5 PROGRAM DAN KEGIATAN
5.1 Program Penyediaan Air Baku
Program penyediaan air baku terkait dengan isu ketersediaan air baku. Program/intervensi kunci dikembangkan berdasarkan strategi pada Bab 4. Adapun program/intervensi kunci untuk penyediaan air baku untuk setiap strategi yang dijelaskan dalam bab 4 meliputi:
A. Efisiensi pengelolaan oleh operator dan konsumsi air oleh masyarakat 1. Penurunan tingkat air tidak berekening
2. Gerakan penghematan konsumsi air oleh pelanggan dan masyarakat B. Optimalisasi pemanfaatan sumber air yang tersedia saat ini
1. Revitalisasi fungsi embung/waduk sebagai tangkapan air dan sumber air baku 2. Normalisasi kali dan sungai
3. Kerjasama penanganan kuantitas dan kualitas air permukaan dengan daerah yang berbatasan (Jawa Barat dan Banten)
C. Pengembangan sumber air alternatif (optimasi bauran air domestik)
1. Peningkatan kualitas hasil pengolahan grey water dan black water agar dapat digunakan kembali 2. Optimasi penerapan water recharge (sumur resapan, sumur retensi, lubang biopori)
3. Penggunaan sumber air alternatif
5.1.1 Program Penurunan Tingkat Air Tidak Berekening (Non- Revenue Water/NRW) Penurunan NRW bertujuan untuk menekan tingkat air tidak berekening sehingga berada pada tingkat yang tidak melebihi batas yang ditetapkan peraturan yang berlaku. Sehingga mampu memaksimalkan manfaat dari ketersediaan air baku saat ini dalam memenuhi kebutuhan. Penurunan NRW memberikan manfaat dari dua aspek, penambahan volume air minum yang dapat didistribusikan ke masyarakat/pelanggan jika dihasilkan dari penurunan NRW yang diakibatkan oleh kebocoran fisik di jaringan pipa, atau penambahan pemasukan jika diakibatkan oleh kebocoran non-fisik yang dapat terjadi karena kondisi/akurasi meter yang kurang baik, pembacaan meter air kurang akurat, pembuatan rekening air yang kurang tepat, serta adanya sambungan/pemakaian ilegal. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Perbaikan instalasi perpipaan dan meter air; kegiatan ini ditujukan untuk meminimalkan resiko air tidak berekening akibat kebocoran (teknis) perpipaan dan meminimalkan resiko ketidakakuratan pengukuran volume air yang digunakan/dikonsumsi pelanggan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya dan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).
2. Kerjasama dengan kepolisian untuk penanganan pencurian air; kegiatan terkait penegakan hukum ditujukan untuk mencegah/mengurangi kejadian pencurian air melalui sambungan ilegal. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya bekerjasama dengan kepolisian dan kejaksaan.
3. Penerapan insentif berbasis penurunan persentase air tidak berekening; kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan motivasi operator layanan dan masyarakat dalam menekan tingkat air tidak berekening. Pemprop DKI Jakarta, melalui Biro Perekonomian, dapat memberikan insentif berupa pendanaan atau non-pendanaan kepada PAM Jaya untuk kinerja dalam menurunkan persentasi air tidak berekening, dan PAM Jaya memberikan insentif bagi masyarakat/kelurahan untuk upaya pencegahan/pengurangan air tidak berekening di wilayahnya masing-masing. Insentif ini dapat diterapkan antara lain melalui pengurangan tagihan pelanggan ataupun bonus layanan bagi fasilitas umum di kelurahan/zona tertentu.
4. Evaluasi sumber (penyebab) air tidak berekening; kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh informasi lengkap atas faktor pemicu air tidak berekening, baik faktor-faktor yang termasuk bidang manajerial administrasi, keuangan, teknis, dan kelembagaan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya, dapat bekerjasama dengan mitra pembangunan. Hasil evaluasi ini harus dilaporkan kepada Dinas Sumber Daya Air (DSDA).
5.1.2 Program Gerakan Penghematan Konsumsi Air
Gerakan penghematan konsumsi air oleh pelanggan layanan air minum perpipaan bertujuan untuk mengurangi tingkat konsumsi air oleh pelanggan, sehingga mampu berkontribusi mengurangi tingginya kebutuhan volume air baku yang selalu meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk. Bagi pelanggan sendiri, hal ini tentunya akan menghemat pengeluaran untuk air minum. Gerakan penghematan konsumsi air ini juga diharapkan berpengaruh pada pola konsumsi air masyarakat pada umumnya, termasuk masyarakat dengan akses air minum non perpipaan. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi:
2. Penyesuaian struktur tarif; kegiatan ini ditujukan untuk merumuskan kembali struktur tarif layanan air minum PAM Jaya yang mampu mendorong masyarakat lebih hemat dalam penggunaan air. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya dan Biro Hukum.
5.1.3 Program Revitalisasi Fungsi Embung/Waduk
Revitalisasi fungsi embung/waduk bertujuan untuk meningkatkan volume air yang ditahan/ditampung untuk selanjutnya dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Revitalisasi waduk; kegiatan ini ditujukan untuk mengembalikan daya tampung waduk sesuai desain. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA.
2. Revitalisasi embung; kegiatan ini ditujukan untuk mengembalikan daya tampung embung sesuai desain. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA.
3. Pemantauan kualitas air waduk/embung; kegiatan ini ditujukan untuk memantau kualitas air waduk/embung agar memperoleh penanganan yang sesuai sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). 4. Pengelolaan pemanfaatan air permukaan (danau, sungai, laut); kegiatan ini ditujukan untuk menata
pengelolaan air permukaan sehingga selanjutnya dapat dimanfaatkan optimal untuk sumber air baku. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kem-PUPR)
5.1.4 Program Normalisasi dan Naturalisasi Kali dan Sungai
Program ini ditujukan untuk meningkatkan daya tampung kali dan sungai, dan membersihkan badan air dari pencemaran buangan limbah (padat) domestik, sehingga selanjutnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk sumber air baku DKI Jakarta. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi pengerukan kali/sungai, pengerasan dinding sungai, pembangunan tanggul di daerah- daerah rawan banjir, dan penertiban lahan yang merupakan bagian dari sungai. Di daerah hulu, jika normalisasi tidak mungkin dilakukan, dapat dilakukan naturalisasi sungai dengan mengembalikan sungai kedalam bentuk dan ekosistem alaminya. Pelaksana utama program ini adalah DSDA, dengan bekerjasama dengan Kem-PUPR dalam kegiatan pengerukan kali/sungai dan bekerjasama dengan kelurahan dalam kegiatan penertiban lahan.
5.1.5 Program Kerjasama Penanganan Kuantitas dan Kualitas Air Permukaan dengan Daerah yang Berbatasan (Jawa Barat dan Banten)
Seperti kota-kota lain di Indonesia yang pada umumnya tidak mempunyai daerah tangkapan (cathment area), kebutuhan air baku di DKI Jakarta sangat tergantung dari wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu, program kerjasama untuk penanganan kuantitas dan kualitas air permukaan dengan daerah yang berbatasan (Jawa Barat dan Banten) perlu dilakukan. Program ini ditujukan untuk menambah volume air yang dapat dimanfaatkan karena meningkatnya kuantitas dan kualitas air sungai. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
2. Rakor penanganan air permukaan DKI; kegiatan ini ditujukan untuk memfasilitasi rapat koordinasi SKPD dan lembaga yang bertugas dalam penanganan air permukaan DKI Jakarta. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Bappeda, DSDA, DLH, PAM Jaya, PD PAL Jaya, dan melibatkan Kementrian PUPR.
3. Pemantauan kualitas air sungai, waduk, situ, embung, laut, muara, teluk; kegiatan ini ditujukan untuk memantau kualitas air permukaan, yang hasilnya digunakan sebagai dasar penanganan yang sesuai. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DLH.
4. Penanganan sampah di badan air; kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan luasan badan air yang dibersihkan dari pencemaran sampah. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DLH.
5. Pengawasan potensi pencemaran limbah cair; kegiatan ini ditujukan untuk mencegah/meminimalkan potensi kejadian pencemaran limbah cair di bagian hulu sungai-sungai yang mengalir di DKI Jakarta. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
5.1.6 Program Peningkatan Kualitas Hasil Pengolahan Air Limbah Domestik
Program peningkatan kualitas hasil pengolahan air limbah domestik merupakan salah satu program untuk mencari sumber air baku alternatif dengan memanfaatkan air hasil pengolahan air limbah domestik (effluent) sebagai air baku untuk kebutuhan air minum domestik. Sehingga jika digabungkan dengan sumber air baku dari sumber ‘konvensional’ akan meningkatkan total ketersediaan air baku. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Penegakan aturan pemenuhan baku mutu hasil pengolahan air limbah (effluent); kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan akan pemenuhan baku mutu air hasil pengolahan air limbah domestik. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Lingkungan Hidup.
2. Promosi penggunaan hasil bauran air domestik; kegiatan ini ditujukan untuk mempromosikan/kampanye penggunaan hasil bauran air domestik untuk pemanfaatan tertentu. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Kominfotik dan Dinas Lingkungan Hidup.
3. Regulasi pemanfaatan hasil pengolahan air limbah sebagai salah satu sumber air baku DKI (dengan pemanfaatan sesuai aturan); kegiatan ini ditujukan untuk menyediakan landasan/aturan bagi PAM Jaya untuk menggunakan hasil pengolahan air limbah domestik sebagai salah satu sumber air baku DKI. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA, BPKLH, Biro Hukum, Dinas Kesehatan, DLH, DPM-PTSP, dan PDPAL.
4. Penerapan penggunaan air hasil daur ulang di bangunan pemerintah; kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan cakupan (persentase) bangunan-bangunan pemerintah yang menggunakan air daur ulang, sebagai salah satu cara meningkatkan permintaan atas penggunaan air hasil olahan tersebut. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Dinas CKTR), Dinas Perumahan dan Permukiman, Asisten Sekretariat Daerah bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup.
5.1.7 Program Optimasi Penerapan Pengisian Air Tanah (Sumur Resapan, Sumur Retensi, Lubang Biopori)
selama musim kemarau untuk mengisi sumur dangkal atau meningkatkan aliran sungai/mata air. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Kampanye-komunikasi perubahan perilaku menuju penerapan pengisian air tanah; kegiatan ini ditujukan untuk mengajak masyarakat menerapkan pengisian air tanah di lahan masing-masing. Ketika gerakan pengisian air tanah dilaksanakan secara masif oleh masyarakat, percepatan tambahan cadangan air tanah diharapkan dapat diwujudkan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Kominfotik dan Dinas Perindustrian dan Energi (DPE).
2. Fasilitasi pemanfaatan lahan kosong sebagai kolam retensi dan juga kolam resapan air hujan (misalnya di taman, halaman perkantoran pemerintah, sekolah, fasum, dan lain-lain); kegiatan ini juga ditujukan untuk memanfaatkan lahan-lahan yang tersedia untuk ‘menangkap’ air dan menambah cadangan air tanah. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DPE, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan.
3. Pengawasan penerapan pengisian air tanah; kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan penerapan pengisian air tanah di setiap lahan (yang memungkinkan) di Jakarta. Pelaksana utama kegiatan ini adalah Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan, DPE, DSDA, DPM-PTSP. 5.1.8 Program Penggunaan Sumber Air Alternatif
Program ini bertujuan untuk meningkatkan tambahan volume air baku dari hasil pengembangan sumber air alternatif. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Studi potensi alternatif sumber air aman dan berkelanjutan DKI Jakarta; kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh kajian potensi alternatif sumber air DKI dan rekomendasi strategi dalam merealisasikan potensi tersebut. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA, DLH, Dinas Kehutanan, PAM Jaya, dan Kem-PUPR.
2. Pengaturan pemanfaatan air artesis (untuk kawasan tanpa pilihan sumber air lain); kegiatan ini ditujukan untuk menyediakan landasan/aturan dalam pengendalian pemanfaatan air artesis bagi kawasan tanpa pilihan sumber air lain. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DPE.
3. Pemanenan dan menabung air hujan pada setiap bangunan pemerintah, bangunan swasta, fasilitas umum; kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh tambahan cadangan air dari hasil pemanenan air hujan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA, DLH, DCKTRP, Dinas Perumahan dan Permukiman, Dinas Kehutanan, dan Dinas Bina Marga.
4. Pemanfaatan air laut sebagai sumber air minum, air laut yang berlimpah menjadi potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai air baku untuk air minum. Dengan adanya teknologi desalinasi, proses produksi air minum yang berasal dari air laut dapat dilakukan. Beberapa teknologi desalinasi yang telah dikenal adalah distilasi/penguapan, teknologi membran, dan proses pertukaran ion. Pelaksana utama kegiatan ini adalah DSDA, DLH, DCKTRP, dan Dinas Perumahan dan Permukiman.
5. Penambahan air curah/bulk supply dari PDAM Kota Tangerang, SPAM Jatiluhur 1-2, dan Waduk Karian; kegiatan ini ditujukan untuk menambah pasokan air baku PAM Jaya. Pelaksana kegiatan ini adalah PAM Jaya, dan Kem-PUPR.