DATA PEREKRUTAN STAFF CASUAL OUTLET BANQUET Periode Januari – April 2004
4.6.1 Wawancara dengan Banquet Manager dan Banquet Team Leader
Penulis melakukan wawancara dengan Banquet Manager dan Banquet Team Leader untuk mengetahui mengenai penyebab pemilihan staff casual dengan latar belakang pendidikan non-perhotelan. Pertanyaan wawancara ini terdiri dari 10 pertanyaan yang terkait dengan masalah yang akan dibahas (lihat lampiran 1), penulis mewawancarai Banquet Manager, dan dua orang Banquet Team Leader. Hasil wawancara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Di dalam merekrut staff casual, cara-cara apa saja yang biasa digunakan?
Semua responden mengatakan bahwa proses rekrutmen yang dilakukan biasanya adalah dengan membuat surat lowongan yang berisi tentang
pemberitahuan pekerjaan sebagai staff casual, yang berisi kualifikasi yang dibutuhkan, dan keuntungan bagi staff casual. Kemudian di informasikan ke sekolah-sekolah perhotelan yang ada di Surabaya antara lain: Satya Widya, Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA), Prisma Profesional, Surabaya Hotel School (SHS), Chandra Cendekiawan. Surat lowongan tersebut juga dipasang di information board hotel, ada juga yang di informasikan kepada staff casual untuk memberitahukan kepada teman-teman mereka. Setelah ada yang datang untuk melamar, pihak hotel segera menghubungi pelamar untuk melakukan wawancara.
(wawancara tanggal 10 mei 2004).
2. Apakah yang menjadi kemudahan dan kendala-kendala yang dihadapi di dalam proses perekrutan yang berasal dari calon pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan dan non-perhotelan?
Semua responden mengatakan bahwa kendala dari calon pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan yang paling utama adalah tidak adanya tanggapan yang positif dari siswa-siswi sekolah perhotelan yang ada di Surabaya tentang perekrutan ini dengan alasan akademis, serta kurangnya dorongan dari sekolah-sekolah perhotelan kepada muridnya untuk menjadi staff casual. Padahal di sisi lain, banyak pelamar-pelamar yang tidak berlatar belakang dari pendidikan sekolah perhotelan. Hingga terkadang walaupun tidak membuka lowongan tetapi tetap saja datang untuk melamar, semua responden mengatakan bahwa banyaknya pelamar-pelamar yang datang karena diberitahu oleh teman-teman mereka yang sudah menjadi staff casual sebelumnya. Tetapi dengan begitu banyaknya pelamar yang berlatar belakang pendidikan non-perhotelan membuat screening yang diadakan oleh pihak manajemen harus diperketat, seperti memasukkan kriteria pengalaman kerja sebagai penunjang referensi tambahan, dan tentunya proses ini memakan waktu lebih banyak. Padahal waktu dalam proses perekrutan staff casual sangatlah terbatas. Karena terbentur dengan adanya event-event yang akan diadakan di hotel. Sebuah event yang diadakan di outlet banquet tidak dapat diprediksikan kapan akan berlangsung dan seberapa besar event tersebut.
Sehingga di dalam menentukan jumlah staff casual yang dibutuhkan harus berdasarkan event yang akan diadakan. (wawancara tanggal 10 mei 2004).
3. Di dalam melakukan seleksi, proses-proses apa sajakah yang biasa dilakukan?
Responden mengatakan bahwa proses awal yang dilakukan adalah mengisi application form yang telah disediakan oleh hotel secara lengkap, kemudian melakukan serangkaian wawancara dengan Human Resource Manager, Training Manager untuk kemampuan berbahasa inggris, F&B Director untuk knowledge F&B, dan Banquet Manager untuk secara keseluruhan mengenai banquet dan catering, dan kemudian keputusan akhir diterima atau tidaknya tergantung pada Banquet Manager. Dalam proses seleksi khususnya dalam wawancara, dibutuhkan waktu kurang lebih 2 sampai 3 hari tiap pelamarnya tergantung pada kesediaan waktu yang dimiliki oleh pimpinan yang bersangkutan, serta jumlah staff casual yang dibutuhkan. (Wawancara tanggal 10 mei 2004)
4. Dalam proses seleksi, kriteria-kriteria apa saja yang biasa dipakai sebagai acuan bagi staff casual?
Responden mengatakan bahwa kriteria yang dipakai adalah attitude atau tingkah laku, knowledge dan skill, leadership dan style, kondisi fisik, dan pengalaman kerja. Attitude dapat tercermin melalui cara bicara, dan penampilan seseorang, sedangkan attitude itu sendiri dapat mencerminkan karakteristik seseorang dalam bekerja, seperti pekerja keras, ada kemauan untuk belajar.
Knowledge dan skill seseorang dalam bidang banquet minimal haruslah bisa melakukan dasarnya seperti mengangkat tray, mengenal flatware atau peralatan pecah belah seperti piring dan mangkok, cutlery atau peralatan makan seperti sendok dan garpu, serta mampu berbahasa inggris. Karena untuk proses penambahan knowledge dan skill akan dilakukan pelatihan-pelatihan yang menunjang. Leadership dan style diharapkan merupakan potensi yang dimiliki sehingga dapat mengarah ke karakteristik tertentu, untuk mau bekerja sama dalam
sebuah tim dan memupuk tanggung jawab. Style merupakan sebuah ciri khas seseorang dalam bekerja, apakah seseorang tersebut adalah demokratis, diktaktor, atau lainnya. Kondisi fisik dibutuhkan karena pekerjaan di outlet banquet termasuk berat. Sedangkan pengalaman kerja, dibutuhkan agar pihak hotel tidak perlu bersusah payah lagi untuk membelajari mereka dari awal karena mereka telah mengenal operasional di outlet banquet, selain itu dapat berpengaruh pada rasa percaya diri staff casual nantinya. (wawancara tanggal 10 mei 2004).
5. Apakah yang menjadi kemudahan dan kendala-kendala yang dihadapi dalam proses seleksi yang berasal dari calon pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan dan non-perhotelan?
Semua responden mengatakan bahwa ada tiga kendala, yaitu dari sisi manajemen dan dari sisi calon pelamar, dimana kendala dari sisi manajemen merupakan kendala yang pertama yaitu di dalam melakukan proses wawancara.
Terkadang karena sibuknya Human Resource Manager, Training Manager, dan F&B Director, membuat Banquet Manager harus melakukan wawancara sendiri dan terkadang justru dibantu oleh Banquet Team Leader yang seharusnya tidak ikut dalam proses seleksi. Sampai sekarang justru outlet banquet bersifat independent dalam perekrutan staff casual, dalam arti melakukan perekrutan, seleksi, dan pengangkatan sendiri. Menurut Banquet Manager dalam proses seleksi karyawan di setiap hotel, departemen HRD juga seharusnya ikut bertanggung jawab. Kendala kedua yang dihadapi adalah dari calon pelamar berlatar belakang pendidikan perhotelan adalah waktu yang dibutuhkan untuk proses seleksi ini sering terbentur dengan jam kegiatan akademis mereka, sehingga sangat sulit untuk mencocokkan waktu. Kendala yang ketiga yang dihadapi adalah dari calon pelamar berlatar belakang pendidikan non-perhotelan, knowledge mereka masih harus dipertanyakan, terkadang dengan tingginya pengalaman kerja pun harus dipertanyakan sejauh mana dasar mereka mengenai hospitality, apakah pihak hotel harus membutuhkan waktu yang lama untuk menempa mereka. Kemudahan yang dihadapi dari sisi calon pelamar yang berlatar belakang pendidikan non-perhotelan adalah mereka memiliki banyak waktu luang
sehingga mereka dapat kapan saja mengikuti seleksi. Sedangkan kemudahan dari calon pelamar yang berlatar belakang pendidikan perhotelan adalah berhubungan dengan knowledge, mereka sudah banyak tahu tentang knowledge di industri perhotelan, sehingga pihak hotel hanya tinggal mengasah lagi tentang hal tersebut.
Mereka mendapat referensi dari sekolah mereka bahwa mereka sudah menguasai mengenai industri hospitality, sehingga pihak manajemen hanya fokus pada skill dan attitude mereka saja. (wawancara tanggal 10 mei 2004).
6. Berdasarkan pengalaman anda apa yang menjadi motivasi dari staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan dan perhotelan untuk mau bekerja sebagai casual di outlet banquet?
Semua responden mengatakan bahwa motivasi dari staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan sebagai prioritas utama adalah untuk mencari uang. Karena mereka menganggap bahwa pekerjaan ini dapat menghasilkan uang, sehingga mereka menggunakan kesempatan ini sekaligus untuk belajar, serta optimis bahwa mereka suatu saat akan diangkat menjadi staff tetap. Sedangkan untuk staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan, responden menjawab sebagai sarana praktek ilmu yang didapat dari sekolahnya atau dengan kata lain coba-coba cari pengalaman, sehingga mereka cenderung kurang bertanggung jawab dalam bekerja. Hal ini berhubungan dengan kurang fleksibel dalam bekerja, mereka tidak mau overtime dengan berbagai macam alasan. (wawancara tanggal 10 mei 2004).
7. Berdasarkan pengalaman anda, apa saja yang menjadi keunggulan staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan berdasarkan “Form Penilaian Prestasi Kerja” yang biasa dipakai oleh manajemen, sehingga outlet banquet lebih memilih mereka?
Banquet Manager mengatakan bahwa keunggulan yang dimiliki oleh staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan yang paling menonjol pertama adalah team work, hal ini disebabkan karena mereka kurang begitu tahu
mengenai conceptional atau teoritis, dan mereka hanya tahu mengenai operasional. Padahal staff casual lebih dituntut untuk bekerja secara operasional, dan pada operasional dituntut untuk bekerja dengan cepat, sehingga mereka saling membantu satu sama lainnya, penyebab lainnya karena pada dasarnya staff casual yang bekerja di outlet banquet adalah teman, sehingga kerjasama antar teman akan lebih baik dan mudah terjalin. Keunggulan yang kedua adalah tingkat ketersediaan atau availability, staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan lebih mudah untuk dipanggil bertugas, mereka hampir tidak pernah menolak untuk bertugas.
Banquet Team Leader mengatakan hal yang sama yaitu team work, karena terkadang dari beberapa staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan masing-masing hanya tahu akan hal tertentu saja, sehingga mereka saling bertukar pikiran untuk sama-sama belajar, dari situ timbul komunikasi yang baik sehingga mereka juga menunjukkannya waktu bekerja, sehingga dalam bekerja mereka tidak berkompetisi antara satu dengan yang lainnya. Keunggulan ketiga yang dimiliki oleh staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan adalah tingkat fleksibilitas mereka, berdasarkan pengalaman di lapangan mereka lebih mau untuk overtime jika tugas-tugasnya belum selesai, mereka menunjukkan kerja keras dalam bekerja.
Sedangkan staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan memiliki kekurangan yaitu, lebih sering untuk sibuk dengan pekerjaannya sendiri, karena mereka merasa lebih tahu dan lebih pintar dari yang lain, bahkan sering menjadi tempat untuk bertanya bagi rekan yang lain. Hal ini menyebabkan adanya gengsi dari staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan, sehingga cenderung untuk tidak berbaur dengan rekan kerjanya. Kekurangan yang kedua dari staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan adalah, mereka lebih sering menolak untuk bertugas karena alasan kuliah, atau ada ujian. Padahal outlet banquet bekerja berdasarkan event yang ada, sehingga staff casual juga menyesuaikan dengan acara bukan sebaliknya.
Akan tetapi, memang produktivitasnya lebih tinggi dibanding dengan staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan, karena kerjanya lebih cepat dan hasilnya baik. Dimana hal tersebut merupakan keunggulan dari casual yang
berlatar belakang pendidikan perhotelan. Keunggulan lain dari staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan adalah pengenalan secara conceptional yang baik mengenai servis, guest contact, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan para tamu dengan baik sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh orang-orang perhotelan yang menunjukkan keramahan, dan sopan.
Staff casual berlatar belakang pendidikan non-perhotelan juga mempunyai kekurangan, yaitu lambat dalam melakukan tugas yang disebabkan kurangnya skill individu. Hal ini terjadi biasanya pada waktu menyajikan set menu dan clear-up piring dan gelas, mereka tidak terbiasa dengan membawa 3 piring dalam sekali jalan. Sehingga mereka harus bolak-balik untuk mengambil makanan. Semua responden menambahkan bahwa hal ini tidak pernah ditemui dari staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan, karena mereka sudah sering berlatih untuk ini di sekolah mereka, sehingga pelayanan mereka terhitung baik.
(wawancara tanggal 10 mei 2004).
8. Di dalam meningkatkan kualitas kerja staff casual, apakah mereka semua mendapatkan pelatihan-pelatihan secara keseluruhan?
Kedua responden menjawab ya, pelatihan-pelatihan tersebut meliputi teori dan praktek yang diberikan berdasarkan situasi, dimana pelatihan yang biasanya diadakan setiap hari Rabu, berisi materi yang berhubungan dengan event yang akan diadakan pada hari berikutnya. Sesuai dengan definisi Simamora (1997:214) bahwa pelatihan adalah proses sistematik pengubahan perilaku para karyawan dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasi. Pelatihan yang diadakan adalah sama dengan yang didapat oleh staff tetap outlet banquet lainnya, sehingga diharapkan ada perbedaan dalam performa staff casual dari hari ke harinya. (wawancara tanggal 10 mei 2004).
9. Menurut anda dengan pelatihan tersebut apakah cukup untuk meningkatkan kualitas kerja mereka?
Kedua responden menjawab bahwa pelatihan yang diadakan sangat bermanfaat, karena berdasarkan pantauan mereka ada peningkatan dari staff casual yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu mengenai knowledge yang dibutuhkan, serta dapat berlatih skill mereka dalam servis. Pelatihan yang diadakan juga termasuk outting atau kegiatan rekreasi khusus untuk staff casual yang bertujuan untuk meningkatkan team work. Sehingga mereka percaya bahwa setelah 3 bulan berlatih, staff casual tersebut akan menjadi cakap dalam bekerja.
(wawancara tanggal 10 mei 2004).
10. Apakah ada kendala-kendala di dalam pelatihan staff casual?
Semua responden mengatakan ada kendala, khususnya dengan staff casual berlatar belakang pendidikan perhotelan, mereka jarang mengikuti pelatihan atau outting yang diadakan karena alasan kampus, kuliah, tes, dan lain sebagainya.
Selain itu pula, mereka lebih susah untuk dirubah pemahaman konsepnya, karena menganggap apa yang didapat dari sekolah perhotelan adalah yang paling benar.
(wawancara tanggal 10 mei 2004).