Wasiaturrahma
Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
Jalan Airlangga No 4-6, Surabaya 60286 Telepon +6231 50233642, Fax.+6231 5026288
E-mail: [email protected]
Rudy Badrudin
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telepon +62 274 486160, 486321, Fax. +62 274 486155 E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke layanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas. Kemiskinan telah membatasi hak rakyat (Sahdan, 2005 dan Santoso, 2007).
Berdasarkan dimensi pendidikan misalnya, pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Berdasarkan dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan. Berdasarkan dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan teknologi, dan kurangnya keterampilan,
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
JEB, Vol. 6, No. 1, Maret 2012: 47-61
dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan. Faktor kultur dan struktural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat (Adi, 2005). Tidak ada yang salah dan keliru dengan pendekatan tersebut, tetapi dibutuhkan keterpaduan antara berbagai faktor penyebab kemiskinan yang sangat banyak dengan indikator-indikator yang jelas, sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak bersifat temporer, tetapi permanen dan berkelanjutan. Di samping itu, tidak adanya tatanan pemerintahan yang demokratis menyebabkan rendahnya akseptabilitas dan inisiatif masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan dengan cara mereka sendiri, sekalipun sudah berada dalam era Otonomi Daerah (Sulekale, 2003 dan Subagyo, 2003).
Pendekatan right based approach mengandung arti bahwa negara berkewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin secara bertahap (Susanto, 2011). Hak-hak dasar yang diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik, baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki. Hak-hak dasar tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak terpenuhinya satu hak dapat mempengaruhi pemenuhan hak lainnya.
Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan. Pemenuhan kebutuhan pangan yang layak dan memenuhi persyaratan gizi masih menjadi persoalan bagi masyarakat miskin (Aziz, 2010). Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan. Masalah utama yang menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin adalah rendahnya akses terhadap layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Pembangunan pendidikan ternyata belum sepenuhnya mampu memberi layanan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat (Sundaya, 2007). Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha. Masyarakat miskin umumnya menghadapi
permasalahan terbatasnya kesempatan kerja, terbatasnya peluang mengembangkan usaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga (Dewayanti, 2003).
Terbatasnya akses layanan perumahan, sanitasi dan air bersih. Masalah utama yang dihadapi masyarakat miskin adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat dan layak, rendahnya mutu lingkungan permukiman dan lemahnya perlindungan untuk mendapatkan dan menghuni perumahan yang layak dan sehat. Lemahnya akses terhadap tanah dan sumber daya alam (SDA) serta memburuknya kondisi SDA dan lingkungan hidup (LH). Masyarakat miskin menghadapi masalah ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah, serta ketidakpastian dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian (Ibrahim, 2009). Lemahnya partisipasi dan jaminan rasa aman.
Salah satu penyebab kegagalan kebijakan dan program pembangunan dalam mengatasi masalah kemiskinan adalah lemahnya partisipasi masyarakat miskin dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan (Papilaya, 2006). Menurut Perpres Nomor 13 tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh, dalam rangka mengurangi beban dan memenuhi hak-hak dasar warga negara secara layak untuk menempuh dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Untuk itu diperlukan Strategi Penanggulangan Kemiskinan sebagai bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan kesepakatan global untuk mencapai Millenium Development Goals (MGDs) pada tahun 2015 (Astuti, 2009).
Jumlah penduduk miskin pada tahun 2008 (Maret 2008) berdasarkan data BPS Provinsi DIY menurun 17,2 ribu jiwa atau 2,71% menjadi 616,3 ribu jiwa, dari posisinya pada tahun 2007 yaitu 633,5 ribu jiwa. Jumlah penduduk miskin oleh BPS dihitung berdasarkan kebutuhan dasar individu yang dinilai dalam bentuk rupiah. Pada Maret 2008, garis kemiskinan berdasarkan pengeluaran makanan adalah Rp141.597,00 per kapita per bulan, sementara garis
ANALISIS PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI ... (Wasiaturrahma dan Rudy Badrudin)
kemiskinan totalnya adalah Rp194.830,00 per kapita per bulan (BPS Provinsi DIY, 2008). Berdasarkan pengolahan data penduduk miskin di antaranya dapat dihasilkan indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap index, P1) dan indeks keparahan kemiskinan (poverty severity index, P2) yang dapat menunjukkan sisi lain dari masalah kemiskinan. P1 merupakan kesenjangan antara rata-rata standar hidup penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan terhadap garis kemiskinan. P2 merupakan kesenjangan antarpenduduk miskin. Pada Maret 2008, angka P1 dan P2 relatif rendah, dibandingkan kondisinya pada Maret 2007, masing- masing 3,35 dan 0,92 (Maret 2007: 3,80 dan 1,12). Artinya tingkat kesenjangan semakin menurun, sehingga diharapkan upaya pengentasannya akan lebih mudah. Berdasarkan penyebaran secara spasial, penduduk miskin pada Maret 2008 tersebar hampir merata, yaitu 52,60% di perkotaan dan 47,40% di perdesaan (BPS Provinsi DIY, 2008). Sebagian besar penduduk miskin berprofesi sebagai petani. Berdasarkan data sebanyak 472.082 rumah tangga petani di Provinsi DIY pada tahun 2007, 80,29% di antaranya adalah petani gurem, yaitu petani dengan skala usaha mikro kecil dan kepemilikan lahan kurang dari setengah hektar. Jika dibandingkan dengan kondisi kemiskinan di tingkat nasional, tingkat kemiskinan di Provinsi DIY masih lebih tinggi dari tingkat kemiskinan nasional. Kondisi ini dapat diperhatikan mulai tahun
2002, dimana penduduk miskin DIY mencapai 20,14% dari jumlah penduduk, sementara di tingkat nasional hanya 18,20%. Hingga Maret 2008, tingkat kemiskinan di DIY masih lebih tinggi, yaitu 18,32% dibandingkan angka nasional yaitu 15,42%.
Selama tahun 2003 – 2010 perkembangan jumlah penduduk miskin di Provinsi DIY cenderung berfluktuasi. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 menurun 3,23%. Pada tahun 2005, jumlah ini kembali meningkat sebesar 1,56% seiring dengan kenaikan harga BBM Oktober 2005 yang diperkirakan telah menyebabkan turunnya daya beli masyarakat DIY. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Provinsi DIY kembali meningkat sebesar 3,87%. Laju kenaikan yang relatif lebih besar dari tahun sebelumnya ini diperkirakan disebabkan oleh dua faktor. Pertama, dampak kenaikan BBM Oktober 2005 diperkirakan masih berlanjut pada tahun 2006. Kedua, bencana alam gempa bumi Mei 2006. Tahun 2007 memberikan angin segar pada perekonomian Provinsi DIY. Salah satu indikatornya, jumlah penduduk miskin menurun 2,54%. Penurunan ini diperkirakan dimotori oleh program pemulihandan rekonstruksi pasca gempa bumi.
Pada Mei 2008 harga BBM kembali dinaikkan dengan besaran yang signifikan, rata-rata sekitar 26%. Namun demikian, dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi kelas bawah, diperkirakan dapat ditopang sementara oleh
0 5 10 15 20 25 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Provinsi DIY Nasional
Sumber: BPS Provinsi DIY, 2008 dan 2010.
JEB, Vol. 6, No. 1, Maret 2012: 47-61
keberadaan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rumah tangga miskin sejak pertengahan tahun hingga akhir tahun 2008. Karenanya, di tahun 2008, jumlah penduduk miskin kembali menurun 2,72%. Pada tahun 2009 dan 2010, jumlah penduduk miskin masing- masing menjadi 585.780 jiwa dan 577.300 jiwa. Selama kurun waktu 2003-2010, pertumbuhan penduduk miskin di Provinsi DIY rata-rata mengalami penurunan sebesar 1,35%.
Dalam program MDGs disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, artinya pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pemerataan dalam distribusi pendapatan, penurunan angka kemiskinan, dan lingkungan hidup yang menjamin bagi keberlangsungan hidup manusia pada masa mendatang. Oleh karena itu, pencapaian PDRB yang tinggi tanpa disertai pemerataan pendapatan akan menimbulkan kesenjangan ekonomi (Susila, 2008). Untuk melihat seberapa jauh pemerataan pendapatan yang diperoleh masyarakat sangatlah sulit. Indikator yang cukup mendukung untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat adalah dengan PDRB per kapita. Angka tersebut diperoleh dengan cara membagi nilai PDRB yang dihasilkan oleh suatu daerah/wilayah dengan jumlah penduduknya. Hanya melihat PDRB perkapita individu memang tidak dapat diketahui seberapa jauh disparitas pendapatan dalam suatu re- gion, tetapi perlu membandingkan dengan daerah/ wilayah lain sehingga disparitas antar region dapat diketahui. Perbandingan nilai PDRB per kapita antar kabupaten/kota di Provinsi DIY dapat menunjukkan terjadinya kesenjangan antardaerah.
Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2 yang menyajikan informasi mengenai kemiskinan provinsi di Indonesia pada kondisi Maret 2008. Untuk Pulau Jawa, Provinsi DIY memiliki garis kemiskinan tertinggi setelah Provinsi DKI (wilayah perkotaan dan perdesaan) dan tertinggi untuk garis kemiskinan wilayah perdesaan. Untuk persentase penduduk miskin di Pulau Jawa, Provinsi DIY berada pada posisi kedua setelah Provinsi Jawa Tengah (wilayah kota), posisi pertama untuk wilayah perdesaan, dan posisi ketiga setelah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (wilayah kota dan desa). Berdasarkan penjelasan Tabel 1 dan Tabel 2, maka Provinsi DIY mempunyai garis kemiskinan dan persentase penduduk miskin tertinggi di Pulau Jawa
untuk daerah perdesaan.
Dengan menggunakan standar garis kemiskinan setiap provinsi yang dibedakan menurut daerah perkotaan dan perdesaan maka jumlah dan persentase penduduk miskin di setiap provinsi menurut daerah perkotaan dan perdesaan dapat dihitung. Tabel 2 menunjukkan jumlah dan persentase penduduk miskin menurut provinsi pada kondisi Maret 2008. Berdasarkan angka kemiskinan tahun 2008 antarprovinsi terlihat bahwa ada 9 provinsi yang dapat dikategorikan memiliki persentase penduduk miskin yang relatif rendah (angkanya berada di bawah 10%).
Kesembilan provinsi tersebut adalah Kalimantan Timur (9,51%), Jambi (9,32%), Kepulauan Riau (9,18%), Kalimantan Tengah (8,71%), Bangka Belitung (8,58%), Banten (8,15%), Kalimantan Selatan (6,48%), Bali (6,17%), dan provinsi DKI Jakarta (4,29%). Berdasarkan 24 provinsi lainnya, masing-masing terdapat 14 dan 8 provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin antara 10%-20% dan 20%-30%, serta hanya 2 provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin di atas 30%. Dua provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin terbesar (di atas 30%) adalah Papua (37,08%) dan Papua Barat (35,12%). Lima provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin terbesar dalam kelompok 20%-30% adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,65%), Gorontalo (24,88%), Nanggroe Aceh Darussalam (23,53%), Nusa Tenggara Barat (23,81%), dan Maluku (29,66%). Lima provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin terbesar dalam kelompok 10%-20% adalah Provinsi Jawa Timur (18,51%), Sumatera Selatan (17,73%), Jawa Tengah (19,23%), DIY (18,32%), dan Sulawesi Tenggara (19,53%).
ANALISIS PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI ... (Wasiaturrahma dan Rudy Badrudin)
Tabel 1
Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah, Maret 2008 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
NAD 266 168 229 237 239 873 Sumatera Utara 218 333 171 922 193 321 Sumatera Barat 226 343 179 755 195 733 Riau 247 923 210 519 229 371 Jambi 223 527 162 434 182 229 Sumatera Selatan 229 552 175 556 196 452 Bengkulu 224 081 170 878 189 607 Lampung 203 685 160 734 172 332 Bangka Belitung 250 240 242 441 246 169 Kepulauan Riau 289 541 231 580 262 232 DKI Jakarta 290 268 - 290 268 Jawa Barat 190 824 155 367 176 216 Jawa Tengah 184 704 152 531 168 168 DI Yogyakarta 208 655 169 934 194 830 Jawa Timur 183 408 155 432 169 112 Banten 197 328 156 494 181 076 Bali 190 026 158 206 176 569 NTB 193 241 148 998 167 536 NTT 199 006 126 746 139 731 Kalimantan Barat 179 261 150 968 158 834 Kalimantan Tengah 196 354 180 671 186 003 Kalimantan Selatan 199 416 166 676 180 263 Kalimantan Timur 257 862 205 255 237 979 Sulawesi Utara 175 628 162 433 168 160 Sulawesi Tengah 196 229 160 527 168 025 Sulawesi Selatan 160 220 127 938 138 334 Sulawesi Tenggara 151 471 139 065 141 919 Gorontalo 154 987 143 584 147 154 Sulawesi Barat 156 041 141 701 146 492 Maluku 213 969 180 087 188 931 Maluku Utara 213 505 176 757 187 671 Papua Barat 244 807 230 254 233 570 Papua 264 625 213 548 225 195 INDONESIA 204 896 161 831 182 636
JEB, Vol. 6, No. 1, Maret 2012: 47-61
Tabel 2
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah, Maret 2008
Jumlah Penduduk Miskin Persentase
Provinsi [000 Jiwa] Penduduk Miskin (%)
Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa
NAD 195,8 763,9 959,7 16,67 26,30 23,53 Sumatera Utara 761,7 852,1 1 613,8 12,85 12,29 12,55 Sumatera Barat 127,3 349,9 477,2 8,30 11,91 10,67 Riau 245,1 321,6 566,7 9,12 12,16 10,63 Jambi 120,1 140,2 260,3 13,28 7,43 9,32 Sumatera Selatan 514,7 734,9 1 249,6 18,87 17,01 17,73 Bengkulu 131,8 220,2 352,0 21,95 19,93 20,64 Lampung 365,6 1 226,0 1 591,6 17,85 22,14 20,98 Bangka Belitung 36,5 50,2 86,7 7,57 9,52 8,58 Kepulauan Riau 69,2 67,1 136,4 8,81 9,60 9,18 DKI Jakarta 379,6 — 379,6 4,29 — 4,29 Jawa Barat 2 617,4 2 705,0 5 322,4 10,88 16,05 13,01 Jawa Tengah 2 556,5 3 633,1 6 189,6 16,34 21,96 19,23 DI Yogyakarta 324,2 292,1 616,3 14,99 24,32 18,32 Jawa Timur 2 310,6 4 340,6 6 651,3 13,15 23,64 18,51 Banten 371,0 445,7 816,7 6,15 11,18 8,15 Bali 115,1 100,7 215,7 5,70 6,81 6,17 NTB 560,4 520,2 1 080,6 29,47 19,73 23,81 NTT 119,3 979,1 1 098,3 15,50 27,88 25,65 Kalimantan Barat 127,5 381,3 508,8 9,98 11,49 11,07 Kalimantan Tengah 45,3 154,6 200,0 5,81 10,20 8,71 Kalimantan Selatan 81,1 137,8 218,9 5,79 6,97 6,48 Kalimantan Timur 110,4 176,1 286,4 5,89 15,47 9,51 Sulawesi Utara 72,7 150,9 223,5 7,56 12,04 10,10 Sulawesi Tengah 60,9 463,8 524,7 11,47 23,22 20,75 Sulawesi Selatan 150,8 880,9 1 031,7 6,05 16,79 13,34 Sulawesi Tenggara 27,2 408,7 435,9 5,29 23,78 19,53 Gorontalo 27,5 194,1 221,6 9,87 31,72 24,88 Sulawesi Barat 48,3 122,8 171,1 14,14 18,03 16,73 Maluku 44,7 346,7 391,3 12,97 35,56 29,66 Maluku Utara 9,0 96,0 105,1 3,27 14,67 11,28 Papua Barat 9,5 237,0 246,5 5,93 43,74 35,12 Papua 31,6 701,5 733,1 7,02 45,96 37,08 INDONESIA 12 768,5 22 194,8 34 963,3 11,65 18,93 15,42
ANALISIS PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI ... (Wasiaturrahma dan Rudy Badrudin)
Permasalahan yang dihadapi penduduk miskin dari segmen petani gurem dapat berakar dari asetnya yang justru terlalu kecil, atau dari persoalan alam dan infrastruktur dalam bentuk irigasi yang tidak mendukung, dan sebagainya. Akar permasalahan pedagang kecil, pengrajin kecil, pemulung di kota, pengangguran, buruh musiman, dan sebagainya dapat berbeda. Profil kemiskinan juga diharapkan dapat mendukung usaha-usaha menurunkan kemiskinan agregat melalui sasaran wilayah geografis.Pemahaman menyeluruh mengenai karakteristik sosial demografi dan dimensi ekonomi penduduk miskin diharapkan mampu membantu perencanaan, pengawasan, dan evaluasi dari program penanggulangan kemiskinan yang efektif dan efisien (Saleh, 2002).
Secara teoritis, penyusunan kebijakan dalam menanggulangi kemiskinan harus memperhatikan berbagai potensi dan peluang daerah dan berhubungan dengan kapasitas para aparat daerah, wakil rakyat, pengusaha, dan masyarakat secara umum. Potensi leadership para pemimpin daerah dan kemampuan manajerial seorang pemimpin di birokrasi, parlemen, dan dunia usaha di daerah sampai pada kesiapan para stake- holders melaksanakan penanggulangan kemiskinan menjadi faktor penting dalam kinerja penanggulangan kemiskinan.
Pelibatan berbagai potensi dan peluang daerah dan berhubungan dengan kapasitas para stakehold- ers telah digagas oleh Pemerintah Provinsi DIY dan telah diujicobakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menangani program penanggulangan kemiskinan terpadu berlabel “Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta” atau Segoro Amarto. Pilot Project program ini telah diterapkan di 3 kelurahan di Kota Yogyakarta, yaitu di Kricak, Tegalpanggung, dan Sorosutan selama 2 tahun dan berhasil menurunkan angka kemiskinan lebih cepat daripada 45 kalurahan yang lain. Segoro Amarto merupakan sebuah gerakan bersama seluruh komponen masyarakat untuk penanggulangan kemiskinan. Gerakan ini lebih menekankan pada perubahan nilai yang tercermin pada sikap, perilaku, gaya hidup, dan wujud kebersamaan dalam kehidupan menjadi lebih baik mencakup semua aspek fisik dan non fisik. Segoro Amarto merupakan sebuah gerakan dengan substansi paseduluran dengan basis pelaksanaan di tingkat Rukun Warga
Berlandaskan jiwa atau prinsip kepedulian sosial, gotong royong, kemandirian, dan nilai-nilai luhur. Sego Amarto merupakan gerakan yang dapat menjadi ruh seluruh lapisan masyarakat untuk dapat bersama-sama menanggulangi kemiskinan. Segoro Amarto bertujuan untuk mendorong pembangunan masyarakat dengan mengedepankan jiwa kepedulian sosial, gotong royong, kemandirian, serta nilai-nilai luhur yang berkembang di masyarakat (Kompas, 17/1/2011).
Berdasarkan penjelasan tentang kemiskian secara teori dan implimentasi penanggulangan kemiskinan di Provinsi DIY dengan berbagai variabel dan hasil yang dipengaruhinya tersebut mengindikasikan adanya perbedaan antara teori dan konsep mengenai kemiskinan dengan implementasi kebijakan penanggulangan kemiskinan dalam praktik. Hal inilah yang menyebabkan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penduduk miskin di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Smith ternyata bukan saja terkenal sebagai pelopor pembangunan ekonomi dan kebijaksanaan laissez- faire, tetapi juga merupakan ekonom pertama yang banyak menumpahkan perhatian kepada masalah pertumbuhan ekonomi. Dalam bukunya AnInquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, Smith mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis. Menurut Smith, ada dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Unsur pokok dalam pertumbuhan output total adalah sumberdaya alam yang tersedia (faktor produksi tanah), sumberdaya insani (jumlah penduduk), dan stok barang modal yang ada (Arsyad, 2004:55-56).
Menurut Sukirno (2006:245), apabila pembangunan sudah terjadi, maka proses tersebut akan berlangsung terus menerus secara kumulatif. Perkembangan pasar, spesialisasi, dan pembangian kerja yang terjadi akan menimbulkan kenaikan produktivitas dan pendapatan nasional. Kenaikan pendapatan nasional dan perkembangan penduduk yang terjadi secara bersama-sama akan memperluas pasar (ven for surplus) dan menciptakan tabungan yang digunakan untuk kebutuhan investasi. Di samping itu,
JEB, Vol. 6, No. 1, Maret 2012: 47-61
inovasi produk dan inovasi proses. Proses yang berlangsung dari waktu ke waktu tersebut menimbulkan perkembangan ekonomi dan meningkatkan pendapatan per kapita.
Menurut Sahdan (2005), konsep tentang kemiskinan sangat beragam, mulai dari sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat atau yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi dalam kemiskinan struktural (Hadiyanti, 2006 dan Sumarti, 2007). Tetapi pada umumnya, ketika orang berbicara tentang kemiskinan, yang dimaksud adalah kemiskinan mate- rial. Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Hal ini yang sering disebut dengan kemiskinan konsumsi. Definisi ini sangat bermanfaat untuk mempermudah membuat indikator orang miskin, tetapi definisi ini sangat kurang memadai karena; 1) tidak cukup untuk memahami realitas kemiskinan; 2) dapat menjerumuskan ke simpulan yang salah bahwa menanggulangi kemiskinan cukup hanya dengan menyediakan bahan makanan yang memadai; 3) tidak bermanfaat bagi pengambil keputusan ketika harus merumuskan kebijakan lintas sektor bahkan dapat kontraproduktif (Pattinama, 2009).
BAPPENAS (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak- hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini, BAPPENAS menggunakan
beberapa pendekatan utama antara lain; pendekatan kebutuhan dasar (basic needsapproach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective (Yulianto, 2005). Dalam kajian empiris ini akan dijelaskan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini tentang analisis penduduk miskin di Propinsi DIY. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti provinsi lainnya juga mengalami masalah yang berkaitan dengan kemiskinan penduduk. Menurut Mubyarto (2003), pada tahun 1973 David Penny dan Masri Singarimbun mempublikasikan hasil penelitian tentang kemiskinan dan tekanan penduduk di Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dalam bentuk monografi di Cornell University berjudul Popu- lation and Poverty in Rural Java: An Economic Arith- metic from Sriharjo. Monografi inilah yang menjadikan Desa Sriharjo terkenal dan Provinsi DIY menjadi simbol kemiskinan di Indonesia. Sejumlah peneliti dari dalam dan luar negeri berdatangan untuk mendalami strategi bertahan hidup dari penduduk perdesaan yang kemiskinannya relatif parah seperti di Desa Sriharjo tersebut. Kini, Provinsi DIY masih mempunyai masalah yang sama dengan kemiskinan penduduk walaupun sudah banyak program dan kegiatan dari pemerintah pusat dan daerah yang dijalankan untuk menanggulangi masalah kemiskinan penduduk tersebut.
Menurut Santosa dkk. (2003), telah dilakukan penelitian tentang evaluasi program penanggulangan kemiskinan di Yogyakarta secara kuantitatif. Program penanggulangan kemiskinan yang dievaluasi meliputi program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang dikategorikan sebagai Program Kerja Mandiri (Self Employment Program), dan Proyek Pembangunan Fisik dalam program PPK yang dikategorikan sebagai Pro- gram Padat Karya (Public Work Progam). Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan penerima program yang dilakukan mulai September 2002 sampai dengan Januari 2003. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Jumlah responden program kerja mandiri (PKM) dalam penelitian ini adalah 80 responden yang berasal dari 3 jenis program yaitu program IDT, program PPK, dan
ANALISIS PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI ... (Wasiaturrahma dan Rudy Badrudin)
program P2KP, masing-masing sebesar 38 responden, 32 responden, dan 10 responden. Responden ini diambil dari 6 desa di 4 kabupaten dan 1 kota di DIY. Empat lokasi pertama berada di lingkungan perdesaan di empat kabupaten di propinsi DIY, yaitu desa Karangawen di kabupaten Gunungkidul, desa Srikayangan di kabupaten Kulonprogo, desa Selopamioro di kabupaten Bantul, dan desa Sambirejo di kabupaten Sleman, sedangkan dua lokasi terakhir adalah kelurahan Purwokinanti dan kelurahan Mantrijeron yang berada di kota Yogyakarta.
Suryanto meneliti tentang Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Kesejahteraan Masyarakat Berdasarkan Kajian Teoritis dan Aplikasi Anggaran (2005). Menurut Suryanto (2005:13), pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kebijakan yang didasarkan temuan terdahulu maupun gambaran umum yang dialami di wilayah penelitian. Gambaran terhadap kondisi desentralisasi fiskal dan kesejahteraan masyarakat dijelaskan secara deskriptif analisis. Hasil penelitian Suryanto menunjukkan bahwa implementasi desentralisasi fiskal belum banyak bermanfaat bagi peningkatan kesejahtaraan masyarakat khususnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan penduduk karena adanya kesenjangan antara perencanaan dengan kebutuhan masyarakat di daerah (Suryanto dkk., 2005:67).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:
H1: Ada perbedaan jumlah kriteria hampir miskin di
masing masing Kabupaten/Kota di Provinsi DIY
H2: Ada perbedaan perbedaan jumlah kriteria miskin
di masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi DIY.
H3: Ada perbedaan perbedaan jumlah kriteria fakir
miskin di masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi DIY.
HASIL PENELITIAN
Menurut Bappeda DIY (2008), berdasarkan Survey Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2008 dan Penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Provinsi DIY Tahun 2008, diperoleh data Rumah Tangga Miskin per Kabupaten/Kota di Provinsi DIY seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3 dan Gambar 2. Berdasarkan Tabel 3 dan Gambar 2, nampak jumlah RTM untuk kategori hampir miskin terbanyak di Kabupaten Gunung Kidul (46.300), kategori miskin terbanyak di Kabupaten Bantul (35.697), dan kategori fakir miskin terbanyak di Kabupaten Gunung Kidul (16.980). Apabila dilihat pada Tabel 3, nampak penduduk di Provinsi DIY dalam kategori miskin merupakan jumlah terbesar terbesar karena 46,85%