• Tidak ada hasil yang ditemukan

PTPA, Kota Jayapura 10 kasus penelantaran, Empat kasus

Dalam dokumen 9fd3d203 139d 4579 aa5d cd3d5487c4a8 (Halaman 61-72)

di Kota Jayapura

2 PTPA, Kota Jayapura 10 kasus penelantaran, Empat kasus

perselingkuhan,

Dua kasus kawin paksa, 24 kasus kekerasan fisik, 24 kasus perlindungan

Perempuan dewasa

Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Jayapura belum maksimal. Beberapa tantangan dalam penanganan kasus kekerasan ini adalah:

Puskesmas Kasus

Tanjung Ria Tujuh kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Abepantai Empat kasus KDRT

Koya Barat Puskesmas Koya Barat tidak memiliki catatan khusus, tetapi informasi dari staff puskesmas bahwa setiap bulannya pasti ada kasus KDRT, setidaknya sebulan sekali.

1. Kerjasama lintas sektor untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan

dan anak tidak berjalan. Selama ini hubungan antara puskesmas, P2TP2A dan

kepolisian tidak selaras. Mereka tidak saling mengenal dan tidak memahami peran setiap lembaga. Hubungan P2TP2A dan puskesmas hanya sebatas melakukan sosialisasi. Selain itu, tidak ada sistem yang memungkinkan puskesmas merujuk korban kekerasan ke P2TP2A sehingga korban tidak bisa mendapatkan bantuan yang semestinya.

2. Keterbatasan kapasitas petugas kesehatan dan staff P2TP2A. Meskipun P2TP2A

Kota Jayapura telah berdiri sejak November 2008, masih banyak staff yang kurang memahami tentang alur penanganan kasus kekerasan karena tidak ada panduan tertulis. Mereka hanya merujuk korban yang melapor ke kepolisian tanpa melibatkan layanan kesehatan sehingga mereka tidak mempunyai bukti medis yang akurat.

Selain itu, puskesmas sebagai fasilitas layanan kesehatan pertama hanya memberikan pengobatan fisik bagi pasien yang diduga mengalami tindak kekerasan tapi tidak mendokumentasikan kasus dengan baik. Mereka tidak memiliki kapasitas cukup untuk menggali dan memastikan pasien yang diduga sebagai korban benar-benar mengalami kekerasan. Mereka juga tidak mendokumentasikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan baik sehingga mereka tidak mempunyai data akurat tentang kejadian kasus di wilayah mereka. “Kita sebagai petugas kesehatan, batasnya hanya mengobati saja, menerapi fisik, merawat luka”, ujar Syiska, bidan di Puskesmas Koya Barat.

3. Tidak ada transfer pengetahuan ketika terjadi mutasi staff P2TP2A. SK Walikota hanya mencantumkan instansi sebagai penangggungjawab penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak. Hal ini diperburuk dengan kurangnya transfer pengetahuan antar staff ketika terjadi mutasi sehingga P2TP2A harus terus mengulang penguatan staff baru.

4. Masyarakat tidak mengenal layanan KtPA. Banyak perempuan di Kota Jayapura tidak

menyadari bahwa dirinya menjadi korban kekerasan sehingga isu tersebut tidak dianggap penting di masyarakat. Hal ini membuat banyak masyarakat tidak mengetahui layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

Bentuk inovasi

Layanan terpadu penanganan KtPA merupakan program yang baru pertama kali dilaksanakan di Kota Jayapura. Program ini bertujuan membantu pemerintah daerah menangani KtPA dengan mengacu pada standar pelayanan publik serta menurunkan angka kekerasan.

Meskipun program ini telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, program KtPA di Kota Jayapura berbeda karena mempertemukan sisi penyedia dan pengguna layanan.

Di sisi penyedia layanan, program ini membantu pemerintah daerah untuk:

 Membangun jejaring kuat antara SKPD terkait, seperti dinas kesehatan, dinas sosial Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), kepolisian, sekretariat daerah, Bappeda, dan masyarakat;

 Membuat rencana kegiatan bersama untuk menangani KtPA;

 Melibatkan masyarakat (MSF dan kelompok pendukung) dalam penanganan KtPA;

 Meningkatkan kapasitas teknis staff lembaga yang berwenang menangani KtPA, seperti pusat layanan kesehatan, kepolisian dan P2TP2A untuk melakukan konseling dasar;

Gambar atas. Salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Tanjung Ria melakukan konseling kepada pasien yang diduga mengalami kekerasan.

 Membangun sarana percontohan untuk menangani KtPA;

 Melakukan edukasi kepada masyarakat luas tentang KtPA dan layanan terpadu untuk menangani korban kekerasan;

 Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program di tingkat puskesmas dan kabupaten.

 Membangun kapasitas Puskesmas sebagai pusat layanan bagi korban kekerasan

Sementara itu, program ini membantu masyarakat sebagai pengguna layanan untuk:

 Memberikan masukan terhadap penyusunan prosedur operasi standar (SOP) penanganan ktpa dan rencana aksi daerah (RAD) pencegahan dan penanganan KtPA

 Membentuk kelompok dukungan (support group) untuk membantu para penyintas kekerasan berbagi pengalaman dan ketrampilan;

 Mengidentifikasi,memberikan konseling awal dan merujukkan korban KtPA di sekitar mereka sedini mungkin;

 Memantau dan terliibat dalam evaluasi pelaksanaan program.

Proses pelaksanaan program

Sejak Desember 2013, Kota Jayapura bekerjasama dengan LSPPA, salah satu LSM mitra USAID-Kinerja, untuk melaksanakan program layanan terpadu KtPA di tiga puskesmas mitra.

Program ini dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:

1. Membangun komitmen bersama antara SKPD terkait dan lembaga lain untuk

menangani KtPA. Strategi ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dapat bekerjasama secara efektif. Pelaksanaan strategi ini dipimpin oleh BPPKB. Strategi ini diawali dengan sosialisasi program layanan terpadu untuk perempuan dan anak korban kekerasan dan penyusunan rencana kegiatan bersama. Kegiatan ini melibatkan dinas kesehatan, dinas sosial, P2TP2A, kepolisian, sekretariat daerah, Bappeda, dan masyarakat.

Kemudian, sosialisasi tersebut diikuti dengan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) penanganan KtPA. Kegiatan ini melibatkan penyedia layanan kesehatan, seperti rumah sakit dan puskesmas, perwakilan masyarakat di tingkat distrik yang tergabung dalam forum multi-stakeholder (MSF) dan kelompok dukungan, kepolisian, dinas

kesehatan, dinas sosial, dan P2TP2A. Para pihak yang terlibat menggunakan referensi SOP dari daerah lain yang telah melaksanakan program ini untuk mempermudah proses pembuatannya.

Untuk menjaga keberlangsungan program dan mencegah KtPA, pemerintah dan masyarakat membuat rencana aksi daerah (RAD). Kegiatan ini melibatkan dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas tenaga kerja, bagian hukum pemerintah daerah, puskesmas, kepolisian, P2TP2A, masyarakat dan tokoh adat.

2. Penguatan kapasitas teknis untuk menangani KtPA. Strategi ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan staff layanan kesehatan, P2TP2A, BPPKB, Dinas Kesehatan dan Kepolisian untuk mengenali kasus dan menangani perempuan dan anak korban kekerasan. Strategi ini dilakukan melalui pelatihan konseling dasar penanganan KtPA , pelatihan bagi petugas medis, serta penanganan hukum sesuai SOP penanganan KTpA

3. Membangun ruang percontohan untuk menangani korban kekerasan. Ruang

konseling ini dibangun di layanan kesehatan yang memiliki tingkat kekerasan paling tinggi, memiliki sarana yang memadai dan petugas yang berkemampuan unggul. Melalui bantuan teknis dari USAID-Kinerja, Puskesmas Tanjung Ria, dan Puskesmas Koya barat terpilih menjadi puskesmas percontohan yang memiliki ruang konseling untuk menangani korban kekerasan.

4. Penyadaran publik tentang layanan KtPA. Strategi ini dilakukan untuk

menyebarluaskan informasi tentang layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan kepada masyarakat luas. Pada tahap ini, P2TP2A membuat dan menyebarluaskan brosur dan poster tentang SOP penanganan KtPA berbasis standar pelayanan minimal. Selain itu, kegiatan penyadaran publik juga dilakukan melalui media elektronik, seperti dialog melalui radio dan TV.

5. Pembentukan kelompok dukungan dan peningkatan kapasitas bagi para

perempuan penyintas kekerasan. Strategi ini dilakukan untuk memberikan wadah bagi

perempuan penyintas kekerasan untuk berbagi pengalaman dan diskusi tentang isu perempuan dan kesehatan. Selain itu, para penyintas juga mendapat pelatihan ketrampilan agar mereka mendapatkan peluang lebih baik untuk mandiri secara ekonomi. Seluruh kegiatan ini difasilitasi oleh LSPPA

6. Peningkatan kapasitas MSF dan anggota kelompok dukungan untuk membantu

menangani KtPA. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kemampuan MSF dan

anggota kelompok dukungan untuk dapat mengidentifikasi kasus kekerasan dan melakukan konseling dasar bagi korban di sekitar mereka. MSF juga mendapat pelatihan tentang penggunaan SMS Gateway untuk melaporkan KtPA ke LSM mitra lokal USAID-Kinerja, Jerat Papua untuk selanjutnya disampaikan kepada BPPKB / P2TP2A sehingga kasus tersebut dapat ditangani secepat mungkin. Keterlibatan masyarakat juga sangat penting untuk mendorong korban kekerasan untuk melapor secepat mungkin.

7. Masyarakat terlibat dalam penyusunan kebijakan. MSF dan kelompok penyintas

terlibat dalam penyusunan SOP penanganan KtPA dan RAD pencegahan dan penanganan KtPA sehingga dokumen yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan para penyintas.

8. Monitoring dan evaluasi. Strategi ini dilakukan per kuartal melalui pertemuan rutin yang melibatkan Bappeda, BPPKB, P2TP2A, kepolisian, dinas kesehatan, puskesmas dan masyarakat. Selain itu, dinas kesehatan, BPPKB dan P2TP2A juga melakukan kunjungan rutin ke puskesmas untuk memantau pelaksanaan program.

Anggaran yang diperlukan

Kota Jayapura menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD)2 perlindungan bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak kota Jayapura tahun 2015-2016. Kisaran anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanganan KtPA di kota Jayapura adalah sebagai berikut:

Kegiatan Kisaran dana Kebutuhan

Lokakarya atau sosialisasi Untuk satu (1) hari, anggaran yang diperlukan berkisar antara 10-15 juta, tergantung jumlah peserta (biasanya 25- 30 orang)

Untuk pembiayaan paket pertemuan, alat tulis, perlengkapan pertemuan, tranportasi lokal, dan honor fasilitator/pelatih.

Pertemuan-pertemuan Untuk satu (1) hari berkisar, anggaran yang diperlukan sekitar 3 juta rupiah, tergantung jumlah peserta (biasanya 15-20 orang)

Untuk pembiayaan paket pertemuan, alat tulis, perlengkapan pertemuan, dan transportasi lokal.

Pembuatan brosur Untuk 500 eksemplar,

anggaran yang diperlukan sekitar 8 juta rupiah

Untuk pembiayaan desain, cetak, dan distribusi

Pembangunan ruang percontohan untuk konseling

Untuk luas ruang sekitar 3 x 4 m, anggaran yang diperlukan sekitar 3,5 juta rupiah

Untuk pembelian cat dan seperangkat sofa serta lemari berkunci untuk menyimpan data korban

Pelatihan ketrampilan 500 ribu rupiah Untuk pembelian bahan-

bahan

Hasil dan dampak program

Dampak program layanan terpadu penanganan KtPA dirasakan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Bagi penyedia layanan, program ini memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Kapasitas teknis petugas medis untuk menangani KtPA meningkat sehingga mereka dapat mendokumentasikann kasus dengan baik serta dapat melakukan konseling dan merujuk korban kekerasan ke kepolisian.

2. SOP membuat program lebih mudah dilaksanakan. SOP penanganan KtPA memuat alur layanan dan rujukan secara jelas sehingga membuat penanganan kekerasan menjadi lebih fokus. Sistem rujukan yang jelas juga membantu

korban kekerasan mendapat penanganan yang tepat dan cepat.

3. Kerjasama lintas sektoral yang kuat dalam penanganan KtPA berdampak terhadap efisiensi penggunaan dana. Sekarang setiap pemangku kepentingan telah memahami tugas dan perannya dalam menangani KtPA sehingga pembiayaan kegiatan tidak tumpang tindih dan tidak hanya menjadi tanggungjawab P2TP2A.

4. SK Walikota tentang tim P2TP2A telah direvisi dengan mencantumkan individu yang ditunjuk sebagai anggota tim sehingga ketika terjadi mutasi, BPPKB sebagai lembaga yang membawahi P2TP2A, tidak perlu melatih staff baru.

5. RAD menjadi bahan advokasi untuk masuk dalam rencana tahunan SKPD terkait sehingga program layanan terpadu penanganan KtPA dapat berlanjut.

6. Ruang khusus penanganan KtPA membuat petugas medis lebih nyaman melakukan konseling.

7. Monitoring dan evaluasi yang teratur telah memperkuat hubungan antara dinas kesehatan dan puskesmas. Pertemuan evaluasi juga menjadi ajang tukar pengalaman bagi puskesmas.

Sementara itu, manfaat program ini bagi pengguna layanan adalah:

1. Kesadaran perempuan tentang isu KtPA meningkat. Hal ini diungkapkan oleh Mama

Grace, salah satu anggota MSF Tanjung Ria, “saya baru sadar kalo perempuan kerja banyak sekali. Jadi sadar saya pu kerja paling banyak eh”.

…menangani kasus kekerasan... itu perlu ketrampilan khusus untuk menggali seperti apa dan cara mengkonseling mereka itu beda-beda. Konseling itu paling penting, kalau kita obati saja itu

tidak berarti .

- Bidan Syiska Puskesmas Koya Barat

2. Masyarakat lebih mengerti tentang sistem rujukan termasuk pihak yang perlu dihubungi jika terjadi kasus kekerasan.

3. MSF dan anggota kelompok dukung yang mendapat pelatihan konseling awal mampu mendorong perempuan korban kekerasan untuk membicarakan masalahnya dan mencari bantuan ke layanan kesehatan dan kepolisian. Kemampuan konseling ini meningkatkan kepercayaan kepada MSF dan anggota kelompok dukung sehingga banyak perempuan melapor kepada mereka ketika mengalami kekerasan.

4. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan SOP dan RAD meningkatkan rasa kepercayaan terhadap pemerintah dan rasa kepemilikan terhadap program.

5. Pelatihan ketrampilan bagi para penyintas KtPA meningkatkan rasa percaya diri dan membantu mereka untuk lebih mandiri secara ekonomi.

Keberlanjutan dan peluang replikasi

Pada program ini, keberlajutan program, terutama dirancang melalui kegiatan penyusunan RAD bagi perlindungan korban KtPA kota Jayapura 2015-2016. Dengan adanya RAD, maka terbuka peluang untuk penganggaran di SKPD-SKPD terkait; sehingga SOP penanganan KtPA dan Puskesmas Mampu Tata Laksana Penanganan KtPA dapat terus diterapkan karena adanya pendanaan yang kontinu. Pembangunan komitmen bersama melalui penyusunan RAD inilah yang penting untuk direplikasi bagi wilayah-wilayah lain yang memiliki situasi serupa dengan kota Jayapura.

Selain itu, Puskesmas Abepantai akan mengintegrasikan penanganan KtPA dalam program kelas ibu hamil. Puskesmas akan menggunakan satu dari delapan pertemuan kelas ibu hamil untuk mendiskusikan layanan KtPA sehingga lebih banyak perempuan mengetahui apa yang harus dilakukan jika mengalami kekerasan. Puskesmas Abepantai juga akan membuat kelas untuk remaja yang berisi materi tentang penanganan KtPA.

Hasil pembelajaran dan rekomendasi

Beberapa hal berikut adalah pembelajaran dari program yang dilaksanakan selama kurun waktu satu tahun ini dan sekaligus dapat menjadi rekomendasi bagi wilayah lain yang hendak melakukan program serupa.

a. Pertemuan koordinasi lintas sektoral dilakukan secara berkala oleh seluruh pemangku kepentingan yang terkait sehingga mereka dapat saling mengenal serta memiliki pemahaman dan komitmen yang sama untuk menangani kasus KtPA.

b. Keterlibatan masyarakat sangat penting untuk memastikan SOP dan RAD sesuai dengan kebutuhan mereka. Pertemuan dengan masyarakat perlu dilakukan secara berkala.

c. Instansi yang berpotensi untuk meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan

bagi perempuan dan anak korban kekerasan seperti dinas tenaga kerja dan transmigrasi, dinas perdagangan, perindustrian dan koperasi atau dinas

pendidikan perlu dilibatkan dalam penyusunan Rencana Aksi daerah (RAD)

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Keterlibatan lintas instansi tersebut diperlukan untuk memastikan RAD menjadi lebih terpadu karena memuat upaya-upaya pencegahan, penanganan, dan pemberdayaan. Pentingnya melibatkan instansi-instansi. RAD ini juga harus dikawal agar diintegrasikan ke dalam rencana kerja masing-masing SKPD yang terlibat. Selanjutnya, RAD ini juga perlu dievaluasi dan diperbarui minimal setahun sekali disesuaikan dengan kondisi di daerah dan pelaksanaannya perlu dipantau.

d. SOP penanganan KtPA yang juga berisi tentang peran setiap lembaga yang terlibat membantu semua pihak memahami alur koordinasi, tugas dan wewenang masing- masing.

e. Pembangunan ruang percontohan untuk konseling dimulai dari melakukan kajian terhadap puskesmas yang menjadi percontohan yang sekaligus dimaksudkan sebagai permohonan izin. Lalu, dilanjutkan dengan serangkaian pertemuan untuk mendiskusikan mengenai pemilihan dan pengaturan ruang beserta kebutuhannya. Mengingat proses pembangunan memerlukan durasi waktu tertentu, rencana pembangunan dan

pembiayaannya perlu disusun bersama.

f. Petugas yang dibekali dengan ketrampilan konseling lebih dapat menggali informasi dari pasien yang diduga mendapatkan kekerasan. Untuk itu, kegiatan bermain peran yang dirancang sesuai dengan situasi sesungguhnya perlu dilakukan untuk

meningkatkan kapasitas tenaga yang menangani ktPA.

g. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan SOP dan RAD secara tidak langsung membuat mereka mengetahui alur kerja penanganan KtPA. Direkomendasikan perlu ada kegiatan khusus yang ditujukan kepada masyarakat agar masyarakat dapat

mengetahui penanganan KtPA. Selain itu masyarakat perlu terlibat secara terus menerus dalam kegiatan-kegiatan terkait penanganan KtPA.

h. Kegiatan ketrampilan dan pemutaran film berpotensi membangun kesadaran akan pentingnya keberdayaan bagi penyintas agar para penyintas ini pada kelanjutannya dapat memperkuat kelompok dan menjadi pendidik sebaya. Untuk itu perlu jangka waktu program yang lebih panjang (lebih dari setahun) untuk menguatkan kelompok dukungan agar menjadi kelompok yang dapat menggerakkan dan mengorganisasi dirinya sendiri dan memunculkan pendidik-pendidik sebaya

Tantangan yang dihadapi

Dari hasil wawancara dengan para pemangku kepentingan di tingkat pemerintah maupun masyarakat, berikut adalah tantangan-tantangan dalam menjalankan program penanganan KtPA:

a. Ruang P2TP2A berada dalam aula yang terletak di lantai 2 kantor Walikota Jayapura. Letak ruang ini membuat korban tidak nyaman, terutama bila kondisi fisik mereka penuh lebam/luka. Jika pemerintah daerah belum dapat menyediakan ruangan di luar kantor, seharusnya dapat dicari ruangan yang terletak di luar, berada di lantai dasar yang menghadap langsung ke halaman sehingga memudahkan masyarakat dalam mengaksesnya dan tidak perlu melewati banyak ruangan dan orang.

b. Hingga saat ini belum rumah aman belum tersedia karena masih terkendala oleh persoalan pembebasan lahan.

c. Banyak masyarakat masih percaya bahwa KtPA dianggap hal biasa dan merupakan urusan internal keluarga yang bersangkutan.

d. Banyak masyarakat belum paham tentang penanganan KtPA. Mereka menganggap melaporkan tindak kekerasan rumit dan berbelit-belit. Selain itu, kisah kekerasan sering menjadi konsumsi publik dengan penambahan hal-hal di luar kisah sesungguhnya sehingga hal ini membuat korban enggan melaporkan tindak kekerasan yang menimpanya.

e. Korban enggan membuka diri karena takut.

f. Intepretasi terhadap ajaran agama. Keyakinan tidak boleh bercerai membuat korban tetap bertahan dalam pernikahan, meskipun hal tersebut berpotensi mengancam hidupnya.

Informasi kontak

Dalam dokumen 9fd3d203 139d 4579 aa5d cd3d5487c4a8 (Halaman 61-72)

Dokumen terkait