DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Prosedur Analisis 1 Rendemen
Nilai rendemen adalah perbandingan massa antara produk akhir yang dihasilkan dengan massa bahan baku awal. Berikut perhitungan nilai rendemen.
Rendemen
×
100% 2. Derajat Putih dengan Chromameter (modifikasi Hutching, 1999)Pengukuran dilakukan dengan meletakkan sampel di dalam wadah sampel yang sudah tersedia dan selanjutnya dilakukan pengukuran pada skala nilai L, a, dan b. Nilai L menyatakan parameter kecerahan (lightness) yang mempunyai nilai dari 0 (hitam) sampai 100 (putih). Nilai a menyatakan cahaya pantul yang menghasilkan warna kromatik campuran merah-hijau dengan nilai +a (positif) dari 0 – 100 untuk warna merah dan nilai –a (negatif) dari 0 – (-80) untuk warna hijau. Notasi b menyatakan warna kromatik campuran biru-kuning dengan nilai +b (positif) dari 0 – 70 untuk kuning dan nilai –b (negatif) dari 0 – (-70) untuk warna biru.
Derajat putih (%) = √
3. Densitas Kamba (Muchtadi dan Sugiyono, 1992)
Gelas ukur 100 ml ditimbang, kemudian sampel dimasukkan ke dalamnya sampai volumenya mencapai 100 ml. Pengisian diusahakan tepat tanda tera dan jangan dipadatkan. Gelas ukur berisi sampel ditimbang dan selisih berat menyatakan berat sampel per 100 ml. Densitas kamba dinyatakan dalam g/ml.
4. Cemaran Serangga atau Kutu (SNI 01-2891-1992)
Pengujian dilakukan dengan cara mengamati secara visual bahan yang akan diuji. Bahan sebanyak kurang lebih 25 gram ditaruh diantar dua lempeng kaca. Lalu ditekan lempeng kaca tersebut hingga ketebalan bahan 2 – 5 mm diantara lempeng kaca. Selanjutnya dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, amati permukaan kaca dengan kaca pembesar, apakah ada bekas jejak-jejak ulat, kutu, atau serangga lainnya. Selanjutnya dilihat apakah ada larva kepompong, kutu, serangga lainnya, dan potongan-potongannya dengan cara mengayak contoh.
5. Kadar Air (AOAC, 1995)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan metode oven. Sebanyak 2 - 10 gram sampel ditimbang dalam cawan yang telah ditimbang dan diketahui bobotnya. Kemudian dikeringkan ke dalam oven bersuhu 105°C selama 5 jam, kemudian didinginkan ke dalam desikator dan ditimbang sampai bobotnya konstan.
Kadar air (% b.b) -
×
100%Kadar air (% b.k) -
34
6. Kadar Abu (AOAC, 1995)
Sampel sebanyak 2 gram ditempatkan di dalam cawan porselin dan dimasukkan ke dalam tanur bersuhu 600°C. Proses pengabuan dilakukan selama 6 jam. Kemudian sampel langsung dimasukkan ke dalam desikator untuk didinginkan kemudian ditimbang.
Kadar abu (% b.b)
×
100%Kadar abu (% b.k)
×
Kadar abu (% b.b)7. Kadar Protein (Metoda Semi Mikro Kjeldahl) (AOAC, 1990 dengan Modifikasi)
Sampel sebanyak 0,1 gram yang telah dihaluskan, dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl 30 ml, kemudian ditambahkan dengan 2,5 ml H2SO4 pekat, 1 gram katalis (CuSO4 dan Na2SO4 dengan
perbandingan 1 : 1,2), dan batu didih. Contoh dididihkan selama 1 – 1,5 jam atau cairan sampai bewarna jernih.
Hasil destruksi ditambah dengan aquades sedikit demi sedikit sambil dimasukkan kedalam labu destilasi, penambahan aquades + ½ labu destilat. Selanjutnya ditambahkan 10 ml NaOH 40% dan indicator pp 3 tetes, kemudian ditutup dan dipanaskan. Hasil sulingan ditampung dalam erlenmeyer yang berisi asam borat yang ditambahkan indicator BTB (warna kuning). Destilat dihentikan setelah berubah menjadi warna hijau dengan volume + 15 ml.
Ujung kondensor dibilas sedikit dengan air destilata dan biasanya ditampung di dalam erlenmeyer dan dititrasi dengan H2SO4 0,02 N sampai terjadi perubahan warna hijau menjadi ungu.
Penetapan blangko dengan cara yang sama.
Kadar N (%)
×
100%Kadar Protein (% b.b) = Kadar N (%)
×
Faktor konversi (6,25) Kadar Protein (% b.k)
×
Kadar protein (% b.b)Keterangan:
Y = ml H2SO4 titer untuk blanko
Z = ml H2SO4 titer untuk sampel
W = Bobot sampel (gram) N = Normalitas H2SO4
8. Kadar Lemak (AOAC, 1995)
Labu lemak yang akan digunakan dikeringkan dalam oven bersuhu 105 – 110°C, didinginkan dalam desikator, dan ditimbang. Sampel dalam bentuk tepung ditimbang sebanyak 3 – 5 g dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi (soxhlet) yang telah berisi pelarut (dietil eter atau heksana). Reflux dilakukan selama 5 jam (minimum) dan pelarut yang ada di dalam labu lemak didistilasi. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C hingga beratnya konstan, didinginkan dalam desikator, dan ditimbang.
35 Kadar lemak (% b.b)
×
100%Kadar lemak (% b.k)
×
Kadar lemak (% b.b) 9. Kadar Serat Kasar (AOAC, 1990)Sampel sebanyak 1 gram dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 300 ml kemudian ditambahkan dengan 100 ml H2SO4 0,3 N dan didihkan di bawah pendingin balik (otoklaf) selama 30
menit. Setelah pendidihan ditambahkan 50 ml NaOH 1,5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Cairan di dalam labu erlenmeyer disaring dengan kertas saring yang telah diketahui bobotnya. Selanjutnya dicuci berturut-turut dengan 50 ml air panas dan 25 ml aseton/alkohol. Residu beserta kertas saring dikeringkan dalam oven bersuhu 105°C selama 1 – 2 jam atau sampai bobotnya konstan, lalu ditimbang.
Kadar serat kasar (% b.b)
×
100%Kadar serat kasar (% b.k)
×
Kadar serat kasar (% b.b)Keterangan:
A = bobot residu dalam kertas saring yang telah dikeringkan (g) B = bobot kertas saring kosong (g)
W = bobot sampel (g)
10. Kadar Karbohidrat (by difference)
Kadar karbohidrat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
Kadar karbohidrat = 100% - (% air + % abu + % lemak + % protein + % serat kasar)
11. Total Asam (AOAC, 1980)
Sebanyak 10 gram tepung biji kurma dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan aquades hingga 100 ml. Selanjutnya diambil 25 ml dan ditambahkan phenolphtalein, kemudian dititrasi dengan NaOH 0,1 N. Total asam dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Total asam (ml NaOH 0,1 N/100 g)
×
100Keterangan:
Fp = faktor pengencer V (NaOH) = volume titrasi NaOH N (NaOH) = normalitas NaOH
36
12. Kadar Pati (AOAC, 1984)
Tepung biji kurma sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer, ditambahkan 200 ml larutan HCl 3% dan dipanaskan pada pendingin balik tegak (otoklaf bersuhu 105°C selama 15 menit). Setelah dingin dan dinetralkan dengan NaOH 40%. Larutan diencerkan sampai 250 ml di dalam labu takar. Sebanyak 10 ml larutan dipipet dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan ditambahkan 25 ml larutan Luff Schoorldan beberapa batu didih.
Larutan dipanaskan pada pendingin balik tegak. Pemanas diatur sehingga isi erlenmeyer mendidih dalam waktu kurang lebih 3 menit dan dipertahankan selama 10 menit. Kemudian didinginkan secara cepat pada air mengalir serta ditambahkan pada 20 ml KI 20% dan 25 ml H2SO4
25% secara perlahan. Setelah reaksi selesai dititrasi dengan larutan tiosulfat 0,1 N yang telah distandarisasi (a ml). Larutan kanji digunakan sebagai petunjuk. Blanko dibuat seperti diatas dan dititrasi (b ml). Kadar pati (% b.b)
×
100% Kadar pati (% b.k)×
Kadar pati (% b.b) Keterangan:A = angka tabel Luff Schoorl, berdasar selisih ml titrasi (b – a) F = faktor pengencer
Mg = bobot contoh (mg)
0,9 = perbandingan berat pati dan sakar penyusutan
Penetapan Sakar Menurut Luff Schoorl
0,1 N Larutan Tiosulfat (ml) Glukosa (mg) 0,1 N Larutan Tiosulfat (ml) Glukosa (mg) 1 2,4 12 30,3 2 4,8 13 33 3 7,2 14 35,7 4 9,7 15 38,5 5 12,2 16 41,3 6 14,7 17 44,2 7 17,2 18 47,1 8 19,8 19 50 9 22,4 20 53 10 25 21 56 11 27,6 22 59,1
37