• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3 Dasar-Dasar Teoretis Perlindungan Hukum terhadap

E. Teori Viktimologi

Pada awalnya, kekerasan terhadap perempuan tidak ubahnya sebagai kejahatan konvensional dimana tidak ditempatkan sebagai kejahatan berkarakter khas, yaitu spesifikasi pada korban perempuan. Akan tetapi, sedikit sekali peraturan perudang-undangan mengatur mengenai korban serta perlindungan terhadapnya.56 Padahal, jika pengamatan terhadap masalah kejahatan ini dilakukan secara komprehensif, seharusnya tidak diabaikan dalam terjadinya kejahatan.

Kebenaran materiil harus diperhatikan sebagai tujuan yang akan dicapai dalam pemeriksaan suatu kejahatan. Peranan korban pun sangat strategis sehingga menentukan pelaku kejahatan mempero leh hukuman setimpal dengan perbuatannya.Penjelasan mengenai korban dengan kajian viktimologi dipandang mempunyai relevansi dengan kajian dalam buku ini.

Batasan korban kejahatan dapat ditentukan dalam disiplin ilmu viktimologi. Viktimo lo gi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari kedudukan dan peranan korban dalam suatu kejahatan.Hal ini dilakukan mengingat setiap terjadinya kejahatan dapat dipastikan adanya pelaku dan korban dari kejahatan tersebut.

Istilah viktimologi berasal dari bahasa latin victim yaitu korban dan logos adalah ilmu. Viktimologi 57berarti suatu studi yang mempelajari tentang korban, penyebab timbulnya korban, dan akibat-akibat penimbulan korban yang merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan sosial.Muladi menyatakan pentingnya mempelajari tujuan dan manfaat viktimologi sebagai berikut.

1. Menganalisis berbagai aspek yang berkaitan dengan korban. 2. Berusaha untuk memberikan penjelasan sebab musabab

terjadinya viktimasi.

56 Made Darma Weda, Beberapa catatan Tentang Korban Kejahatan Korporasi dalam

Bunga rampai Viktimisasi, (Bandung: Eresco, 1995),hlm. 200.

57Muladi, Perlindungan Korban Perkosaan melalui Pemidanaan, Alumni, Bandung,

3 . Mengembangkan sistem tindakan guna mengurangi penderitaan manusia.

Kemudian dikatakan bahwa Ne w Victim o lo gy ini bertujuan untuk:58

1. menganalisis pelbagai aspek yang berkaitan dengan korban; 2. berusaha untuk memberikan penjelasan sebab mushabab

terjadinya viktimisasi; dan

3 . mengembangkan sistem tindakan guna mengurangi penderitaan manusia.

Dengan demikian, fokus viktimologi pada yang menjadi korban, dan ruang lingkupnya meliputi bagaimana seseorang dapat menjadi korban, atau proses terjadinya viktimisasi. Menurut Sahetapy, viktimisasi adalah penderitaan, baik fisik maupun inklusif dari arti finansial, ekonomi, agama, ataupun psikis secara luas atau mental bertalian dengan perbuatan.

Terabaikannya persoalan korban disebabkan, antara lain sebagai berikut.59

1. Masalah kejahatan tidak dilihat, dipahami menurut proporsi yang sebenarnya secara multidimensional.

2. Kebijakan penanggulangan kejahatan (criminal policy) yang tidak didasarkan pada konsep yang integral dengan etimologi kriminal.

3 . Kurangnya pemahaman bahwa masalah kejahatan merupakan masalah kemanusiaan, demikian pula masalah korban.

Selanjutnya, Arief Amrullah mengatakan bahwa hukum pidana yang akan datang seharusnya mengimplementasikan perlindungan hukum pidana yang seimbang anatara perlindungan masyarakat, pelaku, dan korban (baik korban potensil maupun korban langsung) merupakan konsep ideal dalam rangka membangun hukum pidana yang lebih bijak 58 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Hukum Pidana, (Bandung:

Alumni, 2007), hlm. 82.

59 Suryono Ekotama, ST. Harum Pudjianto, RS. G Widianto, Abortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan Prespektif Viktimologi dan Hukum Pidana, (Yogyakarta : Universitas Atmajaya, 2000), hlm.173.

karena memperhatikan berbagai kepentingan tersebut. Oleh karena itu, perlindungan invidu konsep pemaknaannya harus diperluas pada pelindungan actual victim.60

Perhatian terhadap korban tindak pidana dimaksudkan agar korban tidak akan semakin menderita setelah mengalami kejahatan, melainkan diharapkan ko rban mendapat perlindungan dan jaminan atas terpenuhinya hak-hak di hadapan hukum. Batasan mengenai korban kejahatan mencakup tiga hal, yaitu: (1) siapa yang menjadi korban dari suatu kejahatan, (2) penderitaan atau kerugian apakah yang dialami oleh korban kejahatan, (3) siapa yang bertanggung jawab dan/atau bagaimana penderitaan dan kerugian yang dialami oleh korban tersebut dipulihkan.

Pengertian korban, baik yang dikemukakan oleh para ahli maupun sumber peraturan perundang-undangan sebagai berikut.

a. Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.61

b. Korban adalah mereka yang menderita jasmani dan rohani- ah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan hak asasi pihak yang dirugikan.62

c. Korban adalah perseorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan baik fisik, mental, maupun emosio nal, kerugian ekonomi, atau mengalami pengabaian,pengurangan, atau perampasan hak-hak dasarnya, sebagai akibat langsung dari pelanggaran hak asasi manusia yang berat, termasuk korban perkosaan.63

60 Arief Amrullah, Perlindungan Hukum Pidana Terhadap Ko rb an Kejahatan Korporasi, (Jember : Universitas Jember, 2008), hlm.13

61 Pasal 1 angka 2 PP No. 44 Tahun 2008 62 Arief Gosita Op.cit.,hal 63

63 Pasal 1 angka 5 UU No,2 7 Tahun 20 0 4 , tentang Komisi Kebenaran dan

Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyebutkan, “korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana”. Dengan demikian, bisa juga dikatakan bahwa perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dari laki- laki yang berakibat pada penderitaan fisik, psikis, seksual, sosial, diartikan sebagai tindakan atau sikap yang dilakukan dengan menimbulkan kerugian bagi pihak perempuan dan sebagai akibat langsung dari pengabaian dan pelanggaran hak asasi manusia.

Melihat kondisi penegakan hukum yang tidak berpihak kepada keberadaan dan rendahnya kepeduian terhadap kondisi korban yang diakibatkan kurangnya pemahaman mengenai studi tentang korban termasuk perempuan korban janji kawin karena perempuan korban janji kawin mengalami penderitaan fisik, psikis, sosial, dan ekonomi.Pada dasarnya perempuan yang menjadi korban berhak mendapatkan perlindungan karena terkait dengan penegakan hak-haknya sebagai perempuan.

Digunakan teori viktimologi sebagai pisau analisis terhadap masalah mengapa integritas tubuh perempuan korban tidak terpenuhinya janji kawin harus memperoleh jaminan perlindungan hukum dalam perundang-undangan nasional, dan mengapa selama ini belum diatur, karena dengan tidak adanya perlindungan terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin berarti secara langsung meniadakan kemungkinan bagi perempuan menikmati hak- hak asasi manusia yang dilindungi oleh konstitusi. Hal ini akan berimplikasi pada penegakan hak asasi perempuan dalam kerangka hak asasi manusia.

Alasan digunakannya teori viktimologi untuk menganalisis terhadap masalah mengapa integritas tubuh perempuan korban tidak terpenuhinya janji kawin harus memperoleh jaminan perlindungan hukum dalam perundang-

undangan nasional, dan mengapa selama ini belum diatur, mengingat teori ini fokus pada mereka yang menjadi korban dan ruang lingkupnya yang meliputi bagaimana perempuan dapat menjadi korban/proses viktimisasi. Pengabaian terhadap perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin menempatkan perempuan mengalami berbagai bentuk kekerasan, seperti fisik, psikis, seksual, sosial, dan ekonomi.

Selanjutnya, digunakannya teori viktimologi sebagai pisau analisis masalah bagaimana pengaturan perlindungan hukum terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak terpenuhinya janji kawin dalam perspekstif hak asasi manusia, karena setiap materi muatan perundang-undangan harus memberikan jaminan kepastian hukum dan mencerminkan keadilan sehingga perlindungan terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dalam perspektif hak asasi manusia merupakan keadilan bagi perempuan.