PEMBANDINGAN HASIL PENILAIAN OBSERVASI
4.6.6 Proses Seleksi
Berdasarkan informasi dari Banquet Manager, setelah para pelamar tersebut diterima atau lolos dari proses penyaringan, maka segera dilanjutkan ke proses selanjutnya yaitu proses seleksi. Proses awal yang dilakukan adalah mengisi application form yang telah disediakan oleh hotel secara lengkap, kemudian melakukan serangkaian wawancara dengan beberapa pimpinan bagian yang terkait. Untuk penanganan staff casual di outlet banquet berarti termasuk pada departemen F&B, pewawancara yang terkait antara lain Human Resource Manager sebagai wawancara pembuka yang biasanya bersifat umum menyangkut latar belakang pelamar, Training Manager untuk kemampuan berbahasa inggris, F&B Director untuk knowledge F&B, dan Banquet Manager untuk secara keseluruhan mengenai banquet and catering, dan kemudian keputusan akhir diterima atau tidaknya tergantung pada Banquet Manager.
Mengenai kriteria-kriteria yang dipakai oleh pihak hotel di dalam proses seleksi telah dijelaskan pada sub-bab 4.6.4, yaitu attitude atau tingkah laku, knowledge dan skill, leadership dan style, kondisi fisik, dan pengalaman kerja.
Menurut penjelasan responden, attitude dapat tercermin melalui cara bicara, gerak tubuh, dan penampilan seseorang, attitude itu sendiri dapat mencerminkan karakteristik seseorang dalam bekerja, seperti pekerja keras, punya kemauan untuk belajar dan berkembang. Knowledge dan skill seseorang dalam bidang banquet minimal haruslah bisa melakukan pengetahuan dasar seperti mengangkat tray, mengenal flatware, cutlery, serta mampu berbahasa inggris. Karena untuk proses penambahan knowledge dan skill akan dilakukan pelatihan-pelatihan yang menunjang nantinya. Leadership dan style diharapkan merupakan potensi yang dimiliki sehingga dapat mengarah ke karakteristik tertentu, untuk mau bekerja sama dalam sebuah tim dan memupuk tanggung jawab. Style merupakan sebuah ciri khas seseorang dalam bekerja, apakah seseorang tersebut adalah demokratis, diktaktor, atau lainnya. Kondisi fisik dibutuhkan karena pekerjaan di outlet banquet termasuk berat. Sedangkan pengalaman kerja, dibutuhkan agar pihak
hotel tidak perlu bersusah payah lagi untuk membelajari mereka dari awal karena mereka telah mengenal operasional di outlet banquet, selain itu dapat berpengaruh pada rasa percaya diri staff casual nantinya.
Dalam melakukan proses seleksi, Banquet Manager sering menemui kemudahan-kemudahan dan hambatan-hambatan yang berasal dari pelamar-pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan dan non-perhotelan. Kemudahan yang didapat dari pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan adalah berhubungan dengan knowledge yang telah mereka miliki. Mereka mendapat referensi dari sekolah mereka bahwa mereka sudah menguasai mengenai industri hospitality, sehingga pihak manajemen hanya fokus pada skill dan attitude mereka saja. Sebaliknya hal ini merupakan sebuah hambatan bagi pelamar berlatar belakang pendidikan non-perhotelan, knowledge mereka masih harus dipertanyakan sejauh mana knowledge mereka tentang industri perhotelan.
Terkadang dengan tingginya pengalaman kerja pun harus dipertanyakan sejauh mana dasar mereka mengenai industri hospitality, apakah pihak hotel harus membutuhkan waktu yang lama untuk menempa mereka. Tetapi tidak dapat dipungkiri lagi bila pengalaman kerja juga memegang peranan penting dalam perekrutan staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan. Banyak spesialis seleksi yang meyakini bahwa kinerja masa lalu pada pekerjaan serupa dapat menjadi indikator terbaik dari kinerja di masa yang akan datang (Simamora,1997:258).
TABEL 4.6.6.a Pengalaman Kerja Sebagai Casual
Frekuensi Non-Perhotelan Perhotelan
Jumlah % Jumlah %
Lebih dari 20 kali 19 56 0 0
Lebih dari 10 kali 7 21 2 25
Sumber: Olahan Data Penulis
Berdasarkan tabel diatas, dari 34 orang responden berlatar belakang pendidikan non-perhotelan, 19 orang pernah menjadi staff casual lebih dari 20
kali, dan 7 orang pernah menjadi staff casual lebih dari 10 kali. Sedangkan dari responden berlatar belakang pendidikan perhotelan, hanya 2 orang saja yang pernah menjadi staff casual lebih dari 10 kali.
Pelamar berlatar belakang pendidikan non-perhotelan memiliki kemudahan dalam proses seleksi karena mereka mempunyai banyak waktu luang, sehingga mereka dapat kapan saja mengikuti seleksi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak hotel. Sebaliknya hal ini merupakan hambatan bagi pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan, waktu yang dibutuhkan untuk proses seleksi ini sering terbentur dengan jam kegiatan akademis mereka, sehingga sangat sulit untuk mencocokkan waktu yang tepat untuk melakukan proses seleksi khususnya wawancara dengan pihak hotel, padahal para pimpinan yang berkaitan dalam wawancara perekrutan ini juga tidak selalu mempunyai waktu luang untuk wawancara karena pekerjaan.
Responden menambahkan bahwa ada hambatan utama dalam proses seleksi yang berasal dari sisi manajemen, yaitu di dalam melakukan wawancara.
Terkadang karena sibuknya Human Resource Manager, Training Manager, dan F&B Director, membuat Banquet Manager harus melakukan wawancara sendiri dan terkadang justru dibantu oleh Banquet Team Leader yang seharusnya tidak ikut dalam proses seleksi. Sampai sekarang justru outlet banquet bersifat independent dalam perekrutan staff casual, dimana Banquet Manager dapat melakukan perekrutan, seleksi, dan pengangkatan sendiri.
TABEL 4.6.6.b
Proses Seleksi Yang Dilalui Staff Casual
Non-Perhotelan Perhotelan
Jumlah % Jumlah %
Mengisi Application Form 34 100 8 100
Mengikuti Test 5 15 0 0
Interview dengan:
HR Manager & Bqt Manager 4 12 0 0
Training Manager & Bqt Manager 7 20 3 37,5
Banquet Manager 19 56 5 62,5
Lain-lain (Interview Team Leader) 4 12 0 0 Sumber: Olahan Data Penulis
Menurut perincian tabel diatas diketahui bahwa, dari 34 responden berlatar belakang pendidikan non-perhotelan dan 8 orang berlatar belakang pendidikan perhotelan, semua mengikuti proses awal yaitu dengan mengisi Application Form yang telah disediahkan oleh hotel secara lengkap dimana didalamnya termasuk informasi personel dari pelamar, seperti nama, alamat, pengalaman kerja sebelumnya, pendidikan, referensi, dan informasi lainnya (Drummond,1990:22).
Dari seluruh responden, hanya 5 orang yang pernah mengikuti test seleksi. Dalam proses wawancara, 56% dari responden berlatar belakang pendidikan non-perhotelan yaitu 19 orang, hanya mengikuti wawancara dengan Banquet Manager saja, hal ini juga terjadi pada responden berlatar belakang pendidikan perhotelan bahwa 5 dari 8 orang responden juga hanya mengikuti wawancara dengan Banquet Manager.
Hambatan ini dapat menjadi salah satu sumber kurang optimalnya proses seleksi staff casual di outlet banquet Hotel Majapahit, Mandarin Oriental, Surabaya.
4.6.7 Pembandingan Kompetensi Staff Casual Berlatar Belakang Pendidikan