Bab 4. Kolam Air Tawar
4.3 Proses Pembuatan Kolam
Kolam merupakan lahan basah buatan yang dapat dikelola dan diatur langsung oleh manusia untuk keperluan budidaya ikan. Berdasarkan proses pembentukannya, kolam dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu Kolam
Kolam yang sengaja dibangun adalah kolam yang sengaja diperuntukkan sebagai tempat pemeliharaan ikan. Kolam ini dibangun dan dipersiapkan sebagai media hidup ikan mulai dari ukuran kecil hingga dewasa, kolam ini dapat terdiri dari satu kolam ataupun satu unit perkolaman (unit yang terdiri dari beberapa kolam dengan fungsi masing-masing). Sedangkan Kolam yang tidak sengaja dibangun adalah kolam yang tadinya hanya berupa lubang-lubang tergenang dan kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk memelihara ikan. Kolam yang tidak sengaja dibangun ini umumnya tidak memenuhi syarat teknis pembuatan kolam, sehingga produktifitasnya kurang baik. Lubang-lubang yang dimanfaatkan untuk kolam ini biasanya merupakan lubang bekas galian tambang, misalnya galian pasir, tanah, dan timah. Pembahasan mengenai lubang bekas penambangan ini lebih detail dijelaskan pada bab tersendiri (Bab 8).
Pemilihan lokasi untuk membangun suatu kolam atau unit perkolaman harus memperhatikan faktor teknis dan faktor sosial ekonomis. Faktor teknis utama yang mempengaruhi keberhasilan budidaya ikan di kolam adalah kondisi topografi lahan, jenis tanah, keberadaan sumber air yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serta pengadaan benih dan pakan ikan. Sedangkan faktor sosial ekonomis yang harus dipertimbangkan adalah pemilihan lokasi perkolaman yang menguntungkan secara ekonomi, dilihat dari efisiensi produksi dan pemasaran, serta terjamin keamanannya.
Topografi lahan merupakan faktor teknis yang harus diperhatikan karena topografi lahan akan berpengaruh pada tipe, luas, jumlah, dan kedalaman kolam yang akan dibuat. Ada dua tipe topografi yang mempunyai sifat dan kegunaan khusus dalam pembuatan kolam, yaitu tipe lembah berbentuk V dan tipe lembah dengan dasar tanah mendatar. Bentuk topografi lahan yang paling ideal untuk pembangunan kolam adalah lembah yang dasarnya mendatar dan terletak di antara kaki dua lereng dengan saluran sungai di tengah dataran. Pada daerah semacam ini kolam biasanya dibangun di kedua sisi aliran sungai; ukuran kolam yang dibangun bisa luas dan jumlahnyapun bisa banyak. Sungai yang terletak di tengah-tengah dataran juga memudahkan pemasukan, pengeluaran, dan pelimpahan air. Topografi lahan berupa lembah berbentuk V tajam serta lembah yang dasarnya terlalu datar tidak cocok dijadikan kolam ikan. Pada lembah berbentuk V tajam kita harus membuat pematang yang tinggi untuk mendapatkan kolam yang ukurannya kecil-kecil;
sedangkan pada lembah yang dasarnya terlalu datar dibutuhkan biaya penggalian tanah yang besar untuk pembuatan kolam, selain itu pengaliran dan pembuangan airnyapun akan sulit.
Keadaan dan jenis tanah penting untuk diperhatikan karena hal ini akan berpengaruh langsung terhadap ukuran dan kemiringan pematang. Jenis tanah yang paling baik untuk pembuatan kolam adalah jenis tanah liat/ lempung berpasir, jenis tanah ini tidak bersifat porous serta tidak mudah longsor sehingga dapat menahan air dengan baik. Tanah dengan kandungan pasir yang banyak apalagi berbatu-batu tidak cocok untuk dijadikan kolam karena tidak bisa menahan air serta sulit untuk dibentuk; jenis tanah seperti ini hanya bisa dijadikan kolam apabila keseluruhannya ditembok.
Air sebagai media hidup ikan merupakan faktor utama keberhasilan budidaya. Air permukaan (misalnya sungai dan waduk) merupakan sumber air yang cocok bagi kegiatan budidaya ikan. Sungai merupakan sumber pengairan kolam yang baik karena airnya mengandung unsur hara yang tinggi; unsur hara ini sangat penting untuk menumbuhkan makanan alami ikan. Sedangkan waduk merupakan sumber pengairan yang baik karena debit airnya relatif tetap, sehingga kontinuitas suplai air dapat terjamin. Air sungai umumnya banyak mengandung lumpur, sehingga sebelum dimanfaatkan dibutuhkan upaya penyaringan dan pengendapan; sedangkan air waduk umumnya jauh lebih jernih karena zat-zat yang dikandungnya telah mengendap terlebih dahulu. Sumber air lain yang bisa digunakan bagi keperluan budidaya adalah air tanah, namun air tanah memiliki kandungan unsur hara dan nilai pH yang rendah sehingga kurang mendukung pertumbuhan ikan (Susanto, 1992). Karakteristik kimia air yang biasanya diukur untuk mengetahui kelayakan air bagi kegiatan budidaya adalah alkalinitas, kesadahan, dan pH. Secara berturut-turut nilai alkalinitas total, kesadahan, dan pH yang baik adalah > 40 mg/l, 40 - 150 mg/l, dan 7,0 - 8,5. Selain mutu air yang baik, jumlah air yang mengisi kolam juga harus mencukupi sepanjang tahun. Debit air yang baik adalah tidak kurang dari 10 - 15 l/detik/ha. Dalam kenyataannya, apabila sumber air kolam berasal dari sungai maka debit air akan sangat tergantung pada musim. Pada saat musim hujan, apabila debit air terlalu besar, perlu dibuat saluran pengendali banjir agar debit air yang besar ini tidak masuk ke dalam kolam; sedangkan apabila debit air berkurang, maka diperlukan usaha pengaturan air yang seefisien mungkin. Jarak antara
sumber air dengan kolam juga mempengaruhi kegiatan perkolaman, untuk itu perlu dibangun saluran pengangkut air, misalnya jembatan air (flume/
aquaduct), terowongan (tunnel), bangunan terjun (drop structure), saluran
miring/seropotan (chute), terowongan bawah (syphon), dan bangunan bagi. Saluran pengangkut air ini bisa dijadikan indikator fluktuasi debit air yang masuk ke dalam kolam. Pada saluran pengangkut air juga perlu dibangun bendungan sederhana yang berfungsi meninggikan permukaan air saluran agar debit air yang masuk ke kolam cukup besar (Susanto, 1992). Konstruksi kolam ikan dapat beraneka ragam tergantung pada jenis dan ukuran ikan yang dipelihara serta fungsi kolam tersebut. Secara umum suatu kolam pemeliharaan ikan yang baik harus mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: (1) luas tiap petak kolam berkisar antara 100-1000 m2, (2) kedalaman air antara 50-150 cm, (3) pemasukan air langsung dari sumber yang belum terpolusi dan pintu pemasukan air harus ada saringan, (4) pengeluaran air harus langsung ke saluran pembuangan, (5) tekstur tanah tidak porous dan tidak mudah longsor, (6) lebar pematang antara 1-2 meter, (7) bentuk kolam idealnya persegi panjang, dan (8) air yang masuk ke dalam kolam harus jernih.
Gambar 4.1 Desain kolam yang baik secara umum (dari Susanto, 1992) D E C C B F A D E C C B F A Keterangan:
A. Saluran pemasukan air D. Saluran tengah (kemalir) B. Pintu pemasukan air E. Pintu pembuangan air C. Pematang kolam F. Saluran pembuangan air
Setelah kolam jadi, hal penting yang harus diperhatikan adalah dasar kolam. Tanah bagian atas (tanah humus) yang telah dikumpulkan pada saat permulaan pembangunan kolam dikembalikan ke dalam kolam, sebelumnya dasar kolam diolah terlebih dulu dengan mencangkulnya sedalam 10-15 cm. Lapisan tanah lumpur ini berguna untuk menahan air dan juga sebagai media hidup jasad-jasad renik perairan. Nantinya, sebelum (benih) ikan dimasukan, dasar kolam juga harus diolah dengan pemberian pupuk. Jenis pupuk yang dapat digunakan antara lain pupuk hijau, pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pemupukan harus dilakukan sesuai dosis agar tidak menyebabkan plankton blooming yang akan mengakibatkan penurunan kandungan oksigen di perairan.
Setelah proses pemupukan selesai, kolam mulai diairi setinggi 20 cm dan dibiarkan selama beberapa hari/minggu (tergantung jenis pupuk yang digunakan). Hal ini dilakukan untuk menetralisasi efek racun yang ditimbulkan pupuk dan meningkatkan jumlah makanan alami. Kegiatan selanjutnya adalah penebaran ikan atau benih ke kolam yang dapat dilakukan secara monokultur ataupun polikultur (Susanto, 1992).