• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Proses produksi 1 Neraca Massa

Industri penyamakan kulit memiliki berbagai tahapan proses produksi yang berbeda-beda, namun jika dilihat alur proses produksinya, proses produksi yang ada bisa digolongkan menjadi dua tipe, yaitu: pertama, proses produksi menggunakan sistem maklon, contoh pada PT Karya Lestari Mandiri dan PD Putra Setra. Proses produksi yang menggunakan sistem maklon yaitu menggunakan jasa pihak ketiga guna menjalankan proses produksinya. Hal ini terjadi karena keterbatasan alat yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Kedua, segala proses produksi di perusahaan ini ditangani sendiri, artinya perusahaan ini memiliki semua alat yang dibutuhkan guna menunjang proses produksi contohnya pada PT ELCO Indonesia.

Gambar 8. Neraca Massa Penyamakan Kulit PT ELCO Indonesia

4.2.2 Proses Liming

Proses liming atau proses pengapuran bertujuan untuk menghilangkan lapisan epidermis, mengilangkan kelenjar keringat, dan kelenjar lemak. Perendaman dalam larutan kapur menyebabkan sebagian bulu kulit lepas. Sisa daging yang masih melekat pada kulit dibuang dengan pisau buang daging sampai bersih kemudian dikerok lagi pada bagian rajahnya dengan pisau buang bulu halus untuk mengeluarkan kelenjar-kelenjar yang telah dipecahkan oleh kapur.

Alat yang digunakan pada proses ini adalah drum besar yang berputar pada porosnya dan digerakan oleh mesin bertenaga listrik. Mesin ini dirawat tiap satu tahun sekali, namun jika terjadi kerusakan makan mesin segera diperbaiki. Limbah yang dihasilkan pada proses ini umumnya berupa cairan dan padatan tersuspensi yang merupakan sisa daging, lemak, dan bulu. Pada kasus PT ELCO Indonesia dan PT KLM, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami perlakuan pemisahan limbah baik padat maupun cair. Pada PD Putra Setra, limbah cair dan padat dipisahkan terpisah sehingga kinerja IPAL tidak terbebani.

4.2.3 Proses Fleshing atau splitting

Pembuangan sisa daging setelah proses liming tetap dilanjutkan pada proses fleshing, umumnya perusahaan sudah menggunakan alat untuk proses fleshing ini. Pada proses ini limbah yang dihasilkan

umumnya berupa padatan yang merupakan sisa daging dan lemak. Pada kasus PT ELCO dan PT KLM, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami perlakuan pemisahan limbah baik padat maupun cair.

Gambar 10. Liming drum PT ELCO Indonesia

Gambar 11. Mesin fleshing PT ELCO Indonesia

Di perusahaan PD Putra Setra, untuk limbah hasil splitting dikumpulkan pada suatu tempat dan limbah ini dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk dijadikan kerupuk ‘drokdok’.

4.2.4 Proses Deliming

Semua proses penyamakan berlangsung dalam lingkungan asam. Oleh karena itu, kapur di dalam kulit harus dihilangkan. Kapur yang masih berada di dalam kulit akan mengganggu proses- proses penyamakan selanjutnya. Sisa kapur yang masih tertinggal dapata terlihat pada penampang kulit bagian tengah berwarna merah jika ditetesi indicator phenolphthalein. Sisa kapur ini dapat dihilangkan pada proses selanjutnya.

Drum yang digunakan pada proses ini memiliki prinsip yang sama dengan proses liming. Mesin ini dirawat tiap satu tahun sekali, namun jika terjadi kerusakan maka mesin segera diperbaiki. Pada proses deliming limbah yang dihasilkan umumnya berupa cairan yang memiliki campuran senyawa kimia yang dapat merusak lingkungan. Pada semua industri, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami proses pengolahan.

4.2.5 Proses Bating dan Pickling

Proses ini menggunakan enzim protease untuk melanjutkan pembuangan semua zat-zat bukan kolagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran antara lain sisa-sisa akar bulu dan pigmen, sisa-sisa akar lemak yang tak tersabunkan dan sisa kapur yang masih tertinggal. Proses pickling atau proses pengasaman ini dilakukan untuk menghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal, menghilangkan noda-noda besi selama proses pengapuran, kulit menjadi putih bersih dan menyiapkan kulit pada kondisi asam.

Alat yang digunakan pada proses ini adalah drum yang sama pada proses deliming dan

chroming. Mesin ini dirawat tiap 1 tahun sekali, namun jika terjadi kerusakan maka mesin ini segera diperbaiki. Pada proses ini limbah yang dihasilkan adalah cairan yang merupakan cairan bersenyawa kimia. Umumnya keseluruhan perusahaan, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami perlakuan terlebih dahulu.

Gambar 12. Deliming drum PT ELCO Indonesia

4.2.6 Proses Penyamakan Chroming

Proses penyamakan sebagian besar menggunakan bahan kimia krom yang bertujuan untuk mengubah kulit mentah yang mempunyai sifat tidak stabil yaitu mudah rusak oleh aktivitas mikroorganisme, kerusakan sifat fisik maupun kimia menjadi kulit tersamak yang bersifat stabil dan lebih tahan terhadapt berbagai kerusakan. Umumnya zat penyamak komersial yang banyak digunakan mempunyai basisitas 33.3%. dalam penyamakan diperlukan 2.5%-3% Cr2O3. Proses pengerjaannya terlebih dahulu melarutkan bahan penyamak (misalnya cromosal B) selama 24 jam.

Kulit yang telah diasamkan diputar dalam tanning drum dengan 80-100% air, 3-4% garam dapur (NaCl). Drum yang digunakan pada proses ini adalah drum yang sama digunakan dalam proses

deliming dan pickling. Mesin ini dirawat tiap 1 (satu) tahun sekali, namun jika terjadi kerusakan maka mesin segera diperbaiki. Pada proses chroming, limbah yang dihasilkan berupa cairan yang memiliki campuran senyawa kimia, yaitu zat asam dan zat krom yang berbahaya bagi lingkungan. Pada Semua industri, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami proses pengolahan in situ. Jumlah kulit yang akan diolah pada proses ini mempengaruhi jumlah bahan kimia yang digunakan. Maka tingkat pencemaran lingkungan dapat dicegah pada proses ini.

Gambar 13. drum Bating dan pickling PT ELCO Indonesia

Gambar 14. Drum kroming PT ELCO Indonesia

4.2.7 Proses Samying

Proses samying atau proses pemekaran bertujuan untuk mengurangi air sampai dengan 45-50% sehingga memudahkan kulit untuk diserut (shaving). Pada proses ini limbah yang dihasilkan berupa cairan. Penggunaan alat ini diperlukan kehatian-hatian, karena alat ini memiliki 2 (dua) roda yang berputar tanpa adanya pengaman. Kondisi kesehatan operator mempengaruhi kinerja sehari-hari dalam mengoperasikan alat ini.

4.2.8 Proses Shaving dan Trimming

Proses penyerutan (shaving) bertujuan untuk meratakan dan mengatur ketebalan kulit sesuai yang diinginkan. Setelah proses penyerutan selesai, maka kulit ditimbang ulang sebelum melanjutkan proses selanjutnya. Tujuannya untuk mengetahui berat kulit setelah proses shaving. Hal tersebut kemudian dijadikan dasar perhitungan dalam penggunaan obat-obatan atau bahan lainnya dalam proses berikutnya.

Proses Trimming adalah proses pemotongan bagian yang tidak rapih. Proses ini sangat bermanfaat dalam menghemat pemakaian jumlah bahan kimia yang digunakan pada proses selanjutnya. Pada proses ini limbah yang dihasilkan berupa padatan berbentuk serbuk halus dan serpihan kulit. Limbah yang dihasilkan pada dasarnya masih bisa dimanfaatkan sebagai by product. Umumnya limbah yang dihasilkan ini langsung diangkut menuju TPA. Penggunaan alat ini diperlukan kehatian-hatian, karena alat ini memiliki 2 (dua) roda yang berputar tanpa adanya pengaman. Kondisi kesehatan operator mempengaruhi kinerja sehari-hari dalam mengoperasikan alat ini.

4.2.9 Proses Washing, Neutralizing, Retanning

Proses washing atau pencucian bertujuan untuk mengembalikan kadar air, menghilangkan sisa- sisa krom yang tidak dapat terikat. Bahan yang digunakan adalah 200% air bersuhu 350C, asam formiat 0.2% dan kemudian diputar dalam tanning drum selama 10 menit atau sampai dicek benar- benar bersih air buangannya. Setelah melalui proses washing selanjutnya adalah proses neutralizing. Kondisi kulit samak krom sangat aam (pH 3-4). Oleh karena itu, kulit perlu dinetralkan kembali agar tidak mengganggu pada proses selanjutnya. Proses pengerjaannya adalah kulit diputar dalam tanning drum selama ½ - 1 jam dengan air bersuhu 40-600C sebanyak 200% (dihitung berdasarkan berat kukit setelah proses trimming, dan 1-2% NaHCO3. Penetralan dianggap cukup apabila ⅓-¼ penampang kulit bagian tengah berwarna kuning terhadap indicator BCG sedangkan kulit bagian tepi berwarna biru. Setelah proses netralisasi dilakukan proses retanning atau proses penyamakan ulang, yang bertujuan untuk menyempurnakan penyamakan dan member bahan pengisi pada kulit.

Gambar 16. Mesin shaving dan trimming PT ELCO Indonesia

Drum yang digunakan pada proses ini memiliki prinsip kerja yang sama dengan proses liming. Mesin ini dirawat tiap setahun sekali, namun jika terjadi kerusakan maka mesin segera diperbaiki. Pada proses washing, limbah yang dihasilkan berupa cairan yang memiliki campuran senyawa kimia. Pada Semua industri, limbah yang dihasilkan langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami proses pengolahan. Pada proses ini jumlah kulit yang akan diolah mempengaruhi jumlah bahan kimia yang digunakan.

4.2.10 Proses Dying dan Fatliquoring

Proses dying atau pengecatan dasar bertujuan untuk memberikan warna dasar kepada kulit. Pencelupan berguna untuk menambah warna pigmen pada kulit. Zat warna yang digunakan disebut warna dasar karena proses selanjutnya akan diberi warna untuk menghasilkan warna yang lebih baik. Proses pengerjaannya adalah air sebanyak 150% dengan suhu 400C, obat celup (sela fast black) sebanyak 4% dicampur dalam tanning drum selama 30 menit.

Bahan-bahan yang dicampur dengan 150-200% air adalah sandolix sp (3%) sandolix wwl (3%) dan asam formiat (0.5%) dengan pH 3.7-4. Tujuan penambahan asam formiat adalah untuk menghambat pertumbuhan jamur pada kulit.

Drum yang digunakan pada proses ini memiliki prinsip kerja yang sama dengan proses liming, namun ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan drum pada proses liming. Mesin ini dirawat tiap 1 tahun sekali, namun jika terjadi kerusakan maka mesin segera diperbaiki. Pada proses dying ini, limbah yang dihasilkan berupa cairan yang memiliki bermacam-macam warna tergantung dari bahan pewarna yang digunakan, seringkali zat warna inilah yang menyebabkan air pada sungai berwarnamacam- macam. Pada Semua industri, limbah yang dihasilkan pada proses ini langsung dialirkan ke IPAL dan tidak mengalami proses pengolahan. Pada proses dying, jumlah kulit yang akan diolah akan mempengaruhi jumlah bahan kimia pewarna yang digunakan.

Gambar 18. Proses dyeing PT ELCO Indonesia

4.2.11 Proses Setting out atau Vacuum

Proses setting out/vacuum tujuannya adalah mengurangi kadar air yang terkandung dalam kulit tersamak sampai sekitar 40% untuk setting out atau lebih dari 40% jika menggunakan vacuum. Semua proses ini sudah menggunakan alat-alat listrik.

Alat vacuum ini hanya dimiliki oleh PD Putra Setra, alat ini diklaim mampu mengurangi kandungan air hingga 40%. Alat ini menggunakan bahan bakar solar dan mampu mengeringkan 6 (enam) lembar kulit seukuran kulit sapi dalam satu waktu. Karena alat ini terbilang modern, limbah yang dihasilkan pun hampir tidak ada.

4.2.12 Proses Hanging

Setelah dikurangi kadar airnya hingga nilai tertentu maka dilakukan tahap pengeringan lanjutan. Umumnya dilakukan penjemuran menggunakan bantuan sinar matahari, dan penjemuran tanpa sinar matahari atau menggunakan hanging conveyor untuk jenis kulit yang memiliki artikel khusus. Untuk alat hanging conveyor hanya dimiliki oleh PT ELCO Indonesia, alat ini memiliki kapasitas penjemuran hingga 1,000 kulit dalam sekali pengoperasiannya. Alat ini digunakan untuk mengeringkan artikel tertentu yang tidak boleh dijemur langsung sinar matahari.

4.2.13 Proses Milling

Proses milling atau proses pelemasan adalah proses yang menggunakan drum berputar yang didalamnya berisi bola-bola yang berfungsi untuk menumbuk atau melemaskan kulit. Proses kerjanya, kulit yang telah dijemur melalui proses pengeringan matahari langsung atau tidak langsung kemudian dimasukan ke dalam drum yang didalamnya sudah terisi dengan bola-bola yang terbuat dari karet. Setelah kulit dimasukan, drum diputar. Proses ini menghasilkan limbah padat berupa serbuk kulit yang sangat halus yang merupakan hasil dari tumbukan bola-bola dengan kulit kering.

Gambar 20. Hanging manual PD Putra Setra Gambar 21. Hanging conveyor PT ELCO Indonesia

Gambar 22. Drum milling PT ELCO Indonesia

4.2.14 Proses Stacking

Proses stacking atau pelemasan bertujuan untuk mendapatkan kelemasan kulit yang diinginkan serta memperoleh pertambahan luas permukaan. Alat yang digunakan adalah mesin stacking. Pada proses ini limbah yang dihasilkan berupa debu-debu halus. Penggunaan alat ini diperlukan kehatian- hatian, karena alat ini memiliki dua roda yang berputar tanpa adanya pengaman.

4.2.15 Proses Toggling

Proses ini bertujuan untuk memperoleh penambahan luas secara maksimal. Alat yang digunakan adalah mesin toggle dengan sistem pegas. Prinsipnya yaitu kulit dibentangkan pada papan besi berpegas sehingga kulit tertarik, kemudian dimasukan ke dalam oven untuk mempertahankan ketegangan kulit. Pada proses ini suhu ruangan cukup kurang nyaman dikarenakan panas yang ditimbulkan pada oven. Hal ini perlu diantisipasi dengan penggunaan ventilasi yang cukup atau penggunaan blower agar udara lancar mengalir sehingga karyawan nyaman selama bekerja dan pekerjaan pun menjadi optimal. Kurangnya papan peringatan dilarang merokok menyebabkan operator kurang begitu paham mengenai kondisi bahaya yang ditimbulkan jika merokok di ruangan ini, karena di dalam ruangan ini alat toggling menggunakan gas sebagai bahan bakarnya.

Gambar 23. Proses Stacking PD Putra Setra

Gambar 24. Proses toggling PT ELCO Indonesia

4.2.16 Proses Buffing

Proses penghampelasan ini bertujuan untuk menghaluskan sisi dalam kulit. Alat yang digunakan adalah mesin buffing. Pada proses ini limbah yang dihasilkan berupa padatan serbuk halus yang sangat mengganggu kesehatan, terutama pernafasan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan sekali jika bekerja di tempat ini menggunakan masker yang sesuai. Alat buffing yang ada di PD Putra Setra sudah memiliki kantung debu, hal ini sangat membantu mengurangi pencemaran dan membantu menjaga kesehatan operator. Tapi keberadaannya kurang dimanfaatkan secara optimal, bisa dilihat pada Gambar 26, kantung debu yang sudah penuh terisi tidak segera diganti atau dikeluarkan isinya, sehingga limbah debu halus keluar, tidak tertampung dan mengganggu kesehatan operator.

Gambar 25. Proses buffing PD Putra Setra

4.2.17 Proses Finalizing (Spraying, Ironing, Embossing, Measuring)

Proses penyelesaian akhir bertujuan untuk mempermudah penampilan kulit jadi, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah kulit serta menutup cacat-cacat atau warna dasar yang tidak rata. proses spraying bertujuan untuk memberikan warna yang merata atau mengkilap sehingga menarik konsumen. Alat yang digunakan adalah mesin kompresor yang dilengkapi dengan sprayer. Tahap selajutnya yaitu tahap ironing bertujuan untuk merapihkan permukaan kulit menggunakan panas. Setelah itu, proses embossing yang bertujuan untuk merubah kulit atasan (nerf) agar lebih menarik konsumen. Hasil cetakan tergantung permintaan konsumen. Mesin yang digunakan adalah embossing machine. Setelah semuanya selesai tahap terakhir adalah tahap measuring atau tahap pengukuran. Proses ini bertujuan untuk mengukur luas kulit yang dihasilkan menggunakan alat digital atau manual yang mengukur luasan kulit. Proses spraying

menghasilkan limbah berupa cairan cat yang terdispersi di udara. Hal ini bisa berbahaya bagi kesehatan operator jika terus menerus terpapar dalam waktu yang lama. Oleh sebab, itu masker yang sesuai diperlukan agar kesehatan operator terjaga serta operator nyaman selama bekerja di area tersebut.

Gambar 27. Proses spraying PT Karya Lestari Mandiri

Tabel 2. Jenis limbah dan penanganannya pada kawasan industri penyamakan kulit Proses Jenis Limbah Sistem Produksi bersih End of Pipe system Langsung dibuang

EI KL PS EI KL PS EI KL PS

Liming Bulu-bulu ● ● ● ● ● ●

Padatan lemak ● ● ● ● ● ●

Air kapur ● ● ● ● ● ●

Fleshing /

Splitting Lapisan kulit ● ● ●

Bulu-bulu halus

kulit ● ● ●

Deliming Air campuran kapur dan

ammonia ● ● ● ● ● ●

Gas ammoniak ● ● ●

Pickling Air campuran garam, enzim, dan asam

● ● ● ● ● ●

Tanning Air krom ● ● ● ● ● ●

Samying Uap air ● -* -*

Shaving Serbuk halus kulit ● ● ●

Trimming Potongan kulit ● ● ●

Netralisasi Air proses

netralisasi ● ● ● ● ● ●

Retanning Air krom dan

asam ● ● ● ● ● ●

Dyeing Zat warna ● ● ● ● ● ●

Fat liquoring Fat liquoring ● ● ● Drum Washing Air ● ● ● ● ● ● Hanging/ Setting Out/ Vacuum - - - - -

Stacking Serbuk halus kulit ● ● ●

Toogling Kalor ● ● ●

Gas bahan bakar ● ● ●

Milling Serbuk halus kulit ● ● ●

Buffing Serbuk halus kulit ● ● ●

Spraying Uap cat ● ● ● ● ● ●

Ironing Kalor ● ● ●

Embossing - - - -

Keterangan :

EI : PT ELCO Indonesia KLM : PT Karya Lestari Mandiri PS : PD Putra Setra

● : Ada

- : Tidak ada limbah * : Maklon (pihak ketiga)

Setiap proses produksi yang ada di industri penyamakan kulit Sukaregang menghasilkan limbah-limbah tertentu tergantung pada proses produksinya. Sistem penanganan terhadap limbah tersebut pun berbeda-beda. Tujuan produksi bersih itu sendiri untuk membuat lebih efesien dalam menggunakan sumber daya dan mengurangi limbah serta emisi pada sumbernya. Ada enam teknik pelaksanaan produksi bersih, yaitu pengurangan pada sumber, perubahan produk, perubahan material input, volume buangan diper-kecil, perubahan teknologi, good housekeeping. Pada pengamatan di kawasan industri penyamakan kulit, industri yang dikaji telah melakukan tiga dari enam strategi produksi bersih, yaitu pengurangan pada sumber, good housekeeping, dan perubahan teknologi. Strategi produksi bersih yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Strategi produksi bersih yang telah dilakukan pada industri penyamakan kulit

Strategi Aktivitas

Pengurangan pada sumber atau

On site recovery

- Pemanfaatan kulit sisa splitting untuk pembuatan makanan kerupuk ‘drokdok’ (PS)

Good Housekeeping - Pencucian drum setelah digunakan - Perawatan berkala drum (satu tahun sekali) - Penggunaan sepatu boots di daerah basah dan licin - Saluran pembuangan yang memadai

- Pekerja memakai masker di daerah berdebu - Setiap lantai ber-plester semen.

- Penggunaan sarung tangan saat melarutkan zat krom, asam, dan pewarna.

(EI, PS,dan KLM)

- Penggunaan gondola untuk memu-dahkan proses transportasi material. (KLM)

Perubahan teknologi - Dust scavenger pada alat buffing (PS) - Conveyor hanging (EI)

- Vacuum machine (PS) - Sprayer machine (EI, KLM)

Penerapan produksi bersih belum sepenuhnya tercapai karena tingginya cemaran limbah masih menjadi polemik bagi kawasan industri penyamakan kulit di Garut. Sebagai contoh, IPAL yang tak berfungsi sepenuhnya menyebabkan pencemaran logam krom tetap berlangsung padahal logam krom berbahaya bagi kesehatan. Banyaknya aktivitas produksi bersih yang dilakukan pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut tidak menutup kemungkinan untuk membuka peluang produksi bersih kembali guna meningkatkan efesiensi. Beberapa peluang penerapan produksi bersih pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Peluang produksi bersih pada kawasan industri penyamakan kulit di Garut

Strategi Aktivitas

Good Housekeeping - Pemantauan pemakaian air (KLM, PS, dan EI) - Retribusi limbah untuk IPAL (KLM, PS, dan EI)

- Penggunaan incinerator untuk me-ngurangi limbah debu atau kulit sisa proses (KLM, PS, dan EI)

- Pengadaan gondola untuk memper-mudah proses transfer barang ke lantai atas (didasarkan pada denah PT Elco Indonesia, Gambar 3 dan 4)

Perubahan material input - Peternak binaan (KLM, PS, dan EI)

- Trimming sebelum chemical treatment (KLM, PS, dan EI) Perubahan teknologi - Sosialisasi hasil penelitian (KLM, PS, dan EI)

- Penggunaan conveyor hanging untuk mempercepat penjemuran kulit (KLM, PS)

Alternatif produksi bersih yang dapat diterapkan pada kawasan industri penyamakan kulit pada Tabel 4 dianalisis dengan metoda Metoda Perbandingan Eksponensial (MPE) untuk memperoleh alternatif yang sesuai dengan kriteria ekonomi dan teknis yang diharapkan pelaku industri penyamakan kulit dapat dilihat pada Tabel 5, sedangkan untuk penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 5. Parameter penilaian alternatif produksi bersih menggunakan metoda MPE Kriteria Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian

Ekonomi

1 Biaya sangat tinggi

2 Biaya tinggi

3 Biaya cukup murah

4 Biaya murah

5 Biaya sangat murah

Teknis

1 Sangat sulit penerapannya

2 Sulit penerapannya

3 Cukup mudah penerapannya

4 Mudah penerapannya

Tabel 6. Penilaian aktifitas produksi bersih tahap awal melalui metoda MPE No. Alternatif produksi bersih Ekonomi Kriteria Teknik

1. Pembuatan gondola 2 2

2. Pengadaan incinerator 2 2

3. Pengadaan conveyor

hanging 2 2

4 Pengawasan pemakaian air 4 3 5 Peternak binaan untuk

kontinuitas bahan baku 3 3

6 Pajak/retribusi limbah

untuk pengolahan IPAL 3 4

7 Sosialisasi hasil penelitian dan pengembangan industri penyamakan kulit

4 3

8 Proses trimming sebelum

chemical treatment 3 3

NILAI BOBOT 5 3

Sumber: Hasil wawancara dan penilaian pakar

Berdasarkan hasil wawancara dan penilaian dengan pakar dan pihak industri maka didapatkanlah nilai MPE yang disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil perhitungan dengan MPE

Prioritas Alternatif terpilih Nilai MPE 1 Pengawasan pemakaian air 0.162 2 Sosialisasi hasil penelitian dan

pengembangan industri penyamakan kulit

0.162

3 Pajak/retribusi limbah untuk

pengolahan IPAL 0.151

4 Proses trimming sebelum

chemical treatment 0.134

5 Peternak binaan untuk

kontinuitas bahan baku 0.134

6 Pembuatan gondola 0.089

7 Pengadaan incinerator 0.089

Delapan alternatif pada Tabel 7, kemudian diambil lima alternatif (pada Tabel 8) untuk mempermudah analisis pada prioritas penilaian produksi bersih menggunakan metoda AHP.

Tabel 8. Peluang produksi bersih yang diambil setelah dianalisis melalui metoda MPE

Strategi Aktivitas

Good housekeeping - Pemantauan pemakaian air - Retribusi limbah untuk IPAL

Perubahan material input - Peternak binaan

- Trimming sebelum chemical treatment

Perubahan teknologi - Sosialisasi hasil penelitian

4.3. Analisis Alternatif Produksi Bersih Pada Kawasan Industri Penyamakan

Kulit

Kajian produksi bersih pada kawasan industri penyamakan kulit telah dilakukan melalui pengamatan terhadap tiga industri yang didasarkan pada hasil tinjauan di lapang serta wawancara dengan pakar (Dinas Industri dan Penanaman Modal Kota Garut, Dinas Pertamanan dan Lingkungan Hidup Kota Garut, dan pihak industri). Hasil pengamatan dan wawancara tersebut memperlihatkan beberapa alternatif produksi bersih terkait dengan kondisi kawasan industri penyamakan kulit Sukaregang saat ini. Berdasarkan penggunakan Metoda Perbandingan Eksponensial (MPE) maka beberapa alternatif tersebut kemudian dipilih lima alternatif yang akan dikaji lebih lanjut, yaitu