HASIL PENELITIAN
4.3 Profil Informan
4.4.1 Proses Komunikasi Transendental
Komunikasi transendental pemain debus Maung Pande, mentransformasikannya ke dalam metode atau tarekat. Tarekat atau metode yang di gunakan di Padepokan Maung Pande menggunakan tarekat islam, karena debus itu kental dengan ajaran dan nilai-nilai agama islam. Di dalam tarekat islam ada beberapa bentuk komunikasi transendental yang bisa dilakukan agar dapat mencapai kekebalannya. Proses ini biasa dilakukan dari awal yang sama sekali tidak bisa bermain Debus hingga akhirnya bisa.
Ritual dalam permainan debus sebenarnya adalah bentuk-bentuk keagamaan yang dilandaskan atas ajaran agama atau kepercayaan. Dalam permainan debus, proses komunikasi transendental harus dilaksanakan dengan benar sesuai peraturan, hal ini terkait dengan tingkat kesiapan dan keberhasilan dalam mencapai kekebalan seorang pemain debus.
Contoh komunikasi transendental pemain debus sebelum bisa melakukan permainan debus bisa dengan berpuasa. Puasa merupakan latihan pengendalian diri menahan hawa nafsu. Puasa dalam debus bukan seperti puasa di Bulan Ramadhan seperti biasanya, sedangkan puasa dalam debus merupakan upaya pengolahan batin dengan menggingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Jumlah hari puasa yang harus dilakukan seorang pemain debus bergantung pada kemampuan apa yang ingin ia dapat, misalkan puasa yang dilakukan 3 hari, 7 hari, dan sampai 40 hari. Pada setiap padepokan akan berbeda kebijakan atau peraturan terkait puasa. Adapun larangan yang harus dipatuhi, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak berjudi, dan tidak minum-minuman keras. Yang dilarang oleh agama itulah yang harus dijauhi oleh seorang pemain debus dalam proses komunikasi transendental.
Pada saat ini debus sudah dikembangkan oleh beberapa perguruan yang ada, salah satunya di Maung Pande, penggunaan tarekat islam hanya dilakukaan saat seorang pemain debus dalam keadaan belum bisa sama sekali, jadi penggunaan tarekat islam itu harus dengan niat kuat dan tekad yang keras agar penggunaan tarekat islam tidak disalah gunakan. Harus dengan orang
yang memiliki niat untuk melestarikan kesenian debus, di Padepokan Maung Pande ada cara lain selain menggunakan tarekat islam, yaitu menggunakan kepercayaan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Kepercayaan dan kepasrahan atas Allah SWT bisa disebut sebagai komunikasi Transendental, dimana hubungan sakral manusia kepada Allah dengan cara berpasrah dan mempercayai segala keselamatan hanya milik allah. Dibalik proses kepercayaan dan kepasrahan atas Allah SWT tetap ada unsur tarekat islam didalamnya, karena dengan kita sholat, dzikir dan puasa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seorang muslim.
Berdasarkan teori komunikasi yang peneliti gunakan, Lasswell menjelaskan komunikasi merupakan suatu proses yang menjelaskana siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dengan akibat atau efek apa?. Berdasarkan proses diatas peneliti menemukan bagaimana proses komunikasi transcendental pemain debus menggunakkan unsur-unsur atau proses yang berdasarkan teori Lasswell.
a. Sumber
Pemain Debus menjadi sumber komunikasi, dimana pemain debus merupakan pihak yang memiliki kepentingan utama ingin mencapai kekebalannya. Pemain debus menjadi komunikator yang memiliki pesan yang ingin disampaikan, komunikan atau penerima pesannya disini adalah Tuhan.
b. Pesan
Pesan yang disampaikan oleh pemain debus adalah harapan dan niat keinginan untuk menjadi kebal terhadap benda tajam. Dalam Komunikasi Transendental pesan yang disampaikan tidak terlihat wujudnya namun pesan yang dikomunikasikan memiliki efek pada akhirnya. Secara spesifik isi pesan yang disampaikan oleh pemain debus memiliki esensi pencapaian proses ritual yang dilakukan oleh pemain debus.
c. Saluran
Saluran atau media yang digunakkan oleh pemain debus dalam mencapai kekebalannya melalui Shalat, Puasa, dan Wirid. Shalat, puasa, dan wirid merupakan alat atau media yang digunakkan untuk menyampaikan pesan kepada penerima. Contohnya, shalat tujuan utama pemain debus berkomunikasi dengan AllahSWT, focus pada ibadahnya namun dibalik itu ada tujuan lain untuk menyampaikan pesan pemain debus ingin mencapai kekebalannya.
d. Penerima
Dalam penelitian ini, merujuk pada siapa penerima pesan dalam komunikasi transendental. Penerima pesan yang dikomunikasikan oleh pemain debus adalah Tuhan atau Allah SWT. Allah SWT dijadikan penerima pesan yang disampaikan oleh pemain debus, dengan harapan mencapai apa yang di harapkan dan pencapaian kekebalannya.
e. Efek
Efek yang dihasilkan melalui komunikasi transendental pemain debus adalah mencapai kekebalannya, dalam pencapaiannya Tuhanlah yang
mengisyaratkan atas diterimanya pesan yang disampaikan pemain debus. Pada efek yang dihasilkan peran guru juga berpengaruh, karena guru juga yang mendorong pesan tersampaikan agar harapan dan niat pemain debus tersebut dapat diterima oleh Allah SWT.
Tarekat yang dijadikan sumber untuk permainan debus adalah tarekat Rifaiyah dan Qodariyah. Permainan debus dalam tradisi tarekat berfungsi untuk mengetahui tingkat ke fana seorang pemain debus ketika ia melakukan wirid dan dzikir. Ketika seseorang telah mencapai derajat fana itu ditandai dengan kemampuan untuk melakukan yang keluar dari hukum alam. Hal yang ini berkorelasi dengan makna fana yang artinya suatu pengalaman ruhani yang merasakan peleburan dalam Zat Yang Maha kuasa. Pengalaman sejenis itu merupakan pengalaman yang sudah keluar dari hukum alam, karena itu
SUMBER (PEMAIN DEBUS) PESAN (KEINGINAN MENJADI KEBAL) MEDIA (SHALAT, PUASA, DOA, DAN
WIRID) PENERIMA
(TUHAN) EFEK (MENCAPAI KEKEBALANNYA)
tanda telah mencapai derajat seperti itu adalah secara fisik juga ditandai dengan hal-hal yang keluar dari kebiasaan manusia biasa, seperti kebal dari benda tajam, tidak terbakar api dan sebagainya.
Akulturasi Debus dengan islam merupakan suatu bentuk sakralisasi kebudayaan, dapat dipahami bahwa hanya seorang muslim yang dapat mempelajari debus. Namun pada perkembangannya saat ini debus bisa di mainkan atau dipelajari oleh semua kalangan atau agama, karena hasil penelitian yang dilakukan di internet, ternyata kesenian seperti debus ada di agama lain selain islam, contohnya agama Budha di Negara China ada kesenian atau permainan pedang. Peneliti disini hanya akan menjelaskan bagaimana proses komunikasi transcendental pemain debus menggunakan tarekat islam.
Mempelajari kesenian debus secara tidak langsung mempelajai tarekat agama dalam hal ini agama Islam, karena jika dilihat dari sejarah kesenian debus itu berfungsi sebagai penyebaran agama Islam pada zaman tersebut, secara tidak langsung juga belajar debus belajar ilmu keselamatan.
Tarekat (tariqah) berarti jalan (metode), dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Secara konseptual terkait dengan hakikat atau kebenaran, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Dengan demikian tarekat memiliki pengertian, adalah metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan tuhan.
Tarekat dalam islam memiliki dua aliran, yaitu tarekat Rifa‘iyah dan tarekat Qadariyah. Tarekat yang biasa di pergunakan oleh seorang pemain debus menggunakan tarekat Qadariyah, tarekat Qadariyah adalah tarekat yang menggunakan syeikh atau bacaan yang menganut aliran syeikh Abdul Qadir Jailani yang biasa kita pergunakan dalam Doa.
Dalam tradisi tarekat Qodariyah untuk mencapai derajat seperti itu membutuhkan latihan yang sangat keras. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah membaca dzikir dan wirid setiap waktu. Tarekat Qodariyah mewajibkan kepada para pengikutnya untuk selalu membaca dzikir yang dikenal dzikir nafi wa isbath, yakni: mengucapkan lafad la ilaha illa „llah
dengan gerakan-gerakan tertentu dalam jumlah tertentu. Dzikir tersebut dilakukan dengan suara yang keras dan dilakukan dengan bersama-sama. Sehingga menimbulkan suara yang dapat didengarkan oleh pihak lain dalam dalam radius beberapa ratus meter. Lafad nafi wa isbath ini biasa diucapkan dengan cara menggerakan kepala dengan alur dari bawah ke atas sambil mengucapkan lafad la, kemudian diteruskan kebahu kanan seraya mengucapkan ilaha, dan akhirnya dengan keras ke arah jantung dengan mengucapkan illa „llah.
Dalam melakukan dzikir dan wirid untuk mencapai kekebalannya, seorang pemain debus tidak bisa melakukannya sendiri, tetapi membutuhkan tuntutan dari seorang guru atau syaikh. Karena itu dibutuhkan washilah yang tidak hanya berfungsi untuk menjamin keakraban seorang guru dengan murid-muridnya juga untuk menuntun seorang pemain debus tetap pada jalan
yang benar secara ruhani karena berasal dari sumber yang jelas silsilahnya. Syaikh dalam tradisi debus adalah sumber inti spiritual. Dengan demikian ia dapat mengubah jiwa seorang murid pemula menjadi pemain debus yang bisa mempertunjukkan beberapa atraksi debus. Syaikh dijadikan sebagai lautan kebajikan, dimana untuk pencerahan ruhani para murid-murid yang sedang belajar menaiki tangga kehidupan spiritual agar dapat mencapai kekebalannya.
Pada sekarang ini mayoritas yang memiliki keahlian magis di Banten sangat erat kaitannya dengan keahlian bermain silat. Yang memiliki keahlian seperti itu sekarang ini adalah para jawara. Permainan debus yang mengandalkan pada kekebalan tubuh terhadap benda-benda tajam dan api merupakan bagian yang mencolok dari sinkretisme antara amalan tarekat dengan kepercayaan magis. Para guru debus pada umumnnya memakai semua jenis praktek jenis magis baik yang diambil dari amalan tarekat mau pun yang diambil dari tradisi lokal. Teknik-teknik mereka merupakan campuran eklektik dari tradisi Islam yang ada dalam amalan tarekat dan tradisi lokal yang diambil dari kepercayaan pra-Islam di Nusantara. Bacaan-bacaan saktinya pun terdiri dari doa-doa yang ada dalam tradisi tarekat yang berbahasa Arab di samping bacaan-bacaan yang menggunakan bahasa Sunda dan Jawa, yang dikenal dengan istilah jangjawokan.
Mantra sunda yang digunakan pemain debus kini sudah berkembang dan cenderung berubah, menurut kang Surya dalam wawancara, ―sekarang mantra yang digunakan sudah ada pengembangannya, jadi tidak seperti
dahulu kala‖. Dibawah ini contoh kalimat atau mantra jangjawokan yang biasa digunakan untuk proses ritual sebelum pertunjukkan debus.
*
Asihan aing asahan batu Beunang guguru ti ratu Beunang nale „k tina hate‟
Mangka itu ngalumpruk saperti upih buruk Nalangkarak seperti mayang ragrag Tunggal welas tunggal asih sia ka aing Nya aing ratu asihan
Ti girang batara gangga Ti hilir batara ginggi Diteuteup ti hareup sieup Ditilik ti gigir lenggik Pipi katumbiran
Irung kuwuwng-kuwungan Tarang lancah mentrangan Mangka welas mangka asih Asih ka awaking
Malaikat jibril pangbeungketkeun Paraintang pariantung
Roh sia aya di aing
Mantra diatas merupakan penggalan kecil dari mantra yang biasa di bacakan sebelum pertunjukkan. Kang surya sang guru besar, tidak menjelaskan dan mendeskripsikan mantra secara jelas, karena terkait itu adalah rahasia perguruan.
Seperti halnya dalam wirid, pembacaan jangjawokan agar mendatangkan efek psikologis yang bermanfaat bagi para pengamalnya, dibutuhkan ketentuan-ketentuan tentang jumlah bacaan pada setiap waktu tertentu. Seorang murid yang diberi amalan oleh gurunya harus mengamalkan sesuai dengan petunjuk gurunya tersebut.