Keunggulan dan Potensi Ekonomi Serta Tantangan
OPPORTUNITIES Besarnya minat investor asing untuk
6.2 SEKTOR POTENSIAL DAERAH
6.2.1 Proyek Strategis Nasional (PSN) Lhok Guci Aceh Barat : Pembangunan Jaringan Irigasi Untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pertanian Kabupaten Aceh Barat
Pemerintah menggalakkan gerakan ketahanan pangan secara nasional. Sejumlah kegiatan dirancang di Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), antara lain, membangun bendungan dan embung serta melancarkan saluran irigasi.
Pembangunan bendungan dan embung oleh Kementerian PUPR dilakukan di berbagai daerah, dilanjutkan dengan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi untuk menunjang produktivitas sentra pertanian. Diharapkan dengan meningkatnya produktivitas pertanian, juga dapat membantu pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.
Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 500.000 Hektare irigasi dan merehabilitasi 2,5 juta Hektare jaringan irigasi mulai 2020 hingga 2024. Sebanyak lima jaringan irigasi yang masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) kini dalam tahap penyelesaian, di mana dua di antaranya berada di Provinsi Aceh, yakni pembangunan jaringan irigasi daerah irigasi (DI) Lhok Guci di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, dan DI Jambo Aye Kanan di Kabupaten Aceh Utara dan timur Provinsi Aceh.
Dua jaringan irigasi ini akan mengairi area seluas 21.570 Hektare. Untuk jaringan irigasi di Lhok Guci akan mengairi area seluas 18.542 Hektare, saat ini pembangunannya sudah memasuki tahap II untuk pembangunan saluran primer sepanjang 10 km dan
saluran sekunder sepanjang 812 m.
Meskipun terdampak refocussing anggaran akibat pandemi Covid-19, pembangunan tahap II DI Lhok Guci, terus dilanjutkan dengan progres konstruksinya sebesar 63,08 persen. Saluran irigasi ini akan difungsikan secara bertahap mulai musim tanam Oktober 2020-Maret 2021 untuk mengairi sawah seluas 400 Hektare.
Daerah Irigasi Lhok Guci yang terletak di Kecamatan Pante Ceureumen, Kaway XVI, Bubon, Samatiga, Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh merupakan areal persawahan yang layak untuk dikembangkan. Areal persawahan pada umumnya berada di sebelah kanan aliran sungai Krueng Meureubo dengan luas areal 11.700 Hektare, sedangkan disebelah kiri hanya 1.000 Hektare, sehingga total luas areal Daerah Irigasi Lhok Guci seluas 12.700 Hektare, yang terdiri dari ± 7.000 Hektare merupakan lahan yang telah berupa sawah sedangkan selebihnya ± 5.700 Hektare berupa semak belukar dan hutan muda.
Dari rencana fungsionalisasi DI Lhok Guci secara bertahap, ada empat desa yang akan mulai dialiri air dari saluran irigasi Lhok Guci, yakni Desa Babah Lueng, Alue Keumang, Babah Iseung, dan Manuang Kinco, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.
Tahun 2021 rencana ditingkatkan lagi fungsionalnya menjadi 1.400 Hektare sehingga nantinya petani di Kabupaten Aceh Barat bisa mendapatkan suplai air dengan baik dan ditargetkan menjadi 2.800 Hektare pada tahun 2022. Sekaligus mendukung Gerakan Aceh Mandiri Pangan yang dicanangkan Pemerintah Aceh.
Luas panen padi di Provinsi Aceh pada tahun 2019 sekitar 310,01 ribu Hektare atau mengalami penurunan sebanyak 19,5 ribu Hektare atau 5,92 persen dibandingkan tahun 2018. Produksi padi di Provinsi Aceh pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 1,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau mengalami penurunan sebanyak 147,13 ribu ton atau 7,9 persen dibandingkan tahun 2018. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras di Provinsi Aceh pada tahun 2019 sebesar 982,57 ribu ton atau mengalami penurunan sebanyak 84,32 ribu ton atau
7,9 persen dibandingkan tahun 2018.
Pada tahun 2019, pemerintah telah mencanangkan program nasional pencetakan sawah seluas 6.000 Hektare, dan Aceh menjadi salah satu wilayah pelaksananya, yaitu pencetakan sawah seluas 500 Hektare. Dari luas tersebut, Kabupaten Aceh Besar menjadi lahan yang mendapatkan alokasi cetak sawah baru seluas 200 Hektare. Cetak sawah baru itu merupakan salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian.
Ada empat kecamatan di Aceh Besar yang mendapat alokasi dana cetak sawah baru, yaitu Kecamatan Seulimuem untuk tiga gampong, yakni Blang Tingkem dengan luas lahan 46,84 Hektare, Lam Apeng 24,24 Hektare, dan Gampong Pulo 45 Hektare. Kemudian Kecamatan Kuta Cot Glie, masing-masing Gampong Ie Alang Lamghui dengan luas lahan 14,80 Hektare dan Maheng 15,22 Hektare. Sementara itu, dua kecamatan lainnya adalah Pulo Aceh di Gampong Alue Riyeung 30 Hektare dan Kecamatan Darussalam di Gampong Blang 23,90 Hektare. Bahkan Pemerintah Aceh juga menargetkan pembukaan lahan penanaman jagung seluas seribu Hektare, salah satunya di wilayah Gampong Tumpok Lampoh, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat, terdapat empat jenis tanaman unggulan di Kab. Aceh Barat yang merupakan komoditas utama dalam rangka kebutuhan pangan dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Keempat jenis tanaman tersebut terdiri dari padi sawah, padi ladang, kacang tanah dan kacang hijau.
Tabel 6.3 Produksi Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat (Ton)
No Tahun Padi Sawah Padi Ladang Kacang Tanah Kacang Hijau
1 2020 137,478.98 553.50 527.00 - 2 2019 114,356.27 1,464.00 614.90 4.60 3 2018 139,086.42 1,845.00 568.94 6.90 4 2017 148,459.89 1,269.00 505.91 7.40
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Aceh Barat
Berdasarkan data di atas, secara keseluruhan produksi semua tanaman unggulan di Kabupaten Aceh Barat mengalami kenaikan dan penurunan selama periode empat tahun terakhir.
Untuk produksi padi sawah pada tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 23.122,71 ton dari tahun 2019. Untuk padi ladang pada tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 910,5 ton dibandingkan dengan tahun 2019.
Begitu juga dengan kacang tanah yang mengalami penurunan sebesar 87,9 ton dari tahun 2019. Sedangkan untuk kacang hijau pada tahun 2020 tidak ada produksi sama sekali jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi tanaman padi sawah merupakan tanaman unggulan yang mengalami tren kenaikan pada tahun 2020 jika dibandingkan dengan produksi jenis tanaman unggulan lainnya.
Tabel 6.4 Luas Tanam Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat (Ha)
No Tahun Padi Sawah Padi Ladang Kacang Tanah Kacang Hijau
1 2020 15,669.80 100.00 231.00 - 2 2019 18,753.70 232.00 281.80 - 3 2018 24,253.50 473.00 327.00 5.00 4 2017 26,827.40 935.00 255.00 3.00
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Aceh Barat
Secara keseluruhan luas tanam untuk tanaman unggulan di Kabupaten Aceh Barat mengalami penurunan selama periode empat tahun. Pada tahun 2020 luas tanam padi sawah mengalami penurunan sebesar 3.083,9 Hektare dibandingkan dengan tahun 2019. Untuk padi ladang pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 132 Hektare dari tahun 2019. Sementara itu untuk kacang tanah pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 50,8 Hektare jika dibandingkan dengan tahun 2019. Sedangkan pada dua tahun terakhir yaitu tahun 2019 dan 2020 tidak ada penanaman kacang hijau.
Tabel 6.5 Luas Panen Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat (Ha)
No Tahun Padi Sawah Padi Ladang Kacang Tanah Kacang Hijau
1 2020 19,805.70 198.50 240.00 - 2 2019 18,375.10 474.80 296.80 2.00 3 2018 23,155.50 615.00 311.00 3.00 4 2017 26,827.41 423.00 269.00 3.00
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Aceh Barat
Luas panen untuk tanaman unggul di Kabupaten Aceh Barat mengalami kenaikan dan penurunan dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Untuk padi sawah pada tahun 2020 mengalami
kenaikan sebesar 1430,6 Hektare dibandingkan dengan tahun 2019. Untuk padi ladang mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar 276,3 Hektare dari tahun 2019. Sementara itu untuk kacang tanah juga mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar 56,8 Hektare dibandingkan dengan tahun 2019. Sedangkan untuk kacang hijau tidak ada panen di tahun 2020.
Tabel 6.6 Produktivitas Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat (Ton/Ha)
No Tahun Padi Sawah Padi Ladang Kacang Tanah Kacang Hijau
1 2020 6.94 2.79 2.20 - 2 2019 6.22 3.08 2.07 2.30 3 2018 6.01 3.00 1.83 2.30 4 2017 5.79 3.00 1.88 2.47
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Aceh Barat
Tingkat produktivitas untuk tanaman unggul di Kabupaten Aceh Barat mengalami kenaikan dan penurunan dalam kurun waktu empat tahun. Untuk padi sawah pada tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,72 poin dibandingkan dengan tahun 2019. Untuk padi ladang mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar 0,29 poin dari tahun 2019. Sementara itu untuk kacang tanah mengalami kenaikan pada tahun 2020 sebesar 0,13 poin dibandingkan dengan tahun 2019. Sedangkan untuk kacang hijau tidak ada panen sama sekali di tahun 2020.
Analisis location quotient (LQ) adalah salah satu tools analisis yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu wilayah yang memanfaatkan sektor basis atau leading sector. Location quotient menghitung perbandingan share output sektor di kota atau kabupaten dan share out sektor di provinsi.
Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemicu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.
Teknik LQ belum dapat memberikan kesimpulan akhir dari sektor-sektor yang teridentifikasi sebagai sektor strategis. Namun untuk tahap pertama sudah cukup memberi gambaran akan kemampuan suatu wilayah dalam sektor yang teridentifikasi.
Tabel 6.7 Analisis Location Quotient (LQ)
PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kab. Aceh Barat
No PDRB 2019 2018 Tahun (triliun Rp) 2017 2016 2015
1 PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kab. Aceh Barat 1,92 1,84 1,77 1,70 1,60 2 PDRB Kab. Aceh Barat 6,95 6,62 6,01 5,31 5,16 3 PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Provinsi Aceh 9,14 8,94 8,39 8,23 7,87 4 PDRB Provinsi Aceh 34,19 32,50 30,82 29,80 28,71
Analisis LQ ([1:2] : [3:4]) 1,03 1,01 1,08 1,16 1,13
Jika menilik hasil analisis di atas menggunakan Analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor basis ekonomi suatu wilayah, dengan nilai LQ > 1 maka Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Aceh Barat merupakan sektor basis atau unggulan yaitu sektor yang tidak hanya memenuhi kebutuhan di Kabupaten Aceh Barat sendiri namun juga kebutuhan di luar Kabupaten Aceh Barat karena sektor ini sangat potensial untuk dikembangkan. Mendasari hal ini, program pembangunan irigasi dan pencetakan sawah di Kabupaten Aceh Barat sudah tepat dengan harapan selain dalam rangka mengantisipasi ketahanan pangan Kabupaten Aceh Barat sendiri, dapat juga memberikan kontribusi ketahanan pangan di Provinsi Aceh serta bahkan daerah lain.
6.3 TANTANGAN FISKAL REGIONAL DALAM MENDORONG POTENSI EKONOMI DAERAH