• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Kerja 1 Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kecil (3-5 orang)

Dalam dokumen Laporan Praktikum Pengendalian Hama dan (3) (Halaman 72-80)

PENERAPAN KOMPONEN PHT PADA TANAMAN KAKAO

B. Prosedur Kerja 1 Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kecil (3-5 orang)

2. Bahan dan alat disiapkan

3. Mahasiswa diajak pergi ke pertanaman kakao 4. Hama dan penyakit yang ada diamati

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Pemangkasan tanaman kakao

Pemupukan

B. Pembahasan

Produktivitas dan produksi tanaman kakao ditingkatkan dengan melakukan peninjauan penggunaan media tanam yang digunakan dalam pembibitan dimana media tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao. Media tanam dipembibitan umumnya menggunakan tanah lapisan atas dengan pertimbangan lapisan tanah tersebut biasanya subur dan gembur. Kriteria ini penting untuk media tanam di pembibitan, mengingat benih yang telah tumbuh menjadi bibit merupakan tanaman muda yang relatif rentan terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang dapat menghambat awal pertumbuhannya.

Menurut Sunanto (2007), hama dan penyakit lain yang menyerang tanaman kakao adalah penggerek cabang,ulat kantong, toxoptera aurantii bayer,kutu jengkal, penyakit kanker batang, penyakit busu buah diplodia, penyakit vascular steak dieback, penyakit bercak daun, penyakit busuk buah monilia dan penyakit akar.

Empat prinsip PHT menurut Andang agustian, 2009 yaitu: (1) budidaya tanaman sehat, (2) pelestarian musuh alami, (3) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan (4) petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya. Berdasarkan praktikum yang dilakukan, praktikan menggunakan komponen PHT yang alami tanpa menggunakan pestisida apapun. Beberapa pengendalian tersebut antara lain sanitasi, pemupukan, pemangkasan, penyelubungan buah, dan pembuatan sarang semut serta panen sering.

1. Sanitasi

Cara sanitasi penting untuk mematikan PBK yang ada dalam buah yang sudah dipanen. Jika tidak dimatikan, PBK tersebut dapat berkembangbiak dan menyerang buah yang masih ada di pohon. Setelah buah dipanen, seluruhnya dibelah, kulit buah dimasukkan ke dalam lobang dan ditutup dengan tanah atau dengan plastik untuk membunuh larva yang masih ada/hidup pada buah. Jika tidak segera dikerjakan

simpanlah buah dalam karung plastik yang diikat rapat. Cara tersebut mencegah PBK keluar dan menyerang buah yang belum masak di pohon.

2. Pemupukan

Dampak utama pemupukan terhadap tanaman kakao adalah merangsang pertumbuhan yang baik. Dampak ini meningkatkan ketahanan kakao terhadap PBK. Tanaman kakao yang tumbuh sehat akan lebih tahan terhadap serangan PBK.Karena itu, lakukanlah pemupukan yang benar dengan memperhatikan dosis, jenis,cara, waktu, dan tempat.

3. Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan diatas mata tunas pada batang kakao agar batang tersebut dapat tumbuh lagi. Pemangkasan juga bermanfaat untuk mengendalikan PBK. Melalui pemangkasan kita mengurangi/membuang cabang, ranting, dan daun-daun yang tidak berguna sehingga penggunaan zat makanan lebih efektif, dan tanaman kakao akan semakin baik pertumbuhannya, bukan hanya dalam hal tajuk tetapi juga dalam pertumbuhan buah. Pemangkasan juga akan memberikan banyak penetrasi sinar matahari, serta gerakan angin yang bebas sehingga akan mengurangi serangan PBK.Karena itu, lakukanlah pemangkasan yang tepat waktu dan cara benar, baik dalam pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi, maupun pemangkasan pemeliharaan.

4. Pembungkusan

Kantong plastik yang dipasang pada buah dapat mencegah serangan PBK. Kantong tersebut harus dilobangi di bagian bawah supaya air dapat keluar. Jika tidak dilubangi, mungkin buah kakao akan membusuk. Saat yang tepat pengantongan adalah pada saat ukuran panjang buah sekitar 8 cm.

5. Pengendalian Hayati

Pada praktikum ini juga dilakukan pembuatan sarang semut dengan cara seresah daun dikumpulkan pada kresek hitam kemudian diberi gula jawa dan diikatkan pada percabangan batang kakao. Semut rangrang atau semut hitam bertindak sebagai predator alami. Serangga kutu putih umumnya bersimbiosis dengan semut. Predatisme terhadap kutu putih terjadi pada semut yang primitif perilakunya. Namun, dapat juga terjadi adanya perlindungan dari semut kepada kutu putih dari musuh alaminya. Simbiosis mutualisme antara semut dan kutu putih yaitu semut melindungi kutu putih dari serangan musuh alaminya, dan dari cuaca yang buruk, serta membantu dalam pemencaran atau penyebaran kutu putih ini. Sebagai imbalannya semut mendapatkan embun madu yang dihasilkan oleh kutu ini sebagai sumber makanan semut tersebut.

Adanya kutu putih pada buah kakao dapat mengundang semut, dan semut tersebut dapat mengusir hama utama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) dan penghisap buah kakao (Helopelthis antonii). Pada akhirnya hama tersebut tidak dapat meletakkan telurnya pada buah kakao tersebut. Antara semut dan kutu putih ini berkorelasi positif, yaitu semakin banyak kutu putih yang ada pada tanaman kakao tersebut, maka akan mengundang semut lebih banyak pula, sedangkan antara semut dan serangga hama seperti C. cramerella dan H. antonii berkorelasi negatif, yaitu semakin banyak semut yang ada pada tanaman kakao, maka akan semakin sedikit hama C. cramerella dan H. antonii yang menyerang tanaman tersebut (Nasution, 2008).

6. Panen sering

Menurunkan jumlah PBK, sebaiknya semua buah yang sudah masak atau masak awal dipanen seminggu sekali. Cara ini menghindari perpanjangan perkembangan atau daur hidup PBK di kebun.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada tanaman kakao, diketahui bahwa terdapat beberapa hama dan penyakit yang menyerang yaitu PBK, kepik penghisap buah, kutu putih dan Busuk buah.

2. Pengendalian tanaman kakao yang dapat diterapkan meliputi sanitasi, pemangkasan, pemanenan buah tiap minggu, kondomisasi (pembungkusan buah), pengendalian hayati, penggunaan musuh alami dengan semut.

3. PHT yang diterapkan ini mampu menekan pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit tanaman kakao, mengurangi biaya produksi, tidak merusak lingkungan, dan mudah untuk diterapkan.

B. Saran

Sebaiknya kondisi pada saat dilapangan dibuat kondusif, sehingga apa yang dijelaskan dan dipraktikkan dapat dipahami dengan baik. Praktikum dilakukan secara efisien baik waktu pelaksanaan maupun kegiatan praktikum yang dilaksanakan

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2006. Bahan Organik Peranannya Bagi Perkebunan Kakao. Warta Puslit Kakao. Bengkulu.

BPS. 2010. Luas dan Total Produksi Tanaman Kakao. BPS. Jakarta.

BPS Sumut. 2010. Luas dan Total ProduksiTanaman Kakao. BPS. Medan.

Nasution. 2008. Penyebaran dan Tingkat Serangan Kutu Putih Pepaya di Sulawesi Utara. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sulawesi Utara. Pawer. 2006. IPM & Plant Science Industries in India. Shree Vivekand Research and

Training Institute (VRTI). Agrolinks Journal. Gujarat. India.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2009. Buku Pintar Budi Daya Kakao. Agromedia. Jakarta.

Sudarmo. 2006. Kajian Penyarungan Buah Muda Kakao Sebagai Suatu Metode Pengendalian Penggerek Buah Kakao (PBK). Prosiding Seminar Ilmiah Makassar. Sulawesi Selatan.

Sunanto. 2007. Cokelat: Budidaya, Pengolahan Hasil, dan Aspek Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.

Sutedjo. 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Wardojo. 2013. Strategi Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Sulawesi Barat.

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU

ACARA VI

Dalam dokumen Laporan Praktikum Pengendalian Hama dan (3) (Halaman 72-80)

Dokumen terkait