3.3 INDIKASI PROGRAM PRIORITAS KELITBANGAN DAERAH
3.3.3 Program Prioritas Kelitbangan Bidang Ekonomi dan Pembangunan Daerah
Berdasarkan penelaahan permasalahan dan isu strategis, isu-isu pokok yang perlu diakomodir dalam program prioritas kelitbangan bidang ekonomi dan pembangunan daerah adalah 1) mendorong peningkatan perekonomian kota, pengentasan kemiskinan, dan upaya mengurangi kesenjangan ; 2) Kebutuhan akan penyediaan infrastuktur kota untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam menjawab persoalan keterbatasan daya dukung dan daya tampung kota; 3) Kebutuhan sinergitas dan koordinasi pembangunan untuk meningkatkan aktivitas pertukaran informasi, teknologi, perdagangan dan jasa, serta upaya pemecahan persoalan kewilayahan;
A. Isu-Isu Pokok
1) Mendorong peningkatan ekonomi kota, pengentasan kemiskinan, dan upaya mengurangi ketimpangan
Pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung terus mengalami peningkatan.
Hal ini didukung oleh perkembangan struktur ekonomi kota Bandung yang didukung oleh sektor tersier seperti sektor perdagangan, hotel& restoran, pengangkutan& komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
Potensi investasi yang berkembang di Kota Bandung juga terletak pada sektor perdagangan dan jasa.
Potensi ekonomi Kota Bandung tidak dapat dipisahkan dari daya tarik kota Bandung sebagai tujuan pariwisata. Kegiatan pariwisata di Kota Bandung perlu memperoleh perhatian khusus, terutama dalam hal peningkatan kualitas produk dan pelayanan. Hal ini diperlukan untuk mendorong potensi dan daya saing pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan di Kota Bandung.
Perkembangan sektor pariwisata dan sektor unggulan lainnya seperti sektor ekonomi kreatif perlu diarahkan untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak tidak hanya sesuai dalam hal administrasi tenaga kerja dan berlakunya hukum upah minimum, namun juga terkait dengan hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak sosial tenaga
kerja. Pemerintah Kota Bandung perlu memiliki komitmen untuk dapat menjamin lapangan pekerjaan layak, tidak hanya di sektor formal namun juga di sektor informal, khususnya jaminan bagi tenaga kerja sektor informal yang masuk kedalam kategori miskin.
Sejalan dengan penyediaan lapangan pekerjaan layak, pembangunan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif perlu diintegrasikan dengan penyediaan SDM yang berkualitas agar SDM di Kota Bandung dapat terserap oleh sektor unggulan yang sedang berkembang. Penyediaan SDM yang berkualitas perlu didukung dengan pembinaan dan peningkatan keahlian sesuai dengan kebutuhan para pencari kerja. Di sisi lain, sumber daya manusia juga didorong untuk bisa menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Dukungan ini dapat berupa peningkatan keahlian entrepreneurship maupun bantuan dari sisi dukungan permodalan.
Target penyerapan tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran juga perlu mempertimbangkan penyerapan tenaga kerja disabilitas. Sejalan dengan kebijakan inklusi di bidang pendidikan, kelompok disabilitas juga perlu didukung dengan peningkatan keahlian sesuai dengan potensi yang dimilikinya agar bisa terserap dalam lapangan kerja yang tersedia maupun dapat menciptakan lapangan kerja baru sebagai wirausahawan.
Pemerintah juga perlu memiliki komitmen dalam mendukung daya saing produk, khususnya yang diproduksi oleh UKM dan sektor-sektor informal.
UKM merupakan bagian penting yang menggerakkan roda perekonomian, penanganan dan kebijakan yang tepat dapat mengoptimalkan peran Koperasi, UKM, dan sektor informal dalam mengatasi kesenjangan dan pengentasan kemiskinan. Komitmen dalam mendukung UKM dan sektor-sektor informal juga dapat dilakukan dengan meningkatkan fungsi sentra-sentra perdagangan yang telah ada saat ini.
2) Kebutuhan akan penyediaan infrastuktur kota untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam menjawab persoalan keterbatasan daya dukung dan daya tampung kota
Infrastruktur yang memadai merupakan modal utama dalam perkembangan perekonomian di suatu kota. Infrastruktur yang memadai secara langsung akan mendorong kegiatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan infrastruktur yang memadai merupakan pondasi bagi pembangunan ekonomi selanjutnya.
Kota Bandung masih terkendala dalam penyediaan infrastruktur di beberapa bidang, yaitu:
a. Membangun infrastruktur sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan di kota Bandung
Pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai. Perlu dilakukan kajian mendalam mengenai infrastruktur utama yang menunjang potensi dan perkembangan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan di Kota Bandung.
b. keterbatasan air bersih
Penyediaan air bersih di Kota Bandung mengalami permasalahan mencakup kualitas dan kuantitas. Kebutuhan air bersih terus meningkat setiap tahunnya namun kemampuan PDAM dalam memenuhi kebutuhan air bersih masih terbatas. Hal ini mendorong diperlukannya penelitian mengenai alternatif sumber mata air baru maupun optimalisasi sumber mata air yang ada saat ini.
c. Peningkatan kualitas dan kuantitas RTH
Sejalan dengan kebutuhan air bersih, fungsi RTH sebagai penyangga dan daerah resapan diperlukan dalam penyediaan air bersih di kota Bandung. Di sisi lain, peningkatan kualitas dan kuantitas RTH dapat membantu mendorong lingkungan hidup yang nyaman dan sehat bagi masyarakat di Kota Bandung.
d. Penyelesaian permasalahan persampahan
Permasalahan persampahan yang terjadi di Kota Bandung meliputi tingginya produksi sampah, kurangnya sarana pengelolaan sampah,
minimnya fasilitas armada pengangkutan, dan ketersediaan Tempat Pembuangan Akhir. Perlu dilakukan kajian mendalam mengenai sistem pengelolaan sampah yang tepat untuk mengatasi persoalan pembuangan sampah di Kota Bandung. Selain itu, perlu juga dilakukan kajian mendalam mengenai peran serta masyarakat untuk pengelolaan sampah sejak level rumah tangga.
e. Mengatasi persoalan banjir
Persoalan banjir yang terjadi di Kota Bandung merupakan dampak dari tidak seimbangnya ekosistem alam dan keterbatasan infrastruktur penunjang. Minimnya kawasan resapan air menyebabkan tingginya angka air larian di Kota Bandung. Di sisi lain, belum menyeluruhnya ketersediaan dan pengelolaan sarana drainase di ruas jalan Kota Bandung menyebabkan banyaknya lokasi dengan genangan banjir pada saat musim hujan.
f. Kebutuhan pembangunan infrasturktur untuk mengatasi kemacetan.
Kemacetan merupakan hasil dari permasalahan tata ruang yang perlu diselesaikan dari sumbernya. Persoalan pertama yang menjadi latar belakang terjadinya kemacetan adalah alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan rencana maupun struktur ruang. Hal ini menyebabkan tumpukan aktivitas kendaraan pada lokasi dan lebar jalan yang tidak sesuai untuk aktivitas tersebut. Selain itu, perbandingan kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan yang ada di kota Bandung tidak seimbang.
Hal ini tidak juga didukung oleh penyediaan sistem angkutan umum masal yang terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jalan.
Ketidakdisiplinan masyarakat dalam hal pemanfaatan jalan juga menjadi penyebab kemacetan. Penggunaan bahu jalan untuk berjualan, pasar tumpah/PKL, parkir yang tidak pada tempatnya, dst merupakan salah satu penyebab kemacetan, khususnya yang terjadi di Kota Bandung. Banjir yang dijelaskan sebelumnya juga menjadi salah satu penyebab kemacaten dibeberapa titik di Kota Bandung.
g. Tantangan potensi bencana alam dan perubahan iklim
Dalam pembangunan struktur kota dan infrastruktur, sangat penting untuk mengkaji mengenai potensi bencana alam dan dampak perubahan iklim. Hal ini dibutuhkan untuk bisa menyusun strategi yang paling tepat dalam antisipasi dampak negatif dari bencana alam dan perubahan iklim tersebut. Potensi bencana alam yang ada di Kota Bandung meliputi bencana banjir, gempa bumi dan gunung api.
h. Mendorong penyediaan permukiman yang layak huni
Tingkat pendapatan dan daya beli yang rendah menyebabkan penduduk tidak dapat memiliki rumah yang layak dan sehat. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya penduduk yang tinggal pada rumah dengan kondisi kurang layak atau kurang sehat bahkan tidak sedikit yang tinggal pada permukiman kumuh. Di beberapa kecamatan masih dijumpai permukiman kumuh dengan kondisi rumah dan lingkungan yang tidak layak dan tidak memenuhi syarat rumah sehat.
Perlu dilakukan kajian mendalam sebagai dasar kebijakan dalam upaya mendorong penyediaan permukiman yang layak huni bagi masyarakat di Kota Bandung.
3) Sinergitas pembangunan untuk meningkatkan aktivitas pertukaran informasi, teknologi, perdagangan dan jasa, serta upaya pemecahan persoalan kewilayahan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan suatu daerah juga bergantung pada daerah lainnya, khususnya yang wilayahnya berdekatan. Selain permasalahan yang perlu diselesaikan secara internal di dalam pemerintahan Kota Bandung, diperlukan pula integrasi dan kerjasama antarwilayah untuk penyelesaian persoalan lintas wilayah, seperti penyediaan sumber daya air, jalur produksi penyediaan pangan, permasalahan kemacetan, banjir, dst. Kerjasama antar daerah dapat menjadi alternatif inovasi/konsep yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas, sinergis dan saling menguntungkan terutama dalam bidang-bidang yang menyangkut kepentingan lintas wilayah.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, melalui berbagai payung
regulasi (peraturan pemerintah) mendorong kerjasama antar daerah.
Kerjasama diharapkan menjadi satu jembatan yang dapat mengubah potensi konflik kepentingan antardaerah menjadi sebuah potensi pembangunan yang saling menguntungkan. Kerjasama antar daerah tidak hanya antar daerah secara horizontal, namun juga perlu dilakukan optimalisasi kerjasama daerah secara vertikal.
Tabel 3.5 Tabel Program Prioritas Bidang Ekonomi dan Pembangunan Daerah
Tema Keluaran Program/
kegiatan/ tema
Peningkatan ekonomi kota, pengentasan kemiskinan, dan upaya mengurangi ketimpangan
2019-2023 Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Pengelolaan data
kemiskinan terpadu
2019-2023 Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Pelayanan terpadu
kemiskinan
2019-2023 Dinas Sosial dan Penanggulangan
2019-2023 Dinas Tenaga Kerja
2019-2023 Dinas Tenaga Kerja
Tema Keluaran Program/
2019-2023 Dinas Tenaga Kerja
Jaminan kerja dan kesejahteraan bagi tenaga kerja informal
2019-2023 Dinas Tenaga Kerja
2019-2023 Dinas Koperasi, Usaha Mikro,
2019-2023 Dinas Tenaga Kerja
2019-2023 Dinas Koperasi, Usaha Mikro,
2019-2023 Badan Kesatuan Bangsa dan
2019-2023 Dinas Pendapatan
Tema Keluaran Program/
ekonomi optimalisasi penerimaan
2019-2023 Dinas Pendapatan
Landasan
Tema Keluaran Program/
Penyediaan infrastuktur kota untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam menjawab persoalan keterbatasan daya dukung dan daya tampung kota
Terwujudnya
2019-2023 Dinas Penataan Ruang dan/atau
2019-2023 Dinas Penataan Ruang dan/atau
Rekomendasi Analisis 2019-2023 Dinas Penataan
Tema Keluaran Program/
2019-2023 Dinas Penataan Ruang dan/atau
Tema Keluaran Program/
2019-2023 Dinas Perumahan Dan Kawasan
2019-2023 Dinas Perumahan Dan Kawasan
2019-2023 Dinas Perumahan Dan Kawasan Permukiman,
Pertanahan, Dan Pertamanan
Tema Keluaran Program/
Sinergitas pembangunan untuk meningkatkan aktivitas pertukaran informasi, teknologi, perdagangan dan jasa, serta upaya pemecahan persoalan kewilayahan
Pengelolaan
2019-2023 Dinas Pangan dan Pertanian
3.3.4 Program Prioritas Kelitbangan Bidang Inovasi dan Pengembangan IPTEK