• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam beberapa kegiatan meliputi, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan pencapaian kompetensi pembuatan pola dengan materi kemeja. Dalam penelitian ini menggunakan Model Kemmis dan Mc Taggart yang dikutip oleh (Suharsimi:2008) yang terdiri dari siklus yang mempunyai 4 komponen tindakan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Adapun prosedur pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan

Perencanaan tindakan dilakukan oleh peneliti dan guru mata pelajaran yang bersangkutan. Sebelum tindakan dilakukan peneliti melakukan observasi tidak terstruktur untuk melakukan pengamatan terhadap kondisi awal sebelum tindakan. Pengamatan dilakukan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung, model dan metode pembelajaran yang digunakan, aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran, dan pencapaian kompetensi pembuatan pola. Selain observasi tidak

99 terstruktur peneliti juga melakukan wawancara kepada guru dan siswa untuk melengkapi hasil pengamatan sebelum tindakan.

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara, sehingga mengetahui kondisi awal sebelum tindakan, maka guru dan peneliti sepakat melakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode learning together untuk peningkatkan aktivitas belajar siswa dan pencapaian kompetensi pembuatan pola pada materi berikutnya yaitu pembuatan pola kemeja pria. Adapun perencanaan tindakan kelasnya adalah sebagai berikut:

a. Peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pada materi pembelajaran berikutnya yaitu membuat pola kemeja pria. Pembelajaran akan berlangsung dengan menerapkan metode learning together.

b. Peneliti menyiapkan panduan penerapan metode learning together. Panduan ini berfungsi sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode learning together. Panduan penerapan metode learning together dapat dilihat pada lampiran 1, halaman 202.

c. Peneliti menyiapkan silabus. Silabus disusun oleh peneliti dengan pertimbangan dari guru yang bersangkutan, dan dosen ahli metode pembelajaran, juga dosen ahli materi pembuatan pola. Silabus dapat dilihat pada lampiran 1, halaman 215.

100 d. Peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun oleh peneliti dengan pertimbangan dari guru yang bersangkutan, dan dosen ahli metode pembelajaran, juga dosen ahli materi pembuatan pola. RPP dapat dilihat pada lampiran 1, halaman 219.

e. Peneliti menyiapkan media pembelajaran, yaitu media jobsheet untuk siswa yang berisi tentang materi dan langkah dalam pembuatan pola kemeja pria. Jobsheet dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 225.

f. Peneliti menyiapkan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode learning together. Lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 237.

g. Peneliti menyiapkan lembar observasi aktivitas belajar siswa, lembar observasi digunakan untuk mengetahui bagaimana aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Lembar observasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 243. h. Peneliti menyiapkan soal post test berupa multiple choice (pilihan

ganda) dengan materi pembuatan pola kemeja. Post test ini digunakan untuk mengukur kompetensi siswa ranah belajar kognitif. Soal post test dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 247.

101 i. Peneliti menyiapkan lembar penilaian unjuk kerja siswa untuk mengukur kompetensi siswa ranah belajar psikomotorik. Lembar penilaian unjuk kerja berisi beberapa aspek penilaian yang sesuai dengan praktik pembuatan pola kemeja. Lembar penilaian unjuk kerja dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 252.

j. Peneliti menyiapkan lembar penilaian afektif, penilaian afektif mengunakan lembar observasi, digunakan untuk mengukur kompetensi siswa ranah belajar afektif. Lembar penilaian afektif pada lampiran 1 halaman 260.

k. Peneliti menyiapkan tugas individu dan tugas diskusi kelompok. Pada lampiran 1 halaman 262.

l. Peneliti menyiapkan sertifikat sebagai reward atau pengahargaan untuk siswa dengan 3 kelompok terbaik. Pada lampiran 3 halaman 319.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini semua rencana yang telah dibuat dilaksanakan. Seluruh tindakan dilakukan oleh guru yang bersangkutan sebagai kolaborator peneliti. Tindakan yang dilakukan adalah kegiatan belajar mengajar pembuatan pola kemeja pria dengan menerapkan metode pembelajaran learning together. Adapun implementasinya adalah sebagai berikut :

a. Pendahuluan

102 2) Presensi kehadiran siswa.

3) Pemberian apersepsi yaitu penyampaian tujuan pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi siswa.

4) Penyampaian informasi, metode pembelajaran yang digunakan, yaitu metode learning together.

b. Pelaksanaan

1) Sintak 1: Penyampaian materi pembuatan pola kemeja pria. 2) Sintak 2 : Siswa membentuk kelompok secara heterogen, guru

membagi kelompok berdasarkan nilai pembuatan pola sebelum tindakan, dari situ diketahui siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Dalam satu kelompok terdapat siswa dengan kemampuan yang berbeda – beda, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa.

3) Sintak 3: Pemberian tugas pembuatan pola kemeja pria. 4) Penyampaian tugas diskusi.

5) Siswa mengerjakan tugas dan saling membantu teman satu kelompok yang mengalami kesulitan (mengadopsi unsur Interdepedence Positif).

6) Siswa saling mengecek tugas teman satu kelompoknya untuk memastikan bahwa semua anggota kelompoknya membuat pola dengan benar ( mengadopsi unsur Akuntabilitas Individu).

7) Siswa berdiskusi kelompok dengan komunikasi yang baik, (mengadopsi unsur interaksi sosial)

103 8) Diskusi kelompok berjalan kondusif tanpa menimbulkan kegaduhan ataupun mengganggu kelompok lain (mengadopsi unsur Keterampilan Sosial).

9) Pemberian bimbingan pada kelompok belajar yang mengalami kesulitan pembuatan pola oleh guru yang bersangkutan (mengadopsi unsur Pemrosesan Kelompok).

10) Siswa mengumpulkan tugas pembuatan pola kemeja . 11) Pemberian post test.

12) Sintak 4 : Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok. c. Penutup

1) Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil presentasi dan pembelajaran pembuatan pola kemeja.

2) Sintak 5 : Pemberian penghargaan atau reward kepada tiga kelompok yang memperoleh nilai terbaik.

3) Kegiatan pembelajaran ditutup dengan salam. 3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek aktivitas siswa meliputi aktivitas visual, aktivitas lisan, aktivitas mendengar, aktivitas menulis, aktivitas menggambar, aktivitas emosional. Pengamatan juga dilakukan pada pencapaian kompetensi pembuatan pola kemeja pria meliputi ranah belajar kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pengamatan dilakukan dengan lembar observasi aktivitas belajar, lembar observasi pelaksanaan

104 pembelajaran, pos test, penilaian unjuk kerja, lembar observasi penilaian afektif dan catatan lapangan. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui tigkat aktivitas belajar siswa. Lembar observasi pelaksanaan pembelajaran digunakan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran pembuatan pola kemeja dengan menerapkan metode learning together. Post test digunakan untuk mengetahui ketercapaian kompetensi siswa ranah belajar kognitif. Penilaian unjuk kerja digunakan untuk mengetahui ketercapaian kompetensi siswa ranah belajar psikomotorik. Lembar observasi penilaian afektif digunakan untuk mengetahui ketercapaian kompetensi siswa ranah belajar afektif. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat semua kegiatan yang diamati oleh peneliti.

4. Refleksi

Pada tahap ini refleksi dilakukan oleh guru berkolaborasi dengan peneliti. Refleksi bertujuan untuk mengetahui kekurangan- kekurangan maupun kelebihan-kelebihan yang terjadi selama proses pembelajaran. Peneliti dan guru mendiskusikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran pembuatan pola kemeja, aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran pembuatan pola, dan ketercapaian kompetensi pembuatan pola kemeja. Jika pembelajaran belum berlangsung dengan baik, aktivitas belajar siswa masih rendah, dan pencapaian kompetensi siswa belum memenuhi kriteria maka peneliti dan guru sepakat melakukan tindakan selanjutnya pada siklus ke dua.

105 E. Metode Pengumpulan Data

Sugiyono (2009:308) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :

1. Metode Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk menjaring data mengenai jumlah siswa dan kompetensi belajar siswa pada proses belajar sebelumnya. Dokumentasi yang akan digunakan dalam pencapaian kompetensi belajar siswa dengan menerapkan metode learning together. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang bersumber pada hal-hal yang tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen, rapat, catatan harian dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2002:135). Sedangkan menurut Sugiyono (2009:83) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

Digunakannya dokumentasi pada penelitian ini karena kita dapat menjaring data mengenai jumlah siswa dan komptensi belajar siswa. Hal inilah yang nantinya akan dijadikan dasar dalam melakukan penelitian penerapan metode learning together untuk peningkatan aktivitas belajar dan pencapaian kompetensi pembuatan pola.

Sebelum penggunaan metode dokumentasi, terlebih dahulu dibuat panduan metode dokumentasi, yaitu sebagai berikut:

106 a. Metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui nilai – nilai siswa

pada pembelajaran pembuatan pola sebelum tindakan.

b. Metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui jumlah atau populasi siswa.

c. Metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui perangkat pembelajaran yang digunakan oleh guru sebelum tindakan.

d. Metode dokumentasi digunakan untuk melihat keterlaksanaan penelitian.

2. Metode Wawancara

Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur. Menurut Sugiyono (2009:197) wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

Wawancara tidak terstruktur sering digunakan dalam penelitian pendahuluan. Pada penelitian pendahuluan peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada obyek, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti, Sugiyono (2009:198). 3. Metode Observasi

a. Observasi tidak terstruktur .

Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diamati. Dalam

107 melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan, (Sugiyono, 2009:205).

Dalam penelitian ini observasi tidak terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran pembuatan pola dan apa permasalahan yang ada pada pembelajaran tersebut.

b. Observasi terstruktur.

Menurut Sugiyono (2009:205) observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang

variabel yang akan diteliti”.

Metode observasi terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data tentang dampak, atau hasil tindakan dari penerapan metode learning together pada pembelajaran pembuatan pola kemeja yaitu data tentang bagaimana proses pembelajaran pembuatan pola kemeja dan data aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran praktik pembuatan pola kemeja selama guru menyampaikan materi ataupun selama belajar kelompok untuk menyelesaikan tugas/ projek. Metode observasi juga digunakan untuk mengukr kompetensi siswa ranah belajar afektif, yaitu dengan lembar penilaian afektif.

108 4. Metode Tes

Tes memiliki arti sebagai alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Tes yang digunakan untuk megukur aspek kognitif dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Tes ini berupa post test yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran dan bertujuan untuk mengetahui sampai di mana pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran setelah mengalamai suatu kegiatan belajar.