BAB II : KAJIAN HUKUM TENTANG KEPEMILIKAN SILANG
A. Proses Terjadinya Kepemilikan Silang Saham Dalam
Berbicara tentang bagaimana terjadinya kepemilikan silang saham, pertama- tama perlu diketahui bagaimana hak milik atas saham berpindah dari satu orang kepada orang lain dan dari perseroan yang satu berpindah kepada perseroan yang lain. Pada dasarnya ketentuan yang mengatur tentang saham adalah sejalan dengan ketentuan Pasal 511 angka 4 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa yang dianggap sebagai kebendaan bergerak karena ditentukan undang-undang adalah juga termasuk didalamnya sero-sero atau andil-andil dalam persekutuan perdagangan uang, persekutuan dagang atau persekutuan perusahaan, sekalipun benda-benda persekutuan yang bersangkutan dan perusahaan itu merupakan kebendaan tidak bergerak. Ini berarti saham-saham atau sero-sero atau andil-andil adalah merupakan kebendaan bergerak, dan karenanya secara umum tunduk pada hal- hal yang mengatur tentang kebendaan bergerak. Sebagaimana terjadinya peralihan hak milik atas benda pada umumnya demikian pula peralihan hak atas saham yakni dapat melalui:110
1. Perjanjian, misalnya jual beli, tukar menukar, hibah; 2. Undang-undang, misalnya dalam hal terjadi pewarisan;
110
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
3. Karena putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap atau yang dipersamakan dengan itu, seperti halnya melalui pelelangan.
Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya tentang asas hak kebendaan saham, maka saham merupakan benda bergerak yang dapat beralih dan dialihkan serta dapat dijadikan jaminan utang. Namun karena saham adalah bukti penyertaan pemegang saham dalam perseroan dan sekaligus bukti pemilikan harta bersama yang terikat dalam perseroan terbatas, yang keberadaannya melalui mekanisme pendaftaran di Menteri Hukum dan HAM. Maka peralihan hak milik atas saham tentunya harus dibuat dalam bentuk akta (otentik atau dibawah tangan)111, akta pemindahan hak atas
saham tersebut wajib dicatatkan kedalam daftar pemegang saham atau daftar khusus112, dan wajib melakukan pemberitahuan terhadap perubahan susunan
pemegang saham pada Menteri Hukum dan HAM.113
Kepemilikan silang menurut UUPT adalah keadaan dimana perseroan yang satu memiliki saham yang dikeluarkan oleh perseroan lain, yang sahamnya baik secara langsung atau tidak telah dimiliki oleh perseroan. Ketentuan ini diatur oleh Penjelasan Pasal 36 UUPT. Pasal 36 UUPT sendiri mengatur mengenai masalah pengeluaran saham dengan tujuan pengumpulan modal, karenanya penjelasan tentang kepemilikan silang secara secara langsung bersangkutan dengan upaya perusahaan
Sedangkan untuk pemindahan hak atas saham yang diperdagangkan di Pasar Modal disesuaikan dengan Undang- undang yang mengatur tentang Pasar Modal.
111
Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007. 112
Pasal 51 ayat (2) Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007. 113
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
mengumpulkan modal. Jadi, sehubungan dengan perusahaan mengupayakan adanya pengeluaran saham untuk mengumpulkan modal, maka pihak pembeli haruslah pihak luar perusahaan, karena perusahaan tidak boleh mengeluarkan saham untuk dimiliki sendiri. Dan kepemilikan silang sendiri terjadi jika perusahaan yang sudah memiliki saham yang dikeluarkan oleh perusahaan lain, jika perusahaan lain tersebut kemudian mengeluarkan saham untuk pengumuman modal lagi, maka tidak boleh dibeli, jika dibeli maka terjadilah kepemilikan silang.
1. Perseroan Tertutup
Secara umum, peralihan hak atas saham wajib memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang yaitu :
1. Dibuat dalam bentuk akta, baik notaril ataupun dibawah tangan yang bertujuan untuk mengalihkan hak atas saham, misalnya akta jual beli, akta tukar menukar, akta hibah, akta pembagian dan pemisahan harta warisan atau akta berita acara lelang;
2. Kemudian direksi akan mencatat pemindahan hak atas saham pada hari dan tanggal kejadian dalam daftar pemegang saham atau daftar khusus dengan memuat ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 50 ayat (1) dan (2) UUPT; 3. Setelahnya direksi memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada
Menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak dilaporkan ke Menteri Hukum dan HAM dan selanjutnya didaftarkan dalam daftar perseroan.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
Anggaran dasar UUPT selanjutnya menentukan beberapa persyaratan mengenai pemindahan hak atas saham yang memuat tentang keharusan pemegang saham penjual untuk menawarkan terlebih dahulu sahamnya kepada pemegang saham klasifikasi tertentu atau pemegang saham lain dalam jangka waktu tertentu (30 hari) dan ketentuan untuk menjualnya kepada pihak ketiga jika saham tersebut tidak terdapat peminat; ketentuan yang mensyaratkan diperlukannya persetujuan atau penolakan organ perseroan terbatas (RUPS) secara tertulis dalam jangka waktu paling lama 90 hari terhitung sejak tanggal organ perseroan menerima permintaan persetujuan pemindahan hak dan waktu 90 hari untuk melakukan pemindahan hak terhitung sejak tanggal persetujuan diberikan; serta mensyaratkan diperolehnya persetujuan/izin instansi yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan.
Pada dasarnya untuk perseroan tertutup, dimana sahamnya tidak dijual kepada publik, sehubungan dengan proses peralihan hak atas saham, peralihannya diatur didalam anggaran dasar, melalui RUPS, yang pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan pemegang saham dari perseroan yang bersangkutan.
Disamping perpindahan kepemilikan atas saham melalui perjanjian, karena undang-undang, dan karena putusan hakim yang dipersamakan untuk itu, UUPT sebenarnya juga mengatur tentang penggabungan, peleburan, pemisahan dan pengambilalihan, yang mana menyebabkan terjadinya perubahan kepemilikan terhadap perseroan.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
Menurut Morris114
a. Asset purchase;
ada 3 (tiga) cara yang paling dasar untuk mengambilalih perusahaan. Dalam hal ini berarti terjadinya perubahan kepemilikan terhadap suatu perseroan terbatas. Disebutkan melalui :
b. Stock purchase; c. [Merger]
Berdasarkan pengertiannya, penggabungan perusahaan adalah tindakan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan dengan menggunakan identitas salah satu perusahaan. Peleburan adalah tindakan dua atau lebih perusahaan untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu perusahaan baru dan status perusahaan yang meleburkan diri berakhir karena hukum. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan berakhirnya pengendalian atas perseroan tersebut. Oleh karena itu, istilah ”penggabungan” sering digunakan secara umum walaupun perlu penegasan untuk masing-masing istilah secara kasuistik.
Pada pokoknya didalam penggabungan, yang terjadi adalah pengalihan hak dan kewajiban dari perusahaan yang diambilalih kepada perusahaan yang mengambilalih115
114
Joseph Morris M., Mergers And Acquisitions-Business Strategies For Accountants, (New York: John Wiley & Sons, Inc, 2000), h.13.
115
Gunawan Widjaja, III, Op.Cit., h.46.
, yang didalam pengambilalihan tersebut dapat terjadi melalui pengambilalihan saham maupun aset. Didalam peleburan, yang terjadi adalah diantara 2 (dua) perusahaan yang bergabung akan bubar demi hukum dan akan muncul suatu
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
perusahaan yang baru dengan nama baru, yang secara finansial perusahaan baru tersebut mengambil aset, hak dan kewajiban dari 2 (dua) perusahaan yang bubar tersebut. Didalam peleburan ini juga terjadi perubahan kepemilikan, yakni dari 2 (dua) perusahaan dengan kepemilikan terpisah kemudian menjadi 1 (satu) perusahaan baru dengan kepemilikan gabungan. Didalam pengambilalihan yang terjadi adalah adanya satu perusahaan yang diambilalih oleh perusahaan yang lain. Sehingga walaupun perusahaan yang diambilalih tersebut tetap eksis, namun kepemilikannya telah berubah. Pengambilalihan ini dapat dilakukan dengan melalui pengambilalihan saham atau aset. Sedangkan didalam pemisahan, yang terjadi adalah kebalikan dari penggabungan, dimana jika didalam penggabungan yang terjadi adalah penggabungan dari 2 (dua) perusahaan menjadi 1 (satu) perusahaan, maka didalam pemisahan dari 1 (satu) perusahaan menjadi 2 (dua) perusahaan. Didalam pemisahan itu sendiri juga terjadi perubahan kepemilikan sebagaimana didalam pemisahan tersebut mengakibatkan sebagian/seluruh aktiva dan passiva perseroan beralih karena hukum kepada 1 (satu) perseroan/lebih. Oleh karena itu maka jelas proses-proses perubahan kepemilikan juga terjadi melalui penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan pemisahan sebagaimana diatur oleh UUPT. Namun perubahan kepemilikan dalam hal ini masih terlalu sumir untuk diklaim menyebabkan kepemilikan silang, kecuali terdapat tindakan lebih lanjut dari perusahaan.
Proses penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan pemisahan ini dapat terjadi baik dalam perseroan terbuka ataupun tertutup, baik perusahaan kelompok maupun yang bukan. Sebagaimana kepemilikan silang dilakukan sebagai upaya
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
perusahaan dalam berintegrasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan sendiri dan untuk meningkatkan daya saing terhadap perusahaan lainnya. Begitu pula dengan penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan pemisahan yang merupakan upaya perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, tujuan memperbesar pangsa pasar, mengembangkan usaha, meningkatkan keuntungan, memperoleh jalur distribusi baru, mengurangi pesaing, akses teknologi modern, dan tujuan-tujuan lainnya yang kesemuanya dengan tujuan memperoleh keuntungan.
Sehubungan dengan kepemilikan silang yang diatur dalam UUPT, dikatakan didalam kepemilikan silang terdapat minimal 2 (dua) perseroan yang saling berinteraksi. Sebagaimana Penjelasan Pasal 36 UUPT mengatakan ”...larangan tersebut termasuk juga larangan kepemilikan silang (cross holding) yang terjadi apabila Perseroan memiliki saham yang dikeluarkan oleh Perseroan lain yang memiliki saham Perseroan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung...”. Dari pernyataan ini, dapat dijabarkan bagaimana sebenarnya kepemilikan silang itu. Misalnya PT.A (memiliki saham AAA) dan pada PT.B (memiliki saham BBB). Dalam kepemilikan silang, disamping PT.A memiliki saham AAA, ia juga memiliki saham BBB dari PT.B, karenanya jika PT.B kemudian mengeluarkan saham lagi, maka PT.A tidak boleh membeli saham dari PT.B tersebut, jika PT.A membeli lagi saham PT.B tersebut maka PT.A telah melakukan kepemilikan silang. Begitu pula sebaliknya PT.B yang apabila sudah memiliki saham AAA dari PT.A, maka jika PT.A mengeluarkan saham lagi maka PT.B tidak boleh membeli sahamnya.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
Jadi menurut Penjelasan pasal 36 UUPT, tidak boleh terjadi pembelian untuk kedua kalinya oleh PT.A terhadap saham BBB dari PT.B, jika sebelumnya PT.A telah membeli saham PT.B. Karena UUPT tidak mengatur lebih jauh masalah kepemilikan silang ini. Perlu kiranya kita menguraikan bahwa pada dasarnya yang tidak diperbolehkan sebenarnya bukan berapa kali terjadi pembelian, yang menjadi masalahnya adalah ”kepemilikan/pengendalian” terhadap perseroan yang bersangkutan. Jangan sampai terjadi kepemilikan/pengendalian oleh PT.A terhadap PT.B atau sebaliknya. Karena jika terjadi kepemilikan/pengendalian oleh pihak yang sama, artinya ada 2 (dua) perseroan yang berdiri, dengan nama yang berbeda, dan dianggap pemiliknya beda, namun pemiliknya sama, dengan kebijakan yang dijalankan adalah kebijakan satu perseroan. Ini berarti jika perseroan tersebut misalnya bergerak dalam bidang yang sama, di daerah yang sama, apalagi jika hanya terdapat sedikit perseroan yang bergerak dibidang tersebut, maka efeknya adalah tidak akan baik untuk masyarakat sekitar. Karena perseroan yang seharusnya bersaing menjadi tidak bersaing, tetapi kemudian bersekongkol menetapkan harga misalnya, tentu masyarakat akan dirugikan karena harga akan tinggi dengan pilihan terhadap barang/jasa yang terbatas.
Pengertian secara langsung dan tidak langsung dalam kepemilikan silang diatas merujuk pada pembelian saham perseroan lain oleh perusahaan sendiri secara langsung ataupun melalui anak perusahaan. Istilah melalui anak perusahaan disini berbicara tentang keterlibatan perusahaan kelompok. Yakni perusahaan yang secara struktural memiliki anak dan cucu perusahaan. Dan kembali dijelaskan bahwa UUPT
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
mengatur tentang saham yang tidak boleh dibeli lagi tersebut adalah dalam konteks perseroan penjual mengeluarkan saham dalam upaya pengumuman modal yang mana kewajiban penyetoran sahamnya dibebankan kepada pihak lain.
Untuk kepemilikan saham ini terdapat pengecualian, dimana kepemilikan saham yang diperoleh berdasarkan peralihan karena hukum, hibah dan hibah wasiat, diperbolehkan selama 1 (satu) tahun dihitung dari tanggal perolehan, selanjutnya harus dialihkan kepada pihak yang tidak dilarang memiliki saham dalam perseroan. Dan terhadap perusahaan efek, maka berlaku ketentuan Undang-undang Pasar Modal (UUPM).
Tentang kepemilikan/pengendalian, perlu kiranya dikaji tentang kapasitas pemegang saham, terdapat pemegang saham mayoritas (memiliki lebih dari 50% saham yang dikeluarkan secara sah oleh perseroan), minoritas (dengan kepemilikan dibawah atau sama dengan 10% saham dengan hak suara) dan pemegang saham pengendali (pemegang saham yang dapat mengendalikan manajemen perusahaan bahkan dengan saham minimun sekalipun). Kepemilikan silang yang terjadi karena kepemilikan saham satu perseroan terhadap perseroan lainnya, oleh pemegang saham mayoritas dan atau pemegang saham pengendali, terutama dalam perseroan tertutup dan tanpa pengawasan pihak yang berwenang akan merugikan perseroan lain dan masyarakat pengguna barang dan jasa. Walaupun pendirian dan perubahan kepemilikan peseroan didaftarkan kepada Menteri Hukum dan HAM, namun Menteri disini hanya mengurus ketentuan administratif perseroan.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
Kepemilikan silang yang dikenal dengan istilah cross ownership diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat, Pasal 27 (pengaturan tentang kepemilikan saham), bahwa pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan :
a. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu;
b. Dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu
Berdasarkan pasal ini, Undang-undang Persaingan Usaha mengatur tentang kepemilikan silang yang ditentukan berdasarkan adanya beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama. Disamping melihat besarnya penguasaan terhadap saham yang menunjukkan suatu dominansi. KPPU sendiri sehubungan dengan saham mayoritas mengatakan bahwa pengertian saham mayoritas yang paling tepat adalah adanya kendali oleh pelaku usaha terhadap pelaku usaha lain. Besaran adalah tidak mutlak dan tidak ada nilai mutlak yang dapat menyimpulkan adanya kendali.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
2. Perseroan Terbuka
Untuk perseroan tertutup yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi perusahaan publik maka diwajibkan oleh UUPT untuk mengubah anggaran dasarnya dalam waktu 30 hari, dan kepada direksinya diberi tugas untuk melakukan pendaftaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal116 untuk menjadi perseroan terbuka. Ketentuan persyaratan tersebut adalah
perseroan tertutup yang bersangkutan telah memiliki 300 pemegang saham dan memiliki modal disetor minimal 3 miliar rupiah. 117
Setelah menjadi perseroan terbuka, maka dibelakang nama perusahaan yang bersangkutan akan ditambahkan kata ”Tbk” (terbuka) dan sahamnya akan terdaftar di bursa efek setelah perusahaan yang bersangkutan mencatatkan sahamnya.118
Untuk jual beli saham dalam perseroan tertutup cukup menggunakan ketentuan yang diatur dalam anggaran dasar perusahaan, dilakukan melalui RUPS
Dengan demikian maka peraturan perundang-undangan yang mengaturnya bertambah. Yakni tunduk kepada UUPT, Undang-undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang pelaksanaannya diawasi oleh Bapepam-Lk dan tunduk kepada Undang-undang No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang pelaksanaannya diawasi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
116
Pasal 24 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007. 117
Pasal 1 angka 22 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pasar Modal. 118
Perusahaan tercatat (listed company) adalah perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya di suatu bursa efek. Tidak semua perusahaan terbuka (go public) harus mencatatkan sahamnya pada satu atau beberapa bursa efek. Contoh perusahaan publik yang bukan perusahaan tercatat misalnya PT. Bank Muamalat Tbk. lihat Tjiptono Darmadji, Hendy M. Fakhruddin, Edisi 2, Pasar Modal Di Indonesia Pedekatan Tanya Jawab, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h.72.
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
dan dimintakan pengesahan kepada Menteri Hukum dan HAM. Untuk perseroan terbuka, proses jual beli tidak dapat dilakukan secara langsung. Sebagaimana diatur oleh Undang-undang Pasar Modal, maka jual beli saham harus melalui perusahaan efek, perusahaan efek kemudian akan menggunakan jasa pialang (pialang jual/beli) sesuai kebutuhan untuk kemudian menjual (saham) dan membeli (mengeluarkan rupiah) dengan tempat pertemuan/pasar berupa Bursa Efek Indonesia.
Pada dasarnya terdapat tiga jalur yang dapat dimanfaatkan oleh investor untuk mendapatkan saham, yaitu: 119
1. Membeli saham di pasar perdana, yaitu membeli saham pada saat perusahaan go public atau menawarkan saham pertama kali kepada publik;
2. Membeli saham di pasar sekunder, yaitu membeli saham yang telah tercatat di Bursa Efek. Pembelian pada pasar sekunder memanfaatkan jasa pialang atau perusahaan efek. Di Indonesia sendiri terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) sebagai tempat berlangsungnya perdagangan efek di pasar sekunder;
3. Membeli saham melalui pembelian reksa dana saham.120
119
Ibid., h.118 120
Reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal, yang selanjutnya dana diinvestasikan kembali oleh manajer investasi kedalam saham dan surat utang (portofolio efek) di bursa efek. Lihat Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia Kelas Basic, Struktur Pasar Modal Pengetahuan Umum Tentang Efek Reksadana, (Tanpa Tempat Terbit : Bursa Efek Indonesia, Tanpa Tahun Terbit), halaman 80.
Pembelian melalui jalur ini merupakan jalur tidak langsung, artinya pada kedua jalur sebelumnya, investor
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
dapat menentukan saham yang dikehendakinya, sebaliknya, melalui pembelian reksa dana, pembelian saham ditentukan oleh manajer investasi.
Gambaran proses jual beli saham umumnya adalah sebagai berikut :
1. Pertama-tama investor harus menjadi nasabah pada perusahaan efek dengan cara membuka rekening di salah satu pialang atau perusahaan efek. Setelah resmi terdafatar menjadi nasabah, maka investor dapat melakukan kegiatan transaksi. 2. Melakukan pemesanan, kegiatan jual beli saham dimulai dengan adanya
permintaan yang disampaikan investor kepada pialang. Pada tahap ini pesanan dapat dilakukan secara langsung, langsung datang ke kantor pialang atau pesanan disampaikan melalui sarana telekomunikasi seperti telepon, faks, dan sarana lainnya.
3. Pesanan ini akan diteruskan ke lantai bursa (floor trader), setiap pesanan yang masuk kepada pialang akan diteruskan oleh petugas pialang yang berada di lantai bursa.
4. Pesanan kemudian dimasukkan ke JATS (Jakarta Automated Trading System). Floor trader akan memasukkan semua pesanan yang diterima ke dalam sistem komputer JATS yang dipantau oleh petugas di kantor pialang atau siapa saja yang memiliki/menyewa sistem informasi bursa. Disini akan terjadi proses permintaan dan penawaran, untuk membeli maupun menjual.
5. Transaksi terjadi (matched), jika pesanan yang dimasukkan ke sistem JATS bertemu dengan harga yang sesuai dan tercatat dalam transaksi JATS sebagai transaksi yang telah terjadi (matched), dalam arti sebuah pesanan beli atau jual
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
telah bertemu dengan harga yang cocok. Pada tahap ini, floor trader atau petugas kantor pialang akan memberikan informasi kepada investor bahwa pesanan yang disampaikan telah terpenuhi.
6. Penyelesaian transaksi (settlement). Pada akhir penyelesaian transaksi, investor tidak secara otomatis mendapatkan hak-haknya karena pada tahap ini dibutuhkan beberapa proses seperti kliring, pemindahbukuan, dan lain-lain, hingga akhirnya hak-hak investor terpenuhi, dimana investor penjual akan memperoleh uang dan investor pembeli akan mendapatkan saham. Di BEJ proses penyelesaian transaksi berlangsung selama tiga hari bursa, dikenal dengan istilah T+3.
7. Pada akhir hari, bagian contracting menerima rekap transaksi dari dealer, memproses transaksi nasabah dan mengirimkan konfirmasi transaksi kepada nasabah.
Pembelian saham di pasar perdana adalah melalui proses :121
1. Investor pertama-tama harus mendapatkan lembaran formulir pemesanan pembelian Penawaran Umum yang disebut Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS). Atau investor dapat mendatangi agen penjualan yang ditunjuk oleh Penjamin Pelaksanan Emisi IPO dan meminta formulir pemesanan.
2. Investor kemudian mengisi formulir tersebut. Untuk mengisi formulir diperlukan satu salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Bahwa satu formulir tercatat atas nama satu pemesan saja, jadi satu KTP hanya berlaku untuk satu formulir.
121
Juliana Citra : Kajian Hukum Tentang Kepemilikan Silang Saham Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, 2009.
3. Kemudian investor melakukan pembayaran atas pemesanan yang diajukannya baik dilakukan melalui giro atau tranfer dana kepada rekening agen penjualan. Bukti pembayaran kemudian disimpan untuk menjalankan langkah keempat. 4. Kembalikan formulir pemesanan dan lengkapi dengan bukti pembayaran kepada
agen penjualan tadi. Hari terakhir masa penawaran umum merupakan hari terakhir pengembalian. Jika tidak dikembalikan tepat pada waktunya, investor tidak dapat membeli saham. Masa penawaran sendiri berlangsung selama tiga hari. Bagi investor yang tidak sempat melakukan pembayaran ke rekening agen penjualan, maka dapat melakukan pembayaran secara tunai.
5. Tunggu pengumuman hasil penjatahan. Namun permintaan efek tidak selalu semuanya dapat terpenuhi, tergantung apakah saham yang dilepas cukup untuk