Analisis Kebutuhan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR
7) Pulau Sulawesi. Tema besar pada pengembangan Wilayah Sulawesi adalah:
Pengembangan industri berbasis rotan, aspal, nikel, bijih besi & gas bumi;
Pintu gerbang perdagangan internasional & kawasan timur; Lumbung pangan nasional dengan pengembangan industri kakao, padi, dan jagung;
Pengembangan industri berbasis logistik; dan percepatan pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan industri perikanan & pariwisata bahari.
Konsepsi pengembangan WPS diilustrasikan yaitu pembangunan infrastruktur wilayah PUPR pada setiap WPS diarahkan untuk mempercepat pembangunan fisik di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kawasan sesuai dengan klusternya, terutama WPS di Luar Jawa (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua) dengan memaksimalkan keuntungan aglomerasi, menggali potensi dan keunggulan daerah dan peningkatan efisiensi dalam penyediaan infrastruktur dalam kawasan, antar kawasan maupun antar WPS. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral, regional dan makro ekonomi.
Gambar 15 Ilustrasi Network Infrastructure Conectivity
Setiap WPS akan dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi dan keunggulannya, melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, industri manufaktur, industri pangan, industri maritim, dan atau pariwisata antara lain dengan:
1. Pemenuhan pelayanan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat serta mendukung kawasan perbatasan, pulau-pulau terluar, daerah tertinggal dan, daerah-daerah yang kapasitas pemerintahannya belum cukup memadai dalam memberikan pelayanan publik terkait infrastruktur PUPR;
2. Mendorong pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi termasuk ekonomi maritim dan peningkatan pemanfaatan potensi ekonomi dan sumber daya sebagai penggerak utama pertumbuhan (engine of growth) dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi di masing-masing pulau dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah melalui:
a. Pengembangan sentra ekonomi, pembangunan Kawasan Metropolitan baru di luar Pulau Jawa-Bali sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang diarahkan menjadi pusat investasi dan penggerak pertumbuhan ekonomi bagi wilayah sekitarnya guna mempercepat pemerataan pembangunan di luar Jawa;
b. Pengembangan kemaritiman (kelautan) dengan memanfaatkan sumber daya kelautan dan jasa maritim, yaitu peningkatan produksi perikanan, pengembangan energi dan mineral kelautan, pengembangan kawasan wisata bahari, industri maritim dan perkapalan;
c. Pengembangan kota otonom di luar Pulau Jawa – Bali khususnya di KTI yang diarahkan sebagai pengendali (buffer) arus urbanisasi ke Pulau Jawa yang diarahkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bagi wilayah sekitarnya serta menjadi percontohan (best practices) perwujudan kota berkelanjutan;
d. Pembangunan kota baru publik yang mandiri dan terpadu di sekitar kota atau kawasan perkotaan metropolitan di luar Pulau Jawa – Bali yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah serta diarahkan sebagai pengendali (buffer) urbanisasi di kota atau kawasan perkotaan metropolitan di luar Pulau Jawa-Bali;
e. Meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, dengan memperkuat pusat-pusat pertumbuhan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
3. Mempercepat pembangunan daerah tertinggal dan kawasan perbatasan fokus pada PKSN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan (dengan membangun kota lintas batas yang diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan sebagai halaman depan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman); serta membangun kawasan perkotaan dan perdesaan dengan mempertimbangkan Rencana Tata Ruang Wilayah melalui pengembangan untuk pengentasan daerah tertinggal.
4. Meningkatkan peran dan fungsi sekaligus perbaikan manajemen pembangunan, pemberian bimbingan teknis dan penerapan SPM di 35 WPS untuk diarahkan sebagai pusat kegiatan berskala global guna meningkatkan daya saing dan kontribusi ekonomi.
5. Penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana dengan meningkatkan kapasitas pengendali daya rusak air serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam rangka mengurangi indeks risiko bencana pada wilayah yang memiliki indeks risiko bencana tinggi untuk mengurangi kerugian ekonomi akibat kejadian bencana di masa mendatang.
Pembangunan infrastruktur PUPR pada setiap WPS diterpadukan dengan sasaran pokok dan program nasional sebagai berikut:
Pertama, dengan pengembangan Kawasan Srategis Pariwisata Nasional Prioritas (KSPNP) di antaranya di Pulau Sumatera (KSPNP Danau Toba dsk); Pulau Jawa (KSPNP: Kep Seribu dsk, Kota Tua-Sunda Kelapa dsk, Borobudur dsk, dan Bromo-Tengger-Semeru dsk); Pulau Bali- Nusa Tenggara (KSPNP: Kintamani-Danau Batur dsk, Menjangan-Pemuteran dsk, Kuta-Sanur-Nusa Dua dsk, Rinjani dsk, Pulau Komodo dsk, dan Ende-Kelimutu dsk); Pulau Kalimantan (KSPNP Tanjung Puting dsk); Pulau Sulawesi (KSPNP: Toraja dsk, Bunaken dsk, dan Wakatobi dsk); dan Kepulauan Maluku (KSPNP Raja Ampat dsk).
Kedua, diterpadukan dengan program pengembangan Kawasan Industri Prioritas (KIP), di antaranya di Pulau Sumatera (KIP: Kuala Tanjung, Sei Mangkei, dan Tanggamus); Pulau Jawa (KIP: Tangerang, Cikarang, Cibinong, Karawang, Bandung, Cirebon, Tuban, Surabaya, dan Pasuruan); Kalimantan (KIP: Batulicin, Ketapang, dan Landak); Pulau Sulawesi (KIP: Palu, Morowali, Bantaeng, Bitung, dan Konawe); Kepulauan Maluku (KIP Buli/Halmahera Timur); dan Pulau Papua (KIP Teluk Bintuni).
Ketiga, diterpadukan dengan program Pengembangan Perkotaan KSN, PKW dan PKSN/ Kota Perbatasan di antaranya di Pulau Sumatera; Pulau Jawa-Bali;
Kepulauan Nusa Tenggara; Pulau Kalimantan; Kepulauan Maluku dan Pulau lainnya.
Keempat, diterpadukan dengan program pengembangan Tol Laut (pelabuhan hub dan pelabuhan feeder) yang di antaranya di Pulau Sumatera (Malahayati, Belawan, Kuala Tanjung, Teluk Bayur, Panjang, Batu Ampar, Jambi: Talang Duku, dan Palembang: Boom Bar); Pulau Jawa (Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Tanjung Emas); Pulau Kalimantan (Sampit, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Kariangau, dan Pontianak); Pulau Bali dan Nusatenggara (Kupang); Pulau Sulawesi (Makasar, Pantoloan, Kendari dan Bitung); Kepulauan Maluku (Ternate:
A. Yani dan Ambon); dan Pulau Papua (Sorong dan Jayapura).
Gambar 16 Jalur Rencana Pelabuhan Hub dan Pelabuhan Feeder Latihan
Jelaskan dan uraikan permasalahan infrastruktur ditinjau dari aspek ekonomi, kependudukan, urbanisasi, energi dan lingkungan!
Jelaskan dan uraikan peranan infrastruktur dalam pengembangan wilayah ditinjau dari aspek perekonomian dan aspek peningkatan kualitas hidup!
Jelaskan dan uraikan manfaat, prinsip dan teknologi pengendalian banjir!
Sebutkan jenis-jenis sistem prasarana permukiman, dan jelaskan masing-masing sistem prasarana tersebut!
Sebutkan dan uraikan masing-masing jenis infrastruktur terkait sistem jaringan perhubungan!
Keterkaitan infrastruktur PUPR dengan infrastruktur Non PUPR dalam konteks pengembangan wilayah, berada dalam lingkup “Wilayah Pengembangan Strategis (WPS)”. Setiap WPS akan dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi dan keunggulannya, melalui
pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, industri manufaktur, industri pangan, industri maritim, dan atau pariwisata. Jelaskan!
Rangkuman
Infrastruktur memiliki peran yang sangat luas dan mencakup berbagai konteks dalam pembangunan, baik dalam konteks fisik-lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan konteks lainnya. Pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan sektor Industri, perdagangan dan jasa, pariwisata, perikanan, tanaman pangan, perkebunan, pertambangan, dan sektor-sektor lainnya, akan membutuhkan infrastruktur untuk mempercepat pendistribusian sumber daya dan pelayanan publik akibat kegiatan pertumbuhan ekonomi.
Infrastruktur PUPR terdiri dari:
1. Sistem Jaringan Sumber Daya Air 2. Sistem Prasarana Pengendalian Banjir 3. Sistem Prasarana Jalan
4. Sistem Prasarana Permukiman, mencakup air minum, air limbah, pengelolaan sampah, dan drainase
5. Perumahan dan Kawasan Permukiman Infrastruktur Non PUPR terdiri dari:
1. Sistem Jaringan Perhubungan, mencakup Sistem Angkutan Massal Berbasis Jalan, Sistem Jaringan Jalur Kereta Api, Sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyebrangan (ASDP), Tatanan Kepelabuhanan, dan Tatanan Kebandarudaraan.
2. Sistem Pembangkit Energi dan Sumber Daya Mineral, mencakup Sistem Jaringan Transmisi Listrik, dan Sistem Jaringan Pipa Migas.
3. Sistem Jaringan Telekomunikasi.
Keterkaitan infrastruktur PUPR dengan infrastruktur Non PUPR dalam konteks pengembangan wilayah, berada dalam lingkup “Wilayah Pengembangan Strategis (WPS)” yang di dalamnya melingkupi kawasan perkotaan, kawasan industri, dan kawasan maritim berdasarkan pada tema atau potensi per pulau.