BAB III GAMBARAN BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL
C. Program Penghimpunan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional
Dalam rangka mengoptimalisasikan pengumpulan zakat secara nasional, maka BAZNAS, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabuaten/Kota dan LAZ
perlu melakukan edukasi terhadap muzaki dalam bentuk Kampanye zakat nasional yang dilakukan berkelanjutan. Hal ini penting agar muzaki memahami bahwa zakat adalah ibadah yang memiliki posisi yang sangat strategis baik dari aspek keagamaan, sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. untuk itu, BAZNAS mesti mampu memberikan kenyamanan dan jaminan bahwa zakat yang telah ditunaikan melalui BAZNAS itu sampai kepada mustahik. Kenyamanan ini diharapkan akan melahirkan kepercayaan yang berkelanjutan dari muzaki kepada BAZNAS.50
Berdasarkan hal tersebut, BAZNAS merancang program untuk memaksimalkan pengumpulan zakat. Diantaranya:
1. Skema Penghimpunan
a. Melalui UPZ atau Unit Pengumpul Zakat, yakni satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu mengumpulkan zakat.51 UPZ dibentuk pada instansi pemerintah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, perusahaan swasta, dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri serta dapat membentuk UPZ pada tingkat kecamatan, kelurahan atau nama lainnya, dan tempat lainnya.52
Tugas utama UPZ diantaranya adalah:
1) Melakukan sosialisasi dan edukasi zakat di lingkungan instansi atau perusahaan bersangkutan;
2) Memberikan konsulasi zakat;
3) Melakukan registrasi calon muzaki;
4) Menerima Kartu Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ) dari BAZNAS dan menyerahkannya kepada calon muzaki;
5) Menyerahkan data muzaki dan perubahannya kepada BAZNAS;
6) Menerima pembayaran zakat dan menyetorkan ke BAZNAS sesuai batas waktu yang ditentukan;
50 Rencana Strategi Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 26.
51 Pasal 1 ayat 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
52 Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
43
7) Menerima Bukti Setor Zakat (BSZ) dari BAZNAS dan menyerahkannya kepada muzaki; dan
8) Membuat laporan keuangan dan kegiatan UPZ secara periodik.53
b. Secara Langsung, yakni pengumpulan zakat yang dilakukan secara langsung melalui sistem Payment Roll, Virtual Account di Bank, dan Konter BAZNAS.
2. Sosialisasi Zakat
BAZNAS melakukan sosialisasi di tataran Kementerian/Lembaga, sosialisasi di BUMN/BUMS, Event/Kampanye Zakat, dan menerbitkan majalah bulanan.
3. Layanan Muzaki BAZNAS a. Penghimpunan Dana
1) Unit Pengumpulan Zakat (UPZ);
2) Kerjasama program Bina Lingkungan/CSR;
3) Donasi Pelanggan/Retail.
b. Layanan Pembayaran Zakat
1) Pembayaran ZIS melalui Counter BAZNAS;
2) Pembayaran ZIS melalui Payroll System;
3) Pembayaran melalui ATM;
4) Pembayaran melalui e-commerce;
5) Layanan Jemput Zakat;
6) Layanan Bis Zakat (Mobil Zakat Keliling).
c. Layanan Muzaki
1) Konsultasi dan Konfirmasi Zakat;
2) Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ);
3) Bukti Setor Zakat (BSZ) dan Laporan Donasi;
4) SMS/email gateaway;
5) Muzaki Corner.
53 Keputusan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional nomor KEP.013/BP/BAZNAS/V/2012 tentang Pedoman Pengelolaan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional.
44 BAB IV
ANALISIS PENGHIMPUNAN ZAKAT PERUSAHAAN OLEH BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL
A. Analisis Mekanisme Penghimpunan Zakat Perusahaan Oleh Badan Amil Zakat Nasional
Undang-undang nomor 23 Tahun 2011 menjelaskan bahwa Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga yang dibentuk Pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan zakat di Indonesia dengan laporan kinerja tahunan yang dipertanggungjawabkan langsung kepada Presiden.54 Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya, BAZNAS diharuskan menyusun program kerja dan rencana strategis sebagai panduan dalam menjalankan strategi pengelolaan zakat, termasuk didalamnya penghimpunan zakat di Indonesia dengan mengharuskan BAZNAS untuk menyusun pedoman Pengelolaan Zakat yang akan menjadi acuan Pengelolaan Zakat.55 Selanjutnya, pedoman tersebut digunakan oleh satuan perangkat yang menjadi kepanjangan tangan BAZNAS dalam hal pengumpulan zakat yakni melalui UPZ yang dibentuk berdasarkan usulan BAZNAS kepada Institusi yang menaungi UPZ tersebut.56 Pengumpulan dilakukan setelah muzaki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya, namun apabila muzaki tidak dapat melakukannya, maka muzaki dapat meminta bantuan BAZNAS.57 Setelah
54 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Pasal 5.
55 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Pasal 4 ayat 1: “Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya BAZNAS menyusun pedoman Pengelolaan Zakat”
Pasal 4 ayat 2: “Pedoman Pengelolaan Zakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan Pengelolaan Zakat untuk BAZNAS, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/kota, dan LAZ”.
56 Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2014 Pasal 46 ayat 1 “Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota dapat membentuk UPZ” dan Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 2 Tahun 2015 pasal 27 “Pembentukan UPZ dilakukan dengan: (a) usulan oleh BAZNAS, BAZNAS Provinsi, atau BAZNAS Kabupaten/Kota sesuai dengan tingkatannya kepada Institusi yang menaungi UPZ; atau (b) usulan oleh Pimpinan Institusi”.
57 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 21 ayat (1) “Dalam rangka pengumpulan zakat, muzaki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya”, dan ayat (2) “Dalam hal tidak dapat menghitung sendiri kewajiban zakatnya, muzaki dapat meminta bantuan BAZNAS”.
45
penghimpunan yang dimandatkan kepada UPZ telah dilakukan,58 dana zakat tersebut wajib disetorkan kepada BAZNAS dan UPZ wajib memberikan Bukti Setor Zakat (BSZ) kepada muzaki tersebut.59
Berdasarkan amanah undang-undang tersebut, BAZNAS telah merancang Rencana Strategis (RENSTRA) Zakat Nasional 2016-2020 yang disahkan pada tanggal 30 Agustus 2016 sebagai bentuk tindak lanjut dari Surat Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Penetapan Tim Penyusun Perubahan Rencana Strategis Badan Amil Zakat Nasional 2016. Rencana Strategis yang dihasilkan digunakan sebagai pedoman standar pengelolaan zakat agar dapat dilakukan secara optimal baik dalam pengumpulan maupun pendistribusian dan pendayagunaan serta sebagai gambaran strategi dan indikator kinerja kunci yang harus dicapai secara nasional.60
Dalam hal pengumpulan zakat, berdasarkan struktur organisasi BAZNAS memiliki bagian khusus Penghimpunan dengan beberapa divisi yang diantaranya Corporate Social Responsibility (CSR), Retail Nasional, UPZ Nasional, dan Layanan Muzaki. Namun, UPZ tersebut tidak dibentuk pada instansi perusahaan sebagaimana yang disebutkan pada pasal 3 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pembentukan dan Tata Kerja UPZ.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan divisi terkait, penghimpunan zakat perusahaan dilakukan dengan beberapa upaya yang dilakukan. Pertama, melakukan peningkatan sosialisasi zakat perusahaan melalui publikasi secara umum mengenai BAZNAS di sosial media agar seluruh masyarakat secara umum mengetahui BAZNAS sebagai lembaga penghimpun zakat, termasuk kepada personalia perusahaan sebagai target sosialisasi. Kedua, melakukan edukasi dan ajakan zakat perusahaan dengan cara formal melalui pengiriman surat yang berisikan ajakan kepada perusahan
58 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 35 ayat 1 “UPZ melaksanakan mandat pengumpulan zakat dari BAZNAS sesuai dengan tingkatannya”.
59 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 39 “UPZ wajib menyerahkan BSZ yang diterbitkan oleh BAZNAS sesuai dengan tingkatannya dengan melampirkan daftar nama muzaki, NPWZ, dan jumlah zakat yang dibayarkan”.
60 Rencana Strategis Zakat Nasional Badan Amil Zakat Nasional 2016, h. 16-17.
untuk menunaikan zakat perusahaan melalui BAZNAS disertai profil singkat BAZNAS dan program-program penyaluran, dengan tujuan agar BAZNAS mendapatkan kepercayaan dari perusahaan serta ketertarikan untuk menunaikan zakat perusahaan melalui BAZNAS. Apabila terdapat perusahaan yang berkeinginan untuk menunaikan zakat dapat menghubungi BAZNAS untuk menyalurkan dana zakat tersebut. BAZNAS memiliki dua pendekatan kepada perusahaan untuk menghitung zakatnya. Pertama, dengan menghitung dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Kedua, dengan mempersilahkan perusahaan untuk melakukan penghitungannya sendiri atas kewajiban zakatnya. Kemudian dari hasil penghitungan tersebut, perusahaan dapat menunaikan zakat melalui transfer bank ke rekening penghimpunan zakat dan BAZNAS akan menerbitkan Bukti Setor Zakat yang dapat digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak dan piagam penghargaan kepada perusahaan atas zakat yang ditunaikan serta menyerahkan laporan terkait program penyaluran dari dana zakat perusahaan di akhir tahun.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari BAZNAS, terdapat 108 entitas telah membayar zakat pada rentang waktu Januari 2017 hingga Juli 2019 dengan total penghimpunan sebesar Rp. 25.549.612.851 dari target penghimpunan sebesar Rp. 24.900.000.000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sudah cukup banyak perusahaan yang memiliki keinginan untuk menunaikan zakatnya, namun jika melihat proses penghimpunannya masih terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan. Pertama, penghimpunan tidak dilakukan oleh UPZ yang dibentuk pada instansi sebagaimana Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 16. Namun dalam praktik yang BAZNAS jalankan belum selaras dengan apa yang disebutkan pada Undang-undang dengan argumentasi bahwa banyak perusahaan yang masih belum memiliki keinginan ataupun kesadaran atas kewajiban membayar zakat sehingga penghimpunan dilakukan dengan cara sosialisasi yang persuasif dan menunggu hingga ada perusahaan yang bersedia membayar zakat. Kedua, peraturan yang tersedia belum mendukung secara menyeluruh sehingga
47
sosialisasi yang dilakukan BAZNAS hanya sebatas himbauan, tidak seperti peraturan yang memberikan arahan dan sosialisasi seperti Instruksi Presiden, petunjuk terperinci dari lembaga mitra pemerintah yang mampu menghasilkan produk hukum Islam seperti Fatwa MUI, serta pedoman teknis terkait penghimpunan zakat perusahaan yang mendetail seperti peraturan BAZNAS sebagaimana yang dimiliki oleh penghimpunan zakat lainnya seperti zakat penghasilan/profesi yang memiliki Instruksi Presiden,61 Fatwa MUI,62 dan Keputusan Ketua BAZNAS tersendiri yang khusus mengatur zakat profesi.
Hal tersebut sangat diperlukan agar sosialisasi mengenai zakat perusahaan dan penghimpunannya dapat dilaksanakan secara efektif dan dengan perangkat yang mendukung. Selain itu, untuk meningkatkan ketertarikan perusahaan untuk menunaikan zakat peusahaan, perlu adanya aturan lebih lanjut mengenai sinergitas antara zakat perusahaan dengan pajak.
Hal tersebut diperlukan agar perusahaan mendapat kemudahan dan tidak terbebani dalam menunaikan keduanya karena penghitungan keuangan perusahaan yang cukup mendetail.
B. Analisis Penentuan Kriteria Perusahaan Sebagai Muzaki
Muzaki sebagaimana yang didefinisikan pada Pasal 1 poin 4 Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 adalah seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki orang Islam yang berkewajiban untuk menunaikan zakat.
Pengertian tersebut memiliki maksud dan substansi yang sama dengan definisi pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 1 yakni seorang muslim atau badan usaha yang berkewajiban menunaikan zakat, serta Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah buku III tentang Zakat dan Hibah pasal 675 yakni orang atau lembaga yang dimiliki oleh muslim yang berkewajiban menunaikan zakat. Dengan kata lain, badan usaha atau perusahaan diakui keberadaannya pada kedua peraturan tersebut. Zakat perusahaan juga
61 Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat di Kementerian/Lembaga Melalui Badan Amil Zakat Nasional.
62 Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Zakat Penghasilan.
termasuk kedalam salah satu jenis Zakat Mal yaitu perindustrian.63 Zakat mal perindustrian merupakan zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa.64 Harta yang dizakatkan adalah milik badan usaha sebagai muzaki65 dengan syarat harta yang dikenakan zakat sebagai berikut:66
1. Milik Penuh;
2. Halal;
3. Cukup Nisab;
4. Haul.
Pengertian perusahaan yang menjadi acuan BAZNAS adalah pada badan hukum dan perbuatan badan usaha untuk menjalankan usahanya (dapat bertindak secara hukum, memiliki hak dan kewajiban, serta dapat memiliki kekayaan sendiri).67 Berdasarkan hal tersebut, BAZNAS menentukan cakupan zakat perusahaan yaitu meliputi semua jenis sektor usaha antara lain:
1. Industri, seperti pabrik semen, pabrik pupuk dan sebagainya;
2. Usaha perhotelan, hiburan, restoran dan sebagainya atau perusahaan kecil yang aktiva lancarnya mencapai 85 gram emas;
3. Perdagangan ekspor, kontraktor, real estate, percetakan, pasar swalayan, dan sebagainya
4. Jasa, seperti konsultan, notaris, travel biro, transportasi, salon, pergudangan, dan sebagainya;
5. Usaha perkebunan, perikanan, peternakan, dan sebagainya.
BAZNAS tidak membedakan antara perusahaan yang menyatakan menjalankan bisnis menggunakan label syariah ataupun tidak, baik yang dimiliki oleh muslim ataupun non-muslim untuk menunaikan zakatnya.
BAZNAS tetap mengajak kepada seluruh perusahaan untuk menunaikan zakat dengan mengirimkan surat sebagaimana yang disebutkan pada poin sebelumnya, selama perusahaan tersebut beroperasi di wilayah Indonesia dan
63 Pasal 4 ayat 2 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011.
64 Pasal 1 poin 16 PMA 52 Tahun 2014.
65 Pasal 4 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011.
66 Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 Pasal 2 ayat 2.
67 Berita Resmi Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional No.18/BR/IX/2017 tanggal 7 September 2017.
49
tidak menjalankan bisnis yang melanggar ketentuan syariah. BAZNAS menggolongkan perusahaan berdasarkan aset yang dimiliki kedalam 5 jenis perusahaan untuk memudahkan sosialisasi dan penghitungan:
1. Perusahaan Perdagangan dan Jasa (Trading and Services Company), yakni perusahaan yang melakukan aktivitas jual beli dengan tujuan memperoleh keuntungan;
2. Perusahaan Industri dan Manufaktur, yakni perusahaan yang dalam kegiatan usahanya melibatkan penggunaan bahan baku, alat-alat, perlengkapan, dan lain-lain. Selanjutnya perusahaan ini menjual produk-produknya untuk mendapatkan keuntungan;
3. Perusahaan Properti (Developer), yakni perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangunan tanah dan atau bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak terpisahkan dari harta dan bangunan dimaksud. Berdasarkan sifatnya, penghasilan utama jenis perusahaan ini yakni berasal dari jual beli tanah dan/atau bangunan yang telah dibuat;
4. Perusahaan Produksi Pertanian;
5. Perusahaan Layanan Kesehatan.68
Berdasarkan peraturan UU Nomor 23 tahun 2011 dan PMA Nomor 52 tahun 2014, zakat perusahaan diatur secara umum dan syarat umum sebagai muzaki tanpa ketentuan terperinci mengenai jenis perusahaan. Namun dikarenakan setiap perusahaan memiliki karakteristik serta aset yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi penghitungan zakatnya, maka kemudian hal tersebut yang melatar belakangi BAZNAS untuk membuat acuan mengenai penghitungan zakat perusahaan yang dirilis dalam Berita Resmi Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional No.18/BR/IX/2017 tanggal 7 September 2017 yang ditindaklanjuti pada Berita Resmi No.1/ON/01/2019 tanggal 20 Januari 2019 tentang Zakat Perusahaan: Ketentuan Aset Zakat, Non Zakat dan pengurang Zakat.
68 Berita Resmi Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia No.1/ON/01/2019, 20 Januari 2019, Tentang Zakat Perusahaan: Ketentuan Aset Zakat, Non Zakat dan Pengurang Zakat.
Dengan dikeluarkannya berita resmi tersebut, Penulis menilai peraturan mengenai zakat belum mencakup karakteristik bisnis perusahaan secara mendalam sebagaimana yang terjadi dalam dunia industri seperti saat ini dan BAZNAS memiliki pandangan yang lebih mendetail terkait jenis-jenis perusahaan dengan mengidentifikasi karakteristik bisnis perusahaan, sehingga BAZNAS dapat memfokuskan upaya penghimpunan kepada jenis-jenis perusahaan tersebut. Namun BAZNAS kurang memerhatikan aspek kepemilikan perusahaan sebagaimana pengertian muzaki yang terdapat pada PMA 52 Tahun 2014 yakni badan usaha yang dimiliki orang Islam. Aspek kepemilikan tersebut haruslah dipastikan karena kewajiban zakat hanya dikenakan kepada muslim.
Disisi lain, Berita Resmi BAZNAS terkait zakat perusahaan dan PMA 52 tahun 2014 tidak memuat ketentuan yang mengidentifikasi muzaki dalam bentuk perusahaan yang kepemilikannya bercampur antara muslim dan non-muslim, tidak diketahui aspek yang menjadi acuan untuk penarikan atas zakatnya. Hal tersebut akan mendatangkan kerancuan ketika kepemilikan perusahaan dipegang oleh perusahaan lain yang menjalankan bisnis tidak sesuai dengan syariat Islam, seperti beberapa Bank Syariah yang saham mayoritasnya masih dimiliki oleh Bank Konvensional. Kewajiban zakat perusahaan hanya dikenakan kepada seorang muslim atau perusahaan yang dimiliki oleh muslim dan menjalankan bisnis yang sesuai dengan syariah.
Seharusnya peraturan terkait zakat juga mencakup perusahaan yang dimiliki secara bersama antara muslim dan non-muslim sebagaimana dalam dunia industri, termasuk kepemilikan saham dan landasan penghitungannya dalam sistem keuangan perusahaan tersebut, sehingga dapat menyentuh kepemilikan bagi muslim yang berkongsi bisnis dengan non-muslim disertai landasan penghitungan yang lebih luas. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya aturan yang memberi arahan dalam menentukan perusahaan yang dapat membayarkan zakat dengan memerhatikan aspek kepemilikan sebagai salah satu kriteria muzaki disertai detil kepemilikan perorangan atau badan hukum, baik yang bercampur antara muslim dan non-muslim ataupun hanya muslim.
51
Aturan tersebut diperlukan sebagai penguat dalam menetapkan jenis-jenis perusahaan yang dapat membayar zakat sehingga diharapkan sosialisasi dan penarikan zakat perusahaan dapat dilakukan secara tepat sasaran serta dapat menjadi perhatian oleh setiap perusahaan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tergolong dalam muzaki dan memaksimalkan penghimpunan zakat nasional.
C. Analisis Penetapan Aset, Nisab, Haul, dan Kadar Zakat Perusahaan Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 pasal 24, Penghitungan zakat perusahaan juga mencakup penghitungan yang terdapat pada zakat perniagaan, yakni:69
1. Harta perniagaan yang dikenakan zakat dihitung dari Aktiva Lancar dikurangi Kewajiban Jangka Pendek;
2. Penghitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menghitung aktiva lancar yang dimiliki badan usaha pada saat haul;
b. Menghitung kewajiban jangka pendek yang harus dibayar oleh badan usaha pada saat haul;
c. Menghitung selisih Aktiva Lancar dengan Kewajiban Jangka Pendek sebagaimana dimaksud pada huruf (a) dan (b).
3. Dalam hal selisih sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c telah mencapai nisab, maka jatuh kewajiban menunaikan zakat perniagaan.70 Dalam prakteknya, BAZNAS melihat harta perusahaan dengan mendetail untuk menentukan berapa takaran wajib zakat atau berapa total wajib harta di sebuah perusahaan karena tidak semua harta perusahaan dapat dizakatkan.
Hal yang perlu dilakukan adalah dengan memilah dan merinci aset per aset, dimana hasilnya adalah penjelasan rinci mengenai aset yang dikategorikan sebagai harta zakat dan aset yang dikategorikan sebagai beban atau pengurang harta zakat. Hasil dari total aset harta zakat dikurangi total aset
69 Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 Pasal 24.
70 Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 Pasal 12 ayat 1-3.
pengurang harta zakat itulah yang dinamakan takaran zakat untuk selanjutnya dikalikan dengan kadar zakat.71 BAZNAS memilah aset, nisab, Haul, dan kadar zakat berdasarkan jenis kategori perusahaan sebagaimana yang disebutkan pada poin sebelumnya sebagai berikut:
1. Perusahaan Perdagangan dan Jasa:
a. Aset
1) Aset tetap yang bersifat materi maupun non materi yang menjadi penunjang usaha, tidak menjadi harta zakat;
2) Objek zakat mencakup harta pada aset lancar (barang-barang, piutang, wesel tagih, investasi, dan uang tunai di bank);
3) Harta zakat dinilai berdasarkan nilai pasar yang sedang berlaku;
4) Liabilitas yang harus segera dibayarkan dalam jangka pendek wajib dikurangi dari harta zakat;
5) Beban besaran zakat setelah dihitung nilainya dibagi kepada masing-masing pemilik saham, dan atau perusahaan rekanan b. Haul
Memiliki haul 1 tahun ketika perusahaan sudah berjalan satu tahun penuh;
c. Nisab
Setara 85gram emas murni;
d. Kadar
Persentase/kadar zakat adalah 2.5% berdasarkan penanggalan hijriah dan 2.575% berdasarkan penanggalan masehi;
2. Zakat Perusahaan Industri Manufaktur:
a. Aset
1) Aset tetap yang digunakan dalam memproduksi tidak termasuk harta zakat;
71 Berita Resmi Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia No.1/ON/01/2019, 20 Januari 2019, Tentang Zakat Perusahaan: Ketentuan Aset Zakat, Non Zakat dan Pengurang Zakat, h. 4.
53
2) Bahan baku, aset lancar, piutang, investasi, uang tunai adalah termasuk harta zakat saat sudah mencapai haul satu tahun 3) Produk yang telah sempurna berdasrkan nilai pasarnya saat
keluar dari pabrik juga termasuk harta zakat
4) Produk yang dalam proses produksi (belum sempurna) adalah termasuk harta zakat yang nilainya berdasarkan opini ahli sesuai dengan kondisinya saat itu adalah termasuk harta zakat 5) Zakat tidak wajib pada peralatan penunjang produksi yang
digunakan, seperti minyak pelumas dan alat-alat kebersihan 6) Zakat tidak wajib pada barang yang telah rusak dan tidak bias
dijual. Biaya-biaya yang digunakan seperti: biaya penelitian, kajian, percobaan dan yang sejenisnya yang digunakan sebelum memulai proses produksi tidak termasuk harta zakat 7) Penilaian terhadap harta zakat adalah berdasarkan nilai pasar
yang sedang berlaku
8) Liabilitas yang harus segera dibayarkan dalam jangka waktu pendek wajib dikurangi dari harta zakat
b. Haul 1 Tahun.
c. Nisab
Nisab zakat setara dengan 85 gram emas murni.
d. Kadar
1) Persentase atau kadar zakat adalah 2.5% berdasarkan penanggalan hijriyah, dan 2,575% berdasarkan penanggalan masehi;
2) Beban besaran zakat setelah dihitung nilainya dibagi kepada masing-masing pemilik saham, dan atau pada perusahaan rekanan.
3. Zakat Perusahaan Properti:
a. Aset
1) Aset tetap yang digunakan untuk mendukung operasional perusahaan properti tidak termasuk harta zakat;
2) Harta yang dikategorikan sebagai harta zakat adalah bangunan yang telah selesai dikerjakan, bangunan yang masih dalam proses pengerjaan, bahan baku, piutang dan uang tunai;
3) Unit-unit yang telah selesai dibangun dan belum terjual termasuk harta zakat, dinilai berdasarkan nilai pasarnya saat itu;
4) Unit-unit yang belum selesai dibangun termasuk harta zakat, dinilai berdasarkan nilai saat itu sesuai kondisi saat itu dan berdasarkan atas keterangan ahli
5) Konstruksi bahan baku, bahan bangunan dan sejenisnya termasuk harta zakat dinilai berdasarkan nilai pasarnya 6) Zakat tidak wajib pada jaminan penawaran, tender, dan cost
pekerjaan karena merupakan harta yang terikat dan tertahan 7) Termasuk pengurang harta zakat yang menjadi pengurang
total harta zakat yaitu: (1) uang muka yang diberikan oleh konsumen yang belum menerima unit properti mereka; (2) utang, wesel bayar, pengeluaran-pengeluaran wajib dan uang yang dikhususkan sebagai cadangan ketika adanya kenaikan harga, dan yang sejenisnya
b. Nisab
85 gram emas murni.
c. Haul 1 Tahun.
d. Kadar
4. Zakat Perusahaan Produksi Pertanian a. Aset
1) Tanah yang digunakan untuk melakukan kegiatan pertanian bukan harta wajib zakat
55
2) Properti yang digunakan dalam kegiatan pertanian baik mesin, peralatan, mobil dan sejenisnya bukan harta wajib zakat karena termasuk dalam kategori aset tetap
3) Harta yang wajib zakat saat musim panen adalah nilai hasil bumi yang dinilai sesuai dengan nilai pasar penjualannya 4) Biaya pengeluaran yang berkaitan dengan lahan pertanian
selama musim tanam menjadi pengurang harta zakat b. Nisab
Nisab zakat pertanian dan buah-buahan yaitu 5 ausuq atau setara dengan 653kg atau 50 kilah yang dinilai berdasarkan harga yang
Nisab zakat pertanian dan buah-buahan yaitu 5 ausuq atau setara dengan 653kg atau 50 kilah yang dinilai berdasarkan harga yang