BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2. Zakat Perusahaan
a. Landasan Zakat Perusahaan
Berdasarkan aspek legal dan ekonomi, aktivitas sebuah perusahaan yang pada umumnya berporos pada kegiatan perdagangan (trading), zakat perusahaan dianalogikan kepada zakat perdagangan.30 Namun perdagangan pada masa kini dapat dijalankan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan penuh atas modal dan aset perusahaan yang sesungguhnya bukan milik dirinya, dengan kata lain adalah milik pemodal atau yang sering disebut sebagai pemegang saham perusahaan. Dengan demikian, apabila seseorang membeli saham sama halnya ia membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut dan berhak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen pada saat perusahaan membukukan keuntungannya.
Meskipun seseorang tersebut memiliki status pemilik modal, namun ia tidak memiliki kewenangan operasional atas perusahaan.31
Pada umumnya, perusahaan mencakup tiga hal besar, yaitu:
Pertama, perusahaan penghasil produk-produk tertentu yang jika dikaitkan dengan kewajiban zakat, maka produk yang dihasilkan harus halal dan dimiliki oleh orang-orang yang beragama Islam, atau jika terdapat pemilik yang tidak beragama Islam, maka didasarkan hanya kepada kepemilikan saham orang yang beragama Islam.
Kedua, perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Ketiga, perusahaan
29 Firdaus, Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum dan Kewajiban Zakatnya Dalam Pandangan Ulama Kontemporer. (Jakarta: UIN, 2012), h. 74.
30 Muhammad Arief Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat: Mengomunikasikan dan Membangun Jaringan. (Jakarta: Kencana, 2006), Cet. 3, h. 124.
31 Berita Resmi Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional No. 18/BR/IX2017, 7 September 2017 tentang Kewjiban Zakat Perusahaan, h. 5.
21
yang bergerak di bidang keuangan, baik bank maupun non-bank (asuransi, reksadana, money changer, dan lainnya).32
Adapun landasan hukum yang dijadikan rujukan mengenai zakat perusahaan adalah nash-nash yang bersifat umum:
Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 267:
ََنِ مَ مُكَلَ اَن ۡج َر ۡخَأَ ٓاَّمِم َوَ ۡمُتۡبَسَكَ اَمَ ِتَٰبِ يَطَ نِمَ ْاوُقِفنَأَ ْا ٓوُنَماَءَ َنيِذَّلٱَ اَهُّيَأَٰٓي
َ ِض ۡرَ ۡلۡٱ
َ ...
٢٦٧
َ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”
Surat at-Taubah ayat 103
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Selain itu terdapat hadis Nabi Muhammad saw yang membahas mengenai perkongsian:
ناَك ان ُرُمأَي نَأ ََج ِرْخُن ََةَقَدَّصلا ََنِم يِذَّلا َُّدِعُن َِعْيَبْلِل
Artinya: “Rasulullah saw memerintahkan kepada kami agar mengeluarkan sedekah (zakat) dari segala yang kami maksudkan untuk diperdagangkan (H.R. Abu Dawud).
لَّو عمجي نيب قرفتم لَّو قرفي نيب عمتجم ةيشخ ةقدصلا
Artinya: “Janganlah disatukan (dikumpulkan) harta yang mula-mula terpisah. Sebaliknya, jangan pula dipisahkan harta yang pada
32 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern. (Jakarta: Gema Insani 2001), h.
99.
mulanya bersatu, karena takut mengeluarkan zakat.” (H.R.
Bukhari).
Pada awalnya, kedua hadits tersebut dipergunakan sebagai landasan hukum perkongsian hewan ternak. Kemudian hadits tersebut juga digunakan sebagai landasan syirkah dengan diqiyaskan kepada perkongsian yang merupakan kegiatan sah dan dianjurkan oleh ajaran Islam, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Abu Dawud, dari Abu Hurairah r.a yang di-marfu’-kannya (dinishbahkan kepada Rasulullah saw), beliau bersabda:33
انَأ َُثِلاَث َِنْيَكْي ِرَّشلا اَم َْمَل َْنُخَي اَمُهُدَحَأ ،ُهَب ِحاَص اذإَف ََناَخ َُتْج َرَخ َْنِم اَمِهِنْيَب (َ ُها َو َر وبأ ََد ُواد َُهَح حَص َو َُمِكاَحْلا)
Artinya: “Aku adalah yang ketiga diantara dua orang yang berserikat selama salah satu dari mereka tidak mengkhianati yang lain. Jika salah seorang dari mereka mengkhianati temannya, aku keluar dari (perserikatan) mereka.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan al-Hakim).34
Para ulama kontemporer pun memiliki pendapat mengenai zakat perusahaan. Terdapat beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, diantaranya:35
1) Shadiq Dharir berpendapat bahwa berdasarkan hukum Islam, badan hukum tidak dikenakan kewajiban zakat karena ia tidak memiliki kecakapan sehingga tidak mungkin memenuhi kriteria sebagai mukallaf, sedangkan kewajiban zakat hanya dikenakan bagi mukallaf.
2) Syauqi Ismail Shahatah berpendapat bahwa harta yang dimiliki badan hukum terpisah dengan para pemiliknya, sehingga ia wajib mengeluarkan zakat. Ia juga mengqiyaskan zakat badan
33 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern. (Jakarta: Gema Insani 2001), h.100.
34 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Fikih Zakat Perusahaan (Jakarta: Pusat Kajian Srategis BAZNAS, 2018), h. 1.
35 Firdaus, Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum dan Kewajiban Zakatnya Dalam Pandangan Ulama Kontemporer. (Jakarta: UIN, 2012), h. 76-77.
23
hukum dengan zakat binatang ternak campuran yang selanjutnya dijadikan dasar kewajiban zakat pada badan hukum:
a) Badan hukum mempunyai status tersendiri/terpisah dari pengurusnya atau manusia lain;
b) Kewajiban zakat itu murni kewajiban atas harta;
c) Dalam hukum zakat tidak disyaratkan adanya taklif diniyah artinya yang mengharuskan pelaksana kewajiban harus memenuhi kriteria baligh dan berakal;
d) Qiyas terhadap zakat binatang ternak campuran.
3) Ahmad Ali Abdillah sependapat dengan Syauqi Ismail Shahatah tentang kewajiban zakat atas badan hukum, bukan pemegang saham. Menurut penilaiannya, badan hukum memiliki status yang sah secara hukum dan juga secara syara’ untuk bertindak dan dapat memikul kewajiban dan memiliki hak-hak. Namun ia menambahkan bahwa zakat adalah suatu ibadah yang wajib atas harta, oleh karena itu jumhur fuqaha mewajibkannya juga pada orang yang tidak cakap hukum.
Kewajiban zakat perusahaan seyogyanya dituangkan dalam aturan perusahaan, sehingga sifatnya mengikat. Tetapi diluar zakat perusahaan, tiap individu juga wajib mengeluarkan zakat, sesuai dengan penghasilan dan juga nisabnya.36
Selain itu, dalam Ijtima’ Ulama pada Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dinyatakan pula bahwa perusahaan yang telah memenuhi syarat wajib zakat, wajib mengeluarkan zakat, baik sebagai syakhshiyyah I’tibariyyah ataupun sebagai pengganti (wakil) dari pemegang saham.37 Fatwa tersebut selaras dengan Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang-undang
36 Muhammad Zen, 24 Hours of Contemporary Zakat: Tanya Jawab Seputar Keseharian Zakat. (Ciputat: IMZ, 2010), h. 18.
37 Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keputusan Komisi B-1 Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Se Indonesia III tentang Masail Fiqhiyyah Mu’ashirah (Masalah Fikih Kontemporer). (Padang Panjang: MUI, 2009), h. 86.
Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menyatakan bahwa perusahaan atau yang disebutkan sebagai Badan Usaha telah diakui keberadaannya sebagai wajib zakat.38 Maka dapat dipahami bahwa perusahaan telah diakui keberadaannya sebagai pihak yang dapat membayarkan zakat dan dianggap sebagai orang perseorangan dalam hukum positif di Indonesia. Maka segala hal yang hendak dilakukan, yang dalam hal ini mengenai zakat, telah diatur dalam ketentuan Undang-Undang.
Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat dan tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif, zakat perusahaan atau zakat yang dikenakan bagi badan usaha dinamakan sebagai zakat perindustrian yakni zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa. Ketentuan tersebut disebutkan pada paragraf 7 pasal 23 hingga pasal 25.
Pada Peraturan Menteri Agama tersebut, diatur bahwa zakat perindustrian memiliki 2 nisab, yakni pada pasal 23 angka (1) yang mengatur nisab zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang senilai 85 gram emas, dan pada angka (2) senilai 653kg gabah bagi badan usaha yang bergerak dalam bidang jasa dengan kadar yang sama yakni sebesar 2,5%. Dalam pasal 24 juga disebutkan bahwa zakat perindustrian mencakup penghitungan zakat perniagaan pada pasal 12, yakni zakat dihitung dari Aktiva Lancar dikurangi Kewajiban Jangka Pendek dengan cara (a) menghitung aktiva lancar yang dimiliki badan usaha pada saat haul; (b) menghitung kewajiban jangka pendek yang harus dibayar oleh badan
38 Diantaranya pada pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam”, Pasal 1 ayat 3 yang berbunyi “Infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha diluar zakat untuk kemaslahatan umum”, Pasal 1 ayat 4 yang berbunyi
“Sedekah adalah harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha diluar zakat untuk kemaslahatan umum”, dan Pasal 1 ayat 5 yang berbunyi “Muzaki adalah seorang muslim atau badan usaha yang berkewajiban menunaikan zakat”
25
usaha pada saat haul; (c) menghitung selisih Aktiva Lancar dengan kewajiban jangka pendek; (d) dan apabila selisih tersebut telah mencapai nisab, maka wajib menunaikan zakat perniagaan. Zakat perindustrian tersebut ditunaikan setelah mencapai haul dan dibayarkan melalui amil zakat resmi.
b. Ketentuan Zakat Perusahaan 1) Harta Wajib Zakat
Pendapat Syeikh Abdurrahman Isa dalam kitabnya “al-Mu’amalah al-Haditsah Wa Ahkamuha”, sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Zen mengatakan bahwa yang harus diperhatikan sebelum pengeluaran zakat adalah status perusahaannya, yakni sebagai berikut:39
(a) Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bergerak dibidang layanan jasa semata, maka sahamnya tidak wajib dizakati, namun keuntungan yang diperoleh dimasukkan kedalam harta para pemilik saham tersebut, lalu zakatnya dikeluarkan bersama harta lainnya jika telah mencapai nisab dan haul.
(b) Jika perusahan tersebut adalah perusahaan dagang murni yang melakukan transaksi jual beli barang tanpa melakukan proses pengolahan, maka saham-saham perusahaan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya disamping zakat dari keuntungan yang diperoleh.
(c) Jika perusahaan tersebut bergerak dibidang industri dan perdagangan, dalam artian melakukan pengolahan suatu komoditi dan kemudian menjual kembali hasil produksinya, maka sahamnya wajib dizakatkan.
39 Muhammad Zen, 24 Hours of Contemporary Zakat: Tanya Jawab Seputar Keseharian Zakat. (Ciputat: IMZ, 2010), h. 19.
Pada umumnya, sebuah perusahaan memiliki harta yang tidak akan terlepas dati tiga bentuk:
(a) Harta dalam bentuk barang, baik yang berupa sarana dan prasarana, maupun yang merupakan komoditi perdagangan;
(b) Harta dalam bentuk uang tunai, yang biasanya disimpan di bank-bank;
(c) Harta dalam bentuk piutang.
Maka yang dimaksud dengan harta wajib zakat bagi perusahaan adalah ketiga bentuk harta tersebut, dikurangi harta dalam bentuk sarana dan prasarana dan kewajiban mendesak lainnya, seperti utang yang jatuh tempo atau yang harus dibayar saat itu juga atau dengan kata lain didasarkan pada neraca laporan keuangan dengan mengeluarkan kewajiban aktiva lancar, atau seluruh harta (diluar sarana dan prasarana) ditambah keuntungan dikurangi pembayaran utang dan kewajiban lainnya, lalu dikeluarkan zakatnya. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa yang wajib dikeluarkan zakatnya hanya keuntungannya saja.40
2) Nisab, Kadar dan Haul
Para Ulama dalam Muktamar Internasional menganalogikan zakat perusahaan kepada zakat perdagangan berdasarkan pandangan aspek legal dan ekonomi. Pada intinya, sebuah perusahaan berpijak pada kegiatan Perdagangan (trading) yang maka dari itu nisabnya disamakan dengan nisab zakat perdagangan yakni 85 gram emas.41
Mengenai haul dan kadarnya, bagi yang menggunakan haul 1 tahun dengan mengikuti tahun qamariyah adalah 2,5%. Namun apabila menggunakan tahun syamsiyah, maka tarif zakatnya perlu
40 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern. (Jakarta: Gema Insani 2001), h.102.
41 Ahmad Chairul Hadi. “Corporate Social Responsibility dan Zakat Perusahaan dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam”. Jurnal Ahkam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, XVI, 2, (2016), h. 233.
27
penyesuaian. Pada Muktamar Zakat tahun 1984, disepakati bahwa waktu bulan syamsiyah lebih panjang dibanding bulan qamariah, yaitu sekitar 11 hari. Perbedaan tersebut harus diperhatikan bagi pengguna tahun syamsiyah dengan jumlah 365 hari, karena harus memperhitungkan kembali nisab zakatnya menjadi 2,525% dari perhitungan 2,5% x 365/354.42
3) Perhitungan Zakat Perusahaan
Mengenai pola perhitungan zakat perusahaan, terdapat beberapa teori:
(a) Menurut Ibnu Aqil al-Hambali dan madzhab Hadawiyah, perusahaan disamakan dengan harta perdagangan, maka tiap-tiap akhir tahun semua permodalan diperhitungkan, termasuk masukan yang ada, dan apabila jumlah keseluruhannya mencapai nisab (emas 85gram atau 94gram emas murni), kemudian dipungut 2,5% zakat;
(b) Menurut Imam Ahmad, hanya dipungut dari penghasilannya saja (pemasukan) pada saat menerima hasil/pemasukan, tidak disyaratkan sampai satu tahun (haul), dengan perhitungan penghasilannya dalam setahun mencapai nisab dan kadar pungutannya ialah 2,5%;
(c) Menurut Abu Zahra, Abdul Wahab Kallaf dan Abdurrahman al-Hasan, zakat perusahaan disamakan dengan buah-buahan, yaitu dipungut dari penghasilannya pada waktu menerimanya, dengan angka pungutan 10% atau 5%;
(d) Menurut Yusuf Qardawi dan Abdul Khalik al-Nawawi membedakannya dalam dua kategori, yakni harta benda tidak bergerak yang dipungut zakat dari penghasilannya saja sebesar
42 Ahmad Chairul Hadi. “Corporate Social Responsibility dan Zakat Perusahaan dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam”. Jurnal Ahkam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, XVI, 2, (2016), h. 233.
10% atau 5% dan harta benda bergerak yang dipungut zakatnya 2,5% dari keseluruhan modal dan penghasilan.43
Selain itu, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin adalah apabila perusahaan tersebut bergerak dalam bidang industri perdagangan, maka dikenakan zakat perdagangan tanpa dikenakan kepada aset-aset perusahaan atau perangkat lain sebagai penunjang usaha. Berdasarkan hal tersebut, maka yang dihitung untuk dizakatkan adalah dari modal awal, uang simpanan perusahaan, dan piutang perusahaan jangka pendek, kemudian dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% setelah dipotong pajak jika telah mencapai haul dan nisab.44