• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL

6.2. Aspek Teknis

6.2.4. Proses Produksi 1 Pola Produks

Satu siklus produksi penetasan itik memerlukan waktu sekitar 28 hari, sedangkan pembesaran itik pedaging dimulai dari DOD hingga panen

memerlukan waktu sekitar dua bulan. Kegiatan utama yaitu pembibitan dilakukan dengan berpola sehingga setiap hari pasti ada kegiatan produksi. Indukan yang menghasilkan telur berselisih hari bertelurnya, sehingga telur yang dihasilkan tidak terputus.

Itik petelur umumnya memiliki masa produktif selama 18-24 bulan sejak tahap belajar bertelur pada umur 5-6 bulan. Itik petelur dapat melewati 1-3 periode bertelur. Namun, itik hibrida pada CV. Usaha Unggas melakukan produksi hingga 2 periode. Selanjutnya itik petelur itu dijual sebagai betina afkir.

Selama masa produktif, itik betina mampu bertelur rata-rata 60-85 persen tergantung jenisnya. Pada itik hibrida sendiri rata-rata telur yang dihasilkan mencapai 70 persen. Angka itu diartikan, dari 400 ekor itik petelur, maka produksi rata-rata mencapai 280 butir per hari. Puncak produksi telur 94 persen (10-15 persen lebih tinggi dari itik jenis lainnya). Umur pertama bertelur 18 minggu (4,5 bulan) atau satu bulan lebih awal dari jenis itik lainnya. Masa produksi telurnya 10-12 bulan per siklus, tanpa rontok bulu.

Gambar 5. Periode Itik Bertelur

Untuk kegiatan pembesaran itik, perusahaan mengerjakannya sebagai usaha sambilan, jadi siklus produksi sesuai dengan kondisi tertentu. Penyebabnya adalah mitra yang berhalangan mengambil DOD pada hari hari tertentu seperti hari libur dan lebaran.

60% 70% 80%80%85% 94% 90% 80%80% 70%70%70% 60% 50%50%50% 60% 70%70% 50% 40% 30% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2. Pengelolaan Usaha Ternak a. Kebutuhan Indukan

Awalnya kebutuhan indukan dipenuhi dari pemasok yang berasal dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor. Balitnak menyediakan itik hibrida yang merupakan hasil perkawinan silang antara itik mojosari dan itik peking. Namun, setelah beberapa tahun berusaha, perusahaan dapat membesarkan itik hibrida sendiri dan menyortir itik dengan kualitas yang baik dan dijadikan indukan untuk itik generasi selanjutnya. Selain itu, indukan tersebut juga dipasok ke daerah Tulung Agung, Jawa Timur, yang merupakan mitra CV. Usaha Unggas untuk pembibitan DOD.

Alasan pemilihan itik jenis ini adalah karena itik hibrida mampu panen lebih cepat dibandingkan itik jenis lainnya. Selain itu, sifat yang diwarisi dari salah satu induknya yaitu itik peking yang juga memiliki keunggulan. Itik peking memiliki nafsu makan yang tinggi, postur lebih besar, kantung telur betina besar, dan tingkat mortalitas (kematian) lebih rendah.

b. Pemberian Pakan

Pemberian pakan dibedakan sesuai dengan perbedaan umur itik. Untuk pakan indukan atau itik petelur, pakan yang diberikan adalah pakan pur sebanyak 2 ons per ekor per hari. Sedangkan untuk pembesaran itik, itik pada umur antara 1-14 hari, itik diberikan pakan yang seluruhnya merupakan pakan buatan pabrik yakni pakan jenis broiler (BR 511). Hal tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa kebutuhan nutrisi pada umur 1- 14 hari sangat tinggi dan perlu formulasi pakan yang lengkap. Formulasi nutrisi yang lengkap biasanya sudah terdapat pada pakan pabrik. Pada umur >14 hari minggu itik diberikan pakan campuran yaitu dengan membuat ransum. Ransum pakan yang terdiri dari campuran pakan pur, dedak menir, limbah sayuran pasar, dan mineral. Alternatif lainnya adalah sisa mie dan sisa roti.

Pemberian pakan dan pembuatan ransum disesuaikan dengan SOP (Standar Operational Procedure) yang terdapat di CV usaha Unggas. Prosedur dalam SOP tersebut misalnya mengenai waktu pemberian pakan, jumlah pemberian pakan, dan pembuatan ransum pakan. Jumlahnya sangat ditentukan karena itik merupakan unggas yang “jago makan”, dengan kata lain berapapun kuantitas pakan yang disediakan pasti habis dimakannya. Oleh karena itu perlu pengontrolan dalam segi ini. Selain untuk menjaga kualitas itik, pengaturan ini juga untuk meminimalisir biaya produksi. c. Kebutuhan Air dan Pemberian Minum Itik

Kebutuhan akan air digunakan terutama untuk minum itik. Untuk keperluan minum itik, air harus selalu tersedia di kandang. Hal ini dikarenakan itik pada dasarnya unggas air yang memerlukan banyak air. Penggantian air minum dilakukan setelah air dalam tempat minum terlihat kotor. Selain untuk keperluan minum itik, air digunakan untuk mencuci peralatan misalnya tempat pakan dan tempat minum. Kebutuhan air dapat dipenuhi dari instalasi air yang telah dibangun. Instalasi air menggunakan sumur dengan mesin pompa air untuk mengalirkan air dari sumur hingga ke perkandangan.

d. Vitamin dan Vaksin

Tujuan diberikannya vitamin yakni agar nafsu makan itik bertambah sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan bobot badan itik. Selain itu agar itik lebih kebal dari penyakit. Selain itu, CV Usaha Unggas juga membuat jamu herbal sendiri. Jamu herbal merupakan campuran temulawak, kuyit, dan kayu manis. Campuran tersebut direbus kemudian disaring. Jamu ini berkhasiat sebagai antibodi agar itik rentan dan tidak diserang oleh penyakit. Selain itu jamu ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan karena berfungsi sebagai penambah nafsu makan. Pemberian jamu ataupun vitamin dilakukan dengan cara dicampur dengan air minum. Komposisi vitamin dalam campuran dengan air yakni 200 gram

vitamin dilarutkan ke dalam air satu liter. Sedangkan komposisi jamu herbal dalam campuran dengan air yakni dua sendok jamu dilarutkan ke dalam satu liter air.

Gambar 6. Pembuatan Jamu Herbal e. Penanganan Penyakit

Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang itik antara lain: batulismus (keracunan), fowl cholera (kolera unggas), salmonellosis (parathypus), penyakit lumpuh, dan penyakit bubul (Departemen Pertanian 1990 dalam Oktavia 2005). Adapun cara terbaik untuk menghindari serangan penyakit menurut Widhyarti (2003), adalah dengan memelihara itik dalam kandang yang memadai, baik sanitasi maupun luasnya (kepadatan kandang), serta pemberian pakan yang mencukupi jumlah, gizi, dan kesegarannya. Penanganan terhadap itik yang terkena penyakit yaitu diisolasi dan diberikan pengobatan. Obat yang diberikan pada CV. Usaha Unggas berupa bubuk sachet dengan merk medion. Takaran yang diberikan antara 1–2 sedot.

Selain penyakit, kematian juga dapat disebabkan oleh faktor selain penyakit. Kematian terutama terjadi pada saat masih DOD yang disebabkan karena bibit saling injak. Penyebabnya adalah padat tebar itik terlalu padat atau pada saat pemberian pakan saling berebutan sehingga terjadi saling injak. Namun, adanya pengaturan tebar itik perkandang pada CV. Usaha Unggas dapat memperkecil resiko kematian karena terinjak. Kematian yang tidak bisa dihindarkan terjadi akibat faktor alam. Perubahan cuaca yang

signifikan menyebabkan kematian pada DOD maupun itik. Faktor human error juga salah satu penyebab kematian itik.

f. Kegiatan Pembesaran Itik

Pembesaran itik merupakan kegiatan sampingan bagi CV. Usaha Unggas. Proses produksi yang dilakukan yaitu membesarkan itik pedaging dari itik umur 0 hari (Day Old Duck/ DOD) hingga itik dewasa yang siap dijual dengan bobot sekitar 1,2 kilogram per ekor. Periode produksi yang dilakukan sekitar dua bulan. Tata laksana pengelolaan pembesaran itik dilakukan berdasarkan pengetahuan yang didapat dari hasil studi lapangan di peternakan yang sudah lebih dulu berdiri, uji coba dan pengalaman.

Terdapat beberapa tahapan dalam kegiatan pembesaran itik pedaging. Tahapan produksi tersebut berupa tahap persiapan, tahap pemeliharaan itik starter, grower, dan finisher, dan tahap pemasaran. Kegiatan diawali dengan pengkondisian kandang dilakukan agar kandang sesuai dengan keperluan pembesaran. Pada pemeliharaan itik tahap starter, DOD ditempatkan pada induk buatan yang telah disediakan. Tahap pemeliharaan starter dimulai dengan pemeliharaan itik umur 1-14 hari. Setelah itu, itik disortir dan dipisahkan untuk dilanjutkan pada tahap pemeliharaan grower. Perbedaan pada setiap tahapan pemeliharaan yaitu pada pemberian pakan baik jumlah, komposisi, maupun waktunya.

Setelah itik berumur lebih dari 14 hari komposisi pakan berubah. Tahap grower dan finisher ini sampai itik berumur dua bulan. Pada umur tersebut bobot itik hidup mencapai antara 1,0-1,3 kilogram. Setelah itu itik dipasarkan menurut bobotnya.

6.2.5. Layout

Layout merupakan keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Fasilitas yang terdapat di CV. Usaha Unggas terdiri dari kandang, peralatan pemeliharaan, instalasi listrik, instalasi air, dan mesin tetas.

CV. Usaha Unggas memiliki dua unit mesin tetas dengan kapasitas mesin tetas maksimum adalah 6.000 telur per unit. CV. Usaha Unggas memiliki beberapa jenis kandang, yaitu sebanyak dua unit kandang itik dewasa dan 10 unit kandang DOD. Ukuran kandang besar yaitu 20 meter x 5 meter atau luas kandang 100 m2. Sedangkan kecil berukuran 3 meter x 1,8 meter sebanyak 10 unit. Sistem sirkulasi udara cukup baik karena dinding di atas satu meter terbuat dari kawat ram yang memungkinkan udara masuk. Hal itu juga mempengaruhi pencahayaan sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam kandang.

Pusat instalasi listrik berada pada ruangan penetasan telur. Instalasi air berpusat di area sekitar kandang. Selain itu jarak rumah karyawan berada di sekitar lokasi peternakan. Didalam kandang terdapat penerangan untuk menjaga suhu ruangan hangat. Pada area kandang juga disediakan ruangan untuk menyimpan pakan dan menyimpan peralatan, dan penampungan sementara kotoran.

Keran untuk air pembersihan dan minum terdapat di luar kandang yaitu di depan kandang. Pada bagian depan kandang juga terdapat arena bermain itik. Sesekali itik dapat bermain di tempat tersebut. Terdapat juga kolam sederahana untuk tempat berenang itik. Gambaran layout peternakan dapat dilihat pada Gambar 7.

Keterangan: 1. Ruang Penetasan

2. Tempat pemeliharaan indukan 3. Tempat pemeliharaan tahap grower 4. Tempat pemeliharaan DOD 5. Pusat instalasi air

6. Kolam tempat bermain itik 7. Tempat penyimpanan peralatan 8. Tempat penyimpanan pakan

9. Tempat penyimpanan kotoran sementara 10. Tempat bermain itik

Gambar 7. Layout Peternakan

Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek teknis, dapat dikatakan CV. Usaha Unggas layak dijalankan. Hal itu dikarenakan peternakan telah melakukan produksi uji coba dan telah belajar dari peternakan yang telah ada sebelumnya. Selain itu perlu mewaspadai ancaman penyakit dan faktor penyebab kematian lainnya. Peternakan perlu memproduksi DOD dan itik sesuai kapasitas mesin dan kandang untuk mengoptimalkan penerimaan.