Proses pengembangan prototipe buku teks perkembangan puisi Indonesia modern periode 1990-2010 berbasis multikulturalisme ini melalui beberapa tahap antara lain:
Berdasarkan permasalahan yang ada yaitu tidak adanya buku teks perkembangan puisi Indonesia modern periode 1990-2010 di SMA Muhammadiyah I Surakarta, serta adanya suatu tujuan untuk menghasilkan produk yang berupa buku teks, dan adanya pelaksanaan pembelajaran tentang puisi dalam proses belajar dan mengajar di kelas, maka proses pengembangan prototipe ini direncanakan pada semester dua tahun 2012. Alasan dipilihnya rencana ini pada semester dua karena pada semester dua di kelas X masih terdapat Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi yang berhubungan dengan materi puisi.
2. Studi Eksplorasi
Tahap Studi eksplorasi ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan melakukan studi pustaka, artinya kegiatan membaca buku- buku tentang puisi, buku-buku tentang pendidikan multikultural yang bisa digunakan sebagai bahan awal produk. Selain itu, cara kedua adalah dengan melakukan studi lapangan. Artinya melakukan kegiatan untuk menyelidiki keadaan di lapangan yang berhubungan dengan perpuisian baik di perpustakaan maupun di dalam kelas, serta melakukan wawancara dengan guru dan siswa.
3. Pengembangan Bentuk Awal
Dari kegiatan studi pustaka dan studi lapangan di atas, maka didapat bahan-bahan yang akhirnya disusun sebagai bentuk awal atau prototipe puisi Indonesia modern periode 1990-2010 berbasis
mengembangkan bentuk awal tersebut dengan melakukan uji coba awal secara terbatas. Namun sebelum pelaksanaan uji coba awal, terlebih dulu prototipe tersebut dimintakan masukan dari berbagai pihak. Masukan-masukan tersebut bisa berasal dari pakar atau ahli di bidang puisi maupun ahli di bidang penggunaan bahasa. Selain itu, masukan juga bisa berasal dari pengguna yang secara langsung memakai produk yang telah dihasilkan dalam kegiatan belajar dan mengajar yaitu guru dan siswa.
4. Validasi Produk
Agar produk bisa benar-benar sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dilakukan valdasi produk. Untuk validasi produk ini bisa berupa validasi ahli atau expert jugdment, dan berupa validasi lapangan atau field testing.
a. Validasi Ahli
Untuk validasi ahli dilakukan sebelum produk awal atau prototipe itu diujicobakan dengan tujuan agar isi produk benar-benar sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Jadi kegiatan validasi dalam hal ini adalah meminta masukan dari ahli penulis puisi atau penyair dan ahli dalam bidang penggunaan bahasa atau pakar bahasa.
Prototipe yang sudah tersusun, kemudian dilakukan validasi lapangan atau uji coba lapangan awal atau disebut juga uji coba terbatas. Kegiatan ini dilakukan hanya pada 20 siswa kelas X yang berasal dari empat kelas yang berbeda yaitu kelas X-1, X-2, X-3, dan kelas X-4. Hasil uji coba terbatas ini dianalisis dengan uji t-non independent.
c. Validasi Lapangan Utama
Adapun validasi lapangan utama ini dimaksudkan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan produk dalam proses belajar megajar secara menyeluruh pada suatu kelas. Pelaksanaan uji coba lapangan utama di SMA Muhammadiyah I Surakarta ini berlangsung pada tiga kelas yang berbeda yaitu X-1, X-2, dan X-4. Jumlah siswa per kelas sebanyak 40 orang sehingga jumlah keseluruhan berjumlah 120 siswa. Hasil uji coba lapangan utama ini juga dianalisis dengan uji t-non independent.
d. Validasi Lapangan Operasional
Pada tahap validasi lapangan operasional ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keefektifan produk dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pelaksanaan uji keefektifan produk ini dilakukan pada kelas XI IS-3 dengan melalui penelitian tindakan kelas yang berfokus pada perbedaan nilai pre-test dan post- test. Penelitian tindakan kelas berlangsung dua siklus, siklus satu
bersama guru bidang studi di sekolah setempat dan siklus dua bersama peneliti.
C.Pengembangkan Prototipe Buku Teks Perkembangan Puisi Indonesia
Periode 1990-2010 menjadi Buku Teks
Kegiatan pengembangan prototipe buku teks Perkembangan Puisi Indonesia Periode 1990-2010 menjadi Buku Teks ini diawali dengan serangkaian uji coba. Karena dengan uji coba ini bisa diketahui kelebihan dan kekurangan tentang materi yang dibutuhkan. Uji coba yang dimaksudkan adalah uji coba terbatas dan uji coba lapangan utama, serta beberapa masukan untuk penyempurnaan produk.
1. Uji Coba Terbatas
Setelah produk awal tersusun, maka tahap berikutnya adalah menguji produk tersebut melalui uji coba terbatas. Uji coba terbatas maksudnya adalah uji produk terhadap beberapa siswa saja. Uji terbatas ini dilakukan pada siswa kelas X. Dipilihnya kelas X karena materi puisi memang diberikan pada kelas X baik pada semester I maupun semester 2. Hal ini bisa dilihat dalam pemetaan materi dalam Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang di dalamnya terdapat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang wajib diberikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Untuk kelas X semester 1 terdapat Standar Kompetensi yang berbunyi Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/tidak langsung
Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman .
Selain itu masih terdapat lagi Standar Kompetensi yang
dengan Membacakan puisi dengan lafal,
masih ada lagi Stándar Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis
Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama,
dan .
Mengungkapkan pendapat terhadap
Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi mel
.
Uji coba terbatas ini dilakukan pada siswa kelas X berjumlah 20 siswa yang dipilih secara acak yaitu 6 siswa dari siswa kelas X-1, dan 5 siswa dari kelas X-2, serta 5 siswa dari kelas X-3, serta 4 siswa dari kelas X-4. Adapun pelaksanaan uji coba terbatas dengan mengajak siswa
memasuki suatu ruangan kemudian dilakukan pretest serta pembelajaran materi puisi dengan menggunakan buku sumber yang telah dihasilkan dari produk awal tadi. Di akhir kegiatan juga dilakukan post-test untuk mengetahui hasil akhir. Dari hasil pretest dan post-test tersebut, ternyata anak-anak benar-benar merasa asing dengan nama penyair dan hasil karyanya. Tidak hanya anak-anak, para gurupun juga mengalami hal yang sama. Hasil yang didapat setelah dihitung dengan menggunakan uji t-non- independen menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok.
Setelah dilakukan tiga kali pertemuan dalam uji coba terbatas, kemudian siswa dimintai pendapat tentang penggunaan prototipe tersebut sebagai masukan untuk kesempurnaan draf buku tersebut. Selain dimintakan pendapat dari siswa, dimintakan juga pendapat dari guru pengajar tentang draf buku yang telah dihasilkan. Masukan-masukan tersebut dicatat dan dijadikan pedoman untuk mengadakan reduksi data.
2. Uji Coba Lapangan Utama
Adapun pelaksanaan uji coba lapangan utama atau uji coba luas ini berbeda dengan pelaksanaan uji coba terbatas. Jika uji coba terbatas dilaksanakan atau diterapkan pada beberapa siswa yang dipilih secara acak dengan jumlah terbatas, namun dalam pelaksanaan uji coba utama ini dilaksanakan dalam jumlah satu kelas. Untuk pelaksanaan uji coba utama ini dilaksanakan di kelas X-1, X-2, X-4 dengan jumlah siswa masing- masing sebanyak 40 siswa sehingga jumlah keseluruhan 120 siswa.
Alasan dipilihnya kelas X-1, X-2, X-4 ini sebagai kelas untuk pelaksanaan uji coba utama karena pada kelas ini terdiri dari siswa yang mempunyai latar belakang kehidupan ekonomi keluarga yang lebih hiterogen dari pada kelas yang lain. Selain itu, dalam kelas ini menurut informasi dari wali kelas dan pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia mempunyai kecakapan yang hampir sama, dalam arti tidak ada siswa yang sangat menonjol kemampuannya dan juga tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan paling lemah. Dari keadaan seperti ini diharapkan hasil yang didapat nantinya benar-benar objektif sesuai dengan yang diharapkan.
Pelaksanaan uji coba luas ini dimulai dengan pretes kemudian dilakukan pembelajaran materi puisi Indonesia Modern periode 1990-2010 selama 8 kali pertemuan. Pembelajaran dilakukan dengan memperkenalkan masing-masing penyair beserta biografinya. Hal ini dilakukan agar siswa mengatahui asal-usul penyair beserta latar belakang kehidupannya. Kehadiran penyair yang berasal dari berbagai daerah diharapkan mampu menghapus kesan kesukuan yang terdapat dalam negeri ini. Para penyair yang ada ternyata sama-sama menunjukkan rasa kecintaan terhadap negeri tercinta dan membenci kekerasan dan ketidakadilan serta memperjuangkan nasib rakyat kecil.
Pada pembahasan selanjutnya, barulah diperkenalkan beberapa contoh puisi dari masing-masing penyair beserta pembahasan mengenai makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Agar lebih semarak, sesekali
siswa diminta untuk membacakan puisi yang mereka sukai dari buku tersebut. Ternyata kegiatan ini menimbulkan semangat dan gairah pada siswa untuk mengenal lebih jauh masing-masing puisi yang ada. Hal ini terbukti dengan antusias siswa yang saling mengacungkan tangan untuk mencoba membacakan puisi di depan kelas.
3. Masukan-masukan untuk Penyempurnaan Prototipe Buku Teks Puisi
Indonesia Modern periode 1990-2000 menjadi Buku Teks
Agar prototipe buku teks puisi Indonesia Modern periode 1990-2010 bisa menjadi buku teks yang lebih sempurna, maka produk kembali dimintakan masukan-masukan dari pengguna yaitu dari siswa dan dari guru. Hal ini sangat penting karena siswa dan gurulah yang akan menggunakan produk ini dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan adanya masukan-masukan ini, maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki draf agar sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna. Apabila pengguna merasa senang dengan materi dan penampilan buku puisi ini maka diharapkan bisa membantu atau menunjang pembelajaran materi puisi di sekolah.
D.Uji Keefektifan Buku Teks Perkembangan Puisi Indonesia Periode