Proses penyelesaian akhir bertujuan untuk mempermudah penampilan kulit jadi, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah kulit serta menutup cacat-cacat atau warna dasar yang tidak rata. proses spraying bertujuan untuk memberikan warna yang merata atau mengkilap sehingga menarik konsumen. Alat yang digunakan adalah mesin kompresor yang dilengkapi dengan sprayer. Tahap selajutnya yaitu tahap ironing bertujuan untuk merapihkan permukaan kulit menggunakan panas. Setelah itu, proses embossing yang bertujuan untuk merubah kulit atasan (nerf) agar lebih menarik konsumen. Hasil cetakan tergantung permintaan konsumen. Mesin yang digunakan adalah embossing machine. Setelah semuanya selesai tahap terakhir adalah tahap measuring atau tahap pengukuran. Proses ini bertujuan untuk mengukur luas kulit yang dihasilkan menggunakan alat digital atau manual yang mengukur luasan kulit. Proses spraying
menghasilkan limbah berupa cairan cat yang terdispersi di udara. Hal ini bisa berbahaya bagi kesehatan operator jika terus menerus terpapar dalam waktu yang lama. Oleh sebab, itu masker yang sesuai diperlukan agar kesehatan operator terjaga serta operator nyaman selama bekerja di area tersebut.
Gambar 27. Proses spraying PT Karya Lestari Mandiri
Tabel 2. Jenis limbah dan penanganannya pada kawasan industri penyamakan kulit Proses Jenis Limbah Sistem Produksi bersih End of Pipe system Langsung dibuang
EI KL PS EI KL PS EI KL PS
Liming Bulu-bulu ● ● ● ● ● ●
Padatan lemak ● ● ● ● ● ●
Air kapur ● ● ● ● ● ●
Fleshing /
Splitting Lapisan kulit ● ● ●
Bulu-bulu halus
kulit ● ● ●
Deliming Air campuran kapur dan
ammonia ● ● ● ● ● ●
Gas ammoniak ● ● ●
Pickling Air campuran garam, enzim, dan asam
● ● ● ● ● ●
Tanning Air krom ● ● ● ● ● ●
Samying Uap air ● -* -*
Shaving Serbuk halus kulit ● ● ●
Trimming Potongan kulit ● ● ●
Netralisasi Air proses
netralisasi ● ● ● ● ● ●
Retanning Air krom dan
asam ● ● ● ● ● ●
Dyeing Zat warna ● ● ● ● ● ●
Fat liquoring Fat liquoring ● ● ● Drum Washing Air ● ● ● ● ● ● Hanging/ Setting Out/ Vacuum - - - - -
Stacking Serbuk halus kulit ● ● ●
Toogling Kalor ● ● ●
Gas bahan bakar ● ● ●
Milling Serbuk halus kulit ● ● ●
Buffing Serbuk halus kulit ● ● ●
Spraying Uap cat ● ● ● ● ● ●
Ironing Kalor ● ● ●
Embossing - - - -
Keterangan :
EI : PT ELCO Indonesia KLM : PT Karya Lestari Mandiri PS : PD Putra Setra
● : Ada
- : Tidak ada limbah * : Maklon (pihak ketiga)
Setiap proses produksi yang ada di industri penyamakan kulit Sukaregang menghasilkan limbah-limbah tertentu tergantung pada proses produksinya. Sistem penanganan terhadap limbah tersebut pun berbeda-beda. Tujuan produksi bersih itu sendiri untuk membuat lebih efesien dalam menggunakan sumber daya dan mengurangi limbah serta emisi pada sumbernya. Ada enam teknik pelaksanaan produksi bersih, yaitu pengurangan pada sumber, perubahan produk, perubahan material input, volume buangan diper-kecil, perubahan teknologi, good housekeeping. Pada pengamatan di kawasan industri penyamakan kulit, industri yang dikaji telah melakukan tiga dari enam strategi produksi bersih, yaitu pengurangan pada sumber, good housekeeping, dan perubahan teknologi. Strategi produksi bersih yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Strategi produksi bersih yang telah dilakukan pada industri penyamakan kulit
Strategi Aktivitas
Pengurangan pada sumber atau
On site recovery
- Pemanfaatan kulit sisa splitting untuk pembuatan makanan kerupuk ‘drokdok’ (PS)
Good Housekeeping - Pencucian drum setelah digunakan - Perawatan berkala drum (satu tahun sekali) - Penggunaan sepatu boots di daerah basah dan licin - Saluran pembuangan yang memadai
- Pekerja memakai masker di daerah berdebu - Setiap lantai ber-plester semen.
- Penggunaan sarung tangan saat melarutkan zat krom, asam, dan pewarna.
(EI, PS,dan KLM)
- Penggunaan gondola untuk memu-dahkan proses transportasi material. (KLM)
Perubahan teknologi - Dust scavenger pada alat buffing (PS) - Conveyor hanging (EI)
- Vacuum machine (PS) - Sprayer machine (EI, KLM)
Penerapan produksi bersih belum sepenuhnya tercapai karena tingginya cemaran limbah masih menjadi polemik bagi kawasan industri penyamakan kulit di Garut. Sebagai contoh, IPAL yang tak berfungsi sepenuhnya menyebabkan pencemaran logam krom tetap berlangsung padahal logam krom berbahaya bagi kesehatan. Banyaknya aktivitas produksi bersih yang dilakukan pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut tidak menutup kemungkinan untuk membuka peluang produksi bersih kembali guna meningkatkan efesiensi. Beberapa peluang penerapan produksi bersih pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Peluang produksi bersih pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut
Strategi Aktivitas
Good Housekeeping - Pemantauan pemakaian air (KLM, PS, dan EI) - Retribusi limbah untuk IPAL (KLM, PS, dan EI)
- Penggunaan incinerator untuk me-ngurangi limbah debu atau kulit sisa proses (KLM, PS, dan EI)
- Pengadaan gondola untuk memper-mudah proses transfer barang ke lantai atas (didasarkan pada denah PT Elco Indonesia, Gambar 3 dan 4)
Perubahan material input - Peternak binaan (KLM, PS, dan EI)
- Trimming sebelum chemical treatment (KLM, PS, dan EI) Perubahan teknologi - Sosialisasi hasil penelitian (KLM, PS, dan EI)
- Penggunaan conveyor hanging untuk mempercepat penjemuran kulit (KLM, PS)
Alternatif produksi bersih yang dapat diterapkan pada kawasan industri penyamakan kulit pada Tabel 4 dianalisis dengan metoda Metoda Perbandingan Eksponensial (MPE) untuk memperoleh alternatif yang sesuai dengan kriteria ekonomi dan teknis yang diharapkan pelaku industri penyamakan kulit dapat dilihat pada Tabel 5, sedangkan untuk penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 5. Parameter penilaian alternatif produksi bersih menggunakan metoda MPE Kriteria Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian
Ekonomi
1 Biaya sangat tinggi
2 Biaya tinggi
3 Biaya cukup murah
4 Biaya murah
5 Biaya sangat murah
Teknis
1 Sangat sulit penerapannya
2 Sulit penerapannya
3 Cukup mudah penerapannya
4 Mudah penerapannya
Tabel 6. Penilaian aktifitas produksi bersih tahap awal melalui metoda MPE No. Alternatif produksi bersih Ekonomi Kriteria Teknik
1. Pembuatan gondola 2 2
2. Pengadaan incinerator 2 2
3. Pengadaan conveyor
hanging 2 2
4 Pengawasan pemakaian air 4 3 5 Peternak binaan untuk
kontinuitas bahan baku 3 3
6 Pajak/retribusi limbah
untuk pengolahan IPAL 3 4
7 Sosialisasi hasil penelitian dan pengembangan industri penyamakan kulit
4 3
8 Proses trimming sebelum
chemical treatment 3 3
NILAI BOBOT 5 3
Sumber: Hasil wawancara dan penilaian pakar
Berdasarkan hasil wawancara dan penilaian dengan pakar dan pihak industri maka didapatkanlah nilai MPE yang disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil perhitungan dengan MPE
Prioritas Alternatif terpilih Nilai MPE 1 Pengawasan pemakaian air 0.162 2 Sosialisasi hasil penelitian dan
pengembangan industri penyamakan kulit
0.162
3 Pajak/retribusi limbah untuk
pengolahan IPAL 0.151
4 Proses trimming sebelum
chemical treatment 0.134
5 Peternak binaan untuk
kontinuitas bahan baku 0.134
6 Pembuatan gondola 0.089
7 Pengadaan incinerator 0.089
Delapan alternatif pada Tabel 7, kemudian diambil lima alternatif (pada Tabel 8) untuk mempermudah analisis pada prioritas penilaian produksi bersih menggunakan metoda AHP.
Tabel 8. Peluang produksi bersih yang diambil setelah dianalisis melalui metoda MPE
Strategi Aktivitas
Good housekeeping - Pemantauan pemakaian air - Retribusi limbah untuk IPAL
Perubahan material input - Peternak binaan
- Trimming sebelum chemical treatment
Perubahan teknologi - Sosialisasi hasil penelitian