• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pemenuhan Asas Proses Pembentukan dan Asas Materi

1. Proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan undangan. Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:

a. Kejelasan tujuan; Yang dimaksud dengan “asas kejelasan tujuan”

adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

Menurut penulis, UU PUB ini tidak memenuhi unsur asas kejelasan tujuan, sebab tujuan dari undang-undang ini hanya terdapat pada bagian menimbang, yakni bahwa pengumpulan uang atau barang dari Masyarakat perlu ditujukan kepada usaha-usaha pembangunan kesejahteraan sosial untuk mencapai masyarakat adil

dan makmur berdasarkan Pancasila. Padahal menurut Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan harus ada dalam pasal dalam undang-undang tersebut.

b. Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat; Yang dimaksud dengan “asas kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat”

adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat Pembentuk Peraturan undangan yang berwenang. Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang tidak berwenang.

Selanjutnya dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, harus membentuk lembaga yang tepat yang berwenang untuk itu. Namun dalam UU PUB, tidak dicantumkan secara jelas pejabat yang menangani penyelenggaraan sumbangan. Dalam Pasal 4 UU PUB bahwa pejabat yang berwenang adalah Menteri Kesejahteraan sosial, Gubernur, Bupati/Walikota.

c. Kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; Yang dimaksud dengan “asas kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan”

adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Dalam Pasal 4 UU PUB, diatur mengenai hierarki bahwa pejabat yang berwenang memberikan izin untuk menyelenggarakan sumbangan adalah Menteri Kesejahteraan Sosial untuk di tingkat nasional, Gubernur untuk di tingkat I, dan Bupati/Walikota untuk di tingkat II. Namun setelah ditelusuri Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Partisipasi Pihak Ketiga Dalam Pembangunan Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan dan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis, dan Pengamen di Kota Makassar. Ternyata pada bagian menimbang kedua peraturan tersebut ternyata UU PUB belum menjadi suatu rujukan dalam pembuatan suatu peraturan pemerintah maupun pemerintah kota.

d. Dapat dilaksanakan; Yang dimaksud dengan “asas dapat dilaksanakan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektivitas Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.

Menurut asas ini UU PUB ini dapat dilaksanakan dan sudah diberlakukan selama 57 tahun.

e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; Yang dimaksud dengan “asas kedayagunaan dan kehasilgunaan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Secara de facto, UU PUB tidak menunjukkan kedayagunaan dan kehasilgunaan pemerintahan dalam penyelenggaraan sumbangan.

Dari kasus-kasus di atas, tidak tercermin fungsi pengawasan pemerintah. Dalam kasus Cak Budi ada perbaikan setelah terjadi pelanggaran yang dilaporkan oleh masyarakat luas, bukan ditemukan oleh pejabat berwewenang. Padahal pengawasan harus dilakukan sebelum pelanggaran terjadi. Peneguran yang dilakukan oleh Kementerian Sosial bukan dilakukan atas dasar pengawasan dari Pejabat Kementerian Sosial, namun dilakukan karena adanya pelaporan dari masyarakat. Ini dapat dilihat bahwa sebenarnya pemerintah tidak menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan sumbangan.

Dalam Kasus Lions Club, pemerintah tidak meminta laporan pertanggungjawaban penyelenggaraan sumbangan yang dilakukan oleh Lions Club. Laporan Lions Club tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada pemerintah maupun publik. Laporan pertanggungjawaban penyelenggaraan hanya untuk diperlihatkan

kepada pengurus klub itu sendiri. Padahal laporan keuangan merupakan salah satu instrument pemenuhan prinsip pertanggungjawaban (akuntabilitas) yang dilakukan penyelenggara penggalangan dana publik.

f. Kejelasan rumusan; Yang dimaksud dengan “asas kejelasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

UU PUB ini jelas rumusannya pada masa itu untuk digunakan sebagai pedoman rujukan kerja pemerintahan untuk mengatur penyelenggaraan sumbangan. Namun kalau mencakup keseluruhan peraturan, sebenarnya undang-undang ini tidak efektif lagi untuk digunakan saat ini karena belum mengakomodir mengenai pembinaan, pengawasan, dan sosialisasi bagi penyelenggara sumbangan.

g. Keterbukaan; Yang dimaksud dengan “asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka.

Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai

kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Berhubung penulis belum lahir pada tahun 1961, dan tidak menemukan adanya dokumen yang menggambarkan proses pembuatan UU PUB ini sehingga penulis tidak dapat menganalisis apakah UU PUB ini memenuhi asas keterbukaan. Patut dipertimbangkan bahwa pada saat itu informasi sangat sulit diperoleh karena keterbatasan komunikasi.

Apabila UU PUB ini ditinjau dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Peraturan Perundang-undangan ternyata 5 (lima) dari 7 (tujuh) asas proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang terpenuhi memenuhi beberapa asas. Oleh karena itu maka perlu dipertimbangkan revisi undang-undang. Namun karena sebagian besar asas proses pembentukan peraturan perundang-undangan terpenuhi, maka revisi undang-undang ini tidak mendesak.

Dokumen terkait