Oleh Abdalla Vebriano Adrian
Ketika berbicara mengenai sebuah ide yang unik, ide yang jarang atau mungkin belum pernah diutarakan se- belumnya, ide yang bisa dibilang cetar membahana, mungkin susah untuk mendapatkannya. Ketika guru saya, Ibu Veronika memberi saya tantangan tersebut, pada awalnya tidak ada yang terlintas dalam benak saya. Hingga suatu ketika ilham datang. Saya melihat sekeliling kelas saya. Hal apa yang benar-benar melekat dalam lingkup ruang ke- hidupan saya selain tempat tinggal atau orang biasa me- nyebutnya home sweet home. Saat itu muncullah kata “ke- jujuran.”
Pikiran yang mengganggu itu ibarat peribahasa “bagai buah simalakama” dalam pikiran saya. Sebuah ide yang bagus, pikir saya. Jarang sekali orang berani untuk meng- ungkapkan atau mendalami tentang kejujuran, terutama dalam ruang lingkup sekolah. Namun, tangan yang lain menanggapinya dengan pernyataan yang bertolak belakang. Berbicara bahwa ide ini terlalu berbahaya karena dapat me- nimbulkan beberapa pihak tersinggung. Dengan kata lain sebagian pihak dapat merasa tidak setuju atas apa yang akan saya tulis nantinya. Sebuah ungkapan melintas di se- buah angkasa tempat semua saraf berpusat, tempat di mana saya berpikir, “siapa pun yang belum pernah melakukan tidak pernah mencoba sesuatu yang baru.” Albert Einstein mengatakan hal itu. Dengan dorongan percaya diri saya
memberanikan diri saya sendiri untuk membuat sebuah esai yang mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan kejujuran tentang dunia pendidikan yang saya alami saat ini.
Sebagai seorang siswa SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di sebuah wilayah dengan sebut- an kota pelajar, apakah kejujuran masih menjadi salah satu permasalahan yang akan terus-menerus diperbincangkan? Dengan melihat dan mempelajari hal ini dari sudut pandang seorang siswa yang kesehariannya berada dalam hiruk pikuk SMA, dengan kepastian saya menjawab iya. Integri- tas yang tercemari oleh kecurangan-kecurangan terus me- rajalela dalam tubuh sebagian siswa. Dengan begitu, saya merasa bahwa menulis sebuah esai mengenai tingkat inte- gritas ini perlu dilakukan. Akan tetapi dalam membuat esai saya harus memiliki dasar atau fakta yang jelas. Oleh karena itu, sebuah penelitian dilakukan.
Dengan bantuan beberapa teman kami mulai melaku- kan sebuah penelitian mengenai tingkat integritas siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Dengan metode kuisioner kami menggapai dari ujung ke ujung mengajak sebanyak mungkin siswa untuk mengisi kuisioner kami. Tanpa menyertakan nama responden kami beranggapan bahwa hal tersebut dapat membuat mereka merasa nyaman untuk mencurah- kan apa yang ada di benak mereka secara bebas dalam se- lembar kertas berisi beberapa pertanyaan.
Didapatkan hasil bahwa masih terdapat siswa yang memiliki integritas yang baik dengan presentase 75,6%. Dengan sisanya terdapat siswa yang kadang-kadang hingga sering melakukan kecurangan. Saya mulai mengotak-atik otak saya apakah ini sepenuhnya kesalahan siswa? Dengan
membaca berbagai macam literatur akhirnya kami mene- mukan jawabannya. Tidak, kesalahan ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sebuah sistem yang ditetapkan pemerintah sepertinya terdapat kecacatan produksi. Apakah benar kurikulum yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu selalu menekankan kejujuran?
Ketika saya menyebutkan bahwa pemerintah terus- menerus mengganti kurikulumnya pasti hal tersebut karena mereka berpikir bahwa kurikulum yang baru memiliki mutu yang lebih baik daripada kurikulum terdahulu. Akan tetapi mereka sepertinya meninggalkan salah satu inti dari apa itu pembelajaran, yaitu kejujuran. Sebagai seorang yang mengabdi terhadap kurikulum yang telah diberikan, saya seperti dibodohi oleh sistem.
Tentu saja bukan berarti saya menyalahkan sistem yang telah diterapkan. Itulah sebuah kalimat yang melintas dalam pikiran saya, apakah kita pantas menyalahkannya begitu saja? Sebelum kita menunjuk jari dan menyalahkan orang lain, tidak ada seorangpun di dunia yang sempurna, apalagi sebuah sistem. Dengan begitu, saya mulai melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mulai membatasi pandangan, mulai melihat hal yang dekat, mulai melihat hal yang sebenarnya ada di bayangan cermin, yaitu kita. Dengan begitu saya mulai beranggapan bahwa sebaiknya kita bercermin terlebih dahulu. Kalimat demi kalimat saya tambahkan demi me- nyempurnakan esai tersebut. Apa yang membuat seseorang melakukan kecurangan hingga merusak integritasnya sen- diri? Merusak integritas hanya untuk mendapatkan sebuah ijazah dan rapor tanpa nilai merah.
Dengan penelitian yang saya dan teman-teman laku- kan dan ide-ide yang saya dapatkan dengan melihat dari
berbagai macam sudut pandang, tanpa berpikir panjang mulai saya catat. Sebagai seorang siswa yang mengerti secara langsung apa yang terjadi hal tersebut yang membuat saya berani untuk menulis sebuah esai. Esai ini berdasar sudut pandang saya, hasil penelitian, dan juga beberapa literatur yang saya baca. Dengan judul “Masih Adakah Pelajar Berintegritas?” Muara esai ini adalah solusi supaya generasi pemuda mampu perbuatan jujur dengan tidak membohongi dirinya sendiri.
Walter J. Ong dalam Orality and Literacy (1982), menegaskan bahwa tanpa tulisan, kata sebagai kata tidak punya makna visual. Hipotesis Walter memang tepat. Tulisan memiliki efek hipnosis untuk menstimulasi gerak setiap pembaca, semacam inspirasi untuk bangun dan bertindak.
Bagaimana tidak? Tulisan—terutama karya susastra—selalu sarat bunyi dan berhimpun imajinasi yang begitu mudah me- nusuk dimensi psikologis pembaca, seperti ungkapan Tagore yang populer itu, “Metre controls poetry, but it gives it “joy of motion”’. Tanpa menilik kemungkinan lain, kita sepakat bahwa sastra ditulis atas dasar visi kemanusiaan, yakni untuk memoles pikiran masyarakat menjadi tercerahkan. Oleh karena itu, untuk memenuhi obligasi morel, sastra memang harus ditulis sebagai- mana juga sastra harus dibaca.
Dulu perkembangan sastra dipengaruhi oleh industri pers. Waktu itu kesadaran banyak kalangan untuk memublikasikan sastra sebagai teks baca menggunakan dua leksikon jurnalisme sastra yakni koran dan majalah yang terlihat memuncak pada dekade 50-an. Seperti dikutip Afrizal Malna, bahwa pada akhir abad ke-16 jurnalisme sastra di Indonesia mulai “mesra” dengan media massa yang diasuh oleh pengarang pribumi. Sepintas,