Bab 3 Dasar-Dasar Teoretis Perlindungan Hukum terhadap
D. Teori Hukum Feminis (Hukum yang Berperspektif
Tatanan masyarakat yang hierarkis dan menindas perempuan harus segera diubah menuju pada penataan hubungan sosial yang baru dimana memposisikan perempuan menjadi subjek utuh dalam membuat keputusan. Perubahan ini tidak akan datang dengan sendirinya tetapi harus diperjuangkan
Feminisme memperjuangkan hak perempuan sebagai manusia yang merdeka seutuhnya. Prinsipnya feminisme berakar pada posisi perempuan dalam dunia (filsafat, ekonomi, budaya, politik, dan sosial) patriarki dan berorientasi pada perubahan pola hubungan dari kekuasaan. Feminisme43 ada karena berjalannya penindasan yang berasal dari ideologi bernama patriarki, yaitu ideologi yang berdasarkan kekuasaan laki-laki dan mengakar secara sistematik pada lembaga-lembaga sosial-ekonomi-politik-budaya, yang menjadi dasar penindasan perempuan.
Dalam feminist terdapat nilai-nilai personal sebagai berikut.44
1. Pengetahuan dan pengalaman personal, artinya seseorang feminis menghargai pengetahuan dan pengalaman personal setiap perempuan yang memiliki keunikan dan kondisi yang berbeda, sesuai dengan waktu dan komunitas perempuan itu berada, hadir, hidup. Bahkan juga memiliki pengalaman kebutuhan yang tidak sama. Misalnya, kalau menstruasi ada yang biasa-biasa saja dan ada yang mengalami kesakitan. Yang sama-sama sakit pun, sakitnya bisa berbea-beda. Jadi, 43Heroepoetri, Arimbi dan R Valentina dalam R Valentina Sagala& Ellin Rozana, Pergulatan feminism&HAM HAM untuk perempuan HAM untuk keadilan Sosial, Institute Perempuan, Bandung, 2006, Hlm 41
pengetahuan dan pengalaman personal ini harus dihargai. Hal ini menjadi salah satu nilai feminis yang membangun apa yang dinamakan siste rh o o d . B ahwa misalnya pengalaman personal perempuan kulit hitam dalam konteks politik rasis berbeda dari perempuan kulit putih; Pengalaman perempuan di negara-negara dunia ketiga berbeda dari perempuan negara dunia pertama. Pengetahuan dan pengalaman personal yang berbeda bagi feminism secara terus- menerus mengayakan warna perjuangan perempuan dan solidaritas.
2. Rumusan tentang diri sendiri, artinya perempuan berhak merumuskan tentang dirinya. Kapitalisme merumuskan bahwa perempuan itu harus langsing, ukuran BH sekian, berkulit putih, berambut lurus dan panjang, dsb. Masyarakat patriarki merumuskan seksualitas perempuan heteroseksual dan makhluk pasif. Para feminis meyakini seorang perempuan berhak merumuskan dirinya sendiri. 3. Kekuasaan personal, bahwa perempuan memiliki kekuasaan
sebagai pribadi utuh atas dirinya, pikiran, perasaan, dan tubuhnya. Perempuan berhak merumuskan arti tentang dirinya sendiri dan memutuskan pilihan hidupnya, dalam bekerja, berorganisasi, berpakaian tertentu, berciuman, bersetubuh, tidak menikah, tidak hamil, bercerai, menjadi ibu, dan seterusnya
4. Otentitas, feminisme menghormati keaslian, pengalaman keseharian perempuan selalu mendekatkan perempuan pada semangat keaslian, misalnya dalam menenun, merawat benih, atau mengolah bahan makanan. Ketubuhan perempuan (seperti mestruasi, melahirkan, dan menyusui). Dengan demikian juga mengantarkan pada keaslian pandangannya tentang seksualitas, produksi, dan reproduksi. Feminisme memiliki beberapa aliran punya keaslian masing-masing
5. Kreativitas, feminism tidak lahir berdasarkan sebuah teori definitif, melainkan berasal dari realitas konkret menjadi
seorang feminis sendiri adalah proses menjadi yang terus- menerus. Maka feminism sendiri adalah proses menjadi yang terus-menerus. Maka jelas feminism mengusung nilai- nilai kreasi dan penciptaan gagasan dan pola-pola baru perjuangan yang luas dan terbuka.
6 . Sintesis, feminism melihat, menggabung-gabungkan pengertian, pengalaman, perasaan, pikiran-pikiran perempuan menjadi satu kesatuan yang selaras
7. The personal is political (diri sendiri bersifat politis, yang personal adalah politis), merupakan frasa yang pertama kali dimunculkan oleh Carol Hanisch dan dipublikasikan dalam notes from the second year. Ungkapan ini kemudian menjadi rumusan penting yang menolak rekayasa patriarki dalam mendikotomikan wilayah publik dengan privat dan personal dan politik. Jadi, misalnya perkosaan masal 12- 15 mei 1998 adalah tindakan politik dari negara untuk menghancurkan perempuan. Politik bukan hanya lembaga dan proses-proses di tingkat negara seperti anggota DPR atau masuk partai politik juga berarti hubungan pribadi laki-laki dan perempuan sebagai kelas sosial. Personal is po litica l menekankan basis psikologis penindasan patriarkis. Catherine Mackinnon45 menyatakan bahwa frasa ini menciptakan hubungan langsung antara sosialitas dan subjektivitas sehingga memahami politik situasi perempuan berarti memahami kehidupan pribadi perempuan.
8. Kesetaraan, feminism mengandung nilai bahwa kesetaraan hak antara laki-lak dan perempuan adalah substansi kemanusiaan, yang akan mengarahkan kehidupan yang adil antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan juga akan menjadi bagian rasionalisasi kemajuan masyarakat manusia, laki-laki dan perempuan
45Catherine MacKinnon adalah seorang pengacara, pengajar, penulis, aktivis feminis.
Sejak pertengahan 1970-an, McKinnon merintis tuntutan hukum terhadap kasus pelecehan seksual sebagai bentuk diskriminasi seksual. Sejak tahun 1983, bersama Andrea Dworkin, MacKinnon giat mengkampanyekan anti pronografi sebagai pelanggaran hak sipil.
9. Hubungan sosial timbal-balik, feminism memandang pen- ting hubungan sosial yang timbal balik. Hubungan sosial yang saling timbal balik, memberikan ruang untuk mendialogkan dan mempertanyakan berbagai macam hal. Persoalan ketertindasan perempuan dapat dilihat dari apakah hubungan sosial timbal balik antara laki-laki telah setara.
1 0 .Kemandirian ekonomi, sebagian besar pengalaman ekonomi perempuan adalah salah satu kesulitan menghadapi gagal panen, epidemik, desersi. Feminisme memandang kemandirian ekonomi sebagai versus dari ketergantungan ekonomi pada agenda dan pihak lain sebagai penyusunan konsep baru mengedepankan pembagian kerjan secara adil dan setara antar pelaku ekonomi
11.Kebebasan seksual, kebebasan seksual adalah penting karena perempuan perlu mendefinisikan sendiri sebagai subjek seksual. Menurut Annfergusen, identitas seksual dikenakan dengan dua syarat(1 ) seseorang tidak bisa dikatakan mempunyai identitas seksual yang tidak dengan sadar diri dan (2) seseorang harus hidup dalam suatu budaya dimana konsep mempunyai relevansi, misalnya seseorang tidak boeh memiliki identitas kulit hitam jika konsep yang bersangkutan mengenai blackness itu tidak ada dalam lingkungan kultural seseorang tersebut.
12. Kebebasan reproduksi, ada dua gagasan yang mendukung pandangan feminism mengenai kebebasan reproduksi(1) gagasan penentuan atas tubuh sendiri dan (2) gagasan bahwa kesadaran reproduksi merupakan hal yang terus berlangsung dan integratif, secara terus-menerus menegaskan kesatuan perempuan dengan alam dan siklus waktu. Adriene Rich mendeskripsikan kemungkinan pembebasan yang dimiliki oleh perempuan dalam kapasitas reproduktif, dengan meyakini bahwa kebebasan reproduksi perempuan akan mengantar perempuan dalam kondisi fisik
mental yang berkembang biak dan mempunyai kesenangan secara fisik. Kebebasan reproduksi secara praksis misalnya pengetahuan atas informasi yang benar mengenai repro duksi, pengambilan keputusan menyangkut reproduksi, akses terhadap tekhnologi seperti alat-alat kontrasepsi, akses aborsi yang aman maupun status perkawinan.
1 3 .Identifikasi diri pada perempuan, berarti keyakinan perempuan terhadap individualis dan potensi, serta persepsi mengenai dirinya sebagai anggota komunitas perempuan. Mary Daly mendeskripsikan dua makna lainnya, yaitu kesejatian diri perempuan dan pemaknaan diri yang keliru. Dalam masyarakat patriarki, perempuan diidentifikasi secara keliru karena mereka diasingkan dari pengalaman otentik. Identifikasi keliru ini dengan demikian harus dihancurkan, karena dengan demikian barulah akan lahir identifikasi diri yang ditentukan oleh perempuan sendiri. 14.Perubahan sosial, upaya trasformatif, feminism memper-
juangkan keadilan, kesetaraan, dan kemanusian. Maka perubahan so sial merujuk pada agenda sempit meningkatkan pelibatan perempuan selama periode waktu tertentu, wilayah kekuasaan dimana mereka sebelumnya tersingkir. Agenda feminism dengan demikian adalah kearah perubahan sosial, masyarakat yang adil dan setara 1 5 .Berkekuatan politik dalam masyarakat, feminism mendefinisikan politiknya sebagai konsep politik yang dipersonalisasikan, yang mempertanyakan persoalan- persoalan perempuan. Feminisme menyadari pentingnya menguatkan nilai-nilai ini dalam masyarakat. Politik feminis setidaknya dilihat sebagai politik yang didasarkan pada etika kepedulian, misalnya kampanye hak memilih perempuan dan gerakan anti pornografi, femisnisme menyatakan bahwa ketika kepedulian bisa dipadukan dengan politik feminis progresif.
Prespektif Feminis:46
1. Pendekatan holistis, femisime memandang persoalan- persoalan dari keseluruhan aspek. Dikotomi terhadap objektivitas dan subjektivitas pengalaman, perasaan, dan ketubuhan dengan demikian menjadi tidak ada. Pendekatan ini mengajak para feminis mendekati realitas dari konsepsi atau cita-cita kehidupan yang adil dan realitas pengalaman pikiran, perasaan, dan ketubuhan perempuan, dalam konteks ekonomi, politi, sosial, budaya.
2. Berorientasi pada proses, feminism memandang perjuangan dan perubahan sebagai proses. Menjadi seorang feminis sendiri dipahami sebagai proses “being a proses”. Seorang perempuan bisa saja bicara yang hebat-hebat mengenai gerakan dan hak-hak perempuan, tetapi ujian terberat bagi seorang feminis adalah bagaimana kebutuhan, pikiran, dan perasaannya bergulat dan berdialog satu sama lain. Misalnya, ketika ia dipaksa orang tua dan masyarakatnya menkah dengan seorang laki-laki. Maka proses pergulatan dan aksi-aksi yang terumus dan diwujudkan dalam adalah inti dari feminism itu sendiri “the process it self “.
3 . Menghargai keanekaragaman, femisme memandang perbedaan dan keanekaragaman sebagai kekuatan. Bukankah setiap perempuan berbeda pada waktu, tempat, dan realitas kulturalnya, selain karakteristik biologisnya. Maka bukankah perbedaan dengan demikian adalah kemestian yang dapat dirayakan.
4. Pendekatan win-win terhadap konflik, dalam menghadapi perbeaan dan konflik, feminism memandang dialog antar perbedaan dan pihak-pihak yang berkonflik akan menemukan irisan-irisan penyelesaian masalah yang dapat terus-menerus dikembangkan.
5. Menghadapi intuisi, rasio, logika, feminism memandang intuisi, rasio, dan logika adalah aspek-aspek penting dalam pergulatan perempuan. Feminisme mempercayai bahwa 46Heroepoetri, Arimbi dan R. valentina, Loc.Cit . hlm 47
satu sama lain aspek-aspek tersebut tidak untuk saling mengeliminasi, intuisi tidak lebih baik bagi rasio, logika tidak lebih baik dari intuisi, melainkan diasah terus menerus sebagai kekuatan pengambilan-pengambilan keputusan politik perempuan.
6. Menolak pemisahan antara pikiran, perasan dan kebutuhan, feminism memandang hakikat kemanusiaan adalah kesatuan antara pikiran, perasaan, dan kebutuhan. Menjadi seorang feminis adalah mendialogkan kerja-kerja, pikiran, perasaan, dan ketubuhan sebagai kesatuan yang utuh dan mengarahkan pada keputusan-keputusan dan tindakan sebagai seorang perempuan yang merdeka. Hidup sebagai perempuan dengan demikan adalah merasakan, memikirkan, dan bertindak dalam kebutuhan sesuai dengan yang diyakini perempuan.
7. Pengambilan keputusan tidak hierarkis, kiritik feminism pada relasi hierarkis laki-laki dan perempuan mendorong perempuan pada proses-proses pengambilan keputusan yang setara. Dengan semangat bersama dan kesadaran bahwa masing-masing dari pengambil keputusan otonom dan setara. Pengambilan keputusan yang tidak hierarkis juga memungkinkan para feminis mengambil tindakan affir- mative (setuju) bagi kelompok yang paling marginal. 8. Menolak naturalis, feminis menolak penstempelan atau
pentatoan seumur hidup cap atau karakteristik tertentu secara serta merta (natural, alamiah) pada perempuan. Feminisme mempertanyakan dan menggugat konsep heteroseksoal, menikah, tanggung jawab, memelihara anak pada perempuan, konsep ibu rumah tangga, dsb. Para feminis meyakini perubahan sosial ke tatanan masyarakat yang adil dimana perempuan (dan laki-laki) otonom, dapat, perlu, dan diraih dengan perjuangan.
9. Pembagian kekuasaan yang adil, feminism memandang pentingnya pembagian kekuasaan yang adil dan affirma- tive bagi segolongan yang secara de facto masih tertinggal.
Hal ini penting mengingat peletakkan kekuasaan mutlak dan sentralistik akan mengahsilkan penindasan dan otoritarian.
1 0 .Menghargai pengorganisasian secara kolektif untuk melakukan perubahan, feminism memandang pengorgani- sasian sangatlah penting guna menghimpun kekuatan dalam melakukan perubahan. Pengorganisasian menjadi kata yang lebih penting ketimbang penyatuan mengingat perbedaan yang ada dalam feminism justru dengan demikian tidak hilang dan menjadi kekuatan yang memesona,. Sekali lagi bagi feminism, kekuatan individu menjadi sumber kolektif untuk melakukan perubahan adalah kekuatan feminism
Feminisme liberal ini merupakan tahap awal yang melakukan kritik terhadap hukum. Di antara berbagai aliran feminism, para feminis liberal memberikan perhatian dan kontribusi yang besar dalam perkembangan HAP. Feminisme liberal mulai berkembang ada abad ke-1 8, didasari pada prinsip-prinsip liberalism, yaitu bahwa semua orang (perem- puan dan laki-laki) dengan kemampuan rasionalitasnya, diciptakan dengan hak-hak yang sama, dan setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk memajukan dirinya. Yang menjadi perhatian para feminis liberal adalah pentingnya kebebasan individu dan keyakinan bahwa individu mempunyai hak-hak tetap yang harus dilindungi. Perhatian para feminis liberal terletak pada persamaan hak (equal rights).
Feminisme liberal berpendapat bahwa sumber penin- dasan perempuan belum diperoleh dan dipenuhinya hak-hak perempuan. Perempuan mengalami diskriminasi hak, kesempatan, dan kebebasannya, karena ia perempuan. Untuk menghapuskan diskriminasi itu, perlu diperjuangkan peru- bahan hukum dan reformasi sosial yang membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi pendidikan untuk perempuan. Beberapa hal konkret yang dilakukan para feminis liberal ditempuh dengan memperjuangkan hak perempuan dalam pemilu dan
mengeluarkan perempuan dari rumah untuk sekolah dan bekerja.
Di Indonesia pendekatan ini, dijalankan di era pembangunan, di antaranya mendorong perempuan agar tidak menjadi beban negara, maka perempuan perlu terlibat dalam pembangunan. Dengan kata lain: bekerja. Di Amerika Serikat, sejak abad 19, para feminis liberal telah memperjuangkan persamaan hak laki-laki dan hak perempuan dan kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Pada tanggal 19-20 Juli 1848 dilaksanakan sebuah deklarasi atas inisiatif Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott di Seneca Falls, New York.
Hasil pertemuannya, yakni adanya Declaration of Senti- ment and Revolution. Deklarasi ini menyatakan “all men and wo men are created equal” (semua lelaki dan perempuan sederajat).47 Fakta tentang adanya pengakuan kesetaraan perempuan dan laki-laki terbilang sangat mengagumkan mengingat deklarasi ini, lahir 200 tahun sebelum UDHR ada. Pada abad 19 perjuangan para feminis liberal memasuki seputar hak pilih perempuan. Gerakan ini sering disebut suf- fragist movement. Di Australia, pada tahun 1884, berdiri
woman suffrage society yang dibentuk untuk memperjuangkan hak pilih perempuan.
Hukum yang berperspektif feminis merupakan gerakan hukum yang dikawal oleh para sarjana pemikir dan praktisi hukum feminis. Awal perkembangannya dimulai ketika dimulai di Amerika awal tahun 1970-an ketika protes terhadap hukum melalui pandangan yang didasarkan pengalaman perempuan oleh sarjana hukum feminis.48
Faktor yang menyebabkan lahirnya hukum berperspektif feminis ini, antara lain: gerakan perempuan/gerakan feminis 47Gerakan Seneca Falls ini sering ditandai sebagai tahap pertama gerakan feminis
di Amerika Seriat. Kelak, bersama Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton mendirikan national suffrage Association (1 869). Selanjutnya gerakan suffragist ini mejadi tahap selanjutnya dari gerakan feminis di America Serikat. Lihat Soeyono, Nana Nurliana, Hak asasi manusia dan Feminis dalam Masyarakat Amerika, Jurnal Perempuan 09. Dalam R valentine Sagala dan Ellin Rozana, Op.Cit, Hlm 53
dua dekade yang menghasilkan literatur di berbagai lapangan studi yang kemudian mempengaruhi banyak sarjana hukum, banyaknya perempuan/feminis yang memasuki sekolah hukum menjelang 1960-an, dan adanya tuntutan terhadap persoalan- persoalan hukum yang khas; sebagai akibat dari gerakan Criti- cal Legal Studies (Teori Hukum Kritis).49
Akibat dari reaksi para feminis yang berperkara di pengadilan dan mengadakan tuntutan lahirnya pemikiran ini diikuti dengan cepatnya berkembang literatur, termasuk di dalamnya berbagai simposium, bermunculnya jurnal-jurnal hukum yang mengfokuskan diri pada isu hukum yang berdampak pada perempuan, dan sejumlah panel dan konferensi dengan tema feminist legal theory. Gagasan hukum berperspektif feminis memandang bahwa perspektif perempuan berbeda dari perspektif laki-laki.
Pendekatan ini terlihat mulai dari asumsi dasar tentang hubungan antara perempuan dan hukum, yaitu bahwa hukum itu diformulasikan oleh, dan untuk melayani laki-laki, untuk memperkuat hubungan-hubungan so sial patriarkis.5 0 Hubungan yang dimaksud didasarkan ada norma, pengalaman dan kekuasaan dominan laki-laki. Pengalaman perempuan diabaikan, tidak dimasukkan dalam hukum. Dengan demikian, hukum telah ikut menyumbangkan penindasan terhadap perempuan.
Secara garis besar, pendekatan hukum terhadap perem- puan mempunyai dua komponen utama yang selalu muncul dalam perubahan berbagai cabang penelitian. Pertam a,
eksplorasi dan kritik pada tataran teoretis terhadap interaksi antara hukum dan perempuan. Dengan kata lain, bagaimana hukum mempengaruhi dan menyumbangkan penindasan terhadap perempuan. Kedua adalah analisis perspektif feminis terhadap lapangan hukum yang konkret, seperti tempat kerja, keluarga serta hal-hal yang berkaitan dengan pidana, pengetahuan perempuan atas alam, kesehatan reproduksi, 49Ibid
pelecehan seksual, dengan tujuan mengupayakan terjadinya reformasi hukum. Atau dengan kata lain, bagaimana hukum digunakan untuk memperbaiki posisi perempuan51.
Para sarjana feminis mengamati sedikitnya terdapat tiga fase dalam studi tentang perempuan dengan sistem hukum nasional di negara-negara barat.52 Pada fase pertama ini, umumnya, menghasilkan Do kumen-Do kumen HAM Internasional tentang Hak Politik perempuan (1953), Konvensi UNESCO tentang Diskriminasi dalam Pendidikan (1960) semacam konvensi PBB.
Menginjak fase kedua, hukum mulai dipandang sebagai bagian dari struktur yang didominasi laki-laki. Bahasa yang digunakan dalam hukum menekankan sifat maskulin karena dibangun dengan klaim atas rasionalitas, objektivitas, dan abstraksi, karakteristik yang diasosiasikan dengan laki-laki, dan digambarkan berlawanan dengan emosi dan subjektivitas (keduanya diasosiasikan sebagai wilayah perempuan).53
Fase ketiga dimulai ketika kritik dilancarkan atas kedua teori ini dimana kegagalan kedua teori ini karena masing- masing tetap menerima, secara implisit, ukuran laki-laki.54 Bagi perempuan, hanya dua kemungkinan dirinya sama dengan laki- laki atau dirinya berbeda dari laki-laki. Lak-laki selalu menjadi standar pencapaian kemajuan perempuan.
Hukum seharusnya mendukung kebebasan dari subordinasi sistematik berdasarkan jenis kelamin dibandingkan kebebasan untuk diperlakukan tanpa memandang jenis kelamin. 55Ini merupakan sebuah pemikiran yang menggugah sistem hukum dan HAM melihat secara mendalam substansi posisi perempuan sebagai subjek bukan objek.
Digunakannya feminist legal theory untuk menganalisis masalah mengapa integritas tubuh perempuan korban tidak 51Ibid, Hlm 57
52Charlesworth, Hillary; Christine Chinkin; Shelley Wright, Dalam R Valentina
Sagala dan Ellin Rozana, Ibid 53IbidHlm. 58
54Ibid
dipenuhinya janji kawin harus mempero leh jaminan perlindungan hukum dalam perundang-undangan nasional, dan mengapa selama ini belum diatur, mengingat perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya. Perjuangan hak- hak perempuan timbul karena adanya suatu kesadaran, pergaulan, dan arus informasi yang membuat perempuan In- donesia semakin kritis dengan apa yang menimpa dirinya.
Integritas tubuh perempuan merupakan kodrat yang diberikan tuhan kepada perempuan yang harus dihormati, dilindungi karena merupakan eksistensi dari konsep diri yang integral dari seorang perempuan dalam mengoptimalkan kemampuan dirinya menjadi sumber daya yang potensial. Integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin harus dijamin perlindungan hukumnya dalam perundang-undangan nasional karena perempuan tersebut termasuk pada kelompok yang rentan terhadap kekerasan.
Digunakannya feminist legal theory untuk menganalis masalah bagaimana pengaturan perlindungan hukum terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dalam perspekstif hak asasi manusia, karena hukum dipergunakan untuk memperbaiki dengan melihat suara perempuan lewat pengalaman perempuan dan kepentingan perempuan. Pengalaman perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin harus dipertimbangkan dalam melihat posisi perempuan yang selalu dianggap bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Untuk itu arah kebijakan harus berpusat pada perempuan dengan mengevaluasi dan mengadakan perubahan hukum untuk memajukan kepentingan perempuan. Perlindungan hukum terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dalam perspektif hak asasi manusia merupakan prioritas yang sangat diharapkan dengan mempertimbangakan pengalaman dan kepentingan perempuan secara total sehingga perempuan sebagai korban tidak lagi mengalami ketidakadilan dan diskriminasi.