Bab 4 Strategi Mewujudkan Peraturan Perundang-undangan
A. Proses dan Mekanisme Penyiapan Pembentukan
Nilai dan prinsip hak asasi manusia harus tertuang dalam materi muatan peraturan perundang-undangan. Hal ini harus dipedomani oleh setiap lembaga atau pejabat yang berwenang dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Tidak hanya memperhatikan materi muatan HAM dalam peraturan perundang-undangan yang sedang disusun namun termasuk memperhatikan kekosongan hukum dalam kebutuhan suatu materi muatan HAM. Kekosongan hukum yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kekosongan hukum positif, yaitu tidak adanya aturan tertulis yang mengatur suatu gejala yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum yang berujung kepada kekacauan dalam masyarakat.30
Kementerian Hukum dan HAM memiliki Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Pedoman Materi Muatan HAM dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagai bentuk nyata pentingnya memperhatikan materi muatan HAM dalam pembentukan suatu peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal HAM sebagai salah satu unit utama di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM memiliki tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang HAM sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang dijalankan oleh direktorat instrumen HAM. Direktorat Instrumen HAM menjalankan tugas melaksanakan penyiapan perumusan instrumen HAM termasuk dalam bentuk peraturan perundang-undangan.31
Peraturan perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Mekanisme formil dan teknis pembentukan peraturan perundang-undangan mengacu pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pembentukan sebuah peraturan perundang-undangan harus mengacu pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, salah satunya adalah kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan. Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang; 4. Peraturan Pemerintah
5. Peraturan Presiden
6. Peraturan Daerah Provinsi; dan 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Materi muatan sebuah peraturan perundang-undangan harus sesuai dengan asas-asas yang telah ditetapkan. Menurut Pasal 6 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, salah satu asas dalam membuat peraturan perundang-undangan adalah asas “kemanusiaan”. Penjelasan pasal
31 Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 29 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
tersebut mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asas kemanusiaan adalah “setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia, serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional”. Negara dalam hal ini Pemerintah berkewajiban dan mempunyai tanggung jawab dalam perlindungan, pemajuan, pemenuhan, dan penegakkan hak asasi manusia, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 I ayat 4 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menyiapkan perumusan instrumen HAM, salah satunya dalam bentuk peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari tugas yang diemban oleh Direktorat Instrumen HAM di Direktorat Jenderal HAM, Kementerian Hukum dan HAM. Melalui peraturan perundang-undangan yang disusun, kebutuhan regulasi atas HAM Indonesia dapat menjadi langkah awal kewajiban Pemerintah dalam rangka penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakkan dan pemajuan HAM. Pengimplementasian penyusunan materi muatan HAM dalam bentuk peraturan perundang-undangan telah menghasilkan beberapa produk seperti:
1. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 32 Tahun 2016 tentang Pelayanan Komunikasi Masyarakat
2. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 34 Tahun 2016 tentang Kabupaten/ Kota Peduli HAM
3. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 27 Tahun 2018 tentang Pelayanan Publik Berbasis HAM
4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Penyandang Disabilitas dalam Proses Peradilan 5. Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi 6. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Khusus Bagi
Secara teknis hal-hal yang harus diperhatikan untuk mengintegrasi-kan materi muatan HAM dalam pembentumengintegrasi-kan sebuah peraturan per-undang-undangan adalah sebagai berikut:
1. Menentukan jenis peraturan perundang-undangan
2. Menentukan landasan/ dasar hukum pembentukannya, jika merupakan peraturan pelaksana maka perlu diperhatikan kesesuaian muatan dengan amanat yang diberikan oleh peraturan yang lebih tinggi
3. Secara alur penyusunan dapat merujuk ke Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yaitu meliputi perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan
4. Menentukan pihak yang menjadi pemrakarsa atau inisiator
5. Menentukan right holder (Pemegang/Penerima Hak) atas sebuah peraturan yang akan dibuat
6. Menentukan dengan rinci atau detail pihak yang menjadi duty bearer
(Pemenuh Hak)
7. Menentukan jenis dan substansi hak yang akan diatur, dapat berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 24 Tahun 2017 tentang Materi Muatan HAM dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
8. Menjabarkan tugas, fungsi, dan kewenangannya duty berarer atas rights holders
9. Menyusun norma.
B.
Analisis Peraturan Perundang-undangan Berperspektif HAMPenyusunan perundang-undangan oleh Direktorat Instrumen HAM Direktorat Jenderal HAM merupakan suatu upaya mengisi kekosongan hukum atas suatu kebutuhan masyarakat akan HAM. Selain dengan membentuk baru, peran yang diemban oleh Direktorat Instrumen HAM
adalah mengawasi dengan cara menganalisis suatu rancangan maupun produk eksisting peraturan perundang-undangan apakah berperspektif HAM atau tidak. Berperspektif HAM yang dimaksud adalah memegang prinsip-prinsip HAM baik secara umum maupun secara khusus isu per isu. Upaya ini dilaksanakan agar Negara melalui peraturan perundang-undangannya jangan sampai melanggar HAM baik itu dalam artian
commision yaitu ketika negara turut campur dalam mengatur hak-hak
warga negara yang semestinya dihormati maupun dalam artian ommision yaitu ketika negara gagal untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban seperti gagal melaksanakan implementasi pendidikan dasar bagi warganya.
Pasal 6 ayat (1) poin b Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjelaskan bahwa salah satu materi muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan asas kemanusiaan, yaitu setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan pelindungan dan penghormatan hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Kenyataannya tidak banyak pihak yang berwenang menyusun peraturan perundang-undangan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip HAM. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM. Analisis Direktorat Instrumen HAM, Direktorat Jenderal HAM memegang peranan penting dalam hal ini. Secara aktif, bagian analisis instrumen HAM mengumpulkan rancangan maupun produk eksisting hukum untuk dianalisis materi muatan HAM nya kemudian memberikan rekomendasi kepada pihak yang berwenang, baik itu pihak pemrakarsa maupun badan evaluasi peraturan perundang-undangan. Beberapa produk hukum yang telah dianalisis antara lain: 1. Rancangan Undang-Undang Tentang Penghapusan Kekerasan
2. Rancangan Undang-Undang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan)
3. Rancangan Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Udang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana 4. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan Kepada Saksi dan Korban
5. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pengembalian Kerugian yang Ditimbulkan Akibat Keputusan dan/atau Tindakan Administrasi Pemerintahan yang Tidak Sah Atau Dibatalkan
6. Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Tentang Kabupaten/Kota Layak Anak
7. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tentang Penyelenggaraan Ketenteraman dan Ketertiban Umum Serta Pelindungan Masyarakat
8. Rancangan Peraturan Gubernur Jawa Barat tentang Standar Pelayanan Minimum Penyelenggaraan Pendidikan Khusus di Provinsi Jawa Barat
9. Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan
Menganalisis suatu produk hukum dilaksanakan dengan cara:
1. Menentukan apakah produk hukum yang akan dianalisis berupa rancangan atau sudah ditetapkan menjadi sebuah peraturan perundang-undangan
2. Menentukan inisiator atau pemrakarsa atau unit yang berwenang sebagai pihak yang akan menerima rekomendasi atas hasil analisa 3. Menelaah bagian-bagian utama sebuah produk hukum yaitu: Judul,
Pembukaan (Frasa awal, Jabatan Pembentuk, Konsiderans, Dasar Hukum, Diktum), Batang Tubuh (Ketentuan umum, Materi Pokok yang
Diatur berupa Pasal per Pasal, Ketentuan Penutup), dan Penutup apakah sudah sesuai dengan prinsip HAM
4. Menentukan right holder (Pemegang Hak) yang diatur dalam produk hukum
5. Menentukan duty bearer (pemenuh hak) yang menjadi pelaksana atau pemangku kewajiban dalam produk hukum yang dianalisis
6. Menentukan kategori hak yang harus diberikan oleh duty bearer kepada rights holders dapat berdasarkan Permenkumham Nomor 24 Tahun 2017 tentang Materi Muatan HAM dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
7. Menganalisis pasal per pasal untuk menemukan adanya Potensi ommision dan/atau commision
8. Menyusun rekomendasi perubahan hasil analisa pasal per pasal yang dianalisis yaitu meliputi rekomendasi dalam pandangan umum yaitu penjabaran prinsip HAM secara umum atas materi peraturan perundang-undangan dan rekomendasi secara khusus yaitu menjabarkan pasal per pasal yang tidak berperspektif HAM sehingga dapat ditutup dengan rekomendasi untuk pihak yang berwenang mengubah atau mengganti atau mencabut produk hukum tersebut baik sebagian atau bahkan keseluruhan.