BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Review Studi Terdahulu
Untuk menghindari penelitian dengan objek yang sama, maka diperlukan kajian terdahulu. Beberapa skripsi yang ditemukan dan digunakan sebagai pembanding diantaranya:
1) Skripsi dengan judul “Strategi Penghimpunan Zakat Perusahaan Pada BAZIS Provinsi DKI Jakarta Melalui Seruan Gubernur DKI Jakarta No.
3 Tahun 2009” oleh Eka Fenny Faizaty, Konsentrasi Zakat dan Wakaf Prodi Muamalat (Ekonomi Islam) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2014. Dalam penelitian tersebut membahas mengenai cara-cara penghimpunan yang digunakan dalam menghimpun dana zakat khususnya zakat perusahaan dan melihat peningkatan perolehan dana zakat perusahaan oleh BAZIS DKI Jakarta.
Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu mengenai zakat perusahaan, namun hal yang membedakan adalah penulis akan meneliti pada Badan Amil Zakat
43 Abdul Ghani Syafi’I, “Analisis Pendapat Didin Hafidhuddin Tentang Zakat Perusahaan”.
(Banjarmasin: Tesis Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, 2018), h., 15, t.d.
44 Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih. Zakatul Muassasah. Penerjemah Muhammad Iqbal Ghazali. Fatwa Tentang Zakat Perusahaan. Dokumen Elektronik diakses pada 18 September 2018 dari https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_zakat_perusahaan.pdf.
29
Nasional mengenai penghimpunan zakat perusahaan yang dilakukan dalam cakupan nasional.
2) Skripsi dengan judul “Analisis Pengelolaan Zakat, Infaq dan Shadaqah pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)” oleh Khafid Yusuf, Konsentrasi Zakat dan Wakaf Prodi Muamalat (Ekonomi Islam) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013. Dalam penelitian tersebut membahas mengenai bagaimana pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah serta upaya dalam meningkatkan kesejahteraan pada badan yang dibentuk langsung oleh pemerintah serta diberikan wewenang untuk mengelola zakat. Dalam hal perbedaan penelitian, penulis akan berfokus pada penghimpunan zakat perusahaan yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia.
3) Jurnal dengan Judul “Corporate Social Responsibility dan Zakat Perusahaan Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam” oleh A. Chairul Hadi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2016. Penelitian tersebut menekankan pada alokasi dana sosial untuk CSR dan zakat perusahaan pada industri keuangan syariah. Disamping kesamaan mengenai zakat perusahaan yang akan penulis bahas, terdapat perbedaan pembahasan yakni penulis hanya berfokus pada penghimpunan zakat perusahaan yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional selaku koordinator zakat nasional, bukan pada institusi keuangan.
30 BAB III
PROFIL BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL
A. Sejarah, Visi-Misi, dan Struktur Organisasi 1. Sejarah Berdiri
Pada tahun 1969 pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No.
44 tahun 1969 tentang Pembentukan Panitia Penggunaan Uang Zakat yang diketuai Menko Kesra Dr. KH. Idham Khalid. Perkembangan selanjutnya di lingkungan pegawai kementerian/lembaga/BUMN dibentuk pengelola zakat dibawah koordinasi badan kerohanian Islam setempat.
Keberadaan pengelola zakat semi-pemerintah secara nasional dikukuhkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No. 29 dan No. 47 Tahun 1991 tentang Pembinan BAZIS yang diterbitkan oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri setelah melalui Musyawarah Nasional MUI IV tahun 1990. Langkah tersebut juga diikuti dengan dikeluarkan juga Instruksi Menteri Agama No. 5 Tahun 1991 tentang Pembinaan Teknis BAZIS sebagai aturan pelaksanaannya.
Pada tahun 1999, pemerintah melahirkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam Undang-Undang tersebut diakui adanya dua jenis organisasi pengelola zakat yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat dan dikukuhkan oleh pemerintah. BAZ terdiri dari BAZNAS pusat, BAZNAS Propinsi, dan BAZNAS Kabupaten/Kota.
Sebagai Implementasi UU Nomor 38 Tahun 1999, dibentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2001. Dalam Surat Keputusan ini disebutkan tugas dan fungsi BAZNAS yaitu untuk melakukan penghimpunan dan pendayagunaan zakat. Langkah awal adalah
31
mengupayakan memudahkan pelayanan, BAZNAS menerbitkan nomor pokok wajib zakat (NPWZ) dan bukti setor zakat (BSZ) dan bekerjasama dengan perbankan dengan membuka rekening penerimaan dengan nomor unik yaitu berakhiran 555 untuk zakat dan 777 untuk infak. Dengan dibantu oleh Kementerian Agama, BAZNAS menyurati lembaga pemerintah serta luar negeri untuk membayar zakat ke BAZNAS.
Pada tanggal 27 Oktober 2011, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyetujui Undang-Undang pengelolaan zakat pengganti Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 yang kemudian diundangkan sebagai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011. UU ini menetapkan bahwa pengelolaan zakat bertujuan (1) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat, dan (2) meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Untuk mencapai tujuan dimaksud, UU mengatur bahwa kelembagaan pengelola zakat harus terintegrasi dengan BAZNAS sebagai koordinator seluruh pengelola zakat, baik BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota maupun LAZ.45
2. Visi, Misi dan Nilai a. Visi
Menjadi pengelola zakat terbaik dan terpercaya di dunia.
b. Misi
Visi tersebut direalisasikan melalui misi BAZNAS sebagai berikut:
1) Mengkoordinasikan BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota, dan LAZ mencapai target-target nasional;
2) Mengoptimalkan secara terukur pengumpulan zakat nasional;
3) Mengoptimalkan pendistribusian dan pendayaan zakat untuk pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pemoderasian kesenjangan sosial;
45 Rencana Srategis Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 8-9.
4) Menerapkan sistem manajemen keuangan yang transparan dan akuntabel berbasis teknologi informasi dan komunikasi terkini;
5) Menerapkan sistem pelayanan prima kepada seluruh pemangku kepentingan zakat nasional;
6) Menggerakan dakwah Islam untuk kebangkitan zakat nasional melalui sinergi ummat;
7) Terlibat aktif dan memimpin gerakan zakat dunia;
8) Mengarusutamakan zakat sebagai instrumen pembangunan menuju masyarakat yang adil dan makmur, baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffuur;
9) Mengembangkan kompetensi amil zakat yang unggul dan menjadi rujukan dunia.46
c. Nilai
Nilai-nilai BAZNAS mencakup semua nilai luhur dan unggul Islami, diantaranya:47
1) Visioner: Amilin yang bervisi jauh kedepan, strategis dan maslahat;
2) Optimis: Amilin yang bersungguh-sungguh, memiliki keyakinan kuat bahwa kemudahan yang diciptakan oleh Allah jauh lebih banyak disbanding kesulitan atau masalah;
3) Jujur: Amilin yang memiliki kesatuan antara kata dan perbuatan;
4) Sabar: Amilin yang memiliki kesabaran dalam menjalankan kebenaran;
5) Amanah: Amilin yang hendaknya amanah dalam menjalankan tugas;
6) Keteladanan; Amilin yang menjadi teladan dalam kehidupan;
7) Profesional: Amilin yang senantiasa melakukan yang terbaik dan professional dalam aktifitasnya;
46 Rencana Strategi Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 22.
47 Rencana Strategi Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 23.
33
8) Perbaikan Berkelanjutan: Amilin yang senantiasa memperbaiki amal dan pekerjaannya;
9) Entreprenurial: Amilin yang senantiasa bermental kuat, pantang menyerah, memiliki optimism dalam hidup serta kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan hidup;
10) Transformasional: Amilin yang senantiasa melakukan perbaikan berkelanjutan dari kondisi buruk menuju kondisi yang lebih baik.
3. Struktur Organisasi a. Anggota
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 66/P Tahun 2015 tentang Pengangkatan Anggota Badan Amil Zakat Nasional Periode 2015-2020 menetapkan Anggota BAZNAS sebagai berikut:
Bambang Sudibyo Unsur Masyarakat
Zainulbahar Noor Unsur Masyarakat
Mundzir Suparta Unsur Masyarakat
Masdar Farid Mas’udi Unsur Masyarakat Ahmad Satori Ismail Unsur Masyarakat
Emmy Hamidiyah Unsur Masyarakat
Irsyadul Halim Unsur Masyarakat
Nana Mintarti Unsur Masyarakat
Machasin Unsur Pemerintah
Nuryanto Unsur Pemerintah
Astera Primanto Bakti Unsur Pemerintah Tabel 3.1: Anggota Baznas
Dalam susunan tersebut, Bambang Sudibyo diangkat sebagai Ketua dan Zainulbahar Noor diangkat sebagai Wakil Ketua berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 88/P Tahun 2015 tentang
Pengangkatan Ketua dan Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional Periode 2015-2020.48
b. Direksi
BAZNAS memiliki anggota direksi yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan kerja harian. Anggota tersebut ialah:
M. Arifin Purwakananta Direktur Utama
Irfan Syauqi Beiq Direktur Pendistribusian dan pendayagunaan
Wahyu T.T Kuncahyo Direktur Operasi
Mochammad Irwan Kepatuhan dan audit internal
Jaja Jaelani sekretaris
Tabel 3.2: Direksi BAZNAS
c. Struktur Pertanggungjawaban
Gambar 3.1: Struktur Pertanggungjawaban BAZNAS
48 https://pid.baznas.go.id/badan-amil-zakat-nasional, diakses pada tanggal 4 juni 2019.
35
d. Struktur Organisasi G
a m b a r
3 . 2 :
Gambar 3.2: Struktur Organisasi BAZNAS
B. Fungsi, Wewenang, dan Rencana Kerja 1. Fungsi
Baznas menjalankan empat fungsi, yaitu:
a. Perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;
b. Pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;
c. Pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;
d. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat.
2. Wewenang
Untuk terlaksananya tugas dan fungsi tersebut, maka BAZNAS memiliki kewenangan:
a. Menghimpun, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat;
b. Memberikan rekomendasi dalam pembentukan BAZNAS Kabupaten/Kota, dan LAZ;
c. Meminta laporan pelaksanaan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan sosial keagamaan lainnya kepada BAZNAS Provinsi dan LAZ.
3. Rencana Kerja
Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga zakat negara, BAZNAS memiliki rencana kerja yang dirangkum dalam Roadmap Pengelolaan Zakat Nasional 2016-2020.49
2016 Pondasi
- Pertumbuhan ZIS dan DSKL 25% dari tahun sebelumnya;
- BAZNAS memiliki
RENSTRA Tahun 2016-2020;
- Semua Peraturan BAZNAS mengacu pada UU 23/2011;
- Terbentuknya kelembagaan BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia;
- Organisasi pengelolaan zakat yang diinisiasi oleh masyarakat telah berizin sesuai UU23/2011 dan PP 14/2014;
- Seluruh BAZNAS Provinsi
dan BAZNAS
Kebupaten/Kota di seluruh Indonesia telah menerapkan SiMBA dengan baik. Seluruh SIM LAZ terintegrasi baik dengan SiMBA;
49 Rencana Strategi Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 29-30.
37
- Terlaksananya program Bina Desa Zakat Produktif di 40 titik;
- Beroperasinya Pusat Kajian Strategis BAZNAS;
- BAZNAS mengentaskan penduduk miskin versi BPS sebanyak 280.000 jiwa (1%
dari penduduk miskin)
2017 Konsolidasi
- Pertumbuhan ZIS dan DSKL 30% dari tahun sebelumnya;
- Database muzaki dan mustahik terintegrasi secara nasional;
- RKAT BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota tahun 2017 telah disahkan;
- Laporan Keuangan BAZNAS dan BAZNAS Provinsi tahun 2016 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2017;
- Laporan Keuangan LAZ Nasional tahun 2016 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2017;
- Memiliki Pusat Data dan Perpustakaan Zakat Nasional;
- Terlaksnanya program Bina Desa Zakat Produktif di 81
titik;
- Memiliki Pusdiklat Amil Zakat;
- Menerbitkan Sertifikat Profesi UNTUK Amil BAZNAS bekerjasama dengan BNSP;
- Sinkronasi pelaksnaan UU 23/2011 dan PP 14/2014 dengan peraturan perunang-undangan lain yang terkait;
- Beroperasinya BAZNAS TV;
- BAZNAS memiliki Gedung Kantor Pusat;
- BAZNAS mengentaskan penduduk miskin versi BPS sebanyak 280.000 jiwa (1%
dari penduduk miskin);
- Terlaksananya Kongres Zakat Nasional dua tahunan.
2018 Penguatan
- Pertumbuhsn ZIS dan DSKL 35% dari tahun sebelumnya;
- RKAT BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota tahun 2017 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2018;
- Laporan Keuangan LAZ Nasional tahun 2017 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2018;
39
- Menerbtikan Sertifikasi Profesi untuk amil BAZNAS Provinsi, amil LAZ Nasional, dan amil lAZ Provinsi bekerjasama dengan BNSP;
- Terlaksananya program Bina Desa Zakat Produktif di 121 titik;
- 30% amil zakat nasional sudah tersertifikasi;
- BAZNAS mengentaskan penduduk miskin versi BOS sebanyak 280.000 jiwa (1%
dari penduduk miskin);
- Terlaksananya Kongres Zakat Dunia di Indonesia.
2019 Pertumbuhan
- Pertumbuhan ZIS dan DSKL 40% dari tahun sebelumnya;
- RKAT BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota tahun 2019 telah disahkan;
- Laporan BAZNAS dan BAZNAS Provinsi tahun 2018 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2019;
- Laporan Keuangan LAZ Nasional tahun 2018 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2019;
- Terlaksananya program Bina
Desa Zakat Produktif di 141 titik;
- Enerbitkan Sertifikat Profesi untuk amil BAZNAS Kabupaten/Kota dan amil LAZ Kabupaten/Kota bekerjasama dengan BNSP;
- Persiapan akhir Organisasi Pengelola Zakat menjadi lembaga keuangan syariah yang diawasi dan disupervisi oleh Otoritaas Jasa Keuangan (OJK) RI;
- BAZNAS mengentaskan penduduk miskin versi BPS sebanyak 280.000 jiwa (1%
dari penduduk miskin);
- Terlaksananya Kongres Zakat Nasional dua tahunan.
2020 Tinggal Landas
- Pertumbuhan ZIS dan DSKL 40% dari dua tahun sebelumnya;
- RKAT BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota tahun 2020 telah disahkan;
- Laporan keuangan BAZNAS dan BAZNAS Provinsi tahun 2019 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2020;
- Laporan Keuangan LAZ
41
Nasional tahun 2019 sudah diaudit Akuntan Publik pada tanggal 30 Juni 2020;
- Akses pelayanan mustahik menjangkau 100% wilayah seluruh Indonesia;
- Organisasi Pengelola Zakat menjadi lembaga keuangan syariah yang diawasi dan disupervisi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI;
- Indonesia menjadi model pengelolaan zakat dunia;
- Terlaksananya program Bina Desa Zakat Produktif di 161 titik;
- 90% amil zakat nasional sudah tersertifikasi;
- Organisasi Pengelolaan Zakat menjadi lembaga keuangan syariah yang disupervisi oleh OJK;
- BAZNAS mengentaskan penduduk miskin versi BPS sebnyak 280.000 jiwa (1%
dari penduduk miskin).
Tabel 3.3: Rencana Kerja BAZNAS
C. Program Penghimpunan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional
Dalam rangka mengoptimalisasikan pengumpulan zakat secara nasional, maka BAZNAS, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabuaten/Kota dan LAZ
perlu melakukan edukasi terhadap muzaki dalam bentuk Kampanye zakat nasional yang dilakukan berkelanjutan. Hal ini penting agar muzaki memahami bahwa zakat adalah ibadah yang memiliki posisi yang sangat strategis baik dari aspek keagamaan, sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. untuk itu, BAZNAS mesti mampu memberikan kenyamanan dan jaminan bahwa zakat yang telah ditunaikan melalui BAZNAS itu sampai kepada mustahik. Kenyamanan ini diharapkan akan melahirkan kepercayaan yang berkelanjutan dari muzaki kepada BAZNAS.50
Berdasarkan hal tersebut, BAZNAS merancang program untuk memaksimalkan pengumpulan zakat. Diantaranya:
1. Skema Penghimpunan
a. Melalui UPZ atau Unit Pengumpul Zakat, yakni satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu mengumpulkan zakat.51 UPZ dibentuk pada instansi pemerintah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, perusahaan swasta, dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri serta dapat membentuk UPZ pada tingkat kecamatan, kelurahan atau nama lainnya, dan tempat lainnya.52
Tugas utama UPZ diantaranya adalah:
1) Melakukan sosialisasi dan edukasi zakat di lingkungan instansi atau perusahaan bersangkutan;
2) Memberikan konsulasi zakat;
3) Melakukan registrasi calon muzaki;
4) Menerima Kartu Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ) dari BAZNAS dan menyerahkannya kepada calon muzaki;
5) Menyerahkan data muzaki dan perubahannya kepada BAZNAS;
6) Menerima pembayaran zakat dan menyetorkan ke BAZNAS sesuai batas waktu yang ditentukan;
50 Rencana Strategi Zakat Nasional 2016-2020, Badan Amil Zakat Nasional, h. 26.
51 Pasal 1 ayat 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
52 Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
43
7) Menerima Bukti Setor Zakat (BSZ) dari BAZNAS dan menyerahkannya kepada muzaki; dan
8) Membuat laporan keuangan dan kegiatan UPZ secara periodik.53
b. Secara Langsung, yakni pengumpulan zakat yang dilakukan secara langsung melalui sistem Payment Roll, Virtual Account di Bank, dan Konter BAZNAS.
2. Sosialisasi Zakat
BAZNAS melakukan sosialisasi di tataran Kementerian/Lembaga, sosialisasi di BUMN/BUMS, Event/Kampanye Zakat, dan menerbitkan majalah bulanan.
3. Layanan Muzaki BAZNAS a. Penghimpunan Dana
1) Unit Pengumpulan Zakat (UPZ);
2) Kerjasama program Bina Lingkungan/CSR;
3) Donasi Pelanggan/Retail.
b. Layanan Pembayaran Zakat
1) Pembayaran ZIS melalui Counter BAZNAS;
2) Pembayaran ZIS melalui Payroll System;
3) Pembayaran melalui ATM;
4) Pembayaran melalui e-commerce;
5) Layanan Jemput Zakat;
6) Layanan Bis Zakat (Mobil Zakat Keliling).
c. Layanan Muzaki
1) Konsultasi dan Konfirmasi Zakat;
2) Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ);
3) Bukti Setor Zakat (BSZ) dan Laporan Donasi;
4) SMS/email gateaway;
5) Muzaki Corner.
53 Keputusan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional nomor KEP.013/BP/BAZNAS/V/2012 tentang Pedoman Pengelolaan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional.
44 BAB IV
ANALISIS PENGHIMPUNAN ZAKAT PERUSAHAAN OLEH BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL
A. Analisis Mekanisme Penghimpunan Zakat Perusahaan Oleh Badan Amil Zakat Nasional
Undang-undang nomor 23 Tahun 2011 menjelaskan bahwa Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga yang dibentuk Pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan zakat di Indonesia dengan laporan kinerja tahunan yang dipertanggungjawabkan langsung kepada Presiden.54 Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya, BAZNAS diharuskan menyusun program kerja dan rencana strategis sebagai panduan dalam menjalankan strategi pengelolaan zakat, termasuk didalamnya penghimpunan zakat di Indonesia dengan mengharuskan BAZNAS untuk menyusun pedoman Pengelolaan Zakat yang akan menjadi acuan Pengelolaan Zakat.55 Selanjutnya, pedoman tersebut digunakan oleh satuan perangkat yang menjadi kepanjangan tangan BAZNAS dalam hal pengumpulan zakat yakni melalui UPZ yang dibentuk berdasarkan usulan BAZNAS kepada Institusi yang menaungi UPZ tersebut.56 Pengumpulan dilakukan setelah muzaki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya, namun apabila muzaki tidak dapat melakukannya, maka muzaki dapat meminta bantuan BAZNAS.57 Setelah
54 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Pasal 5.
55 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Pasal 4 ayat 1: “Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya BAZNAS menyusun pedoman Pengelolaan Zakat”
Pasal 4 ayat 2: “Pedoman Pengelolaan Zakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan Pengelolaan Zakat untuk BAZNAS, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/kota, dan LAZ”.
56 Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2014 Pasal 46 ayat 1 “Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota dapat membentuk UPZ” dan Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 2 Tahun 2015 pasal 27 “Pembentukan UPZ dilakukan dengan: (a) usulan oleh BAZNAS, BAZNAS Provinsi, atau BAZNAS Kabupaten/Kota sesuai dengan tingkatannya kepada Institusi yang menaungi UPZ; atau (b) usulan oleh Pimpinan Institusi”.
57 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 21 ayat (1) “Dalam rangka pengumpulan zakat, muzaki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya”, dan ayat (2) “Dalam hal tidak dapat menghitung sendiri kewajiban zakatnya, muzaki dapat meminta bantuan BAZNAS”.
45
penghimpunan yang dimandatkan kepada UPZ telah dilakukan,58 dana zakat tersebut wajib disetorkan kepada BAZNAS dan UPZ wajib memberikan Bukti Setor Zakat (BSZ) kepada muzaki tersebut.59
Berdasarkan amanah undang-undang tersebut, BAZNAS telah merancang Rencana Strategis (RENSTRA) Zakat Nasional 2016-2020 yang disahkan pada tanggal 30 Agustus 2016 sebagai bentuk tindak lanjut dari Surat Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Penetapan Tim Penyusun Perubahan Rencana Strategis Badan Amil Zakat Nasional 2016. Rencana Strategis yang dihasilkan digunakan sebagai pedoman standar pengelolaan zakat agar dapat dilakukan secara optimal baik dalam pengumpulan maupun pendistribusian dan pendayagunaan serta sebagai gambaran strategi dan indikator kinerja kunci yang harus dicapai secara nasional.60
Dalam hal pengumpulan zakat, berdasarkan struktur organisasi BAZNAS memiliki bagian khusus Penghimpunan dengan beberapa divisi yang diantaranya Corporate Social Responsibility (CSR), Retail Nasional, UPZ Nasional, dan Layanan Muzaki. Namun, UPZ tersebut tidak dibentuk pada instansi perusahaan sebagaimana yang disebutkan pada pasal 3 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pembentukan dan Tata Kerja UPZ.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan divisi terkait, penghimpunan zakat perusahaan dilakukan dengan beberapa upaya yang dilakukan. Pertama, melakukan peningkatan sosialisasi zakat perusahaan melalui publikasi secara umum mengenai BAZNAS di sosial media agar seluruh masyarakat secara umum mengetahui BAZNAS sebagai lembaga penghimpun zakat, termasuk kepada personalia perusahaan sebagai target sosialisasi. Kedua, melakukan edukasi dan ajakan zakat perusahaan dengan cara formal melalui pengiriman surat yang berisikan ajakan kepada perusahan
58 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 35 ayat 1 “UPZ melaksanakan mandat pengumpulan zakat dari BAZNAS sesuai dengan tingkatannya”.
59 PERBAZNAS Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 39 “UPZ wajib menyerahkan BSZ yang diterbitkan oleh BAZNAS sesuai dengan tingkatannya dengan melampirkan daftar nama muzaki, NPWZ, dan jumlah zakat yang dibayarkan”.
60 Rencana Strategis Zakat Nasional Badan Amil Zakat Nasional 2016, h. 16-17.
untuk menunaikan zakat perusahaan melalui BAZNAS disertai profil singkat BAZNAS dan program-program penyaluran, dengan tujuan agar BAZNAS mendapatkan kepercayaan dari perusahaan serta ketertarikan untuk menunaikan zakat perusahaan melalui BAZNAS. Apabila terdapat perusahaan yang berkeinginan untuk menunaikan zakat dapat menghubungi BAZNAS untuk menyalurkan dana zakat tersebut. BAZNAS memiliki dua pendekatan kepada perusahaan untuk menghitung zakatnya. Pertama, dengan menghitung dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Kedua, dengan mempersilahkan perusahaan untuk melakukan penghitungannya sendiri atas kewajiban zakatnya. Kemudian dari hasil penghitungan tersebut, perusahaan dapat menunaikan zakat melalui transfer bank ke rekening penghimpunan zakat dan BAZNAS akan menerbitkan Bukti Setor Zakat yang dapat digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak dan piagam penghargaan kepada perusahaan atas zakat yang ditunaikan serta menyerahkan laporan terkait program penyaluran dari dana zakat perusahaan di akhir tahun.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari BAZNAS, terdapat 108 entitas telah membayar zakat pada rentang waktu Januari 2017 hingga Juli 2019 dengan total penghimpunan sebesar Rp. 25.549.612.851 dari target penghimpunan sebesar Rp. 24.900.000.000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sudah cukup banyak perusahaan yang memiliki keinginan untuk menunaikan zakatnya, namun jika melihat proses penghimpunannya masih terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan. Pertama, penghimpunan tidak dilakukan oleh UPZ yang dibentuk pada instansi sebagaimana Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 16. Namun dalam praktik yang BAZNAS jalankan belum selaras dengan apa yang disebutkan pada Undang-undang dengan argumentasi bahwa banyak perusahaan yang masih belum memiliki keinginan ataupun kesadaran atas kewajiban membayar zakat sehingga penghimpunan dilakukan dengan cara sosialisasi yang persuasif dan menunggu hingga ada perusahaan yang bersedia membayar zakat. Kedua, peraturan yang tersedia belum mendukung secara menyeluruh sehingga
47
sosialisasi yang dilakukan BAZNAS hanya sebatas himbauan, tidak seperti peraturan yang memberikan arahan dan sosialisasi seperti Instruksi Presiden, petunjuk terperinci dari lembaga mitra pemerintah yang mampu menghasilkan produk hukum Islam seperti Fatwa MUI, serta pedoman teknis terkait penghimpunan zakat perusahaan yang mendetail seperti peraturan BAZNAS sebagaimana yang dimiliki oleh penghimpunan zakat lainnya seperti zakat penghasilan/profesi yang memiliki Instruksi Presiden,61 Fatwa MUI,62 dan Keputusan Ketua BAZNAS tersendiri yang khusus mengatur zakat profesi.
Hal tersebut sangat diperlukan agar sosialisasi mengenai zakat perusahaan dan penghimpunannya dapat dilaksanakan secara efektif dan dengan perangkat yang mendukung. Selain itu, untuk meningkatkan ketertarikan perusahaan untuk menunaikan zakat peusahaan, perlu adanya aturan lebih lanjut mengenai sinergitas antara zakat perusahaan dengan pajak.
Hal tersebut sangat diperlukan agar sosialisasi mengenai zakat perusahaan dan penghimpunannya dapat dilaksanakan secara efektif dan dengan perangkat yang mendukung. Selain itu, untuk meningkatkan ketertarikan perusahaan untuk menunaikan zakat peusahaan, perlu adanya aturan lebih lanjut mengenai sinergitas antara zakat perusahaan dengan pajak.