• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Penentuan Area Berisiko

Dalam dokumen PEDOMAN PENYUSUNAN MPS 2015 (Halaman 167-170)

Air Limbah Domestik

A. Proses Penentuan Area Berisiko

1. Diskusikan dan Sepakati Sumber Data Sekunder serta SKPD yang terlibat untuk Penentuan Area Berisiko (dan Penentuan Zona dan Sistem)

- Sepakati sumber data yang akan digunakan dalam proses penentuan area berisiko dan penentuan zona dan sistem. Sebaiknya menggunakan data tahun terakhir dan harus memiliki tahun yang sama serta sahih.

- Berdasarkan sumber data yang disepakati, kelompokkan data-data sekunder yang diperlukan berdasarkan hasil pengumpulan data sekunder.

- Sepakati SKPD yang akan melakukan penilaian risiko sanitasi berdasarkan persepsi SKPD. Sekurang-kurangnya melibatkan 5 (lima) SKPD teknis, seperti SKPD Kebersihan dan Pertamanan, Pekerjaan Umum, dan Kesehatan, BLH, dan maksimum 9 (sembilan) SKPD.

- Gunakan Instrumen Profil Sanitasi dan bagikan lembar kerja Form 2 bagian Persepsi SKPD. Lakukan penilaian risiko sanitasi berdasarkan Persepsi SKPD untuk 3 komponen (air limbah domestik, persampahan, drainase) dengan mengisikan tingkat resiko kelurahan/desa menggunakan skor 1-4. Berikan waktu ± 1 minggu untuk pengisian lembar kerja.

2. Entri dan analisis data sekunder ke dalam Instrumen Profil Sanitasi serta sepakati pembobotan parameter

- Masukkan data sekunder yang telah dikonsolidasikan ke dalam lembar kerja ‘Form 1’ dan ‘Form

2’ Instrumen Profil Sanitasi (lihat bagian “B” petunjuk teknis ini untuk proses input data yang dimaksud).

- Instrumen Profil Sanitasi akan menghitung secara otomatis pada lembar kerja ‘Form 2’ untuk kepadatan penduduk, persentase kk miskin, persentase akses air limbah domestik layak, dan persentase luas genangan.

- Diskusikan dan sepakati pembobotan dari parameter EXPOSURE:data sekunder untuk 3 komponen (cakupan akses jamban layak; persentase cakupan pelayanan sampah dan persentase luas genangan) dan IMPACT (jumlah penduduk, kepadatan penduduk, angka kemiskinan, fungsi urban/rural). Isikan pembobotan di dalam lembar kerja ‘Area Berisiko’ Instrumen Profil Sanitasi. Besaran pembobotan dapat dilakukan dengan cara: (i) pembobotan yang sama besar untuk ketiga hasil analisis; (ii) pembobotan berbeda-beda.

- Instrumen akan menghitung secara otomatis tingkat risiko di setiap kelurahan/desa berdasarkan data sekunder dan pembobotan yang dimasukkan (lihat lembar kerja ‘Area Berisiko’ untuk proses perhitungan data yang dimaksud).

3. Entri dan analisis data berdasarkan Persepsi SKPD

- Masukkan/entri data persepsi SKPD dalam lembar kerja ‘Form 2’ Instrumen Profil Sanitasi (lihat

bagian “B” untuk proses input data yang dimaksud).

- Diskusikan dan sepakati pembobotan dari parameter EXPOSURE: persepsi SKPD dan isikan pembobotan di dalam lembar kerja ‘Area Berisiko’ Instrumen Profil Sanitasi.

- Instrumen akan menghitung secara otomatis tingkat risiko di setiap kelurahan/desa berdasarkan persepsi SKPD dan pembobotan yang dimasukkan (lihat lembar kerja ‘Area Berisiko’ untuk proses perhitungan data yang dimaksud).

Untuk memudahkan proses penyusunan BPS dan SSK, pengumpulan dan pengisian/entri data sekunder untuk analisis zona dan sistem dilakukan bersama- sama saat pengumpulan dan pengisian/entri data sekunder untuk analisis area berisiko.

Bagian 3 Petunjuk Teknis 161

4. Bila studi EHRA selesai, entri Indeks Risiko Sanitasi ke dalam Lembar Kerja Form 2

- Bila analisis studi EHRA telah selesai dilakukan, copy Indeks Risiko Sanitasi (IRS) yang dihasilkan. Isikan atau entri IRS ke dalam lembar kerja ‘Form 2’ yang disediakan (lihat bagian “Instrumen”).

- Diskusikan dan sepakati pembobotan dari parameter EXPOSURE: IRS - EHRA dan isikan di dalam lembar kerja ‘Area Berisiko’ Instrumen Profil Sanitasi.

- Instrumen akan menghitung secara otomatis tingkat risiko di setiap kelurahan/desa berdasarkan IRS dan pembobotan yang dimasukkan (lihat lembar kerja ‘Area Berisiko’ untuk proses perhitungan data yang dimaksud).

5 Tetapkan Hasil Analisis Akhir

- Pada lembar kerja ‘Area Berisiko’, instrumen akan menghitung secara otomatis hasil analisis area

berisiko dengan menggunakan rumus:

Skor IMPACT = (w1 x I1) + (w2 x I2) + ( w3 x I3) + (w4 x I4) Skor EXPOSURE (air limbah) = (w5 x E1)

Skor EXPOSURE (persampahan) = (w6 x E2) Skor EXPOSURE (drainase) = (w7 x E3)

Skor Area Berisiko = skor IMPACT x EXPOSURE

Skor Area Berisiko (air limbah) = [(w1 x I1) + (w2 x I2) + ( w3 x I3) + (w4 x I4)] x (w5 x E1)]

Skor Area Berisiko (sampah) = [(w1 x I1) + (w2 x I2) + ( w3 x I3) + (w4 x I4)] x (w6 x E2) ]

Skor Area Berisiko (drainase) = [(w1 x I1) + (w2 x I2) + ( w3 x I3) + (w4 x I4)] x (w7 x E3)]

Dimana :

w1, w2, w3, w4 = pembobotan IMPACT (%)

w5, w6, w7 = pembobotan EXPOSURE (%) untuk data sekunder, IRS, Persepsi SKPD setiap komponen

E1, E2, E3 = skor EXPOSURE

- Berdasarkan hasil akhir skor, tandai hasil penentuan yang meragukan. 6 Lakukan Observasi/Kunjungan Lapangan untuk verifikasi

Bila hasil analisis akhir menunjukkan bias pada beberapa kelurahan/desa, lakukan observasi/kunjungan lapangan di kelurahan tersebut untuk memverifikasi atau mendapatkan kebenaran atas hasil penentuan yang meragukan serta untuk lebih memahami kondisi sanitasi di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, lakukan penyesuaian skor bila diperlukan. 7 Konsultasikan dengan seluruh anggota Pokja dan tetapkan Area Berisiko

Paparkan dan diskusikan hasil penentuan area berisiko dan hasil kunjungan lapangan untuk mendapatkan feedback dan perbaikan untuk mendapatkan kesepakatan akhir atas penetapan area berisiko.

Bagian 3 Petunjuk Teknis 162

8 Susun Hasil Penetapan ke dalam Bab 2

Bab ini dibuat cukup ringkas, sekurang-kurangnya mencakup tabel dan peta mengenai area berisiko (kelurahan/desa) untuk 3 (tiga) komponen: air limbah domestik, persampahan, dan drainase.

Gambarkan hasil penentuan area berisiko ke dalam peta wilayah kajian dengan menggunakan warna yang dihasilkan dari perhitungan sebagai referensi (warna standar adalah skor 4 = warna merah; skor 3 = warna kuning; skor 2 = warna hijau; dan skor 1 = warna biru) atau menurut warna yang disepakati Pokja. Jangan lupa untuk melengkapi peta dengan Legenda yang menjelaskan arti warna dan tingkat resiko. Contoh di bawah adalah peta ilustrasi area berisiko yang digambarkan didalam peta administratif saja.

Peta ilustrasi area berisiko sanitasi komponen air limbah domestik

Air Limbah Domestik No Area Berisiko*) Wilayah prioritas Air Limbah 1. Risiko 4 Kelurahan. A Kelurahan. B 2. Risiko 3 Kelurahan. C Kelurahan. D Dst Catatan:

*) Hanya untuk wilayah dengan risiko 4 dan 3 Persampahan No Area Berisiko*) Wilayah prioritas Persampahan 1. Risiko 4 Kelurahan. A Kelurahan. B 2. Risiko 3 Kelurahan. C Kelurahan. D Dst Catatan:

*) Hanya untuk wilayah dengan risiko 4 dan 3

Drainase No Area Berisiko*) Wilayah prioritas Drainase 1. Risiko 4 Kelurahan. A Kelurahan. B 2. Risiko 3 Kelurahan. C Kelurahan. D Dst Catatan:

*) Hanya untuk wilayah dengan risiko 4 dan 3

Bagian 3 Petunjuk Teknis 163 B. Penggunaan Instrumen Profil Sanitasi dalam Penentuan Area Berisiko Sanitasi

Gunakan file dengan nama Instrumen Profil Sanitasi 2014.xls. Instrumen ini terdiri dari 7 (tujuh) lembar kerja yang terpisah: Form 1; Form 2; Area Berisiko; Zona Air Limbah; Zona Sampah; Zona Drainase dan Input Planning Tool sebagaimana ditunjukkan di bawah ini. Untuk penentuan area berisiko, lembar kerja yang digunakan adalah: (i) Form 1; (ii) Form 2; dan (iii) Area Berisiko.

Gambar 1: Tampilan Lembar Kerja Instrumen Profil Sanitasi 2014

Dalam dokumen PEDOMAN PENYUSUNAN MPS 2015 (Halaman 167-170)