• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Kerja Favorit

“Jika suatu bangsa di huni oleh masyarakat yang malas membaca, maka bersiap-siaplah negara tersebut mencetak generasi yang senang

SEJUTA HARAPAN UNTUK PARUNG KEMBANG Oleh: Nurul Adhha

3. Program Kerja Favorit

Saya merencanakan program individu yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan untuk warga Kampung Parung Kembang. Tepatnya pada hari Selasa 9 Agustus 2016 saya dibantu rekan-rekan KKN lainnya melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Demam Berdarah, Penyakit Kulit, dan Vaksin Palsu. Sebelum hari H, saya mengunjungi Puskesmas Bagoang untuk meminta masukan tema yang akan diangkat pada penyuluhan kepada pihak Puskesmas. Alhamdulillah saya langsung berkomunikasi dengan Bapak Lomri Darmawan, beliau adalah pimpinan bagian PROMKES Puskesmas Bagoang. Beliau adalah sarjana di Bidang Kesehatan Masyarakat. Beliau memaparkan bahwasanya permasalahan kesehatan utama di Kampung Parung Kembang adalah penyakit kulit, dikarenakan kebiasaan mencuci dan mandi yang dilakukan warga di kali kecil. Padahal mereka juga membuang sampah rumah tangga ke kali kecil tersebut. Sehingga banyak sekali kasus penyakit kulit yang diderita warga baik anak-anak maupun dewasa. Selain itu, beberapa bulan yang lalu salah satu warga Kampung Parung Kembang juga terkena penyakit demam berdarah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit di Leuwiliang. Hal ini terjadi, karna kurangnya wawasan warga tentang demam berdarah, baik dalam hal mengenali gejalanya, menanganinya, maupun mencegahnya. Untuk itu dua tema ini penting

dan direkomendasikan oleh pihak Puskesmas kepada saya untuk dijadikan tema penyuluhan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Agenda Penyuluhan Kesehatan ini dihadiri oleh hampir seluruh warga. Sebagian besar di antara mereka adalah ibu-ibu. Jumlah warga yang menghadiri seminar ini tidak kurang dari 130 orang berdasarkan presensi yang diisi oleh warga. Selain warga Kampung Parung Kembang, yang menjadi peserta dalam kegiatan ini juga di antaranya warga desa tetangga seperti dari Kampung Jolpot ataupun Kampung Neglasari. Warga sangat senang dan menyambut baik kegiatan ini. Karena sebelumnya belum pernah diadakannya penyuluhan kesehatan oleh pihak Puskesmas atau lembaga kesahatan lainnya di kampung ini. Tanya jawab antar warga dan pembicara yaitu Bapak Lomri Darmawan juga berlangsung lancar dan bersemangat. Para warga tidak segan-segan untuk bertanya terkait penyakit demam berdarah ataupun penyakit kulit yang pernah dialami oleh sebagian warga di sini. Saya yang menjadi pembawa acara saat itu juga sangat antusias mendengarkan pemaparan Bapak Lomri terkait penyakit kulit dan kebiasaan buruk warga membuang sampah dan melakukan cuci di kali kecil. Saya berharap setelah diadakannya penyuluhan kesehatan ini, masyarakat lebih peka terhadap kesehatan diri dan lingkungannya, dan mulai menghentikan kebiasaan membuang sampai di kali kecil seperti sebelumnya. Semoga!.

Sebagai bentuk follow up atau tindak lanjut dari penyuluhan kesehatan ini, saya dan beberapa rekan KKN lainnya mengusulkan program kelompok atau fisik baru untuk kami laksanakan di kampung ini, yaitu pembuatan bak sampah untuk warga sekitar. Saya merencanakan tiga titik penempatan bak sampah untuk kampung ini. Setelah melakukan rapat dengan seluruh anggota kelompok saya dan ketua kelompok KKN Ahmad Syarif Hidayatullah melakukan rapat dengan Ketua RW 05 Bapak Surya terkait rencana program ini. Setelah memaparkan alasan dan urgensi dari pembuatan bak sampah ini, Bapak Surya pun berterima kasih kepada saya dan teman-teman karena sudah peduli dengan lingkungan dan kesehatan warga. Akan tetapi beliau tidak bisa menyetujui usulan tersebut. Dikarenakan tidak ada tempat untuk menjadi titik pembuatan bak sampah. Alasannya

tidak ada warga yang bersedia halaman atau tanah di rumahnya dijadikan tempat pembuatan bak sampah. Beliau menambahkan, bahwa membuang sampah ke kali kecil bisa ditekan dengan akan sedang berlangsungnya pengeringan kali kecil untuk pembangunan irigasi sawah. Untuk itu warga mengubah tempat pembuangan sampah rumah tangga mereka, dari kali kecil menjadi kali besar atau sungai. Saya sedikit merasa kecewa dengan keputusan dan pemaparan Bapak Surya, akan tetapi apalah daya, merubah kebiasaan yang sudah menjadi perilaku sehari-hari memang sangat sulit. Saya hanya berharap semoga ke depan anak-anak Kampung Parung Kembang sadar dan peduli akan kebersihan lingkungan dan menghentikan perilaku membuang sampai sembarangan seperti itu sehingga Desa Bagoang bisa lebih bersih dan tidak mendatangkan mudharat bagi desa-desa lainnya di daerah hilir sungai.

Tidak begitu lama setelah pelaksanaan program mandiri saya tersebut, saya dikejutkan dengan kenyataan bahwasanya hari favorit saya saat masih kanak-kanak dahulu telah tiba. Lomba balap karung, makan kerupuk, lomba membawa bendera merah putih dan masih banyak lagi lomba-lomba lainnya yang terus saja terlintas di pikiran ini. ‘Merdeka’ itulah nama program yang hari ini akan dilaksanakan. Merdeka merupakan singkatan dari Menyambut Hari Kemerdekaan, program ini merupakan program favorit saya sewaktu merancang program bersama rekan-rekan kelompok KKN lainnya. Tanpa bermalas-malasan satu per satu teman-temanku telah rapi dengan baju khas kelompok Bima Sakti. Ada yang menyiapkan kerupuk untuk lomba ada yang memasak sarapan untuk saya dan teman-teman lainnya, bahkan saya sendiri pun telah siap untuk berangkat ke rumah KH. Eman untuk meminjam microphone untuk memandu acara ‘Merdeka’ pada hari ini. Dari jauh saya sudah bisa melihat anak-anak KampungParung Kembang telah berkumpul di lapangan. Terlihat dari muka mereka raut tidak sabar. Hal itu menjadi sinyal tersendiri bagi saya dan teman-teman agar segera memulai acara perlombaan untuk anak-anak pada pagi hari ini. Perlombaan pun dimulai dengan lomba balap kelereng dengan sendok. Tawa terus saja mengalir dari wajah para penonton. Bagaimana tidak, para pejuang lomba sangat kesulitan berjalan sambil menahan sendok yang membawa kelereng di mulut

mereka. Saya senang melihat raut ibu-ibu dan anak-anak yang hadir pada hari ini. Semuanya tampak bahagia menyambut kemerdekaan Indonesia. Semoga semangat lomba tersebut menjadi bukti kecintaan mereka terhadap negeri ini, sehingga ke depan semangat itu bisa dibuktikan dengan semangat untuk terus belajar dan bahu-membahu memajukan Kampung Parung Kembang khususnya.

Seperti biasa, pada malam hari saya dan rekan-rekan lainnya selalu dengan semangat menghadiri Majelis Ta’lim untuk membagi sedikit ilmu agama kami kepada adik-adik dan remaja Kampung Parung Kembang. Malam ini saya memberikan mata pelajaran Tajwid. Saya sangat bersemangat mengisi Majelis Ta’lim kali ini, karena ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an adalah yang paling saya sukai. Adik-adik pun tidak kalah semangatnya, Alhamdulillah mereka mengikuti pembelajaran dengan baik, walaupun masih diiringi oleh becandaan dan lelucon yang kadang keluar dari mulut polos mereka. Ilmu Tajwid dalam Surat Al-Falaq pun kami tamatkan pada malam ini. Alhamdulillah semua adik-adik paham dan sudah bisa membacanya dengan baik dan lancar sesuai dengan kaidah yang seharusnya. Saya tidak lupa memberikan nasehat dan motivasi untuk membiasakan diri membaca al-Qur’an di rumah masing-masing, dan bermujahatan untuk bisa menghafalkan al-Qur’an di akhir pembelajaran kepada mereka. Ada yang terlihat berkaca-kaca matanya, ada yang diam seribu kata mungkin mereka tersentuh dengan nasehat tersebut. Semoga nasehat itu bisa membuat mereka menjadi generasi Islami dan Qur’ani yang akan membawa perubahan postif di dusun ini, Amin.