PENGIKUT PAMU DAN MARJINALISASI
B. Represi Negara; Antara Dikuasai dan Menguasai
Kenyataan atas represi negara tidak bisa dilepaskan dari konsep-konsep pendukungnya; hegemoni dan dominasi. Represi merupakan perpanjangan dan alat untuk
123
melancarkan berjalannya sistem hegemoni. Penjelasan sub bab ini, meletakkan represi sebagai bagian dari konsep hegemoni. Formula utama dari hegemoni adalah menguasai kesadaran kolektif masyarakat tanpa perlawanan. Masyarakat sendiri tidak menyadari jika mereka sudah masuk dalam jaring-jaring kuasa hegemoni. Di sini, represi berperan sebagai alat/cara menanamkan kesadaran yang sudah didesain untuk diterima tanpa perlawanan oleh masyarakat.
Subyek pelaku represi dalam penelitian ini adalah negara, lembaga serta produk-produk kebijakannya.
Membaca negara sebagai pranata sosial, setidaknya harus dimulai dari membaca elemen-elemen pembentuknya. Elemen negara populer disebut sebagai aparatur negara yang meliputi kelembagaan, tata laksana dan kepegawaian. Mengenali negara melalui bentuk dan tindakan aparaturnya akan memudahkan mengenali apa yang diinternalisasikan negara kepada rakyatnya, termasuk tindakan kekerasan. Faktor politik dan ekonomi yang sering memicu munculnya kekerasan memiliki kinerja yang sistematis, baik secara fisik (pelaksanaan) maupun saat masih dalam bentuk rancangan ide. Kepentingan politik berkaitan dengan tawar menawar ideologi yang dilakukan oleh negara untuk menundukkan masyarakat. Bahasa ‘negosiasi’ kerap digunakan untuk mengganti kata ‘menguasai-menundukkan’. Misalnya, menjelang pemilu, seorang calon pemimpin akan mendekati kelompok apapun yang sekiranya menguntungkan dalam pemmilihan. Ketika semua kelompok dirangkul oleh calon pemimpin tersebut, maka negara dilihat sedang menampilkan ‘harmoni toleransi’. Ketika kelompok minoritas dirangkul, kata kepedulian dan melindungi rakyat lemah akan dengan sendirinya muncul ke publik.
Analisis ekonomi lebih rigit lagi. Kekerasan yang bermotif dan didekati dengan perspektif ekonomi akan mempengaruhi jalan politik negara. Perebutan alih fungsi lahan untuk pembangunan, akan menentukan bagaimana negara membangun citra sebagai institusi yang
124
berhasil dan sukses. Negara sering lebih ramah dengan investasi kapital dibandingkan dengan konsekuensi atau dampak sosial yang akan muncul. Kekuatan modal ekonomi menjadi salah satu elemen penting bagaimana negara memainkan perannya terhadap kelompok-kelompok sosial dibawahnya. Terlebih, jika penguasa menggunakan jargon ‘semangat pembangunan’, bisa dipastikan kelompok-kelompok masyarakat tertentu (minor) akan terpinggirkan. Singkatnya, pada kasus konflik sosial yang bermotif ekonomi-politik, akan ditentukan oleh kekuatan modal/basic ekonomi yang dimiliki masing-masing kubu. Dua entitas ini (ekonomi-politik) selanjutnya akan membingkai negara dan menentukan nasib kelompok masyarakat; dipaksa dengan kekerasan fisik (melalui aparat) atau dipaksa dengan otoritas simbolik.
Dipaksa dengan kekerasan fisik dapat berwujud pada penggusuran, perampasan tanah, transmigrasi dan intimidasi agar warga lokal meninggalkan daerahnya. Pemaksaan simbolik lebih ekstrem lagi, mencitrakan suatu kelompok penentang sebagai yang buruk dan berbahaya. Buruk disini diwakili misalnya dengan kata; susah diatur, kuno, tradisional dan terbelakang. Sedangkan kategori berbahaya dibungkus dengan bahasa yang lebih mengerikan;
kelompok penentang, mengancam stabilitas negara dan mengganggu keamanan-ketertiban nasional. Pemaksaan fisik dapat diartikan bahwa konsep ekonomi-politik yang dijalankan negara menjelma menjadi eksekutor-eksekutor lapangan. Satpol PP, polisi, tentara dan ormas yang melakukan represi terhadap masyarakat bisa masuk dalam kategori ini. Negara tidak langsung saja melakukan kekerasan demi membangun citra baik. Dibutuhkan piranti yang membenarkan segala tindakan represif tersebut, yaitu otoritas simbolik.
Pemaksaan melalui jalan simbolik terpusat pada klaim-klaim penguasa tentang
‘yang benar dan yang salah’. Aktor-aktor yang mempunyai otoritas tersebut berpendapat dan membenarkan tindakan represif tersebut. Wujud dari aktor tersebut memiliki beberapa kategori;
125
aktor intelektual (ilmuan, akademisi, peneliti), pemimpin karismatik (kepala suku, pemimpin agama, tokoh masyarakat), pejabat (departemen, kementerian, bupati, walikota, gubernur), organisasi (LSM, ormas) dan media massa. Setiap aktor mengeluarkan produk untuk melegitimasi tindakan negara yang berupa buku, kebijakan (UU), hasil penelitian, karya ilmiah, teori ataupun berita-berita di media. Jika kinerja represif bermain di wilayah adu fisik, otoritas simbolik bermain di kata-kata, himbauan, ajakan dan istilah-istilah ilmiah. Kerja simbolik bermain di teks dan diskursif, yang artinya menyerang mental-psikis korbannya. Pendisiplinan masyarakat tidak membutuhkan kehadiran aktor seperti kinerja represif fisik, melainkan hanya melalui mekanisme hegemonik dan ideologis.
Pendekatan ekonomi untuk mengurai konflik di lapangan memiliki banyak corak, salah satunya Marxisme. Contoh diatas merupakan diantara sebagian. Memakai pendekatan materi (sumber produksi, barang) adalah ciri dari metode yang sering digunakan oleh Karl Marx.
Sebaliknya, pendekatan tataran ideologi untuk mempengaruhi dan menguasai rakyat dicontohkan oleh Louis Althusser. Kepentingan negara dengan kelompok-kelompok lokal di Indonesia seringkali saling bertentangan. Sebaliknya, ada pula kelompok-kelompok masyarakat yang justru mendukung program dan agenda negara tanpa meninggalkan tradisi, kebiasaan dan adat istiadatnya. Pertentangan negara-kelompok masyarakat di Indonesia lebih disebabkan kepada perebutan hak ruang hidup dan eksistensi. Hak ruang hidup berkaitan dengan sumber daya ekonomi. Eksistensi berkaitan dengan legitimasi keberadaan kelompok lokal ditengah kehidupan yang semakin modern. Dua hal ini (ekonomi-eksistensi) berkelindan dalam konflik-konflik sosial. Misalnya saja, kita dapat melihat negara-Suku Samin di Jawa Tengah. Negara ingin menjadikan kawasan karst sebagai pabrik semen berplat merah, namun ditolak oleh Suku Samin.
Masing-masing memiliki alasan; yang satu ingin mengejar profit ekonomis (negara) sedangkan
126
satunya ingin mempertahankan lahan dan warisan leluhur (Samin). Kekerasan fisik dan simbolik sudah jelas tampak pada kasus ini. Bagaimana Samin digambarkan sebagai orang yang ‘susah diatur’ dan negara sebagai ‘perampok hak milik masyarakat’.
Suatu negara selalu berusaha menundukkan rakyatnya dengan cara-cara yang beragam. Secara teori Marxis, untuk memuluskan penguasaan tersebut, negara harus menguasai dua hal penting; ekonomi dan wacana/pengetahuan. Keduanya selalu beriringan, yang artinya, dimana basic ekonomi dapat dikuasai, maka wacana yang berkembang di masyarakat pun dapat dikendalikan negara. Formula lain, jika basic ekonomi dikuasai namun tidak dengan wacananya, akan menimbulkan kekerasan simbolik yang berupa sindirian, cemooh dan yang paling parah, konflik fisik model aliansi. Pun dengan formula yang terakhir dengan model penguasaan wacana tanpa adanya basic ekonomi yang kuat. Cara ini dinilai yang akan membuat munculnya konflik fisik berdarah. Hubungan antara negara dan kelompok-kelompok sosial digambarkan memiliki ciri khusus yang pasti, bahwa negara sebagai institusi pemegang kuasa ekonomi dan kelompok masyarakat tertentu sebagai penguasa wacana (bertentangan dengan negara). Melihat kasus-kasus ketegangan negara-kelompok sosial hari ini, asumsi ini tidak sepenuhnya salah.
Contoh kasus di komunitas Baduy Urang Kanekes memperlihatkan bagaimana negara menguasai kapital ekonomi melawan kelompok Baduy yang menguasai wacana kearifan sukunya.3 Pemerintah/negara disatu sisi menghendaki pertumbuhan dan pengembangan ekonomi masyarakat desa, namun disisi lain konsep ini membawa kerugian seperti kerusakan alam, sampah dan hilangnya nilai sakral dalam masyarakat. Kasus gesekan Purwa Ayu dan negara hadir dalam upaya mengelola obyek wisata Telaga Ngebel. Sejak pertama, kelompok Purwa Ayu adalah bagian masyarakat yang aktif memprakarsai dan menjalankan tradisi tolak bala, Larung Sesaji. Dari sisi ritual dan jalannya acara, Purwa Ayu adalah penguasanya. Diranah kebijakan
3Laporan https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51370450 diakses pada 3 Maret 2020
127
negara (Dinas Pariwisata), cerita itu beda lagi. Purwa Ayu hanya diposisikan sebagai ‘mitra’
negara untuk meraih keuntungan ekonomi. Selain tidak memiliki wakil di dewan pengambil kebijakan, Purwa Ayu lebih memilih membantu pemerintah di balik layar.4 Menurut salah satu sesepuhnya, jauh sebelum adanya Larung Doa, Purwa Ayu sudah aktif membantu pemerintah dalam proyek-proyek pembangunan secara sukarela.5
Hubungan kemitraan Purwa Ayu di Ngebel dengan negara merupakan hubungan yang kompleks. Dilihat sekilas memang biasa dan tidak ada yang aneh. Namun, jika dikaitkan dengan kasus-kasus negara dengan kelompok penghayat minoritas, hubungan keduanya seperti sama-sama mencari ‘aman’. Pemerintah memiliki ketergantungan kepada Purwa Ayu dalam proyek ‘wisata budaya’. Sebaliknya, Purwa Ayu mendapatkan jaminan keamanan dan fasilitas dari negara atas apa yang telah diberikan kepada negara. Tak hanya itu saja, kemampuan anggota Purwa Ayu dalam bersosial di masyarakat juga menjadi pertimbangan negara dalam mengambil kebijakan terkait eksistensi penghayat ini. Suatu kelompok yang unik, sendiri, tertutup dan resisten terhadap kebijakan negara, tentu berpotensi besar memicu ketegangan. Purwa Ayu tidak demikian. Ia ada, berbaur, terbuka dan berkontribusi pada program-program pemerintah. Bisa jadi, ini adalah bentuk siasat yang dilakukan Purwa Ayu untuk tetap menjalankan ajarannya tanpa ada ancaman dari kelompok/lembaga lain.
Kepemimpinan penguasa dalam suatu negara identik dengan hegemoni.
Penguasaan total sebuah negara harus memiliki dua unsur pokok; kepemimpinan dan dominasi.
Kepemimpinan ditujukan kepada rakyat, lembaga, kawan-sekutu dan aparatur negara.
4Kontribusi warga Purwa Ayu di acara Larung Doa Telaga Ngebel antara lain; membuat ubo rampe berupa Buceng Purak, kumpul kadhang penghayat, selamatan dan tirakatan. Wawancara dengan Hartono, juru kunci Telaga Ngebel, pada 3 Maret 2020.
5Pembangunan gedung Koramil Ngebel, SDN I Ngebel hingga Kantor Kecamatan adalah proyek pemerintahan yang diikuti oleh Purwa Ayu. Mereka tidak mendapat bayaran dari pekerjaannya. Hingga kini, gedung-gedung tersebut masih ada. Wawancara dengan Yatni, sesepuh Purwa Ayu Dusun Nglingi, Ngebel.
128
Sebaliknya, dominasi diperuntukkan untuk lawan politik. Jika penguasaan dua hal ini berlanjut, apa yang dinamakan ‘hegemoni’ akan berjalan dengan baik. Konsep hegemoni berjalan melalui banyak cara; kekuatan, persetujuan, paksaan/dominasi dan kepemimpinan intelektual-moral.
Konsep hegemoni dilakukan melalui dua cara; dominasi dan kepemimpinan intelektual-moral.
Dominasi dilakukan dengan paksaan, dalam arti lain memakai kekuatan (force). Kekuatan disini termanifestasikan dalam bentuk aparatur negara (militer, polisi). Kepemimpinan intelektual dapat berwujud dari para ahli sains, sastrawan dan profesi lain yang memiliki satu ideologi tetap.
Dengan kata lain, hegemoni adalah kemenangan suatu kelompok/kelas atas yang lain dengan mekanisme konsesus (persetujuan) secara sadar dan tidak melalui jalan kekerasan.
Titik tolak hegemoni dijelaskan oleh pendahulu Althusser, Antonio Gramsci, berasal dari konsensus (perjanjian-kesadaran).6 Artinya, bahwa apa yang dialami masyarakat disadari betul sebagai bagian dari rencana kelompok penguasa. Kesadaran masyarakat untuk tunduk dan patuh terhadap penguasa disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adanya rasa takut, paksaan dan persetujuan. Hegemoni mengacu pada sebab terakhir (persetujuan), bahwa apa yang didesain oleh penguasa, disetujui dan dilaksanakan oleh rakyat. Sebagian orang mungkin memiliki alasan untuk menerima konsensus mengikat itu meski tak menutup kemungkinan ada sebuah perlawanan. Rasa takut terhadap konsekuensi-konsekuensi sosial ataupun terbiasa dengan cara tertentu untuk mencapai sebuah tujuan adalah alasan lumrah untuk menerima konsensus hegemoni. Desain penguasa yang hegemonik tersebut meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan segala lini kehidupan masyarakat. Titik puncak hegemoni terjadi ketika masyarakat melakukan desain-desain sosial ciptaan penguasa dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan, biasa dan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Dalam
6Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci; Negara dan Hegemoni, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2003), hlm.123
129
masyarakat kapitalisme, pola hidup buruh yang menerima sistem kerja selama 8 jam, mendapatkan bonus gaji dan penentuan upah minimum adalah sebagian dari cara kerja hegemoni di bidang ekonomi.
Bagi Marx, bukan hanya sumber daya alam dan sistem ekonomi yang menjadi bagian dari dialektika materialisme. Ideological superstructure (ideologi kelembagaan) menjadi penyokong dari berjalannya kuasa pemodal terhadap buruh. Marx menilai, jika penguasaan ideologi penguasa dapat berjalan seiring dengan penguasaan sumber daya dan sistem ekonomi tertentu. Material ekonomi (sumber daya-sistem) menjadi barang utama yang penting untuk menentukan perjalanan dan perubahan dialektika sejarah manusia. Selebihnya, akan memunculkan pertentangan-pertentangan antar kelompok. Perubahan-perubahan sarana fisik yang berpengaruh pada tatanan sosial ekonomi seperti alat-alat produksi, mesin dan teknologi, selanjutnya disebut sebagai base structure (struktur dasar/utama). Ideologi, menurut Marx, difungsikan untuk menyadarkan kelas buruh bahwa mereka adalah korban dari penindasan kelas borjuis. Satu-satunya jalan yang bisa meruntuhkan kekuasaan kelas borjuis/penguasa adalah dengan merebut base structure.
Hegemoni dipandang sebagai ide dalam kontrol sosial. Menurutnya, agar yang menguasai mematuhi dan menginternalisasi nilai-nilai/norma penguasa, maka yang dikuasai juga harus memberikan persetujuan atas subordinasi tersebut. Dalam bahasa lain, hegemoni adalah penguasaan dengan kepemimpinan moral dan intelektual lewat sebuah konsensus. Disinilah letak perbedaan hegemoni antara milik Marx, Gramsci maupun Althusser. Jika konsep hegemoni Marx hanya terbatas pada kelas borjuis-proletariat, Gramsci melihatnya lebih luas; supremasi suatu kelompok atas lainnya dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Althusser berbeda lagi;
melihat hegemoni (represi) dilakukan oleh apparatus negara untuk menundukkan kelompok
130
masyarakat. Supremasi yang dilakukan oleh suatu kelompok tentu berbeda dengan makna dominasi, yaitu kekuasaan yang ditopang oleh kekerasan fisik. Hegemoni bermain di wilayah kesadaran, pola pikir, konsensus dan kebiasaan masyarakat. Masyarakat tak dapat meruntuhkan kekuasaan kelas penguasa negara, selama tidak menguasai gagasan dan konsep kehidupan sosial.
Lembaga negara telah menciptakan sekat-sekat sosial di kelompok masyarakat.
Negara merupakan bentuk paksaan dan hegemoni. Kelas penguasa membentuk dan mempertahankan kuasanya atas sipil dengan menciptakan konsensus politik dan kebudayaan melalui beberapa bidang, seperti, serikat, kelompok buruh, sekolah, media, institusi keagamaan dan lembaga-lembaga sosial masyarakat. Pada satu titik, hegemoni dapat dipahami sebagai kekuatan politik yang mengalir dari kepemimpinan moral dan intelektual otoritas. Serupa tapi tak sama dengan yang terjadi di kalangan militer. Penguasaan tersebut selalu melampaui kelompok sosial. Artinya, tidak hanya satu kelompok/kelas dan berjangka panjang. Kuasa budaya mungkin bisa menggantikan arti ‘melampaui’ tersebut. Pada level ini, merebut kuasa hegemoni tidak relevan lagi jika menggunakan perspektif Marxis Ortodoks yang mengutamakan penguasaan basic struktur. Masyarakat tidak akan memenangkan kekuasaan dirinya secara nyata jika tidak
menciptakan para intelektualnya sendiri. Intelektual mandiri atau organik, adalah mereka yang tidak terikat maupun dibesarkan oleh institusi di luar masyarakat sendiri. Dalam kajian hegemoni, intelektual organik adalah mereka yang lahir dan tumbuh beserta dengan perkembangan suatu masyarakat tertentu.
Keberadaan superstructure menjadi lebih penting jika dibandingkan dengan base structure saat dibicarakan dalam ruang hegemoni. Ringkasnya, hegemoni yang dimaksudkan Gramsci dapat dipahami dengan tiga bentuk; pertama, koreksi terhadap ideologi yang sedang berproses di masyarakat. Ideologi sendiri memiliki dua wajah, sebagai tindakan sosial dan
131
mentalitas. Aspek sosial kehidupan manusia (filsafat, politik, ekonomi, budaya) bermain di wilayah kesadaran manusia. Kesadaran manusia selanjutnya mengolah hal tersebut menuju
‘paham’ dan masuk ke dalam mental-karakter individu. Saat aspek sosial tersebut masuk ke dalam mental semata, maka itu hal tersebut tidak masuk kategori sebuah ‘ideologi’, melainkan pola pikir. Sebaliknya, yang disebut ideologi adalah ketika kesadaran manusia mengolah aspek-aspek kehidupan, masuk ke dalam mentalitas dan selanjutnya berbentuk menjadi karakter/tindakan sosial. Kajian hegemoni menjadi seperangkat alat untuk melihat lebih jauh proses-proses sosialisasi di masyarakat, yang cenderung bersifat politis dan dikehendaki oleh penguasa/kelas tertentu.
Kategori kedua, hegemoni sebagai common sense. Masyarakat diatur oleh prinsip-prinsip moralitas, dogma politik dan kebudayaan yang mengakar. Penguasa/kelas tertentu menanamkan hal tersebut secara paksa, berulang dan dengan bentuk yang mudah. Dampaknya, masyarakat akan menerima prinsip-prinsip tersebut secara sukarela dan alamiah. Ketiga, hegemoni berperan sebagai leadership. Selain kekerasan, ajakan persuasif adalah modal utama dalam menanamkan hegemoni. Wajah intelektual (subyek) dari hegemoni itu dengan sendirinya pasti ada. Karena ia bersubyek, maka hegemoni memiliki pencetus dan berfungsi sebagai seorang pemimpin (leader). Dari premis-premis ini kemudian bisa ditarik ukuran keberhasilan hegemoni; jika ada kesukarelaan, kesadaran dan penerimaan yang tinggi dari masyarakat. Cara melihat kekuasaan perspektif ini, sekali lagi, berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Karl Marx. Merebut kuasa kelas penguasa tidak semata dengan jalan revolusi base structure (SDM, SDA, modal, alat produksi), tetapi juga melalui kesadaran-intelektual masyarakat.
Represi dan hegemoni lahir dari hubungan produksi masyarakat kapitalisme.
Korelasi keduanya sangat terikat dan saling berpengaruh satu sama lain. Hal ini tentu berbeda
132
jika membicarakan represi dalam bingkai masyarakat non-produksi ekonomi. Titik temu antara represi ekonomi dan sosial terletak pada komitmen untuk menerima sebuah konsensus/peraturan.
Kunci dari hegemoni apparatus negara (ISA) adalah menerima segala yang terjadi di kehidupan sosial secara sukarela dan wajar. Komitmen aktif ini didasarkan pada pandangan bahwa ada nilai tertinggi yang secara sah diakui oleh seluruh komunitas masyarakat. Dalam masyarakat ekonomi kapitalis, keberadaan sumber daya (modal-alat) salah satu penentu utama untuk menciptakan hegemoni. Paradigma ini diyakini juga masih di masyarakat yang tidak terbentuk dari hubungan produksi ekonomi kapitalis. Pada masyarakat tertentu, hegemoni bisa muncul melalui berbagai saluran; kepemimpinan kharismatik, media dan institusi masyarakat. Saluran hegemoni non-ekonomi akan menggunakan bahasa sebagai piranti utama. Bahasa menjadi alat untuk menanamkan hegemoni, meskipun dalam bentuk kekerasan fisik sekalipun.
Hubungan negara dengan kelompok minoritas, seperti Purwa Ayu, rentang mengandung unsur-unsur hegemoni. Cara paling efektif adalah dengan melihat fakta sosial yang terjadi di masyarakat seperti anggapan jika kelompok penghayat itu ‘menyimpang’. Meskipun mereka memiliki keyakinan kepada Yang Kuasa, tetaplah dianggap sebagai ‘tak beragama-berkeyakinan’. Hubungan dua institusi ini adalah hubungan yang terjadi di luar ranah produksi ekonomi, sehingga pendekatan, model dan sarana konfliknya berbeda. Sebagian orang meyakini, kelompok minoritas selalu bertahan dan melawan hegemoni yang ditanamkan negara yang berwujud ‘stigma’. Secara hukum, stigma atau pelabelan kepada kelompok minoritas bersifat legal karena berbentuk undang-undang dan peraturan pemerintah. Itu artinya, bahwa masyarakat dipaksa untuk bersepakat menyetujui peraturan tersebut. Dari persoalan yang lebih komplek;
politik. Sejarah pengakuan kelompok penghayat di Indonesia hingga hari ini adalah sejarah
133
perebutan suara di parlemen. Hak suara kelompok minoritas dibungkam, meskipun disisi lain keberadaan mereka dibutuhkan untuk tujuan-tujuan politik.
Titik tolak hegemoni tidak bisa dilepaskan dari konsep masyarakat sipil dan negara. Sebagai seorang Marxisme, Louis Althusser berpijak pada pendahulunya; Hegel, Karl Marx dan Freiderich Engels. Hegel mengartikan masyarakat sipil sebagai perkembangan dari hubungan-hubungan ekonomi yang pada akhirnya menentukan struktur politik (negara). Marx dan Engels berbeda lagi. Mereka memandang masyarakat sipil sebagai penentu (struktur) dari hadirnya sebuah negara yang berwujud hubungan produksi ekonomi. Ketiga pendahulu Althusser ini meletakkan masyarakat sipil sebagai struktur (base structure). Keseluruhan dari dinamika hubungan-hubungan produksi ekonomi mendorong kemunculan superstruktur yang politis dan hegemoni. Negara diposisikan sebagai subordinat dari masyarakat. Dua hal ini menjadi dialektika antitesis Marxis; masyarakat menguasai negara, hubungan ekonomi/base structure menguasai superstructure. Kesadaran sosial yang tercipta dari dialektika ini selalu dan
pasti berasal dari realita base structure. Masyarakat sipil adalah bentuk totalitas dari hubungan-hubungan produksi ekonomi (basis struktur).7
Bagi Althusser (juga Antonio Gramsci), superstructure menentukan model base structure. Superstructur mewakili masyarakat sipil yang terbentuk dari hubungan-hubungan
budaya yang komplek. Ada banyak bidang yang berkelindan dalam hubungan budaya ini; politik, sosial, ekonomi, intelektual, spiritual dan kebiasaan. Baginya, kekuasaan negara dan masyarakat sipil tidak selamanya ditentukan oleh hubungan-hubungan produksi. Atau setidaknya, ada banyak variasi elemen ekonomi dalam mempengaruhi jalannya sebuah otoritas. Hal ini juga berlaku sebaliknya; kenyataan ekonomi dapat ditentukan oleh pola/model kuasa negara maupun
7 Ibid, hlm.136
134
masyarakat sipil. Gramsci menjelaskan ada tiga elemen yang saling mempengaruhi dalam masyarakat kapitalisme modern; ekonomi (mode of production), negara dan masyarakat sipil.
Ekonomi dalam masyarakat kapitalisme, seperti umumnya logika Marxis, merupakan hubungan-hubungan produksi yang melibatkan manusia, sumber daya, modal, alat produksi, sistem ekonomi dan pasar. Laju perekonomian di suatu daerah akan memberi dampak signifikan terhadap otoritas, kepemimpinan dan kelembagaan pemerintah. Negara sebagai apartur dan lembaga tertinggi, memungkinkan menjalankan perannya yang represif demi tercapainya tujuan-tujuan ekonomis. Kembali kepada perspektif Marxis, jika kebijakan negara akan dipengaruhi oleh aspek hubungan ekonomi masyarakatnya. Disini, kelompok pasca Marx, seperti Althusser meyakini jika kondisi ekonomi bisa saja terbalik; pola pemerintahan akan mempengaruhi pemikiran dan gerakan kelompok masyarakat. Masyarakat sipil berdiri sendiri dengan dialektikanya karena telah melalui fase perjalanan lebih panjang dibandingkan dengan konsep negara itu sendiri. Masyarakat sipil adalah institusi yang berbeda dari negara maupun sistem ekonomi. Ia bisa menjelma sebagai budaya, religiusitas, adat istiadat dan hubungan sosial.
Konsep represi ideologi Louis Althusser terasa relevan jika dikaitkan dengan konflik yang melibatkan negara dan sipil dalam konteks hubungan sosial. Motif ekonomi yang selama ini lekat dengan persoalan perebutan kuasa sumber daya dan politik tidak lepas begitu saja. Ia berjalan seiring dengan ketegangan tersebut, baik dalam rupa mempengaruhi, menjadi sebab maupun sebagai akibat yang ditimbulkan. Di Indonesia, ketegangan antara negara dengan kelompok minoritas lebih dekat pada lingkup pengakuan identitas. Dari soal identitas ini,
Konsep represi ideologi Louis Althusser terasa relevan jika dikaitkan dengan konflik yang melibatkan negara dan sipil dalam konteks hubungan sosial. Motif ekonomi yang selama ini lekat dengan persoalan perebutan kuasa sumber daya dan politik tidak lepas begitu saja. Ia berjalan seiring dengan ketegangan tersebut, baik dalam rupa mempengaruhi, menjadi sebab maupun sebagai akibat yang ditimbulkan. Di Indonesia, ketegangan antara negara dengan kelompok minoritas lebih dekat pada lingkup pengakuan identitas. Dari soal identitas ini,