• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pembangkit Energi dan Sumber Daya Mineral:

Analisis Kebutuhan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR

2. Sistem Pembangkit Energi dan Sumber Daya Mineral:

Sistem Jaringan Transmisi Listrik

Sistem Jaringan Pipa Migas 3. Sistem Jaringan Telekomunikasi 1. Sistem Jaringan Perhubungan

Sistem jaringan perhubungan termasuk dalam sektor transportasi yang merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam pembangunan ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan.

Namun demikian sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Transportasi sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan,

merupakan kegiatan yang potensial mengubah kualitas udara perkotaan.

Transportasi juga merupakan tolok ukur dalam interaksi keruangan antar wilayah dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan suatu wilayah.

Di bidang transportasi darat, pembangunan prasarana jalan dan jembatan telah meningkatkan jasa pelayanan produksi dan distribusi yang penting dan banyak berperan dalam menunjang per-tumbuhan ekonomi nasional, mendorong terciptanya pemerataan pembangunan wilayah dan stabilitas nasional, serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi sebagai urat nadi kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

Sistem jaringan transportasi dapat dilihat dari segi efektivitas, dalam arti selamat, aksesibilitas tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, rendah polusi serta dari segi efisiensi dalam arti beban publik rendah dan utilitas tinggi dalam satu kesatuan jaringan sistem transportasi.

Sistem Angkutan Massal Berbasis Jalan

Mass Rapid Transit, juga disebut sebagai Angkutan umum, adalah layanan transportasi penumpang, biasanya dengan jangkauan lokal, yang tersedia bagi siapapun dengan membayar ongkos yang telah ditentukan. Angkutan ini biasanya beroperasi pada jalur khusus tetap atau jalur umum potensial yang terpisah dan digunakan secara eksklusif, sesuai jadwal yang ditetapkan dengan rute atau lini yang didesain dengan perhentian-perhentian tertentu, walaupun Mass Rapid Transit dan trem terkadang juga beroperasi dalam lalu lintas yang beragam. Ini dirancang untuk memindahkan sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan. Contohnya antara lain: Bus Rapid Transit, heavy rail transit dan Light Rail Transit.

Berdasarkan UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengertian Angkutan Massal Berbasis Jalan adalah suatu sistem angkutan yang menggunakan mobil bus dengan lajur khusus yang terproteksi sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas angkut yang bersifat massal.

Angkutan massal berbasis jalan tersebut merupakan bagian dari Bus Rapid Transit. Angkutan massal harus didukung dengan:

a. mobil bus yang berkapasitas angkut massal; Indonesia adalah Busway. Busway merupakan jalan khusus bagi kendaraan yang didesain untuk digunakan secara eksklusif oleh bus-bus. Jalur ini bisa saja dibangun pada, di atas, atau di bawah tanah dan mungkin pada jalur khusus terpisah atau di dalam koridor jalan raya.

Dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 173 Tahun 2010 tentang Prosedur Penetapan Operator Bus Transjakarta Busway, tercantum sebagai berikut:

 Busway adalah Jalur khusus yang dipergunakan hanya untuk angkutan khusus dengan menggunakan Bus.

 Koridor Busway adalah Lajur Busway yang merupakan salah satu bagian dari Sistem Transjakarta Busway dan yang berada pada jalan-jalan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagaimana dimaksud dalam Pola Transportasi Makro.

 Angkutan Umum Busway adalah Sistem angkutan massal cepat pada Busway.

Sistem Jaringan Jalur Kereta Api

Pada awalnya istilah kereta api yang dikenal di Indonesia muncul karena pada masa lalu bahan bakar yang digunakan adalah batu bara atau kayu, sehingga pada saat kareta berjalan mengeluarkan kepulan asap dari cerobong selain itu terbawa pula percikan api yang cukup banyak. (Warpani, 1990)

Perkembangan perkeretaapian terus berjalan termasuk dalam rancang bangun, teknologi komunikasi dan informasi, dan teknologi bahan. Hal ini membawa pula perkembangan sarana dan prasarana kereta api, misalnya kereta api super cepat, kereta api monorail (dengan satu rel), kereta api levitasi magnetik (maglev), kereta api pengangkut berat.

Istilah kereta api hingga saat ini masih tetap digunakan, meskipun kereta api sekarang sudah modern dan tidak lagi menggunakan bahan bakar berupa batu bara atau kayu yang mengeluarkan api dari cerobong asap.

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, pengertian Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana,dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta api.

Kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api.

Angkutan kereta api adalah kegiatan pemindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kereta api. (Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2000 tentang Jalur Kereta Api).

Perkeretaapian menurut fungsinya terdiri dari:

1. perkeretaapian umum; dan 2. perkeretaapian khusus.

Perkeretaapian umum terdiri dari:

1. perkeretaapian perkotaan; dan 2. perkeretaapian antarkota.

Perkeretaapian khusus hanya digunakan secara khusus oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.

Jalur kereta api untuk perkeretaapian umum membentuk satu kesatuan jaringan jalur kereta api, terdiri dari:

a. jaringan jalur kereta api nasional yang ditetapkan dalam rencana induk perkeretaapian nasional;

b. jaringan jalur kereta api provinsi yang ditetapkan dalam rencana induk perkeretaapian provinsi; dan

c. jaringan jalur kereta api kabupaten/kota yang ditetapkan dalam rencana induk perkeretaapian kabupaten/kota.

Klasifikasi stasiun kereta api, menurut jenis barang yang diangkut, terdiri dari:

a. Stasiun penumpang, adalah stasiun yang digunakan untuk menaikkan/menurunkan penumpang. Stasiun penumpang memiliki gedung stasiun, peron-peron dan kelengkapan lain untuk mengangkut orang. Contoh: stasiun Madiun.

b. Stasiun barang, adalah stasiun yang digunakan untuk keperluan bongkar muat, terdiri dari beberapa fasilitas seperti gudang barang, kontainer, tempat bongkar muat, dan kelengkapan lain untuk mengangkut barang.

Jalan Kereta Api (Jalan Rel)

Jalan kereta api, yaitu jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel dimana jalan rel adalah satu kesatuan konstruksi yang terbuat dari baja, beton, atau konstruksi lain yang terletak di permukaan, di bawah, dan di atas tanah atau bergantung beserta perangkatnya. Fungsinya untuk mengarahkan jalannya kereta api, yang meliputi ruang manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kereta api, dan ruang pengawasan jalur kereta api, termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api seperti jembatan, bangunan hikmat untuk drainase, underpass dan fly over dan terowongan.

Kelas jalan kereta api dibedakan berdasarkan atas puncak kecepatannya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 Kelas Jalan Kereta Api KelasJalan Kecepatan (V)

Untuk jalan kereta kelas I dan jalan kereta kelas II/1 disebut sebagai lintas raya.

Sedangkan untuk jalan kereta api kelas II/2 dan jalan kereta api kelas II/3 disebut lintas cabang.

Selain dibedakan oleh puncak kecepatannya, jalan kereta api juga dibedakan oleh jumlah track pada lintasannya :

a. Single track, jalan kereta api yang terdiri dari satu track pada lintasannya.

b. Double track, jalan kereta api yang terdiri dari dua track pada lintasannya.

c. Multi track, jalan kereta api yang terdiri dari tiga atau lebih track pada lintasannya.

Sistem Jaringan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP)

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan Di Perairan, pengertian “Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan” disingkat

“ASDP”, merupakan istilah yang terdiri dari dua aspek yaitu “Angkutan Sungai dan Danau” atau ASD dan “Angkutan Penyeberangan.

Angkutan sungai dan danau Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan menggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir kanal, dan terusan untuk mengangkut penumpang dan/atau barang yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.

Angkutan sungai dan danau, meliputi kegiatan:

a. angkutan sungai dan danau di dalam negeri;

b. angkutan sungai dan danau antara negara Republik Indonesia dengan negara tetangga; dan

c. angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri.

Angkutan Penyeberangan adalah angkutan yang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan untuk mengangkut penumpang dan kendaraan beserta muatannya.

Angkutan penyeberangan, terdiri atas:

a. angkutan penyeberangan di dalam negeri; dan

b. angkutan penyeberangan antara negara Republik Indonesia dan negara tetangga.

PT. ASDP sebagai penyelenggara angkutan umum berfungsi sebagai penyedia jasa angkutan kendaraan (barang) dan penumpang, baik secara intermoda maupun intramoda transportasi. Sistem ASDP menurut Nasution (2005: 172) meliputi:

Alat angkut (vehicles): kapal sungai dan kapal feri,

Alur pelayaran (ways): rambu-rambu sungai/danau/feri, pengerukan alur sungai, telekomunikasi, navigasi dan kapal inspeksi,

 Terminal (pelabuhan): terminal, gudang, kantor, depot BBM, listrik dan air.

Angkutan air cocok dan efisien sebagai lalu lintas penghubung antara pelabuhan dengan sistem angkutan lain yang menggunakan perahu untuk membongkar-muat barang dari dan ke kapal. Selain itu, juga dapat berfungsi sebagai lalu lintas penghubung antartempat (misalnya permukiman) yang belum terhubung oleh sistem jaringan jalan darat, sebagai lalu lintas penyeberangan antarpulau atau penyeberangan sungai, dan untuk pengangkutan barang di daerah pedalaman (Warpani, 1990: 48).

Pelayanan angkutan sungai dan danau meliputi pelayanan angkutan penumpang dan barang. Sarana angkutan sungai pada umumnya menggunakan kapal bertipe kecil dengan kepemilikan masyarakat atau perorangan. Beberapa jenis angkutan sungai tradisional dan modern dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 Jenis ANgkutan Sungai Tradisional dan Modern

Melayani penyeberangan jarak dekat

Daya angkut maksimal 12 orang

Digerakkan oleh mesin, berbahan bakar solar

2. Speed Boat Angkutan penumpang

Melayani rute antar kota (relatif jauh)

Daya angkut maksimal 12 orang

Digerakkan oleh mesin, berbahan bensin dan minyak tanah

3. Jukung Angkutan barang (terutama

tanaman pangan)

Melayani trayek yang cukup jauh, ke daerah transmigrasi atau pedalaman

Daya angkut 30-60 ton barang

Digerakkan oleh mesin, berbahan bakar solar

Berlabuh di pelabuhan/dermaga/

pangkalan khusus milik perusahaan/industri 5. Sampan Angkutan

tradisional

Kapal kayu sederhana tidak bermotor

Dimiliki perorangan, sebagai sarana transportasi pribadi

6. Kapal Venes/

Kapal layar

Kapal dagang Milik pribadi atau perusahaan antar provinsi.

Sumber: Mulyana, 2005: 8

Terdapat sedikit perbedaan dalam pengertian jukung yang dikemukakan Mulyana (2005: 10) dengan yang dikemukakan oleh Petersen (2001: 5). Jukung menurut Mulyana adalah untuk mengangkut barang, sedangkan menurut Peterson jukung memiliki beragam jenis berdasarkan fungsi dan kegunaannya, ada yang untuk mengangkut penumpang dan ada pula untuk angkutan barang.

Masih menunurut Peterson, jukung adalah istilah yang sering digunakan oleh masyarakat dataran rendah Barito dan digunakan untuk semua jenis perahu/kapal. Pada dasarnya jukung memiliki dua tipe dasar, yaitu jukung sudur yang diolah dari pohon yang dibelah dua dan jukung yang diolah dari satu batang

pohon yang utuh. Namun, ada pula masyarakat yang menyebut jukung sebagai perahu kecil tak bermesin, sedangkan kelotok diartikan sebagai perahu bermesin.

Keunggulan dan Kelemahan Angkutan Sungai

Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya digunakan untuk melayani mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang aliran sungai maupun penyeberangan sungai. Mulyana (2005: 5) menyebutkan, sistem perairan sungai yang dapat dilayari harus memenuhi persyaratan teknis, yakni: kedalaman, kelandaian, dan kecepatan arus tertentu, sehingga aman dan mudah dilayari.

Angkutan sungai sangat menonjol di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Di Kalimantan, angkutan sungai banyak digunakan untuk kebutuhan angkutan lokal dan perkotaan, terutama di wilayah yang belum tersedia prasarana transportasi jalan. Beberapa keunggulan dan kelemahan angkutan sungai yang dirangkum dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:

Keunggulan:

- Tidak perlu membuat/membangun jalan air karena sungai sebagai prasarana sudah tersedia secara alami dan pemeliharaan prasarana yang tidak terlalu memakan banyak biaya.

- Dapat memberikan pelayanan dari pintu ke pintu (door to door service) untuk permukiman di pinggir sungai.

- Mampu mencapai daerah pedalaman dengan dominasi perairan.

- Kemampuan untuk mengangkut barang tanpa mempengaruhi pembebanan pada badan sungai (daya angkut bisa besar).

- Ramah lingkungan dan tidak macet.

Kelemahan:

- Kecepatan umumnya lebih rendah dibandingkan dengan moda lain.

- Kenyamanan dan standar keselamatan relatif rendah.

- Ketersediaan sarana pendukung masih kurang.

Tatanan Kepelabuhanan

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memerlukan sektor pelabuhan yang berkembang dengan baik dan dikelola secara efisien. Daya saing produsen baik dalam pasar nasional maupun internasional, efisiensi distribusi

internal dan, yang lebih umum, keterpaduan dan integritas ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor pelabuhan.

Pengertian Pelabuhan

Kata Pelabuhan dapat diartikan dalam dua istilah, yaitu Bandar dan Pelabuhan.

Bandar (harbour), adalah suatu fasilitas di daerah per-air-an (estuari atau muara sungai, teluk) dengan kedalaman air yang memadai dan terlindung dari gempuran gelombang, angin dan arus untuk berlabuh, bertambat maupun tempat singgah kapal untuk mengisi bahan bakar, reparasi dan sebagainya.

Pelabuhan (port), adalah suatu daerah per-air-an (di samudera, estuari/muara sungai, dan teluk) dengan kedalaman yang memadai dan terlindung dari gempuran gelombang, angin dan arus, serta dilengkapi dengan fasilitas terminal laut dan darat.

Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, pengertian-pengertian terkait pelabuhan, sebagai berikut:

Kepelabuhanan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan keamanan berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atau antarmoda serta mendorong perekonomian nasional dan daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah.

Tatanan Kepelabuhanan Nasional adalah suatu sistem kepelabuhanan yang memuat peran, fungsi, jenis, hierarki pelabuhan, Rencana Induk Pelabuhan Nasional, dan lokasi pelabuhan serta keterpaduan intra-dan antarmoda serta keterpaduan dengan sektor lainnya.

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.

Jenis Pelabuhan

Jenis pelabuhan terdiri atas:

a. pelabuhan laut, yaitu pelabuhan yang dapat digunakan untuk melayani kegiatan angkutan laut dan/atau angkutan penyeberangan yang terletak di laut atau di sungai.

b. pelabuhan sungai dan danau, yaitu pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan sungai dan danau yang terletak di sungai dan danau.

Hierarki pelabuhan laut, terdiri atas:

a. pelabuhan utama, yaitu pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.

b. pelabuhan pengumpul, yaitu pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.

c. pelabuhan pengumpan, yaitu pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi.

Sistem pelabuhan Indonesia disusun menjadi sebuah sistem hierarkis yang terdiri atas sekitar 1700 pelabuhan. Terdapat 111 pelabuhan, termasuk 25 pelabuhan

‘strategis’ utama, yang dianggap sebagai pelabuhan komersial dan dikelola oleh empat BUMN, PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) I, II, III and IV dengan cakupan geografis sebagaimana diuraikan dalam tabel 1 di bawah ini. Selain itu, terdapat juga 614 pelabuhan diantaranya berupa Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau pelabuhan non-komersial yang cenderung tidak menguntungkan dan hanya sedikit bernilai strategis. Terdapat pula sekitar 1000 “pelabuhan khusus’ atau pelabuhan swasta yang melayani berbagai kebutuhan suatu perusahaan saja (baik swasta maupun milik negara) dalam sejumlah industri meliputi

pertambangan, minyak dan gas, perikanan, kehutanan, dsb. Beberapa dari pelabuhan tersebut memiliki fasilitas yang hanya sesuai untuk satu atau sekelompok komoditas (mis. bahan kimia) dan memiliki kapasitas terbatas untuk mengakomodasi kargo pihak ketiga. Namun demikian, pelabuhan yang lain memiliki fasilitas yang sesuai untuk beragam komoditas, termasuk, dalam beberapa hal, kargo peti kemas. Cakupan wilayah masing-masing PT. Pelindo, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 Cakupan Wilayah PT. Pelindo PT.

Pelindo

Cakupan

(Provinsi) Pelabuhan-Pelabuhan Yang Diatur Pelindo I Aceh, Sumatera Utara, Riau Belawan, Pekanbaru, Dumai, Tanjung

Pinang, Lhokseumawe Teluk Bayur, Pontianak, Cirebon, Jambi, Bengkulu, Banten, Sunda Kelapa, Bitung, Ambon, Sorong, Biak, Jayapura

Tatanan Kebandarudaraan

Definisi Bandar Udara sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.

Bandar Udara di Indonesia dikelola oleh PT. Angkasa Pura 1 untuk wilayah Indonesia bagian timur dan PT. Angkasa Pura 2 untuk wilayah Indonesia bagian barat.

Kebandarudaraan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan bandar udara dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi keselamatan, keamanan, kelancaran, dan ketertiban arus lalu lintas pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos, tempat perpindahan intra dan/atau antarmoda serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

Tatanan Kebandarudaraan Nasional adalah sistem kebandarudaraan secara nasional yang menggambarkan perencanaan bandar udara berdasarkan rencana tata ruang, pertumbuhan ekonomi, keunggulan komparatif wilayah, kondisi alam dan geografi, keterpaduan intra dan antarmoda transportasi, kelestarian lingkungan, keselamatan dan keamanan penerbangan, serta keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya.

Bandar udara terdiri atas:

a. bandar udara umum, yang selanjutnya disebut bandar udara, yaitu bandar udara yang digunakan untuk melayani kepentingan umum; dan b. bandar udara khusus, yaitu bandar udara yang hanya digunakan untuk

melayani kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya.

Penggunaan bandar udara terdiri atas:

a. bandar udara internasional, yaitu bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan dari dan ke luar negeri; dan

b. bandar udara domestik, yaitu bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri.

Hierarki bandar udara terdiri atas:

a. bandar udara pengumpul (hub), yaitu bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan yang luas dari berbagai bandar udara yang melayani penumpang dan/atau kargo dalam jumlah besar dan mempengaruhi perkembangan ekonomi secara nasional atau berbagai provinsi; dan

b. bandar udara pengumpan (spoke), yaitu bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan dan mempengaruhi perkembangan ekonomi terbatas.

Bandar udara pengumpul, terdiri atas bandar udara pengumpul dengan skala pelayanan primer, sekunder, dan tersier.

Yang dimaksud dengan skala pelayanan primer adalah bandar udara sebagai salah satu prasarana penunjang pelayanan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang melayani penumpang dengan jumlah lebih besar atau sama dengan 5.000.000 (lima juta) orang per tahun.

Yang dimaksud dengan skala pelayanan sekunder adalah bandar udara sebagai salah satu prasarana penunjang pelayanan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang melayani penumpang dengan jumlah lebih besar dari atau sama dengan 1.000.000 (satu juta) dan lebih kecil dari 5.000.000 (lima juta) orang per tahun.

Yang dimaksud dengan skala pelayanan tersier adalah bandar udara sebagai salah satu prasarana penunjang pelayanan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) terdekat yang melayani penumpang dengan jumlah lebih besar dari atau sama dengan 500.000 (lima ratus ribu) dan lebih kecil dari 1.000.000 (satu juta) orang per tahun.

Sedangkan bandar udara pengumpan merupakan bandar udara tujuan atau penunjang dari bandar udara pengumpul dan merupakan salah satu prasarana penunjang pelayanan kegiatan lokal.

Klasifikasi bandar udara terdiri atas beberapa kelas bandar udara yang ditetapkan berdasarkan kapasitas pelayanan dan kegiatan operasional bandar udara.

2. Sistem Pembangkit Energi dan Sumber Daya Mineral