• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pelaksanaan

Dalam dokumen MEKANISME KATUP PADA MESIN SUZUKI G15 (Halaman 47-80)

BAB III MEKANISME KATUP SUZUKI G

B. Proses Pelaksanaan

Sistem mekanisme katup terletak pada bagian dalam mesin sehingga untuk mengetahui secara detail harus dilakukan pembongkaran mesin pada kepala selinder. Pembongkaran mesin dilakukan setelah persiapkan terlebih dahulu alat, dan bahan, serta manualbook dalam membimbing proses pembongkaran.

1. Proses Pembongkaran

Proses pembongkaran dimulai dengan melihat pada manualbook, komponen apa saja yang harus dilepas dan nantinya ditandai serta setelah dilepas ditaruh pada tempat yang aman.

a. Melepas Konektor yang Berhubungan dengan Mesin

Mesin suzuki G15 sudah menggunakan teknologi EPI ( Elektronic Petrol Injection), dimana teknologi tersebut banyak menggunakan sistem elektronik dalam mengontrol kerja mesin.

Hal pertama yang harus dilakukan saat pembongkaran langkah ini adalah melepas kabel positif dan negatif baterai untuk memutuskan semua aliran arus listrik yang masuk ke mesin.

32

Semua konektor yang berhubungan dengan kerja mesin, diantaranya adalah konektor MAF, injector, IAT, TPS, CKP sensor, CMP, tekanan oli, konektor pada koil, ISC,ECT, konektor pompa bahan bakar, dan lain-lain.

b. Melepas Selang dari Tangki Bahan Bakar

Bahan bakar yang menuju ke pipa injectordialirkan melalui selang, pada mesin ini menggunakan tipe regulator luar sehingga menggunakan dua selang pada saluran bahan bakar. Selang yang pertama berfungsi sebagai aliran bahan bakar dari pompa bahan bakar menuju rail dengan tekanan ± 3 kg/cm2. Selang yang kedua berfungsi sebagai selang pembalik (return) menuju ke tangki apabila tekanan pada raillebih dari ± 3 kg/cm2.

Gambar 3.2 . Melepas Selang Bahan Bakar

Lepas kedua selang tersebut dengan mengendorkan pengunci yang mengikatnya menggunakan obeng min atau menggunakankunci T8. Hati hati ketika melepasnya, bahan bakar biasanya keluar karena tekanannya tinggi.

c. Melepas Saringan Udara

Pengunci yang mengikat karet saringan udara dikendorkan terlebih dahulu kemudian saringan udara dilepas.

Gambar 3.3. Melepas Saringan Udara d. Melepas Sistem Induksi Udara

Kabel gas sebelum sudah dilepas dan perlu dipastikan bahwa konektor yang berhubungan sudah terlepas. Sistem induksiudara dilepas dengan melepas 4 mur pengikatnya.

34

e. Melepas Pipa Pembagian

Pipa pembagi bahan bakar ke injector dilepas dengan membuka tiga baut penguncinya.

Gambar 3.5. Melepas Pipa Pembagi

Gambar 3.6. Mengeluarkan Injector

Tarik keluar pipa pembagi dengan pelan-pelan dan sedikit digoyangkan.

f. Melepas Radiator

Radiator yang akan dilepas dari mesin harusdikuras terlebih dahulu air pada radiator dan selang radiator. Selang radiator dilepas dari radiator dengan cara mengendorkan pengunci. Tarik dengan kuat dan hati agar selang terlepas. Radiator dilepas dari engine stand dengan membuka 4 bautnya yang mengikatnya..

Gambar 3.7. Melepas Radiator

Radiator ditaruh ditempat yang aman dan bebas dari dan bebas dari benda tajam untuk menghindari kebocoran.

g. Melepas Kipas Pendingin

Baut penyetelvan belt pada alternator dikendorkan terlebih dahulu sebelum melepas van belt setelah itu van belt dikeluarkan dari pulley dan lepas kipas pendinging beserta rumahnya.

Gambar 3.8. Mengendorkan Alternator h. Melepas Intake Manifold

Intake manifold berfungsi untuk mengalirkan udara dari luar setelah disaring oleh saringan udara juga tempat diletakkan injector. Lepas intake manifold dengan jalan membuka baut penguncinya.

36

Gambar 3.9. Melepas Intake Manifold

Diantara manifold dan block mesin terdapat packing, jangan sampai packingsobek.

i. Melepas knalpot dan exhoust manifold

Pada exhoust manifold terdapat sensor CO yang mendeteksi kadar CO pada gas buang. Lepas hubungan knalpot dengan exhoust manifold terlebih dahulu kemudian lepas exhoust manifolddari mesin.

Gambar 3.10. Melepas Exhoust Manifold j. Melepas Pullydan Tutup TimingBelt

Lepas pully dengan menggunakan kunci T8 untuk membuka baut kecil yang mengunci pullydengan poros engkol.

Gambar 3.11. Melepas Pully

Hal yang dilakukan setelah pully terlepas adalahmembuka tutup timingbelt dengan membuka baut yang menghubungkan tutup timingbelt dengan mesin.

Gambar3.12. Melepas Tutup Timing Belt

Apabila tutup timing beltsudah dilepas maka perhatikan tanda pada sprocket pada poros engkol dan poros cam. Posisikan torak silinder nomor 4 berada pada titik mati atas pada langkah kompresi, sesuai anjuran pada manual book mesin G15. Tanda saat top kompresi silinder nomor 4 dapat dilihat pada gambar 3.13.

38

Gambar 3.13. Tanda TopKompresi Silinder 4

Gambar 3.15 . Tanda pada SprocketPoros Engkol

Gambar 3.16. Tanda pada SprocketPoros Cam

Tanda sprocketpada poros engkol harus segaris dengan tanda pada blok mesin dan tanda pada sprocketpada poros cambertemu dengan tanda pada tutup kepala silinder. Bila saat pembongkaran kedua tanda tersebut

tidak bertemu, maka putar poros engkol dengan menggunakan kunci ring 17 mm sampai tanda tersebut bertemu.

Apabila tanda tersebut sudah bertemu maka lepaslah timing belt dengan cara mengurangi tekanan dari tensioner. Penyetel tekanan timing belt (tensioner) dikendorkan sampai memungkinkan untuk melepas timing belt.

Gambar 3.17. Timing Beltdan Tensioner k. Melepas Busi, Koil dan Tutup Kepala Silinder

Kabel busi dicabut terlebih dahulu dengan menarik karet pelindungnya, jangan menarik kabelnya. Lepaskan koil dari tutup kepala silinder dengan membuka baut pengikatnya.

40

Gambar 3.19. Proses Membuka Tutup Kepla Silinder

Tutup kepala silinder dilepas dengan melepas baut pengikat dengan kepala silinder, selanjutnya busi dilepas dengan menggunakan kunci busi.

Gambar 3.20. Melepas Busi

Baut penyetel celah katup harus dikendorkan dahulusebelum melepas camshaft. Tujuan dari pengendoran penyetel katup untuk memudahkan dalam melepas camshaft. Saat cam tidak menekan pelatuk maka kondisi camakan mudah untuk dilepas.

Gambar 3.21. Melonggarkan Baut Penyetel Katup

Hal yang dilakukan selanjutnya adalah membuka CMP sensor yang terpasang pada ujung bagian belakang poros cam. Keluarkan CMP sensordengan hati-hati agar gasket tidak rusak.

Gambar 3.22. Melepas CMP Sensor

Hal selanjutnya ialah membuka bantalan poros cam. Kendorkan baut secara bertahap agar tidak terjadi keolengan pada poros cam. Kendorkan baut bantalan sesuai dengan urutan melepas pada gambar 3.23.

42

Gambar 3.23. Urutan Membuka Baut Bantalan Poros Cam (sumber: PT. Indomobil : 6A-23)

Baut bantalan poros cam yang sudah terlepas dengan urutan diatas maka jangan langsung mengeluarkan baut dari bantalan untuk menghindari baut yang tertukar, karena keausan setiap baut terhadap rumahnya berbeda-beda. Setiap bantalan poros cam mempunyai tanda anak panah yang menunjukkan menghadap kemana bantalan tersebut. Pada setiap bantalan poros cam juga terdapat nomor supaya setiap bantalan tidak tertukar tempat dengan bantalan yang lain. Apabila bantalan poros cam sulit untuk dilepaskan maka goyang-goyangkan bantalan ke kanan dan kekiri sehingga bantalan mudah dilepas, setelah bantalan terlepas, angkat keluar poros cam dan tempatkan di tempat yang aman diusahakan agar posisi berdiri agar tidak ada goresan pada poros cam.

Gambar 3.24. Melepas Bantalan Poros Cam l. Melepas Kepala Silinder

Gunakan kunci sock10 ukuran kecil dengan mata socksegi banyak karena baut yang digunakan bersegi banyak. Lakukan pengenduran baut secara bertahap dengan urutan pada gambar 3.25.

Gambar 3.25. Urutan Mengendurkan Baut kepala silinder

Lakukan pengenduran baut seperti gambar diatas, lakukan secara menyilang. Lakukan pengenduran menjadi tiga tahapan supaya menghindari kepala silinder yang melengkung. Jika semua baut sudah dilepas maka angkat kepala silinder dan hati – hati jangan merusak gasket

44

m. Melepas Pelatuk dan Poros Pelatuk

Kendorkan terlebih dahulu baut pengunci poros pelatuk menggunkan kunci L. Cara mengendorkan yaitu sepeti cara mengendurkan bantalan poros cam, yaitu dimulai dari sisi paling ujung kemudian kesamping melangkah satu batu kemudian sampai seterusnya. jika sudah maka keluarkan pelatuk hisap dan buang dengan cara menarik keluar sambil menahan agar pegas penunci tidak meloncat. Taruh pelatuk katup sesuai dengan urutanya supaya tidak tertukar dengan yang lain sebab keausan tiap pelatuk berbeda.

n. Melepas Katup dan Perlengkapannya

Kepala silinder disandarkan kayu dibawahnya agar tidak rusak. Buka pegas katup dengan menggunakan alat valve spring compressor.

Gambar 3.26. Melepas Katup Menggunakan Valve Spring Compressor Ada sebagaian katup yang tidak bisa dilepas menggunakan valve spring compressor karena tempat katup yang sempit, untuk membukanya menggunakan kunci sock ukuran 17 lalu disambung dengan pemegang socklalu dipukul dengan palu karet dan pengunci akan keluar sendiri.

Gambar 3.27. Melepas Katup Menggunkan KunciSock

Semua komponen yang sudah terlepas maka besihkan komponen menggunakan bensin dan majun lalu semprot dengan udara bertekanan, jangan sampai bushing katup terkena bensin karena akan merusak bushing itu sendiri.

Mekanisme katup terdiri dari banyak komponen mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jumlah katup pada mesin G15 ini ada 16 katup sehingga butuh kecermatan agar setiap katup tidak tertukar dengan katup yang lain. Simpan semua komponen ditempat yang aman dan jangan sampai hilang.

Langkah urutan proses pembongkaran mekanisme katup telah dilakukan, dimana hal yang dilakukan dimulai dari komponen paling luar terlebih dahulu. Proses perakitan dapat dilakukan dengan cara membalik dari proses pembongkaran.

2. Proses pengukuran

Saat mesin bekerja maka hampir semua komponen yang ada di mesin akan bekerja juga. Komponen yang bekerja secara terus menerus akan mengalami sebuah keausan sehingga menjadi tidak seperti standarnya

46

mulai dari ukuran, bentuk dan keausanya. Apabila kita ingin mengetahui apakah komponen tersebut telah mengalami keausan maka dapat dilakukan pengukuran dengan membandingkan komponen yang standart. Apabila hasil dari pengukuran masih dalam kondisi standart maka komponen tersebut tidak perlu diganti, sedangkan bila hasil dari pengukuran berada pada zona kritis atau limit maka sebaiknya diganti agar kerusakan pada komponen tidak semakin parah yang bisa mempengaruhi komponen yang lain dan kinerja dari mesin sendiri akan kurang optimal.

Pada mekanisme katup terdapat komponen yang bekerja sehingga akan membutuhkan banyak pengukuran. Pengukuran pada mekanisme katup meliputi:

a. TimingBelt

Timing belt berfungsi menghubungkan putaran dari poros engkol menuju poros camuntuk membuat mekanisme katup bekerja. Sisi luar dari timingbelt berbentuk datar artinya hanya lurus dan disinilah biasanya merek dagang dicantumkan sedangkan pada sisi bagian dalam bergerigi seperti roda gigi yang tujuannya mengikat sproket poros engkol dan sproket poros cam supaya saling terhubung.

Perawatan pada timingbelt sangat penting karena jika sewaktu mesin bekerja dan timingbelt putus maka akan mengakibatkan hal yang berbahaya seperti mekanisme katup akan kacau dan mengakibatkan katup bisa patah atau bengkok karena benturan dengan torak. Perawatan timing

belt sesuai dengan spesifikasi pada buku manual mesin G15 ini setiap 15000 km dilakukan pengecekan dan pengantian setiap 30000 km.

Setiap pengantian timingbelt maka akan dicatat di buku atau di tutup timingbelt pada berapa kilometer mesin tersebut diganti timingbelt. Pemeriksaan timingbelt meliputi keausan, keretakan dan bentuk dari timingbelt.

Gambar 3.28. Timingbelt

Gambar 3.29 . Kondisi Timing Belt

Hasil dari pemeriksaan pada timing belt didapatkan bahwa timing belt masih dalam keadaan normal, dimana tidak ada keretakan dan tonjolan pada timingbelt.

48

b. Tensioner

Tensioner mempunyai peran untuk mengatur tekanan pada timingbelt. Pada tensioner terdapat sebuah lug yang dapat berputar. Pemeriksaan pada tensioner dilakukan dengan cara memutar lug, jika putaran lug rata dan tidak macet maka tensioner dapat dikatakan masih normal.

Gambar 3.30. Memeriksa Putaran LugPada Tensioner

Hasil dari pemeriksaan bahwa putaran dari lug normal sehingga tensionermasih dalam keadaan normal.

c. Poros Cam

Pemeriksaan pada poros cam dilakukan secara visual dan menggunakan alat bantu. Pemeriksaan visual pada poros cam dengan dilihat apakah pada poros cam terdapat goresan .

Hasil dari pemeriksaan visual pada poros cam dalah poros cam tidak terdapat goresan sehingga masih normal.Pemeriksaan poros cam menggunakan alat bantu meliputi memeriksa tinggi cam, diameter journal dan batalan poros cam, run out.

Pengukuran tinggi cam, tinggi cam akan mempengaruhi dari dalamnya katup membuka dan lama dari katup membuka. Jika cam berbentuk cekung maka dapat menekan katup dengan dalam tapi keausan akan sangat besar, sedang untuk cam cembung akan membuka katup lebih lama

Gambar 3.32 . Mengukur TinggiCam.

Nilai dari standar pengukuran untuk tinggi camIn (36,18–36,34) mm, camex(35,90–36,06) mm, dan batas nilai pengukuran camIn(36,08) mm, camEx(35,80) mm. Hasil dari pengukuran tinggi cam:

Tabel 1. Hasil Pengukuran Tinggi Cam No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1. CamSilinder no. 1 In In Ex 36,22 36,23 35,95

50

2.

3.

4.

Ex

CamSilinder no. 2 In In Ex Ex CamSilinder no 3 In In Ex Ex

CamSilinder no. 4 In In Ex Ex 35,92 36,20 36,19 35,94 35,94 36,22 36,19 35,95 35,96 36,21 36,20 35,95 35,95

Pengukuran selanjutnya adalah mengukur keolengan dari poros cam. Keolengan pada poros cam akan mengakibatkan mesin bergetar, mesin akan kurang optimal. Cara mengukur keolengan poros cam adalah dengan menggunakan alat dial gauge serta dengan bantuan V-blok.

Gambar 3.33. Mengukur Keolengan Poros Cam Tabel 2. Pengkuran Keolengan Porsos Cam

No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1. Keolengan poros

cam 0,03

Pengukuran selanjutnya adala mengukur celah oli antara bantalan dan jurnal poros cam. Celah oli sangatlah penting karena jika suatu benda padat berputar sambil bergesekan secara terus menerus tanpa dilapisi film maka akan cepat aus. Peran celah oli pada komponen ini adalah melapisi jurnal cam dengan film dan juga melapisi bantalan cam dengan film jadi antara bantalan dan jurnal tidak berhubungan secara langsung. Celah ini juga bisa untuk tempat pemuaian ketika komponen tersebut panas. Apabila celah oli ini berlebihan maka akan terjadi keolenganan.

Alat ukur yang digunakan pada bantalan adalah telescopic lalu lebar teleskopik diukur menggunakan micrometer dan pada journal poros cam menggunakan micrometer, sebelumnya micrometer harus telah di kalibrasi terelebih dahulu.

52

Gambar 3.35. Mengukur Journal Cam

Nilai standar dari pengukuran bantalan (28 – 28,02) mm journal (27,93-27,96) mm. Nilai limit celah celah standart (0,04 – 0,08) mm. Limit celah (0,12) mm. Hasil dari pengukuran tersebut adalah:

Tabel 3. Pengukuran Celah antara Bantalan dan Jurnal Cam No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm) Celah (mm)

1. 2. 3. 4. 5. 6. Bantalan no. 1 Journalno 1 Bantalan no. 2 Journalno 2 Bantalan no. 3 Journalno 3 Bantalan no. 4 Journalno 4 Bantalan no. 5 Journalno 5 Bantalan no. 6 Journalno 6 28,01 27,93 28,01 27,93 28,01 27,93 28,01 27,93 28,01 27,93 28,01 27,93 0,08 0,08 0,08 0,08 0,08 0,08

Pelatuk bertugas untuk menekan batang katup supaya katup membuka dengan melawan gaya pegas. Pelatuk tidak hanya menekan batang katup, tapi pelatuk juga di tekan oleh cam. Pelatuk yang bekerja secara terus menerus akan mengalami keausan. Apabila ingin mengetahui apakah pelatuk itu sudah aus maka diperlukan pemeriksaan.Pemeriksaan dapat dilakukan secara visual langsung dan menggunakan alat bantu.

Gambar 3.36. Kondisi dari Poros Pelatuk

Hasil pemeriksaan pada poros pelatuk menunjukan bahwa poros pelatuk terdapat goresan, sehingga poros pelatuk dalam keadaan tidak normal.

Pemeriksaan selanjutnya adalah mengukur celah antara dalam diameter pelatuk dan poros pelatuk.

54

Gambar 3.37. Mengukur Diameter Poros Pelatuk

Gambar 3.38. Mengukur Diameter Dalam Pelatuk

Standar dari hasil pengukuran adalah diameter dalam pelatuk (15,99-16,1)mm diameter poros pelatuk (15,96-15,98)mm, dan celah standar 0,009 mm serta batas celah (0,01-0,04)mm. Hasil pengukuran celah antara diameter dalam pelatuk dan diameter poros pelatuk :

Tabel 4. Hasil pengukuran celah pelatuk dan poros pelatuk No Bagian yang diukur Hasil pengukuran

(mm) Clearence (mm) 1 2. 3. 4.

Pelatuk Silinder no. 1 In

Ex

Poros pelatuk

Pelatuk Silinder no. 2 In

Ex

Poros pelatuk

Pelatuk Silinder no. 3 In

Ex

Poros pelatuk

Pelatuk Silinder no. 4 In Ex 16,05 16,01 15,97 16,01 16,01 15,97 16,01 16,01 15,96 16,01 16,01 0,08 0,04 0,04 0,04 0,05 0,05 0,04 0,04

Poros pelatuk 15,97

Hasil celah antara poros pelatuk dan pelatuk diperoleh bahwa pelatuk dan poros pelatuk masih dalam keadaan standart.

e. Katup dan Pegas Katup

Katup berfungsi tempat masuk campuran bahan bakar dan udara serta tempat keluatnya gas sisa pembakaran. Katup harus mampu menahan panas yang tinggi. Saat katup membuka dan menutup dengan kecepatan yang tinggi maka dapat terjadi keausan pada katup dan pegas katup, oleh sebab itu dilakukan pengukuran terhadap komponen tersebut untuk mengetahui apakah komponen tersebut masih baik atau tidak.

Hal yang pertama adalah memeriksa ujung batang katup apakah berlubang (aus) karena sering bertumbukan dengan pelatuk.

Gambar 3.39. Ujung batang katup

Hasil dari pemeriksaan ujung batang katup dengan melihat dengan menggunakan mata telanjang adalah masih keadaan normal dengan tidak ada lubang pada ujung batang katup.

56

Pemeriksaan selanjutnya adalah memeriksa ketebalan kepala katup, alat yang digunakan pada pemeriksaan adalah jangka sorong. Nilai standart pada pengukuran ini 0,08-1,2 mm dan batasnya katup masuk 0,6mm dan katup buang 0,7 mm.

Gambar 3.40. Pemeriksaan Kepala Katup Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kepala Katup

No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1.

2.

3.

4.

Katup Silinder no. 1 In

In Ex Ex

Katup Silinder no. 2 In In Ex Ex Katup Silinder no 3 In In Ex Ex

Katup Silinder no. 4 In In Ex Ex 1,15 1 1,15 1,15 1,15 1,15 1 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15

Pengukuran selanjutnya adalah lebar dudukan katup dengan menggunakan jangka sorong. Standartpengukuran 1,1 - 1,3mm.

Gambar 3.41. Memeriksa Dudukan Katup Tabel 6. Hasil Pemeriksaan Dudukan Katup

No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1.

2.

3.

4.

Katup Silinder no. 1 In

In Ex Ex

Katup Silinder no. 2 In In Ex Ex Katup Silinder no 3 In In Ex Ex

Katup Silinder no. 4 In In Ex Ex 1,8 1,75 1,3 1,1 1,1 1,4 1,2 1,2 1,35 1,1 1,2 1,1 1,6 2,2 1,1 1,2

58

Hasil pemeriksaan diatas bahwa banyak dudukan katup yang tidak standar. Ada 10 katup dengan dudukan katup yang masih baik, 6 dari katup dudukanya sudah tidak normal lagi.

Pemeriksaan selanjutnya adalah pada pegas. Pegas berfungsi untuk mengembalikan katup agar menutup rapat agar tidak terjadi kebocoran saat langkah kompresi. Pemeriksaan pada pegas meliputi panjang pegas normal, panjang pegas dengan beban, dan kemiringan pegas.

Pengukuran panjang pegas dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Panjang standar 36,83mm dan batas maksimum 35,67mm. Hasil pengukuran panjang pegas:

Tabel 7. Hasil Pengukuran Panjang Pegas Tanpa Beban No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1.

2.

3.

4.

Pegas Silinder no. 1 In

In Ex Ex

Pegas Silinder no. 2 In In Ex Ex Pegas Silinder no 3 In In Ex Ex

Pegas Silinder no. 4 In In Ex Ex 36,5 36,7 36,7 36,7 36,5 36,6 36,7 36,8 36,6 36,7 36,6 36,7 36,6 36,7 36,55 36,8

Hasil pengukuran dapat didapatkan bahwa ada 1 pegas katup yang dibawah limit.

Pemeriksaan kekuatan pegas. cara yang dilakukan untuk menguji kekuatan pegas adalah dengan memberi tekanan pada pegas sampai panjang pegas menjadi 31,5 mm, kemudian dilihat pada alat pengetes tekanan pegas di angka berapa jarum menunjukan nilai dari kekuatan pegas. Kekuatan dari pegas harus pada standart, jangan sampai pegas terlalu kuat atau terlalu lentur.

Gambar 3.41. Pengukuran Kekuatan Pegas

Akibat pegas yang terlalu kuat dan lentur telah dijelaskan pada landasan teori. Tekanan standar dengan tekanan 10,7-12,5 kg dengan panjang 31,5mm, dan batas yang diijinkan 9,3 kg dengan panjang 31,5mm. Hasil pengkuran kekuatan pegas:

Tabel 8. Hasil Pengkuran Kekuatan Pegas

No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1.

2.

Pegas Silinder no. 1 In

In Ex Ex

Pegas Silinder no. 2 In 9 9 9 9 8

60 3. 4. In Ex Ex Pegas Silinder no 3 In In Ex Ex

Pegas Silinder no. 4 In In Ex Ex 9 8 8 9 9 9 10 8 9 9 9

Hasil yang didapatkan dari pengukuran diatas maka dapat disimpulkan bahwa 15 pegas katup kurang kuat dan satu pegas katup yang masih baik. Jika hal tersebut tidak segera diperbaiki maka akan menyebabkan kerusakan komponen tersebut yang lebih parah. Pegas katup yang lemah akan menyebabkan kemampuan menutup katup kurang kuat sehingga akan terjadi kebocoran kompresi yang menyebabkan tenaga mesin berkurang.

Pemeriksaan selanjutnya adalah kemiringan pegas. Kemiringan pegas dapat diukur dengan menggunakan feller gauge dengan bantuan pengaris.

Alat pengetes kekuatan pegas biasanya sudah ada penggaris mistar yang terpasang secara vertikal. Pengukuran tinggal dilakukan dengan cara menaruh pegas sejajar dan berhimpitan dengan penggaris tersebut kemudian dikasih feller pada jarak keduanya dan diputar-putar sampai didapatkan jarak yang paling besar. Batas dari hasil pengkuran pada bagian ini adalah 2 mm. Hasil pengukuran :

Tabel 9. Hasil Pengukuran Kemiringan Pegas No Bagian yang diukur Hasil pengukuran (mm)

1.

2.

3.

4.

Pegas Silinder no. 1 In

In Ex Ex

Pegas Silinder no. 2 In In Ex Ex Pegas Silinder no 3 In In Ex Ex

Pegas Silinder no. 4 In In Ex Ex 1 0.9 1,3 1 1 1 1 0,9 0,9 1 0,9 0,7 1,1 1,2 0,8 1

f. Kerataan Kepala Silinder

Kerataan kepala silinder akan mempengaruhi tekanan kompresi, dengan mengukur kerataan kepala silinder maka dapat diketahui apakah

62

kepala silinder rata atau tidak. Alat yang digunakan pada pemeriksaan komponen tersebut ialah penggaris dan mistar baja. Ukur secara memanjang dan diagonal.

Gambar 3.44. Mengukur Kerataan Kepala Silinder

Hasil dari pengukuran kerataan kepala silinder didapatkan bahwa kerataaan kepala silinder masih bagus dengan nilai dibawah 0,05mm (batas 0,05).

3. Penyetelan Katup

Penyetelan katup dilakukan untuk memperoleh jarak bebas antara pelatuk dan batang katup. Jarak bebas digunakan untuk pemuaian pada waktu mesin dalam keadaan panas. Setelan katup harus sesuai dengan spesifikasi pada mesin tersebut. Setelan katup yang terlalu renggang akan mengakibatkan bunyi pada kepala silinder, bunyi tersebut dikarenakan benturan antara pelatuk dan batang katup. Jarak yang terlalu renggang membuat kecepatan pelatuk bertambah kencang karena dorongan dari poros cam. Setelan yang terlalu rapat juga akan mengakibatkan mesin sulit hidup, kompresi akan bocor saat pemuaian, dan bensin akan lebih boros.

Dalam dokumen MEKANISME KATUP PADA MESIN SUZUKI G15 (Halaman 47-80)

Dokumen terkait