METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
D. Prosedur dan Desain Penelitia
Siklus atau desain penelitian dalam PTK dapat digambarkan sebagai berikut.
Bagan 2. Siklus Berulang Suharsimi dkk. 2008 (dalam Rimiastika.2016).
Permasalahan Perencanaan
tindakan I
Evaluasi I
Pelaksanaan tindakan I dan Observasi I
Refleksi I Hasil
Tercapai Belum tercapai
Permasalahan baru hasil
Siklus II
Perencanaan tindakan II
Pelaksanaan tindakan II dan Observasi II
Evaluasi II Refleksi II
Hasil
Siklus I
Apabila permasalahan belum tercapai
Tercapai Belum tercapai
Dilanjutkan ke siklus N
Prosedur penelitian tindakan kelas ini di rencanakan dalam 2 (dua) siklus. Siklus pertama berlangsung dalam dalam 3 (tiga) kali pertemuan dan siklus II juga berlangsung 3 (tiga) kali pertemuan. Siklus I dan siklus II meliputi, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, evaluasi, dan refleksi.
1. Gambaran Umum Siklus I
Pelaksanaan umum siklus I berlangsung 3 (tiga) kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan, dan 1 (satu) kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan sekaligus tes akhir siklus.
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus I direncanakan kegiatan sebagai berikut.
1) Mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung yang dihadapi guru berdasarkan hasil observasi awal peneliti dalam pembelajaran menulis cerpen dengan penerapan metode yang lazim digunakan pada saat mengajar menulis, khususnya dalam bentuk paragraf narasi.
2) Merumuskan alternatif tindakan pembelajaran dengan menerapkan suatu strategi alternatif dari strategi yang lazim dan sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis cerpen, dan keaktifan belajar siswa.
Melakukan rancangan tindakan selanjutnya sesuai hasil identifikasi terhadap penerapan teknik yang lazim digunakan yang meliputi :
(a) Langkah pertama, guru meminta kepada siswa untuk menentukan tema yang akan mereka kembangkan dalam bentuk cerpen.
(b) Langkah kedua, siswa diminta tetap duduk berdasarkan kelompok tempat duduk yang sudah ada.
(c) Langkah ketiga, siswa akan berkelompok dengan teman duduk mereka yang terdiri atas 4 orang siswa.
(d) Langkah keempat, siswa diminta untuk menentukan jenis topik cerpen yang akan mereka tulis, seperti cerpen pendidikan atau religi.
(e) Langkah kelima, guru memberikan komentar atau penjelasan dari pembelajaran yang akan dilakukan dalam menulis cerpen.
3) Topik tersebut menjadi sebuah gagasan dan ditulis dalam bentuk paragraf cerita
4) Pelatihan bagi guru yang membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan, mengevaluasi pembelajaran dengan penerapan teknik yang lazim digunakan, meliputi.
(a) Pelatihan membuat perencanaan pembelajaran yang ditekankan pada pelatihan perumusan tujuan.
(b) Pelatihan dalam memilih atau menetapkan topik gagasan yang diajarkan, menentukan lokasi, waktu, media, dan sumber belajar, kemudian merencanakan evaluasi.
(c) Pelatihan pelaksanaan pembelajaran dengan cara guru dilatih untuk melaksanakan pembelajaran cerpen dengan menerapkan teknik yang lazim digunakan sementara peneliti mengamati selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Pelatihan tersebut disesuaikan dengan rancangan yang telah disusun. Pelatihan tersebut bertujuan agar guru memahami dan menguasai metode pembelajaran yang sebagai alternatif dari metode yang lazim direncanakan pada saat mengajarkan untuk menulis cerita.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah guru melaksanakan pembelajaran sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Pada tahap ini guru dan peneliti melaksanakan tindakan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Peneliti melaksanakan teknik ceramah dan diskusi dalam mengajarkan siswa menulis cerita di kelas sebagai model pertama, sedangkan guru sebagai partisiapan yang harus aktif mencermati dan mengamati atau berlaku sebagai pengamat terlibat.
2) Guru bertindak sebagai model kedua yang menerapkan metode ceramah dan diskusi dalam mengajar siswa menulis cerpen, sementara itu peneliti bertindak sebagai pengamat terlibat.
3) Peneliti melaksanakan pemantauan terhadap proses kegiatan penerapan metode ceramah dan diskusi dalam meningkatkan keterampilan siswa terhadap menulis cerpen dan meningkatkan keaktifan belajar siswa oleh guru sebagai model kedua untuk memperoleh data-data empiris tentang penerapan metoe ceramah dan diskusi dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis cerpen dan keaktifan belajar pada siswa di kelas.
c. Observasi (pengamatan)
Pelaksanaan observasi menggunakan lembar observasi berupa pengamatan terhadap kehadiran, keaktifan dalam proses pembelajaran, melaksanakan metode sesuai dengan langkah-langakah ceramah dan diskusi, pelatihan atau konsentrasi, keaktifan selama proses pembelajaran, kelengkapan catatan, dan keaktifan dalam menulis cerita. Hasil tindaka dievaluasi dengan tes harian dan tes hasil belajar siklus I.
d. Refleksi
Peneliti mendeskripsikan dengan guru hasil pengamatan tindakan yang telah dilakasanakan. Hal-hal yang didiskusikan adalah (1) menganalisis dan menjelaskan hasil yang diperoleh pada tindakan yang baru direncanakan, (2) menetapkan
kesimpulan tentang hasil yang dicapai dalam peningkatan keterampilan menulis cerpen siswa berdasarkan metode cera,mah dan diskusi yang lazim digunakan. Hasil refleksi dijadiakan sebagai masukan pada tindakan selanjutnya (siklus kedua apabila hasil yang diperoleh kurang maksimal).
2) Gambaran Umum Siklus II a. Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama, maka pada tahap ini peneliti dan guru secara koloboratif melakukan kegiatan sebagai berikut.
1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat guru dalam proses pembelajaran menulis pada siklus pertama
2) Merumuskan alternatif tindakan lanjutan dalam meningkataka proses pembelajaran menulis cerpen dengan menerapkan teknik pembelajaran card sort yang lebih evektif dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen pada siswa.
3) Merevisi skenario pembelajaran menulis dan selanjutnya menyusun kembali rancangan tindakan pembelajaran menulis cerpen berdasarkan teknik card sort yang akan di gunakan pada siklus II.
4) Menyempurnakan panduan pembelajaran menulis berdasarkan hasil refleksi siklus I sehingga siswa memiliki rasa kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan berfikir
kritis dalam mengonstruksi sendiri pengetahuan baru tentang menulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman nyata mereka
5) Melakukan pengayaan terhadap kemampuan dan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran menulis.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan untuk siklus II berlangsung 3 (tiga) kali pertemuan untuk pelaksaan tindakan, dan 1(satu) kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan sekaligus pelaksanaan tes akhir siklus. Pada tahap ini peneliti dan guru melaksanakan tindakan pembelajaran menulis dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Secara bersama peneliti dan guru melaksanakan pembelajaran menulis sesuai dengan yang direncanakan.
2) Penulis senantiasa berperan sebagai pendamping di dalam memberikan penghargaan dan motivasi agar guru dapat melaksanakan perannya sesuai dengan yang direncanakan.
3) Melaksanakan pemantauan terhadap segala aspek yang mendukung dan menghambat pelaksanaan tindakan pembelajaran menulis paragraf narasi tersebut.
c. Observasi (pengamatan)
Pelaksanaan observasi dan evaluasi pada siklus II, hampir sama dengan siklus I. Pada tahap ini direncanakan observasi dan tes akhir hasil belajar siklus II.
d. Refleksi
Peneliti mendiskusikan dengan guru hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang didiskusikan yaitu, (1) menganalisis dan menjelaskan hasil yang diperoleh pada tindakan yang baru direncanakan, (2) menetapkan kesimpulan tentang hasil yang dicapai dalam peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan menggunakan teknik card sort.
E. Instrumen Penelitian 1. Instrumen Tes
Tes digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan kemampuan siswa. Instrumen tes ini berupa proyek yang diberikan kepada siswa untuk menulis cerpen berdasarkan topik pada kartu yang dimiliki siswa dalam kelompok. Tes ini digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam penguasaan materi menulis cerpen dengan tepat. Tes diberikan setelah siswa menemukan kelompoknya, dan setelah guru memberikan penjelasan terhadap apa yang akan dilakukan.
Berikut adalah kriteria penilaian tes kemampuan menulis menurut Nurgiyantoro(2009).
Tabel 3.1 Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Cerita Pendek
Skor Maksimal
Aspek Kriteria Indikator Skor
20 Isi Kesusaian cerita
dengan tema
Sangat baik: tema dikembangkan secara optimal, tidak ada kalimat dan paragraf yang tidak sesuai dengan tema, antara kalimat dan paragraf memiliki hubungan sebab akibat yang dirangkai dengan baik.
5
Baik: tema dikembangkan secara optimal, ada sedikit kalimat dan paragraf yang tidak sesuai dengan tema, ada sedikit kalimat dan paragraf yang tidak memiliki hubungan sebab akibat.
4
Cukup: tema dikembangkan secara terbatas, ada sedikit kalimat dan paragraf yang tidak sesuai dengan tema, ada sedikit kalimat dan paragraf yang tidak memiliki hubungan
sebab akibat.
3
Kurang: tema dikembangkan secara terbatas, ada banyak kalimat dan paragraf yang tidak sesuai dengan tema, kalimat dan paragraf banyak yang tidak dengan kreatif dan tidak keluar dari tema
4
Cukup: cerita dikembangkan dengan cukup kreatif dan tidak keluar dari tema
3
Kurang: cerita dikembangkan dengan tidak kreatif dan tidak keluar dari tema
2
Sangat kurang: cerita tidak dikembangkan
1
Ketuntasan cerita Sangat baik: penyajian akhir cerita menarik dan
menimbulkan penasaran.
5
Baik: penyajian akhir cerita cerita tidak menarik dan tidak menimbulkan penasaran.
1
Kesesuaian cerita dan sumber cerita
Sangat baik: isi cerita yang disajikan sangat sesuai dengan sumber cerita, tidak ada peristiwa yang keluar dari
sumber cerita
5
Baik: isi cerita yang disajikan sesuai dengan sumber cerita, ada sedikit peristiwa yang dibuat tidak sesuai dengan
sumber cerita
4
Cukup: isi cerita yang disajikan cukup sesuai dengan sumber cerita, beberapa
peristiwa tidak sesuai dengan sumber cerita
3
Kurang: isi cerita yang disajikan kurang sesuai dengan sumber cerita, banyak
peristiwa yang tidak sesuai dengan sumber cerita
2
Sangat kurang: isi cerita yang disajikan tidak sesuai dengan sangat tepat dan sangat sesuai dengan tema
5
Baik: pemilihan kata tepat dan sesuai dengan tema kurang tepat dan kurang sesuai dengan tema
2
Sangat kurang: pemilihan kata tidak tepat dan tidak sesuai dengan tema
1
Penyusunan Sangat baik: struktur kalimat sangat baik dan sangat tepat, antara kalimat yang satu dengan
5
kalimat kalimat yang lain menjalin hubungan yang
sangat kompleks
Baik: struktur dan penyusunan kalimat baik dan tepat, antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain menjalin
hubungan yang kompleks
4
Cukup: struktur dan penyusunan kalimat cukup baik dan cukup tepat, antara kalimat yang satu dengan baik dan kurang tepat, antara kalimat yang satu dengan dan tidak tepat, antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain menjalin hubungan yang cukup baik, ada sedikit majas yang diterapkan tidak sesuai konteks sehingga membuat cerita menjadi kurang menarik
3
Kurang: penggunaan majas kurang baik, majas ditepkan tidak sesuai dengan konteks sehingga membuat cerita
Kurang: unsur disajikan yang disajikan membentuk kepaduan cerita yang serasi dan menarik
5
Baik: urutan cerita yang disajikan membentuk kepaduan cerita yang yang disajikan tidak padu dan tidak menarik
1
Kelogisan unsur cerita
Sangat baik: cerita sangat mudah dipahami, urutan peristiwa yang disajikan sangat jelas dan sangat logis
Selanjutnya, setelah diketahui perolehan hasil dari penjumlahan skor maksimal tiap-tiap aspek pada kriteria di atas. Untuk menghitung hasil belajar dengan membandingkan jumlah nilai yang diperoleh siswa dengan jumlah skor maksimum kemudian dikalikan 100%, atau digunakan rumus Percentages Correction (Purwanto, 2006) sebagai berikut:
S = Keterangan :
S : nilai yang dicari/diharapkan
R : jumlah skor dari item/soal yang dijawab benar N : skor maksimal ideal dari tes tersebut.
2. Instrumen Nontes
Instrumen nontes yang digunakan yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi foto. Masing-masing instrumen digunakan pada siklus I dan siklus II.