• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3 Dasar-Dasar Teoretis Perlindungan Hukum terhadap

B. Teori Keadilan

Persoalan pertama tentang keadilan yang perlu sekali ditegaskan pengertian tentang keadilan. Filsuf Yunani kuno yang pertama menelaah masalah keadilan secara mendalam ialah Plato. Buah pikirannya terdapat dalam karya tulisnya yang berjudul Statesman, Republic, dan Laws (terjemahan bahasa Inggris oeh B. Jowett). Plato berpendapat bahwa yang harus memerintah suatu negara lebih baik ialah orang yang arif dan bukannya hukum.

Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa hukum tidak memahami secara sempurna apa yang paling agung dan pal- ing adil untuk semua orang dan karenanya tidak dapat melaksanakan apa yang terbaik (the law does not perfectly comprehend what is noblest and most just for all and therefore cannot enforce what is best).Filsuf yang menjadi raja atau raja yang memiliki jiwa fislsafat ialah seorang penguasa yang karena sifat dasarnya paling cocok melihat apa keadilan itu dan bagaimana keadilan harus dicapai dalam negara. Plato mendefinisikan keadilan sebagai kebajikan tertinggi dari negara yang baik. Orang yang adil adalah orang yang mengendalikan diri yang perasaan hatinya dikendalikan oleh akal.

Teori keadilan Plato merupakan asal mula dari konsep keadilan yang menyatakan bahwa keadilan sama dengan pemberian kepada setiap orang haknya. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang di dalamnya setiap orang mendapat haknya.34 Dan, seseorang memperoleh haknya bilamana ia diberi kedudukan dan fungsi yang menurut kemampuannya ia paling cocok memegangnya.

Pembahasan terperinci mengenai mengenai keadilan dilakukan oleh filsuf Yunani kuno, yakni Aristoteles (384-322 s.M). Menurutnya, keadilan adalah kelayakan dalam tindakan 34The Lian Gie, Op.Cit. Hlm.22

manusia. Kelayakan merupakan titik tengah di antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan yang terlalu sedikit. Dengan demikian, pada pokoknya keadilan adalah semacam perimbangan meliputi empat unsur yang oleh Aristoteles dirumuskan sebagai berikut: 35

Bagian A = Bagian B Jasa A = Jasa B

Jadi, teori keadilan dari Aristoteles berdasar pada prinsip persamaan (equality. Dalam versi yang moderen teori itu dirumuskan oleh filsuf Isaiah Berlin dengan pernyataannya bahwa keadilan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlukan secara sama dan hal-hal yang tak sama secara taksama. Selain keadilan distributif yang diperuntukkan bagi distribusi dari hal-hal yang perlu diberikan kepada para anggota masyarakat menurut sesuatu ukuran keadilan yang ditentukan, Aristoteles mengemukakan pula konsep tentang keadilan perbaikan dan keadilan niaga.

Keadilan perbaikan dimaksudkan untuk mengembalikan persamaan dengan menjatuhkan hukuman kepada pada pihak yang bersangkutan. Keadilan ini merupakan pula suatu titik tengah di antara kedua kutub berupa keuntungan dan kerugian. Konsepsi inilah yang kemudian menjadi perbaikan keadilan sebagai perbaikan terhadap kesalahan dengan memberikan gantirugi kepada korban kesalahan atau hukuman kepada pelakunya.

Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Teori keadilan dari Plato dan Aristoteles berdasarkan aliran filsafat realism yang berpendapat bahwa alam semesta terdiri atas hal-hal yang nyata, berdiri sendiri, dan memang ada, tersusun dan bertalian secara hierarkhis serta membentuk suatu totalitas yang di dalamnya makna dan ketertiban dapat dicapai manusia. Perbedaan pokok antara keua teori keadilan itu ialah bahwa plato menekankan harmoni atau keselarasan, sedangkan 35Aristotele’s Ethics edited and translated by John Warrington, London, Dent, 1963,

aristoteles menitikberatkan pada proporsi atau perimbangan. Menurut Kant keadilan hukum harus ditegakkan dalam negara karena hanyalah kalau keadilan hukum dilaksanakan maka manusia bisa mewujudkan kondisi-kondisi dari keadilan moral. 36Keadilan hukum menjalankan kekuasaan dari negara untuk mencapai suatu taraf kebebasan yang memungkinkan individu mewujudkan keadilan moral.

Keadilan menurut H.L.A. Hart bahwa pemberian yang sama kepada semua orang akan perlindungan hukum terhadap diri dan milik kini pada umumnya dianggap sebagai suatu persyaratan moralitas yang pokok dari lembaga-lembaga politik. Kata-kata adil dan tak adil termasuk perkataan moral yang paling sering dipergunakan dalam rangka penghargaan atau kritik terhadap hukum dan pelaksanaan hukum. Menurutnya, keadilan adalah layak dan taklayak. Jadi, keadilan mempunyai makna kelayakan.

Keadilan John Rawls mengembangkan suatu tatacara yang akan menghasilkan asas-asas keadilan. Persoalan keadilan timbul bilamana suatu masyarakat menilai lembaga-lemabaga dan praktik-praktiknya dengan tujuan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan sah yang saling bersaingan dan tuntutan-tuntutan yang bertentangan yang diajukan oleh para anggota masyarakat itu.

Menurut Rawls asas-asas keadilan dapat ditentukan dengan semacam proses perjanjian di antara anggota-anggota masyarakat dengan mengindahkan, anatara lain: kerjasama manusia, moralitas yang minimal, rasa keadilan, pilihan rasional, dan apa yang dinamakan primary goods hal-hal utama yang ingin diperoleh setiap orang.

Ada dua asas keadilan akan disetujui oleh anggota- anggota masyarakat, yakni: pertama, setiap orang hendaknya memiliki suatu hak yang sama atas sistem menyeluruh yang terluas mengenai kebebasan-kebebasan dasar. Ke dua ,

perbedaan sosial dan ekonomik hendaknya diatur sedemikian hingga memberikan manfaat yang terbesar bagi mereka yang 36The Lian Gie, Op.Cit. Hlm 32

berkedudukan paling tak menguntungkan. Bertalian dengan jabatan dan kedudukan yang terbuka bagi semua orang mendasarkan persamaan kesempatan yang layak.

Prinsip keadilan yang pertama menyangkut distribusi dari kebebasan-kebebasan dasar yang perlu disebarkan secara sama untuk setiap orang. Prinsip keadilan yang kedua bertalian dengan kekuasaan jabatan, kedudukan sosial, penghasilan, dan kekayaan. Menurutnya, tugas pranata sosial dan politik ialah memelihara dan meningkatkan kebebasan dan kesejahteraan individu. Asas kebebasan akan terjamin dengan penyusunan suatu konstitusi, sedangkan pelaksanaan asas perbedaan dapat tercapai melalui perundang-undangan.

Alasan digunakannya teori keadilan sebagai pisau analisis terhadap masalah mengapa integritas tubuh perempuan korban tidak terpenuhinya janji kawin harus memperoleh jaminan perlindungan hukum dalam perundang-undangan nasional, dan mengapa selama ini belum diatur, karena perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin juga memiliki suatu hak yang sama dalam sistem hukum, Dengan adanya institusi le- gal keadilan bisa tercapai dalam suatu negara. Dengan membuat peraturan yang mengatur perlindungan hukum terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin.

Digunakannya teori keadilan sebagai pisau analisis terhadap masalah bagaimana pengaturan perlindungan hukum terhadap integritas tubuh perempuan korban tidak dipenuhinya janji kawin dalam perspekstif hak asasi manusia, mengingat undang-undang hanya hukum bila adil, karena hukum berfungsi untuk mewujudkan keadilan. Dengan demikian, hukum yang adil berkaitan dengan arti hukum sebagai keadilan sehingga Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, bagian kesembilan tentang hak wanita pada pasal 49 ditambahkan rumusan mengenai hak integritas tubuh. Dengan demikian, pemenuhan hak asasi manusia dirasakan manfaatnya oleh setiap warga negara termasuk perempuan korban janji kawin.