DESAIN BESAR
PENYEDIAAN LAYANAN AIR MINUM
DAN AIR LIMBAH DOMESTIK
PROVINSI DKI JAKARTA 2018-2022
Disusun oleh:
DESAIN BESAR
PENYEDIAAN LAYANAN AIR MINUM
DAN AIR LIMBAH DOMESTIK
PENGANTAR
Penyelenggaraan layanan air minum dan air limbah domestik bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan, serta pengelolaan air limbah domestik yang aman (Safely Managed). Provinsi DKI Jakarta, dengan APBD tertinggi se-Indonesia, masih menghadapi permasalahan layanan dasar di bidang air minum dan sanitasi, termasuk dalam hal layanan air limbah domestik. Permasalahan tersebut telah berakibat pada tingginya kasus diare, terutama pada anak-anak, pencemaran lingkungan, dan turut berperan pada terjadinya penurunan muka tanah. Visi DKI Jakarta 2018-2022, yaitu Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan, dan kesejahteraan untuk semua. Akses terhadap air minum dan sanitasi yang aman merupakan salah satu perwujudan dari visi DKI Jakarta 2018-2022. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah DKI Jakarta memerlukan strategi dalam memecahkan permasalahan serta meningkatkan cakupan akses di sektor air minum dan air limbah domestik. Kedeputian Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menginisiasi penyusunan Desain Besar Air Minum dan Air Limbah DKI Jakarta sebagai masukan bagi penyusunan RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018-2022. Penyusunan Desain Besar ini dilakukan dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat di sektor air minum dan air limbah domestik di antaranya Bappeda, Biro Penataan Kota dan Lingkungan Hidup (PKLH), Dinas Sumber Daya Air (DSDA), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), Dinas Perindustrian dan Energi (DPE), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP), Dinas Kesehatan (DinKes), Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, PAM Jaya, PD PAL Jaya, PLAN Internasional, Wahana Visi Indonesia (WVI), 100 Resilient City and Human Cities Coalition (HCC).
Kedeputian Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta difasilitasi oleh USAID IUWASH PLUS melakukan diskusi-diskusi serta lokakarya untuk mendapatkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan Desain Besar Air Minum dan Air Limbah DKI Jakarta. Diharapkan Desain Besar ini dapat menjadi referensi bagi OPD terkait dalam menyusun rencana pembangunan baik RPJMD maupun RKPD.
Jakarta, November 2017
PENGANTAR ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
SINGKATAN ... vi
RINGKASAN ... viii
1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penyusunan Desain Besar ... 2
1.3 Ruang Lingkup ... 2
1.4 Kedudukan Desain Besar ... 3
1.5 Proses Penyusunan ... 4
2 KONDISI TERKINI DAN ISU STRATEGIS PENYEDIAAN LAYANAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH DOMESTIK DKI JAKARTA ... 6
2.1 Tinjauan Visi dan Misi DKI Jakarta 2018-2022 ... 6
2.2 Kondisi Terkini Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik ... 8
2.3 Isu Strategis Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta ... 18
2.4 Kebutuhan, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta ... 20
3 TUJUAN DAN TARGET PENYEDIAAN LAYANAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH DOMESTIK DKI JAKARTA ...23
3.1 Tujuan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022... 23
3.2 Pentahapan Pembangunan Layanan Air Minum dan Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 . 24 4 STRATEGI PEMBANGUNAN LAYANAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH DOMESTIK DKI JAKARTA ...28
4.1 Strategi Penyediaan Air Baku ... 28
4.2 Strategi Perluasan Akses Masyarakat pada Air Minum Aman ... 29
4.3 Strategi Perluasan Akses Layanan bagi MBR dan Kawasan Prioritas Butuh Air Minum ... 30
4.4 Strategi Perluasan Akses Layanan SPALD Sistem Terpusat ... 30
4.5 Strategi Perluasan Akses Layanan SPALD Sistem Setempat ... 32
5 PROGRAM DAN KEGIATAN ...34
5.1 Program Penyediaan Air Baku ... 34
5.2 Program Pembangunan Layanan Air Minum ... 39
5.3 Program Pembangunan Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik ... 44
5.4 Program Berbasis Kawasan Prioritas Penanganan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 ... 50
6 PEMANTAUAN DAN EVALUASI ...58
6.1 Informasi Kunci Hasil Pemantauan dan Evaluasi ... 58
6.2 Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi Terpadu ... 59
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Cakupan Akses Air Minum DKI Jakarta, 2015 ... 8
Tabel 2 Status Mutu (Indeks Pencemaran) Air Tanah Periode Kedua di DKI Jakarta Tahun 2015 ... 10
Tabel 3 Jumlah Titik Pemantauan Berdasarkan Status Mutu Per Periode di DKI Jakarta Tahun 2015 ... 11
Tabel 4 Visi-Misi DKI Jakarta dan Tujuan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik 2018-2022 ... 23
Tabel 5 Target Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 ... 24
Gambar 1Bagan Kedudukan Desain Besar ... 3
Gambar 2 Rencana Pengembangan Air Minum DKI Jakarta 2017-2030 ... 10
Gambar 3 Peta Rumah Tangga (RT) dengan Akses Ledeng Terbatas dan berada di Wilayah dengan Status Kualitas Air Tanah/Sungai Parah, dan masih dalam Wilayah dengan Jaringan PAM Jaya ... 12
Gambar 4 Peta MBR (Rumah Tangga) dengan Akses Ledeng Terbatas dan berada di Wilayah dengan Status Kualitas Air Tanah/Sungai Parah, dan masih dalam Wilayah dengan Jaringan PAM Jaya ... 13
Gambar 5 Peta Rumah Tangga di Kepulauan Seribu dengan Akses Air Minum dan Sanitasi Sangat Rendah ... 14
Gambar 6 Peta Rumah Tangga di Kepulauan Seribu dengan Akses Air Minum dan Sanitasi Sangat Rendah ... 16
Gambar 7 Cakupan Warga DKI Jakarta (%) Berdasarkan Akses Thd Jamban... 15
Gambar 8 Peta Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jamban ... 15
Gambar 9 Peta Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Tangki Septik ... 16
Gambar 10 Cakupan Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik... 16
Gambar 11 Diagram Alur Tinja di Jakarta ... 17
Gambar 12 Pentahapan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 . 25 Gambar 13 Peta Kawasan Prioritas Air Minum dan Kawasan Prioritas Sanitasi ... 26
Gambar 14 Peta Kawasan Prioritas Air Minum dan Sanitasi ... 26
Gambar 15 Bagan Konsep Pengelolaan Air Limbah Domestik ... 32
Gambar 16 Konsep Pengelolaan Lumpur Tinja ... 33
Gambar 17 Desain Besar Penyediaan Air Minum DKI Jakarta 2018-2022 ... 35
Gambar 18 Desain Besar Penyediaan Sanitasi/Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 ... 46
Gambar 19 Program Air Minum di Kawasan Prioritas ... 55
SINGKATAN
4K
Kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan keterjangkauan AMPL Air Minum dan Penyehatan LingkunganAPBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah BABS Buang air besar sembarangan
Bappeda Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BPAD Badan Pengelola Aset Daerah
BPBUMD Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah BPKD Badan Pengelola Keuangan Daerah
BPKLH Biro Penataan Kota dan Lingkungan Hidup BPS Biro Pusat Statistik
CKTR Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang DisKominfo Dinas Komunikasi dan Informasi DKI Daerah Khusus Ibukota
DLH Dinas Lingkungan Hidup
DPE Dinas Pertambangan dan Energi
DPM-PTSP Dinas Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu DPRKP Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DSDA Dinas Sumber Daya Air
EHRA Environmental Health Risk Assessment ESDM Energi dan Sumber Daya Mineral
FGD
Focus Group Discussion
GE Gastroenteritis
HCC Human Cities Coalition
IPA Instalasi Pengolahan Air/Water Treatment Plant (WTP) IPALD Instalasi Pengolahan Air Limbah
IPLT Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja
IUWASH PLUS Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua JICA Japan International Cooperation Agency/Badan Kerjasama Internasional Jepang
KepGub Keputusan Gubernur
KK Kepala Keluarga
Kominfotik Kominikasi, Informasi dan Statistik L2T2/LLTT Layanan Lumpur Tinja Terjadwal MBR Masyarakat Berpenghasilan Rendah
MCK Mandi Cuci Kakus
Monev Monitoring and Evaluation/Monitoring dan Evaluasi NRW Non-Revenue Water/Air Tidak Berekening
ODF Open Defecation Free
OPD Organisasi Perangkat Daerah PAM Jaya Perusahaan Air Minum Jakarta
PUPR Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Renstra Rencana Strategis
Renja Rencana Kerja
RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah
RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RPJPD
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
RT Rumah Tangga
RTM Rumah Tangga Miskin
RTRW
Rencana Tata Ruang Wilayah
Rusunawa Rumah Susun Sederhana Sewa
Sanimas IDB Sanitasi Berbasis Masyarakat Islamic Development Bank Satpol-PP Satuan Polisi Pamong Praja
SDG Sustainable Development Goal SIM Sistem Informasi Manajemen SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah SLHD Status Lingkungan Hidup Daerah
SPALD Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik
SPALD-S Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik-Setempat SPALD-T Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik-Terpusat SPAM BJP Sistem Penyediaan Air Minum Bukan Jaringan Perpipaan STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional SWRO Sea Water Reverse Osmosis
TNP2K Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TSS Temporary Sludge Storage
UMKM Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah USAID US Agency for International Development WTP Water Treatment Plant
WUSAN Wirausaha Sanitasi
RINGKASAN
Desain Besar pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta 2018-2022 disusun sebagai instrumen bagi semua pemangku kepentingan dalam menata arah dan fokus pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik menuju pencapaian akses air minum dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan untuk semua, dalam kerangka perwujudan visi Jakarta 2022, yaitu Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan, dan kesejahteraan untuk semua. Desain Besar ini diharapkan mampu menjawab realitas dan tantangan pembangunan layanan melalui sinergi dan kolaborasi antar perangkat daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat sampai dengan medio 20171, cakupan penduduk DKI
Jakarta yang belum terlayani air minum mencapai 45% atau sekitar 4.63 juta jiwa. Terdapat sekitar 470 ribu rumah tangga (atau sekitar 14% penduduk) yang masih buang air besar sembarangan (BABS). Dalam upaya mewujudkan akses air minum dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan untuk semua pada tahun 2022, isu strategis yang perlu ditangani selama 2018-2022 meliputi: isu ketersediaan air baku, akses mayarakat pada air minum aman, isu layanan air minum aman bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan kawasan prioritas butuh air minum (termasuk Kep. Seribu), akses layanan SPALD aman melalui sistem terpusat dan juga sistem setempat.
Untuk itu, strategi utama yang akan ditempuh dalam pembangunan layanan air minum adalah meningkatkan akses air minum perpipaan dan mengurangi penggunaan air tanah, terutama di wilayah dengan kualitas air tanah buruk, serta menyediakan sistem layanan air minum aman dengan teknologi yang tepat dan berkelanjutan di kawasan khusus dan prioritas. Sedangkan dalam pembangunan layanan air limbah domestik, strategi yang akan ditempuh adalah menghilangkan perilaku BABS (buang air besar sembarangan) dan meningkatkan akses sanitasi yang dilengkapi dengan pengolahan limbah domestik aman, baik melalui sistem terpusat (off-site) maupun setempat (on-site).
1
PENDAHULUAN
Desain Besar pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta 2018-2022 disusun sebagai instrumen bagi pemangku kepentingan dalam menata arah dan fokus pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik menuju pencapaian akses universal 2019 dan menuju pengelolaan air minum dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan pada 2030. Desain Besar ini diharapkan mampu menjawab realitas dan tantangan penyediaan layanan melalui sinergi dan kolaborasi antar perangkat daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
1.1
Latar Belakang
DKI Jakarta, dengan APBD tertinggi se-Indonesia, masih menghadapi permasalahan layanan dasar air minum dan sanitasi, termasuk dalam hal layanan air limbah domestik. BPS DKI mencatat pada 2015 terdapat 2,700,310 Rumah Tangga di DKI, dimana baru 703,556 Rumah Tangga yang telah berlangganan PAMMasih rendahnya Rumah Tangga yang memiliki akses layanan PAM baru mencapai 26% ini, tidak dapat disangkal penggunaan air tanah memang menjadi sangat tinggi. Data lainnya menunjukkan masih tingginya jumlah Rumah Tangga yang masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS), masih tingginya jumlah Rumah Tangga dengan jamban tanpa tangki septik aman, serta masih terbatasnya cakupan pengelolaan air limbah domestik baik secara terpusat maupun setempat.
Kondisi ini telah berakibat antara lain pada tingginya kasus diare, terutama pada anak-anak, pencemaran lingkungan, dan turut berperan pada terjadinya penurunan muka tanah. Terkait kasus diare, sebanyak 27 dari 44 Puskesmas mencatat diare termasuk 10 besar penyakit yang ditangani. Dan Selama Januari-September 2017, Rumah Sakit mencatat kasus diare pada anak usia 0-4 tahun mencapai 4.878 kasus atau 40% dari total kasus diare yang ditangani Rumah Sakit. Terkait pencemaran air, tingkat pencemaran Sungai Ciliwung tergolong tinggi. Dari 14 titik pantau di Sungai Ciliwung, konsentrasi Fecal Coliform mencapai 100.000/100 ml, di atas baku mutu yang ditetapkan yaitu, 2.000/100ml. Kondisi air tanah tercemar ditemukan di 54% dari total 197 titik pantau sedangkan kondisi air sungai tercemar ditemukan di 37% dari total 89 titik pantau. Laju penurunan muka tanah sekitar 5-12 cm per tahun juga dipengaruhi tingginya penggunaan air tanah, baik oleh kegiatan domestik maupun oleh kegiatan jasa dan bisnis lainnya.
Permasalahan layanan dasar terkait air minum dan air limbah domestik ini harus menjadi perhatian khusus dan agenda prioritas pembangunan mengingat cita-cita Jakarta yang tertuang dalam RPJPD 2005-2025 menyebutkan cita-cita Jakarta untuk menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Aman, Nyaman, Sejahtera, Produktif, Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global. Sementara visi Jakarta 2018-2022 adalah Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan, dan kesejahteraan untuk semua.
domestik, target akses universal mensyaratkan minimal 85% penduduk terlayani system setempat dan sisanya sebanyak 15% penduduk terlayani system terpusat. Selanjutnya, berdasarkan agenda SDGs, pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik ini sejalan dengan tujuan untuk menjamin ketersediaan pelayanan sanitasi dan air untuk semua, khususnya dengan sasaran untuk meningkatkan kualitas air dan untuk mencapai akses sanitasi untuk semua dan menghilangkan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Untuk itu, diperlukan suatu instrumen bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menata arah dan fokus pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik yang mampu menjawab realitas dan tantangan yang ada melalui sinergi dan kolaborasi antar perangkat daerah dan stakeholders lainnya. Instrumen yang selanjutnya disusun sebagai Desain Besar Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022 ini diharapkan membantu Pemerintah DKI Jakarta mewujudkan ketersediaan air minum dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan untuk semua.
1.2
Tujuan Penyusunan Desain Besar
Penyusunan Desain Besar bertujuan untuk:
a. Memberikan arah dan fokus upaya terpadu lintas sektor dalam meningkatkan kualitas hidup seluruh warga Jakarta melalui pembangunan layanan air minum dan pengelolaan air limbah domestik yang berkelanjutan
b. Menjadi referensi bagi berbagai institusi yang terlibat (pemerintah, swasta, mitra pembangunan) dalam perencanaan dan penganggaran program/kegiatan penyediaan layanan air minum dan air limbah domestik agar tepat sasaran dan tepat lokasi
c. Sebagai referensi bagi penyusunan RPJMD DKI Jakarta 2018-2022 untuk bidang pembangunan layanan air minum dan pengelolaan air limbah domestik
d. Mempercepat penyelesaian persoalan air minum dan air limbah domestik pada masyarakat berpenghasilan rendah atau kelompok rentan
1.3
Ruang Lingkup
Ruang lingkup wilayah dalam Desain Besar mencakup seluruh wilayah administrasi Provinsi DKI Jakarta dengan memberikan perhatian khusus pada wilayah prioritas, yaitu:
• wilayah yang belum terlayani atau
• wilayah yang ditetapkan sebagai rawan air minum dan rawan sanitasi.
Adapun ruang lingkup kajian meliputi; (1) aspek teknis/pilihan pilihan teknologi, (2) aspek sosial-ekonomi, (3) aspek pembiayaan, (4) aspek kelembagaan, (5) aspek lingkungan.
1.4
Kedudukan Desain Besar
Desain Besar ini merupakan salah satu referensi dalam proses perencanaan strategis daerah (RPJMD) dan perangkat daerah terkait (Renstra OPD) dan menjadi instrument pendukung upaya pencapaian target akses universal, SDGs, agenda global lainnya, serta target-target yang telah ditetapkan dalam kebijakan daerah, antara lain Peraturan Gubernur No 41 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pengembangan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik. Keterkaitan Desain Besar dalam konstelasi kebijakan perencanaan strategis Provinsi DKI Jakarta dan strategi pencapaian target akses universal, SDGs, dan agenda global lainnya digambarkan pada Bagan 1 berikut ini.
Gambar 1Bagan Kedudukan Desain Besar
Sebagai referensi dalam penyusunan/review RPJMD dan Renstra OPD, Desain Besar diharapkan dapat berperan sekurang-kurangnya sebagai berikut:
Bagi RPJMD, Desain Besar menjadi:
Acuan baseline dan target tahunan
Acuan penetapan isu strategis dan strategi penanganan wilayah
Acuan sinkronisasi program dan kegiatan lintas sektor dari berbagai sumber pembiayaan
Bagi Renstra OPD, Desain Besar menjadi:
Acuan pengembangan/penyesuaian program dan kegiatan (beserta lokasi-nya) yang akan dilaksanakan setiap institusi yang terlibat
1.5
Proses Penyusunan
Mekanisme penyusunan Desain Besar melalui sejumlah tahapan berikut:
a. Pengembangan Peta Interaktif; yaitu peta yang menunjukkan kondisi layanan air minum dan sanitasi/air limbah domestik per kelurahan di Jakarta. Pengembangan peta interaktif ini melibatkan perangkat daerah terkait. Setiap perangkat daerah yang memiliki data/informasi yang berhubungan dengan pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik dapat menyediakan data tsb untuk pemutakhiran peta interaktif. Peta yang dikembangkan secara bersama antar perangkat daerah ini diharapkan mampu menggambarkan kondisi terkini layanan air minum dan air limbah domestic DKI Jakarta, memberikan data terkini untuk kebutuhan analisis, perencanaan program, penyusunan skala prioritas lokus program, juga dalam pemantauan kemajuan hasil pengembangan layanan.
b. Diskusi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pelaku yang terkait dalam pengembangan layanan air minum dan air limbah domestik, melalui pertemuan dan FGD Forum Air Minum dan Penyehatan Lingkungan DKI Jakarta, untuk membahas:
Identifikasi isu dan permasalahan pokok.
Perumusan wilayah prioritas penanganan, air minum dan air limbah domestik.
c. Lokakarya partisipatif lintas OPD, kementerian, dan pelaku yang terkait dalam pengembangan layanan air minum dan air limbah domestik, untuk membahas:
Perumusan strategi dan program (intervensi) kunci
Pihak yang Terlibat:
Penyusunan Desain Besar melibatkan berbagai perangkat daerah di lingkungan Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta dan sejumlah mitra pembangunan, dengan dukungan bantuan teknis dari USAID-IUWASH PLUS.
2
KONDISI TERKINI DAN ISU
STRATEGIS PENYEDIAAN LAYANAN
AIR MINUM DAN AIR LIMBAH
DOMESTIK DKI JAKARTA
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat sampai dengan medio 20172, cakupan penduduk DKI Jakarta
yang belum terlayani air minum mencapai 45% atau sekitar 4.63 juta jiwa. Sementara terdapat sekitar 470 ribu rumah tangga (atau sekitar 14% penduduk) yang masih buang air besar sembarangan (BABS). Studi Bank Dunia3 menunjukkan bahwa 86% air limbah domestik tidak dikelola dengan aman dimana 60% di
antaranya mencemari sungai/wilayah sekitar.
2.1
Tinjauan Visi dan Misi DKI Jakarta 2018-2022
Pembangunan Provinsi DKI Jakarta pada periode 2018-2022 diselenggarakan dengan mengacu pada Visi dan Misi Kepala Daerah terpilih, sebagaimana dituangkan dalam RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2017-2022.
Visi DKI Jakarta 2018-2022, yaitu Jakarta kota maju, lestari, dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan, dan kesejahteraan untuk semua, akan diwujudkan melalui misi berikut:
1. Menjadikan Jakarta kota yang aman, sehat, cerdas, berbudaya, dengan memperkuat nilai-nilai keluarga dan memberikan ruang kreativitas melalui kepemimpinan yang melibatkan, menggerakkan dan memanusiakan.
2. Menjadikan Jakarta kota yang memajukan kesejahteraan umum melalui terciptanya lapangan kerja, kestabilan dan keterjangkauan kebutuhan pokok, meningkatnya keadilan sosial, percepatan pembangunan infrastruktur, kemudahan investasi dan berbisnis, serta perbaikan pengelolaan tata ruang.
3. Menjadikan Jakarta tempat wahana aparatur negara yang berkarya, mengabdi, melayani, serta menyelesaikan berbagai permasalahan kota dan warga, secara efektif, meritokratis dan berintegritas.
4. Menjadikan Jakarta kota yang lestari, dengan pembangunan dan tata kehidupan yang memperkuat daya dukung lingkungan dan sosial.
5. Menjadikan Jakarta ibukota yang dinamis sebagai simpul kemajuan Indonesia yang bercirikan keadilan, kebangsaan, dan kebhinekaan
layanan air minum dan air limbah domestik. Kondisi yang harus diwujudkan ini selanjutnya menjadi arah/orientasi hasil pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta.
Kondisi yang berkaitan erat dan menjadi arah/orientasi hasil pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik, adalah :
1. Jakarta yang Sehat;
Jakarta yang Sehat dimaknai dengan menurunnya angka kejadian penyakit. Sehingga pembangunan layanan air minum dan sanitasi diarahkan agar berkontribusi dalam penurunan angka kejadian penyakit yang diakibatkan/ditularkan air dan sanitasi yang buruk
2. Jakarta yang Cerdas
Jakarta yang Cerdas dimaknai dengan ‘brain development’ yang dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan dan tingginya tingkat kehadiran siswa di sekolah untuk penciptaan generasi penerus yang lebih berkualitas. Sehingga pembangunan layanan air minum dan sanitasi diarahkan agar berkontribusi pada penurunan resiko diare pada (i) anak-anak usia sekolah, (ii) ibu hamil, (iii) anak-anak usia di bawah 2 tahun.
Pencegahan diare berulang pada ibu hamil dan anak-anak usia di bawah dua tahun ditujukan untuk menurunkan resiko stunting yang nantinya mempengaruhi kemampuan belajar dan kecerdasan anak.
3. Jakarta yang Bermartabat dan memajukan kesejahteraan umum;
Jakarta yang bermartabat dimaknai dengan tidak ada lagi warga yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan seluruh warga terpenuhi layanan dasar air minum dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan. Sehingga pembangunan layanan air minum dan sanitasi diarahkan agar berkontribusi pada pemenuhan layanan dasar air minum dan sanitasi aman bagi semua warga.
4. Jakarta yang Lestari;
Jakarta yang lestari dimaknai dengan terpeliharanya daya dukung lingkungan dalam menunjang berbagai aktivitas kota. Sehingga pembangunan layanan air minum dan sanitasi diarahkan agar berkontribusi pada
Tersedianya sumber air baku
Hasil pengolahan air limbah yang memenuhi baku mutu
Turunnya secara signifikan tingkat pencemaran sumber air baku Terkendalinya penggunaan air tanah di DKI Jakarta
2.2
Kondisi Terkini Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik
Provinsi DKI Jakarta dengan luas wilayah 662.33 Km2 (berdasarkan RKPD Tahun 2016) terdiri dari 6
kota/kabupaten, 44 kecamatan, dan 267 kelurahan. Dengan populasi lebih dari 10.2 juta jiwa pada Tahun 2015, TNP2K mencatat 9.7% atau 992,308 jiwa diantaranya sebagai penduduk dengan kondisi kesejahteraan 40% terendah di Indonesia (Below 40%/B40%).
2.2.1 Kondisi Layanan Air Minum
Tinjauan terhadap kondisi layanan air minum dilakukan terhadap indikator layanan sbb:
1. Cakupan akses air minum perpipaan; secara total penduduk terlayani dan pada kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah/MBR
Tingkat akses
Tingkat konsumsi air minum perpipaan
Persentase air tidak berekening (non-revenue water) PAM Jaya Ketersediaan air baku
2. Cakupan akses air minum bukan perpipaan
Tingkat akses terhadap air minum bukan perpipaan Tingkat penggunaan air tanah
Kerawanan/resiko penggunaan air tanah/sungai tercemar
Cakupan Akses Air Minum Perpipaan
Cakupan penduduk DKI Jakarta yang telah memiliki akses terhadap air minum ditampilkan dalam Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1 Cakupan Akses Air Minum DKI Jakarta, 2015
No Perihal Rumah Tangga* Rumah Tangga
Berpenghasilan Rendah**
1 Jumlah penduduk (Rumah Tangga) 2,700,310 264,788
2 Jumlah pelanggan perpipaan/ledeng (Rumah Tangga dan Rusunawa)
721,882 81,960
3 Jumlah penduduk dengan akses non perpipaan 683,745 72,320
4 Cakupan akses air minum aman 55%*** 58%
5 Cakupan akses perpipaan terhadap total Rumah Tangga
27% 31%
* Bersumber BPS DKI Jakarta, 2016 dan Olah Data Susenas 2016
** Bersumber TNP2K
*** RPJMD DKI Jakarta 2018-2022
Cakupan akses air minum perpipaan baru menjangkau 27% dari total rumah tangga. Masih terbatasnya cakupan akses air minum perpipaan ini menjadikan 73% rumah tangga di Jakarta harus mengandalkan air tanah atau air sungai sebagai sumber air minumnya. Tabel 1 juga menunjukkan bahwa meskipun cakupan akses air minum aman pada kelompok MBR (58%) relatif lebih baik dibandingkan rumah tangga pada umumnya (55%), MBR relatif tetap lebih sulit menjangkau layanan air minum perpipaan. Hanya 31% dari seluruh rumah tangga berpenghasilan rendah—atau setara 3% dari seluruh rumah tangga— yang telah memiliki akses terhadap layanan air minum perpipaan. Kondisi ini menunjukkan perlunya keberpihakan layanan perpipaan bagi MBR.
Tingkat konsumsi air minum perpipaan sangat tinggi. Badan Regulator PAM mencatat bahwa pada tahun 2015, rata-rata konsumsi air minum per pelanggan adalah 33.5 m3/bulan. Hal ini setara
dengan 223 liter/orang/hari, dua kali lipat lebih tinggi dari standar konsumsi air minum perkotaan4
sebesar 120 liter/orang/hari. Data ini menunjukkan pola/perilaku masyarakat dalam penggunaan air yang kurang bijak, sangat boros, dan kurang peduli atas keberlanjutan ketersediaan air bersih. Di sisi lain, data ini juga menunjukkan perlunya pembenahan pengelolaan layanan air minum guna mencegah pemborosan air oleh sebagian kecil cakupan rumah tangga yang telah menikmati layanan air minum perpipaan (27% dari total rumah tangga).
Persentase air tidak berekening (non-revenue water) PAM Jaya masih tinggi. Berdasarkan laporan Kinerja PDAM Tahun 2015, tingkat kehilangan air/persentase air tidak berekening PAM Jaya mencapai 42%. Tingkat air tidak berekening ini 2 kali lipat lebih tinggi dari batas yang diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum, bahwa batas maksimal kebocoran air bersih untuk PAM sebesar 20%.
Gambar 2 Rencana Pengembangan Air Minum DKI Jakarta 2017-2030 Sumber: PAM Jaya, 2017
Cakupan Akses Air Minum Bukan Perpipaan
Tinjauan sebelumnya terhadap cakupan layanan air minum menunjukkan 73% rumah tangga di DKI Jakarta belum menggunakan akses air minum perpipaan. Sumber air yang digunakan rumah tangga ini termasuk air tanah dan sungai. Tingginya penggunaan air tanah ini telah turut berpengaruh pada laju penurunan laju muka tanah. Menurut catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jakarta mengalami penurunan muka tanah 5-12 cm per tahun.
Selain terkait penurunan muka tanah, tingginya tingkat penggunaan air tanah ini perlu menjadi perhatian mengingat tingginya tingkat pencemaran air, baik pada air sungai maupun air tanah tersebut. Penggunaan sumber air tercemar tentunya mengancam kesehatan warga Jakarta. Data hasil pemantauan kualitas air Sungai Ciliwung pada 14 titik pantau menunjukkan konsentrasi Fecal Coliform mencapai 100.000/100 ml, di atas baku mutu yang ditetapkan yaitu, 2.000/100ml. Kondisi kualitas air tanah dan air sungai DKI Jakarta hasil pemantauan tahun 2015 ditampilkan Tabel 2 dan Tabel 3 berikut ini.
Gambar 3 Peta Kelurahan dengan Rumah Tangga (RT) yang memiliki Akses Ledeng Terbatas dan berada di Wilayah dengan Status Kualitas Air Tanah/Sungai Parah, dan
masih dalam Wilayah dengan Jaringan PAM Jaya
Gambar 4 Peta Kelurahan dengan MBR (Rumah Tangga) yang memiliki Akses Ledeng Terbatas dan berada di Wilayah dengan Status Kualitas Air Tanah/Sungai Parah, dan
masih dalam Wilayah dengan Jaringan PAM Jaya
Gambar 5 Peta Rumah Tangga di Kepulauan Seribu dengan Akses Air Minum dan Sanitasi Sangat Rendah
2.2.2 Kondisi Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik
Tinjauan terhadap kondisi layanan pengelolaan air limbah domestik dilakukan terhadap indikator layanan sbb:
1. Cakupan akses jamban dan cakupan penduduk yang telah mengakses layanan pengolahan lumpur tinja; secara total penduduk dan pada kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah/MBR atau kelompok B40%
2. Dampak dari kondisi layanan pengelolaan air limbah domestik
Cakupan Akses Jamban Sehat
Berdasarkan data STBM (http://www.stbm-indonesia.org/monev/), sampai dengan 27 Oktober 2017, cakupan penduduk DKI Jakarta berdasarkan akses terhadap jamban ditampilkan pada Gambar 7 berikut ini.
Kelurahan Pulau Untung Jawa
Kelurahan Pulau Panggang Kelurahan Pulau Kelapa
Gambar 6 Cakupan Warga DKI Jakarta (%) Berdasarkan Akses Thd Jamban
Sumber: olah data STBM pada http://www.stbm-indonesia.org/monev/
Data tsb menyatakan, sampai dengan 27 Oktober 2017, baru 86% warga DKI yang sudah menggunakan jamban. Kepemilikan jamban baru mencapai 82%, dimana 7%-nya tergolong sanitasi dasar. Terdapat 14% warga yang masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS), atau ini setara dengan 470 ribu KK.
Pada rumah tangga miskin/MBR, berdasarkan data 2015 (TNP2K), cakupan kepemilikan jamban baru 61%, dan 53% dari total MBR telah memiliki tangki septik/IPAL. Jika dibandingkan dengan rumah tangga pada umumnya, maka dapat dikatakan MBR memang lebih sulit memiliki jamban demikian pula halnya dengan tangki septiknya.
Gambar 7 Peta Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jamban
Sumber: Peta Interaktif 2017 – data dikumpulkan dari berbagai sumber
75
7 4 14
0 20 40 60 80 100
Jamban Sehat Permanen
Jamban Sehat Semi Permanen
Gambar 8 Peta Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Tangki Septik
Sumber: Peta Interaktif 2017 – data dikumpulkan dari berbagai sumber
Cakupan Penduduk yang Telah Mengakses Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik
Sampai dengan 2016, akses layanan pengelolaan air limbah domestic, berdasarkan data PD PAL, baru menjangkau 13.52% warga Jakarta, terdiri dari 10.08% dengan layanan terpusat (off-site), dan 3,44% dengan layanan setempat (on-site). Dengan kata lain, 86% air limbah domestik penduduk Jakarta memang belum mendapatkan penanganan yang sesuai.
lumpurnya ke IPLT. Jika merujuk pada hasil study WSP, 17% dari penyedotan lumpur tinja ini dibuang secara illegal (illegally dumped). Praktik ini sama berbahayanya dengan praktik memiliki jamban namun tanpa pengolahan (mis. Septic tank) karena berpotensi besar untuk mencemari badan air.
Gambar 10 Diagram Alur Tinja di Jakarta Sumber: WSP, Bank Dunia, 2016
Masih tingginya jumlah warga yang Buang Air Besar Sembarangan, jumlah rumah tangga yang belum dilengkapi dengan tangki septik yang aman, serta masih terbatasnya cakupan layanan pengelolaan air limbah domestik, menjadikan tingginya tingkat pencemaran air dan tingginya volume air sisa penggunaan yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Hal ini juga selanjutnya mengurangi peluang pemenuhan kebutuhan air dari hasil pengolahan air limbah domestik.
Dampak dari Kondisi Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik
Tinjauan terhadap kondisi akses sanitasi dan layanan pengelolaan air limbah domestik DKI Jakarta ini, jika dibandingkan dengan kondisi 2012-2013, relatif tidak jauh berbeda. Hasil studi Bank Dunia, menggunakan data 2012-2013, menunjukkan kondisi yang masih relevan dengan kondisi saat ini.
Sebanyak 27 dari total 44 Puskesmas di wilayah DKI Jakarta, mencatat diare sebagai satu dari 10 penyakit paling banyak ditangani Puskesmas. Proporsi Puskesmas dengan catatan diare termasuk 10 penyakit paling banyak ditangani berada pada kisaran 50%-75%, dimana paling tinggi di Jakarta Barat (75%) dan Jakarta Timur (70%). Tidak hanya di Puskesmas, Rumah Sakit pun mencatat kasus diare (Gastro Entheritis/GE) sebagai penyakit yang harus menjadi perhatian. Selama Januari-September 2017, kasus diare yang ditangani Rumah Sakit berjumlah 12,079 kasus, dengan jumlah kasus terbanyak di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Tinjauan terhadap usia pasien diare, 40% kasus diare terjadi pada anak-anak usia 0-4 tahun, dan jumlah kasus diare pada anak-anak ini terbanyak berada di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara (berdasarkan hasil olah data http://surveilans-dinkesdki.net).
Diare pada anak-anak ini, terutama pada anak-anak usia 0-2 tahun perlu dicegah dan/atau dikendalikan untuk mencegah/mengurangi resiko terjadinya stunting, sebagai salah satu upaya menciptakan generasi yang sehat dan cerdas.
2.3
Isu Strategis Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah
Domestik DKI Jakarta
Berdasarkan tinjauan kondisi terkini layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama layanan air minum dan air limbah DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
Permasalahan layanan air minum, meliputi:
1. Terbatasnya akses air minum perpipaan bagi MBR;
2. Terbatasnya cakupan layanan air minum perpipaan
3. Masih tingginya tingkat air tidak berekening/non-revenue water pada layanan operator
4. Penggunaan air tanah yang masih sangat tinggi sehingga memperparah laju penurunan muka tanah 5. Ketersediaan sumber air baku yang layak dan berkelanjutan
Permasalahan layanan pengelolaan air limbah domestik, meliputi:
1. Belum dilakukan/efektifnya upaya perubahan perilaku melalui pemicuan dan pasca pemicuan menuju Stop BABS dan 4 pilar STBM lainnya, promosi, dan edukasi masyarakat
2. Terbatasnya kepemilikan jamban pada MBR
3. Masih tingginya jumlah rumah tangga yang belum dilengkapi tangki septik yang aman
4. Terbatasnya cakupan layanan SPALD baik terpusat maupun setempat
Dikaitkan dengan visi dan misi DKI Jakarta 2018-2022, maka rumusan isu strategis dalam pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
1. Ketersediaan air baku;
Untuk itu, diperlukan dukungan teknologi dan kebijakan/regulasi dalam mendorong perubahan perilaku penggunaan air oleh pelanggan, upaya menangkap air hujan di seluruh wilayah, upaya meningkatkan fungsi waduk, sungai, serta meningkatkan keterkaitan kinerja di antara PDPAL dengan PAM Jaya.
2. Akses masyarakat pada air minum yang aman;
Cakupan akses air minum yang bersih dan berkelanjutan baru menjangkau 51% warga Jakarta. Hanya 27% rumah tangga di Jakarta yang telah menggunakan layanan air minum perpipaan meskipun cakupan wilayah yang telah dilayani PAM Jaya mencapai 60%. Dengan demikian, 73% rumah tangga di Jakarta menggunakan air tanah/sungai, yang sebagian dari warga tersebut berada di wilayah dengan kondisi air tanah/sungai buruk. Ekspansi layanan dan promosi penggunaan air minum dari sumber yang aman dinilai harus segera dilakukan guna mengurangi resiko penggunaan air tanah tercemar serta mengurangi tingkat penggunaan air tanah itu sendiri.
Diperlukan tinjauan kembali atas kemampuan layanan sistem pelayanan air minum yang ada saat ini, baik dari sisi teknis, pembiayaan, dan kewenangan pengembangan pilihan layanan guna mengoptimalkan sistem layanan saat ini. Hal berikutnya yang diperlukan adalah edukasi dan promosi bagi warga untuk beralih ke layanan jaringan perpipaan atau beralih menggunakan sumber air yang aman, dengan dukungan penegakan aturan/kebijakan untuk memastikan setiap warga menggunakan sumber air minum yang aman dan berkelanjutan.
3. Layanan air minum aman bagi rumah tangga berpenghasilan rendah/MBR dan
kawasan prioritas butuh air minum, termasuk di Kep. Seribu;
Baru sekitar 31% rumah tangga yang tergolong MBR yang telah mengakses layanan PAM Jaya. Sedangkan di Kepulauan Seribu, kemampuan layanan air minum saat ini terbatas hanya untuk kebutuhan domestik. Pengembangan layanan air minum di Kepulauan Seribu sangat dibutuhkan terutama untuk menunjang pengembangan layanan publik lainnya seperti pembangunan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan perkantoran/jasa/usaha lainnya.
Bagi MBR, diperlukan pilihan layanan dan pembiayaan. Sedangkan bagi Kepulauan Seribu, diperlukan pilihan-pilihan teknologi dan sumber air baku yang memungkinkan pembiayaan tetap memenuhi prinsip cost-effectiveness, termasuk dalam hal pengelolaan operasi dan pemeliharaan-nya.
4. Akses layanan Sistem Pelayanan Air Limbah Domestik (SPALD) aman melalui
sistem off-site (terpusat);
Cakupan layanan SPALD melalui sistem terpusat dan komunal baru menjangkau sekitar 10% penduduk dari target 23% pada akhir 2020 dan 65% pada akhir 2022 (Peraturan Gubernur No 41 Tahun 2016).
Selanjutnya, diperlukan upaya terintegrasi dalam menangani rumah tangga yang belum memiliki jamban yang berada di zona-zona prioritas penanganan Tahun 2012-2022, terutama dalam hal:
Promosi perubahan perilaku dan penggunaan jamban sehat permanen Meningkatkan kesiapan rumah tangga menyambung ke jaringan
5. Akses masyarakat pada layanan SPALD aman, terutama untuk MBR dan kawasan
prioritas, melalui sistem on-site (setempat)
Cakupan layanan SPALD melalui sistem setempat baru menjangkau sekitar 3.44% penduduk.
Mempertimbangkan masih tingginya jumlah rumah tangga yang belum dilengkapi jamban sehat dengan tangki septik aman, maka penanganan isu ini memerlukan:
Upaya perubahan perilaku
Promosi dan edukasi masyarakat tentang sanitasi aman melalui sistem setempat individu/komunal
Promosi pilihan jamban sehat permanen (dilengkapi tangki septik aman) dan komunal, dengan layanan penyedotan lumpur tinja terjadwal di zona yang belum prioritas sampai dengan 2022
Kelima isu strategis tersebut selanjutnya menjadi dasar pengembangan strategi penanganan, dengan mempertimbangkan aspek pilihan teknologi, kelembagaan, pembiayaan, sosial-ekonomi masyarakat, dan aspek lingkungan.
2.4
Kebutuhan, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Layanan Air
Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta
2.4.1 Kebutuhan
Berdasarkan lima isu strategis yang dikemukakan sebelumnya, pengembangan strategi, program, dan kegiatan terpadu pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta perlu mempertimbangkan sejumlah kebutuhan berikut:
1. Optimasi sistem layanan saat ini;
Pada layanan air minum, optimasi sistem layanan eksisting meliputi upaya penghematan konsumsi air oleh pelanggan, penurunan tingkat kebocoran/kehilangan air (non-revenue water) oleh operator, peningkatan kualitas layanan jaringan perpipaan, dan promosi layanan jaringan perpipaan untuk memperbesar cakupan rumah tangga dengan sambungan rumah di wilayah yang telah dilalui jaringan pipa PAM Jaya.
ditetapkan sebelumnya dan mampu menyesuaikan dengan prioritas kebutuhan layanan selama 2018-2022.
2. Ekspansi layanan menuju 100% akses air minum dan sanitasi aman dan
berkelanjutan;
Pada layanan air minum maupun air limbah domestik, ekspansi perlu mempertimbangkan indikator yang ditetapkan, baik pada agenda akses universal, maupun agenda SDGs.
Dikaitkan dengan tingginya cakupan warga yang masih menggunakan air tanah, maka ekspansi layanan air minum perlu didahului dengan pemetaan kembali zona-zona beresiko penyedotan air tanah tinggi/intensif. Selanjutnya, ekspansi layanan ini memerlukan perbaikan kualitas layanan jaringan perpipaan, fasilitasi percepatan pengembangan sarana-prasarana, promosi/edukasi warga untuk beralih ke layanan perpipaan, serta dukungan pengawasan/penegakan aturan penyedotan air tanah, terutama pada kawasan yang air tanahnya tercemar.
Bagi kawasan yang tidak memungkinkan dilayani dengan jaringan perpipaan, maka pilihan-pilihan layanan Bukan Jaringan Perpipaan (BJP) perlu dikembangkan dan diterapkan.
Ekspansi layanan air limbah domestik sangat memerlukan dukungan upaya perubahan perilaku masyarakat. Perubahan perilaku ini menjadi salah satu prasyarat pokok dalam mewujudkan sanitasi total yang aman dan berkelanjutan. Kebutuhan berikutnya dalam ekspansi layanan air limbah domestik ini adalah percepatan perluasan layanan jaringan system terpusat (off-site), peningkatan kualitas layanan baik secara terpusat maupun setempat (on-site), pengembangan dan diseminasi pilihan jamban sehat dan tangki septik yang siap menuju jaringan terpusat dan/atau komunal, serta promosi penggunaan tangki septik aman dan penyedotan berkala di wilayah yang tidak dilayani jaringan terpusat.
3. Pemenuhan kebutuhan air baku
Kebutuhan dalam pemenuhan kebutuhan air baku meliputi upaya penghematan konsumsi air (yang selanjutnya juga menghemat air yang dibuang), upaya penurunan tingkat kebocoran/kehilangan air oleh operator, revitalisasi waduk/embung untuk berfungsi sesuai desain sebagai prasarana tangkapan air dan sumber air baku, normalisasi sungai, kerjasama antar daerah dalam memelihara/meningkatkan kuantitas dan kualitas air sungai, serta kebutuhan untuk pengembangan sumber air baku alternatif (optimasi bauran air domestik).
4. Penerapan/penyesuaian:
Kebutuhan penerapan/penyesuaian yang dimaksud meliputi:
1. Pilihan teknologi layanan untuk kelompok sasaran dan wilayah prioritas
2. Pilihan pembiayaan layanan
3. Dukungan regulasi dan kelembagaan
Perilaku hemat air dan penggunaan hasil bauran air domestic (untuk kebutuhan tertentu) Pengolahan air minum rumah tangga (PAM RT) yang tepat untuk mencegah diri, keluarga, dan
lingkungan dari resiko penyakit akibat konsumsi air yang tidak aman/layak
Penggunaan jamban sehat permanen, tangki septik aman, dan layanan pengolahan air limbah aman, baik melalui sistem terpusat, komunal, maupun setempat
Pengoperasian dan pemeliharaan sarana pelayanan air minum ataupun sarana pengelolaan air limbah domestik komunal
Penyediaan sarana water recharge (sumur resapan, sumur retensi, lubang biopori) Penyediaan lahan untuk mendukung percepatan pengembangan sarana-prasarana
2.4.2 Tantangan dan Peluang
Memperhatian uraian kebutuhan di atas dan sejumlah hasil review, lokakarya/pembahasan tentang pelaksanaan program pembangunan terkait layanan air minum dan pengelolaan air limbah DKI Jakarta, dapat disimpulkan bahwa tantangan utama pembangunan layanan air minum dan air limbah DKI Jakarta ini terletak pada:
Skala prioritas isu air minum dan air limbah dalam penyelenggaraan pembangunan
Keberpihakan layanan air minum dan air limbah pada kelompok MBR, Kepulauan Seribu, dan masyarakat yang berada di kawasan rawan air minum dan rawan sanitasi
Keterpaduan program dan kegiatan dari berbagai stakeholder, yaitu perangkat daerah Provinsi DKI Jakarta, mitra pembangunan, masyarakat, dan dunia usaha.
Adapun peluang utama bagi pembangunan layanan air minum dan air limbah DKI Jakarta ini terletak pada:
1. Keselarasan dengan misi pembangunan DKI Jakarta 2018-2022
2. Agenda Nasional Universal Akses, Sustainable Development Goals, dan Agenda Global lainnya
3
TUJUAN DAN TARGET PENYEDIAAN
LAYANAN AIR MINUM DAN AIR
LIMBAH DOMESTIK DKI JAKARTA
Pentahapan menuju layanan air minum dan air limbah domestik yang aman dan berkelanjutan selama 2018-2022 mengenal 3 (tiga) fase, fase akselerasi (2018-2019), fase peningkatan kualitas layanan (2020-2021), dan fase pemantapan kualitas layanan (2022). Setiap tahapan/fase memiliki target tertentu dan strategi pokok. Target dan strategi pokok di setiap fase ini selanjutnya menjadi panduan formulasi program dan kegiatan beserta target hasil yang terukur.
3.1
Tujuan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah
Domestik DKI Jakarta 2018-2022
Tujuan pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta 2018-2022 disusun berdasarkan visi dan misi pembangunan DKI Jakarta 2018-2022. Misi yang paling berkaitan erat dengan fungsi layanan air minum dan pengelolaan air limbah adalah misi pertama, misi kedua, dan misi keempat, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4 Visi-Misi DKI Jakarta dan Tujuan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik 2018-2022
Misi Tujuan Sasaran Indikator Sasaran
Misi Tujuan Sasaran Indikator Sasaran ditampilkan pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5 Target Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022
No Indikator Sasaran Baseline 2015 Target 2022
1 Cakupan akses air minum aman 55.5%5 85%
Cakupan akses air minum aman pada MBR 58% 85%
Cakupan akses air minum perpipaan 27% 55%
Cakupan akses air minum perpipaan pada MBR 31% 61%
2 Cakupan akses jamban sehat 75%6 100%
Cakupan akses jamban sehat pada MBR 61% 100%
Cakupan akses layanan SPALD terpusat 10% 25%
Cakupan akses layanan SPALD setempat 3% 35%
3 Cakupan Rumah Tangga stop BABS 86% 100%
4 % Pemenuhan kebutuhan air baku 82%7 100%
5 % Pemenuhan baku mutu effluent n.a 100%
Dengan pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik ini, diharapkan muka air tanah terpelihara pada level aman dan prevalensi diare dapat dikurangi menuju zero prevalence.
Berdasarkan target tersebut, dilakukan pentahapan pembangunan dan penegasan prioritas penanganan di setiap tahapan.
3.2
Pentahapan Pembangunan Layanan Air Minum dan Limbah
Domestik DKI Jakarta 2018-2022
yang ditetapkan nasional ataupun yang ditetapkan Pemerintah DKI Jakarta. Adapun fase pemantapan ditujukan untuk mempertahankan/memelihara kualitas layanan air minum dan air limbah domestik sebagai bagian dari upaya pencapaian target SDGs 2030.
Gambar 11 Pentahapan Pembangunan Layanan Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022
akses air minum dan sanitasi aman
2018-2019 (Fase
Akselerasi) 2020-2021 2022
TARGET
75% akses air minum aman
100% akses jamban sehat
100% warga Stop BABS
45% akses air minum perpipaan
40% akses air minum non perpipaan
23% layanan SPALD Terpusat
10% layanan SPALDSetempat
Perluasan jaringan layanan air minum perpipaan dan layanan
Pengurangan penggunaan air tanah di kawasan air tanah
Pemanfaatan hasil olahan grey water dan black water sebagai air baku
Lanjutan optimalisasi bauran air domestik
Perubahan perilaku menuju Stop BABS, hemat air, dan penggunaan air minum dan sanitasi aman
Promosi dan edukasi water
recharging
Lanjutan pembinaan dan pendampingan peran serta masyarakat
Pengembangan/penerapan pilihan teknologi layanan air minum dan air limbah domestik bagi Kep. Seribu
Adapun yang dimaksud dengan kawasan prioritas adalah yang memenuhi kriteria sbb:
a. Terbatasnya akses pada air minum dan air limbah (santasi) dari jenis layanan apapun,
b. Kualitas dan kuantitas air tanah/sumur termasuk kategori buruk, c. Banyaknya MBR yang masih belum memiliki akses,
d. Tingkat penyakit berbasis lingkungan yang tinggi,
Gambar 12 Peta Kawasan Prioritas Air Minum dan Kawasan Prioritas Sanitasi
Tabel 6 Daftar 27 Kelurahan Kawasan Prioritas Air Minum dan Sanitasi
No KOTA KECAMATAN KELURAHAN
1 Jakarta Utara Penjaringan Kamal Muara
2 Jakarta Timur Pulo Gadung Kayu Putih*
3 Jakarta Utara Penjaringan Penjaringan
4 Jakarta Selatan Tebet Tebet Barat*
5 Jakarta Selatan Mampang Prapatan Kuningan Barat
6 Jakarta Pusat Sawah Besar Mangga Dua Selatan
7 Jakarta Pusat Tanah Abang Karet Tengsin
8 Jakarta Timur Jatinegara Cipinang Besar Utara
9 Jakarta Barat Taman Sari Maphar
10 Jakarta Utara Pademangan Ancol
11 Jakarta Utara Cilincing Kali Baru
12 Jakarta Pusat Tanah Abang Bendungan Hilir
13 Jakarta Pusat Senen Kramat
14 Jakarta Barat Tambora Duri Utara
15 Jakarta Selatan Kebayoran Baru Gandaria Utara
16 Jakarta Utara Koja Koja
17 Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu Utara Pulau Panggang 18 Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu Utara Pulau Kelapa 19 Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu Selatan Pulau Untung Jawa* 20 Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu Utara Pulau Harapan
21 Jakarta Selatan Kebayoran Baru Gunung
22 Jakarta Pusat Sawah Besar Pasar Baru
23 Jakarta Utara Tanjung Priok Tanjung Priok
24 Jakarta Barat Tambora Duri Selatan
25 Jakarta Barat Taman Sari Keagungan
26 Jakarta Barat Tambora Pekojan
27 Jakarta Barat Taman Sari Pinangsia
Sumber: Peta Interaktif DKI Jakarta, IUWASH-PLUS, 2017 Tidak termasuk kawasan rawan sanitasi
Daftar kelurahan kawasan prioritas menggunakan data 2010 dari BPS DKI Jakarta dan data terpadu 2015 dari TNP2K untuk akses Rumah Tangga Kelompok MBR.
4
STRATEGI PEMBANGUNAN
LAYANAN AIR MINUM DAN AIR
LIMBAH DOMESTIK DKI JAKARTA
Strategi disusun berdasarkan isu strategis untuk mencapai target di setiap tahapan pembangunan layanan air minum dan air limbah domestik DKI Jakarta. Masing-masing strategi selanjutnya menjadi dasar perumusan program/intervensi kunci.
4.1
Strategi Penyediaan Air Baku
Sebagaimana dikemukakan pada Bab 2, bahwa dengan rencana yang ada untuk pengelolaan air baku selama 2017-2030, Jakarta masih akan mengalami defisit air baku sampai dengan 2029. Untuk itu, strategi penyediaan air baku perlu dikaji kembali dengan mengevaluasi pengelolaan permintaan (demand management), strategi penyediaan, dan dukungan kebijakan yang ada.
Dalam Desain Besar ini, penyediaan air baku dilakukan melalui tiga strategi, yaitu: 1. Efisiensi pengelolaan oleh operator dan konsumsi air oleh masyarakat 2. Optimalisasi pemanfaatan sumber air yang tersedia saat ini
3. Pengembangan sumber air alternatif (optimasi bauran air domestik)
dengan PDAM Kab. Tangerang, dan akan dijajagi dengan PDAM Kota Tangerang, dan jika memungkinkan dengan PDAM-PDAM lain di sekitar DKI Jakarta.
Pengembangan sumber air alternatif (optimasi bauran air domestik) dilakukan untuk meningkatkan cadangan air yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air untuk penggunaan non konsumsi (seperti flushing, siram tanaman, kebersihan lingkungan), sehingga meningkatkan ketersediaan air bersih untuk penggunaan konsumsi (seperti minum, masak, mandi). Optimasi bauran air domestik ini dilakukan dengan memastikan air hasil pengolahan (efluent) grey water dan black water sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan agar dapat digunakan kembali. Untuk itu, dukungan kebijakan dalam pemanfaatan hasil pengolahan grey water dan black water oleh operator/penyedia layanan dan masyarakat perlu disediakan.
Strategi pengembangan sumber air alternatif ini juga berkaitan erat dengan upaya konservasi air tanah dan upaya pemanenan air hujan. Konservasi air tanah ditujukan untuk meningkatkan cadangan air tanah, yang pada kurun waktu tertentu akan meningkatkan cadangan air permukaan. Sedangkan pemanenan air hujan ditujukan untuk memaksimalkan manfaat air hujan sebagai sumber air baku alternatif. Sumber air alternatif lain yang saat ini sudah digunakan adalah air laut untuk wilayah-wilayah di Kepulauan Seribu, namun skala ekonomis dan pengelolaannya masih harus dikaji ulang agar dapat menjadi layanan yang berkelanjutan dan terjangkau.
4.2
Strategi Perluasan Akses Masyarakat pada Air Minum Aman
Sekitar 45% penduduk Jakarta belum memiliki akses terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan. Hanya 27% penduduk Jakarta yang telah menggunakan layanan perpipaan (PAM Jaya). Mempertimbangkan target Akses Universal air minum dan sanitasi 2019, tentunya percepatan perluasan akses air minum aman ini mutlak diperlukan.
Penanganan isu akses masyarakat pada air minum yang aman akan ditempuh melalui 2 strategi, yaitu percepatan perluasan akses air minum aman melalui jaringan perpipaan dan non-perpipaan dan pengurangan penggunaan air tanah, terutama di kawasan-kawasan yang air tanahnya tercemar.
Percepatan perluasan akses air minum perpipaan akan dilakukan melalui perluasan layanan air minum perpipaan dan promosi konversi air tanah ke air minum perpipaan di wilayah-wilayah yang sudah dilalui jaringan perpipaan (60% dari wilayah DKI Jakarta) melalui pemenuhan kebutuhan pengembangan instalasi pengolahan air minum (water treatment plan/WTP) dan pengembangan jaringan, terutama di kawasan kualitas air tanah buruk. Strategi percepatan perluasan akses ini selanjutnya diimbangi dengan pembatasan penggunaan air tanah, terutama di kawasan yang air tanahnya tercemar, sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat dari resiko penyakit.
Pada kawasan yang masih sulit dijangkau oleh jaringan perpipaan dan kualitas air tanah buruk, pembatasan penggunaan air tanah ini akan dilakukan dengan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Bukan Jaringan Perpipaan/SPAM BJP8 seperti penampungan air hujan, atau sistem penyediaan
4.3
Strategi Perluasan Akses Layanan bagi MBR dan Kawasan
Prioritas Butuh Air Minum
Cakupan akses air minum aman pada MBR baru mencapai 58%, dan hanya 31% dari MBR ini yang telah menggunakan layanan perpipaan (PAM Jaya). Di Kepulauan Seribu, kemampuan layanan air minum saat ini terbatas hanya untuk kebutuhan domestik.
Layanan bagi MBR dan warga di Kepulauan Seribu menjadi prioritas penanganan mengingat kelompok ini adalah kelompok yang paling terbatas akan pilihan akses air minum yang aman dan berkelanjutan. Selanjutnya, layanan pada kawasan yang termasuk kawasan rawan air minum juga menjadi prioritas penanganan selama 2018-2022. Layanan bagi prioritas kelompok sasaran dan kawasan prioritas diarahkan melalui layanan air minum perpipaan.
Strategi yang ditempuh untuk penanganan isu ini meliputi pengembangan teknologi yang sesuai untuk Kep. Seribu, pengembangan pilihan layanan air minum perpipaan bagi MBR dan/atau kawasan prioritas butuh air minum, serta pengembangan bertahap sesuai skala prioritas. Pengembangan teknologi untuk Kep Seribu ditujukan untuk menyediakan pilihan teknologi yang paling layak diterapkan untuk kondisi Kep. Seribu, termasuk dalam hal pengelolaan operasional dan pemeliharaannya. Pengembangan pilihan layanan air minum perpipaan bagi prioritas kelompok sasaran dan kawasan prioritas ditujukan untuk menyediakan solusi atas kendala mengakses layanan yang selama ini dialami kelompok MBR ataupun kawasan-kawasan rawan air minum, antara lain kendala teknis mengakses jaringan, dan kendala pembiayaan. Salah satu pilihan yang sudah dilakukan untuk kelompok MBR ini adalah layanan master meter atau sambungan induk.
Strategi pengembangan layanan sesuai skala prioritas ditujukan untuk memastikan lokasi pelaksanaan program dan kegiatan mengikuti skala prioritas kelompok sasaran dan kawasan prioritas. Untuk itu, daftar kawasan prioritas pembangunan air minum (dan sanitasi) perlu ditetapkan sebagai acuan bersama lintas sektor dan lintas program.
4.4
Strategi Perluasan Akses Layanan SPALD Sistem Terpusat
Secara umum, strategi perluasan layanan SPALD selama 2018-2022 diarahkan untuk menyediakan layanan SPALD sistem terpusat (off site) bagi sekurang-kurangnya 25% warga atau dua kali lipat lebih dari cakupan saat ini dan layanan SPALD sistem setempat (on site) bagi sekurang-kurangnya 35% warga atau 12 kali lipat dari cakupan saat ini.
wilayah/kawasan yang dilalui sungai, terutama sungai yang telah tercemar sedang sampai dengan tercemar berat.
Perluasan akses layanan air limbah domestik terpusat diperuntukkan bagi rumah tangga yang sudah mempunyai akses pada jamban sehat dan berada di wilayah yang saat ini dilalui dan di wilayah rencana perluasan jaringan SPALD terpusat sampai dengan tahun 20309. Pada perluasan akses layanan sistem
terpusat, strategi yang akan ditempuh adalah percepatan realisasi penyediaan jaringan sistem terpusat. Memperhatikan kembali Peta Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jamban dan juga tangki septik (Gambar 8 pada Bab 2), yang sebagian berada di zona-zona prioritas pengembangan jaringan selama 2015-2022, maka strategi perluasan jaringan SPALD terpusat di zona 1 dan 6 perlu mempertimbangkan kesiapan Rumah Tangga yang belum memiliki jamban untuk menyambung ke jaringan.
Strategi percepatan realisasi penyediaan jaringan sistem terpusat dilakukan melalui pengembangan jaringan dan layanan SPALD terpusat, promosi sistem terpusat pada wilayah yang telah ada jaringan terpusat (sewerage), dan promosi perubahan perilaku dan penggunaan jamban sehat permanen yang siap menyambung ke jaringan. Pengembangan jaringan dan layanan SPALD terpusat ditujukan untuk mempercepat ketersediaan dan jangkauan jaringan, terutama di wilayah/kawasan yang ditetapkan sebagai zona pengembangan sampai dengan 2022 dan wilayah/kawasan yang air tanah/air sungainya teridentifikasi tercemar sedang sampai dengan berat. Dalam strategi percepatan ini, sementara pengembangan jaringan dilakukan, promosi penggunaan sistem terpusat dilakukan pada wilayah yang telah ada jaringan terpusat untuk memaksimalkan pemanfaatan jaringan yang telah tersedia. Selanjutnya, untuk memaksimalkan pemanfaatan jaringan yang akan dikembangkan, promosi perubahan perilaku untuk penggunaan jamban sehat yang siap diintegrasikan/menyambung ke jaringan juga perlu intensif dilakukan. Sehingga, dalam strategi ini, pengelolaan supply dan demand SPALD terpusat perlu dilaksanakan lebih solid/terpadu.
Gambar 14 Bagan Konsep Pengelolaan Air Limbah Domestik
Gambar 15 menjelaskan mengenai konsep pengelolaan air limbah domestik yang terbagi dua, yaitu pengolahan setempat dan pengolahan terpusat. Pengolahan setempat terdiri dari sub-sistem penampungan air limbah domestik dalam skala individu (tangki septik) atau komunal (tangki septik/IPAL), sub-sistem pengangkutan dengan truk tinja, dan sus-sistem pengolahan yaitu IPLT. Pengolahan terpusat terdiri dari sub-sistem pelayanan berupa sambungan air limbah, sub-sitem pengangkutan berupa pipa retikulaso, dan sub-sistem pengolahan berupa IPAL dan pengolahan lumpur.
4.5
Strategi Perluasan Akses Layanan SPALD Sistem Setempat
Layanan pengelolaan air limbah domestik sistem setempat, diarahkan sebagai layanan utama pengelolaan air limbah domestik sampai dengan 2022 mendatang. Dibandingkan dengan cakupan rumah tangga yang telah mengakses layanan sistem setempat saat ini, Desain Besar menetapkan target cakupan rumah tangga yang mengakses layanan pada akhir tahun 2022 mencapai 35%, atau meningkat 12 kali lebih tinggi. Strategi yang ditempuh untuk peningkatan cakupan (rumah tangga dengan) akses layanan SPALD sistem setempat adalah perubahan perilaku dan percepatan penyediaan layanan SPALD sistem setempat.
perilaku ini perlu diintegrasikan dengan kinerja kelurahan dalam mewujudkan kelurahan ODF dan kelurahan dengan cakupan penggunaan jamban sehat permanen dan tangki septik aman. Percepatan penyediaan layanan SPALD sistem setempat ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan kemudahan warga atas akses terhadap layanan pengelolaan air limbah domestik, baik skala individual maupun komunal, yang terhubung dengan layanan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Dalam strategi ini, dilakukan pengembangan menu layanan, pengembangan pilihan pembiayaan, dan penataan kelembagaan, termasuk promosi intensif pilihan jamban sehat permanen (dilengkapi tangki septik aman) dan komunal, dengan layanan penyedotan lumpur tinja terjadwal. Layanan lumpur tinja terjadwal (LLTT) adalah suatu mekanisme pelayanan penyedotan lumpur tinja yang dilakukan secara berkala atau terjadwal, misalnya 3 tahun sekali, yang diterapkan pada sistem pengolahan air limbah domestik setempat.
Gambar 16 di bawah menunjukan konsep pengolahan lumpur tinja dari mulai penampungan melalui tangki septik atau IPAL, penyedotan lumpur tinja dan transportasinya oleh truk tinja untuk dioleh lebih lanjut di instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).
5
PROGRAM DAN KEGIATAN
Bagian ini akan mengemukakan program dan kegiatan kunci dalam pembangunan layanan air minum dan pengelolaan air limbah domestik DKI Jakarta selama 2018-2022. Setiap program dilengkapi dengan indikator hasil, guna menunjukkan arah hasil yang diharapkan dari berbagai kegiatan dalam masing-masing program.
Program dalam Desain Besar ini bersifat program lintas OPD, yang perlu disesuaikan dengan judul/nomenklatur program pada APBD. Demikian pula halnya dengan kegiatan, bersifat kegiatan lintas OPD yang perlu diterjemahkan setiap OPD yang terlibat ke dalam judul/nomenklatur kegiatan yang termasuk tugas dan fungsi masing-masing. Program dan kegiatan dalam Desain Besar ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan/penyesuaian program dan kegiatan (beserta lokasi-nya) yang akan dilaksanakan setiap OPD yang terlibat, baik secara langsung maupun melalui kerjasama dengan pihak lain.
Program Desain Besar ini terbagi dalam dua bidang, yaitu bidang air minum dan sanitasi/air limbah domestik. Secara umum, kerangka program air minum dan program air limbah domestik dapat dijelaskan dalam alur pada Gambar 17 dan Gambar 18.
5.1
Program Penyediaan Air Baku
Program penyediaan air baku terkait dengan isu ketersediaan air baku. Program/intervensi kunci dikembangkan berdasarkan strategi pada Bab 4. Adapun program/intervensi kunci untuk penyediaan air baku untuk setiap strategi yang dijelaskan dalam bab 4 meliputi:
A. Efisiensi pengelolaan oleh operator dan konsumsi air oleh masyarakat 1. Penurunan tingkat air tidak berekening
2. Gerakan penghematan konsumsi air oleh pelanggan dan masyarakat B. Optimalisasi pemanfaatan sumber air yang tersedia saat ini
1. Revitalisasi fungsi embung/waduk sebagai tangkapan air dan sumber air baku 2. Normalisasi kali dan sungai
3. Kerjasama penanganan kuantitas dan kualitas air permukaan dengan daerah yang berbatasan (Jawa Barat dan Banten)
C. Pengembangan sumber air alternatif (optimasi bauran air domestik)
1. Peningkatan kualitas hasil pengolahan grey water dan black water agar dapat digunakan kembali 2. Optimasi penerapan water recharge (sumur resapan, sumur retensi, lubang biopori)
3. Penggunaan sumber air alternatif
5.1.1 Program Penurunan Tingkat Air Tidak Berekening (Non- Revenue Water/NRW) Penurunan NRW bertujuan untuk menekan tingkat air tidak berekening sehingga berada pada tingkat yang tidak melebihi batas yang ditetapkan peraturan yang berlaku. Sehingga mampu memaksimalkan manfaat dari ketersediaan air baku saat ini dalam memenuhi kebutuhan. Penurunan NRW memberikan manfaat dari dua aspek, penambahan volume air minum yang dapat didistribusikan ke masyarakat/pelanggan jika dihasilkan dari penurunan NRW yang diakibatkan oleh kebocoran fisik di jaringan pipa, atau penambahan pemasukan jika diakibatkan oleh kebocoran non-fisik yang dapat terjadi karena kondisi/akurasi meter yang kurang baik, pembacaan meter air kurang akurat, pembuatan rekening air yang kurang tepat, serta adanya sambungan/pemakaian ilegal. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Perbaikan instalasi perpipaan dan meter air; kegiatan ini ditujukan untuk meminimalkan resiko air tidak berekening akibat kebocoran (teknis) perpipaan dan meminimalkan resiko ketidakakuratan pengukuran volume air yang digunakan/dikonsumsi pelanggan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya dan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).
2. Kerjasama dengan kepolisian untuk penanganan pencurian air; kegiatan terkait penegakan hukum ditujukan untuk mencegah/mengurangi kejadian pencurian air melalui sambungan ilegal. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya bekerjasama dengan kepolisian dan kejaksaan.
3. Penerapan insentif berbasis penurunan persentase air tidak berekening; kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan motivasi operator layanan dan masyarakat dalam menekan tingkat air tidak berekening. Pemprop DKI Jakarta, melalui Biro Perekonomian, dapat memberikan insentif berupa pendanaan atau non-pendanaan kepada PAM Jaya untuk kinerja dalam menurunkan persentasi air tidak berekening, dan PAM Jaya memberikan insentif bagi masyarakat/kelurahan untuk upaya pencegahan/pengurangan air tidak berekening di wilayahnya masing-masing. Insentif ini dapat diterapkan antara lain melalui pengurangan tagihan pelanggan ataupun bonus layanan bagi fasilitas umum di kelurahan/zona tertentu.
4. Evaluasi sumber (penyebab) air tidak berekening; kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh informasi lengkap atas faktor pemicu air tidak berekening, baik faktor-faktor yang termasuk bidang manajerial administrasi, keuangan, teknis, dan kelembagaan. Pelaksana utama kegiatan ini adalah PAM Jaya, dapat bekerjasama dengan mitra pembangunan. Hasil evaluasi ini harus dilaporkan kepada Dinas Sumber Daya Air (DSDA).
5.1.2 Program Gerakan Penghematan Konsumsi Air
Gerakan penghematan konsumsi air oleh pelanggan layanan air minum perpipaan bertujuan untuk mengurangi tingkat konsumsi air oleh pelanggan, sehingga mampu berkontribusi mengurangi tingginya kebutuhan volume air baku yang selalu meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk. Bagi pelanggan sendiri, hal ini tentunya akan menghemat pengeluaran untuk air minum. Gerakan penghematan konsumsi air ini juga diharapkan berpengaruh pada pola konsumsi air masyarakat pada umumnya, termasuk masyarakat dengan akses air minum non perpipaan. Untuk mencapai tujuan program tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi: