Daftar Isi
2. Protokol Opsional di dalam Hukum Hak Asasi Manusia Internasional
a) Apa Itu Protokol Opsional?
Sebelum membahas mengenai Protokol Opsional untuk Konvensi Menentang Penyiksaan secara khusus, kita akan terlebih dahulu menguraikan sifat dasar dari jenis instrumen hukum ini secara lebih umum. Suatu Protokol Opsional merupakan suatu penambahan terhadap suatu perjanjian internasional (antara lain piagam, konvensi, kovenan, atau persetujuan) yang disahkan, baik pada saat yang bersamaan atau setelah perjanjian pokoknya disahkan. Sebuah protokol memperkenalkan ketentuan-ketentuan atau prosedur-prosedur yang tidak ada di dalam perjanjian pokok, yang kemudian melengkapi perjanjian pokok. Protokol ini sifatnya opsional, dalam arti bahwa ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya tidak secara otomatis mengikat Negara-Negara yang telah meratifikasi perjanjian pokok; mereka bebas untuk meratifikasi protokol atau tidak. Oleh karena itu, sebuah Protokol Opsional memiliki mekanismenya sendiri untuk ratifikasi dan kapan ia mulai berlaku, yaitu independen dari perjanjian yang dimaksudkan untuk dilengkapi.
Banyak instrumen hak asasi manusia, baik di tingkat univer-sal maupun regional, yang memiliki protokolnya sendiri.20 Protokol Opsional ini telah dirancang untuk tujuan-tujuan yang berbeda, termasuk:
20 Di tingkat universal, kita dapat mengutip, sebagai contoh: Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik tahun 1966 memiliki dua Protokol Opsional, yang disahkan pada tahun 1966 dan 1989; Konvensi terkait dengan Status Para Pengungsi dilengkapi dengan sebuah protokol yang disahkan pada tahun 1967. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan tahun 1979 dilengkapi dengan Protokol Opsional tahun 1999, dan Konvensi Hak Anak tahun 1989 dilengkapi dengan dua Protokol Opsional, keduanya disahkan pada tahun 2000. Di tingkat regional: 11 protokol melengkapi Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia tahun 1950, sedangkan Protokol Opsional tahun 1998 pada Piagam Afrika tentang Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak Raykat tahun 1981 menetapkan Pengadilan Afrika untuk Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak Rakyat, yang mulai berlaku tanggal 25 Januari 2004.
Untuk memungkinkan penambahan cara-cara monitoring terhadap hak-hak yang termuat di dalam perjanjian yang asli (perjanjian pokok). Contoh yang paling terkenal, yakni Protokol Opsional untuk Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik (Kovenan dan Protokol, keduanya mulai berlaku tahun 1976) dan Protokol Opsional tahun 1999 untuk Konvensi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Kedua Protokol Opsional ini memperluas kompetensi masing-masing Komite monitoring untuk menerima komunikasi-komunikasi dan melakukan investigasi terhadap pelanggaran perjanjian-perjanjian pokok.21 Sama halnya, Protokol Opsional untuk Konvensi Menentang Penyiksaan disetujui atas dasar tujuan untuk menciptakan badan-badan hak asasi manusia yang baru, yang dirancang untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan sewenang-wenang melalui kunjungan rutin ke tempat-tempat penahanan. Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan atau untuk mencakupi hak-hak atau kewajiban-kewajiban tambahan yang tidak dicakup oleh perjanjian pokok. Contohnya, Protokol San Salvador tahun 1988 tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dirancang untuk melengkapi dan memperluas hak-hak sipil dan politik yang termuat di dalam Konvensi Amerika tentang Hak Asasi Manusia, sedangkan Protokol Asuncion [nama ini diambil dari nama tempat, ibukota Paraguay, ed.] tahun 1990 dimaksudkan untuk memberikan kekuatan baru untuk mengembangkan opini seluruh dunia menentang hukuman mati.
Seseorang dapat mengatakan bahwa sebuah Protokol Opsional adalah suatu strategi yang sah atau alat untuk kepentingan Negara-Negara di dalam memperbarui, meningkatkan atau memperkuat ketentuan-ketentuan di dalam sebuah perjanjian tanpa harus
21 Lihat IIHR, “Optional Protocol. Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination against Women“, San José, IIHR/UNIFEM, 2002.
Pertanyaan-Pertanyaan Mendasar Mengenai Protokol Opsional untuk Konvensi PBB Menentang Penyiksaan
membuka kembali isi dari perjanjian untuk dibahas. Dengan menegosiasikan sebuah persetujuan tambahan, Negara-Negara menghindari risiko yang mengerikan, alih-alih memperkuat perjanjian yang asli, yang seringkali merupakan hasil dari pertarungan diplomatik yang hebat dan kadang kala konsensus yang rapuh.
b) Siapa yang Dapat Menandatangani dan Meratifikasi Sebuah Protokol Opsional?
Protokol Opsional adalah teks yang melengkapi instrumen internasional yang sudah ada, dan, dalam banyak peristiwa, hanya Negara-Negara yang merupakan pihak dalam perjanjian pokok yang dapat meratifikasinya. Dengan kata lain, Negara-Negara harus terlebih dahulu meratifikasi perjanjian pokok dan sesudah itu baru dapat meratifikasi Protokol Opsional untuk perjanjian pokok.22
Inilah yang menjadi masalah terkait dengan Protokol Opsional untuk Konvensi Menentang Penyiksaan, yang dengan jelas menetapkan bahwa hanya Negara-Negara yang merupakan pihak dalam Konvensi yang dapat meratifikasi Protokol Opsional.23
c) Mengapa Perlu Ada Sebuah Protokol Opsional untuk Konvensi PBB Menentang Penyiksaan?
Kita telah lihat bahwa Konvensi Menentang Penyiksaan menetapkan kerangka hukum yang kokoh untuk memerangi praktik ini. Di lain
22 Terdapat beberapa pengecualian untuk praktik umum ini, contohnya: Dua Protokol Opsional untuk Konvensi Hak Anak yang disahkan tanggal 25 Mei 2000 dan Protokol tahun 1967 pada Konvensi terkait dengan Status Para Pengungsi tahun 1951. Protokol Opsional Tahun 2000 pada Konvensi Hak Anak tentang penjualan anak, pelacuran anak dan pornografi anak, mengizinkan Negara-Negara yang telah menandatangani tetapi tidak meratifikasi Konvensi Hak Anak untuk menandatangani dan meratifikasi Protokol Opsional ini. Protokol Opsional Tahun 2000 pada Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak di dalam konflik bersenjata, maju satu langkah dan mengizinkan Negara mana pun, tanpa melihat apakah Negara tersebut merupakan pihak atau tidak dalam Konvensi Hak Anak, untuk menandatangani dan meratifikasi Protokol Opsional.
23 Protokol Opsional menetapkan bahwa Negara-Negara yang telah menandatangani Konvensi Menentang Penyiksaan juga dapat menandatangani Protokol Opsionalnya, tetapi mereka tidak akan bisa meratifikasi Protokol Opsional sebelum mereka meratifikasi Konvensi.
pihak, Komite Menentang Penyiksaan adalah badan yang kompeten untuk mengawasi Negara-Negara Pihak di dalam menjalankan kewajiban-kewajiban mereka untuk melarang, mencegah dan menghukum penyiksaan. Sebagai tambahan, pelbagai norma dan mekanisme menentang penyiksaan dan perlakuan sewenang-wenang juga muncul di tingkat regional. Namun demikian, praktik-praktik ini masih berlangsung dan tersebar luas di seluruh dunia. Untuk alasan inilah, sebuah pendekatan yang seluruhnya baru sangat diperlukan untuk secara efektif mencegah pelanggaran-pelanggaran seperti ini.
Pendekatan baru ini, yang termuat di dalam Protokol Opsional untuk Konvensi Menentang Penyiksaan, didasarkan atas pemikiran bahwa semakin terbuka dan transparannya tempat-tempat penahanan, maka kesewenangan akan semakin berkurang. Karena tempat-tempat penahanan dianggap tertutup untuk dunia luar, or-ang-orang yang dirampas kebebasannya sangat rentan dan secara khusus berisiko akan terjadinya penyiksaan dan bentuk lain dari perlakuan sewenang-wenang serta pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Lebih lanjut, penghormatan terhadap hak-hak dasar mereka secara khusus tergantung pada para pejabat yang berwenang di tempat penahanan dan mereka bergantung pada orang lain untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Pelanggaran terhadap orang-orang yang dirampas kebebasannya dapat muncul dari peraturan yang menindas dan sistem yang tidak mencukupi ataupun karena kelalaian. Membuka tempat-tempat penahanan untuk dilakukannya mekanisme pengawasan eksternal, serperti yang dilakukan oleh Protokol Opsional, merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah praktik-praktik yang kejam dan untuk memperbaiki kondisi penahanan.
d) Bagaimana Kunjungan ke Tempat-Tempat Penahanan Dapat Mencegah Penyiksaan dan Perlakuan Sewenang-Wenang?
Pengalaman yang luas dari beberapa entitas seperti ICRC dan Komite Eropa untuk Pencegahan terhadap Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman yang Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat
Pertanyaan-Pertanyaan Mendasar Mengenai Protokol Opsional untuk Konvensi PBB Menentang Penyiksaan
Manusia (European Committee for the Prevention of Torture and Inhuman or
Degrading Treatment or Punishment, sering ditulis singkat sebagai CPT)
telah menunjukkan bagaimana kunjungan rutin ke fasilitas-fasilitas penahanan dapat menjadi efektif dalam praktik.24 Pertama dan terutama, fakta yang sederhana dari penerapan pengawasan eksternal adalah adanya efek jera pada para pejabat yang tidak ingin menjadi subjek kecaman pihak luar dan mungkin sebaliknya, ada keyakinan bahwa mereka tidak akan pernah diminta untuk bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka. Lebih lanjut, kunjungan rutin memungkinkan para ahli independen untuk memeriksa, untuk pertama kalinya, tanpa saksi-saksi dan para perantara, perlakuan yang diberikan pada orang-orang yang dirampas kebebasannya dan untuk mempertimbangkan kondisi tempat mereka ditahan. Berdasarkan situasi konkret yang diamati, para ahli dapat membuat rekomendasi-rekomendasi yang realistis dan praktis dan kemudian masuk ke dalam dialog dengan para pejabat untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terdeteksi. Terakhir, kunjungan dari dunia luar dapat menjadi sumber dukungan moral yang penting untuk orang-orang yang dirampas kebebasannya.