• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGIKUT PAMU DAN MARJINALISASI

C. Purwa Ayu, Melawan dan Tunduk Pada Negara

Sejarah Purwa Ayu tidak tertulis secara heroik layaknya kelompok penghayat kepercayaan/masyarakat lainnya, seperti Samin, Ciptagelar ataupun Baduy. Purwa Ayu hadir sejalan dengan kepentingan dan ideologi negara. Purwa Ayu tidak melakukan resistensi terhadap negara secara vulgar seperti yang ditampakkan oleh beberapa aliran kepercayaan lain.

Indikasinya ada dua faktor, karena memang Purwa Ayu berjalan seiring dengan aturan negara atau ada perlawanan namun tidak terekam oleh media dan negara. Media memiliki peranan penting dalam memberitakan beberapa perlawanan aliran kepercayaan terhadap negara maupun logika-logika mayoritas masyarakat. Sebagai contoh, kita bisa melihat perjuangan dari Suku Samin dalam melawan ekspansi pabrik semen milik negara melalui karya jurnalistik dan film dokumenter.39 Keterbukaan beberapa penghayat kepercayaan kepada dunia luar –contoh kasus Baduy- lantas tidak merubah prinsip-prinsip kehidupan sosial yang selama ini dilakukan. Satu-satunya aspek yang berubah dalam kelompok Baduy, adalah bagaimana mereka merespon

39Salah satu contoh film dokumenter tentang Samin adalah ‘Samin vs Semen’ karya Watchdoc Documentary yang dibuat oleh Dhandy Laksono dan Ucok Suparta dalam Ekspedisi Indonesia Biru tahun 2015.

Link film; https://www.youtube.com/watch?v=1fJuJ28WZ_Q

92

kehidupan ekonomi yang semakin kompleks dengan caranya sendiri.40 Urusan privat yang terkait dengan agama dan filosofi hidup, masih dipertahankan hingga hari ini sesuai dengan orisinalitasnya.

Kelompok Purwa Ayu pun demikian. Ada beberapa aspek yang mengalami perubahan seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat. Di awal pembahasan Purwa Ayu, mereka menyebut dirinya sebagai sebuah ‘pirukunan’ dan bukan paguyuban atau keyakinan tersendiri. Pemilihan kategori pirikunan berefek pada sikap masyarakat pada kelompok ini. Lazim diketahui bersama, suatu kelompok yang melabeli diri sebagai sebuah lembaga, paguyuban atau organisasi, dalam arti memiliki perbedaan jelas dari masyarakat umum, akan selalu siap dengan segala resiko di kehidupan sosial. Di sisi lain, stigma dari masyarakat yang rata-rata negatif, justru akan menjadi alat pemersatu komunitas yang efektif. Hal ini dikarenakan adanya nilai universal yang dijunjung bersama, nasib yang seragam dan memiliki kepentingan yang sama. Purwa Ayu tidak saja berdiri sendiri dalam menghadapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dipandang sebagian orang merugikan kelompok tertentu. Di wilayah Ngebel, Ponorogo (lokasi penelitian) Purwa Ayu berdampingan dan hidup dalam komunitas beragam. Di Desa Wagir Lor, misalnya, Purwa Ayu berjalan dengan beberapa agama dan kepercayaan; Islam, Kristen Protestan, Tarekat Wahidiyah (Islam), Aboge dan Ngelmu Sejati.

Di kabupaten Ponorogo, Purwa Ayu merupakan kelompok pirukunan terbesar dilihat dari jumlah anggotanya. Hanya saja, untuk beberapa kawasan, Purwa Ayu kurang dan jarang diminati, seperti yang ada di kecamatan Ngebel. Penghitungan jumlah anggota tidak didasarkan pada catatan jumlah pendaftar, tetapi berdasarkan kehadiran rutin di setiap malam Jum’at saat

40Dicontohkan dalam beberapa film atau penelitian kehidupan Baduy, mereka mulai menjual hasil bumi ke kota, dan tidak lagi bersifat komunal (dikonsumsi sendiri)

93

melakukan ‘pujian’. Di kecamatan Ngebel, kelompok Purwa Ayu tidak lebih dari 30 orang yang aktif berorganisasi. Beberapa kelompok aliran kepercayaan di Ponorogo per 2014;41

NO Nama HPK Pemimpin Jumlah

Anggota

1 Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) Kasimin 11300

2 Ilmu Sejati Suyitno 6000

3 Aliran Kebatinan “Perjalanan” Bikan Gondowiyono 6400

4 Sapta Darma Isno Puro 2300

5 Pelajar Kawruh Jiwo (PKJ) Agus Thumun 680

6 Purwaning Dumadi Kautaman Kasampurnan (PDKK) Suprapto 600

7 Sumarah Suparno 500

8 Paguyuban Wirid Sadar Penggalih (PWSP) Purnomo 450

9 Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) Cahyono 400

10 Sapto Pandhito Wahyudi 410

11 Padepokan “Songgo Buwono” (PSB) Wahyu Widodo 360

12 Makanthi/Sastrojendro Hayuning Pangruwat Diyu (SHPD)

Samuri 300

13 Keakraban Kekadangan Ngesti Tunggal Hariyanto 250

14 Seni Olah Napas dan Meditasi “WASESA” Edi Purnomo 200

15 Murti Tomo Waskito Tunggal (MTWT) Kadenun 200

16 Hidayat Jati Dasuki 100

41Ahmad Choirul Rofiq, Kebijakan Pemerintah Terkait Hak Sipil Penghayat Kepercayaan dan Implikasinya Terhadap Perkembangan Penghayat Kepercayaan di Ponorogo, Jurnal Kodifikasia IAIN Ponorogo, Vol. 8, No. 1, 2014, hlm. 17

94

17 Forum Komunikasi Toleransi Spiritual (FKTSB) S. Adji Kusno 100

18 Cakraningkrat Supardi 150

19 Sabda Jati Edi Candra` 300

20 Tirta Nirwala Wahyu 400

21 Suryo Alam KRH Dharmanto 100

22 Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Tukiman 500

JUMLAH 32000

Melihat data diatas, jumlah anggota Purwa Ayu merupakan yang terbanyak diantara penghayat kepercayaan lainnya. Dari jumlah tersebut, kecamatan Pulung menyumbang anggota Purwa Ayu terbanyak karena menjadi lokasi pusat PAMU di Ponorogo. Lokasinya ada di Dusun Kebonagung, Desa Kesugihan, Kecamatan Pulung.

Pirukunan Purwa Ayu bukanlah sebuah kelompok atau aliran yang melawan pemerintah secara vulgar, meskipun menjadi komunitas masyarakat terbesar di Ponorogo.

Perlawanan yang ditujukan ke pemerintah atau kelompok lain –lebih tepatnya kritik- terfokus pada persoalan ‘tindakan sosial’. Bahwa, segala tindakan pada dasarnya harus selaras dengan isi hati yang terdalam. Kasus korupsi misalnya, menurut anggota Purwa Ayu, mengambil untung dari jabatan yang diperoleh adalah sebuah ‘dosa’, karena akan menciptakan kecemburuan sosial dan menjadikan masyarakat tidak rukun.42 Koruptor akan menyengsarakan berdosa karena menyangkal isi hatinya, bahwa mengambil yang bukan haknya merupakan perbuatan yang salah.

Sedangkan di masyarakat, munculnya koruptor yang tertangkap akan menciptakan prasangka hingga hinaan, meskipun orang yang dihina tidak dikenal. Menciptakan prasangka buruk kepada

42Wawancara dengan Yatni (sesepuh PAMU) pada 22 November 2019

95

orang lain atas pribadi individu, pada dasarnya juga merupakan perbuatan yang salah. Ujung dari persoalan ini (berprasangka satu sama lain) adalah tidak adanya sikap rukun terhadap sesama.

Pada persoalan politik, ekonomi ataupun sosial lainnya, Purwa Ayu tak selantang melawan dan mengkritik seperti yang dilakukan pada tindakan sosial. Di kecamatan Ngebel, Purwa Ayu justru seperti menjadi mitra pemerintah dalam melakukan pelayanan dan pengembangan daerah.

Kerjasama Purwa Ayu dan pemerintah di Ngebel berada di sektor ekonomi-pariwisata. Keberadaan Telaga Ngebel sebagai pariwisata utama di kabupaten Ponorogo menarik banyak keuntungan ekonomi. Dalam bulan tertentu, terutama di high season liburan, Telaga Ngebel menjadi tujuan utama pariwisata.43 Purwa Ayu mengambil peran penting dalam agenda-agenda pariwisata ini. Salah satunya, pembangunan beberapa infrastruktur pemerintahan di Ngebel. Dari bangunan-bangunan gedung pemerintahan yang ada di Ngebel, ada beberapa yang mendapat ‘sentuhan’ dari anggota PAMU.44

“Biyen iku, kantor Koramil, kecamatan lan SD Ngebel 1 seng mbangun yo sedulur Purwa Ayu. Kerja bakti. Jaman bien ora dibayar lan ora njaluk bayaran. Sedulur Purwa Ayu ming pingin bantu negara mergo kabeh iku wes dingendikakake, diperintahne kalih Eyang Guru.

Malah, Bapak bien (mertua) melu bangun dalan Kemambang”

(Dulu, kantor Koramil/Komando Rayon Militer, kantor kecamatan dan SDN 1 Ngebel dibangun oleh anggota PAMU. Mereka ikut kerja bakti, tidak dibayar dan tidak meminta

bayaran. Hal itu dilakukan karena sudah menjadi ajaran dari Eyang Guru)

43High season liburan di Telaga Ngebel terjadi pada; perayaan Tahun Baru Islam/Sura, perayaan hari kemerdekaan Indonesia, libur lebaran dan Tahun Baru Masehi. Perayaan Tahun Baru Islam menjadi momentum terbesar kunjungan wisatawan.

44Wawancara dengan Suroto pada 18 November 2019. Suroto adalah menantu dari Sura Sakat, anggota PAMU yang sudah meninggal pada 2004 silam. Kemambang adalah satu satu jalan di pinggir Telaga yang dulunya berupa tebing batu dan dipahat menjadi jalan. Suroto bukan anggota PAMU, tapi dia belajar mengenai itungan Jawa yang diajarkan oleh mertuanya. Suroto sekarang dikenal sebagai pelatih kesenian reog di Desa Wagir Lor.

96

Selain pembangunan fasilitas pemerintahan, anggota PAMU juga turut memberikan kontribusi pada asset daerah terbesar di Ngebel, yaitu pariwisata. Sebelum tahun 1992, wisata Telaga Ngebel tak berbeda jauh dari tempat-tempat wisata lainnya di Ponorogo. Bagi warga setempat, Telaga Ngebel merupakan tempat wingit/angker karena dihuni seekor naga raksasa bernama Baru Klinthing. Setiap tahun, Baru Klinthing dipercaya meminta korban manusia.

Caranya, selalu ada korban yang tenggelam, entah bunuh diri atau kecelakaan dan masuk ke telaga. Pada waktu itu, tradisi selamatan memperingati Tahun Baru Islam/Sura masih dilakukan di desa-desa. Tahun 1992, para sesepuh PAMU berkumpul dan membicarakan banyak hal;

Selametan, adanya bencana tiap tahun di telaga dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi korban-korban selanjutnya.45

“Larungan niku awale mulai saking omongan sedulur PAMU. Nopo seng diomongke? Nggeh niku, kok tiap tahun wonten mawon seng pejah teng telaga. Warga Nglingi,

Gondowido, Sahang, Wagir Lor sampun selametan Suroan. Terus, diusulken, pripun menawi diwontenke selametan gede teng telaga. Dedungo sareng, kumpul sareng-sareng kadang pas

melekan malem Sura.

(Larungan/Larung Do’a itu bermula dari obrolan anggota PAMU. Apa yang dibicarakan? Ya itu, mengapa setiap tahun selalu ada yang meninggal dunia di telaga. Padahal,

warga dusun Nglingi, Gondowido, Sahang, Wagir Loe sudah mengadakan Selamatan Sura.

Kemudian diusulkan (ke pemerintah kecamatan) untuk diadakan Selamatan besar di Telaga.

Berdoa bersama, kumpul dengan saudara-saudara se-Ngebel di malam 1 Sura itu)

45Wawancara dengan Yatni, pada 23 November 2019

97

Larung sesaji adalah nama awal dari nama prosesi acara Suran (Tahun Baru Islam) di Ngebel. Nama itu dipakai dari 1992-1997. Di tahun 1997, ada protes dari beberapa kalangan, khususnya kelompok Islam santri, bahwa acara Larung Sesaji dekat dengan perbuatan syirik dan bid’ah.46 Protes ini diinisiasi KH. Abdullah Syukri Zarkasi, pengasuh Pondok Pesantren Modern Gontor. Gagasan Larung Sesaji diganti menjadi Larung Risalah Doa dan usul ini diterima oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Perubahan nama ke Larung Risalah Doa ini sejatinya tidak berbeda jauh dengan Larung Sesaji, baik dari perangkat, alat hingga prosesi. Hanya beberapa unsur Islam dimasukkan ke dalam prosesi, seperti menyelipkan tulisan doa berbahasa Arab ke dalam Tumpeng yang ditenggelamkan ke Telaga Ngebel. Pada 2013, Larung Risalah Doa kembali diubah menjadi Larungan. Nama terakhir dipakai hingga kini. Menurut pegawai kecamatan Ngebel, perubahan nama Larung Risalah Doa ke Larungan merupakan pengembalian nama asli acara adat setempat seperti saat pertama kali dicetuskan.47 Kelompok PAMU menilai persoalan ini sudah menjadi wewenang sepenuhnya pemerintah kecamatan/kabupaten. Dalam kasus ini, Purwa Ayu, sebagai salah satu penggagas ide Larungan di Telaga Ngebel menunjukkan sikap kooperatif dan menjadi mitra negara dalam pengembangan ekonomi-pariwisata. Keberadaan PAMU sebagai mitra pemerintah juga tampak pada prosesi acara Larungan dan acara adat lainnya di Ngebel.48

Pada perkembangannya, acara Larungan ini terus mengalami modifikasi. Tahun 2007 misalnya, Larungan di Telaga Ngebel dibagi menjadi dua, larungan malam dan pagi. Larungan

46Syirik=menyekutukan Tuhan dengan meminta segala hal selain kepada-Nya. Bid’ah=modifikasi ajaran Islam yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW

47Wawancara dengan Suhartoyo, Pegawai Kecamatan Ngebel

48Juru Kunci Telaga Ngebel pada 1992-2007 dipegang oleh sesepuh PAMU, Siwar. Kini usianya sudah mencapai 102 tahun lebih. Selain di acara Larungan, sesepuh PAMU biasanya memiliki kelebihan dalam hal itungan Jawa. Itungan Jawa dipakai orang-orang Ngebel saat hendak melakukan acara pernikahan, khitanan, selametan, bubak hingga pada persoalan sehari-hari.

98

malam dihadiri oleh warga Ngebel, sedangkan larungan pagi ditujukan untuk pariwisata.

Larungan pada malam hari akan diisi dengan berbagai macam acara, seperti shalawatan, pengajian umum, kirab budaya khas Ngebel dan dilanjutkan dengan tirakatan. Di acara tirakatan, warga dari berbagai komunitas keagamaan akan hadir dan berdoa hingga pagi hari.

Larungan di Telaga Ngebel bisa dikatakan sebagai acara adat terbesar yang ada di kecamatan Ngebel, sehingga akan menarik banyak wisatawan dari luar daerah. Kini, Larungan di Telaga Ngebel lebih dikenal sebagai acara pariwisata daripada acara adat. Prosesi-prosesi dalam acara larungan, kini tidak lagi menjadi hal yang sakral dan unik. Larungan malam yang sejatinya ditujukan untuk warga lokal dengan mengangkat tradisi-tradisi setempat, tidak jauh berbeda dengan larungan yang ditujukan untuk pariwisata. Pada persoalan ini, anggota PAMU tidak mampu memberikan kritikan dan masukan atas apa yang sudah berjalan hingga hari ini.

Ada dua sudut pandang yang dapat dipakai untuk melihat hubungan Purwa Ayu dan negara. Pertama, Purwa Ayu sebagai sebuah pirukunan yang berjalan bersama dengan kepentingan negara. Hal ini dapat dilihat dari ajaran-ajaran ‘kenegaraan’ yang tercantum dalam buku AD/ART. Pada posisi ini (bekerjasama/mitra), Purwa Ayu ditampakkan oleh pendirinya sebagai komunitas yang tidak ‘berbahaya’ dan menyimpang. Sebagai contoh, setiap anggota Purwa Ayu harus memilih pemimpin berdasarkan beberapa kriteria dan menjaga kerukunan antar sesama warga bangsa. Frasa ‘berbahaya’ yang sering ditujukan kepada kelompok penghayat didasarkan pada gerakan politik yang dianut. Seandainya kelompok tertentu memiliki visi dan misi yang berbeda/bertentangan dengan negara, maka ia dikategorikan sebagai yang berbahaya.

Negara memiliki standarisasi tersendiri mengenai ketegori berbahaya atau tidaknya suatu aliran kepercayaan. Kecenderungan aliran politik dan ekonomi merupakan sebab umum yang biasanya akan membawa suatu kelompok/aliran kepecayaan masuk ke dalam dua kategori tersebut

99

(berbahaya atau tidak). Purwa Ayu, tidak memiliki kedua hal tersebut. Bahwa, selama ini pilihan politik dan ekonomi berjalan wajar dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya.

Tidak ada yang berbeda dengan logika mayoritas yang dijalankan masyarakat Ngebel.

Label menyimpang akan tersemat dalam aliran kepercayaan jika ia memiliki kesamaan dengan ibadah dan ajaran agama tertentu, namun tidak sepenuhnya dijalankan oleh anggota kelompok. Bahasa mudahnya ‘memiliki ajaran gado-gado/campur’. Purwa Ayu di Ngebel tidak masuk dalam ketegori menyimpang karena melihat para anggotanya memeluk agama-agama yang disahkan oleh negara. Purwa Ayu di Ngebel didominasi oleh komunitas Muslim. Yatni (79), sesepuh Purwa Ayu Ngebel, merupakan orang Muslim yang taat. Selain menjabat sebagai ketua lingkungan (RT), dia juga seorang pengurus takmir masjid setempat.

Gaya berpakaiannya pun lebih dekat dengan komunitas Muslim, baik keseharian maupun saat melakukan pujian Purwa Ayu di rumahnya. Berbeda dengan Yatni, Sardji (96), warga Purwa Ayu dari Dusun Bentis, Wagir Lor merupakan seorang anggota PAMU yang tekun. Bagi Sardji, dengan mengamalkan ajaran Purwa Ayu sudah merupakan sebuah ibadah dan memiliki keyakinan. Agama mengajarkan tentang ajaran kamanungsan (kemanusiaan) dan hal tersebut juga tertera dalam peribadatan Purwa Ayu. Bagi Sardji, hidup itu harus menghargai manusia lainnya, aja gawe gela lan serik e liyan (jangan membuat kebencian dan permusuhan dengan orang lain).

Kedua, Purwa Ayu menjadi kelompok yang resisten terhadap negara. Jika dilihat dari sisi ajaran yang tercantum di AD/ART, Purwa Ayu bukanlah kelompok yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan atau sistem politik negara. Dalam keseharian, tanda-tanda tersebut (perlawanan) juga tidak ditemukan. Ajaran dan perilaku adalah dua hal yang umum dilihat masyarakat untuk mencapai kesimpulan atas ‘status’ aliran kepercayaan tertentu. Pada

100

kasus Purwa Ayu, dua hal ini (ajaran dan perilaku) sama sekali tidak mengarah pada sikap resisten. Asumsi bahwa ajaran dan perilaku tak menentang itu salah satu ciri dari kelompok yang patuh pada negara justru terbantahkan dengan fakta bahwa mereka (komunitas terkait) memiliki

‘kebiasaan’ yang berbeda dari masyarakat umum. Satu individu ataupun komunitas yang memiliki kebiasaan dan cara berpikir dari logika mayoritas, pada dasarnya ‘berbeda’. Ada suatu pakem/ajaran yang tidak dilakukan orang umum. Bagaimanapun perannya dalam membantu negara, Purwa Ayu tetaplah sebuah komunitas yang memiliki suatu kekhasan.

Perbedaan penghayat Purwa Ayu dengan masyarakat Jawa di Ngebel adalah penguasaan terhadap ilmu etungan yang diajarkan secara turun temurun. Ilmu etungan –disebut seperti itu oleh masyarakat Ngebel- digunakan untuk menentukan segala aktivitas masyarakat;

bertani, bepergian, tidur dan aktivitas lainnya. Etungan ini difungsikan untuk mengetahui arah beja (keberuntungan) dan cilaka (bahaya). Setiap warga yang tidak bisa bisa dan mengerti etungan ini, akan datang ke salah satu anggota PAMU untuk sekedar bertanya. Ilmu ini tidak tercantum dalam AD/ART, namun didapatkan dari metode penghitungan aboge.49 Setiap anggota PAMU menggunakan hitungan ini untuk memulai segala aktivitasnya dan tak diajarkan kepada khalayak umum. Sebabnya, metode etungan ini berasal dari kelompok Aboge dan jamak orang yang mengerti selain kelompok Purwa Ayu. Sebab lain, menurut Suroto (menantu sesepuh

49Penganut Islam Aboge atau Alif-Rebo-Wage (A-bo-ge) merupakan penganut aliran yang diajarkan Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang. Para penganut Islam Aboge meyakini, dalam kurun waktu delapan tahun atau satu windu terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim Akhir serta dalam satu tahun terdiri 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari dengan hari pasaran berdasarkan perhitungan Jawa, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Dalam hal ini, hari dan pasaran pertama pada tahun Alif jatuh pada Rabu Wage (Aboge), tahun Ha pada Ahad/Minggu Pon (Hakadpon), tahun Jim Awal pada Jumat Pon (Jimatpon), tahun Za pada Selasa Pahing (Zasahing), tahun Dal pada Sabtu Legi (Daltugi), tahun Ba/Be pada Kamis Legi (Bemisgi), tahun Wawu pada Senin Kliwon (Waninwon), dan tahun Jim Akhir pada Jumat Wage (Jimatge). Berdasarkan cerita dari Kasnu, penganut HPK Ngelmu Sejati dari Desa Ngrogung, Ngebel, Ponorogo.

101

Purwa Ayu di Wagir Lor), selama masyarakat tidak ‘meminta’ diajari ilmu ini, maka yang bersangkutan memang tidak membutuhkan hal tersebut.

Beberapa etungan yang menjadi pegangan anggota PAMU untuk memulai aktivitas kesehariannya;

Pasaran Jawa

Senin : 4 Pon : 7

Selasa : 3 Wage : 4

Rabu : 7 Kliwon : 8

Kamis : 8 Legi : 5

Jum’at : 6 Pahing : 9

Sabtu : 9 Minggu : 5

Hari Pantangan/Pati Dino

1.9 : Timur

4.5.10 : Selatan 6.7.2 : Barat

3.8 : Utara

Cara kerja dari rumus ini; misalnya ada orang yang hendak melakukan perjalanan pada hari Kamis Legi. Maka, neptu Kamis (8) ditambah Legi (5) berjumlah 11. Jumlah puluhan ke atas, diambil angka paling belakang. Jadi, 11 menjadi 1 dan pantangannya pergi ke arah Timur. Jadi, pada hari Kamis Legi, hendaknya seseorang menghindari bepergian ke arah Timur.

Keyakinan dino was dan kubur (hari sial & pantangan) berbeda penggunaannya ketika misalnya

102

digunakan untuk perjalanan rombongan pernikahan atau melakukan akad jual beli. Hitungan diatas hanya khusus untuk perjalanan biasa lintas daerah. Etungan lain (seperti perjalanan pernikahan, akad beli hingga berjudi, misalnya) yang mengharuskan keluar daerah, menggunakan rumus diatas ditambah dengan hari kelahiran (nikah) dan nama desa (untuk jual beli, mengambil barang hingga berjudi).50 Saat ditanya darimana angka-angka ini didapatkan, narasumber mengatakan hanya terima jadi dan mengikuti apa yang diwasiatkan oleh sesepuhnya.

Metode keselamatan dalam melakukan perjalanan ini sangat berbeda jika kita terapkan dengan apa yang diyakini masyarakat umum saat ini. Hanya segelintir orang dan kelompok yang masih memakai etungan ini untuk mencari keberuntungan/keselamatan di setiap aktivitas hariannya. Pada umumnya, masyarakat kini menggunakan teknologi untuk memandu setiap aktivitas saban hari. Dalam melakukan perjalanan, lazim kita temui penggunaan peta digital maupun ramalan cuaca dari balai penelitian. Seperangkat alat teknologi itu dirasa cukup untuk menggantikan peran etungan yang dinilai usang atau bahkan susah dihafal. Kekuatan memori menghafal sangat dibutuhkan seandainya ingin menggunakan ilmu etungan ini di kehidupan sehari. Alasan efesiensi waktu dan kepraktisan, jamak menjadi alasan umum masyarakat untuk menggunakan perangka teknologi dibandingkan etungan.

Selain ngetung (menghitung) segenap resiko dalam berpergian, anggota PAMU juga memiliki hitungan di bidang lain yang dibutuhkan dalam masyarakat, diantaranya perhitungan wuku, membuat kandang ternak hingga aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan setiap hari.

50Catatan ini didapatkan dari peninggalan anggota Purwa Ayu yang sudah meninggal bernama Sura Sakat.

Dia berasal dari Dusun Bentis, Wagir Lor, Ngebel. Catatan itu dirawat oleh menantunya, Suroto. Atas wasiat mertuanya, dia memakai hitungan ini meskipun tidak ikut keanggotaan Purwa Ayu.

103

Hitungan Wuku

Wuku Was-Was Hari Pantangan/Kubur

Sinto (ringkel) Kamis Sabtu

Landhep Rabu Ahad

Ukir Selasa Ahad

Krantil Senin Senin

Tolu Ahad, Sabtu Selasa

Gumbrek Jum’at Rabu

Rigan Kamis Kamis

Rigo Rabu Jum’at

Julung Selasa Sabtu

Susang Senen Ahad

Galungan Ahad, Sabtu Ahad

Kuningan Jum’at Senin

Langkir Kamis Selasa

Madasiyo Rabu Rabu

Julung Pujut Selasa Kamis

Pahang Senin Jum’ah

Kuruwelut Ahad, Sabtu Sabtu

Mrakeh Jum’at Ahad

Tamber Kamis Ahad

Medangkungan Rabu Senin

Matal Selasa Selasa

104

Wuye Senin Rabu

Menahil Ahad, Sabtu Kamis

Prangbakat Sabtu Jum’at

Bolo Kamis Sabtu

Ugu Rabu Ahad

Wayang Selasa Ahad

Klawu Senin Senin

Dukut Ahad, Sabtu Selasa

Watugunung Jum’at Rabu

Hitungan wuku ini digunakan untuk menandai kapan harus beraktivitas dan kapan harus berhenti dari pekerjaan. Pekerjaan yang dimaksud beragam, mulai dari membuat rumah, acara pernikahan, tingkepan (tujuh bulanan) hingga aktivitas umum seperti bepergian.

Pengecualian untuk melanggar pantangan ini terjadi pada peristiwa kematian dan kelahiran.

Segala sesuatu yang mampu diprediksi (dietung) oleh manusia, harus melewati rumus-rumus dasar diatas. Sebaliknya, untuk yang bersifat Ilahiyah (lahir & mati), bebas dari metode etungan ini. Wuku ini berlaku selama rentang seminggu dan dalam satu tahun ada sekitar 30 wuku (210 hari). Metode wuku atau pawukon ini banyak digunakan di Jawa dan Bali. Ide dasar perhitungan wuku adalah bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran) dan saptawara (pekan)

Segala sesuatu yang mampu diprediksi (dietung) oleh manusia, harus melewati rumus-rumus dasar diatas. Sebaliknya, untuk yang bersifat Ilahiyah (lahir & mati), bebas dari metode etungan ini. Wuku ini berlaku selama rentang seminggu dan dalam satu tahun ada sekitar 30 wuku (210 hari). Metode wuku atau pawukon ini banyak digunakan di Jawa dan Bali. Ide dasar perhitungan wuku adalah bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran) dan saptawara (pekan)