• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Persidangan atas kasus Janji Kawin

Bab 2 Integritas Tubuh Perempuan Korban Tidak Dipenuhi-

D. Putusan Persidangan atas kasus Janji Kawin

Dalam memutus suatu perkara, hakim melakukan proses membaca dan mengkaji lebih mendalam dari sudut pandang hakim dalam melakukan penafsiran. Dengan membaca peraturan, tidak saja menggunakan logika peraturan, namun juga logika sosial. Dengan logika ini, bertujuan untuk memberi makna yang disesuaikan dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat saat ini. Demikian juga berkaitan dengan kasus janji kawin. Hal ini berkaitan dengan putusan yang memper- timbangkan keadilan untuk perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dengan melakukan analogi. Penafsiran yang berusaha mencari makna sebuah keadilan untuk perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin.

Di sini, hakim mencoba mencari tujuan dari pemben- tukan aturan dengan melakukan penafsiran terhadap undang- undang yang berlaku. Dengan penafsiranya mencoba menelusuri keterkaitan satu rumusan dengan rumusan dalam peraturan lainnya dalam suatu sistimatika perundangan. Rumusan ini, dirasakan perlu untuk mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh perempuan.

Penafsiran bertujuan untuk keadilan dan memuliakan manusia dalam hakikat perlindungan terhadap hak asasi manusia. Khususnya kaum perempuan ko rban tidak dipenuhinya janji kawin. Dalam situasi ini, Satjipto Rahardjo,48 mengatakan sebagai penafsiran yang tidak selalu bertumpu kepada logika, melainkan juga meninggalkan rutinitas logika.

1. Ingkar Janji Kawin

Ingkar janji yang dimaksud dalam dalam buku ini berbeda dari pengertian dalam wanprestasi yang dimaksud dalam Pasal 1234 KUHPerdata. Pasal 1234 menyebutkan bahwa:

“tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat Sesuatu”. 48Satjipto Rahardjo, Op.Cit. Hlm. 172

Kamus besar Bahasa Indonesia mendefinisikan istilah ingkar dan janji. Definisi kata ingkar49 adalah:

a. Tidak membenarkan, menyangkal, tidak mengakui, mungkir b. Tidak menepati

c. Tidak menurut, tidak mau Definisi kata janji50 adalah:

a. Pernyataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat

b. Persetujuan antara dua pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu) c. Syarat ketentuan harus dipenuhi

Dari pengertian ingkar dan janji diatas penulis mempe- roleh pengertian tentang ingkar janji adalah penyangkalan dan tidak ditepatinya pernyataan atau persetujuan yang menya- takan kesediaan, kesanggupan, untuk berbuat terhadap sesuatu. Ingkar janji kawin yang dimaksud dalam penulisan ini adalah ingkar janji yang dilakukan sebelum adanya perkawinan yang sah. Ingkar janji yang telah disebutkan diatas adalah penyangkalan dan tidak ditepatinya pernyataan atau persetujuan yang menyatakan kesediaan, kesanggupan, untuk berbuat terhadap sesuatu oleh kedua belah pihak.

2. Beberapa Contoh Putusan Persidangan atas Kasus Janji Kawin

Beberapa kasus ingkar janji kawin ditemukan dalam putusan persidangan yang terjadi selama ini di Indonesia. Untuk memperoleh gambaran bagaimana putusan persidangan tersebut, di bawah ini diberikan beberapa contoh.

a. Putusan Mahkamah Militer III-18 Ambon51

Pada tahun 1986, Peradilan militer menangani kasus 49Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet III, Jakarta, Balai Pustaka, , 1990, Hlm. 332

50Ibid 51 Ibid

anggotanya melakukan hubungan badan dengan korban berinisial S, dengan bujuk rayu serta janji untuk menikah. Terdakwa menyuruh korban S untuk datang ke Namlea tempat tinggal terdakwa dengan janji akan mengajak korban untuk menghadap atasan meminta izin menikah. Akan tetapi, akhirnya, terdakwa tidak menikahi korban sehingga korban melaporkan terdakwa.

Dalam persidangan, menggunakan dakwaan pertama Pasal 378 KUH pidana, bahwa unsur tipu muslihat, bujuk rayu, dan rangkaian kebohongan dengan janji untuk menghadap komandan kesatuan. Akhirnya, korban tergerak hatinya untuk menyerahkan (barang) atau kehormatan kepada terdakwa dan ini dinilai terbukti. Hakim menafsirkan bahwa kehormatan atau alat kelamin korban sebagai suatu barang dan telah menikmati manfaat dari barang tersebut. Mahkamah Militer menyatakan dalam putusannya pada dakwaan pertama bahwa terdakwa terbukti melakukan penipuan dan dakwaan kedua telah memalsukan surat.

Putusan Nomor.33/MMT-III/X/AD/87 Mahkamah Tinggi Militer Surabaya menguatkan putusan sebelumnya dimana terdakwa telah terbukti melakukan pemalsuan surat dan penipuan. Terdakwa mengajukan kasasi, yang dalil memorinya terkait perluasan makna barang. Ia menyatakan bahwa hakim tidak tepat menggunakan makna alat kelamin atau kehormatan perempuan sebagai barang. Menurutnya juga persetubuhan yang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Dalil (alasan) yang diajukan terdakwa diterima oleh Mahkamah agung yang menurut Majelis Kasasi bahwa putusan hakim sebelumnya salah menerapkan hukum karena memperluas pengertian barang sebagai kehormatan atau kemaluan perempuan. Jadi, dengan menggunakan Pasal 378 KUHpidana, tidak ada barang yang diserahkan korban kepada pelaku. Akhirnya, terdakwa dibebaskan dari dakwaan telah melakukan penipuan.

dengan putusan hakim bismar siregar, utamanya dalam suatu kasus yang belum ada pengaturannya. Seharusnya hakim selalu berdiri secara penafsir yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan perasaan yang dihadapi seorang perempuan tersebut. Utamanya mengharapkan adanya kajian lebih mendalam terhadap keterangan yang tidak memiliki nilai bukti.

Unsur suka sama suka tetap dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Adanya kekerasan atau ancaman kekerasan akan menyebabkan persetujuan tersebut dianggap tidak pernah ada. Pertimbangan hakim hanya didasarkan pada keterangan terdakwa. Tidak mengkaji secara Psikologis akan nilai sebuah janji kawin sehingga perempuan menyerahkan secara sukarela kehormatannya. Namun, fakta korban sampai datang ke daerah menemui terdakwa dan tinggal bersama secara sukarela seharusnya menjadi petunjuk hakim dalam menyimpulkan bahwa hubungan yang terjalin karena adanya janji untuk menikahi.

b. Di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kupang No reg.75/ PDT-PN/2010/PN52

Terkait ingkar janji kawin hakim memutuskan laki-laki tidak bersalah walupun perempuan mengalami penderitaan seperti hamil tanpa dinikahi, melahirkan, dan mengasuh anak serta konsekuensinya dalam hidup bermasyarakat. Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, tidak selalu harus dilihat sebagai suatu perbuatan yang didahului dengan kekerasan (fisik) atau adanya ancaman kekerasan (fisik).

Kekerasan terhadap perempuan harus dilihat secara komprehensif dengan mempertimbangkan hal-hal yang meliputi kasus terjadinya kekerasan dimana pengambilan keputusan seorang perempuan untuk menyerahkan

kehormatannya dikarenakan ada janji kawin oleh seorang laki- laki yang membuat perempuan terdorong untuk melakukan 52http: //mell-benu.blogspot.co.id/20 1 2/04 /peraturan-yang-belum-berpihak-pada

hal tersebut. seharusnya menjadi pertimbangan bagi hakim untuk melindungi perempuan.

c. Putusan Perkara Nomor 522 K/ Sip / 1994

M ahkamah Agung memberikan keputusan untuk menghukum laki-laki berinisal D yang melakukan persetubu- han dengan perempuan berinisial R dengan janji untuk menikah yang akibat dari janji tersebut, perempuan itu hamil. Kehamilan ini, membawa D untuk memaksa R menggugurkan kandungannya karena merupakan kehamilan yang tidak diharapkan.

Upaya paksa R dilakukan dengan pemukulan dan tendangan. Mahkamah Agung menghukum R dengan pidana, yaitu telah menyerang kehormatan susila, pencurian yang dila- kukan dengan kekerasan, dan penganiayaan yang mengaki- batkan luka berat.Dalam kasus ini, Mahkamah Agung menya- takan tidak menepati janji untuk menikah merupakan perbuatan melawan hukum.53 Untuk itu, tergugat dihukum dengan membayar ganti rugi kepada penggugat dalam hal pemulihan nama baik dari penggugat.

Mahkamah Agung menyatakan perbuatan si pria  melanggar kepatutan dan norma kesusilaan di dalam masyarakat. Janji kawin yang dilakukan oleh pihak laki-laki merupakan rayuan. Oleh karena didalamnya ada iming-iming untuk dinikahi sehingga perempuan menyerahkan kehorma- tannya. Putusan Mahkamah Agung dalam perkara ini, membe- rikan terobosan pada pasal 58 KUHPerdata,54 dengan meng- gunakan pasal perbuatan melawan hukum merupakan peng- 53www.hukumonlinecom/berita/baca/tidak-menepati-janji-menikahi-adalah-mph 54rumusannya pertama, janji menikah tidak menimbulkan hak untuk menuntut di

muka hakim untuk dilangsungkannya perkawinan. Juga tidak menimbulkan hak untuk menuntut penggantian biaya, kerugian, dan bunga, akibat tidak dipenuhinya janji itu. Semua persetujuan ganti rugi dalam hal ini adalah batal. Kedua, namun jika pemberitahuan nikah telah diikuti suatu pengumuman, maka hal ini dapat menjadi dasar untuk menuntut kerugian. Ketiga, masa daluarsa untuk menuntut ganti rugi tersebut adalah 1 8 bulan terhitung sejak pengumuman rencana perkawinan

hargaan yang diberikan kepada perempuan terkait perlin- dungan hukumnya, namun mengunakan istilah perbuatan melawan hukum. Dalam konteks ini, memiliki makna yang luas yang juga bisa diminta ganti kerugian atas perbuatan tersebut.

Dalam beberapa putusan hakim yang disebutkan di atas, memperlihatkan sikap hakim dan masyarakat pada umumnya atas perbuatan tidak dipenuhinya janji kawin terhadap perempuan sebagai korbannya menunjukkan kurangnya penghargaan atas hak asasi perempuan sebagai individu yang memiliki integritas tubuh sebagai bagian integral dari hakikat kemanusiaanya. Akibatnya, mencederai hak orang lain

Masyarakat belum melihat perbuatan ini sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Padahal, seharusnya, perbuatan tersebut, tidak hanya dilihat sebagai perbuatan yang merusak masa depan, tetapi lebih luas lagi sudah menghancurkan integritas tubuh perempuan sebagai individu dan merupakan pelanggaran atas hak yang paling asasi dari seorang perempuan. Hal ini melibatkan hakim dalam memaknai pengertian pasal-pasal yang akan diterapkan. Penafsiran yang progresif untuk penegakkan hak asasi perempuan dan, demi keadilan bagi pihak perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin sangat dibutuhkan. Pengalaman perempuan sebelum dan sesudah menjadi korban harus lebih dipertimbangkan dalam membuat peraturan perundang-undangan nasional.