• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2.1 Program Keaksaraan Fungsional (KF) di Desa Citapen

Seperti telah di jelaskan sebelumnya, banyak penduduk yang masih buta aksara di desa ini. Tingginya jumlah penduduk usia produktif yang buta aksara tentunya kurang mendukung kepada pembangunan desa, sehingga berbagai upaya di lakukan untuk menguranginya. Salah satu upaya penanggulangan buta aksara adalah dengan program KF. Program KF yang ada di Desa Citapen datang dari instansi yang berbeda-beda, yaitu adanya program KF dari PKBM Saraga Lekas Insan Mandiri (SLIM), mahasiswa- mahasiswa Universitas Pakuan yang sedang praktek kerja lapang, LPPM dari Universitas Djuanda, dan dari pemerintah desa.

Program KF yang di adakan oleh mahasiswa Universitas Pakuan dan Universitas Djuanda tidak bersifat kontinu, kegiatan belajar mengajar yang di lakukan hanya selama empat bulan, atau hanya sampai pada Tahap I. Kegiatan ini terakhir dilaksanakan yaitu setahun yang lalu yaitu pada tahun 2010. Hal ini karena program KF yang di lakukan hanya selama jadwal praktek kerja lapang yang rentang waktunya tidak lama, selain itu tidak ada evaluasi kembali dan tidak ada keberlanjutan untuk melaksanakan tahapan program KF berikutnya.

Program KF yang di adakan oleh PKBM SLIM merupakan salah satu program KF yang memiliki pencapaian baik di Desa Citapen dalam mengentaskan buta aksara. Hal ini di buktikan dengan adanya satu kelompok belajar yang telah melewati ketiga tahapan yang ada dan mayoritas dari warga belajar tersebut telah melek aksara hingga saat ini. Prestasi yang telah diraih oleh PKBM SLIM tidak dapat dilanjutkan untuk memberantas buta aksara pada penduduk Desa Citapen, hal ini karena pemerintah mencabut perizinan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh PKBM SLIM setahun yang lalu. Kejadian ini sangat disayangkan oleh warga belajar, karena antusias yang di berikan warga belajar PKBM SLIM sangat besar.

Pencabutan perizinan kegiatan belajar mengajar yang di lakukan oleh pemerintah setempat kepada PKBM SLIM yaitu karena persaingan dari program KF yang di adakan di Desa Citapen. Dalam hal ini, pemerintah desa juga memiliki proyek program KF, melihat keberhasilan yang dilakukan oleh PKBM SLIM membuat pemerintah desa mencabut perizinan kegiatan belajar mengajar pada PKBM tersebut, dengan alasan pemerintah tersebut ingin mengembangkan penduduk desanya dengan program yang di adakan oleh pemerintah desa itu sendiri.

Beberapa warga belajar yang mengikuti program KF PKBM SLIM, pada akhirnya diambil alih untuk mengikuti program KF yang di lakukan oleh pemerintah desa. Kegiatan program KF yang di lakukan oleh pemerintah desa tidak membuahkan hasil, terbukti kegiatan belajar yang di lakukan hanya sampai pada Tahap I dan tidak ada keberlanjutannya lagi hingga saat ini.

4.2.2 Program Keaksaraan Fungsional PKBM Saraga Lekas Insan Mandiri (SLIM) Program Keaksaraan Fungsional (KF) PKBM SLIM merupakan kelompok belajar program KF yang berada di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Terbentuknya PKBM ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penduduk Kecamatan Ciawi yang mengalami buta huruf, yaitu sebanyak 3.000 warga. Pengukuhan PKBM SLIM pertama kali dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2009, dengan surat keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Bidang Pendidikan Non Formal (PNF) Kasi Pendidikan Kemasyarakatan Nomor 421 / 4318 – Diklus, meskipun PKBM ini masih terbilang baru namun PKBM ini telah memiliki akreditasi A. Sumber dana yang dipakai oleh PKBM SLIM yaitu dana dekonsentrasi. Susunan PKBM SLIM terdiri dari pembina, pelindung, pembina teknis, serta pengurus PKBM SLIM (Gambar 2) yang memiliki tugas pokok masing-masing yang merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan guna menuju pada satu tujuan yaitu memberantas buta huruf pada perempuan usia 15 tahun keatas di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Antusias penduduk sangat besar terhadap hadirnya PKBM SLIM, terbukti dengan terbentuknya 56 kelompok belajar yang dimiliki oleh PKBM SLIM, di beberapa di desa Kecamatan Ciawi. Dalam satu kelompok belajar memiliki satu orang tutor yang bertugas untuk menunjang aktivitas kegiatan warga belajar dalam kegiatan belajar mengajar. Kriteria

tutor dalam PKBM SLIM yaitu pendidikan tutor minimal SMA. Tutor yang terpilih akan melalui tahap pembekalan mengenai pengajaran KF terlebih dahulu selama dua minggu, setelah itu para tutor diperbolehkan untuk langsung turun ke tempat warga belajar. Para tutor dibekali beberapa modul yang harus dipelajari dan dijadikan acuan untuk mengajar, sebagian besar tutor yang terpilih yaitu tutor yang pernah atau masih mengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tema-tema yang diajarkan dalam kegiatan belajar mengajar yaitu tema pendidikan keluarga dan anak, kesehatan, ekonomi dan pendapatan, serta kesadaran berwarga negara.

Program KF seharusnya melalui tiga tahapan, yaitu Tahap I (tahap pemberantasan), Tahap II (tahap pembinaan), dan Tahap III (tahap pelestarian). Setiap tahapan yang dilewati oleh warga belajar akan dilakukan ujian, setelah melewati ujian warga belajar berhak mendapatkan Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA I, II, II) di setiap tahapan yang dilalui oleh warga belajar sebagai bukti bahwa mereka telah melek aksara.

Banyaknya permasalahan dan hambatan di lapangan, menyebabkan hanya terdapat tiga kelompok belajar yang melewati ketiga tahapan diatas, selebihnya kelompok belajar hanya sampai pada Tahap I atau sampai pada Tahap II. Kelompok belajar yang berada di Desa Citapen terdapat tiga kelompok belajar, yaitu kelompok belajar Dahlia 2 (hanya sampai Tahap I), Dahlia 8 (Tahap I-III), dan Dahlia 15 (Tahap I dan Tahap II). Tempat kegiatan belajar mengajar PKBM SLIM di Desa Citapen yaitu dilaksanakan di mushola terdekat atau mushola yang memadai dan rumah warga belajar yang luasnya mampu menampung banyaknya warga belajar yang ada dalam satu kelompok. Hal ini menegaskan tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk menyediakan tempat kegiatan belajar mengajar untuk program KF.

Kelompok belajar yang pertama adalah kelompok belajar Dahlia 2, kelompok belajar ini hanya melalui Tahap I atau tahapan pemberantasan. Tutor pada kelompok belajar ini bernama Teti. Jumlah warga belajar pada kelompok ini sebanyak 16 orang, selain itu kegiatan belajar mengajar dilakukan di mushola terdekat yaitu mushola Al-Iklas karena tidak ada rumah warga yang mencukupi kapasitas warga belajar, mushola ini berada dipinggri jalan raya. Kegiatan belajar mengajar pada kelompok ini berjalan selama tiga bulan. Terhentinya kelompok belajar hanya pada Tahap I dikarenakan rendahnya motivasi

Gambar 2 Struktur Organisasi Penyelanggara PKBM Saraga Lekas Insan Mandiri                                                                   PEMBINA

Kasi PLS Dinas Pendidikan Kab. Bogor

Drs. Tata Karwita, M.Pd 

PELINDUNG Camat Kec. Ciawi

HS. Zaenal

PEMBINA TEKNIS Penilik PLS Kec. Ciawi

Drs. Entub Kurtubi

PENGURUS PKBM SARAGA LEKAS INSAN MANDIRI

Ketua : Aziz Muslim Sekertaris : Hendriawan Bendahara : H. Asep Hambali

KEAKSARAAN FUNGSIONAL

Noni

LIFE SKILL Lilis

warga belajar untuk melanjutkan kegiatan belajar ke tahap yang selanjutkan, sehingga kegiatan belajar mengajar terhenti hanya pada Tahap I.

Kelompok belajar yang kedua yaitu kelompok belajar Dahlia 15, kelompok belajar ini hanya melalui dua tahapan yaitu tahapan pemberantasan dan tahapan pembinaan. Kelompok belajar ini memiliki tutor bernama Zumairah Rizky. Jumlah warga belajar pada kelompok ini sebanyak 17 orang. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah salah satu warga belajar yang luas rumahnya mencukupi untuk kegiatan belajar mengajar. Pada Tahap II, warga belajar dibekali berbagai keterampilan oleh program KF pada yaitu keterampilan menjahit dan memasang payet pada kerudung. Kegiatan belajar mengajar pada kelompok ini berjalan selama 4 sampai 5 bulan. Tidak lengkapnya tahapan yang dilalui oleh kelompok belajar ini dikarenakan adanya masalah dengan aparat desa setempat yang tidak mengizinkan adanya keberlanjutan dari kegiatan PKBM SLIM. Hal ini sangat disayangkan oleh warga belajar Dahlia 15, karena antusias warga belajar saat itu masih tinggi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Kelompok belajar yang terakhir yaitu kelompok belajar Dahlia 8. Kelompok belajar ini melalui semua tahapan yang harus dilalui oleh kegiatan KF yaitu tahap pemberantasan, tahap pembinaan, dan tahap pelestarian. Tutor dalam kelompok belajar ini bernama Noni. Jumlah warga belajar pada kelompok ini sebanyak 17 orang selain itu kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah salah satu warga belajar. Pada Tahap II, warga belajar dibekali berbagai keterampilan oleh program KF pada kelompok ini yaitu membuat coklat, membuat tas manik, dan memasang payet pada kerudung. Kegiatan yang dilakukan pada tahap terakhir yaitu tahap pelestarian, tahap tersebut bertujuan mempertahankan kelanggengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang telah dimiliki warga belajar. PKBM SLIM menyediakan taman bacaan pada tahap ketiga yang diperuntukan warga belajar untuk mencari informasi-informasi yang diinginkan sambil melatih dan melanggengkan kemampuan membaca, selain itu diadakan pula kegiatan arisan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan percaya diri warga belajar dalam bersosialisasi dan memperlancar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Tutor masih disediakan pada tahap ketiga untuk mengevaluasi kemampuan warga belajar dan siap sedia apabila dibutuhkan warga belajar untuk menanyakan sesuatu hal yang berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Ketiga tahapan tersebut dapat dilalui karena

adanya motivasi yang tinggi dari tutor itu sendiri untuk membangkitkan semangat warga belajar dalam memelekhurufkan warga belajar. Kegiatan belajar mengajar pada kelompok ini berjalan selama 5 sampai 6 bulan.

Kelompok belajar yang telah melewati tahapan kedua yaitu kelompok belajar Dahlia 15 dan Dahlia 8 telah diberikan berbagai keterampilan. Setelah warga diberikan keterampilan-keterampilan tersebut, pihak PKBM bekerjasama dengan pabrik-pabrik industri kerajinan yang ada di Desa Citapen untuk menyalurkan kemampuan tersebut. Di sini warga ditugaskan memasang payet pada kerudung yang dikerjakan di masing-masing rumah warga belajar. Pekerjaan tersebut akan diserahkan pada pabrik di setiap minggunya. Warga belajar akan mendapatkan upah sesuai dengan banyaknya kerajinan yang dapat diselesaikan dalam per minggunya, satu kerajinan yang dihasilkan akan diupah sebesar Rp 3.000,00 namun kegiatan ini berlangsung selama tiga minggu sesuai jadwal pengajaran yang ada. Hal ini dilakukan agar warga belajar dapat lebih mahir dalam keterampilan tersebut dan memberikan pengalaman bekerja terhadap warga belajar itu sendiri.

Program KF PKBM SLIM telah memiliki pencapaian yang baik dalam mengentaskan buta aksara warga Desa Citapen. Hal ini karena PKBM SLIM memiliki satu kelompok belajar yang telah melewati ketiga tahapan yang ada pada program KF dan mayoritas warga belajar tersebut masih melek aksara hingga saat ini. Hambatan program KF PKBM SLIM yaitu terletak dari perizinan yang telah dicabut dari pemerintah desa setempat untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sejatinya apabila pemerintah setempat tidak mencabut perizinan kegiatan belajar, program KF memiliki keyakinan dapat memberantas buta aksara di Desa Citapen secara bertahap dan kontinu.

4.2.3 Ringkasan

Banyaknya penduduk pada usia produktif merupakan potensi sumber daya manusia yang terdapat di Desa Citapen. Permasalahannya adalah pendidikan di Desa Citapen masih rendah, dimana mayoritas warga tidak pernah sekolah formal dan tidak tamat SD sehingga banyak penduduk yang menyandang buta aksara. Banyaknya penduduk Desa Citapen yang menyandang buta aksara, menyebabkan banyak dilaksanakan program Keaksaraan Fungsional (KF) di setiap RT / RW Desa Citapen, yang bertujuan untuk membebaskan penduduk dari buta aksara. Salah satu program KF yang dilakukan di Desa Citapen yaitu program KF dari PKBM SLIM. Pada bab berikutnya akan dibahas mengenai pengaruh program PKBM SLIM dalam mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki warga belajar.

5 PENGARUH PROGRAM KEAKSARAAN FUNGSIONAL DALAM

MEMPERTAHANKAN KEMAMPUAN AKSARA WARGA BELAJAR

Lutfi (2007) menyatakan, program KF adalah sebuah pendekatan untuk

mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, mengamati dan menganalisis persoalan yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada pada diri dan lingkungannya. Tujuan dari program KF adalah penguasaan membaca, menulis dan berhitung menjadi syarat mutlak untuk menguasai keterampilan dalam rangka peningkatan kualitas hidup. Salah satu indikator keberhasilan dari program KF yaitu memberdayakan perempuan yang awalnya buta aksara menjadi melek aksara dan bersifat kontinu bukan bersifat sementara. Terdapat tiga tahapan keaksaraan dalam program KF (Aziz 2008), antara lain: 1) Tahap I yaitu tahap pemberantasan (basic literacy). 2) Tahap II yaitu tahap pembinaan (middle literacy). 3) Tahap III yaitu pelestarian (self learning).

Warga belajar dalam penelitian ini terdapat tiga kelompok, yaitu warga belajar yang hanya melalui Tahap I sebanyak 15 orang, warga belajar yang melalui sampai Tahap II sebanyak 15 orang, dan warga belajar yang sudah melalui semua tahapan yaitu sampai Tahap III sebanyak 15 orang. Ketika warga belajar telah melalui setiap tahapan, warga belajar diwajibkan mengikuti ujian untuk menguji kemampuan aksara mereka. Bagi warga belajar yang telah melek aksara atau memiliki kemampuan aksara, warga belajar berhak mendapatkan SUKMA, sebagai bukti bahwa mereka telah melek aksara.

Semua warga belajar dalam penelitian ini pada dasarnya telah melek aksara atau memiliki kemampuan aksara yaitu membaca, menulis, dan berhitung ketika mereka melewati Tahap I, serta telah memiliki SUKMA. Peran program KF berperan penting dalam memelihara kemampuan aksara warga belajar. Hubungan tahap KF dan kemampuan mempertahankan aksara dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Peran Program Keaksaraan Fungsional terhadap Kemampuan Warga Belajar Desa Citapen dalam Mempertahankan Kemampuan Aksara Tahun 2011

Tahapan KF Kemampuan Mempertahankan Aksara

Rendah Tinggi

Tahapan 1 14 (50,0 %) 1 (5,9 %)

Tahapan 2 13 (46,4 %) 2 (11,8 %)

Tahapan 3 1 (3,6 %) 14 (82,4 %)

Jumlah 28 (100,0 %) 17(100,0 %)

Sumber: Data Primer Hasil Penelitian 2011

Tabel 4menunjukan, bahwa tahapan KF yang dilalui oleh warga memiliki pengaruh

dengan kemampuan warga belajar dalam mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki. Semakin lengkap tahapan yang dilewati oleh warga belajar yaitu tahap ketiga, semakin tinggi kemampuan warga belajar untuk mempertahankan kemampuan aksaranya. Begitu juga yang terjadi pada tahap pertama, membuktikan semakin sedikit tahapan yang dilewati, semakin rendah kemampuan warga belajar untuk mempertahankan kemampuan aksaranya atau semakin sedikit warga belajar yang mampu mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki.

Mayoritas warga belajar yang hanya melewati Tahap I, memiliki kemampuan mempertahankan kemampuan aksara yang rendah atau telah buta aksara kembali yaitu sebesar 50,0 persen. Warga belajar yang hanya melalui Tahap I namun memiliki kemampuan mempertahankan kemampuan aksara yang tinggi yaitu masih mampu membaca, menulis, dan berhitung dan mampu menerapkan kemampuan aksara tersebut dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebesar 5,9 persen. Adanya warga belajar yang hanya melewati Tahap I namun memiliki kemampuan mempertahankan aksara tinggi disebabkan warga belajar tersebut memiliki motivasi yang tinggi pada dirinya sendiri untuk mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki. Motivasi yang dilakukan adalah warga belajar tersebut selalu membaca koran setiap pagi untuk melancarkan kemampuan membaca yang dimiliki, menambah wawasan pengetahuan dan mengetahui informasi terbaru, seperti yang dikemukakan warga belajar tersebut berikut:

“ saya mah setiap pagi selalu disempetin buat baca koran, walaupun bacanya gak bisa cepet tapi saya seneng baca koran, selain ngelancarin baca tapi juga saya bisa jadi pintar dari informasi yang ada di koran” (Erh, 54thn)

Banyaknya warga belajar yang telah buta aksara kembali pada Tahap I, menegaskan bahwa tujuan KF dalam mengentaskan buta aksara masih belum efektif. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa, program KF yang hanya melewati Tahap I hasilnya akan sia-sia, kalau kemampuan membaca yang telah diperoleh tidak digunakan, dengan kata lain program tersebut tidak akan berguna bagi masyarakat untuk memberantas buta aksara apabila hanya melewati Tahap I.

Hilangnya kemampuan aksara setelah masa belajar selesai ternyata juga terjadi setelah melewati Tahap II. Hasil penelitian menunjukkansebesar 46,4 persen warga belajar yang telah melewati Tahap II, telah menjadi buta huruf kembali. Terjadinya buta aksara kembali pada warga belajar disebabkan terhentinya kegiatan belajar pada Tahap II dan tidak tersedianya tutor yang siap siaga dan mengevaluasi kemampuan aksara warga belajar. Warga belajar yang telah melewati Tahap II, namun memiliki kemampuan mempertahankan kemampuan aksara yang tinggi yaitu sebesar 11,8 persen, dengan kata lain warga belajar masih mampu membaca, menulis, dan berhitung dengan baik, serta mampu menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Banyaknya warga belajar yang telah buta aksara kembali pada Tahap II, menegaskan bahwa tujuan KF dalam mengentaskan buta aksara masih belum efektif.

Warga belajar yang melalui Tahap III, hanya sebesar 3,6 persen yang memiliki kemampuan mempertahankan kemampuan aksaranya rendah, dengan kata lain warga belajar tersebut telah mengalami buta aksara kembali. Hal ini karena tidak adanya motivasi atau motivasi yang rendah dari warga belajar untuk mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki, warga belajar tersebut mengakui bahwa ia malas untuk belajar aksara kembali dirumah, selain itu ia tidak mengikuti arisan dan tidak pernah mengunjungi taman bacaan, yang seharusnya diikuti oleh warga belajar yang melewati Tahap III. Sebesar 82,4 persen yang melewati Tahap III, mampu mempertahankan kemampuan aksara mereka, serta mampu menerapkan kemampuan aksara tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca jam, kalender, pengumumam, iklan, menulis biodata tandatangan, menghitung pemasukan, pengeluaran dan lain-lain. Sebagian besar warga belajar yang telah melewati Tahap III mampu mempertahankan kemampuan aksara mereka yaitu masih mampu

membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dikarenakan mereka telah mengikuti kegiatan yang ada pada Tahap III atau tahap pelestarian yaitu masih tersedianya tutor yang memantau warga belajar, adanya kegiatan arisan, dan tersedianya taman bacaan.

Sebanyak 15 warga belajar yang melewati Tahap III atau sebesar 100 persen mengakui, bahwa yang paling berperan penting atau membantu dalam mempertahankan kemampuan aksara mereka adalah karena tersedianya seorang tutor yang selalu memotivasi warga belajar yaitu teh Noni. Ketika Tahap I, tutor selalu memberi Pekerjaan Rumah (PR) kepada warga belajar, sehingga mau tidak mau warga belajar akan mengulang pelajaran kembali dirumah. Hal lainnya yaitu setiap warga belajar yang tidak masuk kegiatan belajar mengajar, maka tutor akan menghampiri rumah warga belajar tersebut dan memberikan pengajaran agar warga belajar tersebut tidak tertinggal dalam kegiatan belajar mengajar. Setelah sampai pada tahap pelestarianpun, tutor tersebut masih selalu mengontrol kemampuan warga belajar dan selalu siap siaga apabila warga belajar ingin bertanya mengenai keaksaraan atau masalah yang lainnya.

Kegiatan lainnya dalam tahap pelestarian yaitu adanya arisan warga belajar dan taman bacaan. Warga belajar yang mengikuti arisan yaitu sebesar 80 persen dan yang tidak mengikuti yaitu sebesar 20 persen. Alasan warga belajar mengikuti arisan yaitu untuk meningkatkan kemampuan aksara dan berinteraksi sosial dengan warga belajar lainnya. Semua warga belajar yang mengikuti arisan sepakat bahwa kegiatan arisan membantu mereka dalam mempertahan kemampuan aksara, dan tutor lah yang memiliki peranan penting disini. Hal ini dikarenakan ketika mereka berkumpul untuk arisan, tutor selalu mengevaluasi kemampuan aksara warga belajar, selain itu setiap minggunya tutor menyuruh warga belajar bergilir bertugas untuk menagih, mengumpulkan, mendata, dan mengocok arisan. Hal tersebut membuat warga belajar mau tidak mau harus dapat menulis, membaca, dan berhitung, sehingga kegiatan arisan membantu warga dalam mempertahankan kemampuan aksara dan menimbulkan percaya diri dan kemandirian warga belajar.

Walaupun tersedia taman bacaan untuk warga belajar, namun sebagian warga belajar enggan untuk mendatangi taman bacaan tersebut. Hal ini dibuktikan, hanya sebesar 26,7 persen yang pernah mengunjungi taman bacaan. Warga belajar mengakui tidak datangnya mereka ke taman bacaan dikarenakan banyaknya pekerjaan domestik, dan tidak

tahu harus membaca buku apa. Seperti yang dituturkan oleh salah seorang warga belajar berikut:

“ saya mah bingung ke taman bacaan teh mau baca apa? Lagian dirumah juga masih banyak yang harus diurusin.” (Nng, 46thn)

Sebagian besar warga belajar yaitu sebesar 86,8 persen menyatakan, tersedianya taman bacaan nyatanya tidak mampu membantu warga belajar dalam mempertahankan kemampuan aksara warga belajar. Sisanya sebesar 13,3 persen merasa kehadiran taman bacaan telah membantu dalam mempertahankan kemampuan aksara mereka karena warga belajar tersebut sering mengunjungi taman bacaan. warga belajar mengakui, mereka mengunjungi taman bacaan apabila pekerjaan domestik sudah selesai yaitu di siang dan sore hari bersama dengan warga belajar lainnya, tutor, atau hanya seorang diri. Buku bacaan yang sering dibaca oleh ibu-ibu yaitu mengenai buku resep masakan, buku cara merawat anak dengan baik, dan buku mengenai KB.

5.1 Ringkasan

Mayoritas warga belajar yang masih mampu mempertahankan kemampuan aksara yaitu yaitu warga belajar yang telah melewati Tahap III atau tahapan pelestarian, serta adanya tutor yang memiliki motivasi yang tinggi untuk memicu motivasi warga belajar agar mampu mempertahankan kemampuan aksara yang dimiliki warga belajar. Disisi lain, ada pula warga belajar yang masih mampu mempertahankan kemampuan aksaranya, namun warga belajar tersebut tidak melewati Tahap III atau tahapan pelestarian. Dalam hal ini, diduga ada faktor lain yang mempengaruhi warga belajar untuk mempertahankan kemampuan aksaranya. Diduga karakteristik warga belajar dan dukungan lingkungan mempengaruhi kemampuan warga belajar untuk mempertahankan kemampuan aksara, hal ini akan dibahas pada bab selanjutnya.

Dokumen terkait