BAB II OBJEK JAMINAN FIDUSIA
C. Prosedur Pengikatan Jaminan Fidusia
Perikatan pokok merupakan perikatan yang dapat berdiri sendiri dan memang biasanya berdiri sendiri, walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya perikatan lain yang ditempelkan pada perikatan pokok tersebut. Di sinilah letak isi pokok perjanjian, dalam jual beli misalnya, di sana diatur hubungan hak dan kewajiban utama antara
penjual dan pembeli. Perikatan Accesoir merupakan perikatan yang ditempelkan pada suatu perikatan pokok dan yang tanpa perikatan pokok tidak dapat berdiri sendiri.
Timbul dan hapusnya bergantung pada adanya dan hapusnya perikatan pokok.59
Penyerahan hak milik kepa kreditor dalam fidusiaire eigendoms overdracht bukanlah suatu penyerahan hak milik dalam arti yang sesungguhnya seperti halnya dalam jual beli dan sebagianya, sehingga kreditor tidak akan menjadi pemilik yang
59 J. Satrio,
penuh (volle eigenaar), ia hanyalah seorang bezitloos eigenaar atas barang-barang jaminan, dan karena sesua dengan maksud dan tujuan perjanjian tentang perjanjian itu sendiri, kewenangan kreditor hanyalah setarap dengan kewenangan yang dimiliki oleh seorang yang berhak atas barang-barang jaminan. Bahwa kedudukan kreditor penerima fidusia itu adalah sebagai pemegang jaminan, sedangkan kewenangan yang masih berhubungan dengan jaminan itu sendiri, oleh sebab itu, dikatakan pula
kewenangannya sebagai pemilik terbatas.60
Bahwa penyerahan barang bergerak yang dilakukan oleh bukan pemiliknya kepada seorang penerima yang beritikad baik adalah sah. Akan tetapi suatu penyerahan tidak nyata (constitutum possessorium) dapat dibenarkan jika orang yang menyerahkan barang tersebut mempunyai kekuasaan untuk menyerahkannya atas dasar suatu hubungan hukum dengan pihak lain. Kreditor dalam suatu perjanjian utang piutangnya dengan jaminan fidusia dapat dikatakan tidak mungkin untuk menyelidiki terlebih dahulu apakah debitor benar-benar pemilik artinya orang yang dapat bertindak bebas atas barang-barang yang dijaminkan itu, terutama karena barang-barang yang dijaminkan itu berupa barang bergerak. Kreditor dalam pada itu hanya dapat meminta kepada debitor untuk berjanji bahwa ia adalah benar-benar
orang yang berhak untuk berbuat bebas atas barang yang dijaminkan itu.61
pengalihan fidusia diatur dalam Pasal 19 sampai dengan Pasal 24 UUJF. Pengalihan hak atas utang (cession), yaitu pengalihan piutang yang dilakukan dengan akta otentik maupun akta di bawah tangan. Yang dimaksud dengan mengalihkan
60 Marulak Pardede dkk,
Op‐cit, hal 31
61
antara lain termasuk dengan menjual atau menyewakan dalam rangka mengalihkan antara lain termasuk dengan menjual atau menyewakan dalam rangka kegiatan usahanya. Pengalihan hak atas utang dengan jaminan fidusia dapat dialihkan oeh penerima fidusia kepada penerima fidusia baru (kreditur baru). Ini berarti kreditur baru, selain berkewajiban untuk melaporkan dan mendaftarkan telah terjadi peralihan hak atas piutang, juga melaporkan dan mendaftarkan telah terjadi peralihan hak atas piutang, juga melaporkan telah terjadi peralihan jaminan fidusia dari kreditur lama
kepada kreditur baru.62
Karenanya untuk laporan dan permohonan perubahan daftar, kerja sama kreditor lama maupun debitur tidak diperlukan. Sudah tentu kreditur baru harus bisa menyodorkan bukti yang meyakinkan pejabat pendaftar fidusia, bahwa perjanjian pokok atau perjanjian tagihan, yang dijamin dengan fidusia yang bersangkutan memang telah beralih kepada kreditur baru. Karena beralihnya jaminan fidusia tu terjadi secara hukum, hal tersebut tidak perlu dibuktikan dengan membuat Akta Jaminan Fidusia baru. Pendaftaran beralihnya jaminan fidusia ini cukup dilakukan berdasarkan alat yang membuktikan telah beralihnya hak atas piutang yang dijamin kepada kreditur baru tersebut.
Kita perlu waspada, bahwa di sini ada dua peralihan, yaitu pertama, peralihan “tagihan” dan kedua, peralihan “jaminan”. Hal ini berbeda dengan gadai, hipotik dan hak tanggungan, dimana dengan beralihnya perjanjian pokok dari kreditur lama kepada kreditur baru, maka otomatis beralih kepada kreditur baru. Pada gadai, hipotik, dan hak tanggungan tidak ada masala mengenai “peralihnya hak milik”.
62
Adapaun pada fudisia ada masalah “peralihan hak milik”. Karena fidusia accessoir pada perikatan pokoknya, maka beralihnya perikatan pokok kepada pihak ketiga mengakibatkan, bahwa jaminan fidusia demi hukum turut beralih mengikuti perikatan pokoknya, konsekuensi logisnya, “hak milik” atas dasar jaminan fidusia beralih dari kreditur lama ke kreditur baru, padahal tidak ada penyerahan hak milik dari kreditur lama kepada kreditur baru. Artinya kita sekarang mengenal satu lagi cara mengalihkan hak milik, yaitu bisa tanpa penyerahan. Hal ini logis, namun sebaiknya kreditur diminta pernyataan tegasnya, bahwa ia mengalihnya “hak miliknya” atas
benda jaminan fidusia.63
Dengan adanya cession ini, maka segala hak dan kewajiban penerima fidusia lama beralih kepada penerima fidusia baru dan pengalihan hak atas piutang tersebut diberitahukan kepada pemberi fidusia. Pemberi fidusia dilarang untuk mengalihkan, menggadaikan, menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek fidusia, karena jaminan tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada. Pengecualiaan dari ketentuan ini adalah bahwa pemberi fidusia dapat mengalihkan atas benda persediaan yang menjadi objek
jaminan fidusia.64 Penyerahan secara constitutum possessorium, oleh pemberi fidusia
yang beritikad jahat dapat disalah gunakan dengan melakukan ulang. Maksudnya ialah menyerahkan hak milik secara fidusia sebagai jaminan kepada pihak ketiga
yang dalam hal ini akan menjadi penegang fidusia kedua.65
63 Ibid 64 H.Salim, Op-cit, hlm. 87-88 65
Mariam Darus Badrulzaman, 1991, Bab-bab Tentang Credietverband, Gadai & Fiducia, PT.Citra Aditya, Bandung, hlm. 101.
Jaminan dapat diberikan kepada lebih dari satu Penerima Fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari Penerima Fidusia tersebut. Jaminan Fidusia dapat pula diberikan terhadap satu atau lebih satuan atau jenis benda, termasuk piutang baik yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun yang diperoleh kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa UUJF merupakan peraturan yang memuat ketentuan yang menjamin fleksibelitas dalam hal berkenaan dengan objek ynag dapat dibebani Jaminan Fidusia, kondisi demikian terlihat bahwa apabila tidak diperjanjikan lain maka Jaminan Fidusia meliputi hasil dari benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia; juga meliputi klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia tersebut diasuransikan maksudnya apabila benda yang diasuransikan maka klaim asuransi tersebut merupakan hak Penerima Fidusia.
Ada beberapa tahapan formal yang melekat dalam Jaminan Fidusia, di antaranya yaitu :
1. Tahapan pembebanan dengan pengikatan dalam suatu akta notaris;
2. Tahapan pendaftaran atas benda yang telah dibebani tersebut oleh Penerima
Fidusia, kuasa atau wakilnya kepada Kantor Pendaftaran Fidusia, dengan melampirkan pernyataan pendaftaran. Pernyataan pendaftara tersebut harus memuat : identitas pihak Pemberi dan Penerima Fidusia; tanggal, nomor akta, nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta; data perjanjian pokok yang dijamin oleh Fidusia, uraian mengenai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia; nilai penjaminan dan nilai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia.
3. Tahapan administrasi pada Kantor Pendaftaran, yaitu pencatatan Jaminan Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran; menerbitkan dan menyerahkan kepada Penerima Fidusia Sertifikat Jaminan Fidusia.
4. Lahirnya Jaminan Fidusia yaitu pada tanggal yang sama dengan tanggal
dicatatnya Jaminan Fidusia dalam Fidusia dalam Buku Daftar Fiduia. Sertifikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, karena adanya kata- kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Sehingga dengan demikian apabila debitur cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya sendiri. Hal demikian mengandung maksud bahwa pengeksekusian dapat langsung dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut. Adanya kemudian tersebut merupakan salah satu ciri Jaminan Fidusia, yaitu berupa lembaga parate eksekusi (pelaksanaan dari suatu perikatan dengan langsung tanpa melalui uatu
vonnis pengadilan).66 di mana eksekusi dapat dilakukan apabila pihak Pemberi
Fidusia cidera janji.
Hapusnya Jaminan Fidusia disebabkan karena beberapa hal, yaitu : hapusnya hutang yang dijamin dengan fidusia; pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh Penerima Fidusia; musnahnya benda yang menjadi objek Jaminan Fudisia. Dengan adanya suatu kondisi yang menyebabkan hapusnya Jaminan tersebut, maka Penerima
66
Fidusia harus memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran mengenai hapusnya tersebut dengan melampirkan pernyataan penyebab hapusnya tersebut. Dengan demikian maka Kantor Pendaftaran Fidusia dapat mencoret pencatatan Jaminan Fidusia dari Buku Daftar Fidusia, serta menerbitkan surat keterangan yang menyatakan Sertifikat Jaminan Fidusia yang bersangkutan tidak berlaku lagi.
Berdasarkan Pasal 1152 (2) BW Indonesia, bahwa tidak sah (bahkan tidak ada) hak gadai, walaupun istilah itu dipakai dalam suatu perjanjian, jika benda/barang yang digadaikan tinggal atau jatuh kembali dalam tangan pihak yang menggadaikan dengan kemauan orang yang menerima gadai (Soetan Malikoel Adil, 1962).
Undang – undang Fidusia menegaskan bahw perjanjian fidusia harus tertulis bahkan harus dibuat dengan akta notaries dalam Bahasa Indonesia. Pengecualian berlaku bagi perjanjian jaminan fidusia, baik berupa FEO maupun cessi jaminan atas piutang yang telah ada sebelum berlakunya UUJF, alasan mengapa UUJF mengatakan bentuk khusus (akta notaris) bagi perjanjian fidusia adalah bahwa sebagian diatur dalam Pasal 1870 KUHPerdata, akta notaris karena merupakan akta otentik memiliki kekuatan pembuktian sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya di antara para pihak beserta para ahli warisnya atau pengganti haknya, mengingat bahwa objek jaminan fidusia pada umumnya adalah barang bergerak yang tidak terdaftar, maka sudah sewajarnya bahwa bentuk akta otentiklah yang dianggap paling dapat menjamin kepastian hukum berkenaan dengan objek jaminan fidusia. Isi akta perjanjian fidusia diatur dalam Pasal 6 UUJF dan paling tidak harus membuat hal-hal sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 6 tersebut.
Berlainan dalam FEO dan cessi jaminan yang lahir pada waktu perjanjian dibuat antara debitur dan kreditur jaminan fidusia berdasarkan UUJF lahir pada tanggal jaminan fidusia tercatat dalam Buku Daftar Fidusia. Adapun bukti bagi kreditur bahwa ia merupakan pemegang jaminan fidusia adalah Sertifikat Jaminan Fidusia yang diterbitkan pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia.
Dengan demikian jelas bahwa perbuatan konstitutif yang melahirkan jaminan fidusia adalah pendaftarannya dalam Buku Daftar Fidusia, hal ini ditegaskan lagi dalam Pasal 28 UUJF yang mengatur bahwa apabila atas benda yang sama yang menjadi objek jaminan fidusia dibuat lebih dari 1 (satu) perjanjian jaminan fidusia, maka kreditur yang lebih dahulu mendaftarkannya adalah penerima fidusia, hal ini penting diperhatikan oleh kreditur yang menjadi pihak dalam perjanjian jaminan fidusia, teristimewa karena hanya Penerima Fidusia, kuasai atau wakilnya yang boleh melakukan pendaftaran jaminan fidusia.
Ketentuan-ketentuan dalam UUJF tentang pendaftaran jaminan fidusia tersebut di atas merupakan terobosan penting mengingat bahwa pada umumnya objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang tidak terdaftar sehingga sulit mengetahui siapa pemiliknya, teristimewa lagi dengan adanya ketentuan dalam Pasal 19977 KUHPerdata yang mengatur bahwa barang siapa menguasai benda bergerak ia dianggap sebagai pemiliknya (bezit geldt als volkomen titel), tidak didaftarnya FEO dan Cessi jaminan saat ini menjadi sebab utama mengapa FEO dan Cessi jaminan, melalui keharusan mendaftarkan jaminan fidusia. UUJF memenuhi asas publisitas yang merupakan salah satu guru hukum jaminan kebendaan.
Oleh karena Pemberi Fidusia tetap menguasai secara fisik benda yang menjadi objek jaminan fidusia dan dia yang memakainya serta merupakan pihak yang sepenuhnya memperoleh manfaat ekonomis dari pemakaian benda tersebut, maka Pemberi Fidusialah yang bertanggung jawab atas semua akibat dan harus memikul semua risiko yang timbul berkenaan dengan pemakaian dan keadaan benda dimaksud. Ketentuan serupa juga terdapat dalam perjanjian “Finansial leasing” yang mengatur bahwa semua risiko berkenaan dengan benda yang menjadi objek perjanjian leasing harus dipikul oleh Lessee karena lessee yang memakai benda tersebut dan memperoleh manfaat ekonomis dari pemakaian tersebut.
Bahwa penyerahan barang bergerak yang dilakukan oleh bukan pemiliknya kepada seorang penerima yang beritikad baik adalah sah. Akan tetapi suatu penyerahan tidak nyata (constitutum possessorium) dapat dibenarkan jika orang yang menyerahkan barang tersebut mempunyai kekuasaan untuk menyerahkannya atas dasar suatu hubungan hukum dengan pihak lain. Kreditor dalam suatu perjanjian utang piutangnya dengan jaminan fidusia dapat dikatakan tidak mungkin untuk menyelidiki terlebih dahulu apakah debitor benar-benar pemilik artinya orang yang dapat bertindak bebas atas barang – barang dijaminkan itu, terutama karena barang-barang yang dijaminkan itu berupa barang bergerak. Kreditor dalam pada itu hanya dapat meminta kepada debitor untuk berjanji bahwa ia adalah benar-benar orang yang berhak untuk berbuat bebas atas barang yang dijaminkan itu.
Selaku peminjam pakai suatu barang debitor secara umum berkewajiban memelihara barang jaminan artinya selaku seorang pemilik barang memelihara barangnya sendiri. Kewajiban lain ialah bahwa pada barang-barang inventaris ia
harus menjaga agar jumlahnya tidak berkurang, sedangkan pada barang-barang perdagangan ia harus menjaga agar sisa barang tersebut melebihi nilai kredit yang masih tersisa, sampai jumlah tertentu sesuai dengan apa yang diperjanjikan.
Kadang-kadang, kreditor tentunya meminta agar barang-barang jaminan yang dikuasai debitor itu diasuransikan, atau mungkin pula kreditor yang mengasuransikan tetapi premi asuransi tetap dibayar oleh debitur. Kalau kita lihat kewajiban-kewajiban tersebut di atas dapatlah kita katakan bahwa debitor berkewajiban menanggung semua biaya pengelolaan barang jaminan, kreditor hanya “terima bersih” saja.
Kewajiban – kewajiban yang demikian itu dapat kita maklumi, karena secara sosial ekonomis pihak debitorlah yang berkepentingan atas barang tersebut kreditor hanya berkepentingan atas pembayaran kembali apa yang telah dituangkan kepada debitornya.
Kemungkinan yang paling banyak terjadi adalah kepailitan debitor dengan adanya kepailitan ini maka semua utang si debitor menjadi dapat ditagih. Adanya kepailitan debitor, mewajibkan menyelesaikan hubungan hukum antara debitor dan kreditor, bukan hanya segi obligatoir juga segi zakelijk. Mengenai perjanjian fidusia tersebut bersifat obligatoir atau zakelijk membawa serta akibat hukum dan cara penyelesaian yang berbeda, manakala terjadi kepailitan pada debitor. Jika kita berpegang pada pendapat bahwa perjanjian fidusia merupakan perjanjian obligatoir, maka perjanjian tersebut hanya malahirkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dipertahankan antara mereka saja, tidak berlaku atau tidak dapat dipertahankan terhadap pihak ketiga. Maka konsekuensinya jika terjadi kepailitan debitor, maka benda-benda jaminan yang berada pada debitor, karena penyerahan secara
constitutum possessorium, berada di luar kepailian. Kreditor mempunyai hak sepenuhnya terhadap benda tersebut untuk pemenuhan piutangnya, kreditor tidak terikat kepada ketentuan-ketentuan yang bersifat zakelijk sebagaimana berlaku pada gadai dan hipotek.
Cara pemenuhan piutangnya dan cara menyelesaikan hubungan hukumnya dalam kepailian terebut tergantung pada ketentuan-ketentuan sebagaimana telah diperjanjikan antara para pihak. Misalnya saja si kreditor dapat menahan benda jaminan tersebut, kemudian diperhitungkan selisih harganya benda jaminan dengan jumlah piutangnya, atau menjual benda jaminan tersebut secara di bawah tangan atau di muka umum, kemudian setelah diperhitungkan dengan piutangnya, sisanya dikembalikan pada debitor. Sedangkan bagi mereka yang berpendapat bahwa perjanjian fidusia itu melahirkan hak yang zakelijk bagi kreditor, maka hak zakelijk tersebut dapat dipertahankan terhadap pihak ketiga, dan benda-benda jaminan yang berada pada debitor masuk dalam boedel kepailitan. Untuk pemenuhan piutangnya kreditor dapat bertindak terhadap benda-benda jaminan tersebut seolah-olah tidak
terjadi kepailitan.67
Seperti halnya hak jaminan kebendaan lainnya, jaminan fidusia mengatur prinsip “droit de suite” pengecualian atas prinsip ini terdapat dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda persediaan dan hak kepemilikannya dialihkan dengan cara dan prosedur yang lazim berlaku dalam usaha perdagangan dan
67
Marulak Pardede dkk, Op-Cit. hlm. 33-35.
dengan memperhatikan persyaratan tertentu, dimungkinkan pengecualian tersebut perlu dalam hal benda persediaan terdiri dari barang jadi (finished goods) yang diproduksi Pemberi Fidusia untuk dipasarkan.
Selanjutnya UUJF mengatur secara khusus dalam Pasal 23 ayat (1) bahwa penggunaan, pengalihan benda atau hasil benda menjadi objek jaminan fidusia yang disetujui oleh Penerima Fidusia tidak berakibat bahwa ia akan kehilangan jaminan fidusia atas benda tertentu. Penggunaan ini perlu mengingat bahwa pada umumnya yang menjadi objek jaminan fidusia adalah aneka barang bergerak, sehubungan dengan itu terdapat larangan jelas dalam Pasal 23 ayat (2) untuk mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang bukan merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Penerima Fidusia.
Pelanggaran larangan tersebut di ancam dengan pidana penjara dan benda, ancaman pidana tersebut adalah konsekuensi dari pengalihan hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia dengan cara constitutum possessorium, terlebih lagi bilamana diperhatikan bahwa ketentuan dalam Pasal 1977 KUHPerdata menentukan bahwa penguasaan atas barang bergerak merupakan atas hak bagi
kepemilikannya.68
68