• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Sektor UMKM di

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 137-147)

dimana perekonomian tidak berjalan semestinya akibat masifnya dampak hebat pandemi Covid-19.

Dalam hal ini, APBN hadir sebagai instrumen utama yang digunakan Pemerintah. Kebijakan fiskal yang dikeluarkan Pemerintah disesuaikan dengan asesmen perkembangan Covid-19 yang dilakukan secara terus-menerus. Sejak penyebaran Covid-19 masih terkonsentrasi di Tiongkok, yang dikhawatirkan akan memberikan ancaman pada perekonomian dunia, Pemerintah dan otoritas di Indonesia sudah mengambil langkah responsif, antara lain melalui pemberian stimulus yang fokus pada area dan sektor yang langsung mendapat tekanan, seperti sektor pariwisata. Paket Stimulus I diluncurkan pada bulan Februari 2020. Respon kebijakan tersebut dilakukan untuk memperkuat perekonomian domestik yang terancam dari transmisi pelemahan ekonomi Tiongkok dan dunia. Di dalam stimulus tersebut tercakup percepatan belanja dan kebijakan mendorong padat karya.

Setelah Covid-19 masuk ke Indonesia dan memberi ancaman pada keselamatan dan kesehatan masyarakat, pemerintah terus memperkuat kebijakan kesehatan termasuk dengan melakukan refocusing serta realokasi anggaran. Kebijakan ini dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 tanggal 20 Maret 2020 yang menyatakan bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga diminta untuk mengutamakan penggunaan anggaran yang ada bagi kegiatan yang mendukung percepatan penanganan Covid-19 (refocusing kegiatan dan realokasi anggaran).

Paket Stimulus II diluncurkan pada 13 Maret 2020. Pada tahap ini, Covid-19 telah dinyatakan sebagai pandemi dan penyebarannya telah masuk ke Indonesia dengan 69 kasus positif dan 1 kematian. Paket Stimulus II dikeluarkan sebagai respon Pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan memberikan dukungan dunia usaha serta industri terdampak melalui kemudahan ekspor dan impor. Paket Stimulus II terdiri dari stimulus fiskal melalui insentif perpajakan, stimulus moneter, dan kebijakan di sektor keuangan yakni relaksasi kredit bagi UMKM.

memaksa untuk dikeluarkannya Paket Stimulus III sebesar Rp405,7 triliun dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) agar dapat dilakukan langkah yang cepat dan antisipatif untuk menangani Covid-19 serta dampaknya pada stabilitas ekonomi dan sektor keuangan yang semakin eskalatif. Pada tanggal 31 Maret 2020, Pemerintah mengeluarkan PERPPU Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. PERPPU tersebut berisi bauran kebijakan di bidang keuangan negara (kebijakan fiskal) dan kebijakan stabilitas sistem keuangan.

Dengan berbagai penguatan, biaya untuk penanganan Covid-19 meningkat menjadi Rp695,2 triliun. Secara garis besar, terdapat dua dimensi utama di dalam stimulus penanganan Covid-19, yang pertama adalah untuk penanganan kesehatan sebagai sumber utama penyebab krisis. Dimensi kedua adalah penanganan krisis ekonomi sebagai efek domino dari krisis kesehatan, melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Seiring penyesuaian pada biaya penanganan Covid-19 termasuk program PEN, postur APBN kembali mengalami penyesuaian sebagaimana tertuang dalam Perpres nomor 72/2020. Peningkatan biaya penanganan Covid-19 mendorong defisit APBN kembali melebar menjadi 6,34% terhadap PDB. Selain untuk menampung biaya penanganan pandemi, perubahan pada postur APBN juga dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan aktivitas ekonomi yang semakin dalam sehingga makin menekan pendapatan negara.

Perubahan postur APBN 2020 sesuai Perpres 72/2020 dapat diamati dari penurunan estimasi pendapatan negara menjadi 1.699,9 triliun. Penurunan kinerja ekonomi dan harga beberapa parameter, seperti harga minyak memberi tekanan pada pendapatan negara, baik lewat perpajakan maupun PNBP. Selanjutnya, penggunaan insentif perpajakan sebagai salah satu instrumen stimulus untuk membangkitkan perekonomian juga turut memberi sumbangan pada

penurunan pendapatan di tahun 2020. Estimasi tersebut membuat pendapatan negara tahun ini terkontraksi 13,2% dibanding pendapatan di tahun 2019.

Penguatan stimulus membuat beberapa pos belanja mengalami peningkatan secara signifikan, khususnya yang terkait dengan bidang kesehatan, bantuan sosial bagi masyarakat, serta pemulihan dunia usaha. Di sisi lain, ada beberapa pos anggaran yang diefisienkan dan dialihkan pada kegiatan percepatan penanganan Covid-19. Dalam perubahan APBN 2020 untuk kedua kalinya tersebut, belanja negara dianggarkan sebesar Rp2.739,2 triliun, meningkat dari Rp2.540,4 triliun di APBN original, dan Rp2.613,8 triliun di perubahan pertama. Adapun pada sisi pembiayaan anggaran, terdapat peningkatan kebutuhan untuk mendukung pemulihan ekonomi seperti untuk pembiayaan investasi, penjaminan, PMN, dan penempatan dana.

Formulasi PEN dan perubahan postur APBN ini tetap mengedepankan tata kelola yang baik dan menjaga pengelolaan fiskal yang prudent. Pemerintah melakukan langkah-langkah terukur dan akuntabel dalam proses tersebut, seperti melalui penetapan dasar hukum dan penerbitan regulasi. Proses komunikasi, konsultasi, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk DPR RI dilakukan secara baik dan terbuka. Kerjasama dengan aparat penegak hukum juga dilakukan sejak proses awal, termasuk dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk memastikan implementasi PEN berjalan baik dan taat azas. Pemerintah juga membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Monitoring agar realisasi PEN dapat dilakukan secara cepat dan terdapat langkah-langkah perbaikan dari hambatan realisasi yang terjadi.

Melalui program PEN, Pemerintah berupaya untuk mengintegrasikan berbagai langkah untuk meminimalisir dampak dari Covid-19 terhadap ekonomi, baik di tingkat individu/rumah tangga hingga korporasi. Dampak ekonomi yang sangat disruptif dari Covid-19 juga harus direspon dengan langkah kebijakan yang juga luar biasa, bahkan belum pernah dilakukan sebelumnya

(unprecedented). Secara umum, terdapat 6 kebijakan utama program PEN, yakni penanganan kesehatan, perlindungan sosial, insentif bagi dunia usaha, dukungan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah, pembiayaan korporasi, serta program sektoral Kementerian Lembaga dan Pemerintah Daerah.

Grafik 7.1 Perkembangan Kasus Covid-19 Terkonfirmasi dan Stimulus Fiskal Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh

Sumber: Data Publikasi PEN Kemenkeu dan Pemerintah Aceh, 2021 (diolah)

Untuk Aceh, semakin meluasnya pandemi Covid-19, Pemerintah Aceh mengeluarkan Keputusan tentang Penetapan Status Tanggap Darurat yang mencakup pencegahan penyebaran Covid-19, percepatan penanganan Covid-19 serta kesiapan dan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespon Covid-19.

Salah satu usaha dalam pencegahan dan penanganan dampak pandemi ini, Pemerintah Aceh juga menetapkan stimulus senilai Rp161,7 miliar dengan penggunaan Belanja Tidak terduga (BTT) untuk tanggap Darurat penanganan Covid-19 dalam enam tahap. Selain itu stimulus juga disalurkan kepada pemerintah kabupaten dan kota senilai Rp300 miliar yang dialokasi dari Belanja Bantuan Keuangan yang bersifat khusus, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 7.1 Rincian Stimulus Belanja Bantuan Keuangan Pemerintah Aceh

No Kabupaten/Kota Jumlah Bantuan (dalam Rp) No Kabupaten/Kota Jumlah Bantuan (dalam Rp)

1. Aceh Barat 10.000.000.000,00 12. Bener Meriah 10.000.000.000,00 2. Aceh Barat Daya 20.000.000.000,00 13. Bireun 15.000.000.000,00 3. Aceh Besar 10.000.000.000,00 14. Gayo Lues 15.000.000.000,00 4. Aceh Jaya 15.000.000.000,00 15. Nagan Raya 20.000.000.000,00 5. Aceh Selatan 10.000.000.000,00 16. Pidie 10.000.000.000,00 6. Aceh Singkil 15.000.000.000,00 17. Pidie Jaya 20.000.000.000,00 7. Aceh Tamiang 15.000.000.000,00 18. Simeulue 10.000.000.000,00 8. Aceh Tengah 10.000.000.000,00 19. Banda Aceh 10.000.000.000,00 9. Aceh Tenggara 10.000.000.000,00 20. Langsa 20.000.000.000,00 10. Aceh Timur 10.000.000.000,00 21. Lhokseumawe 15.000.000.000,00 11. Aceh Utara 10.000.000.000,00 22. Sabang 10.000.000.000,00

Sumber: Pergub No.40/2020

Alokasi Belanja Bantuan Keuangan ini dipergunakan untuk antisipasi dan penanganan dampak penularan Covid-19 di Kabupaten/Kota dalam wilayah Aceh, yaitu penanganan kesehatan, ketahanan pangan, pemberdayaan dampak ekonomi serta pengaturan pergerakan orang di perbatasan Aceh bagi Kabupaten/Kota perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Untuk pemberdayaan dampak ekonomi salah satunya adalah memberikan bantuan pada pelaku-pelaku UMKM.

Sektor UMKM yang merupakan sektor penyumbang terbesar PDB Nasional pun sebagai dijelaskan di atas juga terdampak oleh pandemi ini. Menurut data Bank Indonesia, UMKM eksportir merupakan yang paling banyak terpengaruh, yaitu sekitar 95,4 persen dari total eksportir. UMKM yang bergerak dalam sektor kerajinan dan pendukung pariwisata terpengaruh sebesar 89,9 persen. Sementara sektor yang paling kecil terimbas pandemi Covid-19 adalah sektor pertanian, yakni sebesar 41,5 persen. Sementara itu, pada level pengusaha, data riset Kementerian Koperasi dan UKM, melaporkan UMKM yang terdiri dari pedagang besar dan pedagang eceran mengalami dampak pandemi Covid-19 yang paling tinggi (40,92 persen), disusul UMKM penyedia akomodasi, makanan minuman sebanyak (26,86 persen) dan yang paling kecil terdampak adalah industri pengolahan sebanyak (14,25 persen).

Menurut hasil penelitian ada beberapa dampak yang dialami oleh UMKM. Pertama, dampak pada omzet penjualan. Hasil riset BI

melaporkan bahwa tingkat penurunan yang terjadi pada rata-rata penjualan produk UMKM adalah sebesar 50 persen. Penyebab terjadinya penurunan ini disampaikan oleh LIPI sebagian dipengaruhi oleh keputusan 58,8 persen UMKM untuk menurunkan harga produk dan jasanya untuk tujuan mempertahankan usaha sehingga keuntungan turun lebih dari 75 persen. Rilis yang sama dengan LIPI disampaikan Tim Riset JNE yang melaporkan sebanyak 75 persen UMKM mengalami penurunan signifikan pada penjualan. Kedua, dampak pada permodalan. Menurut penjelasan Menteri Koperasi dan UKM yang disampaikan di pertengahan Agustus 2020, bahwa 40 persen UMKM telah gulung tikar sebagai imbas sulit mendapatkan modal kembali akibat Pandemi Covid-19. Angka ini muncul sebagai dipengaruhi 2 faktor, yaitu gulung tikar karena tidak dapat mendistribusikan produk barang atau jasa, dan tutup karena alasan mematuhi perintah PSBB dan sosial distancing. Hasil riset juga melaporkan bahwa sebanyak 19.93 persen dari total UKM yang ada, mencoba untuk tetap bertahan di tengah pukulan Pandemi Covid-19 kendati mengalami kesulitan modal. Untuk keperluan efisiensi, terpaksa melakukan PHK terhadap karyawannya sehingga jumlah produksinya juga menurun.

Untuk Aceh, berdasarkan data Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi Aceh, dari total 74.810 UMKM di Aceh, sebanyak 20.307 UMKM terdampak Covid-19. Dampak buruk yang dirasakan beragam, mulai dari kesulitan produksi karena harga bahan baku mahal hingga kehilangan pasar karena pembatasan aktivitas warga.

Belanja Pemerintah baik Pusat maupun Daerah menjadi salah satu modal menyelamatkan usaha mikro, kecil, dan menengah dari dampak pandemi Covid-19. Tumbangnya UMKM akan berdampak buruk pada ekonomi Aceh. Berdasarkan rilis BPS Aceh, ekonomi Aceh selama tahun 2020 turun sebesar 0,37 persen dibandingkan tahun 2019.

 Pemulihan Ekonomi di Kabupaten Aceh Tamiang

Salah satu usaha pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh

Tamiang. Melalui Anggaran Belanja APBK Perubahan Tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah mengalokasikan anggaran yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus Provinsi Tahun 2020 untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp15 miliar dengan rincian anggaran dan realisasi sebagai berikut:

Tabel 7.2 Pagu dan Realisasi Bantuan Keuangan Khusus Provinsi Tahun 2020 (juta Rp)

No SKPK Pagu Realisasi %

1 RSUD Aceh Tamiang 2.718,47 2.385,53 87,75% 2 Dinas Kesehatan 4.356,47 2.457,52 56,41%

3 BPBD 3.654,06 3.387,24 92,70%

4 Dinas PUPR 667,00 667,00 100,00%

5 Dinas Koperindag 544,00 538,14 98,92% 6 Dinas PMPPKBKS 850,00 841,36 98,98% 7 Dinas Tenaga Kerja 100,00 99,55 99,55% 8 Dinas Pertanian 1.420,00 1.414,67 99,62% 9 Dinas Pangan dan KP 690,00 678,92 98,39% Total 15.000,00 12.469,93 83,13%

Sumber: DPKK Aceh Tamiang, 2021 (diolah)

Untuk pemulihan ekonomi sektor UMKM, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mengalokasikan anggaran pada Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan senilai Rp544 juta. Anggaran ini ditujukan untuk memberikan bantuan mesin dan peralatan olahan pangan kepada 109 pelaku UMKM 6 jenis usaha yaitu pengrajin bakso, tempe, tahu, bandeng presto, terasi dan pembuat roti. Harapannya, dengan bantuan ini dapat kembali meningkatkan ekonomi usaha UMKM yang terdampak Covid-19.  Pemulihan Ekonomi di Kabupaten Aceh Besar

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga telah mengalokasi Belanja Tidak Terduga Tahun 2020 untuk kegiatan pencegahan dan penanganan Covid-19 senilai Rp37,55 miliar yang tersebar 37 instansi. Salah satunya adalah alokasi untuk Dinas Pertanian senilai Rp1,51 miliar untuk bantuan benih padi pada musim tanam (MT) Gadu Tahun 2020 yang direalisasikan sebesar Rp1,32 miliar untuk pengadaan 136.224 kg benih bagi 200 petani padi sawah terdampak Covid-19.

Selain itu, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Aceh Barat juga telah mengalokasikan sebesar Rp229,5 juta untuk memberikan bantuan kepada 85 pelaku usaha mikro dan

80 pelaku usaha ikan bakar berupa peralatan dan perlengkapan usaha.

Tabel 7.3 Pagu dan Realisasi Penerima Manfaat Bantuan UKM

No Nama Kegiatan Pagu (Rp) Realisasi (Rp) Penerima Manfaat

Jumlah Entitas

1 Bantuan Kemasan Bagi Pelaku Usaha Mikro 127.500.000 126.900.000 85 UMKM 2 Bantuan Fiber penyimpanan ikan bagi UMKM usaha ikan bakar 102.000.000 101.000.000 80 UMKM

Sumber: DPKK Aceh Tamiang, 2021 (diolah)

Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Aceh telah mengambil peran baik dalam penanganan dan pencegahan Covid-19 maupun program pemulihan ekonomi terutama pemulihan ekonomi di sektor UMKM. Peran ini menjadi bagian usaha pemerintah dalam menangani dampak Covid-19 di berbagai sektor tidak semakin dalam. Dengan harapan, sektor UMKM kembali memberikan kontribusi yang semakin baik bagi pertumbuhan ekonomi yang positif nasional maupun regional.

Boks 4 Berita Terpilih: Pelaku UMKM Mengaku Bantuan Pemerintah Aceh Menunjang Usahanya Pelaku UMKM Mengaku Bantuan Pemerintah Aceh Menunjang Usahanya

Aceh Barat - Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Aceh Barat mengaku usaha yang

dijalankannya terasa sangat terbantu dengan adanya bantuan usaha yang mereka terima dari Pemerintah Aceh. Bantuan tersebut mampu menunjang kelancaran usaha yang dijalankan mereka. Novita Sari, penerima bantuan usaha mesin jahit dari Pemerintah Aceh, di Gampong Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan mesin obras yang diterimanya itu.

Novita menerima satu unit mesin obras itu pada awal tahun 2020 lalu. Mesin tersebut digunakan untuk merapikan dan memotong tepian busana yang telah selesai dijahit.

“Alhamdulillah dengan adanya mesin ini penyelesaian jahitan bisa lebih cepat, dulu pakaian yang sudah dijahit harus dibawa ke pasar dulu untuk dirapikan tepiannya, jadi lama,”kata Novita saat ditemui oleh Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati, dikediamannya, Senin (26/10).

Dyah tampak berbincang akrab dengan Novita. Ia menanyakan sejumlah hal seputar perkembangan usaha Novita semenjak mendapat bantuan alat bantu untuk usaha menjahitnya.

Dyah berharap, bantuan yang diberikan tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, guna meningkatkan pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Semoga usaha menjahitnya dapat berjalan lancar dan mendapat rezeki yang banyak,”kata Dyah. Dalam kesempatan itu, Novita mengungkapkan rasa bahagianya dikunjungi oleh istri orang nomor satu di Aceh. Ia mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diterimanya.

Selain Novita, Dyah Erti Idawati juga mengunjungi penerima bantuan usaha lainnya di Meulaboh. Ia adalah Jasmi, penjual roti bakar dan burger.

Jasmi mengaku, bantuan usaha yang diterimanya itu sangat bermanfaat, apalagi di tengah kondisi pandemi saat ini. Bantuan yang diterimanya itu dipergunakan untuk membeli kebutuhan sejumlah alat memasak.

“Alhamdulillah bantuan ini sangat bermanfaat, terimakasih banyak ibuk,”kata Jasmi kepada Dyah. Kepada Jasmi, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh itu juga berpesan agar Jasmi tetap semangat dalam menjalankan usahanya. Dyah mengatakan, para pelaku UMKM merupakan pahlawan bagi negara di saat kondisi ekonomi negara sedang dalam situasi buruk akibat Covid-19.

Sumber:

https://acehprov.go.id/berita/kategori/kesehatan/pelaku-umkm-mengaku-bantuan-pemerintah-aceh-menunjang-usahanya

B A B VIII

PENUTUP:

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 137-147)