• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGIKUT PAMU DAN MARJINALISASI

B. Represi Negara Terhadap Aliran Kepercayaan

Sejarah penindasan terhadap Kelompok Penghayat Kepercayaan, merupakan sejarah yang sudah berlangsung sejak pemerintahan kolonial Belanda. Pada mulanya, Belanda

79

mengawasi gerakan keagamaan melalui Kantor Urusan Pribumi (Kantoor van Inlandsche Voor Zaken). Sasaran utama dari badan ini adalah kelompok Islam, untuk mengawasi dan mewaspadai gerakan Pan Islamisme maupun kewaspadaan pada jamaah haji Indonesia dari Mekkah.17 Bisa dikatakan jika Belanda juga menerapkan pengawasan Islam demi menjaga arus-arus perlawanan dari rakyat Nusantara. Kebijakan Belanda ini kemudian dilanjutkan di masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru hingga hari ini melalui kebijakan Undang-Undang atau Peraturan Bersama. Awal dari eksisnya keberadaan aliran kebatinan terjadi pada tahun 1950.

Bentuk-bentuk peraturan pemerintah yang tertuang dalam undang-undang maupun peraturan daerah, tidak selamanya dipatuhi oleh kelompok masyarakat. Pada aliran kepercayaan, definisi maupun aturan mengenai ‘agama dan kepercayaan’ masyarakat tidak sepenuhnya dipatuhi. Sejarah kolonialisme Belanda menjadi arena tumbuhnya perlawanan-perlawanan terhadap pemerintah yang dilakukan oleh beberapa kelompok kecil dalam masyarakat.

Kelompok Samin misalnya, lahir dan berkembang sebagai kelompok yang menentang kebijakan-kebijakan kolonial. Model perlawanan masyarakat Samin adalah melalui bahasa untuk menolak peraturan kolonial; membayar pajak, memperbaiki jalan, jaga malam/rondadan kerja paksa.18 Bentuk-bentuk perlawanan Samin ini tercermin dalam kegiatan sehari-hari, semisal tidak menggunakan jalan yang bukan buatan mereka sendiri. Dalam penghayat kepercayaan, bentuk-bentuk budaya yang tampil di keseharian (laku batin, filosofi hidup, cara memandang alam) menjadi acuan perlawanan kepada dominasi agama, pemerintah maupun kelompok penguasa.

Persoalan hukum ini, pada akhirnya menempatkan aliran kebatinan pada stigma buruk; minoritas, menyimpang dan eksklusif. Stigma ini hadir sebagai efek dari logika mayoritas masyarakat yang mengikuti peraturan pemerintah mengenai Undang-Undang yang mengatur

17Anas Saidi dkk, Menekuk Agama, Membangun…, hlm. 33-34

18Nuruddin dkk, Agama Tradisional; Potret Kearifan, . . . , hal. 51

80

agama dan kepercayaan di Indonesia. Namun, terlepas dari semua persoalan hukum diatas, kehadiran aliran kejawen/kebatinan terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Bidang kebudayaan menjadi salah satu tonggak untuk mempertahankan eksistensi keberadaan aliran kebatinan. Strategi kebudayaan yang digunakan dan dijalankan oleh pengikut kebatinan, dalam arti lain, bisa dipahami sebagai resistensi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Strategi budaya ini nampak pada bentuk-bentuk negosiasi sosial dalam masyarakat di bidang sosial, budaya dan kehidupan sosial sehari-hari.

Wongsonegoro (Wakil PM Menteri Indonesia Kabinet Ali Sastroamidjojo I), adalah orang yang mempopulerkan istilah aliran kebatinan bagi penghayat agama-agama lokal (bukan agama besar). Agama besar disini mengacu pada kelompok agama yang memenuhi kriteria dari Kementerian Agama Indonesia waktu itu (memiliki wahyu, nabi, kitab suci, umat, tempat ibadah, dsb) dan secara kuantitas memiliki jumlah pemeluk yang besar. Wongsonegoro mempelopori terselenggaranya Kongres Kebatinan berskala nasional yang diselenggarakan pada 19-12 Agustus 1950 di Semarang. Kongres itu dihadiri 70 aliran yang ada di Indonesia dan melahirkan sebuah organisasi bernama Badan Konggres Kebatinan Indonesia (BKKI) dan ia duduk sebagai ketuanya. Dari sini, kelompok penghayat kepercayaan mulai kenal dan diperkenalkan negara kepada publik Indonesia. puncaknya terjadi di tahun 1973, saat diselenggarakan Musyawarah Nasional BKKI dan menghasilkan wadah baru bagi penghayat kepercayaan, yaitu Sekretariat Kerjasama Kepercayaan (SKK) yang juga memperjuangkan legalitas kelompok penghayat kepercayaan.

Pada 1973 (Orde Baru), MPR mengakui keberadaan Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada tahun tersebut, SKK diganti menjadi HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa) saat Munas di Tawangmangu, Karanganyar.

81

Organisasi HPK bekerja menaungi dan memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok penghayat kepercayaan di seluruh Nusantara. Aliran Kepercayaan semakin diakui di negeri ini ketika saat MPR pada 1978 menetapkan pembentukan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proses untuk berserikat yang dilakukan oleh HPK ini di kemudian hari menjadi awal dari penindasan yang dilakukan oleh negara. Lebih tepatnya, saat lahirnya UU PNPS No. I/PNPS/1965 yang menyatakan jika Penghayat Kepercayaan sebagai kelompok yang menodai agama resmi negara.19 MPR mengeluarkan TAP MPR Nomor 4/1978 yang mengakui keberadaan HPK hanya sebagai ekspresi dari suatu kebudayaan. Saat itu, jumlah aliran kepercayaan di Indonesia mencapai 644 kelompok. 20

Keberadaan penghayat kepercayaan kian terpojok, saat lembaga lain selain negara, ikut memberikan andil dalam mendiskritkan kelompok kepercayaan. Selain negara (melalui UU), keberadaan agama besar/resmi, media, dan beberapa praktisi telah menciptakan opini dan penyingkiran terhadap agama-agama lokal.21 Penyingkiran aliran kepercayaan yang dilakukan oleh agama besar muncul pada peristiwa politik sejak 1955.22 Kemenangan PNI sebagai partai pemerintah, yang didalamnya juga terdapat kelompok nasionalis dan kebatinan, belum menjadi ancaman yang serius bagi kelompok muslim (Masyumi-NU). Pasca dibubarkannya Masyumi pada 1960-an, praktis NU menjadi kekuatan politik tunggal muslim yang menjadi lawan dari

19Pasal-pasal dalam UU PNPS 1965 kurang lebih mengatur keberadaan Penghayat Kepercayaan yang jika keberadaanya dianggap menodai agama resmi, maka Prresiden Indonesia dapat melakakukan dua hal; membubarkan organisasi tersebut serta memidanakan anggota dan pengurusnya. (Penjelasan umum poin 2 UU PNPS 1965)

20Aliran Kepercayaan yang tercatat di SKK tahun 1972 antara lain; Jawa Tengah (257), Jawa Barat (83), Yogyakarta (70), Jawa Timur (55), Sumatera (96), Indonesia Timur (26), Kalimantan dan sekitarnya (112). Rachmat Subagya, Agama Asli Indonesia, . . . , hlm. 251

21 Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan Negara Dalam Negara Orde Baru, (Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 311

221955 adalah pertama kali diadakannya pemilu di Indonesia. Hasil pemilu tersebut menempatkan PNI (nasionalis) sebagai partai pemenang, yang diikuti oleh Masyumi, NU, dan PKI. Sudirman Tebba, Islam Orde Baru, Perubahan Politik dan Keagamaan, (Yogyakarta; Tiara Wacana, 1993), hlm. 57-61

82

kaum nasionalis dan komunis.23 Kekhawatiran kelompok muslim pada saat itu adalah mendekatnya kelompok kepercayaan (yang rata-rata ada di pedesaan dan bertani) mendekat kepada kelompok komunis karena adanya agenda Land Reform dari UU Pertanahan pada 1960.24 Faktor lainnya muncul karena kekuatan muslim dalam perpolitikan praktis tinggal satu dalam dua masa tersebut (Orde Lama-Orde Baru) dalam melawan kelompok nasionalis maupun kelompok penghayat.

Keberadaan para peneliti dan media, juga menjadi penghambat bagi eksisnya kelompok kepercayaan. Adanya sebuah penelitian mengenai penghayat kepercayaan, akan dimulai dengan definisi mengenai apa dan bagaimana kelompok tersebut. Penjelasan definisi ini membutuhkan acuan dasar dalam hal pengklasifikasian, dan celakanya, klasifikasi yang digunakan mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh negara. Agama dan pengalaman religious yang dialami oleh kelompok penghayat kepercayaan ini didefinisikan melalui identifikasi yang terstruktur melalui bahasa yang terkadang bahasa tersebut kurang tepat dalam menggambarkannya. Dari sini, ada pergeseran dalam memahami pengalaman religious, yakni dari psikis yang tak beraturan menjadi logis, sistematis dan terbahasakan.

Bagi media, aliran kepercayaan tentu menjadi sebuah ‘bahan berita’ yang menarik.

Kabar buruk yang terjadi pada kelompok penghayat kepercayaan, akan menjadi berita baik bagi para pelaku media (wartawan). Dengan kata lain, berita selalu memilih aspek dari realitas yang paling menonjol dibandingkan aspek yang lainnya. Asas dari dunia jurnalistik, adalah menyampaikan berita dengan cepat, ringkas dan mudah diterima oleh masyarakat. Hanya saja,

23 NU keluar dari Masyumi pada 1952 saat dipimpin oleh KH. Wahab Chasbullah. Di masa Orde Lama, NU menjadi salah satu kekuatan politik umat muslim, hingga akhirnya harusnya bergabung dengan PPP pada 1971 sebagai efek dari kebijakan Orde Baru. Sudirman Tebba, Islam Orde Baru: Perubahan Politik Keagamaan, (Yogyakarta; Tiara Wacana, 1993) , hlm.60

24Robert W. Hefner, Geger Tengger; Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, (Yogyakarta; LKiS, 1999), hlm. 101

83

konsep ini juga akan membawa dampak bagi kelompok religi yang menceritakan pengalaman dan proses ibadahnya. Ada nilai tertinggi yang sebenarnya tidak cukup digambarkan dengan bahasa keseharian manusia, namun dunia jurnalistik membahasakannya dengan ringkas. Para jurnalis, memandang realitas melalui dunia persepsi mereka, yang kemudian persepsi ini dibenarkan melalui proses wawancara dan klarifikasi di lapangan.25

Aliran kebatinan terus mengalami pergolakan di setiap zaman. Meski peradaban bergerak semakin modern (yang mengutamakan sikap positivis-rasional), keberadaan aliran kejawen –yang identik dengan mistik- tetap eksis di masyarakat. Kejawen, di satu sisi terdiskrimiasi dalam masyarakat, namun di sisi lain juga menjadi rujukan orang untuk menempuh laku batin. Ambiguitas dalam kejawen tampak karena ia memiliki aspek yang dibutuhkan oleh beberapa orang (meditasi, semedi, laku batin), namun di sisi lain juga terpinggirkan karena dianggap sebagai aliran yang menyimpang. Persoalan klaim ‘menyimpang’

ini muncul sebagai efek dari kemerdekaan, dan terlebih peristiwa politik di tahun 1945-1965.

Negara, yang hadir sebagai institusi tertinggi, terus memproduksi atau mengeluarkan beberapa kebijakan yang mengatur masalah agama dan kepercayaan di Indonesia. Produk hukum yang terus diperbaharui ini, nyatanya tidak mampu mengangkat dan mengakui kebatinan sebagai salah satu agama/keyakinan di Indonesia. Beberapa produk hukum tersebut diantaranya;26

a. Departemen Agama melaporkan telah ada 360 organisasi kebatinan/kepercayaan.

Terwadahi dalam Badan Koordinasi Kebatinan Indonesia (BKKI). Hal ini terjadi pada masa Orde Lama tahun 1953 yang membentuk Pengawas Aliran Kebatinan

25Persepsi yang digunakan oleh wartawan berfungsi untuk memilih kategori-kategori yang masuk dalam berita mapupun kategori yang tidak termasuk di dalam berita. Namun, ada saja unsur yang tidak masuk dalam kategori berita akan menjadi berita saat dia dianggap ‘menarik’ oleh di pewarta. Eriyanto, Analisis Framming;

Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta; LKiS, 2002), hlm. 118

26 https://news.detik.com/berita/3492198/rekam-jejak-penghayat-kepercayaan-dari-orde-lama-hingga-reformasi diakses pada 11 Oktober 2017

84

b. Lahir Penetapan Presiden (yang nantinya menjadi UU PNPS 1/1965 tentang Penodaan Agama) yang ingin melindungi agama dari penodaan oleh aliran kepercayaan. Setelah peristiwa 30 September 1965, aliran kepercayaan mendapat tekanan besar karenadikaitkan dengan dengan komunisme,

c. Nasib penghayat kepercayaan sempat membaik ketika Golkar membentuk Sekretariat Kerja Sama Kepercayaan (SKK) pada 1970. BKKI lalu bertransformasi menjadi Badan Kongres Kepercayaan Kejiwaan Kerohanian Kebatinan Indonesia (BK5I).

d. Lahir TAP MPR tentang GBHN yang menyatakan agama dan kepercayaan adalah ekspresi kepercayaan terhadap Tuhan YME yang sama-sama sah, dan keduanya setara (tahun 1973).

e. Lahir TAP MPR Nomor 4/1978 yang menyatakan bahwa kepercayaan bukanlah agama, melainkan kebudayaan. TAP ini juga mengharuskan adanya kolom agama (yang wajib diisi dengan satu di antara 5 agama) dalam formulir pencatatan sipil, f. UU Administrasi Kependudukan direvisi, tetapi tetap mendiskriminasikan

penghayat kepercayaan, yaitu dengan adanya Pasal 61 UU Adminduk 2006:

identitas kepercayaan tidak dicatatkan dalam kolom agama,

g. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) telah menandatangani Peraturan Bersama Menteri No. 43/41 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Kepada Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

h. Peraturan Menteri (Permendagri) No. 12 Tahun 2010 yang antara lain memungkinkan penghayat aliran kepercayaan mencacatkan dan melaporkan

85

perkawinan mereka ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sekalipun perkawinan mereka dilangsungkan di luar negeri. Bagi penghayat kepercayaan WNA juga dimungkinkan mencatatkan perkawinan dengan menyertakan surat keterangan terjadinya perkawinan dari pemuka penghayat kepercayaan.

i. Putusan MK tertanggal 7 November 2017, yang mengabulkan permohonan uji materi terkait aturan pengosongan kolom agama pada KK dan KTP. Hal itu diatur dalam Pasal 61 Ayat (1) dan (2), serta Pasal 64 Ayat (1) dan (5) UU No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan juncto UU No 24 Tahun 2013 tentang UU tentang Administrasi Kependudukan. Uji materi diajukan Nggay Mehang Tana (Komunitas Marapu), Pagar Demanra Sirait (Paralim), Arnol Purba (Ugamo Bangsa Batak), dan Carlim (Sapto Dharmo) dengan nomor perkara 97/PUU-XIV/2016.

Titik terang bagi keberadaan aliran kepercayaan secara legal (diakui dalam kolom KTP) muncul, tatkala MK mengajukan permohonan uji materi terkait aturan pengosongan kolom agama pada KK dan KTP . Hal itu diatur dalam Pasal 61 Ayat (1) dan (2), serta Pasal 64 Ayat (1) dan (5) UU No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan juncto UU No 24 Tahun 2013 tentang UU tentang Administrasi Kependudukan.Dalam putusannya, Majelis Hakim berpendapat bahwa kata agama dalam Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk penganut aliran kepercayaan. Artinya, penganut aliran kepercayaan memiliki kedudukan hukum yang sama dengan pemeluk enam agama yang telah diakui pemerintah dalam

86

memperoleh hak terkait administrasi kependudukan.27 Sedangkan di Jawa Timur sendiri, jumlah aliran kepercayaan hingga 2017 tercatat sebanyak 50 aliran kepercayaan, dan 7 diantaranya dinyatakan sudah tidak aktif.28

Putusan MK ini memicu banyak respon dari masyarakat, salah satunya dari ormas yang berbasis Islam. MUI (Majelis Ulama Indonesia) misalnya, menyayangkan putusan MK yang dinilai tidak memiliki dasar UU yang kuat. Legitimasi negara terhadap aliran kepercayaan hanya sebatas pada pengakuan keberadaan tanpa adanya legalitas hukum yang kuat. Produk UU yang mnegatur keberadaan aliran kepercayaan lebih banyak bersifat represif. MUI menambahkan, jika aliran kepercayaan diakui negara dalam kolom KTP, dampak negatife yang muncul adalah akan lahir dan tumbuh aliran kepercayaan baru dalam masyarakat.29 Dalam putusan MK tersebut, penganut kepercayaan dapat mengisi kolom agama di KTP sesuai dengan kepercayaannya. Putusan ini dibacakan oleh Ketua Hakim MK Arief Hidayat di ruang sidang MK di Jakarta Pusat.30 Selain MUI, Majelis Mujahidin Indonesia, melalui ketua Lembaga Lajnah Tanfidziyah MM, Irfan S. Awwas, keberadaan aliran kepercayaan seharusnya tidak dicantumkan dalam kolom agama di KTP. Alasannya, bahwa aliran kepercayaan tidak memiliki obyek kepercayaan yang jelas, antara percaya Tuhan atau klenik (mistik).31

Dukungan terhadap putusan MK ini juga mengalir dari beberapa elemen masyarakat.

Setara Institute (melalui Hendardi/ketua Setara Institue), misalnya, melihat jika putusan MK ini

27 http://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/18573861/putusan-mk-membuat-eksistensi-penghayat-kepercayaan-diakui-negara diakses pada 07 November 2017

28https://tirto.id/seberapa-banyak-jumlah-penghayat-kepercayaan-di-indonesia-cz2y diakses pada 13 November 2017

29 http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/11/07/oz21lp330-mui-khawatir-dampak-putusan-mk-soal-aliran-kepercayaan diakses pada 08 November 2017

30 http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/11/07/oz21lp330-mui-khawatir-dampak-putusan-mk-soal-aliran-kepercayaan diakses pada 08 November 2017

31 http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2017/11/12/54308/majelis-mujahidinputusan-mk-soal-aliran-kepercayaan-bahaya-dan-menyesatkan/#sthash.CDIhfeyn.dpbs diakses pada 12 November 2017.

87

sebagai sikap yang adil dalam memberikan pelayanan pada warga negara sekaligus menghapuskan praktek-praktek diskriminasi terhadap komunitas agama lokal. Selain itu, menurutnya penyebutan agama tanpa memasukan kata kepercayaan adalah bertentangan dengan undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Ormas Muhammadiyah, melalui Sekretaris Umumnya, Abdul Mu’ti juga menyatakan jika putusan MK ini layak diapresiasi karena berani memutuskan perkara yang dianggap sensitive di Indonesia (mengenai kepercayaan dan agama). Menurut Mu’ti, tugas terberat selanjutnya adalah proses pendataan bagi setiap anggota aliran kepercayaan di Indonesia.32

Putusan MK, memunculkan respon-respon yang berbeda dari masyarakat. Bagi yang menolak, putusan tersebut dinilai akan kembali memunculkan penodaan agama (mengacu pada UU PNPS 1/1965 tentang Penodaan Agama) dan kemampuan negara dalam mendata aliran kepercayaan yang tidak sedikit jumlahnya. Di Magelang, Jawa Tengah, terdapat setidaknya 40 aliran kepercayaan.33 Sedangkan 60 aliran kepercayaan di Jawa Tengah telah musnah/tidak aktif pada kurun waktu tahun 2013. Dari sumber yang sama, jumlah aliran kepercayaan di Jawa Tengah mula-mula sebanyak 396 dan 60 diantaranya, dinyatakan tidak aktif.34 Ketidaktifan ini disinyalir sebagai imbas dari disahkannya Undang-Undang Administrasi Kependudukan, di mana salah satu pasalnya, yakni pasal 64 ayat (1), menyatakan setiap warga negara Indonesia harus memilih satu di antara enam agama yang diakui pemerintah sebagai identitas dirinya.

32 http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/09/oz5kig409-sikap-muhammadiyah-atas-putusan-mk-soal-aliran-kepercayaan diakses pada 10 November 2017

33http://jogja.tribunnews.com/2017/11/09/ada-40-kelompok-aliran-kepercayaan-di-magelang diakses pada 10 November 2017

3460 aliran kepercayaan yang musnah itu terdiri dari; 8 aliran kepercayaan di Semarang, 3 di Kudus, 5 di Blora, 3 di Brebes, 6 di Slawi, 4 di Solo, 11 di Klate, 5 di Wonogiri, 8 di Purworejo, 6 di Wonosobo, dan 2 di Mungkid. Di Semarang, aliran kepercayaan dan kelompok penghayat yang sudah hilang adalah Kawruh Kodratullah, Gaibing Pangeran, Agama Islam Alim Adil, Children of God, Darul Hadist, Inkarussunnah, Agama Jowo Sanyoto, dan Satrio Sejati. Sumber; https://nasional.tempo.co/read/532912/60-aliran-kepercayaan-di-jawa-tengah-musnah diakses pada 10 November 2017

88

Dari semua produk hukum ini, TAP MPR Nomor 4/1978 adalah peraturan yang memiliki imbas kepada aliran kebatinan hingga saat ini. Artinya, produk hukum yang keluar setelah 1978, hanyalah sebagai penguat dan tidak membawa perubahan apapun pada status aliran kebatinan. Produk hukum di tahun 2010 melalui Permendagri No. 12 Tahun 2010, faktanya juga tidak sepenuhnya dijalankan dengan baik (yang berisikan status penganut aliran kepercayaan dalam KTP). Terbukti, dengan adanya gugatan dari Empat penghayat kepercayaan, yaitu Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba, dan Carlim, yang mempersoalkan Pasal 61 ayat 1 dan 2 UU Administrasi Kependudukan ke MK pada 2016 lalu (pencatatan sipil aliran kebatinan dalam kolom identitas). Hal ini menunjukkan, pasca berdirinya republik ini, keberadaan aliran kebatinan/kejawen terus mendapatkan tekanan di bidang hukum (legalitas).

Menghadapi berbagai serangan diskriminatif, tak membuat penghayat kepercayaan hilang dan bubar begitu saja. Respon aliran kepercayaan di Indonesia terhadap pola diskriminasi tersebut memiliki banyak model. Adakalanya mereka bekerjasama (akomodasi), konflik dan negosiasi. Sikap dari aliran kepercayaan ini memiliki alasan tersendiri hingga dia memutuskan untuk mengambil sikap tertentu. Sikap kerjasama ditunjukkan oleh aliran-aliran kepercayaan tidak memiliki akses lobi dalam pemerintahan ataupun mereka yang tidak memiliki jumlah anggota yang banyak. Mereka uumumnya, memilih masuk dan berpindah ke agama lain demi menyelamatkan diri (peristiwa 65) atau setiidaknya agar hak sebagai warga negara tidak tercabut dari dirinya. Sikap ini muncul saat UU PNPS 1965 digunakan elite politik untuk klasifikasi agama dan afiliasi perpolitikan. Sikap kerjasama dengan pemerintah ini, terjadi tidak saja karena kondisi politik yang mengancam, tetapi juga bisa karena jumlah penghayat kepercayaan yang sedikit sehingga kecil kemungkinan untuk bertahan lama. Dalam praktek kehidupan, sikap ini

89

mengakui jika ia memeluk salah satu agama resmi, namun dalam kenyataannya, mereka tetap menjalankan ajaran kepercayaannya.

Sikap berkonflik dengan Pemerintah banyak ditunjukkan oleh penghayat kebatinan yang memiliki jumlah anggota besar dan memiliki sejarah panjang kelompok. Kelompok Samin, misalnya, hingga hari ini merespon sikap negara dengan konfrontatif. Pengikut Saminisme menolak mengisi kolom agama dalam KTP, menolak sekolah formal, serta tidak bekerja selain menjadi seorang petani. Sikap ini ditunjukkan oleh kelompok ini jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada zaman kolonialisme.35 Sedulur Sikep (Samin) memilih jalan ini sebagai jalan untuk melawan penindasan negara terhadap aliran kepercayaan. Dalam persoalan administrasi negara, kelompok Samin mendapatkan pelayanan dalam mengurus beberapa hal, misalkan akta kelahiran. Akta kelahiran anak dari kelompok Samin ini hanya tertulis nama ibunya, karena kedua orangtuanya tidak mendapatkan surat pernikahan dari negara (sebagai efek dari tidak adanya kolom agama dalam KTP).36

Sikap terakhir yang ditunjukkan adalah negosiasi. Pada pola ini, aliran kepercayaan bersedia bekerjasama dengan pemerintah dengan mencatumkan kolom agama resmi misalnya, tetapi dengan menambahkan nama aliran kepercayaannya. Kelompok Kaharingan di Kalimantan adalah kelompok yang melakukan pola hubungan negosiasi ini, dimana nama kepercayaan yang tercantum dalam catatan negara adalah Hindu Kaharingan. Negosiasi ini bisa terjadi jika kelompok kepercayaan terkait mampu melakukan perlawanan balik terhadap negara. Penamaan Hindu Kaharingan bukan berarti mereka menyembah dan melakukan ritual yang sama dengan kelompok Hindu di Bali. Kelompok Kaharingan tetap menjalankan tradisi nenek moyangnya,

35Ahmad Syafi’i Mufid, Dinamika Perkembangan Sistem Kepercayaan Lokal di Indonesia, (Jakarta;

Puslitbang Kemenag RI, 2012), hlm. 178

36Ibid, . . . , hlm. 194

90

yakni pemujaan terhadap roh.37 Perjuangan kelompok Kaharingan dimulai dari 1955 saat membentuk SKDI dan ikut dalam proses pemilu 1955. Meski menduduki beberapa pos jabatan di Pemerintah, Kaharingan masih belum diakui hingga 1979. Persoalan bagi Kaharingan, utamanya dalam bernegara, menjadi ringan saat perjuangan mereka ternyata berhasil berdasarkan SK.0.

H/37/SK/1980 tanggal 19 April 1980 dari Departemen Agama Republik Indonesia yang mengukuhkan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan berubah menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan berpusat di Palangkaraya.38

Dengan memperoleh jaminan dari MK, ada harapan bagi kelompok penghayat kepercayaan mendapatkan hak-haknya kembali. Ada hal yang mungkin menjadi dilema bagi kelompok penghayat kepercayaan jika saja putusan MK ini berjalan lancar. Pertama, jika negara memberikan hak yang sama kepada kelompok aliran kepercayaan dan mengakuinya sebagai sebuah agama, maka proses rekonstruksi ajaran mungkin terjadi. Kedua, Sebagian besar dari pengikut aliran kepercayaan, kiranya hanya menginginkan ‘pengakuan’ yang sama dari negara mengenai keberadaannya. Pengakuan tersebut tidak hanya tertera dalam Kartu Tanda Penduduk semata (kolom agama), melainkan juga merubah cara pandang negara dan masyarakat umum mengenai aliran kebatinan. Ketiga, kelompok kepercayaan bisa jadi akan kehilangan bentuk aslinya karena proses adaptasi definisi agama versi negara. Namun, hal sebaliknya mungkin pula terjadi, bahwa aliran kepercayaan akan tetap mempertahankan ciri khas dan otensitas ajarannya.

Sejarah pengawasan Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) di Indonesia, tidak lain sebenarnya adalah bentuk penundukan dan penguasaan atas kebebasan berekspresi. Lebih

37Achmad Rosidi, Perkembangan Paham Keagamaan Lokal di Indonesia, (Jakarta; Puslitbang Kemenag RI, 2011), hlm. 245

38Pada pemilu 1955, SKDI memperoleh satu kursi di DPRD Tingkat II Kapuas ada Pemilu 1971 SKDI

38Pada pemilu 1955, SKDI memperoleh satu kursi di DPRD Tingkat II Kapuas ada Pemilu 1971 SKDI