Institut Pertanian Bogor
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. PT Bank Danamon Indonesia,Tbk.
Dari bulan Februari 2010 sampai dengan Januari 2011 hanya terdapat empat kali sinyal beli dan empat kali sinyal jual. Hal ini disebabkan oleh tren harga saham yang cenderung mengalami sideways trend sehingga penggunaan moving average menjadi kurang tepat. Sinyal beli pertama terjadi pada awal Februari yaitu pada tangal 10 Februari di level 4675, sedangkan sinyal jual terjadi pada triwulan II tanggal 5 Mei pada level 5350.
Pada triwulan III terjadi dua kali sinyal beli dan dua kali sinyal jual. Sinyal beli yang pertama terjadi pada tanggal 6 September di level 5350 sedangkan sinyal jual terjadi pada tanggal 22 September di level 5700. Sinyal beli yang kedua terjadi pada tanggal 20 Oktober di level 6050, sedangkan untuk menjual saham disarankan pada level 6700 yaitu pada tanggal 29 Oktober.
Gambar 13. Grafik Moving Average Envelopes BDMN Periode Februari 2010-Januari 2011
Harga saham BDMN mulai mengalami penurunan pada triwulan IV, pada triwulan ini terdapat satu kali sinyal beli dan satu kali sinyal jual. Sinyal beli terjadi pada level 6050 di tanggal 21 Desember 2010 dan sinyal jual terjadi pada tanggal 27 Januari di level 6150. Sinyal beli yang dihasilkan cenderung palsu karena ternyata harga saham
(5) atau garis MA+5%. Sinyal beli terjadi pada tanggal 11 Februari di level 7300 dan sinyal jual terjadi pada tanggal 6 April di level 8750. Sinyal beli yang kedua terjadi tanggal 12 April di level 8150 dan pada tanggal 22 April merupakan sinyal jual di level 8750.
Harga saham BBRI cenderung mendatar pada saat triwulan II. Meski begitu terdapat dua sinyal jual dan satu sinyal beli. Sinyal jual terjadi pada tanggal 4 Mei pada level 9050 dan 13 Juli pada level 9800, sedangkan sinyal beli terjadi pada tanggal 25 Mei di level 7700.
Gambar 14. Grafik Moving Average Envelopes BRI Periode Februari 2010-Januari 2011
Triwulan III dimulai dengan sinyal beli yang terjadi pada tanggal 4 Agustus pada level 9200 sinyal jual yang pertama terjadi pada tanggal 17 September di level 10400. Kemudian pada tanggal 21 Oktober terjadi satu kali lagi sinyal beli di level 10700 dan setelah itu satu sinyal jual pun terjadi pada tanggal 27 Oktober di level 11450
Triwulan IV harga saham sudah mulai mengalami penurunan. Di tanggal 11 Januari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. melakukan stock split 2:1 hal ini membuat harga saham turun drastis yang dapat dilihat pada gambar 40. Kebijakan stock split juga akan mempengaruhi earning per share karena jumlah saham beredar merupakan pembagi dalam perhitungan Earning Per Share (EPS). E. PT Bank Mandiri, Tbk.
Gambar 15 menunjukkan periode dari bulan Februari sampai dengan April 2010 yang merupakan triwulan I dari PT bank Mandiri Tbk. Pada grafik dapat kita lihat bahwa harga saham Bank Mandiri dalam tren yang meningkat pada bulan Februari-Maret, setelah itu tren dalam keadaan mendatar pada akhir Maret sampai dengan April. Terdapat satu sinyal beli dan satu sinyal jual pada triwulan ini. Sinyal beli terjadi pada tanggal 8 Februari di level 4375 sedangkan sinyal jual terjadi pada tanggal 22 Maret di level 5229.
Gambar 15. Grafik Moving Average Envelopes Mandiri Periode Februari 2010-Januari 2011
Pada triwulan yang kedua terdapat dua sinyal beli dan dua sinyal jual. Sinyal beli terjadi pada tanggal 27 Mei di level 5050 sedangkan sinyal jual terjadi pada tanggal 4 Juni di level 5550. Sinyal beli yang kedua terjadi pada tanggal 11 Mei di level 5200, sedangkan sinyal jual
dan cenderung menurun pada akhir periode sehingga disarankan kepada investor untuk menahan pembelian saham pada periode ini. 4.2.3 Peramalan Pergerakan Harga Saham
A. Simple Moving Average
1. PT Bank Central Asia, Tbk.
Grafik saham BBCA pada periode Februari-April 2011 menunjukkan kenaikan harga saham sama seperti periode Februari- April 2010, akan tetapi belum terdapat sinyal beli atau titik golden cross pada kuartal I.
Gambar 16. Harga saham Bank BCA periode Februari-Juni 2011
Pada kuartal II terdapat sinyal jual yaitu pada tanggal 9 Mei di level 7200 dan sinyal beli pada tanggal 20 Juni di level 7250. Pergerakan saham BBCA pada kuartal II bulan Juli diperkirakan
akan mengalami tren mendatar atau sideways trend sama seperti tahun 2010.
2. PT Bank Negara Indonesia, Tbk.
Pada kuartal I tahun 2011 terdapat satu titik golden cross atau sinyal beli yaitu pada tanggal 28 Maret di level 3.775. Pergerakan harga pada kuartal I ini cenderung mengalami kenaikan atau uptrend. Pada bulan Mei-Juni 2011 grafik menunjukkan tren yang menurun, terdapat satu sinyal jual pada kuartal ini yaitu pada tanggal 6 Mei di level 3900 dan satu sinyal beli pada tanggal 28 Juni di level 3775.
Harga saham pada bulan Juli 2010 mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan di mana sebelumnya harga berada dalam kondisi stagnan, hal itu pula yang terjadi pada kuartal II 2011 harga cenderung mengalami penurunan akan tetapi terdapat sinyal beli pada kuartal II 2010 sehingga dapat diprediksi harga akan naik pada bulan Juli 2011.
Gambar 17. Harga saham BBNI periode Februari-Juni 2011
3. PT Bank Danamon, Tbk.
Gambar 18. menunjukkan pergerakan harga saham Bank BDMN selama periode Februari-April 2011. Dapat kita lihat pergerakan harga saham Bank BDMN cenderung dalam keadaan
satu sinyal jual yang terjadi pada periode ini, akan tetapi sinyal beli ini terjadi pada saat harga cenderung turun atau pada saat downtrend sehingga cenderung menimbulkan sinyal palsu.
Bulan Juli diprediksi harga saham akan mengalami kenaikan harga sama seperti kuartal II 2010, harga saham mengalami penurunan sampai pertengahan Juni dan kemudian merangkak naik pada bulan Juli 2010.
Gambar 18. Harga saham BDMN periode Februari-Juni 2011
4. PT Bank Rakyat Indonesia,Tbk.
Setelah sempat melakukan stock split pada tanggal 11 Januari 2011 saham BBRI mulai merangkak naik menuju level 6500 pada kuartal I tahun 2011, hal serupa juga terjadi pada kuartal I 2010 setelah sebelumnya sempat berada dalam tren medatar harga saham
BBRI mulai merangkak naik pada pertengahan Maret 2010 hal ini menunjukan History repeat it self .
Pada kuartal II 2011 saham BBRI berada dalam kondisi mendatar atau sideways tren, terdapat dua sinyal jual dan dua sinyal beli pada periode Mei-Juni 2010. Sinyal beli yang pertama terjadi pada tanggal 6 Juni di level 6350 dan sinyal beli yang kedua terjadi pada tanggal 27 Juni di level 6400, sedangkan sinyal jual yang pertama terjadi pada tanggal 10 Mei di level 6150 dan sinyal jual yang kedua terjadi pada tanggal 15 Juni di level 6400. Bulan Juni 2011 diperkirakan harga akan naik, hal ini sesuai dengan yang terjadi pada kuartal II 2010 setelah sempat berada dalam tren mendatar saham BBRI naik secara perlahan pada awal Juli 2010 dan ditutup di level 9900.
Gambar 19. Harga saham BBRI periode Februari-Juni 2011
5. PT Bank Mandiri, Tbk.
Tren menaik atau uptrend terjadi pada kuartal I 2011, terdapat satu sinyal beli pada periode ini yang terjadi pada tanggal 28 Maret di level 6200. Sedangkan pada periode Mei-Juni terdapat satu sinyal jual yaitu pada tanggal 8 Juni. Saham Bank Mandiri diprediksi akan mengalami kenaikan pada bulan Juli 2011, sehingga disarankan kepada investor untuk membeli saham Bank
Gambar 20. Harga saham BMRI periode Februari-Juni 2011
B. Moving Average Envelopes 1. PT Bank Central Asia, Tbk.
Selama periode Februari-April 2011 grafik harga saham BBCA berada dalam kondisi uptrend sama seperti pergerakan harga triwulan I 2010 , pada periode ini tercatat 3 sinyal beli dan 3 sinyal jual. Sinyal beli yang pertama terjadi pada tanggal 11 Februari di level 5950 dan kemudian sinyal jual terjadi pada tanggal 25 Februari di level 6100. Kemudian harga mulai bergerak naik dan terjadi sinyal beli pada tanggal 28 Februari di level 6300, yang kemudian dijual pada tanggal 11 Maret di level 6800 karena harga mulai mengalami penurunan.
Harga kembali bergerak naik pada pertengahan Maret yang akhirnya menghasilkan sinyal beli di tanggal 21 Maret di level 6700 dan sinyal jual yang terakhir berada pada level 7400 di tanggal 29 April.
Gambar 21. Harga saham BBCA periode Februari-Juni 2011
Pergerakan harga saham pada Mei-Juni 2011 cenderung berada dalam keadaan mendatar atau sideways trend sehingga penggunaan Moving Average sulit untuk dilakukan contohnya saja pada tanggal 25 Mei yang ditunjukkan oleh panah berwarna kuning terjadi suatu sinyal beli ketika harga sudah mulai bergerak turun, maka sinyal beli tersebut cenderung menghasilkan suatu sinyal palsu. Pada pertengahan bulan Juni harga mulai merangkak naik dan terjadi satu sinyal beli pada tanggal 14 Juni di level 7000 dan diperkirakan harga akan terus bergerak naik setidaknya sampai dengan akhir Juli.
2. PT Bank Negara Indonesia, Tbk.
Selama periode Februari-April 2011 terjadi 2 sinyal beli dan 2 sinyal jual. Sinyal beli terjadi pada tanggal 11 Februari dan 23 Maret di level 3425 dan 3650, sedangkan sinyal jual terjadi pada tanggal 8 Maret di level 3800 dan pada tanggal 11 April di level 3950. Pergerakan harga saham pada triwulan I 2011serupa dengan pergerakan harga saham pada triwulan I 2010, harga saham bergerak menaik secara perlahan sebelum akhirnya berada pada kondisi sidewaystrend sampai Juni 2010.
Pada triwulan II 2011 pergerakan harga saham BBNI cenderung mengalami penurunan, meskipun terdapat sinyal beli
saham pada tanggal tersebut.
Gambar 22. Harga saham BBNI periode Februari-Juni 2011
3. PT Bank Danamon Indonesia, Tbk.
Kondisi pergerakan harga saham Bank BDMN selama periode Februari-April berada dalam trend mendatar atau sideways trend, hampir menyerupai kondisi yang terjadi pada triwulan I 2010. Terdapat satu sinyal beli dan satu sinyal jual pada periode ini. Sinyal beli terjadi pada tanggal 16 Februari di level 6350 sedangkan sinyal jual terjadi pada tanggal 18 Februari di level 6650.
Gambar 23. Harga saham BDMN periode Februari-Juni 2011
Triwulan II 2011 pergerakan saham Bank BDMN terdapat satu titik golden cross yang terjadi pada tanggal 26 Mei di level 5950 dan satu sinyal jual yang terjadi pada tanggal 6 Juni di level 6100.
4. PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk. (persero)
Kondisi uptrend ditunjukkan oleh pergerakan harga saham BBRI selama triwulan I 2011. Terdapat 4 sinyal beli dan 4 sinyal jual pada periode ini. Kondisi ini serupa dengan pergerakan harga saham BBRI triwulan I 2010 sehingga pergerakan harga saham BRI tahun 2010 dapat digunakan untuk melakukan peramalan pergerakan harga saham BRI tahun 2011. Sinyal beli terjadi pada tanggal 10 Februari di level 4550 dan dijual pada tanggal 22 Februari di level 4750. Sinyal beli yang kedua terjadi pada tanggal 1 Maret di level 4900 dan dijual pada tanggal 7 Maret dilevel 5300, sinyal beli yang ketiga terjadi di level 5100 pada tanggal 21 Maret dan dijual pada tanggal 4 April di level 5800. Sinyal beli yang terakhir terjadi pada tanggal 14 April di level 6100 dan sinyal jual kemudian terjadi pada tanggal 21 April di level 6500.
Gambar 24. Harga saham BBRI periode Februari-Juni 2011
Pada triwulan II 2011 pergerakan harga saham BBRI berada pada kondisi mendatar sehingga sulit diprediksi kapan waktu yang tepat dalam melakukan pembelian maupun penjualan saham, akan tetapi jika kita melihat pada triwulan II 2010 kondisi serupa juga ditunjukkan pergerakan harga saham pada triwulan II 2010 sampai akhir Juni dan kemudian harga saham kembali mengalami kenaikan sampai akhir Juli 2010.
5. PT Bank Mandiri, Tbk.
Pergerakan harga saham Bank Mandiri pada triwulan I 2011 berada pada kondisi menaik atau uptrend, grafik yang ditunjukkan di atas sama dengan grafik yang ditunjukkan oleh harga saham Bank Mandiri pada triwulan yang sama tahun 2010 sehingga grafik pada triwulan I 2010 dapat digunakan dalam peramalan harga saham untuk tahun 2011.
Gambar 25. Harga saham BMRI periode Februari-Juni 2011
Pada triwulan ini terdapat 4 sinyal beli dan 3 sinyal jual. Sinyal beli pertama kali terjadi pada tanggal 10 Februari di level 5600 dan kemudian terjadi sinyal jual pada tanggal 21 Februari di level 6000. Sinyal beli yang kedua terjadi pada tanggal 28 Februari di level 5800 dan dijual pada level 6400 di tanggal 8 Maret. Pada tanggal 23 Maret grafik harga saham memotong ke atas grafik Moving Average yang menandakan sinyal beli di level 6000 dan dijual pada tanggal 1 April di level 6850 sinyal beli yang terakhir terjadi pada tanggal 20 April di level 7100
Pada triwulan II 2011 pergerakan harga saham Bank Mandiri cenderung stagnan, pergerakan saham Bank Mandiri ini sesuai dengan pergerakan harga saham pada triwulan II 2010. Pada triwulan II 2010 harga bergerak stagnan sebelum akhirnya naik pada awal Juli 2010 dan kemudian bergerak secara stagnan sampai akhir Juli 2010. Meskipun perpotongan antara grafik harga saham dan grafik MA banyak terjadi, akan tetapi kondisi pergerakan harga saham yang cenderung mendatar membuat keputusan dalam membeli maupun menjual saham sulit dilakukan.
4.3. Analisis Fundamental
Investor yang ingin berinvestasi harus mengetahui kondisi perekonomian suatu negara apakah perekonomiannya sedang berada pada kondisi yang positif atau negatif. Setelah itu investor harus menagnalisis
perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal inilah yang menjadi pertimbangan investor dalam melakukan keputusan pembelian atau penjualan saham. Beberapa variabel ekonomi penting yang digunakan untuk menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara adalah sebagai berikut :
A. Pendapatan Domestik Bruto
Perekonomian Indonesia pada tahun 2008 berhasil mencapai 4.954 triliun rupiah meningkat 6,1 persen dibandingkan dengan PDB tahun 2007 sebesar 3.949,3 triliun rupiah. Pertumbuhan ini didukung oleh semua komponen PDB penggunaan, yakni konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,3 persen, konsumsi pemerintah sebesar 10,4 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 11,7 persen, serta ekspor barang dan jasa sebesar 9,5 persen. Sementara impor sebagai komponen pengurang juga meningkat sebesar 10 persen.
Dilihat dari kontribusinya terhadap PDB, pertumbuhan PDB tahun 2008 bersumber dari ekspor sebesar 4,6 persen. Nilai ekspor Indonesia pada tahun 2008 mencapai 1474,5 triliun rupiah meningkat 311,5 triliun rupiah dibandingkan tahun 2007 diikuti oleh konsumsi rumah tangga sebesar 3,1 persen, sedangkan pembentukan modal tetap bruto dan konsumsi pemerintah hanya sebesar 2,6 persen dan 0,8 persen.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 cenderung melambat yang merupakan dampak dari krisis ekonomi global. Besar nilai produk domestik bruto untuk tahun 2009 mencapai 5.613,4 triliun
rupiah, tumbuh sebesar 4,5 persen dibandingkan tahun 2008. Perlambatan ekonomi Indonesia yang terjadi pada tahun 2009 disebabkan kontraksi pada sektor ekspor barang dan jasa sebesar minus 9,7 persen dan perubahan inventori yang tumbuh negatif sebesar 121,9 persen. Impor juga menurun sebesar 15 persen.
Sedangkan untuk sektor lain seperti konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,9 persen , konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 15,7 persen dan pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 3,3persen (Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 tercatat sebesar 6,1 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh semua komponen, yaitu konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,6 persen atau meningkat menjadi 3642,0 triliun rupiah dari 3290,8 triliun rupiah pada tahun 2009, konsumsi pemerintah sebesar 0,3 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,5persen, dan perubahan inventori sebesar 463,1 persen, sedangkan komponen ekspor tumbuh sebesar 14,9 persen dari 1.354,4 triliun rupiah menjadi 1.580,8 triliun rupiah dan impor tumbuh sebesar 17,3 persen.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sebesar 6,1 persen sebagian besar bersumber dari komponen ekspor, yakni 6,4 persen. Kemudian komponen konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan sebesar 2,7 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 2,0 persen, dan perubahan inventori sebesar 0,4 persen (Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011).
B. Nilai Tukar
Selama tahun 2008 tekanan terhadap rupiah semakin tinggi, yang dapat terlihat dari volatilitas rupiah yang tinggi dan cenderung terdepresiasi. Tekanan tersebut disebabkan oleh perkembangan krisis keuangan global, gejolak harga komoditas, dan perlambatan
domestik membutuhkan valas yang semakin besar. Sementara itu, neraca transaksi berjalan juga mengalami tekanan akibat jatuhnya harga komoditas dan merosotnya pertumbuhan ekonomi di negara mitra dagang. Perkembangan tersebut menyebabkan rupiah tertekan hingga mencapai level tertinggi 12.150 rupiah per dolar AS pada November 2008.
Nilai tukar selama tahun 2008 menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan cenderung terdepresiasi. Secara rata rata nilai tukar rupiah melemah 5,4 persen dari 9.140 rupiah per dolar AS pada tahun 2007 menjadi 9.666 rupiah per dolar AS pada tahun 2008. Di akhir tahun 2008, rupiah berada di level 10.900 rupiah per dolar AS atau melemah 13.8 persen dari akhir tahun sebelumnya 9.393 rupiah per dolar AS (Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2008).
Pada awal triwulan I 2009 nilai tukar rupiah masih mendapatkan tekanan sebagai dampak dari krisis ekonomi global.Secara umum tekanan terhadap Triwulan IV 2008 dan Triwulan I 2009 dipengaruhi persepsi resiko penanaman modal di emerging market.
Gambar 26. Grafik Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD Tahun 2006-2009
Nilai tukar rupiah sempat mencapai titik terendah pada level 12.020 rupiah per dolar AS pada awal Maret 2009 disertai peningkatan volatilitas. Dalam mengatasi depresiasi nilai rupiah, Pemerintah Indonesia membuat suatu kebijakan stabilisasi nilai tukar secara terukur melalui upaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar valas. Nilai tukar rupiah kembali menguat pada Triwulan II 2009 yang dipengaruhi oleh perbaikan persepsi risiko terhadap emerging market dan kondisi fundamental domestik yang tetap terjaga. Pada akhir tahun 2009 rupiah ditutup menguat di level 9.425 rupiah terapresiasi 18,4 persen dibandingkan akhir Maret 2009. Secara keseluruhan tahun, level rupiah akhir tahun 2009 menguat 15,7 persen dibandingkan dengan level akhir tahun 2008. Meskipun dalam tren menguat, perkembangan rupiah masih mendukung daya saing produk ekspor Indonesia (Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2009).
Tahun 2010 ekonomi global kembali dihadapkan pada krisis fiskal Yunani yang sekali lagi menimbulkan sentimen risk aversion aset negara-negara emerging markets. Namun optimisme pemulihan global, komitmen penyelamatan (bailout) EC-IMF terhadap Yunani, serta peningkatan peringkat utang Indonesia mampu menutupi sentimen negatif terkait Yunani tersebut, sehingga rupiah kemudian mengalami penguatan yang cukup tajam dari level 9.400 rupiah per dolar AS di awal Februari 2010
Gambar 27. Grafik Rata-Rata Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD Tahun 2008-2010
Pada awal Juni 2010 krisis akhirnya meluas ke negara GIPSI (Greek, Ireland, Portugal, Spain, Italy) yang mendepresiasi nilai tukar kembali ke level 9.400 rupiah per dolar AS, akan tetapi rupiah kembali bergerak stabil dengan kecenderungan menguat di akhir triwulan II seiring dengan meredanya kekhawatiran pelaku pasar, yang ditopang oleh berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia. Semakin lebarnya selisih suku bunga antara negara-negara maju dan negara-negara emerging markets, serta perbaikan kondisi prospek Indonesia,
Selanjutnya nilai tukar rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan penguatan di paruh kedua 2010. Apresiasi nilai tukar rupiah tersebut terjadi sejalan dengan berlanjutnya aliran dana ke kawasan Asia di tengah melimpahnya likuiditas global serta perbedaan respons kebijakan antara negara-negara maju dan negara-negara emerging markets. Meski diwarnai dengan berbagai koreksi, penguatan nilai tukar rupiah juga tidak terlepas dari prospek dolar AS yang sedang mengalami tekanan depresiasi.
C. Inflasi
Pada Januari 2008 inflasi tercatat sebesar 7,36 persen dan meningkat sampai 12,14 persen pada akhir September. Tekanan inflasi diakibatkan kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2008 menyebabkan Pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM bersubsidi, yang akhirnya berdampak padaharga komoditas, terutama komoditas pangan dan minyak, mengalami lonjakkan harga yang cukup signifikan.
Tabel 2. Inflasi Indonesia Tahun 2008-2011
Tahun Inflasi (%)
2008 11,06 2009 2,78 2010 6,96 2011 6,16* Sumber : www.bi.go.id (2011 ) *) sampai April
Tekanan inflasi mereda cukup signifikan pada awal Triwulan IV dan akhirnya mencapai level 11,06 persen pada akhir Desember 2008. Rendahnya tekanan inflasi di penghujung tahun 2008 juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM pada Desember 2008 seiring dengan turunnya harga minyak dunia.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pada awal Januari 2009 mencapai 9,17 persen. Namun karena rendahnya tekanan inflasi dari luar negeri, serta deflasi pada harga-harga barang yang ditetapkan pemerintah seperti listrik dan BBM berdampak pada penurunan inflasi menjadi 2,78 persen pada akhir 2009. Penurunan nilai inflasi ini terkait dengan penurunan di seluruh komponen dan kelompok barang.
Pada tahun 2010 pemerintah menetapkan angka inflasi tahun 2010 adalah sebesar 5 persen. Perkembangan inflasi yang meningkat tersebut tidak terlepas dari pengaruh peningkatan inflasi global, khususnya di negara-negara emerging markets, sebagai imbas meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan harga-harga
meningkat menjadi 15,64 persen. Peningkatan inflasi pada bahan makanan terjadi akibat gangguan distribusi terkait dengan kondisi cuaca yang tentunya akan berimbas pada peningkatan harga bahan baku yang sangat tinggi.
Pemerintah mentargetkan inflasi tahun 2011 berada pada level 5,3 persen. Sampai dengan bulan April 2011 inflasi Indonesia mencapai level 6,16 persen. Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa target inflasi Indonesia akan sulit tercapai jika pemerintah mulai melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Gubernur BI memprediksi apabila pemerintah membatasi BBM bersubsidi maka inflasi tahun 2011 dapat mencapai level 6,3-6,4 persen. (www.antaranews.com, BI: Target Inflasi Bisa Tidak Tercapai). Bank Indonesia harus tegas dalam memutuskan kestabilan nilai inflasi, karena kestabilan inflasi akan menciptakan kondisi yang stabil di dunia usaha, tentunya hal inilah yang diharapkan oleh para investor.
D. Pengangguran
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen, mengalami penurunan dibanding pengangguran Februari 2008 sebesar 8,46 persen. Jumlah pengangur di Indonesia pada bulan Agustus 2008 menurun 33.075 atau sebesar 0,35 persen dari semester sebelumnya yang berjumlah 9.427.590 jiwa.
Tabel 3. Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 2008-2011 Tahun Pengangguran Jumlah Angkatan Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Februari 2008 9.427.590 111.480.000 8,46 Agustus 2008 9.394.515 111.950.000 8,39 Februari 2009 9.258.964 113.740.000 8,14 Agustus 2009 8.962.617 113.830.000 7,87 Februari 2010 8.592.490 116.000.000 7,41 Agustus 2010 8.319.779 116.530.000 7,14 Sumber : www.bps.go.id (2011)
Penurunan jumlah pengangguran disebabkan peningkatan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2008. Penyerapan tenaga kerja