lainnya. Lingkungan alam berpengaruh besar terhadap sifat kemiskinan.

Lingkungan alam berpengaruh besar terhadap sifat kemiskinan. Lingkungan alam berpengaruh besar terhadap sifat kemiskinan. Lingkungan alam berpengaruh besar terhadap sifat kemiskinan.

Lingkungan alam berpengaruh besar terhadap sifat kemiskinan. Sebagian penduduk miskin tinggal di pinggiran pantai yang kumuh dan tercemar, sementara sebagian lainnya—meskipun jauh lebih sedikit—tinggal di pedalaman hutan atau di gunung-gunung. Penduduk miskin yang tinggal di lingkungan dengan kualitas yang buruk atau rentan tidak akan memiliki kesempatan yang sama seperti penduduk yang tinggal di lingkungan yang lebih baik. Contohnya, petani di Kalimantan harus puas dengan kualitas tanah yang umumnya lebih buruk daripada di pulau Jawa. Penduduk Nusa Tenggara tinggal di daerah dengan lereng-lereng yang lebih terjal dan curah hujan lebih rendah daripada di daerah lain. Hal tersebut, sebagaimana pula lokasi mereka yang jauh dari pasar, membuat kesempatan atau peluang mereka terbatas. Dataran pantai sepanjang Sumatera Barat dan Sumatera Selatan sempit dan terjal, sehingga para petani di sana lebih mengalami hambatan dibandingkan dengan para petani yang tinggal di sisi utara dan timur pulau tersebut. Dengan demikian, meskipun benar gambaran umum bahwa sebagian besar kemiskinan terdapat di daerah pedesaan dan di sektor pertanian dan sektor informal, keterbatasan-keterbatasan dan peluang-peluang khusus yang tersedia bagi penduduk miskin, hingga taraf tertentu, bergantung pada lingkungan alam.

Keluarga miskin kurang memperoleh pendidikan. Keluarga miskin kurang memperoleh pendidikan. Keluarga miskin kurang memperoleh pendidikan. Keluarga miskin kurang memperoleh pendidikan.

Keluarga miskin kurang memperoleh pendidikan. Risiko relatif kemiskinan menurun dengan semakin tingginya tingkat pendidikan. Lulusan sekolah menengah pertama memiliki kemungkinan menjadi miskin 26,7 persen lebih kecil daripada lulusan sekolah dasar. Bahkan, kemungkinan lulusan sekolah menengah atas dan lulusan universitas menjadi miskin lebih rendah lagi. Perbedaan rata-rata lama pendidikan yang diikuti antara penduduk miskin dan penduduk tidak miskin adalah dua tahun bersekolah. Angka partisipasi bersih sekolah anak miskin jauh di bawah angka partisipasi anak hampir-miskin dan anak tidak miskin. Sementara perbedaan ini tidak signifikan pada tingkat sekolah dasar, jurang perbedaan angka partisipasi sekolah tingkat pendidikan menengah antara keluarga tidak miskin dan keluarga hampir-miskin masing- masing sebesar 8,1 persen (untuk tingkat SMP) dan 9,1 persen (untuk tingkat SMA). Anak dari keluarga miskin memiliki kemungkinan terdaftar 20 persen lebih kecil di sekolah mengengah pertama (SMP) dan 44 persen lebih kecil di sekolah menengah atas (SMA) dibandingkan anak dari keluarga tidak miskin.

50 Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank), 2000.

Gambar 3.9 Keluarga yang memiliki lahan sempit adalah keluarga yang jauh lebih miskin

Kotak 3.3 Wajah kemiskinan di daerah perkotaan Kotak 3.3 Wajah kemiskinan di daerah perkotaanKotak 3.3 Wajah kemiskinan di daerah perkotaan Kotak 3.3 Wajah kemiskinan di daerah perkotaanKotak 3.3 Wajah kemiskinan di daerah perkotaan

Penduduk miskin di daerah perkotaan terdiri dari beragam masyarakat dengan tingkat kerentanan dan kemiskinan yang sangat bervariasi. Mereka antara lain meliputi penghuni daerah kumuh, pedagang kaki lima, anak jalanan, pekerja informal dan pekerja seks. Di bawah kita akan melihat sekilas tiga dari kelompok penduduk miskin perkotaan tersebut.

Pedagang kaki lima Pedagang kaki limaPedagang kaki lima Pedagang kaki lima

Pedagang kaki lima: Mungkin penduduk miskin perkotaan yang paling tampak bekerja di sektor informal adalah pedagang kaki lima. Para pedagang ini banyak terlihat di jalan-jalan yang padat, di pasar-pasar, di dekat pusat-pusat perdagangan dan terminal, dan biasanya berkelompok. Di Jakarta dan Bandung, pekerja sektor informal ini diperkirakan meningkat tiga kali lipat setelah krisis keuangan melanda Indonesia pada tahun 1998.

Untuk memulai usaha sebagai seorang pedagang kaki lima diperlukan modal kerja awal yang tidak begitu besar, lazimnya berkisar Rp 200 ribu (sekitar 22 dolar AS). Meskipun para pedagang kaki lima umumnya dianggap miskin, mereka masih dapat berhasil menciptakan peluang bagi rumah tangga mereka untuk mengenyam kehidupan yang lebih baik. Dalam beberapa kasus, bahkan mereka dapat melampaui garis kemiskinan. Bukti-bukti memperlihatkan bahwa banyak pedagang kaki lima dapat mengakses pelayanan kesehatan dan pendidikan, dan bahkan dengan tingkat akses yang melebihi indikator-indikator kemiskinan di Indonesia pada umumnya. Pedagang kaki lima sering kali dapat menamatkan pendidikan sekolah dasar dan penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi (lebih dari 12 tahun) dimiliki oleh para pedagang kaki lima yang menjalankan usaha yang lebih ‘menguntungkan’. Betapa pun sangat tidak mudah, dan rentan terhadap bahaya lingkungan akibat bekerja berjam-jam di daerah-daerah yang tercemar, namun para pedagang kaki lima dapat membantu menopang keluarga-keluarga miskin.

Pekerja Seks Komersial Pekerja Seks KomersialPekerja Seks Komersial Pekerja Seks Komersial

Pekerja Seks Komersial. Industri seks menjamur di sebagian besar daerah perkotaan dan para perempuan yang terjun ke bisnis ini umumnya karena mereka terikat dengan sanak famili atau wali, ditipu atau diculik, atau atas kehendak mereka sendiri. Di antara mereka yang bekerja di industri seks atas kehendak sendiri banyak yang menjelaskan bahwa alasan menjadi pekerja seks adalah untuk memenuhi kebutuhan orangtua yang sakit atau miskin, untuk menutupi kebutuhan anak atau saudara kandung, atau memenuhi kewajiban-kewajiban sosial yang penting. Bukti-bukti menunjukkan bahwa perempuan miskin mendominasi industri seks dan berbagai kajian memperlihatkan adanya kaitan yang erat antara rendahnya tingkat pendidikan dan terjunnya mereka ke dalam industri seks.

Di Indonesia, kerja seks berlangsung: di komplek lokalisasi resmi di mana para pekerja seks tinggal dan bekerja; di rumah bordil dan tempat-tempat hiburan, di mana para perempuan dikelola, dan kerap disalahgunakan, oleh para mucikari; di jalanan dan di lokasi-lokasi umum (perempuan jalanan). Bentuk-bentuk tradisional kerja seks ini dan berbagai kerentanan yang dikandungnya semakin bertambah dengan adanya bentuk-bentuk baru kerja seks di lingkungan perkotaan. Bentuk-bentuk baru kerja seks melibatkan para perempuan muda yang sering kali terpelajar (dan umumnya tidak miskin), tetapi memilih menjadi pekerja seks untuk memenuhi kebutuhan sekolah atau kebutuhan sandang mereka.

Anak Jalanan. Anak Jalanan.Anak Jalanan. Anak Jalanan.

Anak Jalanan. Mereka yang digambarkan sebagai anak jalanan di Indonesia umumnya merupakan bagian dari penduduk miskin kota, yang sering (tetapi tidak selalu) tinggal di luar rumah mereka dan melakukan berbagai aktivitas ekonomi, antara lain, sebagai pengemis, pemulung, penyemir sepatu, loper koran, penjaja permen, atau sebagai pelaku kejahatan ringan. Belakangan banyak anak jalanan yang dipaksa menjadi pekerja seks. Survei Asian Development Bank (ADB) di 12 kota pada 1999 memperkirakan ada sekitar 170.000 anak jalanan di Indonesia (ADB, 2000). Biasanya, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, kemiskinan, dan upaya mengejar peluang ekonomi yang lebih baik dijadikan sebagai alasan mengapa anak-anak itu menjadi anak jalanan. Namun demikian, ada beberapa keluarga miskin yang menjual atau membuang anak mereka untuk mengurangi jumlah tanggungan keluarga.

Kehidupan anak jalanan sangat rentan dan berisiko. Mereka bisa jadi bekerja sendiri, bersama anak jalanan lain yang lebih tua, atau di bawah kendali orang dewasa atau geng. Dalam banyak kasus anak jalanan dipaksa untuk mengumpulkan sejumlah uang setiap hari untuki ‘orang-orang dewasa yang tidak tampak’ yang menguasai perempatan jalan, jembatan atau pasar. Konsuekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi anak jalanan antara lain: ditahan dan dipukul oleh aparat; menjadi pekerja seks; dikucilkan; atau hilangnya harga diri. Sebagian besar anak jalanan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau tanda pengenal lainnya, yang membuat mereka tidak dapat mengakses pelayanan resmi kesehatan atau pendidikan. Sumber: Suharto , 2002; West, 2003; dan Kearney, 2000.

Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga perempuana terlihat tidak lebih tinggi, meskipun angka ini Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga perempuana terlihat tidak lebih tinggi, meskipun angka ini Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga perempuana terlihat tidak lebih tinggi, meskipun angka ini Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga perempuana terlihat tidak lebih tinggi, meskipun angka ini Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga perempuana terlihat tidak lebih tinggi, meskipun angka ini boleh jadi menipu.

boleh jadi menipu. boleh jadi menipu. boleh jadi menipu.

boleh jadi menipu. Pada 2004 rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki memiliki tingkat kemiskinan yang sedikit lebih tinggi (yakni 16,7 persen) dibandingkan dengan rumah tangga yang dikepalai perempuan (15,9 persen). Karena itu, dengan menggunakan data Susenas, rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan tampaknya sedikit memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menjadi miskin dibandingkan dengan rumah tangga yang dikepalai laki-laki. Gambaran tersebut bertolak belakang dengan kepercayaan yang umum beredar di masyarakat. Namun, rumah tangga yang dikepalai perempuan hanya berjumlah 9,7 persen, sedikit lebih banyak berada di daerah perkotaan (10,9 persen) daripada di daerah pedesaan (8,7 persen). Akan tetapi, ketika dilakukan kontrol terhadap ciri-ciri yang lain, seperti komposisi penduduk, pendidikan, sektor pekerjaan dan akses infrastruktur dasar, maka ceritanya berbeda: keluarga dengan kepala keluarga laki- laki memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menjadi miskin

dibandingkan dengan keluarga dengan kepala keluarga perempuan (ADB, 2000).51 (Untuk analisis yang lebih terperinci, lihat bagian

selanjutnya tentang Gender).

Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga Angka kemiskinan pada rumah tangga dengan kepala keluarga menganggur tidak lebih tinggi.

menganggur tidak lebih tinggi. menganggur tidak lebih tinggi. menganggur tidak lebih tinggi.

menganggur tidak lebih tinggi. Pada rumah tangga miskin, kepala keluarga tidak dapat membiarkan dirinya menjadi penganggur (lihat grafik pada Kotak 3.4). Akibatnya, risiko menjadi penganggur pada kepala rumah tangga miskin adalah negatif. Kepala rumah tangga miskin memiliki kemungkinan 9 persen lebih kecil untuk mengganggur dibandingkan dengan anggota keluarga (bukan

kepala keluarga) dari rumah tangga nonmiskin. Angka pengangguran untuk seperlima golongan (kuintil) terbawah kepala rumah tangga hanya 2 persen.52 Dengan demikian pernyataan yang mengatakan bahwa pengangguran adalah ‘barang

mewah’ bagi kepala rumah tangga miskin adalah benar. Namun, pernyataan itu tidak berlaku bagi anggota keluarga lainnya (yakni, selain kepala keluarga). Bagi kelompok yang terakhir ini, kemiskinan memiliki kaitan yang erat dengan pengangguran. Anggota rumah tangga selain kepala keluarga memiliki kemungkinan 8 persen (1,08 kali) lebih besar untuk menganggur dibandingkan dengan anggota rumah tangga selain kepala keluarga dari golongan keluarga yang lebih kaya. Meskipun kemiskinan dan pengangguran merupakan dua persoalan yang berbeda, sejak 1999 angka pengangguran penduduk miskin sedikit melebihi angka pengangguran penduduk bukan miskin (lihat Kotak 3.4).

Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar

Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar... Jumlah rata-rata anggota rumah tangga miskin adalah 5,4 anggota dibandingkan jumlah anggota rumah tangga bukan miskin sebesar 4,3 anggota. Dengan demikian, jumlah anggota rumah tangga miskin 1 kali lebih banyak dari jumlah anggota rumah tangga bukan miskin. Rumah tangga dengan jumlah anggota 5 orang atau lebih memiliki kemungkinan menjadi miskin 2,7 kali lebih besar daripada rumah tangga dengan jumlah anggota yang lebih sedikit. Perbedaan dalam hal jumlah anggota keluarga umumnya disebabkan tingkat kelahiran yang lebih tinggi pada kalangan penduduk miskin. Jumlah rata-rata anak berusia di bawah 18 tahun pada rumah tangga miskin adalah 2,6, sementara pada rumah tangga tidak miskin hanya 1,6—persis satu anak lebih sedikit. Penduduk miskin kota tinggal di lokasi-lokasi yang terburuk, di tempat yang sangat padat, dan di pemukiman yang sesak Penduduk miskin kota tinggal di lokasi-lokasi yang terburuk, di tempat yang sangat padat, dan di pemukiman yang sesak Penduduk miskin kota tinggal di lokasi-lokasi yang terburuk, di tempat yang sangat padat, dan di pemukiman yang sesak Penduduk miskin kota tinggal di lokasi-lokasi yang terburuk, di tempat yang sangat padat, dan di pemukiman yang sesak Penduduk miskin kota tinggal di lokasi-lokasi yang terburuk, di tempat yang sangat padat, dan di pemukiman yang sesak dan kumuh.

dan kumuh. dan kumuh. dan kumuh.

dan kumuh. Kenaikan tajam daerah kumuh di perkotaan dikutip di dalam laporan kemajuan Sasaran Pembangunan Milenium (Laporan Kemajuan Indonesia tentang Sasaran Pembangunan Milenium, 2004). Pada tahun 1999, sekitar 48 ribu hektar daerah perkotaan Indonesia secara resmi digolongkan sebagai daerah kumuh yang dihuni oleh 23 juta orang, suatu kenaikan signifikan dari luas 38 ribu hektar pada tahun 1996. Ukuran rata-rata tempat tinggal yang ditempati oleh seperlima golongan penduduk (kuintil) termiskin itu hanya 10m2, sementara seperlima golongan penduduk miskin

lainnya (kuintil kedua) memiliki tempat tinggal dengan ukuran rata-rata dua kali lipat lebih besar, yakni 20m2 (Susenas,

2004).

51 Lihat Bagian III.

Meskipun pola konsumsi rumah tangga miskin di Indonesia secara umum sama, terdapat dua pengecualian, yakni:

• Penduduk miskin sangat bergantung pada beras dan karena itu mereka sangat peka terhadap kenaikan harga beras:Penduduk miskin sangat bergantung pada beras dan karena itu mereka sangat peka terhadap kenaikan harga beras:Penduduk miskin sangat bergantung pada beras dan karena itu mereka sangat peka terhadap kenaikan harga beras:Penduduk miskin sangat bergantung pada beras dan karena itu mereka sangat peka terhadap kenaikan harga beras:Penduduk miskin sangat bergantung pada beras dan karena itu mereka sangat peka terhadap kenaikan harga beras: Sejauh ini beras merupakan bahan kebutuhan pokok paling penting di Indonesia.

Sejauh ini beras merupakan bahan kebutuhan pokok paling penting di Indonesia. Sejauh ini beras merupakan bahan kebutuhan pokok paling penting di Indonesia. Sejauh ini beras merupakan bahan kebutuhan pokok paling penting di Indonesia.

Sejauh ini beras merupakan bahan kebutuhan pokok paling penting di Indonesia. Beras lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin, yang menghabiskan hampir seperempat dari total pengeluaran mereka, dibandingkan dengan penduduk bukan miskin yang hanya menghabiskan sekitar 10 persen dari pengeluaran, untuk membeli beras (Lihat Tabel 3.3). Artinya, hanya dengan melihat sisi konsumsi, harga beras yang tinggi—dan kebijakan-kebijakan yang menyebabkan naiknya harga beras—akan memberi pukulan berat bagi penduduk miskin. Bahkan, dengan mempertimbangkan produksi beras, penduduk miskin masih tetap menderita dengan adanya kenaikan harga beras

Garis besar

Dokumen terkait